MoneyTalk.id,Jakarta – Aktivis media sosial Ferry Koto melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Prabowo Subianto menyusul polemik pernyataannya yang menyebut sejumlah pakar terlalu pintar hingga menjadi “goblok”.
Ferry menyayangkan sikap pihak-pihak yang justru menuding orang lain memelintir pernyataan tersebut. Menurutnya, rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan secara jelas ucapan Prabowo dan tidak mengalami penyuntingan sebagaimana yang dituduhkan.
Melalui akun media sosialnya, Ferry menyindir pihak yang merasa paling memahami persoalan, tetapi enggan mengakui perkataan yang telah disampaikan.
“Wedan.. Orang lain pula yg dituduh memplintir. Padahal videonya tersebar, tak diedit, ‘Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya jadi goblok’,” tulis Ferry, Selasa (29/9/2026).
Ia juga menyarankan agar persoalan tersebut diselesaikan dengan cara sederhana, yakni mengakui kekeliruan dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik, bukan justru menyalahkan orang lain.
“Wong tinggal minta maaf, ndak usah nuduh kuping orang jika lidah sendiri tak bisa kontrol pakkk. Malu saya,” lanjutnya.
Pernyataan Ferry tersebut menambah panjang respons publik terhadap ucapan Prabowo yang menjadi perbincangan setelah disampaikan dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (18/9/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan sindiran kepada sejumlah pakar yang menurutnya melontarkan tuduhan atau fitnah terhadap dirinya.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” ujar Prabowo sebagaimana dikutip sejumlah media nasional.
Presiden kemudian menekankan pentingnya kejujuran intelektual atau intellectual honesty bagi kalangan cendekiawan. Menurutnya, kepakaran harus disertai tanggung jawab moral dan tidak digunakan untuk menyampaikan tuduhan yang tidak berdasar.
Namun, pernyataan tersebut menuai beragam tanggapan. Sejumlah pihak menyoroti pilihan kata Presiden, sementara pihak lain menempatkannya sebagai kritik terhadap pakar yang dinilai tidak menyampaikan analisis secara jujur.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, misalnya, menyoroti pernyataan tersebut dari sisi hubungan pemerintah dengan kalangan akademisi dan pakar. Ia menilai kajian ilmiah dan masukan para ahli tetap diperlukan dalam proses perumusan kebijakan publik.
Di tengah perdebatan itu, kritik Ferry Koto menyoroti persoalan lain, yakni tanggung jawab seorang pejabat publik dalam menyampaikan pernyataan serta merespons reaksi masyarakat.
Bagi Ferry, ketika sebuah pernyataan telah terekam dan tersebar luas, polemik semestinya tidak dialihkan menjadi tuduhan bahwa orang lain salah mendengar atau memelintir ucapan.
Persoalan tersebut pada akhirnya menjadi perdebatan terbuka mengenai etika komunikasi publik, tanggung jawab atas perkataan, serta bagaimana seorang pemimpin merespons kritik dan reaksi masyarakat.
Polemik ini sekaligus memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap setiap pernyataan Presiden, terutama ketika disampaikan dalam forum resmi dan kemudian menyebar luas melalui media sosial.





