9 November 2026

BPIP

MoneyTalk, Jakarta – Kasus dicoretnya siswi SMA bernama Cathlyn Yvaine Lesmana dari daftar seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menuai polemik dan perhatian publik. Nama Cathlyn yang sebelumnya disebut lolos di peringkat ketiga seleksi provinsi mendadak hilang dari daftar akhir dan digantikan peserta lain.

Peristiwa tersebut viral di media sosial dan memicu kritik terhadap mekanisme seleksi yang dinilai tidak transparan. Berbagai kalangan mempertanyakan proses penilaian hingga pengumuman akhir peserta yang lolos menuju seleksi tingkat nasional.

Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai polemik tersebut tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP sebagai pihak yang ikut terlibat dalam proses seleksi Paskibraka.

Menurut Muslim Arbi, publik berhak mempertanyakan objektivitas proses seleksi apabila peserta yang telah dinyatakan lolos kemudian dicoret tanpa penjelasan terbuka kepada masyarakat.

“Kasus Cathlyn ini memunculkan tanda tanya besar di publik. Bagaimana mungkin peserta yang sudah lolos dan berada di peringkat atas tiba-tiba dicoret lalu diganti peserta lain. Ini menimbulkan dugaan adanya proses yang tidak transparan,” kata Muslim Arbi kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).

Ia mengatakan, BPIP sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam pembinaan ideologi dan ikut dalam proses seleksi Paskibraka semestinya menjaga profesionalitas dan objektivitas.

“BPIP jangan sampai dipersepsikan publik sebagai lembaga yang sarat kepentingan politik. Seleksi Paskibraka harus objektif, profesional, dan bersih dari intervensi,” ujarnya.

Muslim Arbi juga menyinggung posisi Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang selama ini diketahui menjadi Dewan Pengarah BPIP. Karena itu, ia menilai wajar apabila publik kemudian mengaitkan polemik seleksi Paskibraka dengan pengaruh elite politik tertentu.

“Karena BPIP dikaitkan dengan Megawati sebagai Dewan Pengarah, maka publik akhirnya bertanya-tanya apakah ada pengaruh politik dalam proses seleksi ini. Dugaan seperti itu muncul karena mekanismenya tidak transparan,” tegasnya.

Menurut dia, seleksi Paskibraka seharusnya menjadi ruang pembinaan generasi muda yang bebas dari kepentingan politik praktis. Ia meminta pemerintah membuka seluruh hasil penilaian secara terang-benderang agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan.

“Kalau memang objektif, buka saja seluruh hasil penilaian peserta. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Publik ingin tahu dasar kenapa Cathlyn dicoret,” katanya.

Muslim Arbi juga menilai kemampuan Cathlyn yang disebut menguasai bahasa Inggris dan Mandarin semestinya menjadi nilai tambah dalam seleksi menuju tingkat nasional.

“Kalau memang siswi itu punya kemampuan bahasa asing dan prestasi bagus, mestinya diapresiasi. Jangan sampai anak-anak berprestasi kehilangan kesempatan karena faktor nonteknis,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Purna Paskibraka Indonesia Makassar Muhammad Fahmi menilai mekanisme penilaian seleksi tidak terbuka. Ia menyebut proses seleksi memang dilakukan secara terbuka, namun tahapan penilaian hingga pengumuman dinilai tertutup.

“Tim penilai kan banyak unsur. Dari informasi kami himpun, teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan adanya dua kali proses pengumuman dalam tahapan seleksi tersebut.

“Tapi penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan. Satu kali dulu, baru dikeluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan,” kata Fahmi.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menegaskan proses seleksi dilakukan sesuai mekanisme dan melibatkan berbagai unsur dari pusat.

Kepala Kesbangpol Sulsel Bustanul mengatakan seleksi Paskibraka melibatkan unsur BPIP, DPPI Pusat dan beberapa institusi lainnya

“Seleksi ini adalah kewenangan Pemerintah Provinsi. Peserta diseleksi adalah utusan terpilih dari kabupaten dan kota,” ujarnya dalam keterangan resmi di Makassar.

MoneyTalk, Jakarta – Diskusi mengenai dinamika politik Indonesia selalu menarik perhatian, terutama saat spekulasi muncul mengenai hubungan antar-elite politik. Baru-baru ini, pernyataan dari Muhammad Qodari (Mr. Q) di kanal Total Politik pada Rabu, 30 Oktober 2024, mencuatkan spekulasi bahwa Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, turut menjadi bagian dari pemerintahan yang akan dipimpin oleh Prabowo Subianto. Dalam sesi tersebut, Mr. Q memberikan pandangan yang menantang anggapan umum bahwa pemerintahan Prabowo akan bernuansa militeristik.

Megawati dan Posisi Strategis dalam Pemerintahan

Mr. Q dalam pernyataannya menyinggung bahwa Megawati saat ini menduduki posisi penting sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kedua posisi ini adalah lembaga strategis yang bertujuan membentuk landasan ideologis dan kemajuan ilmiah bagi Indonesia. Kedekatan Megawati dengan pemerintahan saat ini dianggap sebagai bukti bahwa pengaruhnya tetap signifikan meski bukan dalam kabinet eksekutif.

Menurut Qodari, kehadiran figur-figur dari PDI Perjuangan di sekitar pemerintahan menandakan hubungan sinergis antara Prabowo dan partai yang dipimpin oleh Megawati. Meski Dedi Sitorus dari PDI Perjuangan menyangkal keterkaitan resmi PDI Perjuangan dengan pemerintahan Prabowo, Mr. Q menilai bahwa pandangan ini bersifat pribadi dan tidak mewakili seluruh perspektif PDI Perjuangan.

Spekulasi Militeristik

Di tengah persepsi umum yang melihat sosok Prabowo dengan gaya kepemimpinan yang tegas, bahkan dianggap militeristik, Mr. Q justru menilai sebaliknya. Menurutnya, Prabowo bukanlah sosok yang akan menerapkan pendekatan militer secara kaku dalam pemerintahannya. Dalam wawancara tersebut, Mr. Q menggambarkan suasana di pemerintahan yang ia sebut lebih “humanis” dan “terbuka,” serta jauh dari kesan “militan”. Ia bahkan menyebut adanya kebebasan berpendapat dalam perumusan kebijakan di pemerintahan Prabowo.

Hal ini tercermin dalam retret yang diadakan di Magelang baru-baru ini, di mana Prabowo berinteraksi akrab dengan para menteri dan pejabat lain, termasuk figur-figur dari latar belakang militer dan sipil, seperti Kapolri, Panglima TNI, dan pejabat sipil lainnya. Aktivitas seperti jalan baris-berbaris dan latihan dasar yang lebih kasual disebutkan oleh Mr. Q sebagai upaya Prabowo untuk menciptakan kekompakan antar-anggota kabinet.

Antusiasme Terhadap Produk Dalam Negeri: Mobil Maung

Di acara yang sama, Mr. Q juga berbagi kisah mengenai keputusan Prabowo untuk menggunakan mobil Maung, sebuah kendaraan buatan PT Pindad. Menurutnya, Prabowo memilih Maung atas mobil dari negara lain sebagai bentuk keberpihakan terhadap produk dalam negeri. Dalam sebuah cerita ringan, Prabowo dikatakan menolak tawaran mobil merek asing dan lebih memilih produk nasional yang merefleksikan komitmennya terhadap kemajuan industri Indonesia. Mr. Q melihat bahwa antusiasme Prabowo terhadap Maung sebagai cerminan dari sikapnya yang pro-Indonesia. Lebih dari sekadar pilihan kendaraan, langkah ini dinilai sebagai dorongan bagi pejabat lain untuk ikut mendukung produk nasional.

Megawati sebagai Penyeimbang Pemerintahan?

Kedudukan Megawati di BPIP dan BRIN bisa ditafsirkan sebagai bentuk keseimbangan dalam pemerintahan. Bagi Mr. Q, keberadaan Megawati di posisi tersebut menandakan bahwa pengaruh PDI Perjuangan tetap terjaga, meski Prabowo menduduki kursi presiden. Dalam kondisi ini, Megawati berperan sebagai figur yang mengarahkan kebijakan ideologis dan ilmiah Indonesia, sementara Prabowo menjadi eksekutor kebijakan di lapangan.

Hal ini semakin menguatkan pandangan bahwa pemerintahan mendatang tidak semata-mata akan didominasi oleh pandangan militeristik, tetapi juga oleh nilai-nilai ideologis yang diperjuangkan oleh PDI Perjuangan dan Megawati sendiri.

Spekulasi mengenai “Megawati sebagai bagian dari pemerintahan Prabowo” menimbulkan interpretasi bahwa Prabowo ingin merangkul lebih banyak elemen masyarakat untuk menciptakan pemerintah yang inklusif dan harmonis. Dengan menjaga tokoh senior seperti Megawati di posisi strategis, Prabowo tampak berupaya membangun pemerintahan yang tidak hanya solid secara internal, tetapi juga memiliki pijakan kuat di bidang ideologi dan inovasi.

Pernyataan Mr. Q memberikan pandangan menarik bahwa pemerintahan Prabowo tidak akan berfokus hanya pada pendekatan yang keras, melainkan mengutamakan pendekatan yang terbuka dan kolaboratif.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Belakangan ini ada pendekatan yang keliru ketika berbicara tema-tema kebangsaan di negeri ini. Sejak pemerintah ini berkuasa, berbagai kebijakan mengundang tanda tanya masyarakat. Dimulai dari hal paling sederhana, salam lintas agama yang belum pernah ditemui sebelumnya. Sejak presiden pertama, salam diucapkan secara nasional atau Islam. Bisanya digabung antara “Assalamualaikum wr wb dan Salam Sejahtera”. Kedua salam itu dianggap sudah mewakili antara sisi agama mayoritas dan sisi nasionalnya. Tidak memaksakan diri menyebutkan semua salam berbagai agama yang didalamnya menyebutkan simbol ketuhanan masing-masing. Dan tidak ada yang ribut saat itu. Tidak juga membuat risih masyarakat untuk menghapalkan ucapan salam berbagai agama sambil merasa terganggu akidahnya. Ini nyata adanya, maka tidak heran banyak protes atas hal itu. Entah kenapa rejim saat ini seperti memaksakan hal itu dimana-mana.

(lebih…)

Jakarta,MoneyTalk – Tanggal 1 Juni sudah ditetapkan dan dirayakan sebagai hari lahir Pancasila baik secara esoteris maupun eksoteris. Diperingati dengan tidak sekedar perayaan dan keramaian belaka. Namun, diperingati secara lebih bermakna.

Sebagaimana lazimnya, beragam kegiatan dilakukan baik resmi-resmian maupun swasta-non formal. Ruang publik pun diwarnai beragam pandangan dari kalangan Tokoh Publik, Akademisi, Politisi, Aktivis, dan milenial, sama-sama men-selebrasi Pancasila yang perenial.
Melacak ke zona sejarah, para pendiri bangsa mencitakan Pancasila sebagai falsafah dasar yang inklusif untuk menjadi jalan keselamatan bagi segenap bangsa (moral publik) dan jalan kebajikan bagi insan/individu (moral privat).
Disisi lain, memang tak bisa dipungkiri masih terdapat sebagian (kecil) warga yang tidak menghendaki Pancasila secara perenial. Mereka masih mencibirnya. Baik sebagai falsafah bangsa maupun ideologi negara. Secara terang-terangan maupun menikam dari belakang.

Hal ini mungkin tidak terlepas dari faktor kesejarahan yang masih menyisakan luka berkepanjangan dan syahwat politik ingin mengganti dengan ideologi trans-nasional —selain Pancasila—.

Bukankah rute sejarah sudah memperlihatkan kebuntuan dari jalan ideologi bukan Pancasila. Mungkin mereka belum meyakini bahwa bangsa nusantara telah sublim, menyatu dengan Pancasila.
Ibarat air kelapa yang hanya berbuah dari pohon kelapa. Pancasila adalah saripati yang merekah dari tanah pertiwi nusantara. Digali dari lapis-lapis peradaban nusantara.
Aku bukan pencipta Pancasila, aku hanya menggalinya dari bumi nusantara. Demikian diakui Sukarno dalam auto-biografinya yang dituliskan Cyndi Adams.
Pancasila tumbuh-merekah di hamparan banua arkipelago nusantara. Ada kecocokan antara Pancasila dengan kondisi geopolitik dan geografis Indonesia. Satu sama lain seakan tak terpisahkan, walau habituasi Pancasila mengalami pasang-surut. Bahkan beberapa kali Pancasila “berganti rupa” seiring perubahan rejim yang berkuasa.
Dalam proses menjadi dan berbangsa, Indonesia patut bersyukur dan berbangga karena memiliki falsafah otentiknya sendiri yaitu pancasila dan diterima sebagai memori dunia.

Ada adagium klasik berbunyi: versi sejarah —kelahiran Pancasila— ditulis oleh pemenang politik. Adagium ini harus diakhiri. Mari menyepakati Pancasila yang final. Pancasila yang “draf” awalnya di-pidatokan tanggal 1 Juni 1945 oleh Ir. Sukarno, dalam kapasitas sebagai anggota BPUPK.

Sukarno pun jadi ketua Tim-9, yang kemudian menjadi PPKI —Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia—. Mari menyepakati realita historis bahwa Pancasila hanya memiliki satu akta kelahiran yaitu tanggal 1 Juni 1945 dan di-sahkan pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Rumusannya termaktub dalam Pembukaan UUD45.

Pancasila serta Pembukaan UUD45 merupakan sumber dari segala sumber hukum. Asas dan sumber inspirasi setiap organisasi/partai politik yang menghendaki kebajikan dan keselamatan bangsa ini.
Dalam perspektif gerakan kebudayaan yang dinyatakan oleh Gerakan Bhinneka Nasionalis, GBN, pembukaan UUD45 dirumuskan sebagai kehendak kebudayaan bangsa Indonesia. Dimana Pancasila merupakan titik tumpu (_filosofische-gronslag_) sekaligus titik tuju (_weltansauung_).

Didalam pembukaan UUD45 ada pernyataan yang harus dipertahankan, yakni penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi, ada pula agenda-agenda yang harus diperjuangkan: mencerdaskan kehidupan bangsa; memajukan kesejahteraan umum; dan bebas-aktif menciptakan perdamaian dunia!

Pidato di PBB tahun 1960

Pancasila ditawarkan sebagai piagam PBB oleh Bung Karno pada sidang Umum PBB tahun 1960 berjudul “_to Build the world a-new_”. Membangun Dunia Kembali. Pidato tahun 1960 itu kemudian ditetapkan sebagai memori dunia oleh PBB, 53 tahun kemudian, persisnya bulan Mei 2023.
Pancasila yang dipidatokan Sukarno tahun 1960 di PBB sama dengan rumusan PPKI tanggal 18 Agustus 1945: Ketuhanan yang maha esa; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan; Musyawarah-Mufakat; dan, Keadilan sosial.

Sukarno seakan mewakili gelora bangsa-bangsa yang sedang bangkit dan berkehendak bebas. Bernafas spiritual. Sarat untaian doa keselamatan bagi orang per-orang maupun bangsa.

Hal tersebut membuktikan Pancasila bersifat inklusif, dapat diterima sebagai jalan keselamatan bangsa-bangsa secara universal. Tidak terkungkung, chauvinistic. Tidak sempit budi.

Selamat merayakan hari lahir Pancasila 1 Juni. Selamat Sentosa bangsa nusantara, sejahtera lahir-batin. (MT)

Penulis: Bob Randilawe, M.Hum Mantan staf ahli BPIP/eksponen gerakan 98