8 November 2026

Ubaid Matraji

MoneyTalk, Jakarta – Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyuarakan keprihatinan mendalam sekaligus kemarahan publik atas melonjaknya kasus keracunan massal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah daerah pada Januari 2026. Hingga pertengahan bulan, jumlah korban dilaporkan telah menembus lebih dari 1.000 anak sekolah.

Kasus keracunan paling mencolok terjadi di Kabupaten Grobogan dengan 658 korban, disusul Mojokerto sebanyak 261 anak, Semarang 75 anak, dan Kendari 66 anak. JPPI menilai peristiwa ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan cerminan kegagalan negara dalam melindungi keselamatan anak-anak di sekolah.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa tragedi ini tidak boleh direduksi menjadi sekadar data statistik.

“Yang terjadi hari ini bukan sekadar kelalaian teknis, ini adalah kegagalan negara melindungi nyawa anak. Lebih dari seribu anak keracunan hanya dalam hitungan hari, dan 658 di antaranya di satu kabupaten. Ini bukan angka statistik, ini tubuh-tubuh kecil yang tumbang di sekolah,” ujar Ubaid dalam pernyataan persnya, Senin (12/1).

Menurut JPPI, sikap pemerintah, khususnya Presiden dan Badan Gizi Nasional (BGN), menunjukkan kecenderungan memaksakan keberlanjutan program MBG tanpa evaluasi menyeluruh dan jaminan keamanan pangan yang ketat. Keselamatan anak dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama.

Lebih mengkhawatirkan, JPPI meyakini jumlah korban sesungguhnya jauh lebih besar dari yang tercatat secara resmi. Di lapangan, banyak sekolah, guru, orang tua, bahkan murid memilih bungkam karena takut mendapat tekanan dan intimidasi.

“Data yang muncul ke publik hanyalah puncak gunung es. Di lapangan, banyak sekolah, guru, orang tua, bahkan murid yang takut bersuara. Ada tekanan berlapis, dari sekolah ke guru, dari guru ke murid, bahkan dari SPPG atau dinas ke sekolah. MBG telah menciptakan iklim ketakutan,” tegas Ubaid.

JPPI menilai iklim pembungkaman ini justru lebih berbahaya daripada kasus keracunan itu sendiri. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk berbicara dan berpikir kritis, berubah menjadi ruang kepatuhan yang menekan.

“Jika anak-anak diajarkan untuk diam ketika sakit dan guru dipaksa menutup masalah demi citra program, maka yang sedang kita bangun bukan generasi kritis, melainkan generasi yang terbiasa tunduk. Pembungkaman kritik atas MBG sama dengan pembunuhan terhadap pendidikan itu sendiri,” lanjutnya.

Ubaid menegaskan, Program Makan Bergizi Gratis kini tidak lagi sekadar program pemenuhan gizi, tetapi telah menjelma menjadi alat kekuasaan yang menekan sekolah dan membungkam suara anak.

“Program apa pun tidak sah jika dibangun di atas risiko keracunan massal. Anak-anak bukan kelinci percobaan kebijakan,” pungkasnya.

Atas kondisi tersebut, JPPI mendesak pemerintah, khususnya BGN dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), untuk membuka ruang pelaporan yang benar-benar aman dan bebas intimidasi di setiap sekolah, menghentikan perlakuan terhadap siswa dan sekolah sebagai objek bisu kebijakan, serta menghentikan narasi manipulatif yang melabeli siswa kritis sebagai “tidak bersyukur”.

JPPI menegaskan, MBG dibiayai dari pajak rakyat, sehingga anak, orang tua, dan sekolah adalah pemilik sah program tersebut dan berhak menyuarakan kritik tanpa rasa takut.

MoneyTalk, Jakarta – Kritik pedas dilontarkan Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), dalam sebuah podcast yang tayang Jumat (10/10). Ia menuding keras bahwa Program Makan Bergizi Nasional (MBG) bukan hanya gagal menyehatkan anak-anak, tetapi justru mengancam keselamatan dan melanggar konstitusi negara!

“Program ini bukan program gizi, ini proyek politik! Uang rakyat dirampas, anak bangsa diracuni!” tegas Ubaid dengan nada tinggi.

Menurut Ubaid, pelaksanaan MBG di lapangan amburadul dan ugal-ugalan, bahkan banyak sekolah kebingungan soal pembuangan sisa makanan hingga muncul kasus keracunan massal di berbagai daerah. Ia mengaku prihatin karena para guru kini juga menjadi korban akibat diwajibkan mencicipi makanan sebelum diberikan ke siswa.

“Guru digaji Rp100 ribu, tapi disuruh jadi tester racun. Kalau gurunya keracunan, siapa yang ngajar?” sindirnya tajam.

MBG: Program Gizi atau Proyek Cuan?

Ubaid menilai akar masalah MBG adalah karena dijalankan tanpa aturan, tanpa indikator gizi yang jelas, dan tanpa pengawasan. Ia menyebut program ini “dikelola suka-suka Presiden”, hanya mengejar angka distribusi, bukan kualitas gizi atau keselamatan anak.

“Presiden cuma hitung berapa nasi kotak yang dibagikan, tapi lupa nanya: itu makanan bergizi atau racun?” katanya sarkastik.

JPPI, kata Ubaid, telah mencatat banyak laporan tentang dapur MBG yang tidak higienis, konflik kepentingan vendor, hingga potongan harga per porsi yang membuat kualitas makanan anjlok.

Langgar UUD 1945: Dana Pendidikan Disunat untuk MBG

Lebih serius lagi, Ubaid menyebut MBG mencaplok dana pendidikan sebesar Rp335 triliun, yang membuat porsi anggaran pendidikan merosot dari 20% menjadi 14% APBN.

“Itu maling konstitusi! Pasal 31 UUD 1945 jelas mengamanatkan sekurang-kurangnya 20% untuk pendidikan. Tapi karena MBG, tinggal 14%! Negara melanggar UUD sendiri,” ujarnya lantang.

JPPI bahkan berencana mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi atas Undang-Undang APBN 2026, yang dianggap inkonstitusional karena mengalihkan dana pendidikan untuk proyek MBG.

Putusan MK Dilanggar: Sekolah Gratis Bagi Semua Anak

Ubaid mengingatkan bahwa putusan MK Mei 2025 menegaskan sekolah tanpa dipungut biaya untuk seluruh anak Indonesia baik di negeri maupun swasta. Namun pemerintah, katanya, malah mengabaikan itu demi MBG.

“Biaya sekolah masih jadi beban orang tua. Negara seolah cuma peduli nasi kotak, bukan masa depan anak,” ucapnya geram.

JPPI menghitung bahwa untuk mewujudkan sekolah gratis nasional hanya butuh Rp75 triliun, jauh lebih kecil dari anggaran MBG Rp335 triliun.

Keracunan, Guru Jadi Korban, Anak Jadi Taruhan

Ubaid juga menyoroti bahaya kesehatan jangka panjang akibat keracunan makanan MBG. Berdasarkan konsultasi dengan dokter, efek racun bisa muncul berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah kejadian.

“Keracunan hari ini bukan berarti sembuh besok. Dampaknya bisa muncul tahun depan. Ini menyangkut nyawa anak-anak!” tegasnya.

JPPI mencatat, kini bukan hanya siswa, guru-guru honorer pun ikut keracunan karena diwajibkan mencicipi makanan MBG sebelum dibagikan.

Stop Semua Dapur MBG Sekarang!

Sebagai langkah konkret, Ubaid menuntut pemerintah menghentikan seluruh dapur MBG di Indonesia dan melakukan evaluasi total sebelum program dijalankan kembali.

“Harus di-off dulu semuanya! Audit, investigasi, dan perbaiki sistemnya. Jangan korbankan anak bangsa demi proyek politik,” pungkasnya.

JPPI juga mengusulkan agar jika program ini memang dilanjutkan, mekanismenya dimasukkan ke dalam dana BOS dan dikelola oleh kantin atau komite sekolah, bukan lewat vendor besar yang mengejar cuan.

Pendidikan Dilecehkan, Rakyat Dikorbankan

Ubaid menutup dengan pernyataan keras bahwa jika pemerintah tetap memaksakan MBG tanpa evaluasi, maka “Indonesia Emas 2045 hanyalah mimpi absurd.”

“Bagaimana mau emas kalau anak-anak enggak bisa sekolah dan yang sekolah malah diracuni?” katanya getir.

MoneyTalk, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai salah satu kebijakan unggulan pemerintahan Prabowo justru menuai badai kritik tajam.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, dalam podcast yang tayang Jumat (10/10), menyebut program tersebut “enggak bergizi dan enggak gratis”, bahkan menuding ada indikasi proyek besar yang tak punya dasar hukum.

“Sampai hari ini MBG itu masih jadi nama aja. Tapi di lapangan enggak bergizi, enggak gratis. Kami temukan nasi sama tempe tipis, ada makanan basi, bahkan belatung. Ini bukan program gizi, tapi program bahaya,” tegas Ubaid.

10.842 Anak Keracunan, 1 Diduga Tewas

JPPI mencatat, hingga 4 Oktober 2025, sedikitnya 10.842 anak mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG. Bahkan, satu siswi SMKN 1 Cihampelas bernama Bunga diduga meninggal dunia setelah makan menu MBG yang sama dengan teman-temannya.

“Kami laporkan kasus ini ke Komnas HAM agar ada investigasi independen. Dinas Kesehatan terlalu cepat bilang bukan karena MBG, padahal gejala, waktu, dan makanan yang dikonsumsi sama persis,” ungkap Ubaid.

Program Ratusan Triliun Tanpa Payung Hukum

Ubaid menyebut MBG bukan program negara yang sah, karena tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Padahal, anggarannya fantastis: Rp335 triliun, atau 40% dari total anggaran pendidikan nasional.

“Program sebesar itu enggak punya undang-undang, enggak ada peraturan presiden, enggak ada peraturan turunan apa pun. Ini bukan program, ini proyek. Dan proyek sebesar itu sangat rawan diselewengkan,” ujar Ubaid.

Menurut JPPI, hanya 1,9% dapur MBG yang memiliki sertifikasi higienis. Selebihnya, 98% dapur dinilai tak layak dan tidak memenuhi standar keamanan pangan.

Presiden Dianggap Tak Punya Perspektif Perlindungan Anak

Menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kasus keracunan “hanya 0,0017% dari total 30 juta porsi”, Ubaid menyebut pernyataan itu melukai hati rakyat.

“Satu anak keracunan saja tanggung jawab negara. Ini 10 ribu lebih, bahkan ada yang meninggal. Kok malah bilang 0,0017%? Itu seperti menyepelekan nyawa anak-anak,” ujar Ubaid dengan nada geram.

Ia menegaskan, keracunan massal bukanlah ‘kecelakaan kecil’, tapi kegagalan sistemik yang menyangkut hak asasi manusia dan perlindungan anak.

Konflik Kepentingan dan Dugaan Bisnis Proyek

JPPI menemukan banyak dapur MBG dikelola oleh aparat penegak hukum dan politisi, termasuk 400 dapur oleh TNI dan 600 dapur oleh Polri, serta beberapa dikelola oleh anggota DPR/DPRD.

“Ini conflict of interest! Bagaimana mungkin aparat penegak hukum jadi pelaku usaha MBG, lalu diawasi oleh dirinya sendiri?” kata Ubaid.

“Kalau dapur milik polisi, siapa yang menegakkan hukum kalau ada pelanggaran? Enggak bisa! Makanya semua dapur harus ditutup dulu dan diaudit total.”

Ubaid juga menuding adanya pemotongan harga dan manipulasi bahan pangan. Menu bergizi yang dijanjikan berubah jadi semangka setipis kartu ATM, telur secuil, dan nasi tanpa lauk.

MBG Tidak Menolong UMKM, Justru Matikan Ekonomi Lokal

Meski pemerintah menyebut MBG memutar ekonomi rakyat, JPPI menemukan fakta sebaliknya:

kantin sekolah tutup, UMKM sekitar sekolah gulung tikar, dan hanya pemasok besar yang diuntungkan.

“Ekonominya bukan ekonomi rakyat, tapi ekonomi tengkulak besar. UMKM di pasar malah mati. Jadi kalau bilang program ini menumbuhkan ekonomi akar rumput, itu bohong besar,” tegas Ubaid.

JPPI: Hentikan Dulu, Audit Total!

Ubaid Matraji menutup dengan desakan keras agar Presiden segera menghentikan sementara seluruh dapur MBG, dan melakukan audit menyeluruh terhadap pengelola, anggaran, dan keamanan pangan.

“Kami minta semua dapur MBG ditutup total. Jangan main-main dengan nyawa anak-anak. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi sudah bisa masuk ranah pidana,” ujarnya.

Menurut JPPI, setelah penutupan sebagian dapur, jumlah korban justru meningkat menjadi 1.833 anak dalam seminggu terakhir, membuktikan evaluasi setengah hati justru memperparah masalah.

Kasus MBG kini menjadi gelombang protes nasional. Banyak orang tua murid melaporkan anaknya keracunan, dan sebagian sekolah menolak menerima makanan MBG  namun terpaksa karena ada ancaman pemutusan bantuan.

Surat edaran dari BGN yang meminta orang tua menandatangani pernyataan tidak menuntut bila anak keracunan makin memperburuk kepercayaan publik.

“Surat itu ada kop resmi BGN. Itu mencerminkan betapa negara seolah cuci tangan. Kalau begini caranya, rakyat kehilangan kepercayaan,” tutup Ubaid.