MoneyTalk.id,Jakarta – Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Media Wahyudi Askar melontarkan kritik tajam terkait penggunaan anggaran negara dan pengelolaan sumber daya alam. Ia mempertanyakan kebijakan pembangunan ketika di satu sisi terdapat pengusaha dengan kekayaan sangat besar, sementara negara justru mengeluarkan anggaran dalam jumlah ratusan triliun rupiah.
Media Askar menyinggung Presiden Prabowo Subianto dalam pernyataannya. Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan keberadaan perusahaan tambang batu bara yang menurutnya memiliki kemampuan finansial besar, tetapi persoalan akses masyarakat melalui pembangunan jembatan belum juga terselesaikan.
“Ketika ada seorang manusia dengan harta Rp2 triliun bernama Prabowo Subianto yang sangat kaya raya, kemudian justru menggunakan uang negara, membuang-buang uang negara ratusan triliun rupiah di seberang sungai itu perusahaan tambang batu bara,” ujar Media Askar yang tersebar di media sosial, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, perusahaan tambang yang memiliki kemampuan finansial besar semestinya dapat ikut membangun infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
“Mereka punya uang yang sangat banyak sekali yang seharusnya bisa bikin jembatan,” katanya.
Media kemudian mempertanyakan alasan pembangunan jembatan yang menurutnya tidak kunjung terealisasi. Ia bahkan mengaitkan akses tersebut dengan kemungkinan terbukanya aktivitas perusahaan tambang yang berada di seberang sungai.
“Tapi tahu enggak kenapa tidak pernah bisa dibikin jembatan? Karena kalau dibikin jembatan ke seberang sini, kemudian bisa lebih dekat ke sini, ya naik motor, itu akan ketahuan perusahaan tambang batu bara yang ada di seberang sungai itu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan kritik Media terhadap pola pengelolaan anggaran publik dan sumber daya alam. Ia menyoroti pertanyaan yang lebih luas mengenai siapa yang memperoleh manfaat dari kekayaan alam dan siapa yang menanggung biaya pembangunan infrastrukturnya.
Media Wahyudi Askar sendiri merupakan dosen pada Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM. Kepakarannya antara lain mencakup kemiskinan dan ketimpangan, keadilan fiskal dan energi, serta evaluasi kebijakan publik.
Dalam sejumlah pernyataan publik sebelumnya, Media juga dikenal aktif mengkritisi persoalan ketimpangan ekonomi, kebijakan fiskal, serta pengelolaan sumber daya alam. Profil resminya mencatat bahwa ia merupakan akademisi sekaligus peneliti yang banyak bergerak dalam isu keadilan fiskal dan transformasi ekonomi.





