6 November 2026

Petani

MoneyTalk, Jakarta – Seperti diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto mengumumkan kebijakan penghapusan utang UMKM melalui Perpres No 47 tahun 2024 pada hari Rabu (6/11/2024) lalu.

Ketua Dewan Pembina Relawan Muda Prabowo-Gibran (RMPG), Khalid Zabidi, menyatakan, ini bukti bahwa Pemerintahan Prabowo memiliki keberpihakan nyata terhadap nasib rakyat.

“Kebijakan menghapus utang UMKM ini adalah bukti Prabowo memihak ekonomi rakyat, yang baru saja bangkit setelah pandemi Covid-19 dan sedang dihantui krisis pangan global akibat konflik geopolitik,” tukas Khalid pada Jumat (8/11/2024).

Politisi Partai Golkar tersebut menyebutkan bahwa, kebijakan ini akan meningkatkan kepercayaan rakyat terutama pelaku usaha kecil yang berjumlah 66 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61 persen.

“Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia sangat besar, mencapai 61 persen dari PDB, tentu kebijakan ini dapat meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan daya beli rakyat,” ungkapnya.

Target pertumbuhan ekonomi Pemerintahan Prabowo adalah 8 persen yang rencananya ditopang kebijakan industrialisasi berupa penguatan kedaulatan pangan, hilirisasi energi dan mineral, serta ekonomi hijau.

“Kebijakan industrialisasi tersebut tentu memerlukan dukungan politik dan mobilisasi sosial sangat besar dari rakyat, maka kebijakan hapus utang UMKM ini perlu didukung oleh seluruh rakyat,” tutup Khalid.

MoneyTalk, Jakarta – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2024 Pada Selasa (05/11) yang menetapkan penghapusan piutang macet untuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) khususnya dalam bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kelautan. Langkah ini bertujuan untuk meringankan beban para pelaku UMKM di sektor-sektor tersebut, memberikan peluang bagi mereka untuk kembali bangkit dan produktif dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Dalam konferensi pers yang digelar usai acara penandatanganan di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa kebijakan ini adalah hasil dari aspirasi masyarakat dan berbagai masukan dari kelompok-kelompok tani, nelayan, serta pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Presiden menegaskan bahwa peraturan ini diharapkan dapat meringankan beban para produsen pangan yang selama ini menghadapi masalah piutang macet, sehingga mereka dapat kembali fokus dalam kegiatan produksi yang sangat penting bagi ketahanan pangan dan perekonomian bangsa.

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2024, pemerintah secara resmi menghapus piutang macet yang sebelumnya menjerat pelaku UMKM di berbagai bidang strategis, seperti:

Bidang Perikanan dan Kelautan – Nelayan yang selama ini terbebani utang dan kesulitan dalam melaut, kini mendapatkan angin segar untuk kembali mengoptimalkan produksi.

Bidang Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan – Petani dan peternak yang terjerat utang, baik dari perbankan maupun tengkulak, akan memiliki kesempatan untuk memulihkan usahanya tanpa tertekan oleh beban utang.

UMKM Lainnya – Pelaku usaha kecil lainnya dalam sektor-sektor yang relevan dengan pengembangan ekonomi pedesaan dan pangan juga dapat menerima dampak dari kebijakan ini.

Presiden Prabowo menekankan, pelaksanaan teknis dari peraturan ini akan ditangani oleh kementerian dan lembaga terkait. Antara lain Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Detail teknis terkait prosedur, verifikasi, serta mekanisme penghapusan piutang akan disosialisasikan kepada para pelaku UMKM yang memenuhi persyaratan.

“Dengan penandatanganan peraturan ini, kami berharap sektor-sektor yang menjadi produsen pangan, seperti petani dan nelayan, dapat menjalankan usahanya dengan lebih tenang, semangat, dan penuh keyakinan bahwa negara hadir untuk mereka,” ujar Presiden Prabowo.

Peraturan ini disambut positif oleh para perwakilan asosiasi petani dan nelayan yang hadir dalam acara tersebut. Saudara Arif dari Asosiasi Petani Kakao Indonesia dan Saudara Jasiman dari Asosiasi Nelayan Mina Santosa turut menerima dokumen peraturan pemerintah yang secara resmi menghapuskan piutang macet bagi sektor pertanian dan perikanan. Mereka mengapresiasi kebijakan ini yang dianggap sebagai langkah konkret Presiden dalam mendukung petani dan nelayan.

Beberapa perwakilan petani menyatakan harapannya agar kebijakan ini berlanjut pada pengembangan ekosistem pertanian yang lebih baik. Dalam testimoni salah satu perwakilan peternak, kebijakan ini menjadi jawaban atas banyaknya utang yang selama ini harus mereka tanggung akibat kendala produksi.

“Selama ini, petani bawang merah bahkan punya istilah bahwa menanam bawang artinya menanam utang, karena setiap kali tanam, kami harus berutang. Kini dengan penghapusan piutang ini, kami bisa bernapas lega dan semangat menanam kembali,” ujar salah seorang petani.

Sebagai produsen pangan, petani dan nelayan memainkan peran vital dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia. Melalui kebijakan penghapusan piutang ini, pemerintah mengharapkan peningkatan produktivitas dan stabilitas ekonomi di sektor-sektor tersebut. Presiden Prabowo menyatakan komitmennya untuk terus mengupayakan kebijakan yang mendukung para produsen pangan ini, sebagai bentuk penghargaan negara atas peran mereka dalam memenuhi kebutuhan pangan bangsa.

Kebijakan penghapusan piutang macet ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi program-program lanjutan untuk membangun ekosistem ekonomi rakyat yang kuat. Pemerintah berencana mengembangkan program pendukung, seperti akses permodalan yang lebih terjangkau dan pendampingan teknis untuk para pelaku usaha kecil di sektor pertanian dan kelautan.

Melalui langkah-langkah ini, diharapkan para petani, nelayan, dan pelaku UMKM lainnya dapat berdaya guna dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat dan stabil. Ini juga merupakan bagian dari visi Presiden Prabowo untuk mendorong kesejahteraan masyarakat dan kemandirian pangan yang berkelanjutan.(c@kra)

BANTEN, MoneyTalk – Petani sawit Provinsi Banten mengadakan kegiatan Focus Group Discussion di Kota Serang pada tanggal 5 – 7 Juli 2023 dengan membawa tema “Strategi Dan Peranan Penting BPDPKS dalam Mempercepat Peremajaan Sawit Rakyat Untuk Kesejahteraan Pekebun Provinsi Banten”

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Bapak Ir. H. Agus M. Tauchid S. M.Si. yang mewakili Pj Gubernur Banten.

Kegiatan ini diusung oleh DPW APKASINDO BANTEN dengan didukung Penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Petani sawit provinsi Banten yang mengikuti kegiatan berjumlah 148 petani sawit yg terdiri dari Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak tentunya seluruh peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan FGD ini.

“FGD ini sangat bermanfaat bagi kami khsusnya dalam percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat” ucap peserta FGD, Sumarna.

JAKARTA, MoneyTalk – Abstraksi:

  • Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).
  • NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
  • NTP nasional April 2023 sebesar 110,58 atau turun 0,24 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,12 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik (Ib) sebesar 0,13 persen.
  • Pada April 2023, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (2,42 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan tertinggi terbesar (1,50 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.
  • Pada April 2023 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,14 persen yang disebabkan oleh kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran.
  • Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional April 2023 sebesar 110,92 atau turun 0,24 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
  • Dari 2.236 transaksi penjualan gabah di 26 provinsi selama April 2023, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 70,57 persen, gabah kering giling (GKG) 18,43 persen, dan gabah luar kualitas 11,00 persen.
  • Selama April 2023, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp5.401,00 per kg atau naik 2,40 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.524,00 per kg atau naik 2,25 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp6.105,00 per kg atau naik 0,90 persen dan di tingkat penggilingan Rp6.220,00 per kg atau naik 0,68 persen. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp5.289,00 per kg atau naik 5,47 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.391,00 per kg atau naik 4,96 persen.
  • Dibandingkan April 2022, rata-rata harga gabah pada April 2023 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 23,62 persen; 20,32 persen; dan 26,07 persen. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah pada April 2023 dibandingkan April 2022 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 23,26 persen; 19,77 persen; dan 25,69 persen.
  • Selama April 2023, survei harga produsen beras di penggilingan dilakukan pada 895 perusahaan penggilingan di 31 provinsi, dimana diperoleh 1.161 observasi beras di penggilingan.
  • Pada April 2023, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp11.672,00 per kg, turun sebesar 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp11.050,00 per kg atau turun sebesar 0,65 persen, dan rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan sebesar Rp10.565,00 per kg atau naik sebesar 0,85 persen.
  • Dibandingkan dengan April 2022, rata-rata harga beras di penggilingan pada April 2023 untuk kualitas premium, medium, dan luar kualitas masing-masing naik sebesar 21,88 persen; 21,37 persen; dan 19,33 persen.

JAKARTA, MoneyTalk – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) telah berulang tahun ke-50. Organisasi yang didirikan pada 27 April 1973 lalu itu merupakan hasil fusi dari empat belas organisasi tani yang ada di Indonesia pada saat itu.

Dengan usia setengah abad itulah, Anggota DPR RI Fadli Zon mengapresiasi HKTI yang merupakan organisasi tani tertua di tanah air yang tercatat pernah ada.

“Sejak awal pendiriannya, HKTI dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong sektor pertanian sebagai basis pembangunan nasional. Di usia pergerakannya yang persis setengah abad ini, HKTI ingin terus menunjukkan komitmennya untuk tidak pernah berhenti menyuarakan aspirasi petani Indonesia,” ujar Fadli dalam rilis.

Sebab, ungkap Politisi Fraksi Partai Gerindra ini, meskipun petani sering dipuji sebagai tulang punggung perekonomian kita, namun pada kenyataannya tingkat kesejahteraan petani Indonesia masih sangat rendah.

Dalam sepuluh tahun terakhir, misalnya, baru pada tahun 2022 lalu Nilai Tukar Petani (NTP) bisa melampaui NTP tahun 2013.

Sebagai catatan, pada 2013 NTP ada di angka 104,92, sementara pada 2022 lalu NTP ada di angka 107,33. Artinya, dalam rentang 10 tahun terakhir, kecuali pada 2022 silam, level kesejahteraan petani kita konsisten berada di bawah level tahun 2013. Ini tentu saja menjadi kenyataan memprihatinkan.

“Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, kita perlu mendorong para petani bisa menciptakan nilai tambah. Namun, sebelum itu dilakukan, kebutuhan sarana dan prasarana pertanian untuk para petani harus tercukupi terlebih dahulu,” tandas Fadli yang juga Ketua BKSAP DPR RI ini.

Nilai tambah, tutur Fadli, memang merupakan isu utama kesejahteraan petani. Dari sisi produksi, petani Indonesia ke depan tak boleh hanya mengerjakan pertanian di level on farm saja, namun harus juga menguasai off farm.

Sementara, dari sisi sumber daya manusia, petani kita juga harus mampu mengembangkan diri menjadi seorang entrepreneur dalam bidang agribisnis.

“Selama ini kita memang luput membangun para entrepreneur, karena pemerintah kita lebih suka menggantungkan motor pembangunan di tangan para konglomerat. Padahal, kalau kita belajar dari pengalaman Korea Selatan, yang berhasil mentransformasi petaninya menjadi entrepreneur, para petani kita mungkin bisa semaju Korea Selatan,” paparnya.

Persoalan itulah, sambungnya, yang mestinya mendorong Indonesia menerima gagasan pentingnya mentransformasikan petani kita menjadi seorang entrepreneur, atau tepatnya seorang agripreneur.

Jika Indonesia berhasil mentranformasi petani menjadi pengusaha, maka tinggal selangkah lagi bisa menciptakan Samsung versi Indonesia, Hyundai versi Indonesia, atau LG versi Indonesia.

Entrepreneur, tukas Fadli, adalah pencipta kekayaan melalui inovasi. Posisi entrepreneur dinilainya jauh lebih strategis ketimbang pemilikan kekayaan alam.

Sudah terbukti, ungkap Fadli, bangsa yang minim kekayaan alam, namun memiliki jumlah entrepreneur yang besar, bisa tumbuh menjadi negara industri maju.

“Itu sebabnya pembangunan ekonomi kita ke depan harus lebih memperhatikan manusia petani dan tranformasi petani menjadi entrepreneur. Meminjam pepatah Polandia, ‘jika petani miskin, maka seluruh negeri juga akan jatuh miskin. Jika Indonesia tak ingin menjadi bangsa paria, maka yang pertama-tama harus ditolong adalah para petani kita. Petani adalah kunci kemakmuran negeri! Dirgahayu HKTI!” pungkasnya.

JAKARTA, MoneyTalk – Pemerintah berencana kembali akan mengimpor beras sebanyak 2 (dua) juta ton hingga akhir tahun 2023. Sebanyak 500 ribu ton, di antaranya, ditargetkan akan tiba sebelum Lebaran 2023.

Penugasan yang diberikan kepada Perum Bulog tersebut bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan nasional hingga akhir tahun.

Melihat hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI Luluk Nur Hamidah menekankan pentingnya mendahulukan serapan beras dari dalam negeri.

Ia menilai, impor beras sejumlah 2 (dua) juta ton bukanlah angka yang main-main. Sehingga, seharusnya Bulog dapat mengupayakan terlebih dahulu penyerapan dari pertani.

“Petani harus jadi nomor satu, Pak. Jadi serapan dalam negeri harus menjadi nomor satu karena itulah momen di mana para petani kita itu merasakan sedikit hasil dari keringat dan bahkan air matanya selama ini,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama BUMN Pangan dan Perkebunan, yakni PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID Food, Perum Bulog dan PT Perkebunan Nusantara III (Persero), di Gedung Nusantara I, Senayan.

Terkait rencana impor tersebut, Luluk pun mempertanyakan penyerapan beras dari petani selama ini. Sebab menurut data Bulog, hingga awal April 2023, cadangan beras Bulog tinggal sebesar 283.883 ton.

“Mengapa ini (cadangan beras Bulog) dibiarkan sampai dalam kondisi yang serendah ini. Apa di tahun-tahun sebelumnya, Bulog memang tidak melakukan serapan besar-besaran pada saat panen raya misalnya di tahun 2022, 2021, 2020 atau bahkan 2019 sehingga ini (kurangnya cadangan beras) sudah diantisipasi,” jelasnya.

Untuk itu, Politisi Fraksi PKB ini meminta Bulog untuk dapat mempertimbangkan kembali rencana sisa impor beras. Bulog diminta untuk mengecek kembali ketersediaan beras petani.

“Pemerintah harus satu suara terkait dengan data produksi, kemudian daerah-daerah mana sentra-sentra penghasil padi yang selama ini misalnya belum panen karena kebetulan musim tanamnya tidak sama dan panennya juga tidak sama sehingga jangan sampai petani lagi-lagi merasa pilu hatinya,” imbuhnya.