Trump Dimakzulkan Dua Kali, Pengamat: Demokrasi Amerika Sedang Diguncang Konflik Internal Elite

  • Bagikan
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah

MoneyTalk, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat resmi memakzulkan Presiden Donald Trump atas tuduhan “hasutan pemberontakan” terkait kerusuhan di Gedung Capitol beberapa waktu lalu.

Sebanyak 10 anggota Partai Republik ikut bergabung dengan Partai Demokrat dalam voting pemakzulan yang menghasilkan suara 232 berbanding 197. Dengan keputusan itu, Trump menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang dimakzulkan sebanyak dua kali.

Menanggapi peristiwa tersebut, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pemakzulan Trump bukan sekadar persoalan hukum atau etika politik semata, melainkan mencerminkan perang besar antar-elite di tubuh Amerika Serikat.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa Amerika sedang mengalami fragmentasi politik yang sangat serius. Ini bukan lagi sekadar pertarungan Demokrat versus Republik, tetapi perebutan arah masa depan Amerika,” kata Amir Hamzah dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).

Menurut Amir, kerusuhan di Gedung Capitol menjadi simbol pecahnya konsensus politik nasional di negeri adidaya tersebut. Ia menilai polarisasi masyarakat Amerika sudah masuk tahap berbahaya dan berpotensi memengaruhi stabilitas global.

Amir menjelaskan, dari perspektif geopolitik, melemahnya stabilitas internal Amerika dapat dimanfaatkan rival-rival strategis seperti China dan Russia untuk memperluas pengaruh internasional mereka.

“Ketika Amerika sibuk dengan konflik domestik, maka kekuatan lain akan mengambil momentum. Ini bisa mengubah peta geopolitik dunia dalam jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga menilai pemakzulan terhadap Trump memperlihatkan adanya ketidakpercayaan mendalam antar-lembaga negara di Amerika. Kondisi tersebut, kata Amir, berbahaya bagi citra demokrasi Barat yang selama ini selalu dipromosikan sebagai model ideal dunia.

“Dunia melihat bahwa demokrasi Amerika ternyata tidak sekuat yang selama ini mereka kampanyekan. Kerusuhan Capitol menjadi pukulan psikologis dan simbolik bagi kepemimpinan global Amerika,” tambahnya.

Lebih lanjut, Amir menilai proses persidangan Trump di Senat akan menjadi pertaruhan besar bagi masa depan politik Amerika. Apabila Trump sampai dilarang maju kembali dalam kontestasi politik, maka basis pendukungnya diperkirakan tetap akan menjadi kekuatan politik yang signifikan.

“Trumpisme tidak akan hilang begitu saja. Basis massa populis nasionalis di Amerika masih sangat besar dan itu akan terus menjadi faktor tekanan bagi pemerintahan berikutnya,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *