6 November 2026

Nahdlatul Ulama

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Ainun Najib, menyampaikan pandangannya terkait sejarah penetapan kalender dalam tradisi Yahudi dan Islam. Ia menyebut, umat Yahudi telah lebih dahulu meninggalkan metode rukyat (pengamatan hilal) dan beralih ke sistem hisab global sejak sekitar abad ke-3 Masehi.

Menurut Ainun, perubahan tersebut menghasilkan sistem kalender yang bersifat tunggal dan berlaku global, yang ia sebut sebagai “Kalender Yahudi Global Tunggal (KYGT)”. Dalam keterangannya, ia menyatakan bahwa sistem tersebut sudah digunakan jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Umat Yahudi sudah sejak tahun 300-an Masehi beralih dari rukyat ke hisab wujudul hilal dan global. Itu dilakukan sekitar tiga abad sebelum Rasulullah lahir,” ujar Ainun dalam pernyataannya, Sabtu (21/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa sistem kalender Yahudi saat ini dikenal sebagai Kalender Ibrani, yang dalam praktiknya menggunakan perhitungan matematis (hisab) untuk menentukan awal bulan, bukan lagi pengamatan langsung terhadap hilal.

Ainun kemudian mengaitkan hal tersebut dengan praktik yang dijalankan dalam Islam. Ia berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui praktik perhitungan kalender global tersebut, namun tetap memilih metode rukyat sebagaimana tercantum dalam hadis.

“Artinya Rasulullah tahu praktik itu, tetapi beliau tidak mengambil metode tersebut. Rasulullah justru menegaskan agar umat Islam berpuasa dan berhari raya dengan rukyat,” katanya.

Ia merujuk pada hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, yang menyebutkan, “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Menurutnya, hadis tersebut menunjukkan bahwa metode rukyat adalah pilihan yang ditegaskan langsung oleh Nabi.

Secara tidak langsung, Ainun menilai bahwa perdebatan mengenai penggunaan hisab global dalam penentuan awal bulan hijriah perlu dikaji dengan mempertimbangkan aspek historis dan normatif. Ia menekankan bahwa umat Islam memiliki landasan tersendiri dalam menetapkan kalender, yang berbeda dengan tradisi agama lain.

Pandangan ini kembali memunculkan diskusi klasik di kalangan umat Islam mengenai metode penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri, antara penggunaan rukyat, hisab, atau kombinasi keduanya. Di Indonesia sendiri, perbedaan metode ini kerap menjadi bahan diskusi antara berbagai organisasi Islam, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Ainun menegaskan bahwa perbedaan tersebut seharusnya disikapi secara ilmiah dan proporsional. “Yang penting adalah tetap menjaga ukhuwah dan menghormati ijtihad masing-masing,” tuturnya.

MoneyTalk, Jakarta – Tokoh muda Nahdlatul Ulama sekaligus pengelola pesantren ekologi, Roy Murtadho atau yang akrab disapa Gus Murtadho, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait kelapa sawit di tengah bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Menurut Gus Murtadho, pernyataan Prabowo yang kembali menyinggung pentingnya sawit sebagai sumber energi terbarukan justru menunjukkan hilangnya kepekaan sosial dan empati terhadap situasi yang terjadi.

“Urat malu dan nurani Prabowo sudah hilang. Di tengah bencana akibat perusakan lingkungan, masih saja bahas sawit. Padahal deforestasi terbesar disebabkan perluasan perkebunan sawit dan tambang. Begini jadinya kalau pelanggar HAM jadi presiden. Hilang hati nuraninya,ʺ ujar Gus Murtadho dalam keterangannya, Sabtu (6/12/2025).

Kritik ini muncul setelah Prabowo dalam sebuah acara pada Rabu (3/12/2025) menekankan pentingnya kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan kelapa sawit.

“Saudara-saudara, kalau kita tergantung impor, kita enggak mampu bayar nanti harga BBM. Tapi kita diberikan karunia oleh Yang Maha Kuasa, kita punya kelapa sawit, kelapa sawit bisa jadi BBM, bisa jadi solar, bisa jadi bensin, juga kita punya teknologinya,” ungkap Prabowo.

Pernyataan tersebut disampaikan saat banjir bandang dan tanah longsor tengah melanda berbagai wilayah di Sumatera, yang sebagian besar diyakini para pemerhati lingkungan sebagai dampak dari deforestasi dan alih fungsi lahan berskala besar.

Gus Murtadho menilai, pemerintah seharusnya berbicara soal mitigasi bencana, perbaikan tata kelola lingkungan, penindakan terhadap perusahaan nakal, hingga rehabilitasi hutan bukan justru mempromosikan sawit di saat puluhan ribu warga terdampak bencana.

“Bencana ini terjadi karena kerakusan industri ekstraktif. Masyarakat menderita, rumah-rumah hancur, lahan-lahan rusak. Tapi yang disoroti justru sawit. Ini sangat menyedihkan,” tegasnya.

Gus Murtadho mendesak agar Presiden Prabowo mengedepankan pendekatan ekologis yang lebih serius. Ia mengingatkan bahwa promosi sawit tanpa memperhatikan dampak ekologis dapat memperburuk kondisi lingkungan di masa mendatang.

“Kita butuh presiden yang menggunakan hati, bukan sekadar hitung-hitungan ekonomi. Kalau lingkungan rusak, semua rugi,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari pihak Istana terkait kritik tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Ada beberapa hal yang berbeda dalam perayaan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama beberapa tahun terakhir. Sejak duet kepemimpinan PBNU hasil Muktamar NU di Lampung tahun 2021. Mulai peringatan Hari Lahir satu Abad NU dan yang sekarang ke-102. Tema Peringatan Hari Lahir, sangat tegas, jelas dan ada unsur politisnya.

Sebagai informasi pada tahun 2023, Tema Harlah satu Abad NU adalah Mendigdayakan Nahdlatul Ulama menjemput Abad Kedua menuju Kebangkitan Baru. Pesan sangat jelas, bahwa ini pemimpin baru yang akan membawa NU menjadi organisasi yang berbeda dengan kepemimpinan sebelumnya. Utamanya gerakan dalam sosial politik dan kemasyarakatan. Pada tahun 2023 juga dibentuk, Gerakan Keluarga Maslahah NU.

Harlah tahun 2024 mengusung tema Memacu Kinerja, Mengawal Kemenangan Indonesia. Makna yang gamblang dari keinginan tersirat PBNU. Tema ini menjadikan peringatan Harlah Ke-101 untuk memacu kinerja organisasi Nahdlatul Ulama. Sekaligus momen strategis meningkatkan performa jam’iyah melalui konsolidasi, penguatan organisasi, dan jaringan. Misi ini banyak dikaitkan dengan pemilihan presiden tahun 2024.

Dilansir laman NU Online, perayaan harlah ke-102 NU tahun 2025 mengusung tema “Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat”.

Tema ini mencerminkan tekad PBNU untuk memperkuat khidmah (pelayanan) kepada masyarakat, dengan fokus pada pengembangan pendidikan dan pemberdayaan akar rumput.

Adanya berbagai tema yang berbeda mengindikasikan kreatifitas dan ‘kecerdasan’ PBNU membaca fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat. Meskipun terkadang sering dianggap pihak “tertentu”, Nahdlatul Ulama hanya dijadikan bumper kekuasaan saja.

Sebagai contoh, PBNU menyelenggarakan seminar untuk mendiskusikan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dari sudut pandang Nahdlatul Ulama.

Sarasehan ini kesimpulannya sudah dapat diperkirakan. Bahwa para ulama NU dapat menerima uraian program Asta Cita dengan catatan perlunya pelibatan seluruh masyarakat termasuk dalam pengawasan programnya. Sarasehan ini diselenggarakan cenderung untuk pembenaran dari program itu daripada mengkritisinya.

Namun harus diakui, tema Harlah Ke-102 NU memang sangat pas dengan kondisi kebangsaan saat ini. Sengkarut berbagai permasalahan yang muncul sejak pelantikan presiden sampai saat ini perlu kebersamaan dari seluruh masyarakat. Ego sektoral harus disingkirkan dan kerja bareng (kolaborasi) harus dikedepankan.

Termasuk perbedaan politik dan pilihan sebelumnya harus dikesampingkan. semua kerja bersama untuk mencari solusi bangsa yang terbaik.

PBNU dapat menjadi teladan untuk kebersamaan ini. Perayaan Harlah Ke-102 NU yang akan ditandai dengan Resepsi Harlah di Istora Senayan pada 5 Februari 2025.

Kita akan melihat bersama. Siapa sajakah, tamu yang diundang dan hadir. Apakah mantan Ketua Umum PBNU dan syuriyah PBNU sebelumnya diundang ? Termasuk para pimpinan partai politik yang berbeda kepentingan dengan PBNU ?

Kalau yang diundang petinggi negara, seperti Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta para Menteri Kabinet Merah Putih itu, mah biasa.

Semoga Resepsi ini menjadi momen untuk memperkuat sinergi antara NU dan semua komponen bangsa. Sehingga Nahdlatul Ulama menjadi solusi bangsa dalam membangun masyarakat untuk Indonesia Maslahat.

Penulis : Mahmud Hamdani, Komunitas Pecinta Gagasan Demokrasi