MoneyTalk.id, Jakarta – Majalah Tempo menyatakan berbagai unggahan di media sosial yang membantah laporan investigasinya mengenai dugaan penyusupan seorang “agen CIA palsu” ke lingkaran elite Indonesia tidak didukung bukti yang memadai. Tempo bahkan menyebut penyebaran narasi tersebut terindikasi dilakukan secara terkoordinasi.
Hal itu disampaikan melalui hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo terhadap beredarnya tagar dan unggahan yang menyebut Presiden Prabowo Subianto tidak pernah tertipu oleh sosok Gaurav Srivastava karena tidak ada kontrak maupun kerugian materiil.
Menurut Tempo, penelusuran dilakukan bersama Monash Data and Democracy Research Hub dan tim peneliti lainnya.
“Hasilnya, puluhan akun mengunggah narasi yang serupa dalam waktu yang hampir bersamaan. Pola ini diduga kuat merupakan penyebaran informasi yang dilakukan secara terkoordinasi untuk membantah laporan investigasi Tempo dan OCCRP,” demikian disampaikan dalam penjelasan Tim Cek Fakta Tempo.
Tempo menyebut narasi yang beredar umumnya mengutip artikel dari berbagai platform dan video yang menyatakan Prabowo tidak mengalami kerugian karena tidak ada kontrak pengadaan yang ditandatangani.
Tempo menegaskan laporan investigasinya yang diterbitkan pada 28 Juni 2026 disusun berdasarkan serangkaian bukti dan proses verifikasi jurnalistik.
Dalam investigasi tersebut, Tempo bekerja sama dengan jurnalis independen dari India untuk menelusuri rekam jejak Gaurav Srivastava sejak Februari 2026.
Proses investigasi disebut melibatkan wawancara dengan sejumlah narasumber, pemeriksaan dokumen, surat elektronik, foto, hingga berkas pengadilan.
Dari hasil penelusuran itu, Tempo menyatakan Gaurav Srivastava menjalin hubungan dengan Prabowo sejak 2020 ketika masih menjabat Menteri Pertahanan.
Tak lama setelah itu, menurut Tempo, Kementerian Pertahanan menerbitkan tiga surat kepada perusahaan-perusahaan yang dikaitkan dengan Gaurav Srivastava terkait rencana pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Namun demikian, Tempo mengklaim menemukan bahwa ketiga perusahaan tersebut baru didirikan setelah surat-surat tersebut diterbitkan.
Selain itu, Tempo juga menyatakan memperoleh dokumen yang menunjukkan Gaurav Srivastava memiliki rekam jejak dugaan penipuan di sejumlah negara sejak 2014 dan disebut menggunakan identitas sebagai agen CIA dalam berbagai aktivitas bisnis.
Dalam laporan tersebut, peneliti pertahanan dari Lesperssi, Beni Sukadis, menjelaskan bahwa dokumen seperti letter of intent maupun letter of agreement memang belum bersifat mengikat secara hukum.
Meski demikian, menurutnya penerbitan surat-surat tersebut menunjukkan proses pemeriksaan latar belakang perusahaan semestinya dilakukan secara lebih mendalam.
“Pada tahap itu, upaya penipuan sudah dapat dikatakan terjadi,” demikian pandangan yang dikutip Tempo dari Beni Sukadis.
Tempo menyatakan hingga materi cek fakta tersebut dipublikasikan, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait belum memberikan tanggapan atas hasil investigasi maupun penelusuran yang dilakukan.
Tempo kemudian menyimpulkan bahwa klaim yang menyebut laporan investigasinya sebagai hoaks belum didukung bukti yang memadai.
Media tersebut juga menyatakan pola penyebaran narasi bantahan di media sosial memiliki indikasi sebagai bentuk manipulasi informasi yang dilakukan secara terorganisasi.





