MoneyTalk, Jakarta – Pengamat transportasi sekaligus pegiat kebijakan publik Alvin Lie menyoroti keras insiden dihentikannya operasional Bus TransJakarta demi memberi jalan bagi iring-iringan mobil pribadi yang dikawal aparat kepolisian.
Menurut Alvin, tindakan tersebut mencederai prinsip dasar pelayanan publik, karena transportasi massal yang digunakan ribuan warga justru dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang.
“Bus TransJakarta itu sarana transportasi publik. Ketika dihentikan demi mobil pribadi yang dikawal, ini menunjukkan keberpihakan yang keliru,” ujar Alvin Lie dalam pernyataannya, Selasa (3/2/2026).
Ia menilai, praktik pengawalan berlebihan kerap membuat aparat terlihat “gagah dan perkasa” dalam melayani pihak yang dikawal, namun lupa bahwa gaji dan kewenangan mereka bersumber dari rakyat.
“Gagah perkasa mengabdi kepada yang dikawal, tapi lupa bahwa rakyat yang membayar gajinya,” sindir Alvin.
Lebih jauh, Alvin mengingatkan agar kepolisian tidak mengabaikan akumulasi kemarahan publik. Ia menyinggung peristiwa gejolak sosial yang terjadi pada akhir Agustus 2025 lalu sebagai pelajaran penting tentang dampak ketidakadilan dan arogansi kekuasaan di ruang publik.
“Jangan sampai aparat lupa seperti apa wajah kemarahan rakyat ketika rasa keadilan dilanggar,” tegasnya.
Kritik ini turut diarahkan kepada Divisi Humas Polri agar tidak hanya fokus pada pencitraan, tetapi juga menjelaskan secara terbuka standar operasional pengawalan dan memastikan prioritas tetap diberikan kepada kepentingan publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait alasan penghentian Bus TransJakarta dalam peristiwa tersebut.



