31 Oktober 2026

Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

MoneyTalk.id,Jakarta – Dinamika politik pasca-Pilpres selalu menyisakan cerita. Namun, apa yang dipertontonkan oleh pasangan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka belakangan ini melampaui batas kewajaran. Kita seperti disuguhi drama dua babak yang dimainkan dalam satu panggung, tapi dengan naskah yang bertolak belakang.

Di satu sisi, Presiden Prabowo sedang babak-belur dikepung dari segala penjuru. Kritik tajam netizen. Gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah. Di sisi lain, Gibran tampak santai. Seolah steril dari berbagai problem yang membelit negara dan rakyat.

Kritik dan demo terhadap Prabowo nyaris tak pernah berhenti. Isunya pun berat: sengkarut program Makan Bergizi Gratis (MBG), kontroversi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), rupiah yang loyo, IHSG yang anjlok, dan tekanan fiskal kian mencekik. Juga ada soal kebijakan pajak yang dinilai gila-gilaan, serta polemik perpanjangan usia pensiun Kapolri. Proyek food estate yang sempat senyap, tiba-tiba mencuat lagi ke permukaan.

Namun, tengoklah ke sisi lain panggung. Wapres Gibran justru tampil begitu tenang, bahkan cenderung abai. Dia bak makhluk dari planet lain yang sama sekali terlepas dari seluruh kegaduhan ekonomi dan sosial yang melanda negeri. Gibran tidak pernah berkomentar soal nilai tukar rupiah, saham, atau carut-marut MBG. Ketika mahasiswa berdemo di mana-mana, Gibran justru sibuk memainkan narasi politiknya sendiri.

Ingat momen di Istana Wapres ketika Gibran menerima rombongan “mahasewa”? Disebut mahasewa karena terbukti merupakan massa bayaran. Belum lagi manuvernya membawa rombongan mahasiswa UI ke Papua tanpa izin rektorat.

Di lapangan, Gibran sangat rajin keliling daerah membagikan bantuan sosial (Bansos). Ini bukan sekadar tugas seremonial seorang wakil presiden. Ini adalah langkah konsolidasi politik yang taktis, sekaligus sebuah upaya membusukkan kepemimpinan Prabowo dari dalam.

Dengan semua manuvernya, Gibran sedang mengatakan: saya berbeda dengan Prabowo. Prabowo hobi marah-marah, menuduh sana-sini, boros, dan asyik dengan jalan-jalan ke luar negeri. Sedangkan saya cool, penuh senyum, ramah, mengayomi, dan perhatian pada rakyat jelata. Semua itu dilakukannya demi investasi politik menuju 2029. Bahkan bukan mustahil lebih cepat dari itu.

Gerilya PSI dan Serangan Udara

Manuver Gibran dari Istana Wapres diperkuat secara masif oleh gerakan eksternal keluarganya. Di garis depan, kita melihat pergerakan dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai yang dipimpin oleh adik kandung Gibran, Kaesang Pangarep, kini gencar melakukan gerilya politik ke akar rumput. PSI sengaja disiapkan sebagai “sekoci” dan infrastruktur politik cadangan untuk mengamankan jalur dinasti.

Gerakan darat PSI ini diperkuat oleh gempuran luar biasa di ruang digital. Pasukan buzzer dan influencer sewaan. Orang-orang yang oleh mantan Danjen Kopassus Soenarko disebut para pemakan bangkai ini, bergerak serentak di media sosial. Mereka menebar narasi fitnah, memutarbalikkan fakta, dan mendelegitimasi pemerintahan Prabowo.

Pola ini sangat terbaca. Bukan kejadian alamiah. Ini adalah cyber warfare yang diorkestrasi dari satu komando. Tujuannya menciptakan distrust (ketidakpercayaan) publik yang akut terhadap Prabowo. Masyarakat didorong untuk meragukan dan marah kepada kepemimpinan Prabowo akibat hasutan media sosial. Jika ini berhasil diwujudkan, saat itulah karpet merah digelar untuk Gibran agar tampil sebagai “pahlawan penyelamat”.

Orkestrasi politik ini kian benderang jika kita membaca pergerakan sang ayah, Joko Widodo. Mantan presiden ini tampak belum rela melepaskan panggung kekuasaan. Dia gencar melakukan safari politik keliling Indonesia. Tentu saja, publik yang melek politik membacanya bukan jalan-jalan, apalagi silaturahmi biasa.

Kunjungan ke Lampung, misalnya, memicu kegaduhan luar biasa. Ada penolakan masyarakat lapis bawah dari segala elemen; mahasiswa, aktivis, emak-emak, dan lainnya. Tapi pada saat yang sama, segelintir elite lokal justru menganugerahinya gelar “Paduka Pemuka Bangsa”.

Yang paling mencolok tentu saja prosesi adat yang menyertakan adegan menginjak kepala kerbau. Bagi sebagian kalangan yang paham akan bahasa simbol, ini adalah pesan politik tingkat tinggi. Banyak yang menafsirkan bahwa aksi menginjak kepala kerbau tersebut merupakan simbol keberanian Jokowi untuk “menginjak” partai lamanya. Faktanya, PDIP berlambang kepala banteng. Sebuah pesan intimidatif bahwa Geng Solo masih memiliki taji dan nyali untuk menggilas lawan politiknya.

Kolaborasi Jahat Jokowi dan Oligarki

Semua manuver dan gerilya tadi tentu membutuhkan dana sangat besar. Publik percaya, Jokowi punya uang sangat banyak. Politisi senior PDIP Beathor Suryadi, misalnya, yakin di rumah Jokowi ada bungker berisi duit. Jumlahnya sangat fantastis, ratusan triliun. Dia bahkan menyebut masih ada sejumlah bungker di beberapa tempat lain.

Meski begitu, ikhtiar menjatuhkan Prabowo dan segera menaikkan Gibran berkelindan dengan kepentingan oligarki. Mereka siap dengan senang hati mendanai semua gerakan kolosal ini. Biaya safari politik Jokowi, gerilya PSI, dan bayaran para buzzer/influencer cuma remah-remah bagi oligarki.

Di sinilah kita melihat kongkalikong jahat antara penguasa dinasti dan para oligarki hitam. Yang disebut terakhir adalah para penikmat Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Selama sepuluh tahun terakhir, mereka telah mengeruk kekayaan alam kita dengan nilai fantastis hampir tanpa tersentuh hukum. Angkanya mencapai belasan bahkan puluhan ribu triliun rupiah.

Namun, kenyamanan mereka terusik di era Prabowo. Langkah tegas pemerintah yang mulai menyita jutaan hektare perkebunan dan pertambangan ilegal membuat para oligarki ini meradang. Kemarahan mereka makin memuncak ketika pemerintah membabat habis praktik under-invoicing (pemanipulasian nilai faktur yang lebih rendah) dan transfer pricing—modus klasik yang selama ini digunakan untuk melarikan modal ke luar negeri dan menghindari pajak.

Ditambah hadirnya kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (SDI), menjadi pukulan telak yang mematikan bagi mereka. Kran-kran penyelundupan ditutup. Celah manipulasi disumbat. Kehilangan potensi jarahan ribuan triliun membuat para oligarki gelap mata. Mereka menemukan sekutu yang sepadan pada diri Jokowi yang juga sedang panik mengamankan masa depan politik anak-anaknya.

Maka, terjadilah kongsi jahat itu: Jokowi butuh kekuasaan dan proteksi untuk dinastinya. Sementara oligarki butuh kembali mengeruk SDA Indonesia tanpa gangguan. Tujuan akhir dari kongsi ini sangat mengerikan: menjatuhkan Prabowo secepatnya. Mereka tidak mau menunggu sampai 2029.

Tekanan fiskal. Rupiah yang digoyang. Demonstrasi yang dirancang dan ditunggangi. Fitnah yang ditebar buzzer di media sosial. Semua itu adalah peluru-peluru yang ditembakkan secara bersamaan untuk menciptakan instabilitas nasional.

Prabowo?

Melihat kenyataan yang kasat mata ini, muncul satu pertanyaan mendasar yang krusial bagi masa depan bangsa: Apakah Prabowo menyadari semua manuver di sekelilingnya ini? Jika jawabannya Ya, lantas strategi dan antisipasi apa yang sedang disiapkan oleh sang Jenderal?

Namun, jika jawabannya Tidak, mosok seorang Presiden, mantan Danjen Kopassus, mantan Pangkostrad tidak menyadari bahwa dia sedang dikepung dari dalam rumahnya sendiri? Bukankah presiden punya semua perangkat untuk mendeteksi setiap pergerakan seperti ini? Ibarat kata, tak ada sebatang jarum pun yang jatuh tanpa sepengetahuan presiden!

Sebagai rakyat, kita harus jujur melihat potensi ancaman ini. Kita wajib mengingatkan Presiden Prabowo untuk tetap tegak, waspada. Yang lebih penting lagi, publik harus mendorong agar Prabowo berani menyikat balik. Upaya kembalinya kekuatan Jokowi dan Geng Solo harus dicegah demi keselamatan negara.

Tidak bisa tidak, apa yang dilakukan Geng Solo dan oligarki ini adalah kudeta merangkak. Kudeta senyap tapi sistematis dan terencana dengan sangat baik. Jika upaya percepatan penggantian kekuasaan ini terjadi, Prabowo adalah korban pertama. Dia terjungkal dari kursi presidennya.

Tapi, korban kudeta ini bukan hanya Prabowo. Seluruh rakyat Indonesia akan menghadapi bencana besar. Kita terancam dipimpin oleh sosok nirkualitas seperti Gibran. Di belakang sosok Gibran yang minim pengalaman politik substansial itu, ada Jokowi yang mengendalikan benang merahnya. Di belakang Jokowi, bercokol kekuatan oligarki domestik yang serakah. Dan di belakang oligarki, ada kepentingan geopolitik raksasa seperti Republik Rakyat China (RRC) yang siap mencengkeram kedaulatan ekonomi, politik, dan hukum kita.

Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Ini sangat berbahaya. Gibran ternyata terbukti tidak senaif yang dikira banyak orang. Dia makin pintar membaca celah dan taktis. Karena itu, dia makin berbahaya bagi stabilitas pemerintahan saat ini.

Presiden Prabowo harus segera mengambil langkah tegas sebelum semua terlambat. Jargon satu musuh terlalu banyak dan seribu teman sedikit harus ditinjau ulang. Teman yang banyak artinya kompensasi yang banyak pula. Di antara para teman, banyak juga yang penjilat. Yang paling bahaya, justru teman yang diam-diam pengkhianat.

Prabowo harus waspada dan tegas. Bertindak cepat dan tepat. Eliminasi setiap potensi ancaman yang ada. Singkirkan sikap ewuh-pakewuh apalagi rasa utang budi. Kalaupun, sekali lagi: ini kalaupun, Prabowo berutang budi, cukup satu tahun untuk melunasi. Tidak boleh merasa utang budi politik sepanjang masa.

Prabowo harus menjaga jangan sampai istana yang megah runtuh dari dalam. Jangan sampai bangsa dan rakyat Indonesia terjerumus dalam derita berkepanjangan. Jangan sampai semua itu terjadi karena kelalaian mendeteksi musuh dalam selimut yang bekerja untuk “tetangga sebelah” dan mantan penguasa yang telah lengser. []

Penulis :

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, mengaku mendengar kabar bahwa pengacara senior Eggi Sudjana bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Menurut Muslim, informasi tersebut diperolehnya dari sejumlah rekan sesama aktivis. Ia menyebut kabar itu masih bersifat informal dan belum disampaikan langsung oleh pihak terkait.

“Saya mendengar dari teman-teman aktivis bahwa Eggi Sudjana masuk PSI. Namun tentu perlu konfirmasi langsung dari yang bersangkutan,” ujar Muslim kepada wartawan, Sabtu (14/2/2026).

Hingga berita ini dipublikasikan, wartawan telah mencoba menghubungi Eggi untuk meminta klarifikasi. Namun, yang bersangkutan belum memberikan jawaban ataupun pernyataan resmi terkait kabar tersebut.

Belum ada keterangan dari PSI mengenai kebenaran informasi bergabungnya Eggi. Jika kabar ini benar, langkah tersebut dinilai dapat menjadi dinamika baru dalam peta politik nasional, mengingat rekam jejak Eggi yang dikenal aktif dalam berbagai isu hukum dan politik.

Redaksi masih menunggu konfirmasi lanjutan dari pihak terkait.

MoneyTalk, Jakarta – Tangisan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep saat menyampaikan pidato di ajang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI menuai beragam reaksi publik. Salah satu respons keras datang dari aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Umar Hasibuan (Gus Umar) yang secara terbuka menyatakan sikap skeptis terhadap momen emosional tersebut.

Dalam pidatonya, Kaesang tak kuasa menahan air mata ketika menyinggung berbagai kritik dan serangan yang diarahkan kepadanya sejak terjun ke dunia politik. Ia mengaku kerap diremehkan, diserang secara personal, serta dicap hanya mengandalkan status sebagai anak mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, bagi Umar Hasibuan, tangisan Kaesang tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai bentuk ketulusan. Melalui pernyataan yang beredar luas di media sosial, Umar menegaskan dirinya tidak akan terpengaruh oleh ekspresi emosional dalam panggung politik.

“Saya tak akan tertipu dengan tangismu,” ujar Umar Hasibuan menanggapi momen tersebut, Senin (2/2/2026).

Umar menilai, dalam konteks politik, ekspresi air mata kerap digunakan sebagai strategi membangun citra korban di tengah kritik publik. Menurutnya, perdebatan seharusnya tidak bergeser pada sisi emosional, melainkan tetap fokus pada isu substansial seperti relasi kekuasaan, privilese politik, dan proses kaderisasi partai.

Ia juga menyinggung posisi Kaesang sebagai anak mantan presiden yang dinilai tetap memiliki keuntungan struktural dalam percaturan politik nasional, terlepas dari narasi tekanan atau serangan yang disampaikan.

Di sisi lain, pendukung Kaesang menilai tangisan tersebut sebagai bentuk luapan emosi manusiawi. Mereka beranggapan Kaesang menghadapi beban ekspektasi yang besar serta tekanan berlapis, baik sebagai figur publik maupun sebagai pimpinan partai politik yang relatif muda.

Peristiwa ini kembali memunculkan perdebatan publik soal batas antara ekspresi personal dan strategi komunikasi politik. Di tengah iklim politik yang kian emosional, publik pun dihadapkan pada pertanyaan klasik: sejauh mana air mata di panggung politik mencerminkan ketulusan, dan kapan ia berubah menjadi alat pencitraan.

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Umar Hasibuan, melontarkan kritik keras terhadap Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep. Melalui pernyataannya yang bernada satire khas Medan, Umar menilai pernyataan Kaesang di masa lalu bertolak belakang dengan realitas politik saat ini.

“Kata orang Medan: macam betul aja kau ngomong. Dulu kau bilang tak tertarik politik, mau fokus bisnis saja,” ujar Umar Hasibuan dalam pernyataan yang beredar di media sosial, dikutip Sabtu (31/1).

Umar merujuk pada pernyataan Kaesang beberapa tahun lalu yang menyebut dirinya enggan terjun ke dunia politik dan memilih berkonsentrasi pada usaha. Namun, keputusan Kaesang bergabung hingga memimpin PSI dinilai Umar sebagai bentuk inkonsistensi sikap.

Tak berhenti di situ, Umar juga menyinggung soal kekuasaan yang menurutnya terpusat dalam lingkaran keluarga Presiden Joko Widodo.

“Satu keluarga benar-benar haus kekuasaan,” tegas Umar.

Pernyataan tersebut langsung memantik beragam respons di ruang publik. Sebagian warganet mendukung kritik Umar dan menilai fenomena politik dinasti semakin menguat. Namun, tak sedikit pula yang membela Kaesang dengan alasan setiap warga negara memiliki hak politik, termasuk untuk berubah pandangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kaesang Pangarep maupun pihak PSI terkait pernyataan Umar Hasibuan tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Rumah mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar digeledah oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Penggeledahan tersebut langsung menuai beragam reaksi publik, termasuk dari pegiat media sosial John Sitorus.

Melalui unggahan di media sosialnya, John Sitorus secara terbuka menyampaikan sindiran keras kepada Siti Nurbaya. Ia bahkan menyarankan agar mantan menteri di era Presiden Joko Widodo itu segera bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Saran saya kepada Bu Siti Nurbaya, segera pindah partai ke PSI. Karena di sanalah tempat penampungan orang-orang korup dan bermasalah era rezim Jokowi,” tulis John Sitorus di media sosialnya, Sabtu (31/1/2026).

Pernyataan tersebut memantik perdebatan luas di ruang publik. Sebagian warganet menilai komentar John Sitorus sebagai kritik keras terhadap warisan politik pemerintahan sebelumnya, sementara lainnya menganggap pernyataan itu bernada tudingan dan provokatif.

Sebagai informasi, Siti Nurbaya merupakan Menteri LHK selama dua periode di pemerintahan Presiden Joko Widodo dan dikenal sebagai salah satu menteri dengan masa jabatan terpanjang. Penggeledahan oleh aparat penegak hukum ini pun langsung menjadi sorotan publik dan memicu spekulasi terkait dugaan kasus yang tengah diusut.

MoneyTalk, Jakarta – Langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menelusuri dugaan suap pengelolaan kawasan hutan di lingkungan PT Eksploitasi dan Industri Hutan (Inhutani) V memasuki babak baru. Setelah memeriksa sejumlah pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), lembaga antirasuah itu menyatakan membuka peluang memanggil Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebagai saksi.

Kasus bermula dari temuan dugaan aliran dana suap terkait kerja sama pengelolaan kawasan hutan yang melibatkan pihak swasta dan Inhutani V, anak perusahaan Perhutani. KPK telah menetapkan beberapa tersangka dan menyita bukti berupa dokumen, uang tunai, serta catatan transaksi yang mengindikasikan adanya praktik suap untuk memuluskan perizinan.

Sejumlah pejabat KLHK, termasuk staf ahli menteri, telah dipanggil guna mengurai proses perizinan dan peran birokrasi kementerian dalam kerja sama tersebut. KPK menegaskan setiap nama yang memiliki keterkaitan, termasuk level pimpinan, tidak menutup kemungkinan akan dimintai keterangan.

Raja Juli Antoni dikenal sebagai kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang sejak awal karier politiknya dekat dengan lingkaran di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebelum menjabat menteri, ia dikenal vokal di ruang publik dan memiliki rekam jejak digital yang kerap mengkritik bahkan menyindir Presiden Prabowo Subianto saat masih menjadi rival politik Jokowi.

Kedekatan Raja Juli dengan mantan Presiden Jokowi menjadikan kabar kemungkinan pemanggilannya sebagai saksi bernilai politik tinggi. Bagi sebagian pengamat, ini bukan semata soal hukum, melainkan juga berpotensi mengubah peta kekuatan politik di tubuh pemerintahan Prabowo.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai proses ini dapat dibaca sebagai langkah Presiden Prabowo untuk mereduksi pengaruh kelompok yang kerap disebut publik sebagai “Geng Solo”—istilah populer untuk menyebut lingkaran politik dekat Jokowi.

“Jika KPK benar-benar memanggil Raja Juli, ini sinyal kuat bahwa Prabowo mulai mempreteli kekuatan jaringan Solo. Panggilan itu bukan hanya proses hukum, tapi pesan politik bahwa era dominasi kelompok lama mulai diurai,” ujar Amir kepada wartawan, Jumat (19/9/2025).

Amir menggarisbawahi tiga poin penting:

1. Strategi Pelemahan Bertahap
Menurutnya, pemeriksaan terhadap pejabat kunci yang punya kaitan dengan rezim sebelumnya adalah pola klasik memutus patronase lama. “Dengan masuknya KPK pada kasus ini, lapisan-lapisan pengaruh yang melindungi orang-orang tertentu mulai terkuak,” katanya.

2. Hukum dan Politik Beririsan
Amir menilai proses hukum tidak bisa dipisahkan dari implikasi politik. “Walau KPK bekerja berdasar bukti, dampak politiknya jelas: menggeser peta kekuasaan dan membuat faksi lama kehilangan taring,” ujarnya.

3. Risiko Balik Arah
Ia mengingatkan bahwa langkah ini juga berpotensi menimbulkan resistensi. “Jika dipersepsikan sebagai politisasi, kelompok yang merasa terdesak bisa memobilisasi dukungan dan membangun narasi perlawanan.”

Kemungkinan pemanggilan menteri aktif membawa konsekuensi besar. Secara hukum, pemanggilan menunjukkan bahwa penyidik menemukan indikasi relevansi langsung dengan kebijakan kementerian. Secara politik, isu ini dapat memunculkan tekanan publik, memaksa klarifikasi terbuka, bahkan memantik spekulasi perombakan kabinet.

Selain itu, kasus yang menyangkut pengelolaan kawasan hutan menyentuh sektor strategis. Jika terbukti, dampaknya bisa mengguncang kepercayaan publik terhadap tata kelola sumber daya alam sekaligus memengaruhi kebijakan investasi di sektor kehutanan.

Hingga kini, KLHK belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kemungkinan pemanggilan menterinya. Namun, kementerian menegaskan siap bekerja sama penuh dengan KPK. Sementara itu, KPK menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan sesuai bukti tanpa intervensi pihak mana pun.

Kasus dugaan suap di Inhutani V bukan hanya menguji komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi, tetapi juga menjadi barometer hubungan kekuasaan pasca-peralihan dari pemerintahan Jokowi ke Prabowo. Apakah langkah KPK akan sekadar menjerat oknum atau menjadi pintu pembongkaran jaringan lama, publik menunggu perkembangan penyidikan yang saat ini masih berjalan.

MoneyTalk, Jakarta – Keputusan Presiden Prabowo Subianto menggelar konferensi pers bersama para ketua umum partai politik pendukung pemerintah tanpa melibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menuai sorotan tajam. Koordinator Bolo Gibran, Ismunjoko Leksono, menilai langkah Prabowo tersebut mencerminkan sikap “kacang lupa pada kulitnya”.

Dalam konferensi pers yang digelar di Istana, Prabowo tampil bersama sejumlah ketum parpol besar yang menjadi pilar koalisi pemerintah. Namun, dua figur penting justru tak terlihat: Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep.

Ismunjoko menyebut hal itu sebagai bentuk pengabaian terhadap peran besar keluarga Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024 lalu.

“Kemenangan Prabowo di Pilpres 2024 tidak bisa dilepaskan dari dukungan penuh Presiden ke-7 Jokowi dan keterlibatan langsung Gibran sebagai pasangan calon. Tapi kini, seolah-olah Gibran tidak dihargai. Ini ibarat kacang lupa pada kulitnya,” ujar Ismunjoko, Minggu (31/8/2025).

Peran Jokowi dan Gibran dalam Pilpres 2024

Menurut Ismunjoko, publik tidak bisa melupakan bagaimana Jokowi memberikan dukungan politik dan elektoral yang sangat signifikan bagi kemenangan Prabowo. Selain itu, keputusan menggandeng Gibran sebagai cawapres muda dinilai menjadi faktor penentu dalam meraup suara generasi milenial dan Gen Z.

“Kalau tanpa dukungan Jokowi dan sosok Gibran, mustahil Prabowo bisa meraih kemenangan telak. Sekarang setelah menang, justru Wapres tidak diajak dalam momen penting seperti konferensi pers bersama ketum parpol. Itu sangat disayangkan,” tegasnya.

Tak hanya Gibran, absennya Kaesang Pangarep sebagai ketua umum PSI juga menjadi sorotan. Padahal, meski PSI tergolong partai kecil, posisi Kaesang sebagai adik kandung Gibran sekaligus putra bungsu Jokowi membuat kehadirannya memiliki makna politik yang besar.

“PSI memang bukan partai besar, tapi simbol politik yang dibawa Kaesang tidak bisa diremehkan. Keberadaannya bisa merepresentasikan suara anak muda. Mengabaikan Kaesang sama saja dengan mengabaikan salah satu faktor legitimasi politik Prabowo pasca Pilpres,” tambah Ismunjoko.

Langkah Prabowo ini disebut-sebut menjadi sinyal bahwa ada jarak politik yang mulai terbentuk antara Presiden dengan Wapres. Beberapa pengamat sebelumnya juga telah mengingatkan potensi gesekan dalam relasi Prabowo–Gibran, terlebih jika Gibran terus menunjukkan kemandirian politiknya.

Namun, Ismunjoko menegaskan bahwa Bolo Gibran akan tetap solid mendukung Wakil Presiden. Ia menilai publik harus kritis terhadap langkah-langkah politik yang berpotensi menyingkirkan Gibran dari panggung utama pemerintahan.

“Kalau Gibran terus diperlakukan seperti ini, bukan tidak mungkin muncul persepsi bahwa Prabowo sedang berusaha meminggirkan peran wakilnya. Padahal, konstitusi jelas mengamanatkan posisi wapres sebagai bagian integral dari eksekutif,” kata Ismunjoko.

Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai, absennya Gibran dalam forum penting seperti konferensi pers bersama ketum parpol bisa memicu ketidakselarasan dalam tubuh koalisi. Sebab, relasi antara Prabowo dan keluarga Jokowi sejatinya menjadi kunci stabilitas politik di periode awal pemerintahan.

Jika ketegangan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin muncul perpecahan dukungan di akar rumput, terutama dari kelompok pendukung Jokowi yang merasa Gibran tidak mendapat tempat semestinya.

Ismunjoko pun mengingatkan bahwa dukungan rakyat terhadap Gibran bukan sekadar formalitas, melainkan modal politik nyata yang harus dihormati.

“Kalau ada upaya mengecilkan peran Gibran, itu sama saja mengabaikan aspirasi rakyat yang memilih pasangan Prabowo–Gibran. Jangan sampai rakyat merasa dikhianati,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Dewan Penasihat DPP Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs), Sufmi Dasco Ahmad, melontarkan sindiran yang menarik perhatian publik saat menyinggung perubahan lambang Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dalam sebuah acara internal Gekrafs, Dasco dengan nada berkelakar mengatakan, “Saya sampai ngecek, jangan-jangan logo Gekrafs juga berubah jadi kancil.”

Pernyataan ini mengundang spekulasi tajam bahwa sindiran tersebut diarahkan langsung ke PSI yang belakangan mengganti lambangnya dari bunga mawar merah menjadi kepala kancil berwarna emas. Langkah rebranding PSI itu disebut-sebut berkaitan erat dengan konsolidasi kekuatan politik baru yang dipimpin oleh Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep — dua sosok sentral dari “Geng Solo”.

Pengamat geopolitik dan intelijen, Amir Hamzah, menilai pernyataan Dasco bukan sekadar guyonan. “Pernyataan itu penuh muatan politik dan simbolik. Dasco sedang menyampaikan pesan menohok ke Geng Solo yang dinilai terlalu agresif dan oportunistik dalam menguasai simbol-simbol politik,” ujar Amir, Senin (21/7/2025).

Menurut Amir, sindiran Dasco harus dibaca sebagai pesan dari lingkaran dalam Prabowo Subianto yang merasa perlu menyeimbangkan dominasi komunikasi politik Gibran-Kaesang.

“Dasco adalah orang kepercayaan Prabowo, dia tidak mungkin menyentil PSI tanpa ada alasan politik yang terstruktur. Ini peringatan halus bahwa perubahan simbol partai tidak bisa sembarangan, apalagi jika orientasinya hanya pada pencitraan, bukan ideologi,” kata Amir.

Amir menyebut gaya sindiran Dasco mengandung dua makna: pertama, bahwa perubahan lambang PSI dianggap terlalu pragmatis dan menjauh dari identitas awal partai; kedua, bahwa manuver politik Geng Solo mulai meresahkan tokoh-tokoh senior di koalisi besar pendukung Prabowo.

“Simbol partai itu bukan hanya soal estetika, tapi juga komitmen politik. PSI dulu dikenal sebagai partai anak muda dengan idealisme antikorupsi dan kebhinekaan. Sekarang, setelah masuknya Kaesang dan perubahan logo, identitas itu kabur. Dan ini yang dikritik secara halus oleh Dasco,” ujar Amir.

Perubahan lambang PSI dianggap banyak pihak sebagai strategi untuk menyegarkan citra dan menyasar segmen pemilih muda yang lebih luas menjelang Pemilu 2029. Namun, menurut Amir Hamzah, langkah ini justru membuka celah perpecahan halus dalam koalisi pendukung pemerintah.

“Koalisi ini besar, tapi tidak homogen. Ada kelompok konservatif, ada nasionalis, ada teknokrat, dan sekarang ada Geng Solo yang agresif membangun dinasti politik. Dalam situasi seperti ini, simbol jadi sangat penting karena menjadi alat perebutan narasi,” jelas Amir.

Amir menilai, Dasco sebagai politisi yang berpengalaman paham betul arti simbol dan narasi dalam politik Indonesia. “Sindiran soal ‘logo kancil’ itu bukan candaan biasa. Itu kode keras bahwa elite lama belum tentu merestui ambisi-ambisi baru dari anak-anak muda yang sedang naik daun.”

Situasi ini memperlihatkan dinamika internal yang semakin menarik dalam pemerintahan baru. Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih 2024 berada dalam posisi harus menavigasi banyak kepentingan yang berseberangan, termasuk manuver politik dari lingkaran Gibran-Kaesang.

Amir menyebut, “Meski terlihat satu kubu, jangan lupa, Prabowo dan Geng Solo punya basis, gaya, dan tujuan politik yang berbeda. Sindiran Dasco menandakan bahwa ada batas yang tidak boleh dilampaui oleh Geng Solo.”

PSI sendiri hingga kini belum memberikan respons resmi terhadap sindiran Dasco. Namun, publik politik menunggu apakah ini akan menjadi awal dari kontestasi internal yang lebih terbuka, atau hanya menjadi dinamika biasa dalam koalisi besar yang penuh warna.

Peristiwa kecil seperti guyonan soal lambang kancil bisa menjadi pintu masuk membaca peta politik nasional yang lebih luas. Dalam politik Indonesia yang sangat simbolik, setiap ucapan elite membawa makna, dan setiap perubahan lambang bukan sekadar soal desain grafis.

“Kalau PSI terus bermain dengan simbol tanpa kejelasan ideologi, bisa-bisa justru kehilangan arah. Dan pesan Dasco adalah alarm bagi semua pihak, bahwa tidak semua elite nyaman dengan arah baru yang sedang ditempuh Geng Solo,” tutup Amir Hamzah.