3 November 2026

Presiden RI

MoneyTalk, Jakarta – Presiden Prabowo sudah mengumumkan kabinetnya. Lebih dari 100 menteri dan wakil menteri serta kepala badan negara yang terlibat di dalam pemerintahan baru. Hanya 2 partai yang di luar kabinet. Pak Prabowo tengah menjalankan politik akomodatifnya.

Alhamdulillah sejumlah kolega dan sahabat saya masuk ke dalam kabinet. Dan tentu saya ucapkan selamat bekerja kepada Presiden dan jajarannya. Sehat dan sukses selalu, kata Nadirsyah Hosen dosen Fakultas Hukum, Universitas Melbourne sejak 1 Juli 2024.[2]

Akan tetapi, Nadirsyah Hosen hendak menyampaikan suplemen ‘vitamin’ untuk kabinet yang gemuk ini agar tetap lincah dan bisa berlari kencang dalam bekerja mengemban amanat rakyat.

Pertama, keberadaan 7 Menko itu salah satu cara untuk membackup kinerja Wapres yang minim pengalaman. Langkah ini cukup strategis meski bukan tanpa risiko. Risiko penambahan Menko jelas membebani anggaran. Akan ada beberapa Menko yang belum punya kantor dan staff.

Kedua, ada sejumlah kementrian yang dipreteli dan dibagi portfolionya. Kemenkumham dipecah jadi 3. Kemendikbudristek dibagi 3. Ini artinya akan ada posisi Ditjen yang naik menjadi level menteri. Efeknya panjang ini, dari soal perubahan logo dan nama kementrian, sampai perangkat kanwil dan kepala dinas di bawah. Positifnya tentu kerjaan menjadi lebih terfokus.

Ketiga, ada badan yang naik menjadi kementrian atau dibuat badan baru. Urusan tenaga kerja luar negeri naik menjadi kementrian. Urusan haji menjadi badan baru.

Keempat, kabinet yang gemuk membuat rantai birokrasi menjadi semakin panjang. Menko yang bertambah membuat kordinasi kementrian semakin rumit. Ego sekotral dan institusional merupakan penyakit parah di pemerintahan. Butuh adaptasi dan waktu. Perkiraan saya kabinet gemuk ini baru bisa lincah bekerja dalam 6-12 bulan ke depan.

Kelima, orang gemuk makannya banyak. Begitu juga dengan kabinet gemuk. Butuh anggaran yang luar biasa untuk pos kementrian baru. Komisi di DPR sebagai mitra dan pengawas pemerintahan juga perlu menyesuaikan diri dengan portfolio kementrian yang baru.

Kita dukung hal yang baik. Tapi juga kita kritisi hal yang kurang baik. Kata Pak Prabowo, “Tugas pemerintah itu melayani rakyat. Selamat bekerja dan mengabdi untuk rakyat.”

Penulis: Paul MS, pemerhati kebangsaan warga Republikanisme.

MoneyTalk, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus mendapatkan sorotan global atas berbagai prestasinya selama sepuluh tahun menjabat sebagai Presiden Indonesia. Diaspora Indonesia yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat, memberikan penghormatan yang luar biasa kepada pemimpin ini.

Salah satu tokoh diaspora Indonesia di Amerika, Jeki Ayu, tayang di RKIH CHANNEL pada Rabu (16/10). Ia berbagi pandangannya tentang bagaimana Presiden Jokowi dilihat oleh warga Indonesia di luar negeri, terutama di Amerika.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan melalui kanal YouTube, Jeki Ayu yang telah tinggal di Houston, Texas selama 9 tahun, mengungkapkan betapa diaspora Indonesia di Amerika sangat menghormati dan mendukung Jokowi. Menurutnya, mayoritas warga Indonesia di Amerika merasa sangat bangga dengan kepemimpinan Jokowi. Terutama dalam hal pembangunan dan transformasi infrastruktur yang signifikan.

Penghormatan Luar Biasa dari Diaspora

Jeki Ayu menyatakan bahwa di kalangan diaspora, Jokowi dianggap sebagai presiden yang sangat berbeda dari pendahulunya. Ia menilai kepemimpinan Jokowi yang merakyat, jujur, dan bekerja keras untuk membangun Indonesia telah berhasil menarik simpati dan dukungan dari masyarakat Indonesia di Amerika. Banyak warga Indonesia di Amerika yang menunjukkan antusiasme mereka terhadap Jokowi melalui berbagai diskusi informal di komunitas-komunitas lokal.

“Ada rasa bangga yang besar di kalangan diaspora terhadap Pak Jokowi,” ujar Jeki Ayu. “Kebanyakan dari kami melihat beliau sebagai presiden yang benar-benar peduli terhadap rakyatnya dan berjuang keras untuk memajukan Indonesia,” lanjutnya.

Meski tidak semua warga Indonesia di Amerika pulang untuk berpartisipasi dalam pemilu, mereka tetap mengikuti perkembangan di tanah air. Mereka memberikan suara mereka melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Bahkan, ada yang memilih untuk kembali ke Indonesia, seperti Jeki Ayu, demi mendukung secara langsung Jokowi dalam pemilihan umum dan melihat langsung perubahan yang telah dilakukan di Indonesia.

Perubahan Citra Indonesia di Mata Dunia

Selain mendapat dukungan dari warga Indonesia, Jokowi juga telah berhasil mengubah citra Indonesia di mata dunia, termasuk di Amerika Serikat. Jeki Ayu mengungkapkan bahwa selama ini, banyak orang Amerika yang hanya mengenal Indonesia sebatas Bali sebagai destinasi wisata. Namun, selama Jokowi memimpin, nama Indonesia semakin dikenal sebagai negara yang berkembang pesat, dengan infrastruktur yang terus dibangun dan perannya yang semakin penting di panggung global, termasuk melalui kepemimpinan dalam G20.

“Sekarang Indonesia bukan hanya dikenal karena Bali. Banyak orang Amerika yang sudah mulai mengenal Indonesia lebih dalam, terutama melalui pemberitaan positif tentang pembangunan infrastruktur yang masif dan langkah-langkah diplomatik Jokowi di tingkat internasional,” kata Jeki Ayu.

Ia menambahkan, bahkan di lingkungan keluarganya yang merupakan warga Amerika, mereka mendengar banyak hal baik tentang Jokowi.

“Saya ingat, ketika saya berbicara dengan keluarga besar suami saya yang semuanya warga negara Amerika, mereka sangat terkesan mendengar tentang Jokowi. Mereka bilang, Presiden kalian hebat sekali, ya. Dia membangun Indonesia dengan baik,” ujar Jeki Ayu.

Namun demikian, Jeki Ayu juga mencatat berita negatif tentang Indonesia kadang masih terdengar, terutama terkait demonstrasi dan isu-isu sosial. Meski demikian, pandangan positif tentang Jokowi tetap mendominasi di kalangan diaspora Indonesia di Amerika.

Prestasi Diplomatik dan Hubungan dengan Pemimpin Dunia

Prestasi diplomatik Jokowi juga menjadi sorotan diaspora Indonesia di Amerika. Jeki Ayu mengingat bagaimana kunjungan Barack Obama ke Indonesia dan pertemuan dengan Jokowi sempat menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Indonesia di luar negeri.

Selain itu, peran Indonesia di kancah internasional, seperti kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk mendamaikan situasi konflik, menambah citra positif Indonesia di mata dunia.

“Kunjungan Pak Jokowi ke berbagai negara, termasuk pertemuannya dengan Obama dan perannya dalam mendamaikan konflik di Ukraina, sangat diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi bukan hanya berkembang dari segi ekonomi, tetapi juga memiliki pengaruh dalam diplomasi internasional,” tambah Jeki Ayu.

Indonesia di Mata Diaspora Amerika

Setelah 10 tahun memimpin, Jokowi telah berhasil membawa Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi, baik dari segi ekonomi, infrastruktur, maupun diplomasi internasional. Warga Indonesia di Amerika, termasuk mereka yang sudah menjadi warga negara Amerika, merasakan dampak positif dari perubahan ini. Banyak dari mereka yang kini merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia, dan beberapa bahkan memutuskan untuk kembali berkontribusi langsung di tanah air.

Bagi diaspora seperti Jeki Ayu, yang telah lama tinggal di luar negeri, Jokowi dianggap sebagai sosok yang mampu membawa perubahan nyata. Meski tinggal di negara lain, mereka tetap merasa terhubung dengan Indonesia dan terus mengikuti perkembangan negara tercinta mereka.

“Bagi kami yang tinggal di luar negeri, melihat perkembangan Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi benar-benar membanggakan. Banyak dari teman-teman saya yang sudah jadi warga negara Amerika tetap mengikuti dan mendukung Pak Jokowi, walaupun hanya sebatas diskusi dan pembicaraan,” ungkap Jeki Ayu.

Dengan segala prestasi yang telah diraih, Jokowi terus mendapatkan dukungan yang kuat dari diaspora Indonesia di Amerika, yang melihatnya sebagai simbol kemajuan dan perubahan positif bagi Indonesia. Keberhasilan Jokowi dalam membangun citra Indonesia di mata dunia, khususnya di Amerika Serikat, menjadi salah satu bukti bahwa kepemimpinannya telah diakui secara global.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Sebagai calon pemimpin Indonesia, Prabowo Subianto menghadapi tantangan besar dalam menangani ekonomi negara yang semakin kompleks. Reynaldi Kasali di kanal YouTube-nya pada Rabu, 16 Oktober, menjelaskan bahwa Indonesia dengan populasi sekitar 282,5 juta jiwa memiliki sekitar 214 juta orang di usia kerja. Tantangan yang dihadapi adalah tingkat pendidikan yang masih rendah di kalangan tenaga kerja, di mana sekitar 40% memiliki pendidikan hanya sampai SD.

Kasali menekankan bahwa solusi untuk meningkatkan perekonomian harus berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Mengingat anggaran belanja (APBN) yang direncanakan meningkat sebesar 8,7% menjadi Rp 3.613 triliun, Prabowo harus mampu merumuskan strategi yang efektif untuk memanfaatkan peningkatan anggaran ini. Pendekatan yang diusulkan adalah tidak hanya mengandalkan pajak, tetapi juga mengidentifikasi potensi pendapatan non-pajak yang bisa dioptimalkan.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian global, Prabowo harus menerapkan cara-cara baru dan kreatif untuk meningkatkan pendapatan negara. Salah satu solusinya adalah dengan menggalakkan penggunaan obligasi sebagai instrumen pembiayaan.

Menurut Kasali, alih-alih bergantung pada pinjaman luar negeri, pemerintah dapat memanfaatkan dana masyarakat dalam bentuk obligasi domestik. Hal ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada valuta asing, tetapi juga memungkinkan masyarakat berkontribusi langsung terhadap pembangunan ekonomi.

Kondisi global yang tidak stabil, seperti dampak dari perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah, menciptakan tantangan bagi Indonesia. Prabowo harus menavigasi situasi ini dengan bijaksana, mencari peluang investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Kasali menyebutkan bahwa meskipun tantangan ini berat, ketidakpastian juga dapat memicu kreativitas. Dalam konteks ini, Prabowo diharapkan dapat berpikir out of the box untuk menarik investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sebagai langkah konkret, pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo harus mempromosikan investasi melalui obligasi, yang dianggap sebagai aset bebas risiko. Menurut Kasali, obligasi dapat menjadi pilihan menarik bagi masyarakat yang mencari return yang lebih tinggi daripada bunga bank.

Masyarakat dapat berpartisipasi dalam investasi jangka pendek atau jangka panjang, tergantung pada preferensi mereka. Dengan cara ini, pemerintah dapat meningkatkan likuiditas pasar sekaligus mengumpulkan dana yang diperlukan untuk proyek-proyek pembangunan.

Tantangan yang dihadapi Prabowo Subianto dalam pembenahan ekonomi APBN bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan pendekatan yang tepat, terutama dalam meningkatkan kualitas SDM dan menciptakan pendapatan non-pajak melalui instrumen investasi seperti obligasi, ada peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dalam menghadapi ketidakpastian global, kreativitas dan inovasi dalam kebijakan ekonomi akan menjadi kunci untuk mencapai tujuan tersebut. Prabowo harus mampu menggali potensi masyarakat dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi, sehingga Indonesia dapat mengatasi tantangan dan meraih masa depan yang lebih baik. (c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024 yang diadakan pada 9 Oktober, Fahry Hamza, seorang politisi dari Partai Gelora, mengemukakan pandangannya mengenai peran pemerintah dalam mengatur ekonomi dan menyusun kebijakan yang lebih efisien di Indonesia. Salah satu inti dari pembicaraannya adalah pentingnya posisi presiden sebagai “sumber power” yang tidak hanya mengatur, tetapi juga menjadi simbol kejelasan dan kepastian dalam kebijakan ekonomi negara.

Fahry Hamza yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Komisi VI DPR, mengusulkan pembubaran Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurutnya, keberadaan kementerian ini lebih sering menjadi sumber masalah daripada solusi.

Ia menekankan bahwa BUMN seharusnya tidak terlibat dalam persaingan pasar yang sehat. Lebih lanjut, ia berargumen bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi negara seharusnya dikelola secara terpisah dan bukan menjadi alat dari permainan politik yang menyebabkan sinyal ganda kepada pasar.

Dia mengajak untuk kembali melihat pasal-pasal konstitusi yang mengatur perekonomian sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Dalam pandangannya, koperasi harus dihidupkan kembali sebagai alternatif yang lebih baik untuk menjamin keadilan sosial dan ekonomi bagi rakyat.

Dalam diskusi mengenai pengelolaan sumber daya alam, Fahry menyatakan keprihatinannya terhadap pengawasan dan potensi eksploitasi oleh pihak swasta. Ia berargumen bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merugikan kesehatan lingkungan. Negara harus menjadi pengatur utama untuk memastikan bahwa sumber daya tersebut tidak dieksploitasi tanpa kontrol yang ketat.

Fahry juga menyoroti masalah sinyal ganda yang ditimbulkan oleh keterlibatan negara di dalam pasar. Ia mengingatkan bahwa ketika negara ikut berbisnis, akan ada ketidakadilan dan kebingungan di pasar. Keterlibatan yang tidak jelas ini menyebabkan para pengusaha ragu untuk berinvestasi dan berinovasi. Ia mendorong agar pemerintah tidak menciptakan kebingungan dengan terlalu banyak intervensi dan memberi sinyal yang jelas tentang aturan dan kebijakan.

Dalam pandangannya, untuk meningkatkan kepercayaan pasar, presiden harus menjadi figur yang kuat dan konsisten dalam kebijakan. Kebijakan yang jelas dan tegas akan menciptakan kepastian bagi pelaku pasar untuk berinvestasi tanpa takut akan campur tangan politik yang tidak konsisten.

Fahry menegaskan bahwa presiden sebagai sumber power harus menghilangkan semua bentuk permainan politik yang merugikan. Ia menjelaskan bahwa terlalu banyaknya pemain politik dalam eksekutif menciptakan kekacauan dan ketidakpastian. Oleh karena itu, presiden diharapkan mampu menciptakan stabilitas dan kepastian, serta mengirim sinyal yang kuat kepada pasar bahwa negara berkomitmen untuk menjaga keadilan dan keterbukaan.

Hal ini mencakup penguatan hukum dan penegakan regulasi yang konsisten. Ketika pengusaha merasa aman dan jelas tentang kebijakan yang berlaku, mereka akan lebih berani mengambil risiko dan berinvestasi dalam ekonomi.

Pemaparan Fahry Hamza dalam BNI Investor Daily Summit memberikan sudut pandang yang mendalam tentang pentingnya peran presiden sebagai sumber power dalam pengaturan ekonomi. Ia menyerukan perlunya pembubaran Kementerian BUMN, pengelolaan sumber daya alam yang lebih bijak, dan pengiriman sinyal yang jelas kepada pasar. Dalam konteks ini, presiden tidak hanya menjadi penguasa, tetapi juga sebagai penjaga kepastian dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Fahry berharap dengan penguatan posisi presiden dan pembenahan kebijakan, Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara lain dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan demikian, visi untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju dapat terwujud.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Baru-baru ini, politisi Nasdem, Irma Chaniago, memberikan pandangannya dalam sebuah wawancara dengan Zulfan Lindan di acara “Unparking Indonesia.” Wawancara tersebut menggali berbagai isu terkait kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan situasi politik di Indonesia saat ini. Irma menyoroti bagaimana Jokowi kerap dijadikan kambing hitam atas berbagai masalah, termasuk yang seharusnya menjadi tanggung jawab lembaga lain.

Irma mengawali perbincangan dengan menyoroti pandangan negatif sebagian kalangan terhadap Jokowi. Menurutnya, banyak tokoh publik yang senantiasa menyalahkan Jokowi, bahkan untuk hal-hal sepele.

“Bahkan orang jatuh pun, Jokowi yang salah,” ujarnya.

Ia merasa heran mengapa kritik tersebut tidak diarahkan kepada lembaga yang relevan. Seperti Kepolisian, Kejaksaan, atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Irma menekankan bahwa Jokowi telah melakukan banyak hal untuk membangun Indonesia, khususnya dalam hal infrastruktur. Namun, beberapa pihak tampaknya mengabaikan pencapaian tersebut dan fokus pada kritik yang tidak proporsional. Ia menganggap sebagian dari mereka memiliki agenda pribadi yang tidak terkait dengan kepentingan rakyat secara keseluruhan.

Sebagai contoh, Irma berbicara tentang program makan siang gratis untuk anak-anak sekolah, yang bertujuan menurunkan angka stunting. Menurutnya, program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat di daerah dengan tingkat ekonomi rendah. Ia menggarisbawahi bahwa meski program ini memiliki dampak positif, kritik tetap datang, yang menurutnya tidak adil dan tidak proporsional.

Irma mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pasar tenaga kerja. Ia berpendapat bahwa pendidikan vokasi harus diperkuat agar tenaga kerja Indonesia bisa bersaing, baik di dalam maupun luar negeri.

Irma menyebut bahwa tenaga kerja Indonesia memiliki potensi besar, namun masih kurang dalam hal keterampilan. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak buruh migran Indonesia kesulitan bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain, seperti Filipina.

Irma berharap bahwa pemerintahan selanjutnya, baik Prabowo maupun Gibran, bisa melanjutkan upaya untuk meningkatkan pendidikan vokasi. Menurutnya, hal ini tidak hanya berdampak pada kualitas tenaga kerja, tetapi juga pada devisa negara.

Irma juga berbicara tentang banyaknya pakar dan tokoh yang sibuk mengkritik pemerintah tanpa memberikan solusi konstruktif. Ia berharap bahwa tokoh-tokoh tersebut bisa lebih jernih dalam melihat realitas. Menurutnya, seharusnya mereka tidak hanya melihat dari sisi yang negatif, tetapi juga memberikan apresiasi pada hal-hal positif yang telah dilakukan.

Ia menggarisbawahi pentingnya lembaga-lembaga negara seperti DPR untuk tetap fokus pada tugasnya dalam mengawasi dan mendukung program pemerintah. Irma merasa bahwa diskusi di parlemen seharusnya lebih berfokus pada bagaimana program pemerintah dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, daripada terjebak pada kritik yang tidak relevan.

Dalam wawancara tersebut, Irma juga berbicara tentang harapannya terhadap kepemimpinan Prabowo jika terpilih sebagai Presiden. Menurutnya, Prabowo memiliki karakter yang tegas dan pemahaman yang baik tentang apa yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Ia berharap bahwa Prabowo akan melanjutkan program-program baik yang telah dilakukan Jokowi dan juga menghadirkan perubahan yang lebih signifikan dalam sektor-sektor yang masih membutuhkan perbaikan.

Irma juga menyampaikan bahwa ia ingin melihat sosok Menteri Kesehatan yang memiliki pola pikir “out of the box,” seperti Budi Gunadi Sadikin, yang ia anggap sebagai menteri yang berhasil membuat banyak terobosan di bidang kesehatan. Ia menekankan pentingnya penanganan masalah kesehatan secara menyeluruh, termasuk peningkatan jumlah tenaga medis dan perbaikan fasilitas kesehatan di seluruh pelosok negeri.

Wawancara Irma Chaniago ini menggambarkan pandangannya yang jernih dan kritis tentang situasi politik saat ini. Ia mengajak masyarakat dan para pemimpin untuk lebih bijak dalam memberikan kritik. Menurutnya, kritik memang penting, tetapi harus disampaikan dengan cara yang membangun dan objektif. Irma percaya bahwa jika semua pihak bisa bekerja sama dan tidak saling menyalahkan, Indonesia dapat mencapai kemajuan yang lebih besar.

Dengan adanya berbagai kritik yang tidak selalu konstruktif terhadap Presiden Jokowi, Irma berharap masyarakat dapat melihat secara objektif tentang apa yang telah dicapai oleh pemerintah. Baginya, yang terpenting adalah kesejahteraan masyarakat Indonesia, yang hanya dapat dicapai melalui kerja sama, dialog yang sehat, dan penghargaan terhadap capaian positif, sembari terus memberikan masukan yang realistis.(c@kra)