9 November 2026

Pilkada Jakarta

MoneyTalk, Jakarta – Tulisan ini adalah kali kelima saya membahas Pilkada Jakarta dengan posisi tetap netral, tanpa keberpihakan kepada calon mana pun. Dalam artikel ini, saya akan mengulas topik “Bahaya Overconfidence di Pilkada Jakarta: Menang di Putaran Pertama atau Tumbang di Putaran Kedua.” Tujuan pembahasan ini adalah untuk memberikan antisipasi dan mendorong persiapan maksimal bagi masing-masing calon, mengingat waktu yang tersisa hanya 3 hari lagi menuju hari pencoblosan pada 27 November 2024, yang akan menentukan apakah Pilkada berlangsung dalam satu putaran atau berlanjut ke putaran kedua.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Jakarta dimulai pada tahun 2007. Ada beberapa hal menarik dari Pilkada Jakarta, salah satunya adalah fenomena overconfidence atau rasa percaya diri berlebihan yang justru kerap berujung pada kekalahan. Selain itu, isu tentang Pilkada satu putaran juga menjadi perbincangan yang menarik, mengingat hingga kini Pilkada Jakarta belum pernah berlangsung dalam satu putaran.

Tentang fenomena overconfidence ini pernah terjadi pada Pilkada 2012, ketika Gubernur petahana Fauzi Bowo (Foke) maju kembali!

Di awal pencalonan, Foke diyakini akan dengan mudah meraih kemenangan. Berbagai hasil survei dari sejumlah lembaga menunjukkan elektabilitas, tingkat kepercayaan, dan kesukaan publik terhadap Foke sangat tinggi. Kondisi ini melahirkan rasa percaya diri berlebihan, baik di kalangan Tim Kampanye Foke maupun para pendukungnya, yang berkesimpulan bahwa kemenangan Foke sudah di tangan.

Sebagai tokoh Betawi, Foke kemudian dipasangkan dengan Nahrowi Ramli, sesama tokoh Betawi dan kader Partai Demokrat. Strategi ini awalnya dianggap memperkuat peluang kemenangan. Namun, hasil Pilkada justru di luar ekspektasi. Pasangan Foke-Nahrowi kalah dari pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pilkada Jakarta 2012 pun menjadi momen bersejarah, di mana Jokowi-Ahok berhasil merebut kursi Gubernur dan Wakil Gubernur untuk periode 2012–2017, menyingkirkan Foke yang semula dipandang tak terkalahkan.

Fenomena overconfidence atau kepercayaan diri berlebihan kembali terjadi pada Pilkada Jakarta 2017. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menggantikan Jokowi setelah terpilih sebagai Presiden RI pada Pilpres 2014, maju kembali untuk Pilkada Jakarta.

Tim Kampanye Ahok sangat percaya diri bahwa Ahok akan memenangkan Pilkada, terlebih dengan keyakinan bahwa Jokowi, yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI, turut mendukungnya. Rasa percaya diri ini tampak begitu kuat sehingga mengabaikan potensi risiko dan dinamika di lapangan.

Namun, seperti kata pepatah, “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak,” hasil dari overconfidence itu datang terlalu cepat. Ahok menghadapi sejumlah blunder fatal, termasuk kontroversi yang memicu kasus penistaan agama. Kasus ini tidak hanya mencoreng citranya, tetapi juga memicu gelombang protes besar yang pada akhirnya menggoyahkan peluangnya. Pilkada Jakarta 2017 pun berakhir dengan kekalahan Ahok, menandai titik balik yang tidak terduga bagi perjalanan politiknya.

Nampaknya fenomena overconfiden atau kepercayaan diri berlebih kali ini kemungkinan besar juga terjadi pada Pilkada Jakarta 2024. Jika kita melihat dukungan partai politik pengusung dari pasangan nomor urut 1 Ridwan Kamil (RK) dan Suswono (RIDO), sepertinya dapat dianggap Pilkada Jakarta 2024 sudah selesai.

Dengan dukungan partai-partai besar, dengan koalisi 13 partai termasuk partai pemenang Pilpres 2024, Gerindra dengan Ketua Umumnya Prabowo Subianto. Selain itu, mantan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), juga mendukung RIDO, sehingga di atas kertas pasangan ini diyakini akan menang.

Terbukti hasil survei elektabilitas awal, pasangan RIDO hasilnya melampaui angka psikologis di atas 51 persen. Namun saat ini kondisinya sepertinya berbalik, pasangan yang hanya didukung dan diusung oleh PDIP dan Hanura, yakni nomor urut 3 Pramono Anung-Rano Karno, berbalik, elektabilitasnya menyalip pasangan RIDO. Berdasarkan hasil survei dari salah satu lembaga, elektabilitas Pramono-Rano telah nyaris melewati 51 persen.

Dukungan mantan Gubernur Anies Baswedan dan Foke diyakini berhasil mendongkrak elektabilitas Pramono-Rano. Beberapa catatan hasil survei elektabilitas sudah pernah saya sajikan.

Bahkan terbaru, ada hasil Survei Alvara Research Center yang menunjukkan bahwa pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Pramono Anung-Rano Karno, telah mencapai angka 49 persen. Untuk elektabilitas pasangan calon Ridwan Kamil (RK)-Suswono 44,5 persen dan Dharma Pongrekun-Kun Wardana 1,9 persen. Sedangkan responden yang belum memutuskan pilihannya 4,6 persen. Survei ini dilakukan pada pemilih DKI Jakarta yang dilakukan Alvara pada 17-21 November 2024.

Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi Tim Kampanye RIDO untuk cepat mengoreksi dan mengantisipasi hal buruk kekalahan yang mungkin bisa terjadi.

Dengan melihat kondisi tersebut di atas, saya berpendapat, bahwasanya bagi pasangan calon Gubernur Pramono Anung dan Rano Karno serta Tim Kampanye dari PDIP dan Hanura serta relawan, pilihannya adalah harus satu putaran. Artinya, Pilkada Jakarta harus menang dalam satu putaran atau kemungkinan besar akan tumbang di putaran kedua.

Sedangkan bagi pasangan Ridwan Kamil (RK) dan Suswono (RIDO), harus cepat mengantisipasi kemungkinan buruk, yakni Gerakan 13 mesin partai dan jaringan relawan secara maksimal untuk meningkatkan elektabilitas agar bisa tetap unggul, setidaknya bisa menang dan terjadi Pilkada Jakarta dua putaran. Jika memungkinkan, tuntas dalam satu putaran.

Jakarta, Minggu, 24 November 2024, Wassalam, Sugiyanto (SGY) Emik

MoneyTalk, Jakarta – Waktu pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah serentak untuk memilih Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota tanggal 27 November 2024 kurang satu minggu lagi. Kerja keras tim sukses partai politik selama beberapa bulan terakhir akan dilihat hasilnya sebentar lagi. Strategi kampanye menjelang masa tenang mulai ditingkatkan dan makin massif.

Kampanye terakhir semakin seru ketika masing-masing Tim Kampanye mulai menurunkan ‘jagoan’ yang dianggap dapat meningkatkan dan menguatkan para pemilih untuk memberikan suaranya pada masing-masing kandidat yang didukungnya. Tak terkecuali Pilkada Gubernur di Daerah Khusus Jakarta. Pasangan calon Gubernur Ridwan Kamil dan Suswono memunculkan figure Joko Widodo dan pasangan calon Gubernur Pramono dan si Doel memunculkan figure Anies.

Munculnya tokoh-tokoh pendukung pasangan calon menambah ‘ramai’ suasana kampanye pilkada di Jakarta. Bukan hanya tokoh yang meramaikan, bahkan pengamat politik dan praktisi survey M. Qodari pun ikut berkomentar atas keterlibatan para tokoh dalam mendukung para jagoannya.

Dalam Podcast Total Poltik, tanggal 20 November 2024, M. Qodari dengan gaya ‘khasnya’, menilai bahwa kehadiran Anies yang mendukung pasangan calon Pram dan Doel bukannya akan meningkatkan suara, tapi malah akan membuat dukungan masyarakat ke Pram dan Doel akan menurun. Deklarasi dukungan Anies akan menjadi blunder politik dan menggagalkan kemenangan Pram dan Doel, kata Ketua KoPi GD (Komunitas Pecinta Gagasan Demokrasi), Mahmud Hamdani.

Secara lugas M. Qodari menjelaskan bahwa Anies akan menjadi “Hantu” yang lebih menyeramkan dari PKS bagi Minoritas. Bahkan dalam paparan lanjutannya, Qodari berani menyatakan bahwa Anies adalah Game Changer. bukan untuk kebaikan tapi dalam keburukan. Menutup dialognya, dengan istilah khas Gen Z beliau menegaskan Anies dikira Suhu ternyata Cupu, jelas Mahmud Hamdani.

Beberapa Pernyataan M. Qodari dalam dialog Podcast Total Politik, mungkin biasa saja dalam tataran konsep atau kajian ilmiah, namun ketika disampaikan dalam suasana kampanye tentu menjadi beda maknanya. Kritikan terhadap keterlibatan Anies atas deklarasi dukungan ke pramono dan Doel, tidak lagi terlihat sebagai kritikan tetapi sudah dapata dimaknai sebagai ujaran kebencian (hate Speech), lanjut Mahmud Hamdani.

Ini ulasan dan kajian Mahmud Hamdani atas Pernyataan Qodari, pertama bahwa Anies akan menjadi ‘Hantu” yang lebih menyeramkan dari PKS bagi minoritas. Jelas merupakan penggiringan “opini” kepada masyarakat dan menganggap bahwa Anis Baswedan merupakan figure yang anti perbedaan dan jika memimpin akan membahayakan minoritas etnis dan agama lain.

Kedua, Pernyataan Qodari bahwa Anis Baswedan sebagai Game Changer, bukan untuk kebaikan tapi untuk keburukan semakin memperjelas tontonan “ketidaksukaan” dan ungkapan ujaran kebencian (hate speech) seorang Qodari terhadap Anis Baswedan. Jikalau pernyatan itu hanya sampai kata Game Changer kekalahan pram dan doel, mungkin masih bisa ditolerir. Namun tambahan kalimat bukan untuk kebaikan tapi untuk keburukan mempunyai makna lain, yaitu menyebarkan ujaran kebencian (hate Speech).

Terakhir, pernyataan meskipun bercanda bahwa Anies dikira Suhu ternyata Cupu, merupakan ujaran untuk menghina dan melecehkan secara pribadi Anies Baswedan.

Selain itu Mahmud Hamdani juga menyayangkan Beberapa Pernyataan Qodari seperti sebagai Wakil Kepala Kantor Komunikasi Presiden seharusnya Qodari berhati-hati ketika mengeluarkan pendapat pribadinya. Karena sekarang bukan lagi sebagai manusia bebas berkomentar, tapi setiap ucapannya adalah kebijakan negara.

Dan Mahmud Hamdani Pengingat, berdasarkan Pasal 3 Perpres Nomor 82 Tahun 2024, Kantor Komunikasi Kepresidenan memiliki tugas menyelenggarakan pemberian dukungan kepada presiden dalam melaksanakan komunikasi dan informasi kebijakan strategis dan program prioritas presiden. Adapun enam fungsi diantaranya menganalisis, mengelola isu dan informasi terkait program prioritas presiden, melakukan koordinasi dan sinkronisasi dengan kementerian/lembaga terkait mengenai program prioritas tersebut. Uraian lebih lengkapnya diatur pada Pasal 4. Selain itu juga berdasarkan Pasal 17 disebutkan Kepala Kantor Kepresidenan juga bisa bertindak sebagai Juru Bicara Presiden.

Paparan Tupoksi Kantor Komunikasi Presiden menjelaskan bahwa keberadaan institusi itu untuk komunikasi dan informasi kebijakan strategis dan program prioritas presiden. Sehingga seorang wakil Kepala kantor Komunikasi Presiden ketika berbicara diwilayah publik jelas akan membawa isntitusi lembaganya (meskipun sedang cuti). Pernyataan dengan “enteng” mendiskriditkan seorang Anies Baswedan sebagai tokoh yang berbahaya dan Anti keberagaman. Menunjukkan adanya arogansi kekuasaan dan upaya menutup perbedaan pilihan.

Semoga, ke depan tidak ada lagi pernyataan pejabat publik yang asal bicara meskipun di forum ilmiah sekalipun. Semoga, tutup Mahmud Hamdani.

Penulis: Mahmud Hamdani, Ketua KoPi GD (Komunitas Pecinta Gagasan Demokrasi).

MoneyTalk, Jakarta – Setelah berdiskusi dan bermusyawarah, Pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jakarta, menyatakan sebagai berikut:

1. Dalam situasi dan kondisi apapun setiap mukmin harus selalu percaya kepada rahmat Allah Swt dan pada saat yang sama dilarang putus asa terhadap rahmat Allah. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Zakaria a.s. seperti termuat dalam Al Qur’an Surat Maryam ayat1-9. Nabi Zakaria a.s. tidak pernah putus asa berharap kepada Allah diberikan seorang Mawali (penerus) meskipun tulangnya sudah rapuh, rambutnya sudah penuh uban dan istrinya pun mandul. Ia berdoa “ ايقش يبر كئاعدب نكأ ملو “. Akhirnya Allah anugerahkan Yahya a.s.

2. Dalam Islam setiap tarikan nafas, ucapan dan perbuatan akan dicatat oleh Malaikat Raqib atau Atid. Malaikat Raqib mencatat amal kebaikan dan Atid mencatat keburukan. Hanya ada dua kategori: Amal baik atau buruk. Tidak ada yg ketiga.

3. Dalam konteks politik telah ada dua preseden yang diwariskan oleh Allah Yarham Mohammad Natsir. Pertama: saat beliau diberi mandat oleh Bung Karno untuk membentuk kabinet pasca Mosi Integral. Syaratnya: kabinet tersebut harus merangkul semua kekuatan politik. Namun sampai tenggat waktu yang diberikan PNI tak mau bergabung. M. Natsir minta izin Bung Karno membuat Kabinet tanpa PNI atau jika tidak dizinkan, akan mengembalikan mandat. Akhirnya Bung Karno mengizinkan Natsir membentuk Kabinet tanpa PNI. Kedua: Saat Orde Baru semua kekuatan sospol dikoptasi oleh Orba. Termasuk PPP, yang merupakan fusi (penyatuan) partai- partai Islam yaitu Parmusi, NU, Perti dan PSII. Dalam situasi seperti itu Pak Natsir membuat tulisan yang meminta umat Islam memilih PPP. Karena betapapun terkoptasi oleh rezim Orba, PPP berasal dari rahim umat dan punya platform yang sesuai tuntunan Islam. Setidaknya tidak akan mengeluarkan kebijakan yang bertentangan dengan Islam. Hal ini sesuai kaidah Fiqih : هلك كرتي لا هلك كردي لا ام (Apa-apa yang tidak bisa didapatkan semuanya, jangan tinggalkan semuanya).

Sehubungan dengan Pilkada Jakarta, Pengurus Dewan Da’wah Jakarta menyerukan seluruh kader dan simpatisan khususnya serta umat Islam warga Jakarta umumnya hal-hal sebagai berikut:

1. Mendatangi TPS dan melaksanakan haknya secara benar dan bertangungjwab. Bersikap Golput atau coblos semua kandidat, bukanlah langkah yang tepat. Karena hal itu bukan saja tidak produktif tapi juga bisa jatuh pada sikap putus asa terhadap rahmat Allah.

2. Mengajak para kader dan umat Islam memilih pasangan No. 1 (Ridwan Kamil-Suswono), karena pasangan ini didukung oleh sejumlah partai Islam dan partai umat Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Allah Yarham M. Natsir pada kasus PPP diatas. Kita percaya mereka akan memperhatikan mashlahat umat Islam. Setidak-tidaknya tidak akan membuat kebijakan yang menyakiti umat.

3. Menyerukan seluruh kader, simpatisan dan umat Islam untuk tidak termakan oleh opini pihak tertentu yang menyesatkan dan tidak bertanggung jawab.

4. Menyerukan seluruh kader dan warga Jakarta menjadikan Pilkada tahun ini sebagai Pilkada yang aman dan damai.

Demikianlah pernyatan ini dibuat semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhoi langkah kita dan memberikan kita pemimpin Jakarta yang takut kepada Allah dan sayang kepada kita semua.

Jakarta, 18 Jumadil Awal 1446 H, 20 November 2024 M, DEWAN DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA (DDII), PROVINSI DKI JAKARTA

MoneyTalk, Jakarta – Tulisan ini adalah kali kedua saya membahas Pilkada Jakarta dengan posisi tetap netral alias tidak berpihak kepada calon mana pun. Dalam artikel ini, saya akan mengulas peluang Pilkada Jakarta 2024 berlangsung dalam satu putaran atau dua putaran.

Kompetisi pemilihan kepala daerah atau Pilkada tinggal 7 hari lagi, tepatnya pada 27 November 2024. Berdasarkan analisis saya, kecil kemungkinan salah satu pasangan calon mampu meraih kemenangan satu putaran atau mendapatkan 50 persen plus 1 atau 51 persen suara.

Saat ini, persaingan dalam Pilkada Jakarta semakin ketat. Pasangan nomor urut 3, Pramono Anung dan Rano Karno, semakin populer setelah mendapat dukungan dari mantan Gubernur Jakarta sekaligus calon presiden, Anies Rasyid Baswedan.

Sementara itu, pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil atau RK dan Suswono (RIDO), juga terus bergerak agresif dengan dukungan dari 13 partai Koalisi KIM PLUS, termasuk mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Koalisi ini dimotori oleh Partai Gerindra, di mana Ketua Umumnya, Prabowo Subianto, saat ini menjabat sebagai Presiden RI.

Pasangan nomor urut 2, Dharma Pongrekun dan Kun Wardana, yang maju melalui jalur independen, terlihat sulit untuk bersaing dengan dua pasangan calon dari partai politik besar.

Pengaruh Pilpres 2024 terhadap Pilkada Jakarta

Hasil Pilkada Jakarta tak lepas dari bayang-bayang Pilpres Februari 2024. Berdasarkan Berita Acara dan Sertifikat Hasil Penghitungan Suara Tingkat KPU Provinsi DKI Jakarta, mencata hasil suara di Jakarta.

Hasil Pilpres tersebut menunjukkan bahwa pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (nomor urut 1) memperoleh 41% atau 2.653.762 suara. Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (nomor urut 2) unggul tipis dengan 41,67% atau 2.692.011 suara. Sementara itu, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD (nomor urut 3) meraih 17,26% atau 1.115.138 suara.

Merujuk pada hasil tersebut, pasangan Pramono Anung-Rano Karno memiliki peluang untuk memenangkan Pilkada Jakarta dalam satu putaran, terutama dengan potensi dukungan dari pendukung Anies Baswedan. Namun, situasi politik tidaklah sesederhana itu. Pasangan RIDO (Ridwan Kamil-Suswono) mendapat dukungan penuh dari Koalisi KIM PLUS, yang terdiri dari partai-partai besar seperti PKS, PKB, dan Nasdem—yang sebelumnya merupakan pendukung Anies Baswedan pada Pilpres.

Konstelasi tersebut menunjukkan bahwa dukungan politik dalam Pilkada dapat bergeser dengan cepat, sehingga hasil Pilpres tidak selalu menjadi patokan mutlak. Pertarungan antar-koalisi, kepentingan partai, dan daya tarik masing-masing pasangan calon akan menjadi faktor penentu dalam hasil akhir Pilkada.

Hasil Survei Elektabilitas Pasangan Calon: Pilkada Jakarta Berpotensi Dua Putaran

Lima lembaga survei nasional baru-baru ini merilis hasil elektabilitas pasangan calon yang bertarung dalam Pilkada Jakarta 2024. Berdasarkan data dari kelima survei tersebut, persaingan antar pasangan calon menunjukkan peluang besar terjadinya dua putaran. Berikut hasil survei dari masing-masing lembaga tersebut.

Pertama, berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 31 Oktober–9 November 2024 dengan melibatkan 1.210 responden, pasangan Pramono Anung-Rano Karno mendapatkan dukungan sebesar 46%, diikuti oleh pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan 39,1%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana dengan 5,1%.

Kedua, hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 20–25 Oktober 2024 dengan melibatkan 1.200 responden menunjukkan bahwa pasangan Pramono Anung-Rano Karno memperoleh dukungan sebesar 38,3%, diikuti oleh pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan 34,6%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 3,3%.

Ketiga, berdasarkan hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang melibatkan 1.200 responden, pasangan Pramono Anung-Rano Karno meraih dukungan sebesar 41,6%, diikuti oleh pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan 37,4%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 6,6%.

Keempat, hasil survei Poltracking yang dilakukan pada 10–16 Oktober 2024 dengan melibatkan 2.000 responden menunjukkan bahwa pasangan Ridwan Kamil-Suswono memperoleh dukungan sebesar 54,8%, diikuti oleh pasangan Pramono Anung-Rano Karno dengan 32,9%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 4,1%.

Yang kelima, hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dilakukan pada 21–25 Oktober 2024 dengan melibatkan 1.200 responden menunjukkan bahwa pasangan Ridwan Kamil-Suswono memperoleh dukungan sebesar 47,8%, diikuti oleh pasangan Pramono Anung-Rano Karno dengan 38%, sementara pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardanahanya meraih 4,3%.

Dari hasil survei tersebut, mayoritas menunjukkan bahwa tidak ada pasangan calon yang mampu menembus angka 51% secara konsisten, kecuali hasil Poltracking yang menunjukkan elektabilitas Ridwan Kamil di angka 54,8%. Namun, hasil mayoritas survei mengindikasikan bahwa Pilkada Jakarta akan berlangsung dalam dua putaran.

Berdasarkan uraian di atas, saya memprediksi bahwa Pilkada Jakarta 2024 kemungkinan besar akan berlangsung dalam dua putaran. Putaran kedua akan menjadi ajang pertarungan hidup atau mati antara pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil-Suswono, dan pasangan nomor urut 3, Pramono Anung-Rano Karno.

Meski demikian, peluang Pilkada Jakarta selesai dalam satu putaran tetap ada, namun kecenderungannya lebih kuat bahwa Pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran. Selanjutnya, siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Saya tidak ingin berspekulasi tanpa kajian mendalam. Dengan demikian, pemenang Pilkada Jakarta bisa Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) atau Pramono Anung-Rano Karno.

Wallahu a‘lam bish-shawab. Jakarta, Rabu, 20 November 2024 Wassalam

Penulis: Sugiyanto (SGY)-Emik

MoneyTalk, Jakarta – Dalam rangka mempererat silaturahmi antar anggota, Komunitas Jawa Tulen dan Komunitas Penggemar Wayangan akan menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara ini akan dilaksanakan pada Sabtu, 19 Oktober 2024, mulai pukul 19.30 WIB hingga selesai, bertempat di Lapangan Belakang Kantor Walikota Jakarta Timur. Pagelaran wayang ini juga diadakan sebagai bentuk dukungan dan upaya memenangkan pasangan Mas Suswono dan Ridwan Kamil (RK) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DK Jakarta 2024.

Tokoh Jawa Asli dengan Dukungan Penuh Komunitas

Mas Suswono, yang dikenal sebagai tokoh Jawa asli dari Tegal, Jawa Tengah, serta mantan Menteri Pertanian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kini maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Bersama dengan Ridwan Kamil, pasangan ini mendapat dukungan penuh dari Komunitas Jawa Tulen dan Komunitas Penggemar Wayangan.

R. Adi Sucipto Wirowongso, Koordinator Komunitas Jawa Tulen Pusat, dalam pernyataannya pada Sabtu (12/10), mengungkapkan bahwa dukungan ini adalah bentuk beban moral dan kewajiban anggota komunitas untuk memenangkan Mas Suswono dan RK.

“Mas Suswono bukan hanya tokoh yang dikenal luas, tetapi juga representasi kuat dari nilai-nilai kultural Jawa yang kami junjung tinggi. Kami merasa punya tanggung jawab moral untuk memenangkan beliau dalam Pilkada DKI Jakarta 2024 ini,” ujar R. Adi Sucipto Wirowongso.

Ia juga menyebutkan bahwa Hidayat Nurwahid, tokoh asli Klaten, Jawa Tengah, dan salah satu Pimpinan MPR RI, juga menjadi Dewan Penasehat dalam Komunitas Jawa Tulen, memberikan dukungan penuh kepada Mas Suswono.

Pagelaran Wayang Kulit, Tradisi Jawa yang Sarat Makna

Pagelaran wayang kulit yang akan digelar ini bukan hanya sekadar acara hiburan. Bagi Komunitas Jawa Tulen dan Komunitas Penggemar Wayangan, wayang kulit merupakan simbol kebudayaan yang kuat. Acara tersebut diharapkan menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antara anggota komunitas dan sekaligus menjadi bentuk pernyataan sikap politik untuk mendukung pasangan Suswono-RK.

Menurut R. Adi Sucipto Wirowongso, pertunjukan wayang kulit ini akan dihadiri oleh berbagai tokoh budaya dan tokoh masyarakat Jawa di Jakarta.

“Pagelaran wayang kulit adalah tradisi kami yang sarat akan filosofi kehidupan, di mana perjuangan untuk keadilan, kebenaran, dan kemakmuran selalu menjadi inti dari setiap cerita. Ini juga menjadi simbol dari perjuangan kami mendukung calon yang kami yakini mampu membawa Jakarta menjadi lebih baik,” tambahnya.

Acara tersebut juga akan diikuti oleh pentas seni budaya lainnya, yang diharapkan dapat menarik perhatian warga Jakarta, terutama mereka yang memiliki akar budaya Jawa. Melalui acara ini, Komunitas Jawa Tulen ingin menegaskan bahwa mereka siap bergerak bersama untuk memenangkan Mas Suswono. Seorang tokoh yang tidak hanya memiliki latar belakang politik yang kuat. Selain itu juga pemahaman mendalam tentang kebutuhan masyarakat Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Kerja Keras Pengurus di 5 Wilayah Jakarta

Di balik persiapan acara ini, kerja keras para pengurus Komunitas Jawa Tulen tidak bisa diabaikan. R. Adi Sucipto Wirowongso selaku Ketua Umum, bersama dengan Mas Musyanto, SH, Ketua Komunitas Jawa Tulen DKI Jakarta, serta para pengurus di lima wilayah Jakarta, telah berkomitmen untuk memobilisasi dukungan dari seluruh anggota dan masyarakat Jawa di ibu kota.

“Kami terus bergerak di lima wilayah Jakarta untuk memastikan bahwa semua anggota komunitas memahami pentingnya dukungan terhadap Mas Suswono dan RK. Ini bukan hanya soal politik, tetapi soal membawa suara dan nilai-nilai Jawa ke kancah pemerintahan di ibu kota,” ungkap R. Adi Sucipto.

Komitmen untuk Memajukan Jakarta

Komunitas Jawa Tulen memandang Mas Suswono sebagai figur yang tepat untuk memimpin Jakarta ke depan, khususnya dengan latar belakangnya sebagai mantan Menteri Pertanian yang telah menunjukkan kiprahnya dalam pembangunan nasional.

“Pengalaman Mas Suswono dalam pemerintahan dan kebijaksanaan beliau sebagai tokoh Jawa adalah modal kuat untuk memajukan Jakarta. Kami yakin, beliau bisa membawa perubahan yang positif bersama Ridwan Kamil,” ujar Musyanto, SH, Ketua DKI Jakarta.

Selain itu, dukungan Hidayat Nurwahid yang merupakan salah satu pimpinan MPR RI, memperkuat posisi Suswono dalam komunitas Jawa. Keduanya dianggap sebagai figur pemersatu bagi masyarakat Jawa di Jakarta.

Pagelaran wayang kulit ini akan menjadi momen penting bagi Komunitas Jawa Tulen dan Komunitas Penggemar Wayangan dalam memperkuat dukungan terhadap Mas Suswono dan RK di Pilkada DKI Jakarta 2024.

Dengan tradisi dan nilai-nilai budaya Jawa sebagai pijakan, komunitas ini siap bekerja keras untuk memenangkan calon yang mereka yakini mampu membawa Jakarta ke arah yang lebih baik dan bermartabat.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta, 26 Agustus 2024 – Dalam sebuah tulisan yang diterima oleh *MoneyTalk, pada Senin (26/08), pengamat politik Eko Kuntadhi mengurai situasi politik terkini yang melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Ridwan Kamil (RK). Menurut Eko, politik adalah ilmu segala kemungkinan, dengan motif utama yang tidak pernah lepas dari kekuasaan.

(lebih…)