5 November 2026

Pemerintahan Prabowo

MoneyTalk.id,Jakarta – Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Beathor Suryadi, menilai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjadi pelajaran penting bagi pemerintahan baru. Ia meminta Prabowo melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran Kabinet Merah Putih, terutama menteri-menteri yang dinilainya masih memiliki kedekatan politik dengan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Beathor, persoalan yang kini mencuat memperlihatkan risiko politik ketika seorang presiden mempertahankan atau membawa orang-orang dari lingkaran kekuasaan pemerintahan sebelumnya ke dalam pemerintahan baru.

Beathor menilai, dugaan penyadapan terhadap Prabowo merupakan salah satu konsekuensi dari keputusan politik yang tidak melakukan pergantian personel secara menyeluruh setelah terjadi pergantian kepemimpinan nasional.

Ia menyoroti perjalanan karier Listyo Sigit yang mendapatkan posisi strategis di institusi kepolisian pada masa pemerintahan Jokowi. Listyo dilantik Jokowi sebagai Kapolri pada Januari 2021 dan menjabat hingga Oktober 2026.

Menurut Beathor, riwayat tersebut perlu menjadi bahan evaluasi Prabowo dalam menentukan siapa saja orang yang dipercaya menduduki jabatan strategis di pemerintahan.

“Listyo punya sejarah posisinya dari Jokowi. Maka, dia sangat loyal terhadap kepentingan Jokowi,” demikian pandangan Beathor sebagaimana disampaikan dalam pernyataannya.

Ia menilai, seorang presiden harus memastikan bahwa seluruh pejabat yang berada dalam lingkaran kekuasaannya bekerja berdasarkan kepentingan negara dan mandat presiden, bukan kepentingan politik mantan penguasa.

Kasus dugaan penyadapan ini memang menjadi persoalan serius bagi pemerintahan Prabowo.

Berdasarkan keterangan Kabareskrim Polri Komjen Asep Safrudin dalam konferensi pers Selasa (3/11/2026), Bareskrim telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam perkara dugaan penyadapan ilegal, akses ilegal, dan penghapusan data elektronik.

Ketiganya adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Eko Hadi Santoso. Sementara Irjen Slamet Uliandi masih diperiksa sebagai saksi.

Penyidik mengungkap dugaan penyadapan berlangsung sepanjang 2025 hingga 2026. Sejumlah nomor telepon diduga dimasukkan ke dalam sistem Lawful Interception Management System (LIMS) tanpa melalui proses verifikasi dan tanpa berkaitan dengan penyelidikan maupun penyidikan yang sah.

Nomor-nomor yang diduga menjadi sasaran penyadapan tidak hanya milik Presiden Prabowo, tetapi juga sejumlah pejabat negara, tokoh politik, media, organisasi masyarakat, LSM, hingga pengusaha.

Bareskrim menyebut telah memeriksa 10 saksi dan tiga saksi ahli serta menyita 11 telepon genggam, satu iPad, dan empat flashdisk.

Para tersangka dijerat antara lain dengan Pasal 258 KUHP, Pasal 332 KUHP, dan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Namun, proses hukum masih berjalan dan dugaan keterlibatan masing-masing tersangka harus dibuktikan melalui pengadilan.

Beathor melihat persoalan ini tidak boleh berhenti pada penanganan individu yang diduga terlibat. Menurutnya, Prabowo juga perlu mengevaluasi bangunan politik dan personel pemerintahan yang diwarisi dari era Jokowi.

Bagi Beathor, persoalan utamanya adalah loyalitas dan tanggung jawab pejabat terhadap presiden yang sedang memimpin serta kepentingan rakyat.

Ia mengingatkan, seorang presiden tidak boleh membiarkan orang-orang yang memiliki agenda politik berbeda berada di lingkaran kekuasaan strategis apabila hal itu berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan.

Karena itu, ia menyampaikan satu pelajaran politik bagi Prabowo sebagai penguasa baru.

“Satu pelajaran bagi penguasa baru, ganti semua Menteri pro Jokowi,” tegas Beathor.

Desakan tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa pergantian presiden semestinya diikuti penataan ulang kepercayaan politik dan tanggung jawab pejabat negara.

Prabowo, menurut pandangan Beathor, harus memastikan kabinetnya benar-benar bekerja untuk agenda pemerintahan yang dipimpinnya, bukan menjadi ruang bagi keberlanjutan kepentingan politik pemerintahan sebelumnya.

Di tengah kasus dugaan penyadapan yang menyeret mantan Kapolri, persoalan loyalitas pejabat dan keamanan Presiden menjadi ujian penting bagi pemerintahan Prabowo.

Sebab, seorang presiden harus memiliki jaminan bahwa orang-orang yang berada di sekelilingnya menjalankan tugas berdasarkan konstitusi, hukum, dan kepentingan negara.

MoneyTalk.id,Jakarta – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diwarnai perubahan besar dalam persepsi masyarakat terhadap arah perjalanan bangsa. Jika pada Oktober 2024 sebanyak 83 persen masyarakat menilai Indonesia berada di jalur yang benar, survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 menunjukkan angka tersebut turun menjadi 47,7 persen.

Program Manager SMRC, Saidiman Ahmad, menilai penurunan tersebut menjadi sinyal serius bagi pemerintahan Prabowo. Menurutnya, harapan besar masyarakat ketika Prabowo dilantik sebagai presiden pada Oktober 2024 kini menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Dalam keterangannya pada 13 Oktober 2026, Saidiman menjelaskan bahwa pada awal pemerintahan Prabowo, masyarakat memiliki optimisme tinggi terhadap masa depan Indonesia. Berbagai janji politik, mulai dari makan bergizi gratis, pendidikan tanpa biaya, pembangunan rumah, swasembada pangan hingga pertumbuhan ekonomi 9 persen, ikut membangkitkan harapan publik.

“Pada pokoknya Prabowo akan membawa negeri ini menjadi baldatun tayyibatun. Pemerintahan baru kala itu sukses membangkitkan harapan. Negara kita ada di atas rel yang benar,” tulis Saidiman.

Namun, menurut Saidiman, optimisme tersebut mengalami penurunan seiring memburuknya sentimen masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan merosotnya kepuasan publik terhadap kinerja presiden.

Berdasarkan angka survei SMRC Oktober 2026 yang disampaikan Saidiman, hanya 47,7 persen masyarakat yang menilai Indonesia masih berada di jalur yang benar. Sementara itu, 34,3 persen menyatakan Indonesia sedang menuju arah yang salah dan 18 persen lainnya belum memiliki kepastian penilaian.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kurang dari separuh responden masih memiliki keyakinan terhadap arah perjalanan bangsa. Sebaliknya, jika kelompok yang menilai salah arah dan yang masih ragu digabungkan, terdapat 52,3 persen responden yang belum menyatakan keyakinan bahwa Indonesia berada di jalur yang tepat.

Saidiman menggunakan analogi sebuah bus yang sedang melaju untuk menggambarkan situasi kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo.

Menurutnya, ketika lebih dari separuh penumpang tidak yakin bus akan sampai ke tujuan yang benar, muncul sejumlah kemungkinan. Penumpang dapat meminta sopir diganti, melancarkan protes sepanjang perjalanan, atau bahkan memaksa bus berhenti dan mencari kendaraan lain.

Analogi tersebut menggambarkan risiko politik yang dapat muncul ketika pemerintah kehilangan kepercayaan masyarakat. Ketidakpuasan publik tidak selalu berhenti sebagai kritik, tetapi berpotensi berkembang menjadi tekanan politik yang lebih besar apabila tidak direspons melalui perubahan kebijakan.

Meski demikian, penurunan persepsi mengenai arah bangsa tidak otomatis berarti masyarakat menghendaki pergantian presiden. Angka survei tersebut lebih tepat dibaca sebagai peringatan mengenai meningkatnya keraguan publik terhadap perjalanan pemerintahan dan efektivitas kebijakan yang dijalankan.

Bagi Saidiman, persoalan mendasar yang perlu dijawab pemerintah adalah bagaimana memulihkan harapan masyarakat yang sempat tumbuh tinggi pada awal masa jabatan Prabowo.

Saidiman menilai kepercayaan publik masih mungkin dipulihkan, tetapi membutuhkan perbaikan mendasar dalam tata kelola pemerintahan. Ia mengusulkan sejumlah langkah yang menurutnya perlu dipertimbangkan Presiden Prabowo.

Pertama, memangkas ukuran kabinet dan mengganti menteri yang dinilai tidak kompeten. Menurutnya, efektivitas pemerintahan harus menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan kabinet, bukan semata-mata pembagian posisi politik.

Kedua, menghentikan militerisasi ruang sipil dan mengembalikan militer pada fungsi profesionalnya. Ia menekankan pentingnya menjaga batas yang jelas antara urusan pertahanan dan ranah sipil.

Ketiga, mengevaluasi secara radikal program-program populis yang menyerap anggaran negara apabila hasil pelaksanaannya tidak jelas. Evaluasi tersebut, menurut Saidiman, diperlukan agar belanja negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak mengorbankan prioritas pembangunan lainnya.

Keempat, memperkuat akuntabilitas pemerintahan dengan menjaga independensi lembaga peradilan. Ia juga mendorong keberadaan kekuatan oposisi yang signifikan agar pemerintah memiliki pengawasan politik yang kritis.

Selain itu, Saidiman meminta pemerintah menghentikan apa yang ia sebut sebagai cengkeraman rezim terhadap media dan kampus, serta penetrasi istana terhadap kelompok masyarakat sipil. Ia juga menekankan perlunya sistem meritokrasi dalam mutasi maupun penggantian pejabat publik.

Berbagai usulan tersebut memperlihatkan bahwa kritik Saidiman tidak hanya berkaitan dengan tingkat kepuasan terhadap presiden, tetapi juga menyentuh persoalan kelembagaan, kebebasan sipil, kualitas birokrasi, dan keseimbangan kekuasaan.

Turunnya persentase masyarakat yang menilai Indonesia berada di jalur yang benar dari 83 persen pada Oktober 2024 menjadi 47,7 persen pada Oktober 2026 merupakan perubahan yang patut mendapat perhatian serius.

Meski demikian, angka tersebut perlu dibaca secara proporsional. Penilaian tentang arah bangsa berbeda dengan pertanyaan mengenai pilihan politik, dukungan terhadap presiden, atau keinginan untuk mengganti pemerintahan. Untuk menyimpulkan penyebab penurunan dan tingkat dukungan terhadap kebijakan tertentu, diperlukan data survei lain, termasuk tren kepuasan presiden, evaluasi ekonomi, serta rincian metodologi penelitian.

Pemerintah juga perlu menjelaskan capaian program prioritas, realisasi anggaran, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Dengan demikian, perdebatan mengenai kinerja pemerintahan dapat bertumpu pada data, bukan hanya klaim keberhasilan maupun kritik politik.

Pesan utama Saidiman adalah bahwa kepercayaan publik tidak dapat dipulihkan hanya melalui janji baru. Pemerintah harus menunjukkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, memperbaiki kualitas kebijakan, dan membuka ruang pengawasan yang sehat.

Ia mengingatkan bahwa jika perbaikan mendasar tidak dilakukan, masyarakat bisa semakin meragukan kemampuan pemerintahan membawa Indonesia mencapai tujuan yang dijanjikan.

Temuan lengkap survei tersebut, menurut Saidiman, dapat disimak melalui program Bedah Politik bersama Prof. Saiful Mujani di kanal YouTube SMRC TV.

Bagi pemerintahan Prabowo, tantangannya bukan hanya mempertahankan kekuasaan hingga akhir masa jabatan, melainkan membuktikan bahwa optimisme yang dibangun ketika pelantikan benar-benar dapat diwujudkan dalam kehidupan rakyat.

MoneyTalk.id, Jakarta – Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, isu reshuffle Kabinet Merah Putih kembali mencuat. Presiden Prabowo disebut perlu melakukan penyegaran kabinet, termasuk membersihkan sejumlah wajah lama yang dinilai berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan, sejak awal pemerintahannya, Prabowo telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk beban warisan pemerintahan sebelumnya. Namun, ia menilai Prabowo memiliki modal politik dan pengalaman yang cukup untuk menghadapi berbagai persoalan tersebut.

Menurut Amir, Prabowo merupakan putra ekonom Prof Sumitro Djodjohadikusumo dan pernah menjadi menantu Presiden Soeharto. Sebelum menjadi presiden, Prabowo juga telah menuangkan sejumlah gagasan politik dan ekonomi dalam bukunya, Paradoks Indonesia.

“Setelah Paradoks Indonesia, Presiden Prabowo punya modal besar sebagai anak dari ekonom besar yang dikenal dunia, menantu Soeharto. Selain itu, sikap politiknya dan keberaniannya,” kata Amir dalam sebuah podcast di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2026).

Amir mengatakan, dalam berbagai kesempatan Prabowo selalu mengingat pesan ayahnya bahwa ketika menghadapi konflik atau situasi dilematis, keputusan harus berpihak kepada kepentingan rakyat.

Ia juga menyinggung salah satu bagian dalam Paradoks Indonesia yang menurutnya menggambarkan pandangan Prabowo terhadap dunia politik.

“Dalam Paradoks Indonesia, Prabowo mengatakan dari 15 politisi yang dia ajak bicara, 14 orang di antaranya adalah pembohong. Itu diucapkan sendiri oleh Prabowo,” ujarnya.

Menurut Amir, tantangan bagi Prabowo dalam menjalankan pemerintahan salah satunya adalah mengelola berbagai kepentingan politik yang berada di sekeliling kekuasaan.

“Dalam mengelola negara ini, bisa kita katakan tergantung dari kemampuannya untuk mengelola kebohongan yang ada di sekelilingnya,” katanya.

Prabowo Disebut Hadapi Sejumlah Tantangan

Amir menilai sejak dilantik, Prabowo langsung menghadapi sejumlah tantangan besar. Salah satunya adalah munculnya berbagai prediksi dan pernyataan bahwa pemerintahan Prabowo hanya akan berlangsung selama dua tahun.

Padahal, kata dia, Prabowo memperoleh mandat melalui Pemilu 2024 dan dilantik untuk menjalankan amanat konstitusi.

“Kalau saya mendukung Prabowo itu karena ketika dia bicara, rujukannya adalah kepentingan nasional sebagaimana diamanatkan alinea keempat UUD 1945,” katanya.

Selain itu, Amir menyoroti adanya tindakan sejumlah pembantu presiden yang menurutnya dapat mengganggu jalannya pemerintahan.

“Ada hal-hal kecil yang kelihatannya sepele tapi mengganggu presiden. Kekuasaan betapapun besarnya tidak mungkin punya kekuatan, sementara di luar dia ada orang, seperti ada tukang ngusir dan lain-lain,” ujarnya.

Ia juga menyebut adanya ancaman yang disebutnya sebagai kudeta internal serta berbagai tantangan geopolitik. Bahkan, Amir menyebut adanya skenario global yang menurutnya bertujuan memecah Indonesia menjadi lima negara bagian.

Karena itu, menurut dia, salah satu tantangan strategis Prabowo adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengamat: Reshuffle Kemungkinan Sebelum 20 Oktober

Terkait reshuffle, Amir mengaku telah mendengar informasi mengenai kemungkinan pergantian sejumlah menteri menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo.

“Saya sudah dua bulan lalu mendengar kabar bahwa Presiden Prabowo akan melakukan pergantian kabinet menjelang dua tahun pemerintahan. Ada informasi dari orang dalam bahwa menjelang dua tahun pemerintahan ada reshuffle,” ungkapnya.

Menurut Amir, persoalannya bukan lagi apakah reshuffle akan dilakukan, tetapi siapa saja yang akan diganti.

“Pertanyaan siapa yang harus di-reshuffle? Itu yang dipikirkan. Bahwa akan ada reshuffle sebelum 20 Oktober 2026. Cuma dalam reshuffle itu ada yang mengharapkan agar pemerintahan Prabowo bebas dari rezim lama,” katanya.

Amir kemudian menggunakan filosofi lokal dari Maluku untuk menggambarkan cara Prabowo menghadapi persoalan politik.

Ia mengibaratkan strategi tersebut seperti mencari biji kenari di rumpun sagu. Seseorang yang tidak memiliki pohon kenari tetap dapat memperoleh buah kenari dengan memanfaatkan keadaan di sekitarnya.

“Dia butuh kenari, karena itu dia harus mencari rumpun sagu. Rumpun sagu itu bisa jadi milik rezim lama,” ujarnya.

Amir juga mengibaratkan strategi Prabowo dengan cara menangkap ikan terbang pada malam hari. Jaring ditebarkan di tengah kegelapan, sementara permukaan laut dipukul-pukul untuk membuat ikan terbang masuk ke dalam jaring.

“Presiden Prabowo memiliki banyak cara untuk memperbaiki masa lalu dengan cara-cara seperti itu. Prabowo memiliki banyak cara, dan itu semua dikerjakan Prabowo di kegelapan malam,” katanya.

Panglima TNI, Kapolri dan Jaksa Agung Disebut Belum Diganti

Dalam perkiraannya, Amir mengatakan reshuffle mendatang belum tentu menyentuh tiga posisi strategis, yakni Panglima TNI, Kapolri dan Jaksa Agung.

“Besar kemungkinan dalam reshuffle ini Panglima TNI, Kapolri dan Jaksa Agung belum akan diganti,” katanya.

Menurut Amir, pergantian tiga pejabat tersebut kemungkinan baru dilakukan setelah Prabowo memperoleh mandat politik baru pada Pemilu 2029.

“Menurut analisa saya, dalam rangka menghadapi skenario global itu, ketiga pejabat ini baru bisa diganti Prabowo kalau dia memenangkan pilpres 2029,” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut merupakan analisis Amir dan bukan kepastian mengenai keputusan Presiden Prabowo.

Menyiapkan Pemerintahan hingga 2029

Amir mengatakan, Prabowo saat ini juga dinilainya tengah mempersiapkan keberlanjutan pemerintahannya.

Menurut dia, salah satu agenda yang perlu diperhatikan adalah pembahasan mengenai Undang-Undang Partai Politik, khususnya terkait parliamentary threshold.

“Hampir semua partai politik menghendaki parliamentary threshold sebesar 5 persen,” katanya.

Amir menilai perubahan ambang batas parlemen dapat memengaruhi konfigurasi politik pada Pemilu 2029.

Ia memperkirakan Partai Gerindra akan berupaya meningkatkan perolehan suara nasional pada pemilu legislatif mendatang. Menurutnya, apabila sejumlah partai tidak memenuhi ambang batas parlemen, konfigurasi koalisi di parlemen dapat berubah.

“Saya kira kalau 5 persen yang menjadi tugas Prabowo dan partainya, paling tidak di dalam pemilihan legislatif nanti perolehan suara nasional Partai Gerindra diharapkan bisa mencapai 21 persen,” tuturnya.

Karena itu, Amir mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya karena masih ada sejumlah figur lama dalam pemerintahan Prabowo.

“Salah satu caranya adalah jangan kita keburu marah kalau Prabowo masih memakai orang lama. Perkiraan saya, kemungkinan besar Kapolri, Panglima TNI dan Jaksa Agung belum akan diganti,” pungkasnya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Tiga puluh enam tahun perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA) mempertemukan kembali aktivis lintas generasi dalam Reuni dan Silaturahmi 36 Tahun HUMANIKA di Cerita Rasa Nusantara, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Mengusung tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dengan tagline #AktivisSepanjangMasa, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi perjalanan organisasi yang lahir pada 1990 dan berkembang dalam dinamika gerakan masyarakat sipil Indonesia.

Sejumlah aktivis yang kini berkiprah di berbagai bidang hadir dalam acara tersebut. Di antaranya pendiri HUMANIKA yang kini menjabat Bupati Lahat Bursah Zarnubi, aktivis senior Malari Hariman Siregar, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kepala Badan Komunikasi Kantor Presiden Muhammad Qodari, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Fauzi Amro, Puadi, Iwan Sumule, Hakim Mahkamah Agung Erwin Partogi, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Ma’mun Murod Al-Barbasy.

Namun, salah satu isu yang mencuri perhatian dalam reuni tersebut adalah pandangan politik Bursah Zarnubi mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bursah yang merupakan pendiri sekaligus Ketua pertama HUMANIKA secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan pemerintahan Prabowo.

Menurut Bursah, pemerintahan Prabowo perlu diberikan kesempatan menjalankan siklus pemerintahan selama lima tahun dan, dalam pandangannya, dilanjutkan hingga dua periode.

“Pak Prabowo kan mesti dua periode gitu loh maksudnya. Dan ini mesti kita dukung, enggak boleh kita jatuhkan sebelum dia berhasil,” ujar Bursah dalam acara tersebut.

Ia meminta pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan Prabowo untuk bersabar dan memberikan ruang bagi pemerintahan menyelesaikan agenda yang telah dijalankan.

“Minimal siklus lima tahun itu dijaga. Kita mesti siklus lima tahun dipertahankan. Enggak boleh jatuh bangun, jatuh bangun, demokrasi nanti rusak,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan politik yang muncul di tengah pertemuan aktivis HUMANIKA dari berbagai generasi.

Bursah menempatkan stabilitas pemerintahan sebagai salah satu prasyarat agar agenda pembangunan dan pengelolaan sumber daya ekonomi dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Selain persoalan keberlanjutan pemerintahan, Bursah juga menyoroti agenda ekonomi yang dikaitkannya dengan Pasal 33 UUD 1945.

Ia menilai pemerintahan Prabowo memiliki pekerjaan besar dalam mengubah pengelolaan kekayaan nasional.

“Tapi saya berpandangan itu dia ada tugas besar yang menurut saya belum pernah digagas oleh Presiden sebelumnya. Revolusi Pasal 33,” kata Bursah.

Menurut dia, agenda tersebut perlu diarahkan agar kekayaan nasional dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Bursah juga berharap pemerintahan Prabowo mampu mengubah struktur penguasaan kekayaan nasional yang menurut pandangannya selama ini terlalu banyak berada di tangan kelompok oligarki.

“Kita tunggu beberapa tahun ke depan ini mudah-mudahan kita akan kaya. Dan kasih kesempatan Pak Prabowo untuk mengambil alih kekayaan dari oligarki yang serakah ini,” ujarnya.

Dalam laporan lain mengenai acara tersebut, Bursah juga mengaitkan gagasan perubahan ekonomi dengan kebutuhan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Ia menilai regenerasi HUMANIKA perlu melibatkan anak muda yang mampu mendorong percepatan transformasi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Pembina HUMANIKA sekaligus Ketua Umum kedua, Andrianto, mengingatkan kembali sejarah panjang organisasi tersebut.

HUMANIKA berdiri pada 18 September 1990, dalam situasi politik Orde Baru ketika ruang gerak organisasi mahasiswa dan kelompok kritis menghadapi berbagai pembatasan.

Dari kelompok studi dan diskusi intelektual, HUMANIKA kemudian berkembang menjadi salah satu simpul aktivisme yang terlibat dalam dinamika gerakan menjelang Reformasi 1998.

Andrianto menilai Reformasi 1998 tidak dapat dilepaskan dari rangkaian gerakan yang telah tumbuh jauh sebelumnya.

“Gerakan ’98 itu tidak bisa dikatakan gerakan murni dari teman-teman ’98 saja,” ujarnya.

Karena itu, menurut Andrianto, perjalanan HUMANIKA selama 36 tahun harus dipahami sebagai mata rantai gerakan lintas generasi.

Ia juga menegaskan bahwa HUMANIKA tetap menempatkan konstitusi sebagai salah satu pijakan dalam perjalanan organisasinya.

Dalam forum tersebut, Andrianto menyampaikan pandangannya bahwa sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih sejalan dengan agenda menjalankan amanat UUD 1945.

Reuni 36 tahun HUMANIKA tidak hanya diisi dengan pembicaraan mengenai politik dan kebijakan pemerintah. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kembali aktivis yang selama puluhan tahun telah menempuh jalan pengabdian masing-masing.

Ada yang kemudian masuk ke pemerintahan, parlemen, lembaga negara, dunia akademik, organisasi masyarakat maupun berbagai profesi lainnya.

Aktivis senior Hariman Siregar turut memberikan kata penutup dalam acara tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah gerakan masyarakat sipil dan perjalanan aktivisme di Indonesia.

Sejumlah tokoh lain yang hadir antara lain Trimedya Panjaitan, Hamid Basyaib, Arif Rahman, Puti Haryanto, Puadi, Andi Arief, Umar Juoro, Herdi Sahrasad, Ariadi Ahmad, Haris Moty, Hatta Taliwang, Kisman Latumakila, Andi Rahmat, Effendi Choirie, Sri Melyana dan sejumlah aktivis lainnya.

Pertemuan lintas generasi itu memperlihatkan bagaimana jaringan HUMANIKA yang dibangun sejak 1990 masih bertahan hingga hari ini. Laporan mengenai kegiatan tersebut juga mencatat adanya pemutaran video testimoni dari sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam perjalanan HUMANIKA.

Bagi HUMANIKA, usia 36 tahun bukan hanya penanda bertambahnya umur organisasi. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan gerakan, mempertahankan solidaritas dan membuka ruang kolaborasi baru.

Dari kelompok studi pada awal 1990-an, dinamika menjelang Reformasi 1998, hingga aktivisme lintas profesi pada masa kini, HUMANIKA berupaya mempertahankan jejaring yang telah terbentuk selama lebih dari tiga dekade.

Tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dan tagline #AktivisSepanjangMasa pun menjadi penanda bahwa bagi para aktivisnya, perjalanan organisasi tidak berhenti pada satu generasi.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengaruh Joko Widodo (Jokowi) setelah tidak lagi menjabat Presiden Republik Indonesia kembali menjadi sorotan. Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, menilai mantan presiden yang terlalu lama berkuasa berpotensi tetap memainkan pengaruh politik setelah meninggalkan kursi kekuasaan.

Selamat Ginting mengatakan, pengalaman Jokowi memimpin selama dua periode atau 10 tahun membuat pengaruh politiknya tidak otomatis berakhir ketika masa jabatan presiden selesai.

Menurutnya, persoalan muncul ketika mantan pemimpin masih berupaya mempertahankan pengaruh melalui orang-orang yang sebelumnya berada dalam lingkaran kekuasaannya.

“Mantan pemimpin yang terlalu kuat, bercokol selama 10 tahun, dia berpotensi mencampuri kekuasaan setelah dia meninggalkan jabatannya dan dia ingin menciptakan persoalan sendiri,” kata Selamat Ginting di channel YouTube Refly Harun, Jumat (18/9/2026).

Ia menilai salah satu persoalan yang perlu dicermati adalah kemungkinan masih kuatnya pengaruh terhadap sejumlah pejabat strategis, termasuk pejabat penegak hukum.

“Jadi persoalan tersendiri itu adalah bagaimana beberapa pejabat penegak hukum harus tetap berada di bawah genggamannya,” ujarnya.

Dalam analisis Selamat Ginting, kondisi tersebut dapat membuat kekuasaan formal dan pengaruh informal berjalan beriringan. Presiden yang sedang menjabat memegang kewenangan konstitusional, tetapi mantan presiden masih memiliki jaringan politik yang dapat memengaruhi dinamika pemerintahan.

Pandangan mengenai masih adanya pengaruh Jokowi terhadap pemerintahan Prabowo sebelumnya juga pernah disampaikan Selamat Ginting. Pada April 2026, ia menilai keberadaan orang-orang dekat Jokowi dalam pemerintahan Prabowo merupakan bagian dari proses konsolidasi politik dan dapat memunculkan persepsi adanya “matahari kembar”.

Kini, menurut Selamat Ginting, Jokowi disebut tidak hanya ingin mempertahankan pengaruh, tetapi juga berupaya menempatkan dirinya sebagai king maker dalam peta politik nasional.

“Betul-betul Jokowi ingin dirinya tetap sebagai king maker yang terus berusaha menentukan siapa yang berkuasa melalui orang-orangnya,” kata Selamat Ginting.

Ia kemudian menggambarkan posisi yang menurutnya ingin dibangun Jokowi sebagai seorang elder statesman, yakni figur senior yang tidak berada langsung dalam pemerintahan tetapi tetap mempunyai pengaruh dalam pengambilan keputusan politik.

Dengan posisi tersebut, kata Selamat Ginting, Jokowi dapat menjaga jarak dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, namun pada saat yang sama tetap mempertahankan akses dan pengaruh politik melalui orang-orang yang berada di lingkaran pemerintahan.

“Dia ingin menjadi elder statesman yang bisa menjaga jarak dengan pemerintahan Prabowo Subianto dan dia tetap ingin diperhatikan bahwa dia akan bisa menjadi penasihat politik bagi orang-orang yang tetap berada di kabinet,” ujarnya.

Analisis tersebut menempatkan persoalan hubungan Jokowi dan Prabowo bukan hanya pada hubungan personal antarkedua tokoh, tetapi juga pada keberadaan jaringan politik dan loyalis yang masih mempunyai posisi strategis di pemerintahan.

Sebelumnya, Selamat Ginting juga menyoroti potensi kompetisi internal dalam pemerintahan Prabowo akibat keberadaan jaringan politik dari pemerintahan sebelumnya. Ia menyebut dinamika tersebut sebagai bagian dari proses konsolidasi kekuasaan setelah pergantian presiden.

Di sisi lain, Universitas Nasional mencatat bahwa kajian akademik Selamat Ginting memang banyak berkaitan dengan hubungan kekuasaan, politik dan militer pada era Jokowi hingga Prabowo. Disertasinya membahas hubungan sipil-militer dalam konsolidasi demokrasi terkait penempatan prajurit aktif TNI di jabatan pemerintahan sipil pada kedua era tersebut.

MoneyTalk.id,Jakarta – Purbaya Yudhi Sadewa masih duduk sebagai Menteri Keuangan ketika membahas RAPBN 2027 bersama Komite IV DPD RI pada Senin, 14 September 2026. Ia datang sebagai pejabat yang masih memegang otoritas atas keuangan negara, menjelaskan angka-angka APBN dan agenda pembangunan yang akan menentukan arah fiskal pemerintahan Prabowo Subianto.

Namun, di tengah rapat, sebuah telepon membuatnya meninggalkan ruang pertemuan dan gedung parlemen. Beberapa jam kemudian, publik mendapati kenyataan bahwa kursi yang pagi itu masih diduduki Purbaya telah berpindah kepada Suahasil Nazara. Pergantian itu sah secara konstitusional, tetapi kecepatannya membuat satu pertanyaan sederhana sulit dihindari: apa sebenarnya yang sedang berubah?

Pertanyaan tersebut tidak boleh buru-buru diubah menjadi tuduhan. Presiden memang mempunyai hak prerogatif untuk mengganti menteri, dan pemerintah tidak wajib mempertahankan seseorang hanya karena masih menjalankan agenda resmi pada pagi harinya.

Namun, ketika pergantian terjadi begitu mendadak dan alasan spesifik tidak segera dijelaskan, ruang publik secara alamiah akan mencari penjelasan.

Di sinilah pemerintah seharusnya hadir bukan untuk membungkam pertanyaan, melainkan memberikan konteks yang memadai. Sebab transparansi bukan berarti Presiden kehilangan kewenangannya, tetapi publik memperoleh alasan yang rasional atas keputusan yang menyangkut pengelolaan keuangan negara. Apalagi jabatan Menteri Keuangan bukan posisi biasa karena di dalamnya terdapat kepentingan APBN, utang, pajak, subsidi, belanja negara, dan kepercayaan pasar.

Purbaya sendiri meninggalkan sejumlah kebijakan dan pernyataan yang layak dianalisis, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memahami kemungkinan persoalan yang sedang dihadapi pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan pengelolaan likuiditas dan berbagai langkah fiskal yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Kebijakan semacam itu memang selalu memiliki dua sisi: dapat mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga harus dihitung secara hati-hati agar tidak menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan. Karena itu, mengganti pejabat tidak otomatis berarti kebijakan sebelumnya salah, sebagaimana mempertahankan pejabat juga tidak otomatis berarti seluruh kebijakannya benar.

Ukuran yang seharusnya digunakan adalah dampak kebijakan terhadap pertumbuhan, stabilitas, kredibilitas APBN, dan kemampuan negara mengelola risiko.

Persoalan menjadi semakin menarik ketika pernyataan Purbaya mengenai utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kembali muncul ke permukaan. Beberapa hari sebelum pergantian, Purbaya berbicara mengenai restrukturisasi utang proyek tersebut dan menyebut cicilannya sekitar Rp1 triliun per tahun dengan tenor yang sangat panjang.

Pernyataan itu kemudian mendapat sorotan dari pengamat ekonomi Defiyan Cori yang menilai persoalan sebesar Whoosh semestinya disampaikan melalui analisis yang lebih komprehensif karena menyangkut BUMN, struktur pembiayaan, kerja sama dengan China, kepemilikan, serta potensi konsekuensi terhadap keuangan negara. Tetapi dari sini kita harus berhenti sebelum melangkah terlalu jauh: tidak ada keterangan resmi bahwa pernyataan mengenai Whoosh menjadi penyebab Purbaya dicopot. Hubungan waktu antara dua peristiwa memang dapat menjadi bahan pertanyaan, tetapi belum cukup menjadi bukti hubungan sebab-akibat.

Justru yang lebih penting adalah persoalan yang berada di balik Whoosh itu sendiri. Sebuah proyek infrastruktur besar tidak cukup dinilai dari apakah keretanya beroperasi atau berapa cepat perjalanan Jakarta-Bandung ditempuh.

Ia juga harus dilihat dari struktur pembiayaan, kemampuan menghasilkan pendapatan, kewajiban utang, posisi BUMN, dan siapa yang pada akhirnya menanggung risiko apabila proyeksi bisnis tidak berjalan seperti yang diharapkan. Di sinilah peran Menteri Keuangan menjadi penting karena setiap keputusan mengenai pembiayaan negara pada akhirnya bersentuhan dengan ruang fiskal. Publik tidak perlu menuduh bahwa proyek tertentu telah membebani APBN jika faktanya belum demikian, tetapi publik berhak meminta penjelasan mengenai siapa yang menanggung risiko dan bagaimana risiko tersebut dikelola. Dengan demikian, Whoosh seharusnya menjadi pintu masuk untuk membahas tata kelola pembiayaan pembangunan, bukan sekadar bahan untuk menyerang seorang mantan menteri.

Menariknya lagi, Purbaya bukan figur yang dapat dikatakan kehilangan seluruh dukungan publik. Survei Indonesia Political Opinion periode 27 Juli–3 Agustus 2026 menempatkannya sebagai menteri dengan penilaian kinerja terbaik dengan angka 42,8 persen.

Angka tersebut tentu bukan ukuran mutlak keberhasilan seorang Menteri Keuangan karena persepsi publik berbeda dengan evaluasi teknokratis di dalam pemerintahan.

Namun, fakta itu menunjukkan bahwa pergantian Purbaya tidak mudah dijelaskan hanya dengan argumen bahwa ia tidak disukai masyarakat atau gagal membangun citra publik.

Ada kemungkinan terdapat pertimbangan lain yang tidak terlihat dalam survei, seperti koordinasi antarlembaga, konsistensi kebijakan, komunikasi internal, atau kebutuhan Presiden terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Semua kemungkinan itu masih harus dibuktikan melalui kebijakan dan penjelasan resmi, bukan melalui spekulasi.

Pengangkatan Suahasil Nazara kemudian memberikan petunjuk lain. Ia bukan orang luar yang tiba-tiba masuk ke Kementerian Keuangan, melainkan sosok yang memahami mesin fiskal dari dalam. Ia mengetahui bagaimana APBN disusun, bagaimana kebijakan fiskal bekerja, dan bagaimana birokrasi Kementerian Keuangan mengelola keuangan negara.

Ketika Prabowo menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta mempertahankan defisit di bawah 3 persen PDB, pesan yang muncul cukup jelas: disiplin fiskal tetap menjadi salah satu perhatian utama. Tetapi pertanyaannya kemudian bukan apakah Suahasil mampu menjaga APBN, melainkan apakah ia akan membawa pendekatan yang berbeda dari pendahulunya.

Perubahan itu baru dapat dibaca setelah masyarakat melihat keputusan nyata, bukan sekadar mendengar pernyataan pada hari pelantikan.

Di sinilah pergantian Purbaya seharusnya dibaca lebih luas. Pemerintahan Prabowo memiliki agenda pembangunan yang besar dan membutuhkan anggaran yang juga besar. Makan Bergizi Gratis membutuhkan pembiayaan, pembangunan infrastruktur membutuhkan dana, subsidi membutuhkan ruang fiskal, sementara kewajiban utang dan pembayaran bunga terus berjalan.

Pada saat yang sama, penerimaan negara tidak dapat diasumsikan selalu tumbuh sesuai dengan kebutuhan belanja. Ada batas antara ambisi pembangunan dan kemampuan kas negara, dan Menteri Keuangan berada tepat di garis batas tersebut. Karena itu, tugas seorang Menteri Keuangan bukan sekadar menyediakan uang untuk semua program pemerintah, tetapi juga memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dasar, manfaat, dan sumber pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

APBN pada akhirnya adalah penguji yang paling dingin. Ia tidak peduli seberapa bagus pidato pejabat, seberapa tinggi popularitas menteri, atau seberapa meriah pelantikan di Istana.

Angka defisit akan tetap menunjukkan kondisi fiskal, rasio utang akan tetap dihitung, pembayaran bunga tetap jatuh tempo, dan ruang fiskal tetap memiliki batas. Jika program pemerintah bertambah sementara penerimaan tidak mampu mengejar kebutuhan belanja, pemerintah harus memilih antara melakukan efisiensi, meningkatkan penerimaan, mengurangi belanja, atau mencari pembiayaan tambahan. Tidak ada makan siang gratis dalam pengelolaan keuangan negara. Setiap program yang hari ini disebut sebagai prioritas pada akhirnya memiliki konsekuensi fiskal yang harus dibayar sekarang atau pada masa mendatang.

Karena itu, pergantian Menteri Keuangan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang dicopot dan siapa yang dilantik. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah pemerintah sedang mengubah cara mengelola APBN.

Jika Purbaya diganti karena pemerintah menginginkan koordinasi yang lebih kuat, publik perlu melihat apakah kebijakan fiskal setelah ini menjadi lebih konsisten. Jika tujuannya memperkuat kepercayaan pasar, indikatornya harus terlihat pada stabilitas fiskal dan kredibilitas kebijakan. Jika pemerintah ingin mempercepat program prioritas, publik perlu mengetahui dari mana pembiayaannya dan bagaimana risiko fiskalnya dikendalikan. Sebab perubahan personel tanpa perubahan kualitas kebijakan pada akhirnya hanya menghasilkan pergantian nama di pintu kantor.

Purbaya pergi, tetapi persoalan yang dihadapinya tidak ikut pergi. Utang Whoosh tetap harus dikelola, APBN tetap harus dijaga, program prioritas tetap membutuhkan uang, dan kewajiban negara tetap harus dibayar. Suahasil sekarang menerima meja kerja yang sama dengan tumpukan persoalan yang tidak jauh berbeda. Karena itu, pergantian ini akan diuji bukan oleh alasan yang beredar di media sosial, melainkan oleh hasil pengelolaan fiskal beberapa bulan ke depan. Apakah defisit terkendali, apakah utang dikelola secara sehat, apakah belanja semakin efektif, apakah penerimaan negara membaik, dan apakah ruang fiskal tetap cukup untuk membiayai program pemerintah tanpa menciptakan beban yang berlebihan.

Pagi hari Purbaya masih membicarakan APBN, siang hari sebuah telepon membuatnya meninggalkan rapat, dan sore hari orang lain sudah mengucapkan sumpah sebagai Menteri Keuangan. Adegan itu memang terlalu cepat untuk tidak menimbulkan pertanyaan. Tetapi pertanyaan yang sehat tidak boleh berubah menjadi tuduhan tanpa bukti. Justru karena pemerintah memiliki kewenangan mengganti menteri, pemerintah juga seharusnya memiliki keberanian menjelaskan arah perubahan tersebut kepada masyarakat.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar karier Purbaya atau masa depan politik Suahasil, melainkan cara negara mengelola uang rakyat. Dan jika yang berubah bukan hanya orangnya, melainkan arah fiskalnya, maka publik berhak mengetahui ke mana sebenarnya setir ekonomi pemerintahan Prabowo sedang dibelokkan.

Penulis : Rokhmat Widodo, Pengamat politik dan ekonomi

MoneyTalk.id,Jakarta –  Akun media sosial Independen Sumatra mengunggah sebuah tulisan pada 14 September 2026 yang mempertanyakan latar belakang politik di balik pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Tulisan tersebut mengangkat rekam jejak Suahasil Nazara yang sebelumnya telah berada di pemerintahan pada era Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Suahasil Nazara naik jadi Menkeu. Jejak Jokowi makin kuat di pemerintahan Prabowo?” demikian judul yang dicantumkan Independen Sumatra dalam unggahannya.

Independen Sumatra menulis bahwa ada fakta yang menurut mereka tidak bisa diabaikan.

“Suahasil Nazara bukan wajah baru di pemerintahan.” ucapnya.

“Pada 2019, ketika Jokowi masih menjadi Presiden, Suahasil diminta langsung menempati posisi Wakil Menteri Keuangan. Saat itu ia merupakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu.” sambungnya.

Menurut tulisan tersebut, posisi itu membuat Suahasil menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.

“Artinya, Suahasil adalah bagian dari mesin pemerintahan Jokowi sejak Kabinet Indonesia Maju.” jelasnya.

Independen Sumatra kemudian menyoroti keberlanjutan karier Suahasil setelah pemerintahan berganti.

“Setelah pemerintahan berganti, Suahasil ternyata tetap bertahan.” katanya.

Tulisan itu menyebut Suahasil kembali menjadi Wakil Menteri Keuangan pada Kabinet Merah Putih setelah dilantik pada Oktober 2024. Pada 14 September 2026, menurut unggahan tersebut, Prabowo menaikkan Suahasil menjadi Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Nah, di sinilah pertanyaan politiknya mulai menarik wak.” kata dia.

Independen Sumatra kemudian mempertanyakan apakah pengangkatan tersebut semata-mata didasarkan pada kompetensi atau juga memiliki pertimbangan politik.

“Apakah ini murni soal kompetensi? Atau ada kalkulasi politik yang jauh lebih besar?” tanyanya.

Menurut tulisan itu, pertanyaan tersebut muncul karena Suahasil sebelumnya dibesarkan dalam pemerintahan Jokowi dan kini memperoleh posisi strategis dalam pemerintahan Prabowo.

“Sebab orang yang dibesarkan dalam pemerintahan Jokowi kini mendapatkan posisi yang sangat strategis di pemerintahan Prabowo.” lanjutnya.

Tulisan tersebut juga menekankan strategisnya posisi Menteri Keuangan.

“MENKEU BUKAN JABATAN BIASA.” jelasnya.

Independen Sumatra menyebut Menteri Keuangan memiliki kendali atas sejumlah aspek penting pengelolaan keuangan negara.

“Di tangan Menkeu ada kendali atas APBN, penerimaan negara, belanja negara, kebijakan fiskal, pembiayaan dan arah pengelolaan keuangan negara.” bebernya.

Karena itu, menurut mereka, siapa pun yang menduduki posisi tersebut memiliki konsekuensi politik dan ekonomi yang besar.

Namun, tulisan tersebut juga memberikan sejumlah batasan terhadap kesimpulan politik yang diajukan.

“Awak tidak mengatakan Suahasil adalah ORANG JOKOWI.” kata dia.

“Awak juga tidak punya bukti untuk mengatakan dia adalah PROKSI GENG SOLO.” sambungnya.

Independen Sumatra menegaskan bahwa yang mereka anggap sebagai fakta adalah rekam jejak Suahasil dalam pemerintahan Jokowi.

“Tapi rekam jejaknya dengan pemerintahan Jokowi adalah fakta.” kata dia.

Selanjutnya, tulisan itu mempertanyakan apakah pengangkatan Suahasil merupakan profesionalisme atau bagian dari desain politik yang lebih besar.

“Maka publik berhak bertanya: APAKAH INI SEKADAR PROFESIONALISME? ATAU ADA DESAIN POLITIK YANG LEBIH BESAR?” tanyanya.

Independen Sumatra juga menyampaikan kemungkinan mengenai adanya upaya mempertahankan pengaruh politik era sebelumnya, tetapi tidak menyatakan hal tersebut sebagai fakta.

“Kalau benar ada kelompok yang sedang berusaha mempertahankan pengaruh politik era lama di dalam pemerintahan baru, maka kursi Menkeu tentu menjadi salah satu titik paling strategis.” tanyanya kembali.

Tulisan itu kemudian kembali memberikan penyangkalan terhadap kesimpulan bahwa Suahasil pasti terlibat dalam skenario tersebut.

“Bukan berarti Suahasil pasti bagian dari skenario tersebut. Belum ada bukti untuk menyimpulkan sejauh itu.” tukasnya.

Dalam konteks tersebut, Independen Sumatra mengatakan politik bukan hanya menyangkut orang yang menduduki jabatan, tetapi juga proses di balik penunjukan dan akses terhadap pusat kekuasaan.

“Tetapi politik tidak hanya berbicara tentang siapa yang duduk di kursi. Politik juga berbicara tentang SIAPA YANG MEMILIH, SIAPA YANG DIPERTAHANKAN, DAN SIAPA YANG MENDAPATKAN AKSES KE PUSAT KEKUASAAN.” terangnya.

Tulisan tersebut kemudian mengajukan dua kemungkinan mengenai arah politik pemerintahan Prabowo.

“APAKAH PRABOWO SEDANG MEMPERKUAT PEMERINTAHANNYA SENDIRI? ATAU TANPA DISADARI, JUSTRU MEMBERI RUANG BAGI JARINGAN KEKUASAAN LAMA UNTUK KEMBALI BEKERJA DARI DALAM?” tanyanya menegasnya

Independen Sumatra menutup tulisannya dengan menekankan bahwa kesimpulan mengenai adanya operasi politik tidak dapat dibuat tanpa bukti.

“Kalau kelak muncul bukti bahwa ada operasi politik untuk melemahkan Prabowo dari dalam, barulah publik bisa menilai apakah semua ini hanya kebetulan… atau memang ada permainan besar di baliknya.” tuturnya.

Tulisan itu diakhiri dengan seruan:

“JANGAN MENUDUH TANPA BUKTI. TAPI JANGAN JUGA BERHENTI BERTANYA.” tandasnya.

Materi tersebut merupakan analisis dan pertanyaan politik yang disampaikan oleh Independen Sumatra, bukan bukti bahwa Suahasil Nazara merupakan “orang Jokowi”, “proksi Geng Solo”, atau terlibat dalam operasi politik untuk melemahkan Prabowo.

Dengan demikian, dugaan mengenai adanya “desain politik” atau “jaringan kekuasaan lama” perlu dibedakan dari fakta mengenai rekam jejak jabatan Suahasil. Tanpa bukti tambahan atau pernyataan dari pihak-pihak yang dituding maupun pihak pemerintah, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta.

Dari sisi pemerintahan Prabowo, pengangkatan seorang pejabat yang telah berpengalaman di Kementerian Keuangan juga dapat dipandang sebagai keputusan berbasis pengalaman dan kompetensi administratif. Karena itu, alasan resmi dan pertimbangan Presiden Prabowo dalam memilih Suahasil Nazara menjadi penting untuk melihat apakah keputusan tersebut terutama merupakan pertimbangan profesional, politik, atau kombinasi keduanya.

MoneyTalk id,Jakarta – Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Selamat Ginting menilai pertarungan politik menuju Pilpres 2029 mulai bergerak lebih dini. Sejumlah kekuatan politik yang saat ini berada di dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto disebut mulai menghitung kemungkinan politik masing-masing apabila tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan terus mengalami penurunan.

Selamat menyebut setidaknya terdapat dua kekuatan atau poros politik yang menarik perhatian, yakni Poros Solo dan Poros Cikeas.

Menurutnya, kedua poros tersebut memiliki kesamaan karena sama-sama memiliki keterkaitan dengan pemerintahan Prabowo.

“Yang menarik, kedua poros itu sama-sama berada di dalam pemerintahan Prabowo,” ujar Selamat Ginting di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Rabu (9/9/2026).

Ia menilai munculnya sejumlah hasil survei yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo dapat menjadi semacam alarm bagi partai-partai politik.

Jika tren tersebut terus berlanjut, menurut Selamat, bukan tidak mungkin sejumlah kekuatan politik mulai mempersiapkan “sekoci” politik untuk menghadapi perubahan peta kekuasaan.

“Alarm pagi-pagi sudah dibunyikan bahwa kalau ini terus menurun, mereka siap-siap lompat ke sekoci baru. Mereka tidak mau disalahkan,” katanya.

Selamat melihat fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada satu partai. Menurut dia, partai-partai politik yang berada di pemerintahan memiliki kepentingan dan agenda suksesi masing-masing.

Ia bahkan menyebut ada kecenderungan partai politik mencoba “membajak” pemerintahan Prabowo dengan agenda politik menuju Pemilu 2029.

“Semua partai juga mencoba, dalam tanda petik, membajak pemerintahan Prabowo Subianto itu dengan agenda suksesi masing-masing,” kata Selamat.

Ia mencontohkan sikap Partai Demokrat yang dinilainya relatif jarang berbicara mengenai program-program prioritas Presiden Prabowo.

Sementara itu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan atau Zulhas dinilai masih banyak berbicara mengenai program pemerintahan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, Selamat menyoroti pernyataan Zulhas yang sebelumnya menyebut program tersebut perlu diperbaiki karena memasuki masa hampir dua tahun pelaksanaan.

Bagi Selamat, penggunaan kata “gagal” terhadap program pemerintah juga dapat dibaca sebagai sinyal politik.

“Ini juga adalah sinyal bahwa dia enggak mau tanggung jawab sepenuhnya,” ujarnya.

Selamat menilai pertarungan politik menuju 2029 kini mulai memasuki fase yang lebih terbuka. Persaingan tidak hanya berlangsung dalam perebutan posisi politik nasional, tetapi juga merembet ke daerah.

Ia menyinggung dinamika politik terkait sejumlah kepala daerah, termasuk bupati dari Partai Gerindra yang menghadapi persoalan politik.

Menurutnya, partai politik mulai mencoba membaca siapa aktor atau kekuatan yang berada di balik berbagai gejolak politik tersebut.

“Partai Gerindra juga coba menganalisis kira-kira siapa otak di belakang jatuhnya bupati ini, dari partai mana?” katanya.

Selamat kemudian mengibaratkan dinamika tersebut seperti “berbalas pantun”, termasuk dalam konflik politik di Tapanuli Tengah.

Ia menyinggung adanya lima partai politik yang mengusulkan pemakzulan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu dari PDI Perjuangan.

Menurut Selamat, berbagai manuver tersebut memperlihatkan bahwa partai-partai politik sudah mulai menghitung posisi mereka untuk menghadapi pertarungan Pilpres 2029.

Selamat melihat salah satu arena pertarungan utama adalah posisi calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo jika kembali maju pada Pilpres 2029.

Namun, ia menilai partai-partai politik tidak hanya menyiapkan satu skenario.

“Mereka semuanya sedang bertarung ingin menjadi wakilnya Prabowo pada Pilpres 2029 mendatang. Tapi kalau tidak memungkinkan, boleh dong saya jalan sendiri,” ujar Selamat.

Karena itu, menurut dia, dinamika politik yang saat ini terlihat sebagai bagian dari pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi menuju 2029.

Bagi Selamat, jika tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan terus menurun, posisi partai-partai pendukung Prabowo juga berpotensi berubah.

Pertarungan politik, dengan demikian, bukan lagi sekadar soal mendukung atau tidak mendukung pemerintahan, melainkan tentang siapa yang paling siap mengambil posisi ketika peta kekuasaan mulai berubah.

Dengan kata lain, sekoci politik menuju 2029 dinilai sudah mulai disiapkan, bahkan ketika kapal pemerintahan Prabowo masih berlayar.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, melontarkan usulan kontroversial terkait posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai Gibran sebaiknya diganti sebelum berakhirnya masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut disampaikan Syahganda dalam perbincangannya dengan pengamat politik Hendri Satrio yang tayang pada Senin (7/9/2026). Dalam perbincangan itu, Syahganda bahkan secara tegas mengusulkan agar Gibran “disingkirkan” melalui jalur konstitusional.

Menurut Syahganda, pergantian Wakil Presiden dapat ditempuh melalui mekanisme ketatanegaraan, termasuk kemungkinan melalui persidangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

“Mencampakkan Gibran dari sekarang. Iya kan? Mencampakkan itu bisa diganti melalui MPR, sidang MPR dan lain-lain. Misalkan kan bisa Gibran diganti karena dia punya cacat sejarah yang mungkin orang tetap mengejar secara konstitusional atau ijazahnya,” ujar Syahganda.

Ia kemudian mempertanyakan urgensi keberadaan wakil presiden dalam pemerintahan Prabowo apabila posisi tersebut justru menimbulkan persoalan politik.

Menurutnya, karakter kepemimpinan Prabowo merupakan sosok yang kuat, karismatik dan cenderung mampu mengambil keputusan sebagai “solo player”.

“Tanpa wakil presiden aja. Dia sekarang kan karakternya karakter karismatik ya, presiden ini, dan solo player. Jadi enggak usah dikasih lagi orang kedua,” katanya.

Syahganda bahkan menggambarkan kemungkinan Gibran tidak lagi berada di lingkungan Istana.

“Keluar nih si Gibran dari Istana, misalnya gitu,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Syahganda juga menyinggung Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia berharap Jokowi dapat bersikap fair apabila nantinya kembali terlibat dalam pertarungan politik menuju Pemilu 2029.

“Tentu kita berharap Jokowi akan fair, maksudnya dia bisa fair dalam bertarung ke 2029,” kata Syahganda.

Ketika kembali ditanya mengenai usulannya terhadap Gibran, Syahganda menegaskan bahwa dirinya mendorong agar Wakil Presiden tersebut diganti.

“Usulannya jelas apa tadi? Disingkirin aja. Iyalah, ngapain ada Gibran di republik ini?” tegasnya.

Sebagai catatan, Prabowo dan Gibran secara resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024-2029 dalam Sidang Paripurna MPR pada 20 Oktober 2024 berdasarkan penetapan KPU.

MoneyTalk.id, Jakarta – Pegiat media sosial Ferry Koto melontarkan kritik keras terhadap tata kelola pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai kebijakan pemerintah pusat dalam mengelola fiskal berpotensi memperbesar ketegangan antara pemerintah pusat dan daerah.

Ferry menyoroti kebijakan terkait Dana Bagi Hasil (DBH) yang menurutnya merupakan hak daerah. Ia mempertanyakan apabila dana yang menjadi bagian daerah tersebut dikurangi atau diarahkan untuk membiayai berbagai program pemerintah pusat, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

“Di tangan pemerintahan Prabowo kacau balau negara ini diurus. DBH yang jadi hak daerah dipotong seenaknya, dengan alasan kebutuhan fiskal pemerintah pusat, akibat program seperti MBG dan KDMP,” ujar Ferry dalam pernyataannya di X (Twitter), Senin (7/9/2026).

Menurut dia, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai besaran anggaran, tetapi menyangkut hubungan fiskal dan kewenangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

“Berbagai kewenangan dan hak daerah ditarik kembali ke pusat,” katanya.

Kritik Ferry muncul di tengah perubahan skema pengelolaan sejumlah anggaran yang berkaitan dengan daerah. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 Tahun 2026, misalnya, mengatur skema penyaluran DAU/DBH atau Dana Desa untuk mendukung pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Dalam aturan tersebut, pembayaran angsuran pembiayaan dapat dilakukan melalui DAU/DBH untuk skema tertentu.

Sementara itu, Ferry sebelumnya juga menyoroti besarnya anggaran MBG dan perubahan pola pengelolaan Transfer ke Daerah (TKDD). Dalam unggahannya pada Februari 2026, ia mencatat adanya pengurangan alokasi TKDD dan berpendapat sebagian anggaran yang sebelumnya dikelola daerah dialihkan untuk dikelola pemerintah pusat.

Namun, pemerintah memiliki penjelasan berbeda. Dalam analisis yang juga ditulis Ferry berdasarkan data APBN, pengurangan TKDD disebut pemerintah sebagai bagian dari efisiensi dan pengalihan sejumlah program agar dikelola langsung pemerintah pusat. Ferry sendiri dalam unggahan tersebut mengakui adanya argumentasi pemerintah bahwa pengalihan tersebut berkaitan dengan efisiensi dan pencegahan penyimpangan anggaran.

Kritik Ferry kali ini kemudian melebar pada kekhawatiran mengenai masa depan hubungan pusat dan daerah.

“Mosok baru dua tahun jadi Presiden sudah sekacau ini negara, daerah mulai menunjukkan ketidakpuasan. Bayangkan jika lima tahun begini terus,” ujar Ferry.

Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa sentralisasi pengelolaan fiskal dan kewenangan dapat menimbulkan resistensi dari pemerintah daerah apabila dianggap mengurangi ruang fiskal maupun kewenangan daerah.

Sebelumnya, Ferry juga beberapa kali mengkritik kebijakan pemerintahan Prabowo, khususnya terkait MBG. Ia bahkan mempertanyakan kebijakan penempatan anggaran MBG dalam pos anggaran pendidikan serta dampaknya terhadap struktur APBN.

Di sisi lain, kritik mengenai DBH perlu dibedakan dari fakta bahwa pemerintah memang memiliki mekanisme hukum dalam mengatur transfer fiskal pusat-daerah. Karena itu, klaim bahwa DBH “dipotong seenaknya” merupakan penilaian Ferry Koto, bukan kesimpulan hukum yang telah terbukti.

Perdebatan mengenai DBH, TKDD, MBG dan KDMP pada akhirnya kembali pada pertanyaan besar: seberapa jauh pemerintah pusat boleh melakukan konsolidasi fiskal tanpa mengurangi kemampuan daerah menjalankan pelayanan publik dan pembangunan?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika berbagai program nasional membutuhkan anggaran besar, sementara pemerintah daerah juga menghadapi kebutuhan pembiayaan yang tidak kecil.