5 November 2026

Pemerintahan Prabowo

MoneyTalk, Jakarta – Dosen Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Ayang Utriza Yakin, melontarkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan bencana yang dinilai tidak maksimal dan minim empati terhadap korban di lapangan.

Dalam pernyataannya, Ayang menegaskan bahwa kemanusiaan seharusnya ditempatkan di atas hukum dan peraturan, terutama dalam situasi darurat bencana yang menimpa rakyat.

“Kemanusiaan, Pak Prabowo. Di atas hukum dan peraturan itu ada kemanusiaan,” ujar Ayang di akun media sosialnya, Sabtu (20/12/2025).

Menurutnya, kegagalan pemerintah dalam merespons secara cepat dan menyeluruh tidak lepas dari pola kepemimpinan yang hanya mengandalkan laporan administratif, tanpa turun langsung melihat penderitaan rakyat.

“Kenyataan di lapangan, pemerintahan Anda tidak maksimal membantu karena Anda hanya mendengar laporan,” tegasnya.

Ayang bahkan menyebut Presiden Prabowo kehilangan rasa empati, karena tidak pernah merasakan langsung menjadi rakyat kecil yang tertimpa bencana.

“Anda tidak punya rasa, karena Anda tidak pernah jadi rakyat yang tertimpa bencana,” katanya dengan nada keras.

Ia menilai, dalam situasi krisis kemanusiaan, kepekaan dan empati pemimpin jauh lebih penting dibanding prosedur birokrasi yang berbelit. Negara, kata dia, tidak boleh hadir hanya sebatas simbol, tetapi harus benar-benar dirasakan kehadirannya oleh korban.

Ayang pun menyerukan agar Presiden Prabowo mengutamakan rasa kemanusiaan, bukan sekadar kepatuhan pada aturan formal yang justru memperlambat pertolongan.

“Kedepankan rasa kemanusiaan,” pungkasnya.

Pernyataan ini menambah daftar kritik publik terhadap kinerja pemerintah dalam penanganan bencana, yang belakangan dinilai lamban, tertutup, dan minim empati terhadap penderitaan rakyat.

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Umum Generasi Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Alhamid, mengingatkan pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto agar tidak melahirkan undang-undang (UU) maupun kebijakan “banci” yang tidak tegas, ambigu, atau gamang dalam mengambil posisi. Pemerintahan Prabowo harus menunjukkan arah yang jelas, keberanian politik, serta keberpihakan nyata pada kepentingan bangsa.

Habib Umar menyampaikan pesan ini sebagai bentuk dukungan konstruktif Gentari terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia menekankan bahwa Prabowo memimpin Indonesia pada momentum global yang tidak mudah, sehingga seluruh fondasi regulasi dan kebijakan negara harus kokoh, visioner, dan tidak ragu mengambil sikap.

Selain itu Habib Umar juga mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan kepastian hukum dan keberanian politik. Peraturan di bidang ekonomi, hukum, hingga politik harus dirumuskan secara tegas, tidak setengah hati, dan tidak membingungkan publik maupun pelaku usaha.

“Keputusan dan UU di bidang ekonomi, hukum, politik, sebaiknya jangan ada lagi yang menggunakan pasal ‘banci’. Pemerintah harus memastikan setiap aturan dibuat dengan keberanian melindungi rakyat dan menegakkan keadilan,” tegas Habib Umar Alhamid kepada wartawan, Rabu (26/11/2025).

Menurutnya, bahwa UU dan kebijakan yang tidak tegas hanya akan menghasilkan ketidak pastian bagi perubahan hukum di Indonesia dan menjauhkan investor, dan melemahkan institusi negara. Karena itu, ia meminta pemerintah menghindari model kebijakan yang bersifat kompromistis berlebihan atau bertolak belakang dengan arah visi pembangunan nasional.

Habib Umar juga menyoroti situasi internasional yang semakin tidak stabil. Indonesia saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu berdiri tegak dan teguh di tengah perubahan geopolitik, volatilitas ekonomi, serta persaingan negara-negara besar.

“Prabowo harus jadi ksatria di tengah situasi global. Bangsa ini butuh ketegasan sikap, bukan keraguan, apalagi abu-abu,” ujarnya.

Dikatakan Habib Umar, bahwa posisi Indonesia sebagai negara besar tidak boleh hanya menjadi penonton dalam percaturan global. Pemerintahan Prabowo, harus berani mengambil peran strategis dan menjaga marwah Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.

Habib Umar juga menekankan pentingnya pola komunikasi dan konsultasi yang sehat antara Presiden dan para anggota kabinet. Prabowo harus membuka ruang lebih besar bagi jajaran menteri untuk menyampaikan analisis, masukan, hingga kritik internal yang konstruktif.

“Prabowo harus sering mendapat masukan dari anggota kabinet. Presiden perlu mendengar suara dari para pembantunya agar kebijakan yang lahir benar-benar matang dan kuat secara teknokratis maupun politis,” tuturnya.

Untuk itu, ia berpendapat bahwa pemerintahan kuat bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga bagaimana presiden memperkuat mekanisme checks and balances internal melalui dialog dan pengambilan keputusan berbasis data.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap pemerintahan Prabowo, Gentari menyatakan siap memberikan rekomendasi strategis, riset kebijakan, dan penguatan gerakan masyarakat agar arah pembangunan nasional berjalan sesuai kepentingan bangsa.

“Kami Gentari siap memberikan dukungan dan solusi untuk pemerintahan Prabowo. Bukan hanya kritik, tapi kontribusi nyata berupa masukan dan gerakan sosial,” jelas Habib Umar.

Ia menegaskan bahwa Gentari akan terus mengawal jalannya pemerintahan dengan pendekatan moral, intelektual, dan kebangsaan. Prabowo harus memimpin dengan keberanian moral dan ketegasan politik agar Indonesia tidak tersandera oleh kepentingan sempit, kelompok tertentu, atau tekanan politik jangka pendek.

Habib Umar menutup pesannya dengan kembali mengingatkan bahwa kepemimpinan tegas adalah kunci untuk menghadapi era yang penuh tantangan. Dengan kebijakan yang jelas, langkah berani, serta dukungan publik yang luas, ia yakin pemerintahan Prabowo mampu membawa Indonesia memasuki babak kemajuan baru.

“Sekali lagi saya ingatkan jangan ada kebijakan ‘banci’. Negara ini butuh ketegasan, dan keberanian seorang kesatria. Dan saya yakin Prabowo adalah Satria piningit yang diharapkan rakyat Indonesia selama ini ,” katanya.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai keberadaan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berpotensi menjadi “duri dalam daging”. Menurutnya, Gibran bukan hanya figur muda tanpa kapasitas politik dan administratif yang memadai, tetapi juga sosok yang membawa beban politik dari pemerintahan sebelumnya yakni pemerintahan ayahnya, Joko Widodo.

“Gibran tidak punya kapasitas menjadi wakil presiden. Pendidikan dan pengalaman pemerintahannya masih sangat terbatas. Malah kini muncul dugaan ia tidak tamat SMA,” kata Muslim Arbi dalam keterangan yang dikutip sejumlah media, Kamis (9/10/2025).

Pernyataan itu sontak memantik diskursus luas. Apalagi, isu seputar ijazah Gibran belakangan kembali menjadi topik panas di ruang publik—sebuah polemik yang mirip dengan yang sempat menimpa sang ayah beberapa tahun lalu.

Ketika Prabowo Subianto menerima Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024, banyak kalangan menilai langkah itu sebagai kompromi politik besar. Di satu sisi, Prabowo memperoleh dukungan penuh dari jaringan kekuasaan Jokowi; di sisi lain, ia harus berbagi panggung dengan sosok yang dianggap belum matang secara politik.

Menurut Muslim Arbi, Prabowo kini terikat oleh beban politik yang ia warisi dari Jokowi, terutama dalam menghadapi ekspektasi publik dan kelompok-kelompok kepentingan di sekitar istana lama.

“Gibran ini bukan sekadar wakil presiden. Ia simbol dari perpanjangan kekuasaan Jokowi di era Prabowo. Di situlah masalahnya,” ujar Muslim.

Ia menilai, langkah Prabowo untuk menyeimbangkan pengaruh lama dengan arah kebijakan barunya akan menjadi ujian besar.

“Kalau Prabowo tidak berhati-hati, Gibran bisa menjadi duri dalam daging. Bukan karena niat jahat, tapi karena posisinya yang ambigu antara loyal kepada presiden atau loyal kepada sang ayah,” imbuhnya.

Isu tentang ijazah SMA Gibran kembali muncul di berbagai platform media sosial. Sejumlah akun aktivis dan pegiat hukum mempertanyakan keaslian dokumen pendidikan Gibran saat ia mendaftar sebagai calon wakil presiden.

Meski belum ada bukti sahih yang menyatakan adanya pelanggaran hukum, keraguan publik kian menguat karena tidak ada klarifikasi langsung yang terbuka dan menyeluruh dari pihak Gibran maupun tim Istana.

Muslim Arbi menilai, polemik ini seharusnya dijawab secara transparan.

“Kalau memang benar tidak ada masalah, kenapa tidak dibuka saja ke publik? Kalau dibiarkan, publik akan menilai ada sesuatu yang disembunyikan. Itu bisa menggerus kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo,” ujarnya.

Muslim menilai, isu ijazah ini tidak hanya soal administratif, tetapi juga soal trust atau kepercayaan terhadap legitimasi kepemimpinan nasional. Dalam konteks demokrasi, legitimasi bukan hanya soal legalitas hasil pemilu, tetapi juga persepsi publik terhadap integritas personal pejabat negara.

Sumber internal yang dekat dengan lingkaran pemerintahan menyebut, hubungan antara Prabowo dan Gibran sejauh ini berjalan formal dan berhati-hati.

“Tidak ada konflik terbuka, tapi juga belum tampak keintiman politik seperti presiden dan wakil presiden pada umumnya,” kata seorang pejabat senior yang enggan disebut namanya.

Menurutnya, Prabowo tetap menghormati Gibran sebagai wakil presiden, namun jarang melibatkan putra Jokowi itu dalam pengambilan keputusan strategis.

“Banyak agenda kenegaraan yang dijalankan Prabowo tanpa kehadiran Gibran. Wapres lebih sering diundang dalam acara seremonial atau kegiatan sosial,” ujarnya.

Situasi ini, menurut Muslim Arbi, justru memperkuat kesan bahwa peran Gibran di pemerintahan sangat terbatas, sementara simbol politiknya terlalu besar.

“Ini ibarat dua sisi mata uang. Ia tidak punya kekuasaan nyata, tapi kehadirannya menciptakan bayangan panjang Jokowi di tubuh pemerintahan Prabowo,” kata Muslim.

Dalam tradisi politik Indonesia, hubungan antara presiden dan wakil presiden kerap menjadi cerminan keseimbangan kekuasaan antara kelompok besar. Contohnya, hubungan SBY-JK (2004–2009) dan Jokowi-JK (2014–2019) menunjukkan adanya dinamika “check and balance” yang sehat. Namun dalam konteks Prabowo-Gibran, keseimbangan itu tampak rapuh.

“Gibran itu tidak lahir dari rahim partai atau organisasi politik yang matang. Ia lahir dari keluarga penguasa. Ini bukan hubungan politik yang setara, tapi hubungan patronase,” kata Muslim.

Dengan posisi seperti itu, Gibran sulit membangun legitimasi politik mandiri. Ia tidak punya basis sosial, partai, maupun gerakan ideologis yang mendukungnya di luar pengaruh Jokowi.

“Kalau suatu saat Jokowi dan Prabowo berbeda arah, Gibran akan terjebak di tengah. Itu yang dimaksud Muslim Arbi sebagai duri dalam daging,” lanjutnya.

Di atas kertas, posisi wakil presiden di Indonesia adalah pendamping yang berfungsi membantu presiden. Namun dalam praktik politik, Wapres sering menjadi alat kompromi elite, simbol koalisi, atau bahkan insurance policy bagi stabilitas politik.

Dalam kasus Gibran, simbolisme itu jauh lebih kuat ketimbang fungsinya.

Ia melambangkan keberlanjutan pengaruh Jokowi sekaligus jembatan antara generasi lama dan generasi baru. Namun, simbol yang terlalu kuat kadang menjadi beban bagi realitas kekuasaan.

“Prabowo butuh Gibran untuk menjaga stabilitas politik, tapi Gibran juga bisa menjadi beban jika muncul ketegangan dengan basis lama Jokowi,” kata Muslim.

Bagi Prabowo, tantangan utama bukan hanya menjalankan pemerintahan yang efektif, tetapi juga menjaga

keseimbangan antara loyalis lama dan kekuatan politik baru. Dalam konteks itu, keberadaan Gibran bisa menjadi faktor krusial antara penyeimbang atau batu sandungan.

“Kalau Prabowo bisa mengelola Gibran dengan baik, ini bisa menjadi model regenerasi politik yang elegan. Tapi kalau salah urus, bisa pecah di tengah jalan,” ujar Muslim Arbi.

Ia mengingatkan, pemerintahan baru harus berani menegakkan “lex justitia”, hukum yang adil bagi semua.

“Jangan sampai ada kesan bahwa hukum tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Kalau masalah pendidikan Gibran tidak diselesaikan dengan transparan, itu akan jadi noda pertama dalam pemerintahan ini,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyoroti munculnya ketegangan antara kelompok Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) dengan sebagian kalangan habaib, yang dalam beberapa pekan terakhir memicu perdebatan dan insiden di sejumlah daerah. Amir menilai, konflik tersebut bukan terjadi secara alami, melainkan dipicu oleh aktor intelektual yang ingin mengguncang stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Amir, gesekan antara dua kelompok yang sama-sama memiliki basis keagamaan kuat ini merupakan strategi adu domba yang berbahaya. Ia menyebutkan, narasi yang menonjolkan perbedaan garis keturunan, tradisi, dan tafsir keagamaan sengaja diperuncing oleh pihak-pihak yang memiliki agenda politik terselubung.

“Ada aktor intelektual yang memainkan isu identitas dan keturunan untuk mengadu umat. Tujuannya jelas, agar bangsa ini terpecah dan konsentrasi pemerintahan terganggu,” ujar Amir Hamzah dalam keterangannya, Senin (6/10/2025).

Amir menegaskan, konflik antara PWI-LS dan habaib bisa menjadi bom waktu yang mengancam persatuan nasional.

Menurutnya, kedua pihak memiliki pengaruh kuat di akar rumput dan sama-sama berperan dalam menjaga nilai-nilai keislaman di Indonesia. Jika dibiarkan, pertikaian ini bisa melebar menjadi konflik horizontal dengan dimensi sosial dan politik yang sulit dikendalikan.

“Ini bukan sekadar perdebatan keagamaan, tapi sudah mengarah ke polarisasi sosial. Kalau tidak segera ditangani, bisa menjadi gangguan serius terhadap stabilitas politik pemerintahan Prabowo,” tegas Amir.

Ia menambahkan, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa provokasi berbasis agama dan keturunan kerap digunakan untuk melemahkan kekuasaan yang sah.

Dalam konteks pemerintahan Prabowo, Amir menduga ada pihak yang merasa terancam oleh konsolidasi kekuasaan nasional yang mulai menguat, sehingga berupaya memecah dukungan melalui isu-isu sensitif.

Amir meminta aparat penegak hukum dan lembaga intelijen untuk bertindak cepat, mengidentifikasi, dan menindak para provokator yang mengompori konflik ini.

Menurutnya, pendekatan keamanan saja tidak cukup, karena akar masalahnya bersifat psikologis dan ideologis.

“Negara harus hadir bukan hanya dengan kekuatan hukum, tapi juga dengan komunikasi sosial. Intelijen harus bekerja secara halus untuk memetakan sumber provokasi, sementara tokoh-tokoh agama diajak duduk bersama,” katanya.

Ia juga menyarankan agar pemerintah melakukan dialog nasional lintas ulama yang melibatkan perwakilan habaib dan PWI-LS untuk meredakan ketegangan dan mengembalikan semangat ukhuwah Islamiyah.

Dalam analisisnya, Amir melihat munculnya konflik ini tak lepas dari upaya pihak tertentu yang mencoba menguji daya tahan pemerintahan baru terhadap gejolak sosial.

Isu agama, kata Amir, selalu menjadi alat paling efektif untuk menggerakkan emosi publik terlebih menjelang masa-masa awal konsolidasi pemerintahan.

“Aktor di balik ini ingin menciptakan kesan bahwa pemerintahan Prabowo tidak solid menghadapi dinamika sosial. Kalau isu ini terus dipelihara, bisa menjadi amunisi bagi kelompok oposisi atau kekuatan luar negeri yang ingin melihat Indonesia goyah,” tambahnya.

Amir juga menyinggung kemungkinan adanya pengaruh eksternal yang memanfaatkan media sosial untuk memperkeruh suasana. Ia menilai penyebaran video provokatif, potongan ceramah, dan narasi kebencian yang masif di dunia maya merupakan indikasi adanya operasi informasi terstruktur.

Di akhir analisisnya, Amir Hamzah mengajak seluruh pihak, baik tokoh agama maupun masyarakat umum, untuk tidak terjebak dalam provokasi dan fitnah.

Ia menegaskan, saat ini bangsa Indonesia membutuhkan ketenangan agar pemerintahan bisa fokus menjalankan program pembangunan dan memperkuat posisi negara di tengah dinamika global.

“Yang kita hadapi bukan hanya lawan politik, tapi perang opini dan disinformasi. Jangan sampai kita diadu oleh mereka yang ingin melihat bangsa ini terpecah,” tegasnya.

Amir berharap, Presiden Prabowo dan jajaran kabinet segera mengambil langkah komunikasi nasional, memulihkan suasana, dan menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk melindungi semua elemen umat tanpa diskriminasi.

MoneyTalk, Jakarta – Tokoh buruh dan mantan Kepala BNP2TKI, Muhammad Jumhur Hidayat, menyampaikan analisis tajam soal dinamika politik menjelang pemerintahan Prabowo. Dalam podcast Forum Keadilan TV pada Minggu (21/9), Jumhur menegaskan bahwa reshuffle kabinet bukan sekadar bongkar pasang menteri, melainkan pergeseran mazhab kekuasaan.

“Yang tidak fit in dengan mazhab baru, ya selesai. Reshuffle itu bukan soal orang Jokowi atau bukan. Ini soal mazhab ekonomi dan politik yang mau dibawa Prabowo,” kata Jumhur.

Ekonomi Belum Ngangkat, Pasal 33 Masih Jadi Janji, Jumhur mengkritik bahwa hingga kini perekonomian nasional masih “jalan di tempat”. Pasal 33 UUD 1945 yang selalu dipidatokan Prabowo, menurutnya, belum terwujud nyata.

“Bagi hasil tambang masih minim. Batu bara cuma 13,5 dolar. Padahal margin keuntungannya gila-gilaan, tapi rakyat enggak dapat apa-apa. Kalau Prabowo serius, ini harus dinaikkan. Jangan sampai orang asing kaya raya, rakyat cuma jadi penonton,” tegasnya.

Elit Ganti Elit, Revolusi Bukan Dari Bawah, Menurut Jumhur, sejak zaman Bung Karno hingga Soeharto, hingga reformasi, perubahan di Indonesia selalu lahir dari kalangan elit.

“Enggak ada revolusi dari bawah. Dari Singosari sampai 1998, selalu elit mengganti elit. Yang berubah itu mazhab, bukan kelas sosial. Jadi kalau sekarang Prabowo mau mengubah, dia harus tampil sebagai Gorbachev Indonesia, berkhidmat penuh untuk rakyat,” ujar Jumhur.

Jumhur juga menyoroti kursi Menteri BUMN yang ditinggalkan Erick Thohir. Ia menilai Rosan Roeslani adalah figur paling pas untuk posisi tersebut.

“Dia sudah ngurus Danantara. Kalau Rosan masuk ke BUMN, sekaligus integrasi. Selesai tarik-menarik kekuasaan,” ujarnya.

Indonesia Butuh Ministry of International Trade and Industry

Jumhur menilai Indonesia salah urus industri sejak 1960-an. Ia mencontoh Jepang dan Malaysia yang punya Ministry of International Trade and Industry (MITI), sehingga industrinya bisa tumbuh.

“Kalau kita bikin pabrik mobil, harus ada perlindungan. Jangan malah impor mobil murah dari luar, industri dalam negeri hancur. Kalau mazhab perdagangan masih impor-impor, ya siap-siap digusur,” ucapnya.

Peringatan Keras: Jangan Jadi Pengkhianat Bangsa!

Jumhur mengingatkan bahaya impor ugal-ugalan dan predatory pricing dari Tiongkok yang menghancurkan industri lokal.

“Kalau cuma cari cuan tanpa keringetan, itu pengkhianat bangsa! Dari dulu bangsa ini miskin karena salah urus dan elite malas. Kalau mau bangun republik, harus keringetan. Jangan enak-enakan impor lalu dapat spread triliunan,” serunya.

Prabowo Harus Jadi Bapak Pembangunan Baru

“Rakyat butuh kerja, butuh lapangan, butuh pembangunan. Kalau Prabowo sabar dan konsisten, dia bisa jadi Bapak Pembangunan baru. Tapi kalau hanya ganti orang tanpa ganti mazhab, itu namanya bodoh!” tutup Jumhur.

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Umum Gerakan Cinta Negeri (Gentari), Habib Umar Alhamid, mengingatkan masyarakat dan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewaspadai potensi munculnya gejolak politik pada bulan September mendatang. Karena pada bulan tersebut bangsa kita Indonesia pernah memiliki catatan sejarah kelam, yakni gerakan 30 September (G30S PKI).

“Pada bulan September, bangsa ini pernah mengalami pemberontakan dan pengkhianatan terhadap republik. Untungnya pada saat itu TNI bersama rakyat berhasil menumpas partai kiri (komunis) serta antek- anteknya,” ujar Habib Umar Alhamid dalam keterangannya kepada wartawan , Jumat (29/8/2025).

Habib Umar menilai ada potensi munculnya gerakan senyap yang berusaha melemahkan wibawa Presiden Prabowo. Ia menyebut kemungkinan adanya kebangkitan ‘Komgaba’ (komunis gaya baru-red) yang sifatnya berupaya mengadu domba, dan menyebar fitnah, hingga memainkan isu SARA yang dapat membuat gaduh dan mengganggu stabilitas nasional pemerintahan Prabowo.

“Feeling dan firasat saya pada Black September akan banyak muncul pikiran picik dan licik yang akan menggangu pemerintahan Prabowo. Karena hingga kini masih ada yang tidak suka Prabowo memimpin bangsa ini. Dikarenakan Prabowo akan berpihak pada rakyat demi keadilan serta mendaulatkan rakyat demi bangsa dan negara ini. Apa lagi beliau mempunyai landasan militer tentu saja sebagian orang dan kelompok yang bersebrangan tidak merasa nyaman negeri ini dipimpin olehnya,” jelas Habib Umar.

Menurutnya, pihak-pihak yang paling terganggu dengan kepemimpinan Presiden Prabowo adalah oligarki jahat dan para pembeking koruptor. Oleh karena itu, ia menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia tetap waspada jangan terprovakasi. Mari bersatu menjaga kedaulatan bangsa untuk kemajuan bersama.

“Namun demikian, saya yakin jika hal tersebut benar-benar ada dan terjadi, Maka Prabowo akan dengan cepat dapat mengatasinya,” tutur Habib Umar.

“Untuk itu, sebagai Ketua Umum Gentari, saya meminta kepada semua pihak dan rakyat Indonesia di seluruh negeri untuk bersatu padu menjaga NKRI dari rongrongan dan pengkhianatan yang ingin menghancurkan republik ini. Karena tanda-tanda tersebut sudah terlihat, berawal dari Pati, merembet ke Jakarta (DPR), lanjut ke Sumatera Utara dan sepertinya menyusul ke daerah- daerah lainnya dalam waktu dekat. Rakyat harus mewaspadai adanya penumpang gelap yang ikut dan mempunyai agenda terselubung akan terus bergerak untuk mengganggu keamanan pemerintahan Prabowo,” tegasnya.

Lebih jauh Habib Umar mengatakan, apa yang terjadi saat ini bisa menjadi indikasi adanya gerakan sistematis untuk menjatuhkan Presiden. “Wallahu a’lam, semoga bangsa Indonesia tetap dijaga dan dilindungi Allah,” katanya.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus Partai Demokrat, Hasbil Mustaqim Lubis, mengingatkan publik bahwa ada indikasi upaya terorganisir untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui aksi-aksi demonstrasi brutal. Menurutnya, hal itu bukan hanya merugikan stabilitas politik, tetapi juga mengorbankan nasib ratusan juta rakyat Indonesia yang sedang berjuang di tengah situasi ekonomi global yang tidak mudah.

Hasbil menegaskan, pemerintah yang baru berjalan belum genap satu tahun di bawah kepemimpinan Prabowo terus bekerja keras mencari solusi terbaik untuk rakyat. “Orang-orang kerja keras siang malam mencari nafkah, pemerintah pun berusaha memberikan yang terbaik tanpa mengenal lelah. Lalu ada pihak yang menginginkan pemerintah jatuh dengan aksi demo brutal oleh segelintir oknum? Oh, tidak bisa kawan,” ujarnya di akun X (Twitter) miliknya, Kamis (28/8).

Hasbil menekankan bahwa demokrasi Indonesia memberi ruang pada kebebasan berpendapat, namun hal itu tidak boleh disalahgunakan untuk merusak tatanan negara. Menurutnya, setiap kritik sah-sah saja, tetapi ketika diorganisir untuk tujuan menjatuhkan pemerintahan sah hasil pemilu, maka itu masuk kategori ancaman terhadap stabilitas negara.

“Marwah negara ini ada, TNI dan Polri kuat, dan satu lagi, ada 286 juta jiwa penduduk Indonesia yang harus dipikirkan untuk dilindungi kepentingannya. Jangan sampai kepentingan rakyat digadaikan hanya demi ambisi politik segelintir elit,” tegasnya.

Pernyataan Hasbil muncul di tengah meningkatnya tensi politik pasca-isu kebijakan pemerintah yang memicu gelombang protes di sejumlah daerah. Sejumlah pengamat menilai, wajar jika ada suara penolakan, namun yang perlu diwaspadai adalah infiltrasi agenda terselubung dari kelompok tertentu yang ingin memanfaatkan momen untuk mengacaukan stabilitas nasional.

Sejarah politik Indonesia mencatat, jatuhnya pemerintahan melalui tekanan jalanan bukanlah hal baru. Namun, menurut Hasbil, kondisi hari ini berbeda. TNI-Polri jauh lebih solid, dan masyarakat telah lebih dewasa dalam memaknai demokrasi. “Kita semua tentu tidak ingin mengulangi sejarah kelam di mana instabilitas politik berdampak langsung pada krisis ekonomi dan penderitaan rakyat,” katanya.

Lebih lanjut, Hasbil mengajak semua pihak untuk menyalurkan aspirasi secara konstitusional. Partai Demokrat sendiri, meskipun berada di luar lingkaran kekuasaan, tetap berkomitmen mengawal jalannya pemerintahan Prabowo agar benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat.

“Kritik boleh, saran silakan, tetapi jangan pernah ada niat menggulingkan pemerintahan sah. Itu bukan demokrasi, tapi perongrongan negara. Mari kita sama-sama menjaga persatuan bangsa, karena tugas kita hari ini adalah mengisi kemerdekaan, bukan meruntuhkan apa yang sudah dibangun,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Perhatikan dengan cermat dan teliti apa yang terjadi dengan keuangan Indonesia? Mengapa tiba tiba likuiditas dalam ekonomi nasional melimpah?

Adakah yang bertanya mengapa tiba-tiba isu rekening yang dipakai untuk pencucian uang tiba-tiba meledak? Selama ini, ratusan ribu bahkan jutaan rekening itu aman-aman saja beroperasi. Tidak ada yang mengutak-atik. Sekarang, mengapa harus dibekukan? Ada pertanyaan menggelitik? Jangan-jangan rekening-rekening tersebut isinya sudah meluber, kebanyakan?

Mari kita bahas secara teliti. Mulai dari awal pemerintahan Prabowo. Gerakan awal pemerintahan Prabowo adalah melakukan pemotongan anggaran. Tidak main-main anggaran yang dipotong tersebut. Jumlahnya mencapai 3×10 persen dari total APBN, sehingga mencapai 3×360 triliun rupiah atau 1.080 triliun rupiah.

Anggaran APBN yang biasanya dipatok defisit sekitar 2,5-3 persen GDP atau sekitar 600-an triliun rupiah, sontak berakhir. Berubah menjadi surplus APBN senilai 460 triliun rupiah. Sejarah baru, anggaran APBN dikelola secara terbalik dari defisit menjadi surplus. Logika juga terbalik dari isu APBN jebol menjadi isu APBN bocor yang ditambal dengan cepat oleh Presiden Prabowo melalui perubahan sistem fiskal.

Perubahan sistem fiskal mengguncang keuangan. Mengubah segalanya tentang Keuangan Negara. Tadinya, ekonomi Indonesia selalu kekurangan uang, menjadi ekonomi Indonesia harus menghadapi masalah baru yakni kelimpahan uang. Uang yang tadinya tersedot ke atas sekarang tidak lagi, harus mengendap dalam rekening-rekening yang selama ini ada di perbankan.

Sebagai catatan, uang bank dari berbagai sumber yang disimpan di dalam obligasi negara atau Surat Utang Negara (SUN) mencapai 2.500-3.000 triliun rupiah. Angka yang sangat fantastis. Jumlah tersebut 3 kali jumlah uang kartal yang beredar di masyarakat. Mengapa ini terjadi? Karena bunga SUN lebih tinggi dibandingkan bunga deposito perbankan. Maka muncullah pilihan: daripada investasi sektor riil, lebih baik simpan uang di SUN.

Karena negara butuh uang banyak sekali untuk menopang sistem anggaran defisit. Sekarang sistem anggaran surplus. APBN tidak lagi jebol atau tidak lagi defisit. Sebaliknya, APBN surplus atau kelebihan uang. Maka negara tidak perlu utang banyak-banyak. Tidak perlu utang uang bank yang selama ini menopang APBN. Maka uang yang ada dalam rekening-rekening di bank tidak lagi dapat mengalir ke APBN melalui SUN.

Disinilah Prabowonomic menyelesaikan masalah keuangan sekaligus memaksa sektor keuangan untuk transparansikan semua rekening yang menyimpan uang besar di bank. Rekening macam apa itu? Publik sekarang sampai pada pertanyaan apakah rekening itu adalah rekening rahasia atau rekening dormant? Yang jelas, rekening itu tidak lagi leluasa dalam beroperasi menjalankan pencucian uang hasil pencurian SDA, penipuan pajak, dan hasil kegiatan ilegal sektor keuangan lainnya. Selamat Pak Prabowo sebagai Komando Operasi Khusus.

MoneyTalk, Jakarta – Seratus hari pertama Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan publik, terutama dalam upaya pemberantasan korupsi. Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menciptakan tatanan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. Hal ini disampaikannya dalam pidato pada peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-102 di Istora Senayan Jakarta, Rabu (5/2/2025).

Sementara itu Direktur Center For Budget Analisis (CBA), Uchok Sky mendukung langkah pemerintahan Prabowo Subianto untuk tegas dalam pemberantasan korupsi dan bersih-bersih seluruh aspek.

CBA kembali mengungkap kasus dugaan korupsi di PT Pupuk Kalimantan Timur atau PT PKT yang melakukan kerjasama sewa pesawat Bontang – Balikpapan dengan perusahaan PT PAS dari bulan Agustus tahun 2022 hingga Agustus 2024. Sewa menyewa jasa transportasi udara tersebut, Hal ini dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama nomor 5300042018-MY tanggal 1 Agustus 2022.

“Dalam kontrak tersebut PT PAS menyediakan pesawat angkutan penumpang jenis ATR 42-500 termasuk awak pesawat, dan personil operasional untuk kebutuhan rute penerbangan Bontang – Balikpapan,” papar Uchok Sky.

Direktur CBA meminta Kepada Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk membuka penyelidikan atas kerjasama sewa pesawat antara PT PKT dengan PT PAS yang diduga terindikasi ada potensi kerugian negara alias menjadi beban perusahaan,” kata Uchok Sky Khadafi kepada wartawan Sabtu, (8/2/2025).

“Dan yang paling aneh dan janggal, kata Uchok Sky bahwa PT PAS memperoleh pekerjaan menyediakan pesawat bukan dengan sistem tender atau lelang tetapi dengan jalan penunjukan langsung melalui surat nomor 10273/D/TR/De4000/IT/2022 tanggal 28 Maret 2022,” tegas Uchok Sky.

“Maka dari itu kasus ini, Kami meminta Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk segera melakukan pemanggilan kepada Direktur Utama PT PKT, Budi Wahju Soesilo dan Rahmad Pribadi yang saat ini ditugaskan menjadi Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), dan Direktur Utama PT PAS,” lanjut Uchok Sky.

“Selanjutnya berdasarkan kontrak, sepertinya potensi kerugian negara sangat besar,” ujar Uchok Sky.

“Masa PT PKT akan membayarkan jasa sewa per bulan atas penggunaan pesawat 20 jam penerbangan sebesar Rp 1.922.900.000,00. Realisasinya pembayaran sewa pesawat bulan Agustus sampai Desember 2022 Seharus sebesar Rp 8.348.590.833 tetapi kok, tiba-tiba pembayaran sewa pesawat membengkak sampai sebesar Rp 10.420.836.066,” ungkap Uchok Sky.

“Dan kelebihan sebesar Rp 2.072.245.233,00 dinyatakan sebagai biaya Extra flight yang dikenakan atas kelebihan realisasi jam terbang perbulan dari alokasi kontrak selama 20 jam per bulan, ini bisa disebut potensi kerugian negara,” lanjut Uchok Sky.

Seperti biaya extra flight ini seperti sengaja dibuat-buat agar pembayaran dari PT PKT ke PT PAS mengalami kenaikan fantastis dan tidak masuk akal karena Nomenklatur extra flight tidak bisa diterapkan karena adanya faktor Cuaca, Teknis, dan kondisi lainnya yang berdampak pada terjadinya keterlambatan atau penambahan durasi waktu penerbangan,” pungkas Uchok Sky.