7 November 2026

Gerindra

MoneyTalk.id,Jakarta – Dalam politik, tidak semua langkah harus dilakukan secara terbuka. Ada kalanya sebuah partai justru memperoleh keuntungan politik dengan cara tidak terlihat berada di depan panggung. Sikap diam, pernyataan yang terukur, bahkan membiarkan partai lain mengambil inisiatif, bisa menjadi bagian dari strategi untuk mengendalikan keadaan.

Situasi politik terkait polemik surat keterangan (Suket) pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menarik untuk dibaca dari sudut pandang tersebut. Di tengah menguatnya desakan agar DPR menggunakan hak angket, Gerindra tampaknya memilih memainkan strategi yang lebih hati-hati.

PKS, PDIP dan Demokrat telah memperlihatkan dorongan politik agar persoalan ini dibawa ke parlemen melalui penggunaan hak angket. Langkah tersebut membuka ruang bagi DPR untuk meminta penjelasan pemerintah dan lembaga terkait mengenai persoalan Suket Gibran, terutama setelah muncul putusan Mahkamah Agung yang menjadi perdebatan publik.

Namun, Gerindra sebagai partai utama dalam pemerintahan Prabowo Subianto tampaknya tidak ingin tampil sebagai pihak yang secara langsung mendorong hak angket. Di sinilah menariknya membaca sikap Ketua Harian Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.

Dasco tidak harus menjadi orang yang paling keras menyuarakan hak angket. Cukup dengan memberikan sinyal bahwa DPR memiliki hak konstitusional untuk menggunakan instrumen tersebut, Gerindra dapat memperlihatkan sikap yang berbeda. Mereka tidak menutup pintu, tetapi juga tidak mengambil posisi sebagai penggerak utama.

Strategi seperti ini memiliki keuntungan politik. Jika hak angket benar-benar bergulir, Gerindra bisa mengatakan bahwa proses tersebut merupakan inisiatif dan kewenangan parlemen, bukan agenda partai penguasa. Sebaliknya, jika hak angket tidak berjalan, Gerindra juga tidak harus menanggung beban politik karena dianggap menghalangi secara terbuka.

Dengan kata lain, Gerindra dapat menjaga dua kepentingan sekaligus: mempertahankan stabilitas pemerintahan Prabowo dan tidak terlihat menghalangi proses politik yang berkembang di DPR.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah sikap Prabowo Subianto. Sebagai Presiden sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo belum memperlihatkan sikap politik terbuka yang secara langsung mengarahkan partainya untuk membela Gibran ataupun mendorong proses pemakzulan.

Dalam politik, diam bukan berarti tidak memiliki sikap. Diam bisa menjadi pilihan untuk memberikan ruang kepada aktor lain bergerak sesuai kepentingan dan perhitungan masing-masing.

Prabowo tentu memahami bahwa persoalan Gibran bukan persoalan sederhana. Di satu sisi, Gibran merupakan Wakil Presiden yang menjadi bagian dari pemerintahan hasil Pilpres 2024. Di sisi lain, persoalan administrasi pendidikan yang berkaitan dengan putusan Mahkamah Agung telah berkembang menjadi persoalan hukum dan politik nasional.

Apabila Prabowo secara terbuka membela Gibran, ia berisiko dianggap mencampuri persoalan yang seharusnya diselesaikan melalui mekanisme hukum dan konstitusi. Sebaliknya, apabila ia ikut mendorong pemakzulan, hal itu dapat menimbulkan persoalan politik dalam pemerintahan yang dipimpinnya sendiri.

Karena itu, sikap tidak banyak bicara bisa menjadi pilihan yang paling aman secara politik.

Di sinilah Dasco memiliki peran penting. Sebagai Ketua Harian Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR, ia berada pada posisi strategis untuk membaca dinamika parlemen. Ia dapat berkomunikasi dengan berbagai kekuatan politik tanpa harus membawa nama Presiden secara langsung.

Saya melihat, Gerindra berpotensi memainkan permainan cantik. Partai ini tidak perlu berdiri di barisan paling depan untuk membela Gibran. Gerindra juga tidak perlu menjadi motor pemakzulan. Biarkan dinamika politik di parlemen berjalan, sementara Prabowo tetap berada pada posisi sebagai kepala negara yang tidak terlihat terlibat dalam pertarungan tersebut.

Permainan politik ini juga dapat berlangsung di luar parlemen, khususnya melalui kelompok relawan pendukung Prabowo.

Bukan tidak mungkin muncul perbedaan sikap antara relawan Prabowo dan kekuatan politik di DPR. Relawan dapat mengambil posisi menolak pemakzulan Gibran dengan alasan menjaga stabilitas pemerintahan, menghormati hasil Pilpres 2024, dan mencegah terjadinya kegaduhan politik.

Sementara itu, di parlemen, partai-partai politik memiliki kepentingan dan pertimbangan sendiri. PKS, Demokrat dan PDIP dapat terus mendorong penggunaan hak angket. Partai lain bisa mengambil posisi menunggu, mendukung, atau menolak berdasarkan perkembangan politik dan hukum.

Jika skenario ini terjadi, akan muncul dua arena politik yang berbeda.

Di luar parlemen, pendukung Prabowo bisa memperlihatkan sikap bahwa mereka tidak menginginkan Gibran dimakzulkan. Namun, di dalam parlemen, proses politik tetap dapat berjalan melalui mekanisme konstitusional.

Perbedaan posisi tersebut tidak otomatis membuktikan adanya koordinasi atau skenario yang dirancang bersama. Akan tetapi, secara politik, situasi demikian dapat memberikan ruang bagi Gerindra untuk menjaga jarak dari konflik sekaligus mempertahankan kepentingan pemerintahannya.

Gerindra tidak harus menjadi pihak yang paling keras membela Gibran. Cukup menjaga agar Prabowo tidak terseret langsung dalam polemik, sementara partai-partai di DPR menjalankan peran masing-masing.

Saya teringat ketika masih kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Salah satu pemikiran yang menarik dalam studi hubungan internasional adalah gagasan Hans J. Morgenthau melalui bukunya Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace.

Morgenthau menulis: “When we speak of power, we mean man’s control over the minds and actions of other men.”

Artinya, ketika berbicara tentang kekuasaan, yang dimaksud adalah kemampuan seseorang mengendalikan pikiran dan tindakan orang lain.

Pemikiran tersebut relevan untuk membaca dinamika politik hari ini. Kekuasaan tidak selalu ditunjukkan melalui perintah langsung, tekanan terbuka, atau keputusan yang diumumkan kepada publik. Kekuasaan juga dapat bekerja melalui kemampuan mengatur arah permainan, membentuk pilihan, dan memengaruhi tindakan aktor politik lainnya.

Dalam kasus Suket Gibran, Gerindra melalui Dasco berada pada posisi yang memungkinkan untuk memainkan peran tersebut. Bukan berarti Dasco pasti sedang menjalankan skenario pemakzulan ataupun mengendalikan seluruh keputusan partai lain. Namun, posisi politiknya memungkinkan Gerindra ikut menentukan irama pembicaraan di parlemen.

Partai yang kuat tidak selalu harus mengambil semua panggung. Terkadang, membiarkan pihak lain berbicara dan bergerak justru memberikan keuntungan lebih besar.

Jika PKS, Demokrat dan PDIP menjadi pihak yang paling keras mendorong hak angket, Gerindra dapat mengamati bagaimana respons publik dan sikap partai-partai lain. Dari sana, mereka bisa menentukan langkah berikutnya tanpa harus menjadi sasaran utama kritik.

Inilah yang saya sebut sebagai permainan cantik Gerindra.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Persoalan Suket Gibran bukan semata-mata pertarungan kepentingan Gerindra, PKS, Demokrat PDIP, ataupun partai-partai koalisi. Di dalamnya terdapat persoalan hukum, administrasi negara, dan legitimasi jabatan publik.

Hak angket merupakan hak konstitusional DPR. Sementara pemakzulan Presiden atau Wakil Presiden juga memiliki mekanisme tersendiri sebagaimana diatur dalam Pasal 7A dan Pasal 7B UUD 1945.

Artinya, hak angket tidak otomatis berujung pada pemakzulan. Ada tahapan, persyaratan, serta proses kelembagaan yang harus dilalui. DPR harus membuktikan dasar konstitusionalnya, kemudian proses tersebut dapat berlanjut ke Mahkamah Konstitusi sesuai ketentuan yang berlaku.

Karena itu, persoalan ini harus diselesaikan secara terbuka dan berdasarkan hukum. Jika terdapat persoalan administrasi atau dugaan pelanggaran hukum, lembaga yang berwenang harus memberikan penjelasan dan melakukan pemeriksaan sesuai kewenangannya.

Publik juga berhak mengetahui bagaimana proses penerbitan Suket tersebut, apa dasar hukumnya, serta bagaimana putusan Mahkamah Agung harus ditindaklanjuti oleh lembaga terkait.

Pada akhirnya, Prabowo mungkin memilih diam, Dasco memainkan komunikasi politik, sementara partai-partai lain bergerak dengan kepentingannya masing-masing. Tetapi, semua manuver itu tidak boleh mengalahkan kepentingan konstitusi.

Gerindra boleh memainkan strategi politik. Prabowo boleh menjaga jarak dari polemik. Dasco boleh mengambil posisi yang terukur. Namun, jangan sampai permainan politik justru membuat persoalan hukum kehilangan kejelasan.

Dalam politik, siapa yang paling keras berbicara belum tentu menjadi pihak yang paling menentukan. Sebaliknya, siapa yang terlihat diam belum tentu tidak sedang memainkan peran.

Dan dalam membaca kasus Suket Gibran, pertanyaan menariknya bukan hanya siapa yang mendorong hak angket, melainkan siapa yang paling diuntungkan ketika seluruh kekuatan politik mulai bergerak.

Di sinilah permainan cantik Gerindra patut dicermati.

Penulis : Iwan ‘Terpal’ Setiawan, pemerhati politik dan anggota penasihat PP KAUMY

MoneyTalk.id,Jakarta – Putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan Surat Keterangan (Suket) penyetaraan pendidikan setingkat SMA milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak sah memicu desakan politik dan hukum. Aktivis Nicho Silalahi bahkan meminta partai-partai politik yang memiliki kursi di DPR RI segera mengambil langkah untuk memakzulkan Gibran.

Melalui akun X, Nicho Silalahi melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan proses pencalonan Gibran pada Pilpres 2024.

Nicho menyebut putusan MA tersebut sebagai babak baru untuk membongkar apa yang disebutnya sebagai kebrengsekan rezim Jokowi yang dinilainya menghalalkan segala cara demi membangun dinasti politik keluarga.

“Putusan @MahkamahAgung tentang anak haram konstitusi sebuah babak baru dalam membongkar kebrengsekan Rezim Jahanam @jokowi yang menghalalkan segala cara untuk membangun dinastinya,” tulis Nicho melalui akun X, Sabtu (31/10/2026).

Tidak berhenti di situ, Nicho mendesak partai-partai politik yang memiliki perwakilan di Senayan agar segera mengambil sikap politik terhadap putusan MA tersebut.

Ia secara khusus menyebut PDI Perjuangan, Gerindra, NasDem, Partai Demokrat, PKB, dan PKS sebagai partai yang harus mendorong pembahasan persoalan tersebut di DPR.

Menurut Nicho, partai-partai politik tidak boleh tinggal diam setelah MA menyatakan dokumen penyetaraan pendidikan yang menjadi salah satu persyaratan pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden pada 2024 tidak sah.

“Seharusnya partai-partai yang memiliki perwakilan di Senayan segera menggelar paripurna untuk memakzulkan anak haram konstitusi,” tegasnya.

Selain mendesak pemakzulan, Nicho meminta aparat penegak hukum turun tangan mengusut proses administrasi yang membuat Gibran dapat mengikuti kontestasi Pilpres 2024.

Ia meminta Kepolisian dan Kejaksaan menyelidiki dugaan tindak pidana dalam proses pemenuhan persyaratan pencalonan Gibran sebagai wakil presiden.

Nicho juga menyoroti pihak-pihak yang terlibat dalam proses penerbitan Surat Keterangan penyetaraan pendidikan serta Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang meloloskan pencalonan Gibran.

Menurut dia, seluruh komisioner dan anggota KPU yang terlibat dalam proses tersebut harus diperiksa. Begitu pula pihak yang menerbitkan dokumen penyetaraan pendidikan.

“Seluruh Komisioner dan Anggota KPU yang meloloskan pencalonan anak haram konstitusi serta para pelaku dalam mengeluarkan Suket harus diperiksa dan ditangkap bila perlu dihukum berat,” tulisnya.

Nicho menilai terdapat indikasi persekongkolan dalam proses yang menurutnya telah menimbulkan persoalan serius bagi demokrasi dan konstitusi Indonesia.

Meski demikian, dugaan persekongkolan maupun tindak pidana yang disampaikan Nicho merupakan tuduhan yang perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan dan peradilan, bukan kesimpulan hukum yang otomatis lahir dari putusan MA.

Desakan Nicho muncul setelah MA mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan H.M. Subhan Palal dalam perkara Nomor 742 K/TUN/2026 pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Perkara tersebut berkaitan dengan Surat Keterangan Nomor 9149/D.D1/KS/2019 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah pada 6 Agustus 2019.

Surat tersebut merupakan dokumen penyetaraan pendidikan Gibran yang menjadi bagian dari persyaratan pendidikan dalam pencalonannya sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2024.

Dalam amar putusannya, majelis hakim MA menyatakan:

“Kabul Kasasi, Batal Putusan Judex Facti, Adili Sendiri: Kabul Gugatan Penggugat Seluruhnya.”

Majelis hakim yang menangani perkara tersebut diketuai Yulius dengan anggota Maftuh Effendi dan Hari Sugiharto.

MA tidak hanya membatalkan putusan pengadilan sebelumnya, tetapi juga mengabulkan seluruh gugatan penggugat. Surat keterangan penyetaraan pendidikan tersebut dinyatakan tidak sah dan diperintahkan untuk ditarik dari pihak yang menguasainya untuk dimusnahkan.

Pihak yang menjadi tergugat dalam perkara ini adalah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM perlu dicermati arah politiknya menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Di tengah popularitasnya sebagai kepala daerah, Muslim melihat kemungkinan Dedi membangun kekuatan politik sendiri yang tidak sepenuhnya sejalan dengan Presiden Prabowo Subianto.

Muslim bahkan menilai KDM berpotensi berkiblat kepada kelompok politik yang diasosiasikan dengan Solo, terutama lingkaran politik Joko Widodo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Muslim, dinamika tersebut perlu menjadi perhatian Gerindra dan Prabowo. Sebab, dukungan politik seseorang terhadap pemerintahan tidak otomatis menjamin kesetiaan jangka panjang ketika kepentingan dan kalkulasi menuju Pilpres 2029 mulai mengemuka.

“Prabowo perlu mewaspadai manuver politik KDM. Jangan sampai dukungan yang terlihat sekarang justru menjadi bagian dari strategi membangun kekuatan untuk kepentingan politiknya sendiri pada 2029,” kata Muslim kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Muslim menyoroti pola komunikasi politik KDM ketika ditanya mengenai kemungkinan pencalonannya sebagai presiden pada 2029.

Dedi, menurut Muslim, cenderung mengarahkan jawaban pada pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai Gubernur Jawa Barat. Sikap tersebut dinilai menyerupai pola komunikasi politik Joko Widodo ketika masih menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Pada masa itu, Jokowi kerap menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang berfokus menyelesaikan persoalan Jakarta. Namun, perjalanan politiknya kemudian bergerak ke tingkat nasional hingga menjadi calon presiden pada Pilpres 2014.

Bagi Muslim, pola komunikasi semacam itu menarik dicermati karena pernyataan tidak memikirkan pencalonan presiden belum tentu menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan seseorang membangun modal politik untuk masa depan.

Popularitas melalui pemberitaan, aktivitas di lapangan, komunikasi dengan masyarakat, serta kemampuan membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat dapat menjadi modal penting dalam kompetisi politik nasional.

Muslim juga menilai KDM berpotensi menjajaki peluang politik bersama Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.

Dalam pembacaannya, kemungkinan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun poros politik yang memiliki basis popularitas dan jaringan tersendiri. Dedi memiliki panggung politik di Jawa Barat, sedangkan Gibran menempati posisi strategis sebagai wakil presiden.

Jika kedua tokoh itu benar-benar membangun kerja sama politik, kombinasi tersebut berpotensi menghadirkan konfigurasi baru dalam persaingan menuju kursi kepresidenan.

Karena itu, yang lebih penting untuk dicermati saat ini bukan hanya siapa yang berpotensi berpasangan dengan siapa, melainkan bagaimana para tokoh membangun pengaruh, menjaga hubungan dengan partai, dan mempersiapkan posisi tawar menjelang kontestasi nasional.

Muslim melihat bahwa apabila Dedi membangun jalur politik yang semakin dekat dengan kelompok Jokowi dan Gibran, Gerindra perlu menghitung konsekuensinya terhadap keseimbangan kekuatan politik di dalam pemerintahan.

Persoalan lain yang disoroti Muslim adalah perjalanan politik KDM, yang pernah berada di Partai Golkar sebelum bergabung dengan Partai Gerindra.

Perpindahan partai tersebut, menurut pembacaan Muslim, memunculkan pertanyaan mengenai dasar loyalitas politik Dedi. Apakah pilihannya didasarkan pada kesamaan ideologi dan platform perjuangan, atau lebih ditentukan oleh perhitungan strategis serta peluang memperoleh posisi politik?

Muslim cenderung melihat Dedi sebagai politisi pragmatis, bukan kader yang identitas politiknya sepenuhnya dibentuk oleh ideologi Gerindra.

Bagi Gerindra, persoalannya bukan semata-mata apakah seorang kader pernah menjadi anggota partai lain. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah seberapa kuat komitmennya terhadap garis perjuangan partai, bagaimana konsistensi sikap politiknya, dan apakah kepentingan pribadinya berpotensi berbenturan dengan agenda organisasi.

Muslim mengingatkan bahwa hubungan antara Prabowo dan para tokoh di lingkaran pemerintahan tidak cukup dinilai berdasarkan pernyataan dukungan di ruang publik.

“Kepentingan politik menjelang 2029 berpotensi mengubah hubungan antarelite,” tegasnya.

Prabowo, sebagai Presiden sekaligus tokoh utama Gerindra, perlu memastikan bahwa partainya memiliki kader yang konsisten memperjuangkan agenda organisasi. Popularitas seorang kepala daerah memang dapat menjadi aset elektoral, tetapi popularitas juga dapat berkembang menjadi kekuatan politik mandiri apabila tidak diimbangi ikatan organisasi yang kuat.

Dalam situasi seperti itu, Gerindra perlu membedakan antara dukungan terhadap pemerintahan dan komitmen terhadap partai. Keduanya bisa berjalan searah, tetapi tidak selalu identik.

Apabila Dedi Mulyadi memiliki ambisi politik nasional, hal tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Persoalannya muncul jika langkah politik seorang kader bertentangan dengan kesepakatan organisasi atau digunakan untuk membangun poros tandingan tanpa komunikasi yang jelas dengan partai.

Karena itu, kewaspadaan yang dimaksud bukan berarti Prabowo harus langsung mencurigai setiap manuver Dedi. Sebaliknya, Gerindra perlu membaca perkembangan politik secara objektif, memperkuat konsolidasi internal, serta mengukur loyalitas melalui tindakan nyata.

Dedi Mulyadi memiliki keuntungan politik karena menjabat Gubernur Jawa Barat, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Aktivitasnya sebagai kepala daerah juga memberinya panggung untuk menjangkau masyarakat secara luas.

Modal tersebut dapat memperkuat posisinya dalam politik nasional. Namun, untuk menjadi calon presiden, popularitas saja tidak cukup. Ia tetap membutuhkan dukungan partai, jaringan politik lintas daerah, sumber daya organisasi, dan penerimaan dari berbagai kelompok masyarakat.

Hal serupa berlaku jika muncul wacana duet dengan Gibran. Kedekatan politik dua tokoh tidak otomatis menghasilkan tiket pencalonan, karena keputusan tersebut akan melibatkan kepentingan partai-partai dan perhitungan koalisi.

Pada akhirnya, penilaian Muslim Arbi mengenai arah politik KDM menggarisbawahi satu persoalan penting: persaingan menuju Pilpres 2029 berpotensi berkembang jauh sebelum masa kampanye resmi dimulai.

“Bagi Prabowo dan Gerindra, tantangannya adalah membedakan spekulasi dari indikator politik yang nyata. Jika terdapat tanda-tanda perubahan arah dukungan, partai perlu mengkajinya secara serius,” pungkas Muslim.

MoneyTalk.id,Jakarta – Aktivis media sosial Jhon Sitorus menilai Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) memiliki akar politik yang jauh lebih kuat di Partai Golkar dibandingkan Partai Gerindra. Menurutnya, fakta tersebut membuat peluang KDM berhadapan dengan Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 bukan sesuatu yang mustahil.

Melalui pernyataannya, Jhon mengingatkan bahwa KDM telah menjadi kader Golkar sejak 1999 dan meniti karier politiknya di partai berlambang pohon beringin itu hingga pernah menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat sebelum kemudian bergabung dengan Gerindra.

“KDM itu besar di Golkar, bukan Gerindra. Jadi kalau dia diadu dengan Pak Prabowo pada Pilpres 2029 nanti, itu bukan sesuatu yang mustahil,” ujar Jhon, Sabtu (1/7/2026).

Menurutnya, rekam jejak politik KDM di Golkar tidak dapat dihapus begitu saja karena di partai tersebut KDM membangun basis politik dan elektoralnya selama bertahun-tahun.

Jhon berpandangan, arah politik KDM ke depan akan sangat bergantung pada dinamika politik nasional dan partai yang mampu menawarkan ruang politik paling menarik menjelang Pemilu 2029.

Pernyataan tersebut kembali memunculkan spekulasi mengenai konfigurasi politik menuju Pilpres 2029. Sejumlah partai memang mulai membahas konsolidasi internal, meski elite koalisi pemerintahan secara umum masih menilai pembicaraan mengenai Pilpres 2029 terlalu dini karena pemerintahan Presiden Prabowo baru berjalan.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan dari Kang Dedi Mulyadi maupun Partai Gerindra terkait pandangan Jhon Sitorus tersebut. Dinamika menuju Pemilu 2029 masih sangat terbuka dan bergantung pada perkembangan politik serta keputusan masing-masing partai.

MoneyTalk.id,Jakarta – Dinamika politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menjadi perhatian sejumlah pengamat. Meningkatnya elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sejumlah survei dinilai berpotensi memengaruhi konfigurasi politik nasional, termasuk membuka peluang kembalinya mantan kader Golkar tersebut ke partai yang membesarkan karier politiknya.

Pemerhati politik dan Alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Iwan “Terpal” Setiawan, menilai hasil survei terbaru menunjukkan bahwa KDM kini telah menjadi salah satu figur nasional yang diperhitungkan dalam kontestasi Pilpres 2029.

Menurutnya, survei yang dirilis SMRC maupun Indikator Politik Indonesia memperlihatkan tren elektabilitas KDM yang terus meningkat. Dalam salah satu simulasi, KDM bahkan memperoleh tingkat keterpilihan yang lebih tinggi dibanding Presiden Prabowo Subianto.

“Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan preferensi publik. KDM tidak lagi dipandang sebagai tokoh regional, tetapi mulai masuk dalam percakapan politik nasional sebagai figur potensial untuk Pilpres 2029,” ujar Iwan dalam keterangannya, Sabtu (1/8/2026).

Ia mengingatkan bahwa sebelum bergabung dengan Gerindra, KDM memiliki perjalanan politik yang panjang di Partai Golkar. Dedi Mulyadi pernah menjadi Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, anggota DPR RI Fraksi Golkar, hingga menjabat Bupati Purwakarta sebagai kader partai berlambang pohon beringin tersebut.

Karena itu, menurut Iwan, muncul pertanyaan politik yang menarik, yakni apakah Golkar akan mempertimbangkan kembali mantan kadernya apabila tren elektabilitas KDM terus meningkat hingga mendekati Pemilu 2029.

“Golkar dikenal sebagai partai yang rasional dalam membaca peluang politik. Jika ada figur dengan tingkat keterpilihan tinggi, tentu semua opsi akan diperhitungkan,” katanya.

Iwan juga menilai dukungan terhadap figur dengan elektabilitas tinggi tidak hanya berpotensi meningkatkan peluang kemenangan dalam Pilpres, tetapi juga dapat memberikan efek ekor jas (coattail effect) yang berdampak pada perolehan suara partai dalam pemilihan legislatif.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemungkinan tersebut masih bersifat spekulatif dan akan sangat bergantung pada berbagai faktor, mulai dari dinamika politik nasional, kondisi pemerintahan, strategi partai politik, hingga keputusan pribadi Dedi Mulyadi terkait masa depan politiknya.

“Politik selalu dinamis. Apakah KDM tetap bersama Gerindra atau membuka komunikasi dengan Golkar, semuanya masih sangat terbuka untuk berkembang hingga 2029,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyindir pernyataan resmi Partai Gerindra terkait penanganan bencana alam di Sumatera Barat. Sindiran itu disampaikan Susi melalui akun X (dulu Twitter) miliknya, menanggapi unggahan akun resmi Partai Gerindra yang menyebut negara hadir dalam setiap langkah pemulihan bencana.

Sebelumnya, akun @Gerindra menuliskan pernyataan, “Negara hadir, setiap hari, dalam setiap langkah pemulihan,” disertai tagar #Prabowo, #PrabowoSubianto, #BencanaAlam, dan #SumateraBarat.

Namun, pernyataan tersebut langsung mendapat respons tajam dari Susi Pudjiastuti. Dalam cuitannya, Susi menilai bahwa yang paling dibutuhkan masyarakat terdampak bencana bukan sekadar narasi kehadiran negara.

“Saya pikir sekarang yg mereka butuhkan bukan Negara hadir; tapi Nasi padang, dunkin donuts, roti marie, starlink, lilin, air minum… air bersih,” tulis Susi, Kamis (18/12/2025).

Unggahan Susi tersebut langsung menyedot perhatian publik. Dalam waktu singkat, cuitan itu menuai ratusan tanda suka dan puluhan retweet, menandakan kuatnya resonansi pesan yang disampaikan mantan menteri yang dikenal vokal tersebut.

Banyak warganet menilai sindiran Susi sebagai kritik keras terhadap gaya komunikasi politik yang dianggap terlalu simbolik di tengah situasi darurat. Menurut mereka, korban bencana membutuhkan bantuan nyata dan cepat, bukan sekadar pernyataan normatif tentang kehadiran negara.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi atau tanggapan resmi dari Partai Gerindra atas sindiran yang dilontarkan Susi Pudjiastuti tersebut. Namun polemik ini kembali membuka perdebatan lama soal jarak antara narasi politik elite dan kebutuhan riil masyarakat di lapangan saat bencana terjadi.

Dalam beberapa kesempatan, Susi Pudjiastuti memang kerap menekankan pentingnya aksi konkret dan logistik dasar dalam situasi krisis, terutama di wilayah terdampak bencana alam.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, menyoroti kemiripan pola kasus korupsi yang melibatkan kader partai besar di Indonesia. Menurutnya, jika PDIP punya Harun Masiku, maka Gerindra kini punya sosok serupa bernama Nistra Yohan.

“Harun Masiku hilang dalam kasus suap agar bisa duduk di DPR, sedangkan Nistra Yohan namanya disebut-sebut menerima Rp70 miliar dalam kasus BTS. Keduanya sama-sama lenyap, sulit dijangkau aparat,” kata Muslim Arbi, Sabtu (23/8/2025).

Harun Masiku yang merupakan caleg PDIP hingga kini masih buron sejak operasi tangkap tangan (OTT) KPK tahun 2020. Kasus itu turut menyeret Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, yang sempat divonis bersalah sebelum kemudian mendapat amnesti dari Presiden Prabowo.

Sementara itu, di tubuh Partai Gerindra, muncul nama Nistra Yohan yang disebut sebagai tenaga ahli anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Sugiono. Ia diduga menerima aliran dana jumbo Rp70 miliar dalam skandal korupsi BTS 4G. Namun, keberadaannya kini misterius.

“Pihak Kejaksaan Agung seakan tidak berdaya menuntaskan kasus ini. Padahal, nama Nistra jelas muncul di persidangan. Namun, publik tak pernah tahu di mana dia berada,” tegas Muslim Arbi.

Muslim menilai, pola menghilangnya Nistra Yohan menambah catatan kelam penegakan hukum di era pemerintahan sekarang. Jika Harun Masiku jadi simbol lemahnya KPK di era Jokowi, maka Nistra Yohan bisa menjadi simbol lemahnya Kejaksaan di era Prabowo.

“Jangan sampai kasus ini berakhir seperti Harun Masiku. Negara tidak boleh kalah melawan mafia politik dan korupsi. Jika tidak, publik akan menilai bahwa hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai gejolak politik di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, bukan sekadar konflik lokal antara masyarakat dan bupati. Ia menduga ada operasi politik yang terstruktur dari kelompok yang disebutnya sebagai “Geng Solo” dengan tujuan memancing kemarahan rakyat daerah dan meruntuhkan kepercayaan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Amir, pola yang terlihat dalam kasus ini menunjukkan indikasi bahwa konflik yang semula bersifat kebijakan daerah dimanfaatkan untuk menggiring opini negatif terhadap Gerindra, partai yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo.

“Kasus di Kabupaten Pati bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ada indikasi operasi Geng Solo untuk membuat rakyat di daerah tidak percaya pada Gerindra, dan akhirnya tidak percaya pada Presiden Prabowo,” ujar Amir, Jumat (15/8/2025).

Dalam gejolak ini, Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengambil sikap yang dinilai menenangkan. Dasco, yang dikenal sebagai salah satu loyalis utama Prabowo, memberi sinyal terbuka kepada DPRD Pati untuk menggunakan mekanisme pemakzulan terhadap Bupati Sudewo, yang merupakan kader Gerindra.

Langkah ini, menurut Amir, sempat menurunkan tensi kemarahan rakyat Pati. “Pernyataan Dasco membuat rakyat melihat bahwa partai bersikap fair. Ini mengurangi potensi eskalasi,” katanya.

Namun, situasi berubah ketika Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeluarkan pernyataan yang dianggap memicu emosi masyarakat. Tito mengatakan bahwa terkait wacana pemakzulan bupati, “tolonglah, bupati itu dipilih rakyat.”

Amir menilai ucapan tersebut kontraproduktif dan justru membuat kemarahan rakyat Pati semakin membara. “Secara intelijen, pernyataan Tito seperti menyulut api. Apalagi selama ini Tito dianggap sebagai bagian dari Geng Solo,” jelasnya.

Analisis Amir menyebut ada pola “pembusukan politik” yang dijalankan dengan memanfaatkan kepala daerah dari Gerindra. Caranya, membiarkan atau bahkan memicu kegagalan kebijakan kepala daerah tersebut agar publik mengaitkannya dengan partai dan presidennya.

“Kalau bupati dari Gerindra dianggap gagal atau zalim, publik akan hilang kepercayaan pada partainya. Dari situ, target berikutnya adalah menjatuhkan kepercayaan terhadap Presiden Prabowo,” tegas Amir.

Ia menambahkan, skenario seperti ini menguntungkan pihak-pihak yang berada di lingkaran Geng Solo, termasuk Gibran Rakabuming Raka yang saat ini menjabat Wakil Presiden. “Dalam kondisi seperti ini, Gibran dan Geng Solo justru diuntungkan,” ungkapnya.

Pengamat ini menduga, Pati bisa jadi hanyalah “uji coba” dari strategi yang lebih besar. Jika berhasil menciptakan efek ketidakpercayaan publik terhadap Gerindra di daerah ini, pola serupa bisa diterapkan di daerah lain yang dipimpin kader partai tersebut.

“Ini bukan soal satu kabupaten saja. Ini potensi operasi politik yang menyasar basis legitimasi presiden. Kalau tidak diantisipasi, efeknya bisa menyebar,” pungkas Amir.

MoneyTalk,Jakarta – Polemik soal keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengemuka setelah pernyataan dua tokoh, yakni politisi PDIP Beathor Suryadi dan aktivis kebangsaan dr Zulkifli S Ekomei. Beathor menyebut ijazah Jokowi dibuat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, sementara dr Zulkifli menilai ijazah Jokowi asli namun orangnya yang diragukan.

Namun, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah memberikan pandangan berbeda. Ia menyebut persoalan ini justru bisa ditelusuri dari proses pencalonan Jokowi di Pilkada DKI Jakarta 2012, saat berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Persoalan ijazah palsu ini sebenarnya sederhana. Dimulai dari Pilkada 2012. Saat itu saya bertanya-tanya, kenapa di Solo gelarnya doktorandus, tapi di Jakarta jadi insinyur? Lalu kenapa nama Jokowi yang dulu ‘Djokowi’ berdasarkan ejaan lama, kini berubah?” ujar Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (20/6/2025).

Amir menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari tim sukses manapun, namun sebagai warga Jakarta dan pengamat ia mengenal beberapa tokoh yang disebut dalam isu ini. Ia menyebut nama-nama seperti Widodo dan Deni Iskandar, yang belakangan dikaitkan dalam pengurusan administrasi Jokowi, memang dikenal, namun bukan pihak utama dalam proses pendaftaran pencalonan.

Menurut Amir, pasangan Jokowi-Ahok saat itu diusung secara politik oleh PDIP dan Gerindra. “Keputusan politiknya ada di DPP PDIP dan Gerindra. Tapi yang menjalankan administrasi pencalonan adalah DPP masing-masing. Yang menyerahkan berkas adalah Prasetyo dari PDIP dan M. Syarif dari Gerindra,” jelasnya.

Amir juga menyebut nama Juri Adriantono, Ketua KPU DKI Jakarta saat itu, yang kini menjabat Wamensesneg. “Juri yang menerima berkas pencalonan itu, dan setelah Jokowi jadi Presiden, dia ikut masuk ke KSP. Apakah ini bentuk balas budi?” ujarnya retoris.

Dengan tegas Amir menyarankan agar polemik ini tak perlu melebar ke mana-mana. “Telusuri saja dari proses Pilkada 2012. Di situ semua dokumen ada. Tidak perlu ke Pasar Pramuka atau berandai-andai soal siapa palsu atau tidak,” tutupnya.

MoneyTalk, Jakarta – Selamat ulang tahun Gerindra, partai besutan Prabowo. Selamat juga atas terpilihnya kembali Prabowo sebagai ketua umum sekaligus ketua dewan pembina.

Hadiah ulang tahun Gerindra di hari ini sepertinya ditandai dengan hukuman 20 tahun penjara atas Harvey Moeis, kasus korupsi timah senilai Rp. 300 T, di pengadilan tinggi, yang sebelumnya hanya divonis 6,5 tahun. Vonis ini sejalan dengan keinginan Prabowo yang dengan marah di akhir tahun lalu mendengar kasus ini dihukum ringan. Dengan tindakan hakim pengadilan tinggi, upaya Prabowo memampuskan para koruptor menjadi titik balik, di mana di era lalu koruptor berpesta pora.

Tentu saja Prabowo bukan mencampuri urusan yudikatif. Namun, dengan upaya Prabowo membongkar habis koruptor dijajaran yudikatif, seperti kasus Zarof Ricar, mafia peradilan dengan penghasilan hampir satu triliun rupiah, membuat kemarahan Prabowo ditakuti para hakim itu.

Ketegasan Prabowo melawan korupsi telah merambah ke pejabat-pejabat negara yang korup. Penangkapan Dirjen Anggaran Kemenkeu dan penggeledahan kantor Dirjen Migas terkait urusan korupsi merupakan sinyal implementasi pidato Prabowo terbaru, anti korupsi , di Harlah NU. Di mana Prabowo mengatakan cukup memberikan peringatan selama 100 hari. Saatnya sekarang bertindak.

Prabowo juga melakukan pemangkasan anggaran besar-besaran terkait inefisiensi pemerintahan. Professor Dasco dalam pidatonya di acara Sabang Merauke Circle, 7/2/25, sudah mengisyaratkan terjadi ketidak jelasan atas anggaran ATK yang mencapai puluhan triliun rupiah. Dengan memotong anggaran birokrasi ini, diharapkan mentalitas pengabdian pegawai negeri, polisi dan militer sepenuhnya mengabdi pada rakyat. Prabowo mengatakan kepada militer misalnya, semua atribut militer itu, termasuk pakaiannya adalah dari rakyat. Hal itu diungkapkan Prabowo pada pertemuan dengan seluruh jajaran militer di Bogor, minggu lalu.

Peran Gerindra

Keberhasilan pemimpin besar di manapun berkuasa tergantung pada partai politik pendukungnya. Dan atau bersama militer. Saat ini konsolidasi militer dalam genggaman Prabowo terus berlangsung. Namun, militer di manapun berada adalah kekuatan pertahanan bukan pembangunan. Untuk itulah peranan partai politik dibutuhkan.

Ketika Suharto berkuasa, tahun 1968, membangun (partai) Golkar untuk menopang kekuasaannya. Prabowo membangun Gerindra untuk menopang kekuasaannya.

Penerjemahan cita-cita seorang pemimpin besar seperti Prabowo, hanya bisa diwujudkan melalui partai. Ketika Prabowo memimpikan suatu masyarakat ideal, seperti kemakmuran yang dibagi secara hampir merata kepada setiap rakyat, maka pesan ini harus menjadi ideologi partai. Begitu juga pengimplementasian ideologi itu, sehingga mampu menjadi agenda-agenda pembangunan yang berkeadilan.

Setelah 17 tahun berdiri, Prabowo telah mempunyai partai yang besar. Meskipun dalam porsentase kemenangan pemilu masih di bawah PDIP dan Golkar, tapi kepiawaian jajaran elit Gerindra, seperti Professor Dasco dan sekjennya, mampu mengendalikan koalisi partai yang mendukung Prabowo. Disamping itu, Profesor Dasco, sebagai ketua harian Gerinda, mampu menterjemahkan secara cepat dan tepat pikiran-pikiran dan ideolog Prabowo Subianto tersebut. Sehingga, terlihat, sepanjang 100 hari pemerintahannya, Prabowo mampu menunjukkan arah pembangunan yang ideologis, bukan mau menjalankan perampokan tambang-tambang, laut, tanah air, dll, seperti era lalu.

Partai adalah arah. Selama arah benar, maka kekuatan lainnya dapat mendukungnya, seperti keterlambatan militer dalam pembangunan yang mulai membesar di era Prabowo.

Namun, kebesaran Prabowo, sebagai pemimpin besar, saat ini, lebih besar dari kapasitas partainya. Hal ini juga terjadi ketika dulu Suharto berkuasa. Untuk itu, kedepan, Gerindra perlu memperbesar kapasitasnya, seperti mulai merekrut kaum aktifis (eks kampus), kaum cendikiawan, eks militer secara massif. Dahulu, Suharto merekrut semua aktifis mahasiswa, seperti Sarwono, Akbar Tandjung, Rahman Tolleng, David Napitupulu, Fahmi Idris, dll memperkuat Golkar.

Kenapa? 

Karena partai seperti Gerindra saat ini membutuhkan sebanyak-banyaknya kekuatan idealis. Prabowo yang idealis pastinya tidak membutuhkan kekuatan pragmatis sebagai energi penopang dirinya.

Disinilah pentingnya Prabowo menunjukkan Professor Dasco atau dengan tim lainnya, yang ideologis, memikirkan secepatnya pembesaran kapasitas Gerindra tersebut.

Penutup

Sudah jelas bahwa kenaikan hukuman lebih dari 300% atas Harvey Muis yang dijatuhkan hakim pengadilan tinggi atas kasus korupsi barbar sumberdaya alam kita dimampuskan Prabowo. Ini adalah ideologi Prabowo. Ideologi Anti Korupsi. Dan ini merupakan hadiah bagi Prabowo dan Gerindra yang sedang berulang tahun.

Kehendak Prabowo Subianto memakmurkan rakyat saat ini tentu membutuhkan peningkatan kapasitas partainya. Sebab, partai adalah alat ideologis bagi pemimpin ideologis seperti Prabowo. Di sini pentingnya refleksi 17 tahun Partai Gerindra. Prabowo harus secepatnya membentuk tim pemercepat kekuatan partainya. Bisa jadi Prof Dasco dan tim segera mengidentifikasi kebutuhan meningkatkan kapasitas partainya itu untuk didiskusikan ke Prabowo.

Di era Suharto pada tahun 60 an adalah merekrut semua eks aktifis mahasiswa KAPPi/KAMI masuk ke Golkar. Saat ini tentu ada jalan lainnya.

Selamat ulang tahun Gerindra, selamat atas terpilihnya Prabowo sebagai ketua umum, semoga kerja politik ideologis yang progresif revolusioner bisa segera berjalan. Rakyat menunggu.

Penulis : Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle