MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, menyoroti kemiripan pola kasus korupsi yang melibatkan kader partai besar di Indonesia. Menurutnya, jika PDIP punya Harun Masiku, maka Gerindra kini punya sosok serupa bernama Nistra Yohan.
“Harun Masiku hilang dalam kasus suap agar bisa duduk di DPR, sedangkan Nistra Yohan namanya disebut-sebut menerima Rp70 miliar dalam kasus BTS. Keduanya sama-sama lenyap, sulit dijangkau aparat,” kata Muslim Arbi, Sabtu (23/8/2025).
Harun Masiku yang merupakan caleg PDIP hingga kini masih buron sejak operasi tangkap tangan (OTT) KPK tahun 2020. Kasus itu turut menyeret Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, yang sempat divonis bersalah sebelum kemudian mendapat amnesti dari Presiden Prabowo.
Sementara itu, di tubuh Partai Gerindra, muncul nama Nistra Yohan yang disebut sebagai tenaga ahli anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Sugiono. Ia diduga menerima aliran dana jumbo Rp70 miliar dalam skandal korupsi BTS 4G. Namun, keberadaannya kini misterius.
“Pihak Kejaksaan Agung seakan tidak berdaya menuntaskan kasus ini. Padahal, nama Nistra jelas muncul di persidangan. Namun, publik tak pernah tahu di mana dia berada,” tegas Muslim Arbi.
Muslim menilai, pola menghilangnya Nistra Yohan menambah catatan kelam penegakan hukum di era pemerintahan sekarang. Jika Harun Masiku jadi simbol lemahnya KPK di era Jokowi, maka Nistra Yohan bisa menjadi simbol lemahnya Kejaksaan di era Prabowo.
“Jangan sampai kasus ini berakhir seperti Harun Masiku. Negara tidak boleh kalah melawan mafia politik dan korupsi. Jika tidak, publik akan menilai bahwa hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” pungkasnya.





