21 Oktober 2026

Budi Karya Sumadi

Dugaan Korupsi BUMD Jakarta Belasan Triliun, CBA: KPK Tak Berani Panggil Budi Karya Sumadi

 

Koalisi Masyarakat untuk Pemberantasan Korupsi (KOMPAK) Indonesia kembali mengungkap dugaan korupsi besar-besaran yang melibatkan sejumlah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta. Nilainya diperkirakan mencapai belasan triliun rupiah dengan pola penggelapan aset hingga kerja sama pengelolaan yang merugikan negara.

Ketua KOMPAK Indonesia, Gabriel Goa, menyebut tiga perusahaan BUMD yang diduga terlibat, yakni PT Jakarta Propertindo (Perseroda), PD Pasar Jaya, dan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Ketiga BUMD itu disebut menjalin kerja sama dengan sedikitnya tujuh perusahaan swasta yang dikaitkan dengan pengusaha Fredie Tan (FT) sejak tahun 2002 hingga saat ini.

“Kerja sama tersebut sarat dengan indikasi penyimpangan, mulai dari penggelapan aset, penjualan aset jauh di bawah harga pasar, penunjukan langsung tanpa tender, hingga penggelapan pajak,” ujar Gabriel dalam siaran pers, Jumat (27/6/2025).

Dalam keterangannya, Gabriel juga menyinggung adanya keterlibatan pejabat tinggi di era Presiden Jokowi, termasuk mantan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Sebelum menjadi menteri, Budi pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Jakarta Propertindo dan PT Pembangunan Jaya Ancol.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai KPK tidak berani menyentuh Budi Karya. “KPK saja takut sama beliau. Sampai sekarang tidak berani panggil. Budi Karya benar-benar orang sakti mandraguna di depan KPK,” kata Uchok dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (4/9/2025).

Nama Budi Karya juga muncul dalam sidang kasus dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA), 13 Januari 2025. Dalam persidangan itu, seorang pejabat Kemenhub menyebut pada 2019, Budi memberi tugas khusus untuk mengumpulkan dana Rp 5,5 miliar guna kebutuhan pemilihan presiden.

Gabriel menjelaskan, potensi kerugian negara berasal dari aset strategis yang dikelola secara bermasalah, antara lain di Sentra Industri PIK, TOHO Mutiara Pluit, Samudera Raya, Muara Karang, Hotel Permata Indah, Rumah Susun Blok MN Pluit, Pacuan Kuda Pulomas, ex-Diskotik Lucky Star, hingga sejumlah pasar dan ruko di Pluit serta kawasan Ancol.

Data KOMPAK juga mencatat, pada 2014 Kejaksaan Agung pernah menetapkan Fredie Tan sebagai tersangka dalam kasus serupa, namun penyidikan dihentikan tanpa alasan yang jelas. Bahkan, diduga ada oknum pejabat Kejagung saat itu yang ikut terlibat dan merangkap sebagai komisaris di perusahaan milik FT.

Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, KOMPAK mendesak agar kasus ini dituntaskan.

“Kami minta Gubernur Pramono segera mengevaluasi tata kelola BUMD, dan KPK mengusut secara transparan semua pihak yang terlibat. Jangan sampai kerugian keuangan negara terus berlanjut,” tegas Gabriel.

Menurutnya, laporan resmi KOMPAK sudah disampaikan ke Gubernur DKI dan KPK sejak Maret 2025, namun hingga kini belum ada tindak lanjut.

MoneyTalk, Jakarta – Dugaan korupsi hingga belasan triliun rupiah kembali mengemuka di lingkungan perusahaan BUMD Provinsi DKI Jakarta. Perkara ini juga ditengarai melibatkan pejabat tinggi di era Presiden Jokowi.

‎Nama yang muncul salah satunya adalah Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan di Kabinet Jokowi. Diketahui, Budi adalah mantan Dirut di BUMD Jakarta sebelum menjadi menteri di era Jokowi. Masih ada nama lain yakni seorang oknum Jaksa di Kejaksaan Agung (Kejagung), yang saat ini sudah pensiun.

‎Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Koalisi Masyarakat untuk Pemberantasan Korupsi (KOMPAK) Indonesia, mengungkap ada 3 perusahaan BUMD yang terlibat dalam dugaan korupsi tersebut. Ketiganya yakni PT Jakarta Propertindo (Perseroda), PD Pasar Jaya, dan PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk

‎Ketiga perusahaan tersebut diduga melakukan kerja sama dengan setidaknya 7 perusahaan swasta dengan pemiliknya diduga atas nama Fredie Tan (FT). “Ketujuh perusahaan tersebut telah bekerjasama dengan perusahaan BUMD milik Pemda DKI Jakarta dalam kurun waktu antara tahun 2002 sampai dengan saat ini,” ujar Ketua KOMPAK Indonesia, Gabriel Goa, dalam siaran pers dikutip Jumat (27/6/2025).

‎Berdasarkan temuan Ombudsman RI, sambung Gabriel, modus operandi dugaan korupsi dan maladministrasi tersebut yakni melakukan penggelapan aset, kerja sama pembangunan dan pengelolaan aset dengan harga jauh di bawah harga pasar dan menjual dengan harga yang sangat tinggi (markdown), kerja sama dengan penunjukan langsung tanpa ada lelang atau tender, serta penggelapan pajak.

‎Gabriel juga menduga adanya keterlibatan oknum pejabat perusahaan BUMD yakni Direktur Utama yang kemudian menjadi Menteri pada era Presiden Jokowi yakni Budi Karya Sumadi, Direktur Keuangan, termasuk oknum pejabat dari Kejaksaan Agung yang pada saat ini sudah purna tugas.

‎“Adapun Direktur Keuangan dan oknum pejabat Kejaksaan Agung tersebut diketahui juga menjabat sebagai komisaris pada perusahaan milik FT,” ungkapnya.

‎Disebutkan Gabriel, kerugian negara akibat dugaan korupsi tersebut bisa mencapai belasan triliun rupiah. Perhitungan itu datang dari sejumlah aset yang terletak di area strategis. Yakni di Sentra Industri PIK, Jalan Kamal Muara Penjaringan, Town Office Home Office atau dikenal dengan nama TOHO, Mutiara Pluit, Samudera Raya Nomor 1A Ex Pondok Tirta

‎Kemudian fasilitas umum yang terletak di Muara Karang Blok 4Z8, Hotel Permata Indah, Rumah Susun Blok MN Pluit, Pacuan Kuda Pulomas (Pulomas Horse Race), Bangunan Ex Diskotic Lucky Star, Ruko di Taman Permata Indah Ruko, Fasilitas Umum di Pluit, Jakarta Utara, Pengelolaan Pasar HWI/Lindeteves dan Kerja Sama Pembangunan dan Pengelolaan Gedung ABC di kawasan PT, serta pembangunan Jaya Ancol.

‎Menurut data KOMPAK Indonesia, terkait dengan salah satu kerja sama pembangunan dan pengelolaan aset antara perusahaan BUMD dan perusahaan swasta dimaksud, pernah terjadi pengusutan dan penetapan tersangka korupsi atas nama FT pada tahun 2014 oleh Kejagung. Namun, kasus tersebut kemudian dihentikan penyidikannya Kejagung tanpa alasan jelas.

‎“Patut diduga terdapat keterlibatan oknum pejabat Kejaksaan Agung RI pada saat itu yang juga menjabat sebagai komisaris pada salah satu perusahaan milik FT,” kata Gabriel.

‎Di era Presiden Prabowo dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gabriel berharap kasus tersebut bisa segera dituntaskan. Ia meminta Gubernur Pramono agar segera mengevaluasi tata kelola dan kerjasama antara tiga perusahaan BUMD dengan semua perusahaan swasta yang terlibat selama ini agar tidak terjadi kerugian keuangan negara yang berlanjut.

‎Gabriel juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar segera mengusut secara transparan dan akuntabel hingga tuntas terhadap semua pihak yang terlibat dalam dugaan korupsi tersebut.

‎“Pernyataan sikap dan laporan tertulis dari KOMPAK Indonesia terkait dugaan korupsi dimaksud, telah disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta dan KPK pada bulan Maret 2025 lalu. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada kelanjutannya,” tukas Gabriel.

MoneyTalk, Jakarta – Isu judi online kembali mencuat ke permukaan setelah pernyataan dari Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi. Pada Kamis (14/11) Budi Arie menyebut sosok berinisial ‘T’ yang diduga menjadi pengendali jaringan judi online di Indonesia.

Pernyataan ini menjadi sorotan karena Budi Arie menuding sosok ‘T’ tersebut adalah teman dekat Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dan bagian dari tim sukses Pramono Rano pada Pilkada Jakarta. Namun, tuduhan ini langsung dibantah oleh Pramono Rano yang menegaskan ia tidak pernah mengenal sosok ‘T’ tersebut.

Seiring dengan mencuatnya isu ini, pihak kepolisian berhasil mengungkap jaringan judi online yang melibatkan 18 orang tersangka, termasuk 10 pegawai Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Penyelidikan ini merupakan bagian dari upaya Polri dalam menindak tegas aktivitas ilegal yang telah meresahkan masyarakat.

Tim Satgas Anti Judi (Satgas Asita) baru-baru ini menangkap lima selebgram asal Cimahi dan Bandung Barat yang terlibat dalam promosi situs judi online. Mereka berperan sebagai afiliator, mempromosikan situs tersebut melalui akun Instagram mereka. Para selebgram ini diketahui telah memperoleh keuntungan belasan juta rupiah dari kegiatan promosi tersebut. Bukti berupa unggahan di Instagram dan akun situs judi online diamankan sebagai barang bukti.

Modus yang digunakan cukup sederhana namun efektif, yakni melalui unggahan cerita (Instagram Story) dengan menyematkan tautan langsung menuju situs judi online. Setiap klik yang dihasilkan dari tautan tersebut memberikan keuntungan bagi para afiliator.

Dalam konferensi pers, Budi Arie Setiadi menyoroti peran sosok ‘T’ yang disebut-sebut sebagai pengendali judi online di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Sosok ini diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas politik dan menjadi bagian dari tim pemenangan calon gubernur Pramono Rano dalam Pilkada Jakarta. Budi Arie mengklaim bahwa ‘T’ merupakan aktivis politik dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga terlibat sebagai tim konten media sosial PDIP.

Pernyataan ini menjadi polemik, terutama karena nama ‘T’ dikaitkan dengan lingkaran elite politik dan tim sukses capres-cawapres Ganjar-Mahfud. Lebih jauh, Budi Arie menyebut bahwa ‘T’ adalah teman dekat Menhub Budi Karya Sumadi dan memiliki pengaruh kuat di beberapa kementerian.

Merespons tuduhan tersebut, Pramono Rano, calon gubernur Jakarta nomor urut 3, secara tegas membantah adanya keterlibatan sosok ‘T’ dalam tim pemenangannya. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh tim hukumnya, Pramono mengaku tidak pernah mengenal atau bekerja sama dengan individu yang dimaksud oleh Budi Arie.

“Saya sama sekali tidak kenal sosok yang disebut ‘T’. Saya tidak pernah bertemu atau bekerja sama dengannya,” ujar Pramono Rano. Ia juga menegaskan bahwa tim pemenangannya selalu transparan dan terbuka terkait siapa saja yang terlibat. “Jika tuduhan ini tidak ditarik dalam tiga hari, kami akan menempuh jalur hukum,” lanjutnya.

Pramono Rano memberi waktu tiga hari kepada Budi Arie untuk menarik pernyataannya secara publik. Jika tidak, ia bersama tim hukum akan melaporkan Budi Arie atas tuduhan pencemaran nama baik. Langkah ini mencerminkan keseriusan tim Pramono untuk membersihkan nama baik mereka dari tuduhan yang dianggap tidak berdasar.

Di sisi lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa penyelidikan terhadap kasus judi online ini akan terus dikembangkan. “Siapapun yang terlibat, baik itu pejabat atau masyarakat sipil, akan diperiksa jika ditemukan bukti yang mengarah pada keterlibatan mereka,” tegas Kapolri.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta- Pada pemeriksaan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), menyebut nama-nama penting dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan proyek DJKA (Daya Jangkau Konektivitas Angkutan). Nama-nama tersebut adalah Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan Republik Indonesia, dan Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara.

(lebih…)