MoneyTalk, Jakarta – Pemerintahan Presiden Prabowo mirip manajemen perusahaan “startup”, punya budaya korporasi _move fast and break things_. Gesit mengganti atau memindah jabatan seseorang, atau membuat badan baru. Frekuensi reshuffle (resafel) Kabinet Merah Putih cukup fantastis—lima kali dalam satu setengah tahun terakhir. Artinya, setiap tiga bulan Prabowo melakukan resafel kabinet.
Kegemaran Prabowo meresafel, gonta-ganti personel, sepertinya mewarisi gaya Jokowi. Sepuluh tahun di era pemerintahan Jokowi sedikitnya terjadi 14 kali resafel. Era SBY dan Gus Dur, masing-masing lima kali. Era Soeharto, Habibie dan Megawati, resafel tidak pernah terjadi. Lima tahun di era Prabowo, sampai 2029, mungkin akan ada 17 Kali resafel–jika trend ganti menteri setiap tiga bulan terus berlaku.
Sayangnya kegesitan ala startup cuma sampai disitu: getol mengganti atau mengangkat pejabat baru. Alih-alih efisien dan kompeten, kabinet Prabowo tetap gemuk dan lamban. Prabowo mengelola negara besar berpenduduk 280 juta, namun gaya kabinetnya seperti perusahaan startup, atau kepanitiaan acara perayaan Acara 17-an. Susunan kepanitiaan lazimnya memang cepat dibentuk, mudah dirombak, dan dibubarkan.
Tapi bahkan panitia acara 17-an tetap memerlukan time-frame kerja. Bayangkan acara lomba makan kerupuk atau balap karung, yang belum mulai, tapi panitianya lima kali diganti. Kordinator digeser jadi seksi konsumsi, seksi acara jadi humas. Tentu, dalam manajemen kepanitiaan, pergantian personel adalah hak prerogatif ketua panitia. Namun pergantian yang terlalu rutin menjadi kehilangan substansi evaluasi-korektifnya.
Masalahnya, kabinet bukan panitia perayaan, dan pemerintahan bukan event organizer yang bersifat ad-hoc. Pemerintahan perlu kesinambungan, memori institusional, dan arah kebijakan yang stabil dan terukur. Penunjukkan jabatan menteri atau kepala badan bukan sekadar nama dalam struktur, melainkan koneksi jaringan kebijakan yang koheren dan kompleks. Mengganti jabatan berarti mereset koordinasi, bukan sekadar menaruh orang dalam kursi.
Kegetolan me-resafel indikasi adanya kegamangan visi-misi atau ketidakjelasan kebijakan. Pergantian kabinet mestinya peristiwa “luar biasa,” ada situasi yang anfal atau fatal. Bukan sekadar keputusan sambil lalu, hasil sekelebat pikiran yang gampang berubah. Kinerja kabinet layaknya seperti pertunjukan orkestra simfoni. Setiap kebijakan perlu nada presisi, dimainkan musisi kompeten, dibawah koordinasi presiden, sang dirigen.
Harmoni keindahan musik terdengar ketika dirigen mampu mengarahkan para pemusik memainkan nada dan tempo sesuai partitur. Bayangkan pertunjukan simfoni yang sumbang. Harus jeda sesaat karena dirigen mengganti pemain saat komposisi musik dimainkan. Negara perlu partitur orkestrasi yang jelas, dirigen yang kompeten, pemain yang berkelas, agar simfoni bisa tuntas. Dirigen yang gemar mengganti pemain, indikasi sering salah pilih dan terombang-ambing.
Memang ada dimensi politik dalam koalisi besar politik, resafel sering menjadi alat kompromi, untuk menyeimbangkan kepentingan atau meredam gesekan. Tapi jika terlalu sering, resafel berubah menjadi tujuan, bukan sekadar cara. Politik menjadi simfoni yang sumbang, karena sibuk mencari sensasi untuk menarik atensi. Resafel menjadi atraksi politik level infotainment. Bahan kasak-kusuk siapa akan diganti siapa akan diangkat. Tanpa ada penjelasan mengapa seseorang diangkat atau diturunkan.
Manajemen pemerintahan bukanlah ajang “pencarian bakat” yang menolerir trial and error. Juga bukan “beauty contest” mengikuti selera presiden sebagai juri. Pemerintahan adalah soal kebijakan publik, soal visi dan misi yang jelas. Kegemaran melakukan resafel mengesankan Presiden tidak tahu apa yang ia inginkan dari para pembantunya. Atau tidak mengenali kompetensi orang yang ia tunjuk.
Sering ganti menteri adalah sinyal kegamangan, indikasi adanya problem struktural, manajerial, atau lemahnya kepemimpinan. Jika dalam 18 bulan sering salah memilih menteri, sehingga perlu resafel lima kali, maka masalahnya adalah kemampuan presiden dalam menilai kapasitas dan kompetensi seseorang.
Apalagi jika resafel sekedar ritual mencari perhatian, bernuansa 4L _(Lu Lagi Lu Lagi)_, agar terkesan ada yang dikerjakan pemerintah. Orang-orang yang sama, barang reject, ganti posisi atau diberi jabatan baru. Sementara situasi ekonomi dan sosial rakyat semakin memburuk. Resafel menjadi simfoni yang sumbang, pertunjukan teater istana (pelantikan pejabat) yang membosankan dan menjengkelkan.
Penulis : Lukas Luwarso





