22 Oktober 2026

Purbaya Yudhi Sadewa

MoneyTalk.id,Jakarta – Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ronnie H Rusli menyoroti pengelolaan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menurutnya seharusnya menjadi bagian dari penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ronnie mengatakan, persoalan tersebut berkaitan dengan posisi Danantara dalam pengelolaan aset dan dividen BUMN.

“Yang seharusnya masuk ke APBN dividen dari BUMN, tapi masuk ke partikelir yang bernama Danantara,” kata Ronnie di akun X (Twitter), Senin (28/9/2026).

Menurut Ronnie, apabila bendahara negara dalam hal ini Menteri Keuangan (Menkeu) menagih kewajiban terkait penerimaan negara tersebut, persoalan itu kemudian dilaporkan oleh Danantara kepada Presiden.

“Ditagih sama bendahara negara (Menkeu), dilaporkan Danantara ke Presiden,” ujarnya.

Ronnie kemudian menyinggung kemungkinan adanya tindakan terhadap Menteri Keuangan yang melakukan penagihan tersebut. Ia menyebut istilah “dipecat on the spot” dalam menggambarkan situasi yang menurutnya terjadi.

“Maka Menkeu dipecat on the spot selagi rapat dengan DPD,” kata Ronnie.

Ia juga mengaitkan pernyataannya dengan pemberhentian Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan. Ronnie meminta publik melihat video terkait peristiwa tersebut.

“Kalian sudah lihat video Pak Purbaya yang dipecat on the spot,” ujarnya.

Pernyataan Ronnie tersebut menyoroti persoalan yang lebih luas mengenai hubungan antara pengelolaan dividen BUMN, penerimaan APBN, serta posisi Danantara dalam tata kelola aset negara.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pemecatan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa melalui telepon, banyak yang menilai tidak ber-etika. Istilah yang lebih pas adalah: tidak ber-etiket. Dua kata yang mirip, tetapi berbeda makna dan fungsinya. Etika (ethics) adalah kajian filsafat tentang benar atau salah secara moral; etiket (étiquette) menyangkut normal perilaku pantas atau tidak pantas. Etika mempersoalkan “Apakah satu tindakan benar”, sebagai problem filosofis. Etiket soal “kalaupun benar, apakah caranya patut”, ini soal sopan santun berperilaku.

Presiden boleh memberhentikan menteri, itu benar secara kewenangan konstitusional. Tetapi kewenangan itu juga perlu menggunakan kepatutan. Semakin besar kewenangan, semakin dituntut untuk berperilaku etis dan patut. Patutkah seorang menteri diberhentikan dengan cara seperti PLN memutus aliran listrik? Atau seperti memberhentikan pemain sepak bola, dengan meniup peluit dan mengangkat papan tanda nomor pemain, agar segera keluar lapangan?

Memecat menteri ketika ia sedang menjalankan tugas kenegaraan–rapat resmi dengan lembaga negara lainnya–adalah perilaku tidak patut. Selain menunjukkan tidak punya etiket, juga tidak memahami etika bernegara. Termasuk etika untuk tidak asal-asalan mengangkat anggota kabinet, dan kemudian dipecat tanpa ada alasan dan kejelasan penyebabnya.

Belum lagi soal etika dan etiket berbahasa dalam acara resmi. Dalam pidato HUT PAN, 18 September 2026, Presiden Prabowo merespon kritik sejumlah pakar dengan geram memuntahkan kalimat: “Pakar saking pintarnya jadi goblok.” Presiden tentu berhak merespon kritisisme pakar, namun etika dan etiket bernegara punya aturan tak tertulis yang sederhana. Jika tidak setuju dengan pikiran seseorang, bantahlah pikirannya dengan argumen dan data—bukan dengan memaki. Mampu berargumen adalah wilayah etika, menahan diri untuk tidak memaki saat pidato di acara resmi adalah etiket.

Kata “goblok” dari pidato presiden bukan cuma pilihan diksi. Ia representasi bobot kualitas kuasa negara yang diamanatkan pada presiden. Presiden memaki pakar (tanpa kejelasan siapa yang dimaksud) jelas melanggar etika dan etiket sekaligus. Makian menjadi modus resmi bagaimana kekuasaan merespon kritik. Tidak etis curhat dalam pidato resmi, tidak punya etiket jika curhat sembari memaki. Presiden telah merendahkan martabat jabatannya, dan dirinya, menjadi selevel rakyat jelata. Dengan kompetensi berbahasa selevel preman.

Celakanya umpatan level preman ini terus berulang disampaikan presiden dalam berbagai pidato resmi. Diksi “ndasmu, brengsek, bajingan, anjing, goblok, nyenye-nyenye, omon-omon, emang gue pikirin,”menjadi diksi resmi kenegaraan. Mempertontonkan kegeraman presiden yang tidak mampu mengontrol emosi atau menyampaikan Informasi.

Etika bernegara, dalam sistem dan budaya demokrasi, mewajibkan penyelenggara negara, termasuk presiden, bisa menerima kritik. Kalaupun ada kekeliruan, kritik pakar atau bukan, presiden cukup menunjukkan kekeliruan itu. Jika data salah, tunjukkan data pembanding. Jika kesimpulan sembarangan, bongkar metodologinya. Begitu cara orang berpendikan, apalagi berkuasa, menghadapi wacana kritisisme publik.

Tentu, sebagai manusia yang kebetulan menjabat presiden, Prabowo boleh marah dan meluapkan emosi. Tapi kemarahan tidak perlu diumbar di ruang publik, dalam pidato resmi. Marah tetap dengan berpikir jernih, memahami batas etika dan etiket, setidaknya untuk menjaga martabat jabatan, karakter personal, juga terselenggaranya acarabdengan baik. Kini hampir setiap acara yang mengundang presiden untuk berpidato, lebih banyak soal kontroversi ucapan presiden ketimbang substansi acara.

Problem terbesar bukan soal acara apa, tapi pemahaman etika dan etiket, agar negara dapat dikelola dengan baik. Agar good governance bisa berjalan, alih-alih goodbye governance. Ciri-ciri kekuasaan yang sewenang-wenang biasanya dimulai dengan perilaku penyelenggara negara yang tidak ber-etika dan tidak punya etiket. Korupsi, kolusi, nepotisme, dan manipulasi dimulai ketika kekuasaan mengabaikan etika dan etiket.

Lazimnya, kekuasaan pertama-tama dituntun oleh etika dan etiket, selain oleh konstitusi, undang-undang, dan peraturan. Etika dan etiketlah yang menjadi fondasi utama menjaga agar kekuasaan tidak zalim, otikratif, semua gue, dan bergaya preman. Tanpa etika, kekuasaan bisa jahat. Tanpa etiket, kekuasaan bisa pongah.

Pemecatan Purbaya via telepon, atau teriakan goblok dan sejumlah umpatan saat pidato, adalah simptomatik. Menunjukkan gejala budaya kekuasaan seperti apa yang sedang berlangsung. Presiden boleh kuat dan keras menjalankan kebijakan dan program pemerintahannya. Tapi lebih penting menjaga etika dan etiket, untuk menunjukkan adab kekuasaan dan kekuatannya.

Kekuasaan yang memecat pejabat pilihannya lewat telepon–dipertontonkan ke publik, merespon kritik pakar dengan makian “goblok”, menunjukkan krisis percaya diri, kelemahan karakter. Sosok yang sedang mengalami problem psikosa insecurity dan paranoia. Penguasa seperti ini memerlukan terapi etika dan etiket, untuk upaya penyembuhan. Agar mampu mengelola negara dengan benar, ber-etika dan ber-etiket.

Penulis : Lukas Luwarso

MoneyTalk.id,Jakarta – Rencana pemerintah membuka rekening bank secara massal bagi sekitar 200 juta warga negara Indonesia (WNI) berusia 17 tahun ke atas mulai menarik perhatian publik.

Program tersebut bukan hanya menyangkut urusan perbankan. Di balik rencana satu warga satu rekening, terdapat agenda yang lebih besar, mulai dari perluasan inklusi keuangan, integrasi data kependudukan, penyaluran bantuan pemerintah hingga pembenahan tata kelola bantuan sosial.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyebut pemerintah memperkirakan kebutuhan dana sekitar Rp11 triliun untuk program tersebut. Setiap rekening direncanakan memperoleh saldo awal Rp50 ribu. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa angka Rp11 triliun tersebut belum merupakan anggaran final dan perhitungannya masih dilakukan.

Pada tahap persiapan, pemerintah meminta Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menyiapkan pembukaan rekening. Pemerintah juga berencana berkoordinasi dengan Dukcapil dalam penyediaan data masyarakat yang menjadi sasaran program.

Advokat sekaligus Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan (K3PP) Ahmad Basri menilai kebijakan tersebut tidak tepat jika hanya dilihat sebagai kegiatan administratif membuka rekening dalam jumlah besar.

Menurutnya, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa makna strategis di balik kebijakan satu warga satu rekening tersebut.

“Kalau kebijakan ini hanya dilihat sebagai kegiatan membuka rekening bank, maka maknanya menjadi terlalu sederhana. Membuka rekening bagi 200 juta penduduk bukan pekerjaan kecil,” kata Ahmad Basri kepada wartawan, Senin (21/9/2026).

Ia menilai, di dalam program tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih luas, mulai dari data kependudukan, identitas warga, sistem perbankan, integrasi teknologi, penyaluran dana pemerintah hingga pengawasan penggunaan uang negara.

“Kebijakan ini lebih tepat dilihat sebagai bagian dari upaya pemerintah membangun infrastruktur keuangan nasional yang terintegrasi dengan data kependudukan,” ujarnya.

Menurut Ahmad Basri, rekening bank dapat menjadi pintu masuk masyarakat ke dalam sistem keuangan formal.

Setiap warga negara nantinya bukan hanya memiliki identitas kependudukan, tetapi juga memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.

“Negara sedang berusaha memastikan bahwa masyarakat yang selama ini berada di luar sistem perbankan dapat masuk ke dalam sistem tersebut. Rekening bisa menjadi pintu masuk bantuan sosial,” katanya.

Ahmad Basri mengatakan keterkaitan program rekening massal dengan penyaluran bantuan sosial menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.

Selama ini, persoalan bantuan sosial tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan anggaran. Persoalan lain menyangkut siapa yang berhak menerima, berapa jumlah bantuan, kapan bantuan diberikan dan apakah dana tersebut benar-benar sampai kepada penerima yang berhak.

Dengan rekening individual, pemerintah memiliki sarana untuk menyalurkan bantuan secara langsung kepada penerima.

Secara teoritis, rantai distribusi bantuan dapat dipangkas. Semakin pendek rantai distribusi, semakin kecil pula ruang terjadinya kebocoran, salah sasaran, pungutan maupun praktik percaloan.

Namun, Ahmad Basri mengingatkan bahwa keberadaan rekening tidak otomatis membuat bantuan sosial menjadi tepat sasaran.

“Kalau datanya salah, maka rekening hanya menjadi sarana untuk mengirimkan kesalahan secara lebih cepat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan data sebagai salah satu tantangan utama program rekening massal.

Sebab, rekening hanya merupakan instrumen. Ketepatan penerima bantuan tetap sangat bergantung pada kualitas data sosial-ekonomi yang digunakan pemerintah.

Persoalan data menjadi semakin penting ketika program rekening massal dikaitkan dengan penanggulangan kemiskinan.

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 sebanyak 22,93 juta orang atau 8,07 persen. Angka tersebut turun dibandingkan September 2025 yang mencapai 23,36 juta orang.

Pada saat yang sama, BPS dan Bank Dunia baru-baru ini menjelaskan perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang selama ini menjadi perhatian publik.

Bank Dunia memperkirakan 64,1 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan internasional US$8,30 PPP per orang per hari. Angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan angka kemiskinan nasional BPS karena keduanya menggunakan garis kemiskinan dan tujuan pengukuran yang berbeda.

BPS menggunakan garis kemiskinan yang mencerminkan kondisi biaya hidup di Indonesia. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional tercatat Rp669.235 per kapita per bulan.

Sementara itu, Bank Dunia menggunakan garis kemiskinan internasional untuk membandingkan standar hidup antarnegara. Bank Dunia menjelaskan bahwa perbedaan angka tersebut terutama berasal dari perbedaan garis kemiskinan, bukan berarti kondisi masyarakat tiba-tiba memburuk.

Menurut Ahmad Basri, perbedaan cara mengukur kemiskinan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan dengan satu angka.

“Kemiskinan bukan hanya persoalan angka, tetapi juga persoalan bagaimana negara mendefinisikan dan mengukurnya,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan jumlah rekening yang berhasil dibuat sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan program.

“Jangan sampai rekening menjadi sekadar angka. Pemerintah perlu berhati-hati. Jangan sampai keberhasilan program nantinya hanya diukur dari 200 juta rekening berhasil dibuat,” ujarnya.

Jika ukuran keberhasilan hanya berdasarkan jumlah rekening, menurut dia, negara memang berhasil membuat rekening dalam jumlah besar. Tetapi hal tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa kemiskinan berkurang, bantuan sosial semakin tepat sasaran atau kesejahteraan masyarakat meningkat.

“Kalau ukuran keberhasilannya hanya sebanyak itu, maka negara hanya berhasil membuat rekening. Belum tentu berhasil mengentaskan kemiskinan. Rekening hanyalah instrumen. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah rekening itu dibuka,” pungkas Ahmad Basri.

MoneyTalk.id, Jakarta – Pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara belum tentu mengubah persoalan mendasar pengelolaan fiskal Indonesia. Ekonom Ferry Latuhihin justru mengingatkan, tantangan Suahasil akan sama beratnya apabila pemerintah tetap menjalankan program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang membutuhkan anggaran sangat besar.

Suahasil resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 14 September 2026 menggantikan Purbaya. Sehari kemudian, keduanya menjalani serah terima jabatan di Kementerian Keuangan.

Menurut Ferry, persoalan utama bukan hanya siapa yang duduk di kursi Menteri Keuangan, melainkan bagaimana seorang Menkeu menjaga kredibilitas fiskal ketika pada saat bersamaan harus membiayai agenda prioritas Presiden.

“Purbaya berusaha menyeimbangkan antara kredibilitas fiskal dengan prioritas Pak Presiden. Purbaya ini sangat sulit, Bro,” kata Ferry di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (18/9/2026).

Ia menilai ruang gerak Menteri Keuangan akan sangat terbatas apabila program pemerintah yang membutuhkan pembiayaan besar tetap dipertahankan.

“Kredibilitas fiskal itu cuma bisa dijaga kalau program-program prioritas Pak Prabowo ini dihilangkan. Karena program-program ini bakar duit ratusan triliun, Anda tidak bisa melakukan kedua-duanya,” ujarnya.

Pernyataan Ferry menjadi relevan setelah Suahasil sendiri menyampaikan bahwa pergantian Menteri Keuangan tidak berarti perubahan arah kebijakan fiskal secara keseluruhan. Suahasil mengatakan dirinya akan melanjutkan pekerjaan yang sudah berjalan di Kementerian Keuangan dan memastikan APBN tetap sehat sekaligus mendukung program prioritas pemerintah.

Bagi Ferry, justru di sinilah persoalan besar Suahasil dimulai.

Jika kebijakan fiskal yang diwarisi dari Purbaya tetap diteruskan sementara tuntutan menjaga kredibilitas APBN semakin besar, maka menurut Ferry pergantian menteri tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

“Dia akan mengalami jebakan yang sama seperti Purbaya. Ini tidak gampang, Pak Suhasil. Anda harus berani punya nyali untuk mengatakan no kepada Pak Presiden,” tegasnya.

Ferry mempertanyakan apakah pergantian Purbaya benar-benar dimaksudkan sebagai perubahan arah kebijakan atau hanya pergantian figur di tengah jalan.

Sebab, jika Suahasil tetap meneruskan kebijakan yang sudah berjalan, maka persoalan fiskal yang sebelumnya dihadapi Purbaya berpotensi tetap berada di meja Menteri Keuangan baru.

“Penggantian Menteri Keuangan itu bukan berarti perubahan,” ujar Ferry, merujuk pada sikap Suahasil yang menyatakan akan melanjutkan kebijakan yang sudah berjalan.

Karena itu, menurut Ferry, ukuran keberhasilan Suahasil nantinya bukan hanya kemampuan menjaga angka-angka fiskal, tetapi juga keberanian mengambil keputusan ketika kepentingan disiplin APBN berhadapan dengan program pemerintah yang membutuhkan pembiayaan besar.

Pertanyaan itulah yang menurutnya akan menjadi ujian sebenarnya bagi Suahasil.

“Apakah Pak Suahasil Nazara ini punya nyali untuk mengatakan tidak kepada Pak Presiden terhadap program-program yang bakar duit?” katanya.

Pergantian Purbaya juga memunculkan pertanyaan mengenai alasan di balik pencopotannya.

Purbaya diberhentikan setelah sekitar satu tahun menjabat Menteri Keuangan. Pada 14 September 2026, ia masih menghadiri rapat kerja dengan DPD RI dan menyampaikan paparan mengenai kebijakan fiskal sebelum kemudian Suahasil dilantik menggantikannya.

Reuters melaporkan bahwa pencopotan Purbaya terjadi di tengah perselisihan dengan sejumlah pejabat tinggi di Kementerian Keuangan, termasuk terkait rencana perombakan pejabat di bidang perpajakan serta bea dan cukai. Namun, pemerintah tidak mengumumkan secara terbuka satu alasan tunggal sebagai dasar pergantian tersebut.

Ferry sendiri mengaitkan persoalan tersebut dengan gaya Purbaya dalam mengambil kebijakan dan melakukan penataan internal kementerian.

Ia mengaku mendengar adanya ketidakpuasan dari sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan akibat langkah-langkah yang dilakukan Purbaya.

“Saya dengar katanya beliau sedang asyik mengobok-obok orang-orang atau pegawai-pegawai eselon 2, 3, 4, bahkan eselon 1 mungkin di Dirjen Perpajakan dan Dirjen Bea Cukai,” kata Ferry.

Menurut dia, persoalan internal tersebut kemudian berkembang hingga ada pejabat yang menyampaikan keberatan kepada Presiden.

Reuters juga melaporkan adanya ketegangan antara Purbaya dan sejumlah pejabat tinggi Kementerian Keuangan terkait rencana reshuffle internal.

Suahasil di Persimpangan

Kini Suahasil berada di persimpangan yang tidak mudah.

Di satu sisi, pemerintah membutuhkan APBN sebagai instrumen untuk membiayai program-program prioritas Presiden Prabowo. Di sisi lain, Menteri Keuangan harus menjaga defisit dan kredibilitas fiskal.

Reuters melaporkan Suahasil pada awal masa jabatannya menegaskan komitmen mempertahankan target defisit APBN 2026 sebesar 2,85 persen terhadap PDB, di bawah batas legal 3 persen. Ia juga menyatakan kebijakan penempatan dana pemerintah di bank-bank BUMN akan tetap dilanjutkan.

Dengan demikian, tantangan Suahasil bukan hanya meneruskan pekerjaan pendahulunya. Ia harus mengelola keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan program pemerintah, penerimaan negara, defisit, utang, serta kepercayaan pelaku pasar.

Ferry melihat persoalan tersebut sebagai ujian keberanian seorang Menteri Keuangan.

Jika seorang Menkeu tidak memiliki ruang untuk mengatakan “tidak” ketika sebuah kebijakan dinilai berisiko terhadap kesehatan fiskal, menurut Ferry, pergantian menteri hanya akan menjadi pergantian nama di kursi bendahara negara.

“Cilaka buntut kuda. Tidak akan berhasil. Dia akan mengalami jebakan yang sama seperti Purbaya,” ujar Ferry.

Pada akhirnya, publik akan melihat apakah Suahasil mampu menjalankan mandat Presiden sekaligus mempertahankan disiplin fiskal. Jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya terlihat dari pidato dan komitmen awalnya, tetapi dari keputusan konkret yang akan diambil Kementerian Keuangan dalam mengelola APBN ke depan.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan masih menyisakan tanda tanya. Salah satu isu yang mengemuka adalah ketegangan terkait rencana perombakan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan, terutama Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Ketua Dewan Direktur GREAT Institute Syahganda Nainggolan mengungkapkan cerita mengenai komunikasi Purbaya dengan Presiden Prabowo Subianto terkait posisi Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama.

Syahganda mengatakan, cerita tersebut disampaikan Purbaya kepadanya ketika mereka makan bersama di kawasan Senayan.

Menurut Syahganda, saat itu Purbaya mengaku pernah menanyakan langsung kepada Presiden Prabowo mengenai posisi Djaka Budhi Utama.

“Gua tanya Presiden kan soal orang ini. Dirjen Bea Cukai Pak Djaka Budi Utama ini, Pak Djaka ini gimana? Oh, jangan dulu. Kata Presiden, kita kasih dia kesempatan dulu,” ujar Syahganda, mengutip pembicaraannya dengan Purbaya di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (18/9/2026).

Pernyataan tersebut menjadi menarik karena Purbaya sebelumnya memang diketahui melakukan sejumlah penataan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan sebelum akhirnya digantikan Suahasil Nazara pada 14 September 2026.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sendiri mengonfirmasi bahwa terdapat penataan personel yang dilakukan pada masa Purbaya. Djaka Budhi Utama mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan dan tindak lanjut dari kantor pusat Kementerian Keuangan terkait personel yang dipindahkan.

Syahganda kemudian mengungkapkan bahwa keinginan melakukan perubahan di tubuh Kementerian Keuangan bukan sesuatu yang baru bagi Purbaya.

“Pak Purbaya itu dari dulu juga memang saya tahu pengin mengganti dua Dirjen itu, termasuk Sekjen yang lama kemudian Dirjen Anggaran,” kata Syahganda.

Namun, ia mempertanyakan siapa pihak yang mendorong Purbaya apabila benar terdapat rencana mengganti dua direktur jenderal tersebut.

“Kalau betul isunya Pak Purbaya minta Dirjen dua Dirjen diganti, siapa yang mendorong Purbaya ini?” ujarnya.

Syahganda menilai posisi Dirjen Bea dan Cukai memiliki karakter khusus karena penggantian pejabat pada level tersebut bukan sepenuhnya berada di tangan menteri.

“Pak Djaka ini yang bisa ngeganti dia cuma Presiden, bukan Purbaya,” katanya.

Ia juga menilai dinamika tersebut harus dilihat dari struktur kewenangan pemerintahan. Menurut dia, apabila pergantian pejabat berlangsung hingga level eselon II, terdapat mekanisme dan kewenangan tertentu yang perlu diperhatikan.

“Kalau misalkan Dirjen ngeluh, level eselon 2 ke bawah diganti oleh menterinya itu enggak normal,” ujar Syahganda.

Isu tersebut semakin mengemuka setelah Purbaya diberhentikan sebagai Menteri Keuangan dan digantikan Suahasil Nazara. Reuters melaporkan bahwa pergantian tersebut antara lain dikaitkan dengan perselisihan internal mengenai perombakan besar-besaran pejabat di Kementerian Keuangan. Namun, laporan itu bersumber dari sejumlah sumber pemerintah yang dikutip Reuters, sementara pemerintah tidak secara resmi menyatakan bahwa konflik dengan Dirjen menjadi alasan tunggal pergantian Purbaya.

Djaka Budhi Utama sendiri membantah keras adanya konflik dengan Purbaya. Ia menyebut kabar tersebut tidak benar ketika ditanya wartawan pada 15 September 2026.

“Kata siapa? Lu ngarang-ngarang aja,” kata Djaka. Ia juga menegaskan bahwa kabar mengenai konflik tersebut adalah bohong.

Purbaya pun sebelumnya menyatakan bahwa pergantian dirinya merupakan hak prerogatif Presiden. Ia juga membantah adanya gesekan dengan pejabat di bawahnya.

Dalam pandangan Syahganda, keputusan Prabowo untuk tidak langsung mengganti Djaka tidak otomatis menunjukkan bahwa Presiden memberikan penilaian negatif terhadap Purbaya.

“Prabowo bukan enggak sayang sama Pak Purbaya karena dia tadi target aku nih bagaimana,” kata Syahganda.

Ia mengatakan perubahan di tengah situasi pemerintahan dapat menimbulkan kegoncangan apabila tidak dikelola dengan hati-hati.

“Kalau ada kegoncangan, dengan enam variabel yang saya sebut tadi, bisa targetnya hilang,” ujarnya.

Syahganda juga menilai perjalanan karier Purbaya ke depan masih sulit dipastikan. Ia menanggapi spekulasi yang menyebut Purbaya berpotensi menjadi kandidat kuat untuk posisi strategis lain, termasuk Gubernur Bank Indonesia.

“Bisa aja dipanggil kembali. Tempat mana yang merasa cocok, Bank Indonesia jadi gubernur bank sentral kan Purbaya ini akan mencelat menjadi rising star baru?” kata Syahganda.

Namun, ia mengaku tidak yakin Purbaya akan otomatis menjadi “rising star” politik.

“Enggak yakin saya, enggak yakin,” tegasnya.

Menurut Syahganda, karakter Purbaya berbeda dengan figur politik yang membangun popularitas melalui pencitraan dan aktivitas politik elektoral.

“Pak Purbaya ini memang orangnya bekerja dalam institusi. Dia bukan tipe Dedi Mulyadi yang memang orang politik menggunakan pencitraan untuk merangkak terus supaya menjadi salah satu kandidat,” ujar Syahganda.

Di sisi lain, fakta bahwa Djaka masih menjabat sebagai Dirjen Bea dan Cukai menunjukkan bahwa isu pergantian tersebut belum menjadi keputusan publik. Profil resmi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mencatat Djaka Budhi Utama tetap menjabat sebagai Dirjen Bea dan Cukai.

Dengan demikian, cerita mengenai rencana Purbaya mengganti sejumlah pejabat Kementerian Keuangan masih berada pada wilayah informasi dan analisis yang perlu dibedakan dari keputusan resmi pemerintah. Yang sudah terkonfirmasi adalah pergantian Purbaya sebagai Menteri Keuangan, sementara Djaka tetap menjalankan tugasnya sebagai Dirjen Bea dan Cukai di bawah Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dinilai belum tentu membawa perubahan mendasar dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ekonom Ferry Latuhihin mengatakan persoalan utama fiskal Indonesia bukan hanya siapa yang menduduki kursi Menteri Keuangan, melainkan tarik-menarik antara menjaga kredibilitas fiskal dan membiayai program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Fakta atau opini, pengganti Purbaya sama saja, tidak akan ada perubahan dalam mengelola APBN,” kata Ferry, Kamis (17/9/2026).

Ferry menilai Purbaya sebelumnya berada dalam posisi sulit karena harus menjaga keseimbangan antara kredibilitas fiskal dengan agenda prioritas pemerintah.

“Di satu pihak kredibilitas daripada fiskal kita. Di lain pihak itu prioritas program-program Pak Presiden,” ujarnya.

Menurut Ferry, salah satu program yang menjadi perhatian dari sisi kebutuhan anggaran adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut besarnya kebutuhan pendanaan program tersebut menjadi salah satu sumber tekanan yang harus dihadapi pengelola fiskal.

Ferry sebelumnya juga pernah mengkritik MBG dan menyebutnya sebagai program yang berpotensi menjadi beban berat bagi APBN. Pada Juni 2026, ia menyatakan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), dan Danantara menjadi tiga program yang menurutnya memberikan tekanan terhadap kesehatan fiskal.

“Di sinilah Purbaya mencoba mencari keseimbangan dan ternyata dia gagal,” kata Ferry.

Ia mengatakan persoalan tersebut tidak otomatis selesai hanya karena terjadi pergantian Menteri Keuangan. Menurutnya, selama ketegangan antara kebutuhan menjaga kredibilitas APBN dan pelaksanaan program prioritas pemerintah tetap tinggi, menteri baru akan menghadapi persoalan yang sama.

Suahasil sendiri setelah dilantik sebagai Menteri Keuangan menyatakan mendapat arahan Presiden Prabowo untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Ia juga menegaskan APBN harus tetap sehat agar mampu membiayai program prioritas pemerintah.

Bahkan, Suahasil menyatakan pergantian dirinya dari Purbaya bukan berarti perubahan arah kebijakan keuangan negara. Ia mengatakan akan melanjutkan pekerjaan yang sudah berjalan di Kementerian Keuangan.

Pernyataan tersebut menjadi dasar bagi Ferry untuk mempertanyakan seberapa besar perubahan yang dapat dihasilkan dari pergantian menteri apabila kebijakan fiskal pemerintah tidak mengalami perubahan fundamental.

“Kalau seandainya diganti orang pun, apakah itu berhasil atau tidak berhasil, ya sama saja. Selama tegangan ini masih tetap tinggi,” ujar Ferry.

Ferry berharap setidaknya Suahasil dapat memperbaiki administrasi dan tata kelola fiskal. Namun, ia menilai ekspektasi terhadap perubahan kebijakan yang fundamental belum besar apabila arah program pemerintah tetap sama.

“Harapannya mungkin Suahasil bisa merapikan administrasinya dengan baik,” katanya.

Ferry juga menyoroti pergerakan pasar setelah pergantian Menteri Keuangan. Menurut dia, respons pasar menunjukkan bahwa investor tidak hanya menunggu siapa yang menjadi Menteri Keuangan, tetapi terutama mengamati apakah terjadi perubahan kebijakan fiskal.

“Market kemarin rebound dari minus 150 sampai minus single digit, itu merayakan kepergian Pak Purbaya,” ujar Ferry.

Ia kemudian mengaitkan pelemahan pasar setelah pengangkatan Suahasil dengan persepsi bahwa tidak terjadi perubahan kebijakan yang signifikan.

“Tadi market minus lagi itu merayakan kedatangan Pak Suahasil,” katanya sambil bergurau.

Secara resmi, Suahasil memang menyatakan kebijakan yang telah berjalan akan dilanjutkan. Ia juga belum memberikan keputusan mengenai kebijakan Purbaya yang akan dievaluasi atau ditinjau ulang.

Ferry menilai pernyataan tersebut membuat pasar kembali menunggu perubahan kebijakan yang lebih konkret.

“Yang ditunggu-tunggu oleh market adalah perubahan kebijakan,” ujarnya.

Ferry juga mengaku tidak yakin target menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) akan mudah dicapai apabila tekanan belanja pemerintah tetap tinggi.

“Saya enggak yakin budget kita bisa defisitnya di bawah 3 persen,” kata Ferry.

Target menjaga defisit di bawah 3 persen sendiri menjadi perhatian utama pemerintah. Suahasil mendapat mandat untuk menjaga kredibilitas APBN sekaligus memastikan anggaran tetap mampu membiayai program prioritas pemerintah.

Karena itu, menurut Ferry, persoalan yang dihadapi Suahasil bukan hanya persoalan teknis administrasi Kementerian Keuangan. Tantangan utamanya adalah bagaimana menjaga disiplin fiskal sekaligus memenuhi agenda belanja yang telah ditetapkan pemerintah.

“Kalau tegangan tadi tidak diubah, menurut saya ini cuma sekadar…” ujar Ferry.

Ia kemudian menilai pergantian Purbaya lebih tepat dipahami sebagai upaya mencari figur baru untuk mengelola persoalan yang sama.

“Daripada gagal dengan orang ini, kita coba sama orang lain. Tapi jangan rubah strateginya,” kata Ferry.

Pergantian Purbaya menjadi Suahasil berlangsung pada 14 September 2026. Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan dan kemudian dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan baru.

Di tengah pergantian tersebut, perhatian pasar dan publik kini tertuju pada langkah konkret Suahasil dalam menjaga kredibilitas APBN, mengendalikan defisit, serta memastikan program prioritas pemerintah tetap berjalan tanpa menimbulkan tekanan fiskal yang semakin besar.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan disebut bukan semata-mata berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi, tetapi dipicu perseteruan internal di lingkungan Kementerian Keuangan.

Reuters dalam laporan 16 September 2026 menyebut, tiga sumber pemerintah mengatakan Purbaya dicopot Presiden Prabowo Subianto setelah terlibat konflik dengan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama. Perselisihan itu disebut berkaitan dengan perombakan ratusan pejabat di Kementerian Keuangan, terutama di Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Menurut sumber Reuters, Djaka dan Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto keberatan dengan rotasi tersebut karena mereka tidak menyetujuinya. Djaka kemudian disebut menyampaikan keberatan itu langsung kepada Prabowo.

Dalam laporan Reuters, kedua pejabat tersebut berada di bawah Menteri Keuangan, tetapi disebut dipilih langsung oleh Prabowo. Djaka juga disebut pernah menjadi bagian dari tim pasukan khusus Prabowo ketika masih berdinas di militer.

Salah satu sumber Reuters bahkan menyebut Djaka memiliki akses langsung yang cukup kuat kepada Prabowo. Sumber yang sama mengatakan Purbaya membutuhkan persetujuan dari lingkaran dalam presiden untuk mendapatkan pertemuan dengan kepala negara.

Perselisihan tersebut disebut mencapai puncaknya pada acara pelantikan ratusan pejabat Kementerian Keuangan pada Kamis pekan lalu. Dalam acara itu, Purbaya menyampaikan bahwa rotasi dilakukan berdasarkan penilaian profesional sekaligus melalui konsultasi dengan pejabat terkait.

Namun, dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Djaka kemudian mempersoalkan keputusan itu dan menyampaikannya langsung kepada Prabowo pada Jumat, sebelum Presiden bertolak ke India untuk menghadiri KTT BRICS.

Prabowo kembali ke Jakarta pada Senin. Pada hari yang sama, Purbaya disebut mendapat pemberitahuan mengenai pencopotannya melalui sambungan telepon dari Menteri Sekretaris Negara ketika dirinya sedang mengikuti rapat dengan DPD membahas rancangan anggaran pemerintah 2027.

Purbaya kemudian menyerahkan jabatan Menteri Keuangan kepada Suahasil Nazara dalam seremoni singkat. Setelah serah terima, Purbaya mengakui bahwa persoalan perombakan internal turut berperan dalam pencopotannya, meski tidak menjelaskan secara rinci.

“Saya mengikuti kebijakan Presiden,” kata Purbaya, sebagaimana diberitakan Reuters.

Reuters juga melaporkan, sumber pertama menyebut terdapat perbedaan antara Purbaya dan Bimo Wijayanto mengenai pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau tax refund.

Bimo disebut mendukung pengembalian dana secara tepat waktu. Sementara itu, Purbaya cenderung menunda pengembalian dengan alasan klaim perusahaan perlu diperiksa secara ketat guna mencegah kebocoran penerimaan negara.

Di sisi lain, Purbaya disebut menjelaskan kepada Prabowo bahwa rotasi pejabat diperlukan untuk meningkatkan penerimaan negara melalui kedua direktorat tersebut.

Namun, setelah ditunjuk menggantikan Purbaya, Suahasil Nazara mengatakan akan meninjau kembali seluruh penempatan pejabat.

Reuters juga melaporkan adanya pesan WhatsApp Suahasil kepada pejabat senior Kementerian Keuangan pada Jumat yang menyebut dirinya telah menyarankan Purbaya menunda acara pelantikan sampai keberatan dari pimpinan Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai diselesaikan.

Kantor Bea dan Cukai kemudian menyatakan masih menunggu arahan dari Menteri Keuangan yang baru terkait penempatan para pejabat tersebut.

Perselisihan dengan Djaka disebut bukan satu-satunya hubungan yang tegang antara Purbaya dengan pejabat tinggi lainnya.

Reuters mencatat Purbaya sebelumnya pernah berbeda pandangan dengan mantan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo terkait kebijakan penempatan dana pemerintah pada bank-bank BUMN untuk mendorong penyaluran kredit.

Purbaya juga sempat berbeda pandangan dengan Kepala Danantara Rosan Roeslani setelah Purbaya mengatakan sovereign wealth fund tersebut akan mentransfer keuntungan sebesar Rp120 triliun untuk membantu memenuhi target defisit fiskal tahun berjalan.

Rosan kemudian mengatakan tidak pernah ada pembahasan mengenai rencana tersebut.

Laporan Reuters juga mengaitkan kasus tersebut dengan gaya pemerintahan Prabowo yang dinilai sejumlah analis lebih mengandalkan orang-orang kepercayaan dan loyalisnya.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan Prabowo menempatkan loyalitas sebagai sesuatu yang penting. Menurut dia, hal itu dapat dipahami mengingat panjangnya periode Prabowo berada di luar pemerintahan, tetapi berpotensi menimbulkan persoalan apabila mengorbankan sistem berbasis merit.

“Untuk sebuah negara agar berhasil, sistem politiknya harus sehat dan teknokratis, dan birokrasinya harus berdasarkan meritokrasi,” ujar Wijayanto, sebagaimana dikutip Reuters.

Prabowo sendiri sebelumnya mengatakan pemimpin yang berhasil harus memilih orang-orang “terbaik” untuk berada dalam timnya, bukan karena hubungan keluarga, pertemanan ataupun ikatan kepentingan.

Pencopotan Purbaya dengan demikian membuka kembali perdebatan mengenai sejauh mana pertimbangan teknokratis dan hubungan kepercayaan politik berperan dalam pengambilan keputusan di pemerintahan Prabowo.

Reuters menyebut sejumlah analis dan investor menyambut pergantian tersebut sebagai langkah yang dinilai dapat membantu memulihkan kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Namun, tiga sumber pemerintah yang dikutip Reuters memberikan penjelasan berbeda mengenai pemicu langsung pencopotan Purbaya, yakni perselisihan internal mengenai rotasi pejabat di Kementerian Keuangan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama membantah adanya konflik yang mendahului pencopotan tersebut. Sementara Bimo Wijayanto dan pihak Kantor Kepresidenan tidak memberikan tanggapan kepada Reuters.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pemberhentian Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan kembali memunculkan sorotan terhadap arah pengelolaan keuangan negara di tengah besarnya agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Henri Subiakto menilai, pergantian tersebut justru dapat dimaknai sebagai upaya menyelamatkan Purbaya dari situasi yang berpotensi semakin kontroversial.

Menurut Henri, siapapun yang menduduki posisi Menteri Keuangan dalam kondisi seperti sekarang akan menghadapi tekanan yang sangat berat.

“Dipecatnya Purbaya sebagai Menteri Keuangan berarti ia diselamatkan dari kondisi kontroversial yang lebih dalam. Siapapun Menteri Keuangannya dalam kondisi seperti sekarang, hanya akan membuat pejabatnya berada di bawah tekanan yang amat berat,” kata Henri di akun X (Twitter) miliknya, Rabu (16/9/2026).

Henri menjelaskan, posisi Menteri Keuangan berada di antara dua kepentingan besar. Di satu sisi, Menteri Keuangan harus menjaga kesehatan keuangan pemerintah dan keuangan negara. Namun di sisi lain, menurut dia, terdapat tuntutan politik untuk tetap membiayai berbagai program pemerintah.

“Di satu sisi harus menyelamatkan keuangan pemerintah dan keuangan negara, di sisi yang lain harus melayani ambisi seorang Presiden yang keras kepala dalam kebijakan politik yang ingin terus membiayai program-program dengan tata kelola buruk yang akan menjerumuskan Indonesia ke dalam keadaan yang makin buruk lagi,” ujarnya.

Purbaya sendiri diberhentikan Presiden Prabowo pada 14 September 2026 setelah sekitar satu tahun menjabat Menteri Keuangan. Posisinya kemudian digantikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Serah terima jabatan keduanya berlangsung di Kementerian Keuangan pada 15 September 2026.

Purbaya mengaku sudah memperkirakan kemungkinan dirinya dicopot. Ia menyebut peluang pergantian tersebut sebelumnya berada pada posisi sekitar 50:50.

Pergantian itu juga terjadi ketika pemerintah menghadapi tantangan dalam menjaga kredibilitas fiskal dan kepercayaan investor. Reuters melaporkan bahwa masa jabatan Purbaya diwarnai pelemahan rupiah, pelebaran defisit fiskal serta kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal.

Sementara itu, Suahasil setelah dilantik mendapatkan arahan dari Presiden Prabowo untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara.

Henri kemudian memperingatkan bahwa persoalan yang lebih besar bukan hanya menyangkut pergantian seorang Menteri Keuangan.

Menurut dia, apabila kebijakan pemerintahan terus dijalankan dengan pola top down dan mengabaikan prosedur serta prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, maka risiko bagi pejabat pelaksana akan semakin besar.

“Nanti akan semakin banyak lagi korban, orang-orang yang tersingkir bahkan masuk penjara karena risiko mengikuti perintah top down yang banyak menabrak prosedur dan prinsip tata kelola pemerintahan, clean and good governance,” kata Henri.

Pernyataan tersebut menempatkan pergantian Purbaya bukan hanya sebagai persoalan pergantian pejabat, tetapi juga sebagai sorotan terhadap hubungan antara agenda politik pemerintah, pengelolaan fiskal dan kepatuhan terhadap tata kelola pemerintahan.

Di sisi lain, pemerintah melalui pergantian tersebut menempatkan Suahasil Nazara sebagai pejabat yang bertugas menjaga kredibilitas keuangan negara sekaligus mendukung program-program pemerintahan Prabowo.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari posisi Menteri Keuangan tidak cukup dilihat sebagai pergantian personal di Kabinet Merah Putih.

Menurut Amir, persoalan yang lebih penting adalah arah kebijakan fiskal dan hubungan antara kekuatan politik, pemodal, Danantara, pemerintah, serta Bank Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto pada 14 September 2026 memang mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara. Reuters melaporkan pergantian tersebut menjadi pergantian menteri keuangan ketiga Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun.

Amir menilai sejumlah kebijakan Purbaya selama menjabat menunjukkan adanya upaya menjaga agar beban tertentu tidak langsung dialihkan kepada APBN.

Salah satu contohnya adalah persoalan utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Purbaya sebelumnya berulang kali menyatakan penyelesaian utang Whoosh harus semaksimal mungkin tidak membebani APBN. Pada Juli 2026, Purbaya mengatakan penggunaan dana APBN untuk membayar kewajiban Whoosh akan diminimalkan dan pemerintah dapat menggunakan instrumen di luar APBN, termasuk Special Mission Vehicle (SMV).

Bahkan pada Oktober 2025, Purbaya pernah menyatakan pembayaran utang Whoosh semestinya menjadi tanggung jawab Danantara karena lembaga tersebut menerima dividen dari BUMN. Ia menyebut Danantara menerima dividen sekitar Rp80 triliun hingga Rp90 triliun, sementara kebutuhan pembayaran tahunan Whoosh sekitar Rp2 triliun.

Menurut Amir, sikap tersebut memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang mengenai siapa yang harus menanggung beban finansial dari aset dan proyek BUMN.

“Kalau banyak kebijakan Purbaya tidak menguntungkan pihak pemodal, misalnya APBN menolak membiayai utang Whoosh, kemudian Purbaya meminta keuntungan Danantara diberikan kepada negara, tentu ini menjadi persoalan politik ekonomi yang harus dilihat lebih jauh,” ujar Amir.

Amir juga menyoroti tuntutan Purbaya agar Danantara tidak melempar persoalan Whoosh kepada pemerintah melalui APBN.

Menurut dia, pernyataan Purbaya bahwa Danantara memiliki sumber dana sendiri menunjukkan adanya upaya menempatkan pengelolaan aset negara secara lebih bertanggung jawab.

“Danantara punya keuntungan, punya dividen dari BUMN. Kalau ada keuntungan, negara juga harus mendapatkan manfaat. Jangan ketika untung untuk mereka, tetapi ketika ada beban kemudian kembali kepada negara,” katanya.

Amir kemudian mengaitkan pergantian Purbaya dengan persoalan konsolidasi kekuasaan di sekitar Presiden Prabowo.

Ia mempertanyakan apakah pergantian menteri tersebut benar-benar membawa perubahan sistem atau justru mempertahankan pola lama di Kementerian Keuangan.

“Sejak awal ada tuntutan agar Prabowo tidak menggunakan orang-orang lama. Tetapi sekarang kelihatannya Prabowo tetap menggunakan mereka. Ini bagian dari konsolidasi,” ujar Amir.

Suahasil Nazara sendiri bukan figur baru di Kementerian Keuangan. Reuters menyebut Suahasil sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal. Ia juga dipandang sebagai teknokrat yang berpengalaman di kementerian tersebut.

Karena itu, menurut Amir, pergantian Purbaya perlu dibaca dalam kerangka yang lebih luas, bukan hanya persoalan pergantian pejabat.

“Yang harus diubah adalah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau sistemnya tidak berubah, siapa pun yang menjadi Menteri Keuangan akan menghadapi persoalan yang sama,” katanya.

Amir mengingatkan Presiden Prabowo agar berhati-hati menentukan arah kebijakan ekonomi dan fiskal.

Menurut dia, Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai kepentingan, baik domestik maupun global. Kesalahan dalam menentukan strategi dapat membawa dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan politik nasional.

“Kalau strategi Prabowo keliru, Indonesia bisa bubar. Ini bukan menakut-nakuti. Kita harus melihat bagaimana struktur ekonomi dan politik bekerja,” kata Amir.

Ia mengaitkan pandangannya dengan buku Indonesia Paradoks, yang menurutnya menggambarkan berbagai kontradiksi dalam pengelolaan sumber daya dan kekuatan ekonomi Indonesia.

Amir juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam, khususnya sektor kehutanan.

Menurutnya, pemerintah harus membuka informasi secara lebih transparan mengenai pengelolaan hutan, termasuk berapa kewajiban perusahaan kepada negara.

“Pengawasan pengelolaan hutan sampai sekarang harus benar-benar dibuka. Perusahaan harus membayar berapa kepada negara? Itu harus jelas. Kalau tidak transparan, ini akan memengaruhi keuangan Indonesia,” ujarnya.

Fiskal dan Moneter Harus Seimbang

Amir juga mengingatkan bahwa kebijakan fiskal tidak dapat berjalan sendiri tanpa memperhitungkan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Menurut dia, kritik atau kebijakan Menteri Keuangan yang berhubungan dengan likuiditas, pembiayaan dan fiskal pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap ruang kerja bank sentral.

Karena itu, menurut Amir, hubungan antara pemerintah dan Bank Indonesia harus dijaga agar tetap seimbang.

“Pengelolaan keuangan negara bisa memengaruhi Bank Indonesia yang mengurusi moneter. Fiskal dan moneter harus seimbang. Jangan sampai satu kebijakan justru membuat kebijakan yang lain menjadi sulit,” katanya.

Pergantian Purbaya sendiri terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kredibilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Dalam perspektif geopolitik, Amir juga menyinggung posisi Indonesia dalam BRICS.

Menurutnya, keanggotaan Indonesia di BRICS dapat menjadi instrumen untuk memperluas pilihan ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan keuangan global yang selama ini didominasi negara-negara Barat.

Namun, Amir mengingatkan bahwa secara praktik Indonesia belum sepenuhnya bebas dari sistem keuangan global.

“Prabowo tidak tergantung kepada kekuatan global karena Indonesia masuk BRICS. Tetapi kenyataannya kita masih berada dalam sistem yang juga berhubungan dengan IMF,” ujarnya.

Ia menyebut agenda BRICS mengenai penggunaan mata uang lokal dan pengurangan dominasi dolar atau de-dolarisasi merupakan salah satu perkembangan penting dalam geopolitik ekonomi dunia. Namun, proses tersebut tidak serta-merta membuat negara anggota terbebas dari tekanan lembaga keuangan internasional.

Pada April 2026, Purbaya memang menyatakan menolak tawaran pinjaman IMF dan Bank Dunia. Ia mengatakan Indonesia belum membutuhkan pinjaman tersebut karena memiliki cadangan sekitar US$25 miliar. Tawaran yang disiapkan kedua lembaga tersebut disebut berada pada kisaran US$20 miliar hingga US$30 miliar.

Bagi Amir, sikap Purbaya tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang perlu dicermati.

“BRICS itu membawa gagasan de-dolarisasi. Tetapi jangan menganggap kemudian IMF tidak bisa melakukan tekanan. Tekanan global tetap ada,” katanya.

Karena itu, Amir menilai persoalan utama setelah pencopotan Purbaya bukan siapa penggantinya, melainkan apakah pemerintahan Prabowo berani melakukan perubahan struktural dalam pengelolaan ekonomi negara.

“Harus diubah sistemnya, bukan hanya mengganti orang. Kalau hanya mengganti menteri, tetapi mekanisme dan kepentingan yang bekerja di belakang kebijakan tetap sama, persoalannya tidak akan selesai,” pungkas Amir.

MoneyTalk.id,Jakarta – Purbaya Yudhi Sadewa masih duduk sebagai Menteri Keuangan ketika membahas RAPBN 2027 bersama Komite IV DPD RI pada Senin, 14 September 2026. Ia datang sebagai pejabat yang masih memegang otoritas atas keuangan negara, menjelaskan angka-angka APBN dan agenda pembangunan yang akan menentukan arah fiskal pemerintahan Prabowo Subianto.

Namun, di tengah rapat, sebuah telepon membuatnya meninggalkan ruang pertemuan dan gedung parlemen. Beberapa jam kemudian, publik mendapati kenyataan bahwa kursi yang pagi itu masih diduduki Purbaya telah berpindah kepada Suahasil Nazara. Pergantian itu sah secara konstitusional, tetapi kecepatannya membuat satu pertanyaan sederhana sulit dihindari: apa sebenarnya yang sedang berubah?

Pertanyaan tersebut tidak boleh buru-buru diubah menjadi tuduhan. Presiden memang mempunyai hak prerogatif untuk mengganti menteri, dan pemerintah tidak wajib mempertahankan seseorang hanya karena masih menjalankan agenda resmi pada pagi harinya.

Namun, ketika pergantian terjadi begitu mendadak dan alasan spesifik tidak segera dijelaskan, ruang publik secara alamiah akan mencari penjelasan.

Di sinilah pemerintah seharusnya hadir bukan untuk membungkam pertanyaan, melainkan memberikan konteks yang memadai. Sebab transparansi bukan berarti Presiden kehilangan kewenangannya, tetapi publik memperoleh alasan yang rasional atas keputusan yang menyangkut pengelolaan keuangan negara. Apalagi jabatan Menteri Keuangan bukan posisi biasa karena di dalamnya terdapat kepentingan APBN, utang, pajak, subsidi, belanja negara, dan kepercayaan pasar.

Purbaya sendiri meninggalkan sejumlah kebijakan dan pernyataan yang layak dianalisis, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk memahami kemungkinan persoalan yang sedang dihadapi pemerintah. Salah satunya adalah kebijakan pengelolaan likuiditas dan berbagai langkah fiskal yang mendapat perhatian karena berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan.

Kebijakan semacam itu memang selalu memiliki dua sisi: dapat mendorong aktivitas ekonomi, tetapi juga harus dihitung secara hati-hati agar tidak menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan. Karena itu, mengganti pejabat tidak otomatis berarti kebijakan sebelumnya salah, sebagaimana mempertahankan pejabat juga tidak otomatis berarti seluruh kebijakannya benar.

Ukuran yang seharusnya digunakan adalah dampak kebijakan terhadap pertumbuhan, stabilitas, kredibilitas APBN, dan kemampuan negara mengelola risiko.

Persoalan menjadi semakin menarik ketika pernyataan Purbaya mengenai utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kembali muncul ke permukaan. Beberapa hari sebelum pergantian, Purbaya berbicara mengenai restrukturisasi utang proyek tersebut dan menyebut cicilannya sekitar Rp1 triliun per tahun dengan tenor yang sangat panjang.

Pernyataan itu kemudian mendapat sorotan dari pengamat ekonomi Defiyan Cori yang menilai persoalan sebesar Whoosh semestinya disampaikan melalui analisis yang lebih komprehensif karena menyangkut BUMN, struktur pembiayaan, kerja sama dengan China, kepemilikan, serta potensi konsekuensi terhadap keuangan negara. Tetapi dari sini kita harus berhenti sebelum melangkah terlalu jauh: tidak ada keterangan resmi bahwa pernyataan mengenai Whoosh menjadi penyebab Purbaya dicopot. Hubungan waktu antara dua peristiwa memang dapat menjadi bahan pertanyaan, tetapi belum cukup menjadi bukti hubungan sebab-akibat.

Justru yang lebih penting adalah persoalan yang berada di balik Whoosh itu sendiri. Sebuah proyek infrastruktur besar tidak cukup dinilai dari apakah keretanya beroperasi atau berapa cepat perjalanan Jakarta-Bandung ditempuh.

Ia juga harus dilihat dari struktur pembiayaan, kemampuan menghasilkan pendapatan, kewajiban utang, posisi BUMN, dan siapa yang pada akhirnya menanggung risiko apabila proyeksi bisnis tidak berjalan seperti yang diharapkan. Di sinilah peran Menteri Keuangan menjadi penting karena setiap keputusan mengenai pembiayaan negara pada akhirnya bersentuhan dengan ruang fiskal. Publik tidak perlu menuduh bahwa proyek tertentu telah membebani APBN jika faktanya belum demikian, tetapi publik berhak meminta penjelasan mengenai siapa yang menanggung risiko dan bagaimana risiko tersebut dikelola. Dengan demikian, Whoosh seharusnya menjadi pintu masuk untuk membahas tata kelola pembiayaan pembangunan, bukan sekadar bahan untuk menyerang seorang mantan menteri.

Menariknya lagi, Purbaya bukan figur yang dapat dikatakan kehilangan seluruh dukungan publik. Survei Indonesia Political Opinion periode 27 Juli–3 Agustus 2026 menempatkannya sebagai menteri dengan penilaian kinerja terbaik dengan angka 42,8 persen.

Angka tersebut tentu bukan ukuran mutlak keberhasilan seorang Menteri Keuangan karena persepsi publik berbeda dengan evaluasi teknokratis di dalam pemerintahan.

Namun, fakta itu menunjukkan bahwa pergantian Purbaya tidak mudah dijelaskan hanya dengan argumen bahwa ia tidak disukai masyarakat atau gagal membangun citra publik.

Ada kemungkinan terdapat pertimbangan lain yang tidak terlihat dalam survei, seperti koordinasi antarlembaga, konsistensi kebijakan, komunikasi internal, atau kebutuhan Presiden terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Semua kemungkinan itu masih harus dibuktikan melalui kebijakan dan penjelasan resmi, bukan melalui spekulasi.

Pengangkatan Suahasil Nazara kemudian memberikan petunjuk lain. Ia bukan orang luar yang tiba-tiba masuk ke Kementerian Keuangan, melainkan sosok yang memahami mesin fiskal dari dalam. Ia mengetahui bagaimana APBN disusun, bagaimana kebijakan fiskal bekerja, dan bagaimana birokrasi Kementerian Keuangan mengelola keuangan negara.

Ketika Prabowo menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara serta mempertahankan defisit di bawah 3 persen PDB, pesan yang muncul cukup jelas: disiplin fiskal tetap menjadi salah satu perhatian utama. Tetapi pertanyaannya kemudian bukan apakah Suahasil mampu menjaga APBN, melainkan apakah ia akan membawa pendekatan yang berbeda dari pendahulunya.

Perubahan itu baru dapat dibaca setelah masyarakat melihat keputusan nyata, bukan sekadar mendengar pernyataan pada hari pelantikan.

Di sinilah pergantian Purbaya seharusnya dibaca lebih luas. Pemerintahan Prabowo memiliki agenda pembangunan yang besar dan membutuhkan anggaran yang juga besar. Makan Bergizi Gratis membutuhkan pembiayaan, pembangunan infrastruktur membutuhkan dana, subsidi membutuhkan ruang fiskal, sementara kewajiban utang dan pembayaran bunga terus berjalan.

Pada saat yang sama, penerimaan negara tidak dapat diasumsikan selalu tumbuh sesuai dengan kebutuhan belanja. Ada batas antara ambisi pembangunan dan kemampuan kas negara, dan Menteri Keuangan berada tepat di garis batas tersebut. Karena itu, tugas seorang Menteri Keuangan bukan sekadar menyediakan uang untuk semua program pemerintah, tetapi juga memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki dasar, manfaat, dan sumber pembiayaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

APBN pada akhirnya adalah penguji yang paling dingin. Ia tidak peduli seberapa bagus pidato pejabat, seberapa tinggi popularitas menteri, atau seberapa meriah pelantikan di Istana.

Angka defisit akan tetap menunjukkan kondisi fiskal, rasio utang akan tetap dihitung, pembayaran bunga tetap jatuh tempo, dan ruang fiskal tetap memiliki batas. Jika program pemerintah bertambah sementara penerimaan tidak mampu mengejar kebutuhan belanja, pemerintah harus memilih antara melakukan efisiensi, meningkatkan penerimaan, mengurangi belanja, atau mencari pembiayaan tambahan. Tidak ada makan siang gratis dalam pengelolaan keuangan negara. Setiap program yang hari ini disebut sebagai prioritas pada akhirnya memiliki konsekuensi fiskal yang harus dibayar sekarang atau pada masa mendatang.

Karena itu, pergantian Menteri Keuangan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang dicopot dan siapa yang dilantik. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah pemerintah sedang mengubah cara mengelola APBN.

Jika Purbaya diganti karena pemerintah menginginkan koordinasi yang lebih kuat, publik perlu melihat apakah kebijakan fiskal setelah ini menjadi lebih konsisten. Jika tujuannya memperkuat kepercayaan pasar, indikatornya harus terlihat pada stabilitas fiskal dan kredibilitas kebijakan. Jika pemerintah ingin mempercepat program prioritas, publik perlu mengetahui dari mana pembiayaannya dan bagaimana risiko fiskalnya dikendalikan. Sebab perubahan personel tanpa perubahan kualitas kebijakan pada akhirnya hanya menghasilkan pergantian nama di pintu kantor.

Purbaya pergi, tetapi persoalan yang dihadapinya tidak ikut pergi. Utang Whoosh tetap harus dikelola, APBN tetap harus dijaga, program prioritas tetap membutuhkan uang, dan kewajiban negara tetap harus dibayar. Suahasil sekarang menerima meja kerja yang sama dengan tumpukan persoalan yang tidak jauh berbeda. Karena itu, pergantian ini akan diuji bukan oleh alasan yang beredar di media sosial, melainkan oleh hasil pengelolaan fiskal beberapa bulan ke depan. Apakah defisit terkendali, apakah utang dikelola secara sehat, apakah belanja semakin efektif, apakah penerimaan negara membaik, dan apakah ruang fiskal tetap cukup untuk membiayai program pemerintah tanpa menciptakan beban yang berlebihan.

Pagi hari Purbaya masih membicarakan APBN, siang hari sebuah telepon membuatnya meninggalkan rapat, dan sore hari orang lain sudah mengucapkan sumpah sebagai Menteri Keuangan. Adegan itu memang terlalu cepat untuk tidak menimbulkan pertanyaan. Tetapi pertanyaan yang sehat tidak boleh berubah menjadi tuduhan tanpa bukti. Justru karena pemerintah memiliki kewenangan mengganti menteri, pemerintah juga seharusnya memiliki keberanian menjelaskan arah perubahan tersebut kepada masyarakat.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar karier Purbaya atau masa depan politik Suahasil, melainkan cara negara mengelola uang rakyat. Dan jika yang berubah bukan hanya orangnya, melainkan arah fiskalnya, maka publik berhak mengetahui ke mana sebenarnya setir ekonomi pemerintahan Prabowo sedang dibelokkan.

Penulis : Rokhmat Widodo, Pengamat politik dan ekonomi