2 November 2026

BPJS Ketenagakerjaan

MoneyTalk, Jakarta -Gelombang kritik terhadap proses seleksi Calon Direksi dan Dewan Pengawas (Dewas) BPJS Kesehatan serta BPJS Ketenagakerjaan semakin menguat. Aktivis sosial politik dan pemerhati kesehatan masyarakat, Cary Greant, SKM, menyampaikan rasa kecewa dan keprihatinannya yang mendalam terhadap pelaksanaan uji kompetensi yang dinilai kacau, tidak profesional, dan memunculkan berbagai kecurigaan publik.

Cary bahkan menyebut proses seleksi tersebut sebagai “kampungan”, karena dianggap jauh dari standar rekrutmen lembaga besar yang mengelola jaminan sosial bagi hampir seluruh rakyat Indonesia. Ia menilai, jika proses seperti ini dibiarkan, maka bukan mustahil yang terpilih nanti justru hanyalah “boneka atau badut penguasa”, yang tidak mampu memperbaiki tata kelola dua lembaga vital tersebut.

“Lebih baik proses seleksi dibatalkan saja, dan Presiden langsung menunjuk orang kepercayaan untuk menduduki posisi Direksi maupun Dewas,” tegas Cary, Minggu (23/11/2025).

Menurutnya, sejak awal banyak pihak sudah menyampaikan keluhan, namun tidak ada satu pun respons serius dari pihak berwenang.

Keluhan para peserta juga mulai terungkap. Salah satunya berasal dari Cikmas Hadi Salasa, peserta seleksi Calon Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dengan nomor registrasi Bpkj-was-00117. Melalui kanal Lapor Presiden, ia menyebut pelaksanaan tes di Hotel Mulia Senayan pada 18 November 2025 jauh dari standar Computer Based Test (CBT).

Temuan peserta:

1. Soal esai diberikan dalam format Microsoft Word, dan peserta diminta menulis langsung di dokumen tersebut. Jawaban kemudian disimpan di desktop dan dikumpulkan melalui flashdisk panitia metode yang membuka peluang besar untuk manipulasi jawaban.

2. Tes pilihan ganda juga tidak dilakukan secara CBT, karena jawaban ditulis menggunakan pena di kertas lembar jawaban. Tanpa tanda tangan peserta, lembar tersebut sangat mudah diganti.

3. Registrasi peserta dilakukan secara manual, menyebabkan keterlambatan pelaksanaan.

4.Peserta menilai metode ini bukan CBT, tetapi ujian konvensional yang menggunakan laptop hanya sebagai alat tulis.

Seorang peserta BPJS Kesehatan yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa sistem tes ini sangat rentan kecurangan. Ia menyebut:

1. 319 peserta harus mengisi esai dan pilihan ganda, namun penilaian dapat selesai dalam waktu kurang dari 16 jam, sebuah keanehan besar mengingat jumlah dokumen yang harus diperiksa oleh para pakar.

2. Ada 477 jawaban esai Jamsos Kesehatan dan 160 esai Jamsostek yang secara realistis mustahil diperiksa secara mendalam dalam waktu sesingkat itu.

3. Nama-nama yang lolos tes CBT telah diumumkan pada pukul 07.00 pagi keesokan harinya, memperkuat dugaan bahwa proses penilaian tidak dilakukan secara profesional.

Cary Greant menilai Presiden kemungkinan tidak mendapatkan laporan lengkap mengenai buruknya pelaksanaan seleksi ini. Padahal keluhan sudah beredar luas, baik dari masyarakat maupun para peserta seleksi.

“Jika seleksi tetap dilanjutkan tanpa perbaikan total, ini akan merusak reputasi BPJS dan kepercayaan publik terhadap pemerintah,” ujarnya.

Cikmas Hadi Salasa dan berbagai peserta lain mendesak Presiden untuk:

1.Mengulang seluruh proses seleksi, dimulai dari tahapan Seleksi Kompetensi Bidang.

2. Menggunakan sistem CBT yang asli, bukan sekadar tes konvensional berkedok digital.

3. Menunda pengumuman hasil asesmen, pendalaman visi misi, dan wawancara yang direncanakan pada 24 November 2025.

Kritik dan laporan terus berdatangan. Publik kini menunggu langkah tegas dari pemerintah, terutama Presiden, untuk memastikan proses seleksi Direksi dan Dewas BPJS berlangsung transparan, profesional, dan bebas dari permainan oknum.

MoneyTalk, Jakarta – BPJS Ketenagakerjaan menolak permintaan BPK mengenai data atau sekedar minta penjelasan mengenai proses negosiasi ulang atas perpanjangan penempatan deposito rincian per bilyet pada periode 1 Januari 2021 – 30 Juni 2022.

Permintaan penjelasan BPK ini melalui surat tertulis nomor 31/ BPJSTK.Terinci/12/2022 tanggal 6 Desember 2022 yang berkaitan dengan rate atas transaksi harian penempatan deposito antara pihak bank dan Direktorat Pengembangan Investasi berupa tangkapan layar atau screenshoot WA dan file rekaman suara IPC selama periode tahun 2021 sampai tahun 2022.

“Namun, BPJS Ketenagakerjaan sepertinya ketakutan memberikan data atau penjelasan BPK tersebut,” kata Koordinator Nasional GSBK (Gerakan Santri Biru Kuning), Febri Yohansyah.

“Sebagai Auditor Negara, BPK wajar ingin tahu atau mencurigai kepentingan BPJS Ketenagakerjaan dalam perpanjangan deposito 39 bilyet sebesar Rp1.793.545.000.000,00 yang memiliki rate di bawah 6,25%,” lanjutnya.

Sebelumnya, BPJS Ketenagakerjaan menempatkan dan memperpanjang deposito 39 bilyet. Pertama di Bank Jabar Banten Cabang Jakarta. Nilai deposito sebesar Rp128.600.000.000 dengan suku bunga 5,00 persen.

Kemudian yang kedua di Bank Jabar Banten Cabang Suci dengan nilai deposito sebesar Rp.216.800.000.000 dengan bunga 5.00 persen. Selanjutnya yang ketiga di Bank Jabar Banten Cabang Utama Bandung. Nilai deposito sebesar Rp288.334.000.000 dengan suku bunga 5.00 persen.

Keempat di Bank BNI Cabang Plaza BP Jamsostek dengan nilai Deposito sebesar Rp391.764.000.000 suku bunga 3,50 persen. Kelima di BRI Kantor Cabang Khusus dengan deposito sebesar Rp.755.232.000.000 suku bunga 3,75 persen. Keenam di Mandiri Gd Jamsostek Qq Cut Meutia L dengan deposito sebesar Rp12.815.000.000 suku bunga 3,50 persen.

“Rendah suku bunga deposito di enam bank tersebut, tapi BPJS Ketenagakerjaan tetap memperpanjang. Ini pantes untuk dicurigai adanya dugaan kongkalingkong antara enam bank dengan pihak BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Febri.

“Padahal pada bulan Januari 2021, ada tiga bank yang menawarkan suku bunga tinggi, tapi kenapa pihak BPJS Ketenagakerjaan menolak? Salah satu bank tersebut adalah Bank Kalsel yang mengirimkan surat untuk penawaran penempatan deposito dengan rate 6,25% dengan Nomor 484/Dhl-DNA/KP/2021 tanggal 18 Januari 2021 dan diterima oleh Bidang Pendapatan BPJS Ketenagakerjaan,” tutup Febri. ***

MoneyTalk, Jakarta – William Sudhana melalui kanal YouTube-nya, Kamis (03/10), membahas topik yang hangat terkait ekonomi Indonesia, yaitu fenomena deflasi yang telah terjadi selama lima bulan berturut-turut. Dalam video tersebut, William memaparkan potensi dampak deflasi terhadap kehidupan sehari-hari dan sektor bisnis, serta memberikan pandangannya mengenai kemungkinan Indonesia terjerumus ke jurang resesi, bahkan mungkin lebih buruk dari krisis ekonomi 1998.

Deflasi terjadi ketika harga barang dan jasa menurun dalam jangka waktu yang signifikan. Meskipun penurunan harga tampaknya menguntungkan bagi konsumen, William mengingatkan bahwa situasi ini bisa berbahaya bagi perekonomian secara keseluruhan. Penurunan harga seringkali disebabkan oleh menurunnya permintaan konsumen, yang dapat memengaruhi pendapatan bisnis. Ketika harga produk turun, sementara biaya produksi (COGS – Cost of Goods Sold) tetap sama, profit margin perusahaan akan tergerus. Jika keuntungan terus menurun, perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, yang salah satunya melalui pemutusan hubungan kerja (layoff).

William menjelaskan, layoff dapat menyebabkan masyarakat kehilangan pendapatan, yang pada gilirannya menurunkan daya beli mereka. Hal ini menciptakan lingkaran setan ekonomi: semakin banyak layoff, semakin sedikit orang yang mampu berbelanja, dan semakin tertekanlah sektor bisnis. Situasi ini sangat memukul kelas menengah ke bawah, kelompok terbesar dalam populasi Indonesia.

William juga membandingkan kondisi saat ini dengan krisis ekonomi 1998, yang ia alami secara langsung. Menurutnya, meskipun kondisi belum sepenuhnya mirip dengan 1998, tanda-tanda ke arah sana ada. Permintaan produk konsumsi menurun, terlihat dari penurunan penjualan motor dan mobil yang menjadi indikator penting daya beli masyarakat. Bahkan industri otomotif, yang biasanya menjadi andalan, mengalami penurunan signifikan.

Lebih jauh, William menyebut bahwa data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan klaim dari para pekerja yang terkena dampak layoff. Data ini menjadi sinyal bahwa perekonomian sedang mengalami tekanan yang serius. Banyak pengusaha yang melaporkan tidak mencapai target penjualan, yang semakin memperburuk kondisi.

William menekankan bahwa dalam menghadapi deflasi dan potensi resesi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat, khususnya angkatan kerja. Salah satu solusi yang ia tawarkan adalah “skilling up” dan “reskilling,” yaitu memperkuat keterampilan dan kemampuan diri untuk menghadapi tantangan di tempat kerja. Menurutnya, pekerja yang hanya bekerja sesuai perintah atasan tanpa inisiatif lebih besar berisiko tinggi untuk terkena layoff. Sebaliknya, pekerja yang proaktif dalam memberikan kontribusi dan solusi lebih mungkin bertahan.

Di sisi lain, William juga memperingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam jeratan pinjaman online (pinjol) atau perjudian, yang sering kali dianggap sebagai solusi cepat untuk mendapatkan uang. Dia mengacu pada film dokumenter yang menunjukkan bagaimana orang dapat kehilangan segalanya karena kecanduan judi.

William memberikan pesan penting bahwa semua orang harus bersiap untuk menghadapi masa-masa sulit ini. Perusahaan akan berusaha mempertahankan produktivitas dengan biaya seminimal mungkin, yang berarti tuntutan kerja bisa semakin tinggi. William menekankan pentingnya memiliki mentalitas “karyawan” yang tidak hanya bekerja tetapi juga berkontribusi bagi kemajuan perusahaan.

Meskipun tidak ada yang dapat memprediksi dengan pasti bagaimana kondisi ekonomi ke depan, persiapan dan kemampuan beradaptasi adalah kunci. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, kesempatan justru akan muncul bagi mereka yang terus mengembangkan diri dan siap menghadapi perubahan.(c@kra)