1 November 2026

Pilkada serentak

MoneyTalk, Jakarta – Sehari sebelum pemungutan suara pada Rabu, 27 November 2024, tepatnya pada Selasa, 26 November 2024, saya menulis artikel berjudul, “Menebak Pemenang Pemilihan Gubernur 2024 di Sumut dan Pulau Jawa: Jakarta Milik Siapa?”

Artikel tersebut menggambarkan siapa yang berpotensi menjadi pemenang di Pulau Jawa dan Sumatera Utara (Sumut), berdasarkan analisis elektabilitas, dukungan partai, kekuatan tokoh nasional/lokal, serta dampak dari hasil Pilpres 2024 dan faktor lainnya.

Tulisan artikel saya ini bukan bermaksud mengecilkan arti Pilkada Serentak di luar Pulau Jawa dan Sumatera Utara, melainkan hanya sebagai gambaran umum. Adapun hasil Pilkada Serentak di daerah lain tetap penting, karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan hasil Pilkada Serentak di Tanah Air ini.

Dari enam provinsi yang saya prediksi, empat provinsi terbukti sesuai dengan perkiraan saya. Namun, prediksi saya meleset di dua provinsi: Banten dan Jawa Tengah. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut.

Provinsi dengan Prediksi Akurat

Di Sumatera Utara (Sumut), pasangan Bobby Nasution-Surya unggul dengan hasil quick count di atas 60% atau sekitar 64%. Kemenangan ini menjadi momentum strategis bagi Gerindra untuk memperkuat pengaruhnya di Sumatera Utara. Saat ini Bobby Nasution telah resmi tercatat sebagai kader Gerindra.

Di Jawa Barat (Jabar), pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan (Gerindra-Golkar) memimpin dengan hasil quick count mencapai sekitar 61 persen. Dedi Mulyadi adalah kader Gerindra, sehingga hal ini mengukuhkan Jabar sebagai basis utama Gerindra di Pulau Jawa.

Sementara itu, di Jawa Timur (Jatim), pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak (Gerindra-Golkar) meraih kemenangan dengan hasil hitung cepat (quick count) sekitar 58 persen. Hasil ini menegaskan kekuatan koalisi besar yang dipimpin oleh Gerindra.

Dalam konteks ini, saya menduga Khofifah kemungkinan besar telah atau akan menjadi kader Gerindra, sehingga Jatim dapat dianggap “milik” Gerindra.

Untuk di Jakarta, pertarungan berlangsung sengit antara pasangan nomor 1, Ridwan Kamil-Suswono (didukung koalisi besar 13 partai, termasuk Gerindra), melawan pasangan nomor 3, Pramono Anung-Rano Karno (PDIP).

Hasil quick count menunjukkan pasangan Pram-Rano atau PRAM-DUEL, unggul dengan perolehan sekitar 49% hingga 50,5%, nyaris memastikan kemenangan dalam satu putaran dengan raihan 50% plus satu.

Dengan margin of error 1 persen, kepastian apakah Pilkada Jakarta selesai dalam satu putaran atau harus menuju dua putaran masih menunggu hasil real count dari KPU. Semua pihak tentu perlu bersabar menantikan hasil resmi tersebut.

Provinsi dengan Prediksi Meleset

Di Jawa Tengah (Jateng), prediksi saya meleset. Pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen (Gerindra-PPP) unggul atas pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dengan perolehan hasil quick count sekitar 59,3% suara.

Sebelumnya, saya memprediksi PDIP akan tetap menang karena Jateng dikenal sebagai “Kandang Banteng” serta faktor Andika Perkasa sebagai mantan Panglima TNI dan kekuatan jaringan Hendrar Prihadi sebagai mantan Wali Kota Semarang.

Namun, meski kalah, PDIP masih mampu meraih suara sekitar 40,7%. Dalam hal tersebut, saya juga meyakini, mungkin Ahmad Luthfi, juga telah atau akan menjadi kader Gerindra. Dengan kemenangkan ini, Jawa Tengah kini dapat dianggap sebagai wilayah kekuasaan Gerindra.

Selain itu prediksi saya juga meleset di Banten.
Saya memprediksi pasangan Airin Rachmi Diany-Ade Sumardi (Golkar-PDIP) akan menang dengan elektabilitas diatas 70% yang dimilikinya. Namun, hasil berbeda terjadi. Kondisi ini tentu sangat mengejutkan kancah dunia politik nasional, khusunya di Provinsi Banten.

Di Banten, secara spektakuler, pasangan Andra Soni-Dimyati Natakusumah (Gerindra-PPP) justru unggul, membalikkan dominasi Golkar di Banten sejak era Ratu Atut. Selama ini, Patat Golkar selalu mendominasi dan menang di Pilada pada Provinsi Banten. Akan tetapi kali ini Golkar pun tumbang di Banten.

Hasil quick count mencatat Andra Soni-Dimyati memperoleh sekitar, 57,5% melampaui pasanggan Airin-Ade, yang hanya mempoleh sekitar, 42,8%. Dengan kemenangan ini, Banten kini dapat dianggap menjadi milik Gerindra. Partai Gerindra bersama partai koalisi sukses menguasai Banten.

Kemenangan Lain yang Mengejutkan Depok

Di Pemilihan Wali Kota Depok, Gerindra juga mencatatkan kemenangan besar. Kota Depok, yang selama hampir 20 tahun dikenal sebagai basis PKS, kini menyaksikan runtuhnya kejayaan PKS yang beralih ke Gerindra dan gabungan partai koalisinya.

Berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count, pasangan Supian-Chandra unggul dengan memperoleh suara 53,51 persen, sementara pasangan Imam-Ririn hanya mengumpulkan suara 46,49 persen.

Dalam hal ini, saya meyakini Supian Suri juga kemungkinan sudah atau akan menjadi kader Gerindra. Dengan demikian, Depok kini dapat dianggap menjadi basis partai Gerindra, yang dipimpin oleh Ketua Umumnya, Presiden RI Prabowo Subianto.

Kuasai Pulau Jawa, Kunci Potensi Kemenangan Pilpres 2029

Ada istilah politik yang mengatakan, “Jika ingin menang Pilpres, kuasailah Pulau Jawa.” Hal ini masuk akal mengingat jumlah penduduk dan pemilih terbesar berada di Pulau Jawa.

Saya melihat bahwa dalam Pilkada serentak 2024 ini, Gerindra, dengan dukungan koalisinya, telah berhasil menguasai mayoritas wilayah strategis di Pulau Jawa. Dalam konteks ini, jika Gerindra kembali mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2029, maka, peluang kemenangan sangat besar.

Keberhasilan Gerindra tidak hanya terlihat di Pulau Jawa tetapi juga di Sumatera Utara, yang dapat dianggap sebagai provinsi simbolik Pulau Sumatra. Hal ini mungkin akan semakin memperkuat posisi Gerindra untuk kembali mengusung Prabowo Subianto dalam Pilpres 2029, dengan peluang kemenangan yang signifikan. Siapapun calon wakil presiden pendamping Prabowo, mungkin tak akan jadi masalah, karana boleh jadi, Gerindra dan partai koalisi, akan sangat solid dan kuat untuk terus mengusung Prabowo Subianto.

Sekarang tinggal Jakarta. Jika Pilkada Jakarta 2024 berlangsung dalam dua putaran, saya memprediksi Partai Gerindra, sebagai motor dari 13 partai koalisi, akan all-out. Intinya, Gerindra akan berusaha keras memenangkan pasangan nomor urut 1 Ridwan Kamil (RK)-Suswono atau RIDO melawan pasangan nomor urut 3 Pramono Anung-Rano Karno atau Pram-Duel.

Tentu hal tersebut akan menjadi perhatian serius bagi pasangan Pram-Duel untuk terus berusaha keras. Pram-Duel akan tetap berupaya mempertahankan keunggulan yang diraih di putaran pertama demi mencapai kemenangan di daerah yang masih disebut dengan julukan Ibukota Jakarta. Yang pasti, putaran kedua Pilkada Jakarta akan berlangsung sengit dan ketat dalam perebutan posisi sebagai juara pemenang Pilkada Jakarta.

Wallahu a’lam bishawab, Jakarta, Kamis, 28 November 2024, Wassalam

Penulis: Sugiyanto (SGY)-Emik

MoneyTalk, Jakarta – Artikel ini adalah tulisan ketujuh sekaligus yang terakhir dalam rangkaian analisis saya mengenai Pilkada Jakarta. Kali ini, pembahasan saya meluas ke Pilkada di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) serta beberapa provinsi besar di Pulau Jawa. Semua ulasan ini dilakukan secara netral tanpa keberpihakan terhadap calon mana pun.

Analisis ini bertepatan dengan H-1 hari pencoblosan Pilkada serentak yang akan digelar esok hari, Rabu, 27 November 2024.

Kajian didasarkan pada berbagai faktor seperti elektabilitas dan popularitas calon, latar belakang kedaerahan, dukungan partai politik, serta pengaruh dari tokoh nasional dan lokal. Dukungan para pendukung calon presiden pada Pilpres Februari 2024 juga menjadi variabel penting dalam prediksi ini.

Sumatera Utara: Milik Gerindra?

Prediksi di Sumut mengarah pada kemenangan pasangan calon (paslon) nomor urut 1, Bobby Nasution-Surya. Pasangan ini diusung koalisi besar yang melibatkan Partai Gerindra, Golkar, NasDem, PAN, Demokrat, PKS, dan PBB. Di sisi lain, paslon nomor urut 2, Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala, didukung oleh PDIP, Hanura, Partai Buruh, serta partai non-parlemen seperti PKN, Gelora, dan Ummat.

Bergabungnya Bobby Nasution dengan Gerindra pada Mei 2024 menambah kekuatan politiknya. Survei terbaru menunjukkan elektabilitas pasangan ini melampaui 60%. Oleh karena itu, kemenangan Bobby-Surya akan menjadi kemenangan strategis bagi Gerindra.

Banten: Dominasi Golkar?

Di Banten, pasangan nomor urut 1, Airin Rachmi Diany-Ade Sumardi, yang diusung oleh Golkar dan PDIP, unggul dalam survei. Pasangan ini juga didukung oleh PBB, PKN, Partai Buruh, Ummat, dan Gelora. Sementara itu, paslon nomor urut 2, Andra Soni-Dimyati Natakusumah, diusung oleh Gerindra, PKS, NasDem, dan partai lainnya.

Airin, meski sempat menuai kontroversi saat mendaftar melalui PDIP, tetap dikenal sebagai kader Golkar. Survei LSI mencatat elektabilitasnya mencapai 73,7%, menempatkan pasangan ini sebagai favorit. Jika menang, Banten akan menjadi milik Golkar.

Jawa Barat: Kemenangan Gerindra?

Di Jabar, pasangan nomor urut 4, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, yang diusung Gerindra, Golkar, Demokrat, PSI, dan partai lainnya, menunjukkan keunggulan dengan elektabilitas mencapai 74%.
Paslon lainnya, seperti Acep Adang-Gitalis Dwi Natarina (PKB) dan Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja (PDIP), tampak tertinggal. Jika Dedi Mulyadi menang, kemenangan ini akan semakin mengokohkan dominasi Gerindra di Jabar.

Jawa Timur: Kekuatan Koalisi Khofifah-Emil?

Di Jatim, paslon nomor urut 2, Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, diusung oleh koalisi besar yang melibatkan Gerindra, Golkar, Demokrat, dan partai lainnya. Elektabilitas mereka konsisten, bahkan tembus di atas 60%.

Khofifah, mantan menteri di era Gus Dur, dan Emil, Ketua DPD Demokrat Jatim, memiliki daya tarik kuat di wilayah ini. Kemenangan mereka akan menjadi milik partai-partai pendukung, terutama Gerindra dan Demokrat.

Jawa Tengah: PDIP Masih Perkasa?

Pilkada Jateng mempertemukan dua paslon kuat. Nomor urut 1, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi, diusung PDIP, bersaing ketat dengan nomor urut 2, Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen, yang didukung Gerindra, Golkar, dan partai lainnya.

Sebagai kandang Banteng, Jateng memiliki basis loyalitas kuat terhadap PDIP. Figur Andika sebagai mantan Panglima TNI dan Hendi sebagai mantan Wali Kota Semarang meningkatkan peluang mereka untuk menang tipis, meskipun persaingan tetap ketat.

Jakarta Kemungkinan Milik PDIP?

Pilkada Provinsi Daerah Khusus Jakarta (DKJ) atau DKI Jakarta 2024 menjadi sorotan utama. Pertarungan ini diikuti oleh tiga pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur.

Nomor urut 1: Ridwan Kamil (RK) dan Suswono (RIDO), diusung oleh koalisi besar 13 partai politik, termasuk Golkar, PKS, Gerindra, Demokrat, NasDem, dan partai lainnya. Nomor urut 2: Dharma Pongrekun dan Kun Wardana, yang maju melalui jalur independen. Nomor urut 3: Pramono Anung dan Rano Karno (PRAM-RANO), diusung oleh PDIP dan Partai Hanura.

Seperti Pilkada di Jawa Tengah, kontestasi Pilkada Jakarta kali ini berlangsung sangat ketat, terutama antara pasangan nomor urut 1 (RIDO) dan nomor urut 3 (PRAM-RANO). Memasuki akhir masa kampanye, suasana semakin memanas dengan perang dukungan dari tokoh-tokoh nasional.

RIDO mendapatkan dukungan kuat dari koalisi 13 partai, dengan Gerindra sebagai motor penggeraknya dimana Prabowo Subianto sebagi Ketumnya yang juga Presiden RI periode 2024-2029. Selain itu, pasangan ini juga didukung oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sementara itu, PRAM-RANO mendapatkan dukungan dari dua mantan Gubernur DKI Jakarta, yaitu Anies Baswedan, eks capres 2024, dan Fauzi Bowo (Foke). Dengan dukungan tersebut, jika pasangan ini menang, kemenangan tersebut akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi PDIP.

Hasil Survei Elektabilitas

Beberapa survei menunjukkan bahwa elektabilitas pasangan PRAM-RANO terus meningkat. Survei terbaru dari Alvara Research Center, yang dilakukan pada 17-21 November 2024, menunjukkan: PRAM-RANO: 49%, RIDO: 44,5%, dan Dharma-Kun: 1,9%. Belum Memutuskan: 4,6%.

Sebelumnya, hasil survei dari lembaga lain juga menunjukkan keunggulan tipis PRAM-RANO atas RIDO, di antaranya, SMRC: PRAM-RANO 46%, RIDO 39%, Litbang Kompas: PRAM-RANO 38,3%, RIDO 34,6%, LSI: PRAM-RANO 41,6%, RIDO 37,4%, dan PolMark Indonesia: PRAM-RANO 40,3%, RIDO 34,8%.

Namun, survei lain mencatat keunggulan pasangan RK-Suswono, antara lain, LSI Denny JA: RK-Suswono 37,4%, PRAM-RANO 37,1%, Parameter Politik Indonesia (PPI): RK-Suswono 47,8%, PRAM-RANO 38%, Katadata Telco Survei: RK-Suswono 48,4%, PRAM-RANO 22,1%,
Charta Politika: RK-Suswono 48,3%, PRAM-RANO 36,5%, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: RK-Suswono 53%, PRAM-RANO 36%

Peluang Dua Putaran

Merujuk pada aturan yang mengharuskan perolehan suara minimal 50 persen plus 1 untuk memenangkan Pilkada Jakarta, besar kemungkinan Pilkada Jakarta 2024 akan berlangsung dalam dua putaran. Saat ini yang mungkin bisa dilakukan adalah, Koalisi KIM Plus, khusunya PKS, harus memaksimalkan pergerakan mesin partainya, untuk tujuan menang satu putaran atau unggul dalam putaran kedua.

Namun, jika tren positif pasangan PRAM-RANO terus berlanjut hingga hari pencoblosan pada 27 November 2024, peluang mereka untuk menang cukup besar. Jika pasangan ini menang, Jakarta akan kembali menjadi wilayah dengan dominasi politik PDIP.

Jakarta, Selasa, 26 November 2024, Wassalam, Sugiyanto (SGY)-Emik