30 Oktober 2026

saham GOTO

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat ekonomi Agustinus Edy Kristianto mengungkapkan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana menanamkan investasi awal sekitar Rp16 triliun di pasar modal. Investasi itu akan berbentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan saham perusahaan yang dinilai memiliki fundamental kuat serta potensi pertumbuhan tinggi.

Namun, rencana tersebut memunculkan tanda tanya besar setelah Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menyatakan bahwa investasi tak hanya akan diarahkan ke saham BUMN, tapi juga perusahaan swasta dengan prospek bagus.

Agustinus menyoroti potensi konflik kepentingan dalam kebijakan investasi itu. Ia mempertanyakan apakah dana yang bersumber dari dividen BUMN akan digunakan untuk membeli saham GOTO atau TOBA, dua perusahaan yang memiliki hubungan erat dengan Pandu.

“Kita patut bertanya terang-terangan: apakah maksudnya dana dari dividen BUMN itu akan dipakai Danantara untuk membeli saham GOTO dan TOBA?” tulis Agustinus dalam analisanya, Senin (20/10/2025).

Sebagai catatan, Pandu Sjahrir merupakan keponakan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, dan sebelumnya menjabat Wakil Direktur Utama PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) perusahaan yang juga dikaitkan dengan Luhut. Pandu juga dikenal sebagai investor awal GOTO dan pernah menjabat Komisaris Utama GoTo Financial.

Data di pasar modal menunjukkan, Telkomsel/Telkom saat ini memegang 23 miliar lembar saham GOTO, hasil investasi senilai US$450 juta (sekitar Rp6,4 triliun) pada tahun 2021 dengan harga pembelian Rp270 per lembar.

Namun, pada penutupan perdagangan Senin (20/10/2025), harga saham GOTO hanya Rp55, atau turun hampir 80%. Artinya, investasi Telkom kini tinggal sekitar Rp1,3 triliun, dengan kerugian negara mencapai Rp5,096 triliun.

Agustinus mengungkap desas-desus bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan skema penyelesaian luar biasa terkait kerugian tersebut. Sumber internal menyebutkan, Danantara yang kini membawahi Telkom diperintahkan untuk menekan GOTO agar melakukan buyback seluruh saham Telkom pada harga awal pembelian, yakni Rp6,4 triliun.

“Pandu disebut bertanggung jawab menuntaskan transaksi ini  demi menyelamatkan kerugian negara,” kata Agustinus.

Rumor lain menyebut, langkah ini juga dikoordinasikan dengan Kejaksaan Agung, yang saat ini sedang menyidik kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Google Chromebook dan telah menetapkan Nadiem Makarim sebagai tersangka. Disebut ada keterkaitan antara kasus ini dengan investasi Google di GOTO.

Agustinus menilai, pemerintah harus transparan dan menjamin tidak ada penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan investasi Danantara.

“Kalau ada sepeser saja dana Danantara ditanam di GOTO, tahulah kita artinya bahwa Danantara yang katanya kekuatan masa depan nusantara ternyata gampang betul masuk anginnya,” sindirnya.

Publik kini menanti klarifikasi resmi Pandu Sjahrir dan penjelasan dari Kementerian BUMN mengenai arah investasi Danantara, terutama jika berkaitan dengan penyelamatan aset bermasalah BUMN di pasar modal.

MoneyTalk, Jakarta – Kali ini akan mengulas pernyataan terbaru dari Firman Happy di kanal YouTube pada Minggu, (13/10) terkait saham GoTo yang stagnan dan adanya pembelian senyap sebesar Rp160 miliar. Dalam tayangan tersebut, Firman mengungkapkan spekulasi dan analisis terkait saham GoTo, yang belakangan ini menunjukkan pergerakan yang cukup lambat meskipun ada transaksi besar yang berlangsung di belakang layar. Dalam artikel ini, kita akan merinci lebih jauh pernyataan tersebut dan mendalami faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi saham GoTo saat ini.

Firman Happy membuka diskusi dengan menyoroti pergerakan saham GoTo yang terlihat stagnan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan laporan dari Investor.id tertanggal 12 Oktober, transaksi saham GoTo hanya bernilai sekitar Rp82 miliar, yang cukup rendah dibandingkan dengan volume transaksi harian sebelumnya. Meskipun demikian, terdapat indikasi bahwa saham ini diborong secara senyap dengan total nilai mencapai Rp160 miliar.

Menurut Firman, ada beberapa broker yang terlihat aktif dalam aksi ini, di antaranya adalah broker BB dan MG, yang diduga kuat melakukan akumulasi saham dalam jumlah besar. Ia menekankan bahwa pembelian senyap ini bisa jadi bertujuan untuk mempertahankan harga saham agar tidak mengalami penurunan lebih lanjut atau sebaliknya, untuk mempersiapkan kenaikan harga yang terukur.

Selama beberapa minggu terakhir, Firman mencatat bahwa saham GoTo mengalami penurunan sejak 27 September hingga 11 Oktober. Dalam rentang waktu ini, terdapat indikasi bahwa beberapa pihak dengan akses ke informasi atau modal besar sedang mengakumulasi saham ini di level harga tertentu. Menurut Firman, aksi ini menunjukkan adanya kepentingan strategis yang tengah dimainkan oleh para pelaku pasar, dengan tujuan tertentu yang tidak diungkapkan secara langsung ke publik.

Pada sisi lain, Firman mengindikasikan bahwa broker asing seperti AK (akumulasi 25 juta lot) dan CC (17,6 juta lot) juga turut ambil bagian dalam transaksi ini, yang berkontribusi terhadap net buy sebesar 20 juta lot. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harga saham GoTo cenderung stagnan, ada banyak transaksi yang dilakukan di balik layar yang menunjukkan adanya minat dari pelaku pasar asing.

Menurut Firman, alasan utama mengapa saham GoTo terlihat stagnan adalah adanya upaya untuk ‘mengganjal’ harga saham di level tertentu. Salah satu kemungkinan adalah karena pelaku pasar besar atau institusi sedang menunggu momen yang tepat untuk menaikkan atau menurunkan harga saham ini demi keuntungan yang lebih besar. Sehingga, saham GoTo tampak ditahan pada kisaran harga 61 hingga 65, untuk memberikan waktu bagi para pemain besar melakukan akumulasi.

Firman juga memberikan pandangan bahwa saham GoTo saat ini tengah diakumulasi secara bertahap, yang mana dalam kondisi seperti ini biasanya investor kecil akan ikut terbawa suasana atau FOMO (fear of missing out), sementara investor besar tetap memegang kendali atas harga dan volume transaksi. Situasi seperti ini sering kali menjadi ajang bagi para spekulan besar untuk menahan harga di level tertentu hingga dirasa waktu yang tepat tiba untuk melepas atau kembali mengakumulasi saham.

Spekulasi yang dilontarkan Firman Happy memberikan gambaran bahwa saham GoTo masih memiliki potensi untuk beranjak naik. Meskipun demikian, ia juga memberikan peringatan bahwa pergerakan saham ini sangat tergantung pada aksi para pemegang modal besar, sehingga perlu kehati-hatian bagi para investor kecil.

Menurutnya, pembelian senyap dengan nilai Rp160 miliar ini menunjukkan adanya ‘power play’ yang dilakukan oleh pemain-pemain besar, yang mungkin bertujuan untuk menjaga atau bahkan menaikkan harga saham di kemudian hari.

Firman menambahkan bahwa dalam kelas investasinya, ia membahas teknik-teknik mendeteksi kapan suatu saham sedang dalam fase akumulasi atau distribusi. Hal ini penting bagi investor untuk mengetahui kapan saat yang tepat untuk masuk atau keluar dari suatu saham, terutama saham yang tengah dimainkan oleh pemain besar. Ia juga mengingatkan para penontonnya untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi dan selalu mempertimbangkan analisis yang mendalam sebelum membeli atau menjual saham.

Secara keseluruhan, Firman Happy memberikan analisis yang menarik tentang saham GoTo yang stagnan. Dengan adanya pembelian senyap sebesar Rp160 miliar, ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tengah dipersiapkan di balik layar, baik itu kenaikan harga yang sudah direncanakan atau justru manipulasi harga untuk mempertahankan posisi pasar dari para pemain besar. Meski demikian, Firman mengingatkan bahwa keputusan akhir tetap ada di tangan para investor, dan ia tidak memberikan saran untuk membeli atau menjual saham GoTo.

Dengan mempelajari pergerakan harga saham GoTo dan mengamati siapa yang memborong saham ini, diharapkan investor dapat mengambil keputusan yang lebih cerdas dan strategis. Bagi yang ingin mendalami analisis teknikal dan strategi investasi lebih jauh, Firman juga membuka kelas investasi yang membahas teknik deteksi akumulasi dan distribusi saham dengan lebih mendalam.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pada Minggu (13/10), Firman Hapi berbagi analisisnya di Kanal Trading Saham terkait saham GoTo, serta strategi yang direkomendasikannya bagi investor yang ingin terjun dalam pasar modal. Dalam video ini, Firman menyampaikan informasi penting mengenai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan potensi GoTo dalam dunia investasi.

Kenapa IHSG dan GoTo? Menurut Firman, IHSG masih menunjukkan potensi bullish karena berada di atas garis rata-rata (MA1). Kondisi ini mengindikasikan bahwa IHSG mungkin akan tetap kuat, dengan saham-saham tertentu seperti GoTo yang masih layak dipertimbangkan. Meskipun beberapa investor mungkin menganggap GoTo stagnan, Firman menjelaskan bahwa dengan volume transaksi yang tinggi, terutama dari transaksi besar, saham ini sebenarnya memiliki peluang untuk naik.

Apa yang Menarik dari Saham GoTo? Firman mencatat bahwa meskipun harga saham GoTo tampak stagnan bagi sebagian orang, namun analis sekuritas melihatnya sebagai potensi yang menarik. Beberapa sekuritas memberikan rekomendasi “buy” pada saham ini, karena GoTo berhasil mengurangi kerugian besar dari Rp13,6 triliun menjadi Rp2,6 triliun. Selain itu, GoTo juga tergabung dalam beberapa indeks penting seperti LQ45, IDX30, dan FTSE yang memberikan kredibilitas tambahan di kalangan investor asing.

Strategi untuk Pemula: Jangan Langsung Beli atau Jual! Dalam penjelasannya, Firman juga memberikan panduan tentang strategi bagi para pemula yang baru belajar tentang pasar modal.

“Jangan sekadar ikut-ikutan,” ujarnya, sambil mengingatkan bahwa keputusan jual atau beli harus disesuaikan dengan risiko yang sudah diukur sebelumnya.

Firman merekomendasikan untuk pemula memulai investasi dengan mencicil saham, atau teknik Dollar-Cost Averaging (DCA). Ini berarti investor tidak harus membeli dalam jumlah besar sekaligus, tetapi mencicil untuk mendapatkan harga yang stabil di area support terkuat.

Peran Sekuritas dalam Menjaga Nilai GoTo Firman juga membahas peran para bandar dan analis sekuritas dalam menjaga saham GoTo tetap stabil. GoTo telah menjadi perhatian para investor besar karena jumlah transaksinya yang besar, sehingga menarik minat dari lembaga-lembaga sekuritas terkemuka seperti JP Morgan dan MNC Sekuritas. Firman mencatat bahwa salah satu alasan utama investor asing tertarik pada saham GoTo adalah karena sektor teknologi masih sangat relevan di Indonesia.

Saran bagi Pemula yang Ingin Bergabung di Kelas Trading Saham Untuk para pemula yang tertarik belajar lebih lanjut, Firman menawarkan kelas-kelas yang dirancang khusus bagi para investor dengan berbagai level. Di dalam kelas tersebut, peserta akan diajarkan mengenai dasar-dasar investasi, analisis saham, hingga teknik trading lanjutan seperti scalping, swing, dan day trading. Kelas ini dirancang untuk membantu peserta memahami langkah-langkah strategis dalam berinvestasi, dengan tujuan meraih keuntungan dari pasar modal.

Firman menyarankan para pemula untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi. Saham GoTo, dengan potensi bullish-nya, adalah pilihan menarik bagi mereka yang bersedia mengambil risiko yang terukur. Dengan belajar melalui kelas-kelas yang disediakan, investor diharapkan akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk membuat keputusan yang rasional dan menghindari emosi saat berinvestasi.

Bagi Anda yang tertarik untuk mulai berinvestasi di saham GoTo atau saham lain, penting untuk melakukan riset dan mempertimbangkan rekomendasi dari analis yang berpengalaman. Ingat, di dunia investasi, keberhasilan datang dengan pengetahuan dan strategi yang tepat.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam dunia saham, seringkali terdapat dinamika tersembunyi yang tidak selalu tampak jelas bagi investor ritel. Pergerakan ini umumnya dilakukan oleh pelaku besar yang dikenal sebagai “bandar.” Salah satu kasus terkini yang menarik perhatian adalah saham GOTO (GoTo Gojek Tokopedia), yang mengalami penurunan tajam, namun justru diborong oleh pihak tertentu secara senyap. Apakah ini sekadar kebetulan atau bagian dari strategi yang direncanakan dengan cermat? Siapa yang berada di baliknya, dan apa tujuan dari aksi ini? Artikel ini akan mengupas tuntas pergerakan saham GOTO yang terjadi pada Selasa, 24 September, sebagaimana dibahas oleh Firman Happy, MM. dalam kanal YouTube “Trading Saham.”

Pada 24 September, saham GOTO mengalami penurunan harga hingga ke level Rp 125 per lembar. Penurunan ini menarik perhatian banyak pihak, mengingat GOTO adalah salah satu perusahaan besar di Indonesia. Namun, di balik tren negatif ini, terdapat transaksi besar-besaran yang dilakukan oleh investor asing. Salah satu yang mencolok adalah pembelian bertahap oleh Alibaba, yang terus menambah kepemilikan saham GOTO, meskipun harga tengah menurun.

Dalam satu hari, volume transaksi saham GOTO mencapai Rp 228 miliar, jauh di atas rata-rata harian sekitar Rp 50 miliar. Pertanyaan utama yang muncul adalah: mengapa pihak asing memilih untuk membeli saham ini dalam jumlah besar meski sedang anjlok? Apakah ini bagian dari strategi panjang untuk menguasai pasar atau sekadar aksi spekulatif?

Sebuah informasi penting yang terungkap adalah adanya pembelian saham GOTO oleh bandar asing melalui broker besar seperti JP dan MG. Dalam tiga bulan terakhir, broker MG mencatatkan pembelian hingga Rp 1 triliun. Di dunia saham, ini dikenal sebagai “bandarmologi,” di mana bandar sengaja membeli saham dalam jumlah besar ketika harganya turun, dengan harapan menjualnya kembali saat harga naik.

Strategi ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan bertahap untuk menghindari kecurigaan investor ritel. Biasanya, pembelian secara diam-diam ini dapat memicu kenaikan harga secara bertahap, yang kemudian menarik minat investor awam untuk ikut membeli, tanpa mereka sadari bahwa bandar sudah memiliki keuntungan lebih dulu.

Pergerakan saham GOTO tidak dapat dipisahkan dari dinamika pasar yang lebih luas, terutama terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada saat IHSG menyentuh level psikologis 7.700, banyak investor melakukan cut loss. Namun, ketika IHSG kembali ke level 7.800, saham GOTO, bersama dengan saham-saham besar lainnya seperti BBRI dan BMRI, membantu mengangkat indeks ini.

GOTO menjadi salah satu kontributor utama dalam kenaikan IHSG, menempati peringkat ke-12 dalam daftar saham yang memberikan kontribusi terbesar. Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan saham GOTO tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan terkait erat dengan strategi besar yang melibatkan pelaku pasar institusional dan investor asing.

Secara historis, saham GOTO cenderung mengalami kenaikan pada kuartal terakhir tahun, terutama antara Oktober hingga Desember. Ini tampaknya berkaitan dengan strategi yang dilakukan oleh bandar untuk memanfaatkan momentum akhir tahun. Tahun lalu, broker MG memegang peran penting dalam kenaikan harga saham GOTO selama periode ini, dan pola yang sama tampaknya terulang pada tahun ini.

Dengan volume transaksi yang besar dan pembelian konsisten, ada indikasi bahwa para bandar sedang mempersiapkan kenaikan harga saham GOTO dalam beberapa bulan mendatang. Namun, investor perlu berhati-hati, karena meskipun ada peluang besar, volatilitas pasar juga meningkat pada akhir tahun.

Pergerakan saham GOTO menunjukkan adanya strategi cermat yang dilakukan oleh bandar besar untuk memanfaatkan penurunan harga saham dan melakukan pembelian besar-besaran secara diam-diam. Tujuannya adalah untuk mengakumulasi saham di harga rendah dan menjualnya kembali ketika harganya naik, memanfaatkan momentum akhir tahun yang biasanya dipenuhi harapan investor untuk meraih keuntungan.

Bagi investor pemula, penting untuk memahami bahwa pergerakan harga saham tidak selalu didorong oleh faktor fundamental semata. Ada kekuatan besar di balik layar yang bermain dengan strategi cermat. Oleh karena itu, memiliki pemahaman yang baik tentang bandarmologi, analisis teknikal, serta rencana trading yang jelas sangat penting untuk bertahan dan meraih keuntungan di pasar saham.

Jika melihat pola yang ada, kemungkinan besar saham GOTO akan mengalami kenaikan kembali. Namun, keputusan investasi harus selalu didasarkan pada riset yang mendalam, bukan sekadar mengikuti arus pasar. Disiplin dalam manajemen risiko dan kemampuan untuk melihat gambaran besar adalah kunci keberhasilan bagi investor di pasar saham yang dinamis ini.(c@kra)