Tangisan Kaesang di Rakernas PSI Dipertanyakan, Gus Umar: Saya Tak Akan Tertipu Air Mata Politik

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Tangisan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep saat menyampaikan pidato di ajang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI menuai beragam reaksi publik. Salah satu respons keras datang dari aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Umar Hasibuan (Gus Umar) yang secara terbuka menyatakan sikap skeptis terhadap momen emosional tersebut.

Dalam pidatonya, Kaesang tak kuasa menahan air mata ketika menyinggung berbagai kritik dan serangan yang diarahkan kepadanya sejak terjun ke dunia politik. Ia mengaku kerap diremehkan, diserang secara personal, serta dicap hanya mengandalkan status sebagai anak mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, bagi Umar Hasibuan, tangisan Kaesang tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai bentuk ketulusan. Melalui pernyataan yang beredar luas di media sosial, Umar menegaskan dirinya tidak akan terpengaruh oleh ekspresi emosional dalam panggung politik.

“Saya tak akan tertipu dengan tangismu,” ujar Umar Hasibuan menanggapi momen tersebut, Senin (2/2/2026).

Umar menilai, dalam konteks politik, ekspresi air mata kerap digunakan sebagai strategi membangun citra korban di tengah kritik publik. Menurutnya, perdebatan seharusnya tidak bergeser pada sisi emosional, melainkan tetap fokus pada isu substansial seperti relasi kekuasaan, privilese politik, dan proses kaderisasi partai.

Ia juga menyinggung posisi Kaesang sebagai anak mantan presiden yang dinilai tetap memiliki keuntungan struktural dalam percaturan politik nasional, terlepas dari narasi tekanan atau serangan yang disampaikan.

Di sisi lain, pendukung Kaesang menilai tangisan tersebut sebagai bentuk luapan emosi manusiawi. Mereka beranggapan Kaesang menghadapi beban ekspektasi yang besar serta tekanan berlapis, baik sebagai figur publik maupun sebagai pimpinan partai politik yang relatif muda.

Peristiwa ini kembali memunculkan perdebatan publik soal batas antara ekspresi personal dan strategi komunikasi politik. Di tengah iklim politik yang kian emosional, publik pun dihadapkan pada pertanyaan klasik: sejauh mana air mata di panggung politik mencerminkan ketulusan, dan kapan ia berubah menjadi alat pencitraan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *