30 Oktober 2026

Basuki Tjahaja Purnama

MoneyTalk.id,Jakarta – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani, menyampaikan pandangan kontroversial mengenai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai Prabowo sebaiknya turun dari jabatannya apabila kondisi politik dan pemerintahan dinilai tidak lagi memadai. Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut harus ditempuh secara damai dan konstitusional, bukan melalui kekerasan.

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan pergantian kepemimpinan nasional sebagai isu yang perlu dibahas melalui mekanisme demokrasi. Saiful menegaskan, dukungan publik terhadap gagasan pergantian presiden tidak boleh diterjemahkan sebagai pembenaran untuk menggunakan cara-cara kekerasan.

“Saya pernah menyatakan kalau keadaannya seperti ini lebih baik Pak Prabowo itu turun saja. Kalau publik bilang bisa, Pak, ayo kita turunkan. Dengan syarat tadi yang konstitusional, artinya harus damai,” kata Saiful di Podcast Forum Keadilan Madilog, Senin (26/10/2026).

Ia menekankan bahwa apabila pergantian kepemimpinan tidak dapat dilakukan secara damai, langkah tersebut tidak semestinya dipaksakan.

“Kalau dengan kekerasan, ya itu bukan. Kalau kita tidak mampu dengan cara damai, ya jangan,” ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kritik terhadap pemerintahan Prabowo, menurut Saiful, harus tetap berada dalam koridor demokrasi. Perubahan kepemimpinan tidak cukup hanya didorong oleh ketidakpuasan politik, tetapi juga harus memperhatikan prosedur hukum dan konstitusi yang berlaku.

Saiful juga menyoroti persoalan calon pemimpin alternatif apabila Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat kritik. Menurut dia, kritik terhadap pemerintahan harus diikuti pembahasan mengenai siapa yang memiliki kapasitas untuk memimpin Indonesia.

Dalam pembicaraan mengenai kualitas calon pemimpin, Saiful menyebut sejumlah nama yang dinilai layak dipertimbangkan, di antaranya Mahfud MD, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Anies Baswedan. Ia juga menyinggung nama-nama lain dalam penilaian terhadap calon pemimpin nasional.

Saiful menggambarkan bahwa penilaian terhadap calon pemimpin tidak bisa dilepaskan dari sejumlah kriteria, termasuk kapasitas intelektual dan kualitas kepemimpinan. Ia menyinggung mekanisme penilaian yang melibatkan kalangan berpendidikan doktor maupun profesor.

“Kalau saya mengkritik Pak Prabowo, mengkritik Gibran, alternatifnya siapa? Ada Pak Mahfud, ada Ahok, Anies,” ujarnya.

Saiful turut mengkritik cara partai politik menentukan figur yang akan diusung sebagai pemimpin nasional. Ia menilai pertimbangan partai tidak selalu sama dengan ukuran kualitas yang digunakan kalangan intelektual.

Dalam pandangannya, partai politik mempunyai kriteria tersendiri dalam menentukan calon pemimpin. Ia menyinggung persoalan mahar politik dan berbagai pertimbangan internal yang dapat memengaruhi keputusan pencalonan.

“Partai pun sadar butuh pemimpin yang bagus. Tapi kenyataannya mereka juga sadar enggak gitu,” kata Saiful.

Pernyataan itu menyentuh persoalan lama dalam demokrasi elektoral Indonesia, yakni hubungan antara kualitas calon, kekuatan modal politik, jaringan partai, popularitas, dan peluang memenangkan pemilihan.

Dalam sistem pemilihan presiden, seorang tokoh tidak cukup hanya memiliki kapasitas pribadi. Ia juga membutuhkan dukungan partai politik atau gabungan partai yang memenuhi persyaratan pencalonan. Akibatnya, figur yang dianggap kompeten oleh sebagian kalangan belum tentu memperoleh dukungan politik yang memadai.

Saiful juga menyinggung keputusan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang memilih Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014.

Ia mempertanyakan mengapa Jokowi yang dipilih, bukan Puan Maharani atau Megawati sendiri. Pertanyaan itu berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin partai menentukan figur yang dianggap paling tepat untuk maju dalam kontestasi nasional.

“Kenapa Pak Jokowi jadi presiden? Apakah mahar? Pak Jokowi bukan orang kaya? Bukan juga darah biru partai. Kenapa tidak Puan? Atau kenapa enggak Ibu Mega sendiri? Jokowi yang dipilih oleh Ibu Mega,” demikian inti pertanyaan yang disampaikan Saiful.

Jokowi memang bukan berasal dari keluarga elite politik nasional. Sebelum menjadi presiden, ia dikenal melalui kiprahnya sebagai Wali Kota Solo dan kemudian Gubernur DKI Jakarta. Popularitasnya meningkat seiring pemberitaan mengenai gaya kepemimpinan dan aktivitas blusukan yang menjadi ciri khasnya.

Megawati kemudian memberikan dukungan politik kepada Jokowi untuk maju dalam Pilpres 2014. Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla dan berhasil memenangi pemilihan tersebut, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa pertimbangan dalam pencalonan presiden tidak selalu berpusat pada garis keturunan politik atau kekayaan pribadi. Elektabilitas, citra publik, strategi partai, dan perhitungan peluang kemenangan juga dapat memainkan peran penting.

MoneyTalk, Jakarta – Tantangan Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok sebagai mantan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) periode 25 November 2019 hingga 2 Febuari 2024, yang telah menyatakan di berbagai media akan membuka modus operandi pengadaan minyak mentah, BBM, LPG dan aditif serta lainya terkait kasus dugaan permainan pengadaan minyak periode 2018 hingga 2023 yang sedang disidik oleh Pidsus Kejagung, jika dia dipanggil Tim Pidsus harusnya perlu diapresiasi dan didukung penuh.

Demikian diutarakan Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, Minggu (2/3/2025) yang juga merupakan salah satu peserta demo 212 pada tahun 2016 silam.

“Sehingga jika ada pihak-pihak yang skeptis atau bahkan menyerang Ahok dengan menyatakan kenapa sekarang Ahok baru bicara, dulu ngapian saja, maka patut diduga orang tersebut tak paham bagaimana kondisi Ahok semasa menjabat sebagai Komut Pertamina yang telah dikeroyok banyak pihak di internal Pertamina maupun pihak eksternal,” ungkap Yusri.

Maka, lanjut Yusri, pihaknya perlu memberikan beberapa catatan khusus. Di antaranya, ia sangat percaya terhadap kredibilitas Ahok sebagai Komut Pertamina.

“Selama dia menjabat sebagai Komut Pertamina, ada sekitar 50 surat CERI dan pesan wa yang kami sampaikan langsung ke nomor whatsapp Ahok terkait temuan kami atas dugaan penyimpangan proses bisnis dari hulu ke hilir di Pertamina Group, ternyata tidak lebih dari 24 jam semua pertanyaan CERI telah direspon dengan baik dengan tindak lanjut untuk memperbaikinya. Kami sangat mengapresiasinya,” ungkap Yusri.

Selain itu, imbuh Yusri, berdasarkan hal-hal tersebut, selama CERI mengamati proses bisnis Pertamina sejak tahun 2014 hingga 2024, maka CERI dengan berani menyatakan bahwa Ahok adalah Komisaris Utama Pertamina terbaik dalam mengawasi kinerja Pertamina agar menjadi baik, meskipun banyak kebijakan dia tak jalan di dalam pelaksanaanya, sebab terkesan Kementerian BUMN juga tak sejalan dengan konsep Ahok dalam memperbaiki proses bisnis Pertamina agar lebih transparan dan akuntabel.

“Kami berharap Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung untuk segera mengundang Basuki Tjahaja Purnama untuk mengungkap apa yang dia ketahui agar semakin terang benderang peristiwa pidana yang sudah berhasil diungkap oleh kerja profesional penyidik Pidsus Kejagung,” beber Yusri.

Yusri mengatakan, CERI sangat berharap Ahok berani mengungkap di hadapan Penyidik Pidsus Kejagung apa isi pembicaraan dalam pertemuan di rumah Ricardo Galael sekitar tahun 2022 – 2023 yang katanya dihadiri utusan 2khusus yang sangat berpengaruh di kementerian agar Ahok tutup mata dalam proses bisnis pengadaan minyak mentah dan BBM.

“Saat itu katanya Ahok menolak mentah-mentah ajakan itu yang membuat semua kecewa atas sikap Ahok tersebut. Keberanian dan kejujuran Ahok sangat dinanti oleh rakyat Indonesia agar bisa mengungkap benang merah bagan struktur hasil pemetaan orang-orang yang diduga terlibat dalam proses bisnis impor minyak di Pertamina telah beredar luas di media sosial. Sekali layar terkembang surut kita berpantang,” pungkas Yusri.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Success Before 30 pada Selasa (24/09), isu kebijakan pajak yang semakin ketat menjadi topik utama. Di tengah ketidakstabilan ekonomi, kebijakan ini menjadi beban bagi masyarakat, terutama para karyawan. Pajak berlapis yang diterapkan oleh pemerintah tidak hanya memotong pendapatan yang sudah terbatas, tetapi juga memperparah situasi ekonomi individu. Bagi banyak orang, kebijakan ini terasa seperti negara yang “memalak” rakyatnya.

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dalam wawancara tersebut, menekankan pentingnya kesadaran masyarakat akan peran politik dan kebijakan publik terhadap kehidupan mereka. Menurutnya, rakyat seringkali menjadi pihak yang menanggung beban terbesar dalam berbagai aspek, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga kebijakan pajak yang menekan.

“Warga sudah membayar pajak dalam berbagai bentuk—setiap kali membeli barang, bekerja, bahkan saat membangun rumah. Namun, ketika mereka tua, negara seperti lepas tangan,” ujar Ahok, mengkritik ketidakadilan distribusi manfaat dari uang pajak yang sudah dikumpulkan.

Pajak yang Terus Menggerus Penghasilan Karyawan

Pajak penghasilan adalah salah satu sumber utama pendapatan negara, namun bagi karyawan, potongan ini kerap terasa memberatkan. Terutama karena gaji mereka seringkali tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selain pajak penghasilan, karyawan juga dibebani Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan pada barang-barang konsumsi, termasuk produk-produk pokok seperti makanan, minuman, dan barang rumah tangga.

Ahok menyoroti bahwa pemerintah terus memberlakukan pajak tambahan pada berbagai sektor. Bahkan pada saat membeli rumah atau kendaraan, yang dikenai pajak properti atau pajak kendaraan bermotor.

“Bahkan ketika kita tua dan sudah berhenti bekerja, pajak tetap menghantui. Negara seharusnya menyediakan sistem yang memungkinkan pensiunan hidup layak tanpa terbebani pajak berlebih,” ujarnya.

Ketidakadilan ini juga terlihat dari bagaimana pejabat publik hidup dalam kemewahan yang tidak sebanding dengan gaji resmi mereka. Ahok mempertanyakan bagaimana dengan gaji yang kecil, seorang pejabat bisa memiliki rumah mewah dan mobil mahal.

“Kesenjangan ini memperlihatkan bahwa kebijakan perpajakan tidak adil dan korupsi masih menjadi masalah besar di negara kita,” tegasnya.

Kondisi Ekonomi Kelas Menengah yang Kian Tertekan

Bagi kelas menengah, kebijakan pajak yang semakin berat memperparah kondisi ekonomi. Penghasilan yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti membeli makanan, membayar pendidikan anak, atau biaya kesehatan, terkikis oleh lapisan pajak yang bertubi-tubi. Inflasi yang terus merangkak naik hanya memperburuk situasi, membuat banyak karyawan merasa semakin tertindas oleh kebijakan pemerintah.

Ahok membandingkan kondisi Indonesia dengan negara maju seperti Singapura. Di mana warga tidak khawatir tentang pajak yang tinggi karena mendapatkan pelayanan publik yang baik dan jaminan pensiun yang layak.

“Di Singapura, masyarakat bisa merasakan langsung manfaat dari pajak yang mereka bayarkan. Sedangkan di Indonesia, kita seringkali hanya merasakan bebannya,” tutur Ahok.

Dampak Pajak Berlapis, Menguntungkan Konglomerat, Membebani Rakyat Kecil. Ironisnya, kebijakan pajak berlapis ini seringkali menguntungkan kelompok tertentu. Terutama para pejabat dan konglomerat yang memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya negara. Sumber daya alam Indonesia, seperti batu bara dan minyak sawit, dimonopoli oleh segelintir orang kaya, sementara rakyat hanya mendapatkan sedikit sekali manfaat. Situasi ini terlihat jelas di sektor energi, di mana kekayaan sumber daya alam seperti panas bumi hanya dinikmati oleh segelintir individu kaya raya.

“Rakyat kecil tidak mendapatkan bagian yang layak dari kekayaan negara, sementara mereka terus menerus dibebani pajak,” kata Ahok.

Karyawan Menjadi Korban Kebijakan yang Tidak Adil. Dengan kondisi ekonomi yang tidak stabil dan beban pajak yang semakin meningkat, karyawan kelas menengah menghadapi masa depan yang suram. Upah yang stagnan, kenaikan biaya hidup, dan lapisan pajak yang semakin bertambah membuat mereka sulit untuk memperbaiki kesejahteraan mereka. Ahok menekankan pentingnya perombakan kebijakan pajak yang lebih berpihak pada rakyat kecil.

“Negara harus memberikan balasan yang setimpal atas pajak yang sudah dibayarkan rakyat. Mereka bekerja keras, membayar pajak, dan negara wajib memastikan mereka mendapatkan kesejahteraan, terutama saat sudah tidak produktif lagi,” tegasnya.

Solusi Pajak yang Lebih Adil dan Pro Rakyat

Beberapa pakar ekonomi menyarankan agar pemerintah mengurangi pengenaan pajak pada rakyat kecil dan menggantinya dengan sistem subsidi yang lebih terarah. Contohnya, subsidi bahan bakar dan gas elpiji dapat disalurkan langsung kepada masyarakat melalui sistem digital untuk meminimalisir kebocoran subsidi yang selama ini sering terjadi.

Selain itu, pemerintah harus segera mencari solusi yang lebih adil untuk mengurangi beban pajak yang menjerat rakyat kecil. Tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, karyawan di Indonesia akan terus terjebak dalam situasi sulit, dengan pajak yang terus menggerus pendapatan mereka. Negara harus memberikan perhatian lebih kepada kesejahteraan masyarakat agar mereka tidak semakin merana dalam tekanan kebijakan yang tidak berpihak pada mereka.

Pajak berlapis yang diterapkan pemerintah semakin menekan karyawan di Indonesia, terutama di kelas menengah yang seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian. Kondisi ini semakin memperparah middle-income trap yang dialami oleh negara, di mana banyak orang sulit meningkatkan kesejahteraan mereka.

Pemerintah harus segera melakukan reformasi kebijakan perpajakan yang lebih adil dan berpihak pada rakyat kecil, agar tidak terus-menerus “memeras” rakyat demi menutup defisit anggaran negara. Karyawan dan rakyat kecil harus diberikan kesempatan untuk berkembang dan menikmati manfaat nyata dari pajak yang mereka bayarkan, bukan sekadar menjadi korban kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Acara silaturahmi kebangsaan yang digelar di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara V MPR/DPR/DPD RI, Senayan, Jakarta pada Senin (9/9) menghadirkan suasana penuh makna. Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan beberapa anggota keluarga Presiden ke-1 RI Sukarno, termasuk Guntur Soekarnoputra.

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta – Bakal calon gubernur DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Kabinet Pemerintahan Jokowi, Pramono Anung, mengibaratkan langkahnya dalam Pilkada Jakarta 2024 sebagai “pertarungan David dan Goliath.” Pernyataan ini disampaikan Pramono dalam program *Pilihan Indonesia* yang disiarkan oleh CNN Indonesia pada Rabu (28/08).

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta – Syaiful Huda Ems, seorang pengacara sekaligus pemerhati politik, dalam pernyataan pers yang diterima oleh MoneyTalk pada Selasa (27/08), menanggapi dengan tegas tuduhan yang dialamatkan kepadanya terkait dukungannya terhadap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Huda Ems menyebut tuduhan tersebut sebagai “BOTOL,” sebuah istilah yang menunjukkan kebodohan dan ketidaktahuan mereka yang menuduhnya.

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta, 26 Agustus 2024 – Dalam sebuah tulisan yang diterima oleh *MoneyTalk, pada Senin (26/08), pengamat politik Eko Kuntadhi mengurai situasi politik terkini yang melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Ridwan Kamil (RK). Menurut Eko, politik adalah ilmu segala kemungkinan, dengan motif utama yang tidak pernah lepas dari kekuasaan.

(lebih…)