7 November 2026

Alvin Lie

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat kebijakan publik Alvin Lie menyoroti praktik penegakan hukum yang dinilainya mengabaikan fungsi perlindungan masyarakat dari tindak pidana seperti pencurian, penjambretan, begal, hingga perampokan. Sorotan itu disampaikan Alvin melalui pernyataannya di media sosial, menanggapi pemberitaan kasus pemilik toko yang justru menjadi tersangka setelah menangkap pelaku pencurian.

“Penegakan hukum macam apa ini? Abai fungsi-fungsi perlindungan masyarakat dari tindak pidana pencurian, jambret, begal, rampok,” tulis Alvin, Kamis (5/2/2026).

Ia juga mempertanyakan dugaan keberpihakan aparat penegak hukum kepada pelaku kejahatan. “Kenapa Polri makin jelas berpihak pada pelaku pencurian/jambret? Apakah ada setoran dari para kriminal?” lanjutnya.

Pernyataan tersebut merujuk pada pemberitaan kasus di Deli Serdang, Sumatera Utara, di mana seorang pemilik toko yang menjadi korban pencurian justru ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan. Kasus ini dinilai memiliki kemiripan dengan peristiwa di Sleman, Yogyakarta, yang sebelumnya juga memicu perdebatan publik mengenai rasa keadilan dalam penanganan perkara kriminal.

Sorotan Alvin Lie menambah daftar kritik masyarakat terhadap kinerja aparat dalam menangani kejahatan jalanan serta perlindungan terhadap korban. Sejumlah warganet turut mempertanyakan standar penegakan hukum, terutama ketika korban justru berujung pada proses pidana.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait tudingan keberpihakan yang disampaikan Alvin Lie. Namun, polemik ini kembali memunculkan desakan agar penegakan hukum lebih mengedepankan rasa keadilan dan perlindungan bagi masyarakat sebagai korban tindak kriminal.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat transportasi sekaligus pegiat kebijakan publik Alvin Lie menyoroti keras insiden dihentikannya operasional Bus TransJakarta demi memberi jalan bagi iring-iringan mobil pribadi yang dikawal aparat kepolisian.

Menurut Alvin, tindakan tersebut mencederai prinsip dasar pelayanan publik, karena transportasi massal yang digunakan ribuan warga justru dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang.

“Bus TransJakarta itu sarana transportasi publik. Ketika dihentikan demi mobil pribadi yang dikawal, ini menunjukkan keberpihakan yang keliru,” ujar Alvin Lie dalam pernyataannya, Selasa (3/2/2026).

Ia menilai, praktik pengawalan berlebihan kerap membuat aparat terlihat “gagah dan perkasa” dalam melayani pihak yang dikawal, namun lupa bahwa gaji dan kewenangan mereka bersumber dari rakyat.

“Gagah perkasa mengabdi kepada yang dikawal, tapi lupa bahwa rakyat yang membayar gajinya,” sindir Alvin.

Lebih jauh, Alvin mengingatkan agar kepolisian tidak mengabaikan akumulasi kemarahan publik. Ia menyinggung peristiwa gejolak sosial yang terjadi pada akhir Agustus 2025 lalu sebagai pelajaran penting tentang dampak ketidakadilan dan arogansi kekuasaan di ruang publik.

“Jangan sampai aparat lupa seperti apa wajah kemarahan rakyat ketika rasa keadilan dilanggar,” tegasnya.

Kritik ini turut diarahkan kepada Divisi Humas Polri agar tidak hanya fokus pada pencitraan, tetapi juga menjelaskan secara terbuka standar operasional pengawalan dan memastikan prioritas tetap diberikan kepada kepentingan publik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait alasan penghentian Bus TransJakarta dalam peristiwa tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan tajam kembali dilontarkan oleh pemerhati kebijakan publik, Alvin Lie, menanggapi wacana efisiensi anggaran negara yang kerap dijadikan alasan untuk memangkas berbagai pos pembiayaan demokrasi, termasuk penyelenggaraan pemilu.

Menurut Alvin Lie, jika alasan efisiensi benar-benar dijadikan pijakan utama, maka seharusnya kebijakan tersebut dijalankan secara total dan konsisten, bukan setengah-setengah.

“Kalau memang mau efisien, sekalian saja tidak perlu ada Pemilu. Jangan setengah-setengah. Totalitas dong,” ujar Alvin Lie dalam pernyataannya yang beredar luas di media sosial, Rabu (31/12/2025).

Ia kemudian melontarkan sindiran keras dengan menyebut bahwa konsep efisiensi ekstrem justru akan membawa Indonesia menjauh dari sistem demokrasi.

“Presiden dan Wakil Presiden seumur hidup saja. Jadikan Raja atau Kaisar,” katanya dengan nada satire.

Tak berhenti di situ, Alvin Lie juga menyindir keberadaan lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Menurutnya, jika efisiensi dijadikan alasan utama, maka lembaga legislatif pun dianggap tidak lagi relevan.

“Tidak perlu ada DPR, DPD, MPR, DPRD,” lanjutnya.

Dalam skenario satir tersebut, seluruh pejabat eksekutif daerah hingga kementerian cukup ditunjuk langsung oleh Presiden — atau dalam istilah Alvin Lie, oleh “Raja/Kaisar”.

“Menteri, Gubernur, Bupati, dan Wali Kota ditunjuk langsung oleh Presiden. Pasti sangat hemat, sangat efisien,” ucapnya.