22 Oktober 2026

SBY

MoneyTalk, Jakarta – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan presiden dan wakil presiden di Istana Negara menjadi sorotan publik. Agenda yang disebut-sebut sebagai upaya merajut persatuan nasional di tengah dinamika global itu dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.

Namun absennya Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, memantik spekulasi dan perdebatan politik. Sejumlah pengamat menilai ketidakhadiran Ketua Umum PDI Perjuangan itu tidak sekadar soal agenda, melainkan mencerminkan dinamika relasi politik yang belum sepenuhnya pulih.

Pertemuan para eks presiden dan wakil presiden di Istana dinilai sebagai langkah simbolik Presiden Prabowo dalam merespons situasi global yang penuh ketidakpastian. Isu geopolitik kawasan, tekanan ekonomi global, hingga dinamika domestik disebut menjadi latar penting di balik inisiatif tersebut.

Secara simbolik, kehadiran para mantan pemimpin negara menunjukkan kesinambungan dan soliditas elite nasional. Karena itu, absennya Megawati dinilai menciptakan ruang tafsir politik yang luas.

Pengamat politik Muhammad Huda menilai, ketidakhadiran Megawati tidak bisa dilepaskan dari relasi historisnya dengan sejumlah tokoh yang hadir. “Ada memori politik panjang antara Megawati dengan SBY dan Jokowi. Politik Indonesia tidak pernah sepenuhnya steril dari faktor personal,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).

Hubungan Megawati dan SBY memiliki sejarah kompetisi yang panjang sejak Pemilu 2004, ketika SBY mengalahkan Megawati dalam pemilihan presiden langsung pertama di Indonesia. Kompetisi tersebut bukan sekadar kontestasi elektoral, tetapi membentuk polarisasi politik yang terasa hingga bertahun-tahun kemudian.

Sementara relasi Megawati dengan Jokowi juga mengalami dinamika. Jokowi yang diusung PDI Perjuangan dalam Pilpres 2014 dan 2019 sempat dianggap sebagai kader ideologis partai. Namun menjelang akhir masa jabatannya, hubungan keduanya dinilai merenggang, terutama setelah arah politik Jokowi dalam Pilpres 2024 berbeda dengan garis partai.

Muhammad Huda menyebut, faktor-faktor inilah yang bisa menjelaskan sikap Megawati. “Dalam politik, memori dan persepsi soal loyalitas itu penting. Ketidakhadiran bisa dibaca sebagai pesan politik,” katanya.

Pernyataan bahwa Megawati bersikap “pendendam” memicu respons beragam. Sebagian menilai label tersebut terlalu simplistik dan cenderung mengabaikan kompleksitas strategi politik.

Dalam konteks elite nasional, ketidakhadiran dalam forum simbolik bisa memiliki banyak makna: menjaga jarak politik, menegaskan posisi oposisi, atau sekadar pertimbangan teknis dan agenda internal partai.

Muhammad Huda menilai Megawati dikenal sebagai figur yang tegas dan konsisten terhadap garis politik partainya. Jika ia memilih tidak hadir, itu bisa menjadi sinyal bahwa relasi politik dengan pemerintahan saat ini belum sepenuhnya menemukan titik temu.

Bagi Presiden Prabowo, mengundang seluruh mantan presiden dan wapres adalah bagian dari upaya membangun konsensus elite di tengah tekanan global—termasuk ketegangan geopolitik dan ancaman perlambatan ekonomi dunia.

Langkah ini juga bisa dibaca sebagai strategi memperkuat legitimasi pemerintahan dengan menunjukkan bahwa komunikasi lintas generasi kepemimpinan tetap terjalin.

Namun dinamika elite Indonesia memang sarat sejarah panjang rivalitas dan aliansi yang berubah-ubah. Politik nasional tidak hanya ditentukan oleh kepentingan jangka pendek, tetapi juga oleh relasi personal dan warisan kompetisi masa lalu.

Absennya Megawati memunculkan pertanyaan: apakah ini hanya episode kecil dalam dinamika politik, atau pertanda jarak yang semakin melebar?

Kata Muhammad Huda, dalam politik Indonesia, simbol sering kali lebih keras berbicara daripada pernyataan resmi. Publik kini menanti, apakah akan ada pertemuan tersendiri antara Prabowo dan Megawati, atau justru konfigurasi politik baru yang semakin menegaskan diferensiasi posisi PDI Perjuangan di luar lingkar kekuasaan.

“Yang jelas, pertemuan di Istana telah membuka kembali memori rivalitas lama sekaligus menguji kemampuan para elite untuk menempatkan kepentingan nasional di atas sentimen politik,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Umar Hasibuan atau yang akrab disapa Gus Umar, menyoroti kondisi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilainya masih aktif menjalani berbagai kegiatan setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.

Melalui pernyataannya, Gus Umar mempertanyakan kondisi kesehatan Jokowi sekaligus aktivitas yang masih dijalani di ruang publik. Ia membandingkan sikap Jokowi dengan dua mantan presiden sebelumnya, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri, yang menurutnya lebih menikmati masa purnatugas bersama keluarga serta aktivitas pribadi.

“Kenapa tidak meniru SBY dan Megawati yang menikmati masa pensiun dengan keluarga dan kegiatan yang menenangkan,” ujar Gus Umar dalam pernyataannya, Kamis (12/2/2026).

Ia juga menyinggung aktivitas Jokowi yang masih terlihat mendatangi kantor kepolisian, sehingga memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik. Menurutnya, figur mantan presiden semestinya dapat menjalani masa transisi kepemimpinan dengan lebih tenang tanpa terlalu sering muncul dalam dinamika politik maupun hukum.

Pernyataan tersebut pun memicu beragam respons dari masyarakat. Sebagian menilai kritik Gus Umar sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dalam demokrasi, sementara lainnya menilai aktivitas Jokowi pasca-menjabat merupakan hak pribadi selama tidak melanggar hukum.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Jokowi terkait komentar tersebut maupun kondisi kesehatannya. Namun sejumlah pengamat menilai wajar jika mantan presiden tetap memiliki aktivitas sosial, politik, atau kemasyarakatan mengingat pengaruh dan jaringan yang telah terbentuk selama masa kepemimpinannya.

Dinamika perbincangan publik mengenai peran mantan presiden setelah lengser memang kerap muncul di Indonesia. Sebagian memilih sepenuhnya mundur dari panggung politik, sementara yang lain tetap aktif dalam kegiatan sosial, kebangsaan, maupun organisasi masyarakat.

MoneyTalk, Jakarta – Waktu Sukarno-Hatta bersepakat dengan Jenderal Tojo pada 1942 untuk membantu Jepang dalam Perang Pasifik, bukan karena percaya janji Jepang akan memerdekakan Indonesia. Sama sekali tidak.

Yang Sukarno-Hatta yakin dan percaya adalah, negara Sakura ini cepat atau lambat akan kalah perang dalam menghadapi tentara sekutu. Maka itulah kedua peminpin nasional itu sepakat kolaborasi dengan Jepang.

Prabowo dan 7 negara Islam lainnya gabung dalam BoP bukan karena percaya sama Trump. Yang Prabowo percaya dan yakini adalah bahwa sekarang ini pilar-pilar tata dunia baru yang terbangun sejak akhir Perang Dunia II mulai rapuh dan mulai loncer sekrup sekrupnya dan engsel-engselnya. Terutama terkait Sistem Ekonomi dan Sistem Keuangan Global. Makanya bukan suatu kebetulan jika BoP dirilis saat pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss. Bukankah di sinilah pilar2 sistem ekonomi global dirancang? Berarti ini adalah penanda meski bukan pertanda.

Inilah yang dalam penglihatan geopolitik mantan presiden SBY situasi sekarang kok mirip mirip menjelang Perang Dunia I dan II. Jadi poin yang harus direspons bukan akan meletus PD III atau tidak. Melainkan merespons situasi jelang PD I dan PD II yang menurut saya sama gawatnya dengan meletusnya perang itu sendiri.

Sebab pemantik PD I maupun PD II kala itu meski tidak serupa tapi sama. Ketika pilar pilar tatanan dunia lama mulai lapuk dan jamuran, yang dikuti dengan konflik di antara negara negara besar sendiri, maka solusinya adalah dengan kekuatan senjata. Bukan lagi nyari solusi win win atau sama sama menang. Tapi menang menangan.

Dalam merespons konstelasi global yang naga naganya bakal tidak lagi sama seperti dulu lagi, para pemimpin tingkat nasional kita setelah era bung Karno dan pak Harto sayangnya cuma 3 yang secara serius melakukan telaah geopolitik: mendiang Gus Dur, SBY dan Prabowo.

Lantas apakah dengan itu Prabowo mampu membaca geopolitik internasional secara jitu sebagai dasar bergabung dengan BoP? Dalam permainan catur geopolitik, SBY maupun Prabowo bisa saja meleset dan salah hitung membaca dinamika permainan kekuatan dengan negara negara besar meski dalam membaca tren globalnya benar dan tepat.

Di sinilah kritik terhadap langkah strategis Prabowo dari seluruh pemangku kepentingan kebijakan luar negeri jadi penting. Hanya saja yang jadi basis kritik fari elemen-elemen mssyarakat maupun pemerintah yang sudah memutuskan gabung BoP harus satu frekwensi. Yaitu kesamaan cara pandang bahwa konstelasi global saat ini sudah tidak sama lagi seperti 50 tahun lalu. Sehingga menuntut respons melalui cara pandang baru dalam memandang potensi pergeseran kekuatan kekuatan global saat ini.

Dalam konsteks inilah, isu Kemerdekaan Paledtina dengan sendirinya merupakan salah satu isu dan masalah yang melekat dalam isu pergeseran global saat ini yang harus ditata ulang dalan rekonstruksi tatanan dunia baru mendatang.

Bukankah isu Palestina bermula saat Inggris menjanjikan zionisme Israel akan memberikan sebagian wilayah Palestina lewat Deklarasi Balfour pada saat Perang Dunia I 1917?. Bukankah berdirinya Israel 1948 atas dasar pembagian Palestina yangbtidak adil antara arab dan yahudi yang dimotori Inggris di PBB 1947 berlangsung saat berakhirnya Perang Dunia II?

Artinya, masalah Palestina yang runyam sampai sekarang sejatinya merupakan buah dari kesepakatan dan kongkalingkong antar negara-negara sesama Petang Dunia II. Palestina jadi obyek bagi bagi wilayah jajahan di kawasan Timur Tengah antara Inggris, Prancis, Italia dan Amerika Serikat. Baik di PD I maupun PD II.

Makanya menarik, terlepas BoP adalah prakarsa Trump, tapi Inggris, Prancis dan negara negara Uni Eropa dan NATO kok menolak ikutan. Sementara 8 negara Islam termasuk Indonesia, ikutan gabung. Bukankah ini sebuah anomali?

Nah ketika konstelasi global yang mulai kropos dan jamuran ini menjurus menuju konflik global yang bersifat ekstrem, maka persis langkah Sukarno-Hatta saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Memutuskan kerja sama dengan Jepang. Bukan karena percaya Jepang. Tapi merebut sitiuasi vakuum atau the interim period saat itu tiba. The interim period must be mine.

Ketika tujuan strategis adalah merebut masa transisi agar ada di dalam genggaman kita, maka kita harus ada di dalam pagar. Bukan cuma penonton pasif yang ada di stadion.

Di sinilah BoP diyakini sebagai sekoci darurat agar saat konstelasi global nengarah ke penyelesaian ekstrem, Indonesia dan negara negara yang berkepentingan dengan kemerdekaan Palestina dan perjuangan aspirasi negara negara berkembang umumnya, berada di dalam pagar alih alih di luar. Sebab saat konflik global bersifat ekstrem dan menang menangan alih alih win win, biasanya ditandai oleh mandulnya Liga Bangsa Bangsa jelang meletusnya PD II. Yang pastinya akan ditandai pula oleh mandulnya Perserikatan Bangsa Bangsa yang dibentuk pada 1945 pasca Perang Dunia II, jika suasana global menjurus ke situasi menuju konflik global ala PD III.

Karenanya langkah diplomatik pemerintah harus dikawal dan diawasi dengan kritik yang konstruktif. Masalah yang patut disayangkan adalah, umumnya kritik terhadap langkah strategis Prabowo terkait bergabungnya Indonesia di BoP seakan masalah Palestina sesuatu yang berdiri sendiri. Padahal keberadaan Israel sebagai negara bangsa sebagai buah dari kesepakatan bagi bagi daerah jajahan antar negara besar yang kelak merupakan persekutuan AS-Inggris-Prancis dalam formasi NATO dan Uni Eropa.

Masalah Palestina harus diselesaikan dan dituntaskan di hulu penyebabnya,, bukan di hilir. Makanya konstelasi global yang mulai rapuh dan jamuran inilah, bagaimanapun jugq merupakan momentum.

Repotnya adalah, para pengeritik BoP bukan mengeritik efektivitas strateginya Prabowo. Melainkan masih dalam pola.pikir dan cara pandang yang melihat konstelasi global masih seperti 50 tahun lalu.

Atau jangan jangan, sejatinya memang masih menikmati zona aman buah dari tatanan dunia pasca perang dunia dan perang dingin.

Penulis : Hendrajit, pengkaji geopolitik dan wartawan freelance.

MoneyTalk, Jakarta – Sebelum opini saya ini saya tulis, sebelumnya saya menulis opini singkat yang berjudul JOKOWI GENTAR TERHADAP SBY. Namun para Termul mengira saya sebagai pendukung SBY, dan saya disebutnya Kadrun pula oleh para Termul itu.

Saya berpikir, berarti benar kalau begitu, syarat utama untuk menjadi Termul pendukung Jokowi itu harus cuti nalar terlebih dahulu. Betapa tidak, mereka terlihat sama sekali tidak mengikuti perkembangan politik di negeri ini, jikapun mengikuti, mereka mengikutinya tanpa logika dan nalar yang sehat.

Bagaimana saya bisa dikatakan pendukung SBY, wong sebelumnya kami –di barisan Pak Moeldoko ketika itu–, bertarung habis-habisan melawan SBY dan AHY dalam konflik internal Partai Demokrat. Ketika itu posisi saya adalah Kepala Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Partai Demokrat pimpinan Jendral TNI (purn.) Moeldoko.

Saya juga dibilang oleh para Termul yang cuti nalar itu dengan sebutan Kadrun, padahal sampai detik ini belum ada seorangpun yang bisa membantah, bahwa yang pertamakali mencetuskan istilah Kadrun itu saya, bukan para Termul itu. Ini bisa dilacak dari postingan-postingan FB saya beberapa tahun yang lalu, sebelum orang lain mempopulerkan istilah itu.

Saya juga pernah menjadi salah satu dari team Kuasa Hukum Kementerian R.I, yang menghadapi gugatan dari HTI yang dibubarkan oleh pemerintah di PTUN Jakarta. Saya juga pernah menjadi salah satu team Kuasa Hukum Ahok, jadi melabeli saya dengan Kadrun, adalah kedunguan yang kasat mata, buta politik, tuna sejarah !.

Baiklah, sekarang saya akan mulai uraikan sedikit soal tema opini yang saya tulis dan terbaru ini, yakni barter politiknya SBY (Partai Demokrat) terhadap Kekuasaan Prabowo-Gibran;

Disaat Netizen mentertawakan kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran yang sangat lamban dan banyak alasan, dalam penanganan bencana ekologis banjir bandang di 3 Provinsi di Sumatera khususnya di Aceh, politisi-politisi pendukungnya yang piawai bermanuver politik, tiba-tiba menutupi ketidak mampuan Pemerintahan Prabowo-Gibran dalam menangani bencana ekologis itu dengan isue baru; Pilkada Tidak Langsung !.

Netizen (baik yang kontra maupun yang mendukung Jokowi, atau yang biasa disebut Termul itu), yang awalnya kompak dan ramai sekali mentertawakan Presiden Prabowo, kemudian berpindah tema pembicaraan dari bencana ekologis ke bencana demokrasi; Pilkada Tidak Langsung.

Pilkada Tidak Langsung berarti Pilkada yang tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih kembali oleh DPRD. Ini bencana dan penghiatan demokrasi, dimana rakyat yang haknya sudah banyak dirampas oleh penguasa, mulai dari hak berbicara kritis, hak hidup yang layak dll., sekarang hak satu-satunya yang masih dipunyainya, yakni hak untuk memilih Kepala Daerahnya sendiri mau dirampas juga.

Memperhatikan suara-suara perlawanan rakyat yang dahsyat itu, PDIP tampil kembali mengamankan dan memperjuangkan suara rakyat itu, dengan cara menolak adanya rencana Pilkada Tidak Langsung yang dicetuskan oleh Partai-Partai Politik pendukung Pemerintahan Prabowo-Gibran.

Partai Demokrat dibawah kepemimpinan anak dan bapaknya (AHY dan SBY), yang awalnya keberatan PILKADA dikembalikan pada DPRD, tiba-tiba berbalik arah, mendukung Pilkada Tidak Langsung. Ini prilaku politik plin-plan, tidak memiliki prinsip yang jelas !.

Saya dkk. Pro Demokrasi pasti akan melawannya habis-habisan, karena saya dkk. bukan type orang seperti Jokowi yang pengecut, baru digertak mau dibawa oleh SBY ke ranah hukum karena dianggap memfitnah, Jokowi langsung klarifikasi dan menjelaskan bahwa yang dia maksud ada kekuatan politik besar di belakang pergerakan Roy Suryo soal Ijazah Bodongnya itu bukan SBY.

Pertanyaannya kemudian, kenapa SBY (Partai Demokrat) tiba-tiba mendukung Pilkada Tidak Langsung?

Ini karena Partai Demokrat tidak ingin dianggap oleh Presiden Prabowo sebagai pembangkang, hingga Partai Demokrat dikeluarkan dari koalisi pendukung Prabowo-Gibran, yang berarti Partai Demokrat akan dilarang keras menikmati kue kekuasaan yang dibagi-bagikan oleh Presiden Prabowo !.

Partai Demokrat bukanlah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang terbiasa “puasa” kekuasaan. Mau di dalam maupun diluar kekuasaan, PDIP masih bisa bertahan, kuat menghadapi berbagai godaan dari nikmat dan lezatnya kue kekuasaan.

Partai Demokrat itu nyaris sama percis dengan Partai GOLKAR, PAN dll., yang tidak pernah tahan lapar, tidak tahan kalau tidak mendapatkan jatah jabatan, karena itu SBY (Partai Demokrat) melakukan barter politik; Partai Demokrat mau mendukung Pilkada Tidak Langsung, asal dia tetap diberi jabatan menteri dan berbagai pos jabatan lainnya.

Sekali lagi, kita telah diingatkan kembali oleh Mahatma Gandhi tentang Dosa Besar Politik:”Berniaga tanpa kerja keras, berpolitik tanpa prinsip !”.

Pak SBY, sadarlah ! Kembalilah pada barisan rakyat yang berpuluh tahun memperjuangkan Indonesia yang lebih demokratis dan beradab ! Jangan buta dan silau oleh godaan kekuasaan ! Sapere aude !

Penulis : Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Analis Politik, Aktivis ’98.

MoneyTalk, Jakarta – Advokat Ahmad Khozinudin, S.H., menegaskan bahwa polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo tidak ada kaitannya dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) maupun Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, upaya menyeret nama SBY dan Megawati dalam pusaran isu tersebut merupakan pengalihan isu dari substansi persoalan hukum yang sesungguhnya.

Ahmad Khozinudin yang juga Koordinator Non Litigasi Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi & Aktivis menilai narasi yang menyebut SBY sebagai “orang besar” di balik kritik terhadap ijazah Jokowi hanyalah asumsi liar tanpa dasar hukum.

“Kasus ijazah palsu Jokowi ini murni perkara hukum antara rakyat yang menuntut transparansi dokumen syarat kepemimpinan nasional. Tidak ada urusannya dengan SBY maupun Megawati,” kata Ahmad Khozinudin dalam keterangannya, Kamis (1/1/2026).

Ia menanggapi pernyataan Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat, Andi Arief, yang menyebut SBY mulai risih karena terus dikaitkan dengan isu ijazah palsu Jokowi hanya karena Roy Suryo pernah menjadi kader Partai Demokrat dan menjabat Menpora di era SBY.

Menurut Khozinudin, langkah SBY yang mempertimbangkan somasi hingga jalur hukum terhadap pihak-pihak yang menuduhnya sebagai dalang kasus tersebut adalah hak konstitusional setiap warga negara.

“Dalam kaidah hukum berlaku asas actori incumbit probatio, siapa yang mendalilkan maka wajib membuktikan. Kalau ada yang menuduh SBY berada di balik kasus ini, maka merekalah yang wajib membuktikan, bukan sekadar melempar narasi kosong,” tegasnya.

Khozinudin juga menyinggung sikap PDIP melalui politisinya, Dedi Sitorus, yang menyatakan Megawati tidak nyaman ikut diseret dalam isu tersebut. Ia menilai pernyataan Dedi sejalan dengan fakta politik bahwa Megawati bukan tipe tokoh yang bermain di belakang layar.

“Mega itu blak-blakan secara politik, bukan karakter ‘nabok nyilih tangan’. Jadi menyeret nama Megawati dalam kasus ini juga tidak berdasar,” ujarnya.

Khozinudin mengungkapkan, narasi keterlibatan SBY dan Megawati sempat mencuat dalam diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dipandu Karni Ilyas pada 4 Desember lalu. Dalam forum tersebut, sejumlah pihak secara terbuka menyebut nama SBY dan Megawati dalam pusaran isu ijazah palsu Jokowi.

“Saat itu saya tegaskan langsung, ini tidak ada urusan dengan Mega dan SBY,” katanya.

Lebih jauh, Khozinudin menilai penggiringan isu tersebut sebagai strategi playing victim dari kubu Jokowi untuk menghindari pembahasan pokok perkara.

“Kami di Tim Advokasi melihat ini sebagai upaya mengalihkan perhatian publik. Alih-alih membuka dokumen dan menyelesaikan persoalan hukum, justru sibuk membangun empati seolah-olah Jokowi adalah korban,” ujarnya.

Ia juga mengkritik pernyataan Jokowi yang mengaku akan memaafkan 12 orang terlapor dalam kasus ini, kecuali tiga nama. Menurut Khozinudin, pernyataan tersebut janggal karena justru pihak yang dilaporkan dan terancam pidana adalah Roy Suryo dan kawan-kawan.

“Siapa sebenarnya yang bersalah dan siapa korban? Yang dilaporkan itu Roy Suryo cs, kok bisa Jokowi merasa jadi korban dan bicara soal memaafkan?” sindirnya.

Khozinudin bahkan menyebut seharusnya Jokowi yang meminta maaf kepada rakyat Indonesia karena telah membiarkan polemik ijazah ini berlarut-larut dan menimbulkan kegaduhan nasional.

“Kalau mau jujur, Jokowi-lah yang semestinya meminta maaf kepada seluruh rakyat. Namun sekalipun meminta maaf, saya ragu apakah rakyat akan memaafkan, karena mayoritas publik kini sudah meyakini ijazah Jokowi bermasalah dan menuntut pertanggungjawaban,” pungkas Ahmad Khozinudin.

MoneyTalk,Jakarta – SAYA mendapat kado akhir tahun yang menarik, yaitu disomasi karena tulisan saya yang dimuat di beberapa media online nasional. Tak tanggung-tanggung, saya diberi waktu 5×24 jam, untuk menjawab somasi tersebut.

Saya dipaksa situasi, untuk membangun pola komunikasi dengan sahabat-sahabat senior menyikapi somasi tersebut; dengan jawaban yang unik juga, pertama, inilah dampak dari mereka yang sedang “surplus kekuasaan”, kedua, mereka sedang memamerkan gaya politik dengan “cara lain”.

Tak sabar menunggu 5 hari, saya mencoba membaca ulang tulisan saya yang pendek itu. Di bagian mana hingga menimbulkan “ketegangan” hingga saya disomasi?

Kini menyebut kata “Hasto” seperti lebah berdengung. Sebagaimana menyebut kata “Amril” di negeri junjungan Bengkalis. Apalagi menyebut “Muara Basung”. Padahal di Jakarta, menyebut “Teuku Umar, Cikeas, Kertanegara” terkait Megawati, SBY, atau Prabowo, itu hal biasa, meski juga berkelindan dengan neraca “surplus kuasa”.

Surplus kekuasaan, menjadi penanda bila demokrasi sejatinya berwatak kapitalis. Kotor, bergejolak, “tidak terkendali”, warna residu demokrasi borjuisi.

Hanya di negeri ini, “menulis” bukan menuliskan, dihadap-hadapkan dengan “somasi”. Varian baru demokrasi zombi.

Kata mereka, “Ini Medan, Bung!” Kata saya, “Kok, Jaka Sembung!”

Penulis : Agung Marsudi

MoneyTalk, Jakarta – Hal ini diungkapkan oleh pakar telematika yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes, melalui tulisannya yang diterima oleh MoneyTalk pada Senin, 16 September 2024. Dalam tulisan tersebut, Roy Suryo membandingkan penantian publik atas pengakuan jujur dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Budi Arie Setiadi (BAS), serta mantan Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka (GRR), dengan skenario drama klasik En attendant Godot (Menunggu Godot) karya Samuel Beckett. Drama ini menggambarkan dua karakter yang terus menunggu sosok bernama Godot, namun Godot tidak pernah datang, melambangkan penantian yang sia-sia dan tidak berujung.

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta, 7 September 2024 – Pemerintahan Presiden Joko Widodo akan meninggalkan beban utang yang sangat besar bagi pemerintahan baru. Menjelang transisi kekuasaan, angka utang Indonesia kian mengkhawatirkan dan diperkirakan mencapai Rp 9.000 triliun pada akhir masa jabatan Jokowi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan warisan utang pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hanya Rp 2.500 triliun pada tahun 2014.

(lebih…)