Sjafrie Undang Jenderal Senior Pengkritik Dasco, Pengamat: Konsolidasi Ini Bisa Pertajam Lingkar Dalam Prabowo

  • Bagikan
Pengamat politik Rokhmat Widodo

MoneyTalk, Jakarta – Pertemuan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dengan jajaran petinggi TNI aktif serta para purnawirawan senior dinilai bukan sekadar agenda konsolidasi pertahanan biasa.

Sorotan publik mengarah pada kehadiran mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang sebelumnya pernah melontarkan kritik keras terhadap Ketua Harian Partai Gerindra sekaligus orang kepercayaan Prabowo, Sufmi Dasco Ahmad.

Gatot bahkan sempat menyebut posisi Dasco layaknya “komite sentral” dalam organisasi Partai Komunis, sebuah pernyataan yang kala itu memicu polemik luas. Ia juga pernah menilai Dasco tidak pantas berada di Istana saat pengumuman kabinet, sehingga hubungan politik keduanya dinilai tidak pernah benar-benar cair.

Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai langkah Sjafrie mengumpulkan para kepala staf tiga matra bersama para jenderal senior merupakan gerakan politik yang dibungkus dalam narasi konsolidasi nasional.

“Ini bukan sekadar forum pertahanan biasa. Ada nuansa positioning politik yang sangat kuat. Sjafrie sedang membangun persepsi sebagai figur sentral yang mampu menjembatani militer aktif, purnawirawan, dan lingkar kekuasaan Presiden,” ujar Rokhmat, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, Sjafrie yang bukan berasal dari Partai Gerindra justru sedang berupaya memperkuat legitimasi politiknya di hadapan Prabowo melalui jalur institusional pertahanan.

“Secara formal beliau Menteri Pertahanan, tetapi secara politik ia juga sedang membangun kepercayaan langsung kepada Presiden. Sjafrie bukan kader Gerindra, tetapi ia punya kepentingan agar tetap menjadi figur penting dalam orbit kekuasaan Prabowo,” katanya.

Rokhmat bahkan menilai, bila memang ingin memainkan peran politik yang lebih kuat dalam pemerintahan Prabowo, semestinya Sjafrie memiliki posisi politik yang lebih tegas.

“Harusnya kalau mau total, masuk Gerindra. Karena saat ini yang terlihat adalah konsolidasi kekuatan, tetapi dengan posisi politik yang masih abu-abu,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti bahwa pertemuan tersebut berpotensi memperuncing rivalitas di antara dua poros orang kepercayaan Prabowo, yakni kelompok sipil dan kelompok militer.

“Ini yang berbahaya. Pertemuan seperti ini bisa dibaca sebagai penguatan blok militer di sekitar Presiden, sementara di sisi lain ada figur sipil seperti Dasco yang sangat dominan dalam komunikasi politik dan strategi parlemen,” jelasnya.

Menurut Rokhmat, jika tidak dikelola dengan baik, dinamika ini dapat menimbulkan ketegangan baru di lingkar dalam kekuasaan Presiden.

“Alih-alih memperkuat soliditas pemerintahan, justru bisa mempertegas garis pemisah antara loyalis sipil dan loyalis militer. Ini sensitif karena menyangkut trust Presiden terhadap orang-orang terdekatnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, publik akan terus membaca setiap pertemuan elite pertahanan bukan hanya dari sisi formal kenegaraan, tetapi juga dari arah peta suksesi dan distribusi pengaruh menuju 2029.

“Di era Prabowo, siapa yang paling dipercaya Presiden akan menentukan masa depan politik nasional. Dan semua elite tahu itu,” tutupnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *