MoneyTalk, Jakarta – Pengunduran diri Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat, John Phelan, bukan sekadar pergantian pejabat biasa. Di balik surat yang ia ajukan ke Pentagon, tersimpan pengakuan yang oleh sejumlah kalangan disebut sebagai “bom geopolitik”.
Surat tersebut, yang dikabarkan telah dibaca oleh lembaga penting seperti CIA dan Kongres AS, memuat tudingan serius terhadap kebijakan perang yang diduga sarat kepentingan ekonomi dan jaringan global. Nama Donald Trump bahkan disebut secara langsung dalam konteks keputusan strategis yang berujung pada konflik militer.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai bahwa isi pengakuan tersebut bukan hanya mengejutkan, tetapi berpotensi mengubah peta persepsi dunia terhadap kekuatan Amerika Serikat.
Dalam analisisnya, Amir Hamzah menegaskan bahwa poin paling krusial dari pengakuan Phelan bukan sekadar tuduhan terhadap individu, melainkan runtuhnya narasi dominasi militer Amerika.
“Selama puluhan tahun, Amerika membangun citra sebagai kekuatan tak terkalahkan. Tapi jika benar ada pengakuan internal bahwa perang didorong motif ekonomi dan berakhir dengan kerugian besar, maka ini adalah delegitimasi dari dalam,” ujarnya kepada wartawan, Ahad (3/5/2026).
Menurutnya, pernyataan tentang kekalahan strategis, jatuhnya korban besar, hingga potensi kegagalan menghadapi Iran menunjukkan adanya “crack in the system” atau retakan serius dalam struktur pertahanan AS.
Amir menyoroti bagian paling sensitif dari pengakuan tersebut: dugaan bahwa perang tidak semata didasarkan pada kepentingan keamanan nasional, melainkan kalkulasi ekonomi global.
“Jika benar keputusan perang dikaitkan dengan harga minyak, dolar, dan emas, maka ini memperkuat tesis lama dalam geopolitik: perang modern sering kali adalah instrumen ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan, tudingan adanya keterlibatan korporasi besar dan jaringan internasional membuka kemungkinan bahwa konflik tersebut merupakan “engineered war” atau perang yang direkayasa untuk keuntungan tertentu.
Salah satu bagian paling tajam dari pengakuan Phelan adalah pengakuan superioritas Iran dalam konflik terakhir. Hal ini, menurut Amir, sangat signifikan.
“Jika benar Iran mampu menahan, bahkan mengalahkan tekanan militer Amerika, maka ini bukan sekadar kemenangan taktis. Ini adalah kemenangan psikologis global,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa selama ini kekuatan militer Amerika bertumpu pada efek deterrence—ketakutan global. Ketika rasa takut itu hilang, maka struktur kekuatan internasional ikut berubah.
“Dunia tidak lagi melihat Amerika sebagai ‘monster yang tak bisa dikalahkan’. Dan itu berbahaya bagi posisi geopolitiknya,” tambah Amir.
Amir Hamzah juga menyoroti implikasi jangka panjang dari pengakuan tersebut. Ia memprediksi akan terjadi pergeseran aliansi global.
“Iran bisa naik sebagai kekuatan militer baru, sementara negara-negara Eropa mungkin mulai mengambil posisi lebih pragmatis, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Amerika,” ujarnya.
Menurutnya, skenario yang lebih ekstrem adalah munculnya dunia multipolar yang lebih tajam, di mana kekuatan regional seperti Iran, China, dan Rusia memiliki ruang lebih besar untuk menantang dominasi Barat.
Di dalam negeri AS, Amir melihat potensi krisis yang tidak kalah serius: runtuhnya kepercayaan publik terhadap institusi militer dan politik.
“Jika tuduhan ini berkembang menjadi proses hukum atau investigasi serius terhadap Donald Trump, maka Amerika akan menghadapi konflik internal yang dalam,” katanya.
Ia menilai, narasi bahwa tentara dikorbankan demi kepentingan ekonomi bisa memicu gelombang ketidakpuasan di kalangan militer dan veteran.
Pengunduran diri John Phelan, dengan segala isi pengakuannya, berpotensi menjadi salah satu titik balik dalam sejarah geopolitik modern.
Bagi Amir Hamzah, ini bukan sekadar kisah seorang pejabat yang mundur, melainkan sinyal bahwa dunia sedang memasuki fase baru.
“Jika ini benar, maka kita sedang menyaksikan awal dari perubahan besar: dari dominasi tunggal menuju dunia yang lebih tidak pasti, lebih kompetitif, dan lebih berbahaya,” pungkasnya.


