MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Ainun Najib, menyampaikan pandangannya terkait sejarah penetapan kalender dalam tradisi Yahudi dan Islam. Ia menyebut, umat Yahudi telah lebih dahulu meninggalkan metode rukyat (pengamatan hilal) dan beralih ke sistem hisab global sejak sekitar abad ke-3 Masehi.
Menurut Ainun, perubahan tersebut menghasilkan sistem kalender yang bersifat tunggal dan berlaku global, yang ia sebut sebagai “Kalender Yahudi Global Tunggal (KYGT)”. Dalam keterangannya, ia menyatakan bahwa sistem tersebut sudah digunakan jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Umat Yahudi sudah sejak tahun 300-an Masehi beralih dari rukyat ke hisab wujudul hilal dan global. Itu dilakukan sekitar tiga abad sebelum Rasulullah lahir,” ujar Ainun dalam pernyataannya, Sabtu (21/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa sistem kalender Yahudi saat ini dikenal sebagai Kalender Ibrani, yang dalam praktiknya menggunakan perhitungan matematis (hisab) untuk menentukan awal bulan, bukan lagi pengamatan langsung terhadap hilal.
Ainun kemudian mengaitkan hal tersebut dengan praktik yang dijalankan dalam Islam. Ia berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui praktik perhitungan kalender global tersebut, namun tetap memilih metode rukyat sebagaimana tercantum dalam hadis.
“Artinya Rasulullah tahu praktik itu, tetapi beliau tidak mengambil metode tersebut. Rasulullah justru menegaskan agar umat Islam berpuasa dan berhari raya dengan rukyat,” katanya.
Ia merujuk pada hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, yang menyebutkan, “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” Menurutnya, hadis tersebut menunjukkan bahwa metode rukyat adalah pilihan yang ditegaskan langsung oleh Nabi.
Secara tidak langsung, Ainun menilai bahwa perdebatan mengenai penggunaan hisab global dalam penentuan awal bulan hijriah perlu dikaji dengan mempertimbangkan aspek historis dan normatif. Ia menekankan bahwa umat Islam memiliki landasan tersendiri dalam menetapkan kalender, yang berbeda dengan tradisi agama lain.
Pandangan ini kembali memunculkan diskusi klasik di kalangan umat Islam mengenai metode penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri, antara penggunaan rukyat, hisab, atau kombinasi keduanya. Di Indonesia sendiri, perbedaan metode ini kerap menjadi bahan diskusi antara berbagai organisasi Islam, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Ainun menegaskan bahwa perbedaan tersebut seharusnya disikapi secara ilmiah dan proporsional. “Yang penting adalah tetap menjaga ukhuwah dan menghormati ijtihad masing-masing,” tuturnya.





