21 Oktober 2026

PDIP

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat militer Selamat Ginting menilai keberadaan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di parlemen pada Pemilu 2029 menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan kekuatan politik keluarga Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Selamat, Jokowi dinilai akan melakukan berbagai upaya agar PSI mampu memenuhi ambang batas politik dan mendapatkan kursi di parlemen.

“Jokowi, apa pun dia akan melakukan agar PSI segera masuk di dalam parlemen. Karena kalau tidak, wassalam,” kata Selamat Ginting di channel YouTube Forum Keadilan, Kamis (20/8/2026).

Ia menilai Pemilu 2029 akan menjadi momentum penentuan bagi keberlangsungan pengaruh politik keluarga Jokowi. Menurutnya, kekuatan politik yang selama ini dibangun dinasti Jokowi akan diuji dalam kontestasi tersebut.

“Jadi 2029 menurut saya penentuan bagi klan Jokowi. Dari dinasti Jokowi itu akan ditentukan di 2029 ini,” ujarnya.

Selamat juga mengungkapkan adanya kekhawatiran dari sejumlah partai politik terhadap kemungkinan PSI berhasil masuk parlemen. Pasalnya, PSI dinilai berpotensi mengambil sebagian basis pemilih partai lain.

Partai-partai menengah, kata dia, termasuk PDIP, NasDem hingga Golkar, berpotensi menghadapi persaingan dengan PSI apabila partai tersebut berhasil mendapatkan kursi di DPR.

“Partai-partai di bawah atau menengah tentu saja merasa bahwa mereka akan digerogoti, terutama seperti PDIP. Basis konstituennya hampir sama, juga NasDem, apalagi Golkar yang pragmatis pendukungnya,” katanya.

Ia menilai karakteristik sebagian pemilih yang pragmatis membuat persaingan antarpartai semakin terbuka. Dalam kondisi tersebut, partai yang mampu menawarkan daya tarik politik dan dukungan yang lebih kuat berpotensi mengambil suara dari partai lainnya.

“Artinya siapa yang memberi itu yang akan diambil,” ujar Selamat.

Dengan demikian, Selamat melihat pertarungan menuju Pemilu 2029 bukan hanya berkaitan dengan perebutan kursi parlemen, tetapi juga menentukan apakah pengaruh politik keluarga Jokowi masih akan bertahan setelah pergantian kekuasaan.

MoneyTalk, Jakarta – Polemik mengenai ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), kembali memanas setelah Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, meminta Jokowi menunjukkan ijazah asli kepada publik saat melakukan safari atau berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Pernyataan Djarot tersebut memicu reaksi keras dari kalangan pendukung Jokowi. Koordinator Laskar Cinta Jokowi (LCJ), Suhandono Baskoro, menilai pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak hanya provokatif, tetapi juga menunjukkan inkonsistensi sikap elite PDIP terhadap sosok yang pernah mereka usung dan dukung hingga dua kali memenangkan pemilihan presiden.

Menurut Suhandono, sangat tidak masuk akal jika kini PDIP mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi, sementara selama bertahun-tahun partai berlambang banteng tersebut menjadikan Jokowi sebagai ikon politik nasional dan kendaraan utama untuk meraih kemenangan elektoral.

“Mulut Djarot dan sebagian elite PDIP sudah terlalu busuk kalau sekarang mempertanyakan ijazah Pak Jokowi. Dulu siapa yang mengusung beliau dari Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta sampai menjadi Presiden dua periode? Bukankah PDIP sendiri?” kata Suhandono dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).

Suhandono menegaskan bahwa keabsahan dokumen pendidikan Jokowi secara substansi telah melalui berbagai proses administrasi negara sejak yang bersangkutan maju dalam berbagai kontestasi politik, mulai dari pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden.

“Kalau memang ada masalah dengan ijazah, bagaimana mungkin beliau bisa maju berkali-kali dalam pemilihan umum dan pilkada? Semua tahapan administrasi sudah dilewati. Negara punya mekanisme verifikasi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Djarot mempersilakan Jokowi melakukan perjalanan ke berbagai daerah, namun menyarankan agar mantan presiden itu sekaligus menunjukkan ijazahnya kepada masyarakat untuk mengakhiri polemik yang berkembang. Djarot menyebut masyarakat perlu diyakinkan bahwa ijazah Jokowi benar-benar asli.

Bagi LCJ, pernyataan tersebut justru menunjukkan bahwa isu ijazah masih terus dipelihara untuk kepentingan politik tertentu.

Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai polemik ini tidak bisa dilepaskan dari memburuknya hubungan antara Jokowi dan PDIP pasca Pemilu 2024. Retaknya hubungan kedua pihak terlihat semakin jelas setelah perbedaan sikap politik yang terjadi menjelang dan sesudah pemilihan presiden.

Jokowi yang selama dua periode menjadi kader politik paling populer yang dimiliki PDIP kini justru sering menjadi sasaran kritik dari sejumlah elite partai tersebut. Bahkan berbagai pernyataan yang muncul belakangan dinilai menunjukkan bahwa konflik politik antara kedua kubu belum benar-benar berakhir.

Dalam konteks itulah, pernyataan Djarot mengenai ijazah Jokowi dianggap bukan sekadar persoalan administrasi pendidikan, melainkan bagian dari pertarungan narasi politik yang masih berlangsung.

Suhandono menilai masyarakat dapat melihat sendiri kontradiksi yang terjadi.

“Kalau dulu Pak Jokowi dianggap pemimpin terbaik, kader terbaik, calon terbaik, lalu sekarang muncul narasi mempertanyakan ijazah, publik tentu bertanya-tanya. Mengapa hal itu baru dipersoalkan setelah hubungan politik mereka memburuk?” katanya.

Rencana Jokowi untuk kembali berkeliling Indonesia setelah kondisi kesehatannya membaik memang menjadi perhatian banyak pihak. Beberapa elite politik menganggap langkah tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi dengan masyarakat dan relawan yang selama ini mendukungnya.

Menurut LCJ, antusiasme masyarakat terhadap kehadiran Jokowi di berbagai daerah selama ini menunjukkan bahwa mantan presiden tersebut masih memiliki basis dukungan yang besar.

“Pak Jokowi datang karena memenuhi undangan masyarakat. Beliau bukan lagi presiden, tetapi rakyat masih ingin bertemu. Itu menunjukkan adanya kedekatan emosional yang tidak bisa dihapus hanya dengan propaganda politik,” ujar Suhandono.

Polemik mengenai ijazah Jokowi sebenarnya telah berulang kali muncul dalam ruang publik. Namun hingga kini, berbagai tuduhan yang beredar belum mampu menghapus fakta bahwa Jokowi telah menjalani berbagai tahapan verifikasi administratif selama puluhan tahun karier politiknya.

Karena itu, LCJ menilai isu tersebut lebih banyak digunakan sebagai komoditas politik daripada upaya mencari kebenaran.

Suhandono mengatakan, jika ada pihak yang benar-benar ingin mencari kepastian hukum, mekanisme yang tersedia di negara sudah cukup jelas. Namun jika isu tersebut terus diproduksi dalam ruang politik dan media, maka publik akan melihatnya sebagai bagian dari agenda politik tertentu.

“Rakyat sekarang sudah cerdas. Mereka bisa membedakan mana kritik yang objektif dan mana serangan politik yang bermotif,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan isu pribadi untuk menyerang lawan politik justru dapat memperburuk kualitas demokrasi Indonesia.

“Perdebatan politik seharusnya bicara gagasan, program, dan masa depan bangsa. Bukan terus-menerus mengulang isu yang sudah berkali-kali dibahas,” ujarnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat kerja bakti di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, pada 8 Februari 2026, mendadak menjadi perbincangan publik. Dalam kegiatan yang digelar menyusul banjir yang kerap melanda wilayah tersebut, Pramono hadir bersama mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Momen santai dalam kerja bakti itu kemudian ramai diperbincangkan setelah Pramono melontarkan candaan yang dikutip berbagai media nasional. Hal tersebut turut disoroti pengamat politik Hersubeno Arief melalui kanal YouTube miliknya.

Menurut Hersubeno, peristiwa yang tampak sederhana itu menjadi menarik karena konteks kalimat yang disampaikan Pramono. Dalam candanya kepada Jusuf Kalla, Pramono mengatakan bahwa dirinya dan JK dibesarkan dalam tradisi teknokrasi sehingga “tidak mau masuk gorong-gorong” dan memilih bekerja menggunakan pikiran serta otak. Candaan itu disambut tawa Jusuf Kalla.

Secara sekilas, ujar Hersubeno, pernyataan tersebut tampak sebagai humor biasa tanpa menyebut nama siapa pun. Namun dalam konteks politik Indonesia, istilah “gorong-gorong” memiliki asosiasi kuat dengan gaya kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang kerap turun langsung ke lapangan, termasuk meninjau saluran air.

“Dalam politik, simbol dan ingatan kolektif sangat kuat. Ketika istilah gorong-gorong disentuh oleh figur yang pernah berada di lingkar kekuasaan Jokowi, candaan itu bisa ditafsirkan sebagai sindiran,” kata Hersubeno, Senin (9/2/2026).

Ia menilai publik menangkap pernyataan tersebut bukan sekadar humor, melainkan memiliki nuansa politik, terlebih karena relasi panjang antara Pramono, Jusuf Kalla, dan Jokowi. Pramono diketahui pernah menjabat Sekretaris Kabinet selama dua periode pemerintahan Jokowi, sementara Jusuf Kalla merupakan Wakil Presiden pada periode pertama.

Hersubeno juga menyinggung dinamika hubungan antara PDIP—partai tempat Pramono bernaung—dengan Jokowi yang merenggang setelah perbedaan sikap politik menjelang Pilpres 2024. Menurutnya, kondisi itu membuat setiap pernyataan tokoh PDIP terhadap simbol-simbol yang lekat dengan Jokowi mudah dimaknai sebagai kritik.

Meski demikian, ia mengaku cukup terkejut karena Pramono selama ini dikenal jarang melontarkan sindiran terbuka. “Disampaikan secara humor, tetapi nadanya terasa keras bagi sebagian orang,” ujarnya.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Pramono Anung terkait penafsiran publik atas candaan tersebut. Namun perbincangan di ruang publik menunjukkan bahwa simbol kecil dalam politik kerap memunculkan tafsir yang lebih luas daripada sekadar kata-kata.

MoneyTalk, Jakarta – Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah, melontarkan kritik keras terhadap wacana perubahan mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dari pemilihan langsung oleh rakyat menjadi pemilihan melalui DPRD. Menurutnya, gagasan tersebut merupakan kemunduran demokrasi dan bentuk pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat yang diperjuangkan sejak era reformasi.

Dalam pernyataannya di Bandung, Sabtu (10/1/2026), Rizal mengingatkan kembali perjuangan panjang reformasi yang melahirkan Pilkada langsung sebagai manifestasi hak rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Ia bahkan menyinggung pengalaman pribadinya saat masih menjadi anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi PPP, ketika memilih walk out sebagai bentuk protes atas mekanisme pemilihan kepala daerah oleh DPRD.

“Pilkada langsung adalah hasil perjuangan berdarah-darah reformasi. Hak rakyat itu tidak boleh dikebiri apalagi dirampok kembali dengan dalih apa pun,” tegas Rizal.

Rizal menilai alasan pemborosan anggaran, maraknya politik uang, dan potensi konflik yang dijadikan dasar mengubah Pilkada menjadi pemilihan oleh DPRD sebagai dalih yang menyesatkan. Menurutnya, jika Pilkada diserahkan kepada DPRD, justru politik uang akan “dilokalisasi” di ruang dewan dan semakin sulit diawasi publik.

“Money politics tidak hilang, tapi dipusatkan. Penggendutan kepentingan bisa berjalan lebih intensif dan tertutup,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan sikap sejumlah partai politik yang mendukung Pilkada melalui DPRD, di antaranya Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PKB, dan NasDem. Rizal menyebut sikap tersebut bertentangan dengan semangat demokrasi dan reformasi.

Rizal berharap masih ada partai politik yang konsisten mempertahankan Pilkada langsung demi menghormati asas kedaulatan rakyat. Ia secara khusus menantang PDIP dan PKS untuk menunjukkan perlawanan nyata terhadap wacana Pilkada oleh DPRD.

“Jika memang tinggal satu, PDIP sekalipun, tetap harus berjuang maksimal. Bila perlu, lakukan walk out sebagai bentuk pertanggungjawaban publik,” katanya.

Menurut Rizal, wakil rakyat sejatinya adalah pengartikulasian suara rakyat, bukan sebaliknya. Ia mengingatkan bahwa anggota DPRD dipilih dengan amanah, bukan untuk menciptakan jurang yang semakin dalam antara rakyat dan wakilnya.

Dalam kritik paling tajamnya, Rizal menyebut Koalisi Indonesia Maju (KIM) telah berubah menjadi “Konspirasi Indonesia Mundur”. Ia menilai partai politik yang mendukung Pilkada oleh DPRD justru berperan merusak tatanan demokrasi yang sehat.

“Partai politik berubah menjadi racun demokrasi. Pilkada di ruang DPRD adalah simbol kembalinya pembantaian atas demokrasi,” tegasnya.

Rizal pun menyerukan agar rakyat tidak diam dan berani melakukan “walk out” secara moral dari sistem politik yang dinilai membungkam dan menjajah kedaulatan rakyat.

“Walk out adalah sikap untuk menjaga martabat dan kemuliaan. Demokrasi harus diselamatkan sebelum benar-benar mati,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, menyoroti kemiripan pola kasus korupsi yang melibatkan kader partai besar di Indonesia. Menurutnya, jika PDIP punya Harun Masiku, maka Gerindra kini punya sosok serupa bernama Nistra Yohan.

“Harun Masiku hilang dalam kasus suap agar bisa duduk di DPR, sedangkan Nistra Yohan namanya disebut-sebut menerima Rp70 miliar dalam kasus BTS. Keduanya sama-sama lenyap, sulit dijangkau aparat,” kata Muslim Arbi, Sabtu (23/8/2025).

Harun Masiku yang merupakan caleg PDIP hingga kini masih buron sejak operasi tangkap tangan (OTT) KPK tahun 2020. Kasus itu turut menyeret Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, yang sempat divonis bersalah sebelum kemudian mendapat amnesti dari Presiden Prabowo.

Sementara itu, di tubuh Partai Gerindra, muncul nama Nistra Yohan yang disebut sebagai tenaga ahli anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Sugiono. Ia diduga menerima aliran dana jumbo Rp70 miliar dalam skandal korupsi BTS 4G. Namun, keberadaannya kini misterius.

“Pihak Kejaksaan Agung seakan tidak berdaya menuntaskan kasus ini. Padahal, nama Nistra jelas muncul di persidangan. Namun, publik tak pernah tahu di mana dia berada,” tegas Muslim Arbi.

Muslim menilai, pola menghilangnya Nistra Yohan menambah catatan kelam penegakan hukum di era pemerintahan sekarang. Jika Harun Masiku jadi simbol lemahnya KPK di era Jokowi, maka Nistra Yohan bisa menjadi simbol lemahnya Kejaksaan di era Prabowo.

“Jangan sampai kasus ini berakhir seperti Harun Masiku. Negara tidak boleh kalah melawan mafia politik dan korupsi. Jika tidak, publik akan menilai bahwa hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Baru beberapa hari yang lalu, teman saya yang jadi Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker), Immanuel Ebenezer ini saya chat ke WA nya, dan saya bilang padanya:”sejak jadi pejabat kok jadi sombong dan pelit gini?”. Dia tidak membalas chat saya, hingga dalam hati saya berkata:”Wah, biasanya teman yang begini tidak lama lagi akan masuk bui”.

Ternyata, tidak ada panas tidak pula ada hujan, tiba-tiba di hari ini tersiar berita di berbagai media tanah air:”Wamenaker Immanuel Ebenezer terkena OTT KPK !”. Sedangkan media yang lainnya memberi judul dalam pemberitaannya:”KPK sita puluhan kendaraan dari OTT KPK, Immanuel Ebenezer”.

Waowww…sungguh sama sekali saya tidak pernah menyangka, teman yang akrab disapa Noel ini, begitu kaya raya dan suka main palak perusahaan-perusahaan. Ya, pada hari Rabu (20/08/25) malam kemarin, Noel ternyata benar-benar telah terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK !.

Saya benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa teman yang saya pikir terlihat sederhana penampilannya ini, ternyata mempunyai jiwa keserakahan yang luar biasa. Sudah digaji ratusan juta rupiah perbulan, namun masih juga menyalah gunakan kekuasaannya.

Terus terang saja, dahulu saya sempat membelanya ketika dia diserang habis-habisan oleh teman-teman sesama relawan Jokowi, karena saya anggap dia memiliki prinsip tersendiri, ketika dia membela Munarman. Meskipun saat itu saya kontra dengan Munarman, namun saya juga tidak keberatan jika Noel membela Munarman dengan argumentasinya yang kuat.

Namun ketika saya lihat Noel mulai suka berubah-ubah, tidak konsisten dengan pilihan politiknya sendiri, seperti dahulu dia mendukung Ganjar Pranowo namun kemudian tiba-tiba berbalik mendukung Prabowo-Gibran, saya mulai tau, bahwa dia hanyalah seorang “pemain”.

Bahkan lucunya, ketika Prabowo-Gibran menang dan belum mengumumkan siapa-siapa calon menteri-menterinya, Noel sempat menelpon ke saya dan mengajak saya melawan Prabowo, kalau saja Presiden terpilih (Prabowo) tidak menjadikan kami (Noel dan Saya) Menteri atau setidak-tidaknya Wamen.

Lucunya, ketika saya jawab:”Sampai detik ini saya tidak punya keinginan untuk menjadi Menteri, Wamen apalagi Komisaris. Saya lebih ingin fokus menyuarakan suara kebatinan rakyat marginal, dhuafa “. Tiba-tiba Noel berhenti menelpon saya dan dia bilang lagi ditelpon orang istana. Tak seberapa lama kemudian tersiar kabar, Noel menjadi Wamenaker.

Itulah karakter yang sesungguhnya dari Noel, plin plan, tak memiliki prinsip, mudah berubah-ubah dan berpolitik hanya sebagai alat untuk kepentingan pribadinya saja. Maka tak heran jika Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto pernah menyebutnya “Isuk kedele sore tempe”., ketika Noel tiba-tiba menyebrang dari pendukung Ganjar Pranowo menjadi pendukung Prabowo Subianto menjelang Pilpres 2024.

Bukannya Noel melakukan kontemplasi dan sadar diri, Noel malah bicara secara terbuka menyerang Hasto Kristoyanto dengan pernyataannya: “Kita enggak butuh pemimpin bermental korup, jangan sampai nanti pagi Masiku, siangnya Hasto.”

Lalu ketika proses hukum terhadap Hasto di PN Jakpus sama sekali tidak menemukan bukti, bahwa Hasto terlibat dalam kasus Harun Masiku, muka Noel mau disembunyikan kemana? Malu sendiri kan? Hasto sekarang bebas melalui amnesti yang diberikan oleh Presiden Prabowo, yang diklaim Noel sebagai bosnya sendiri. Namun sekarang Noel, justru yang malah menunggu masuk bui. Tragis sekali bukan?

Noel juga pernah membabi buta menyerang PDIP, bahwa PDIP sebagai partai besar seharusnya menyampaikan gagasan besar, bukan narasi ketakutan:

“Partai besar… pasti bicara tentang gagasan‑gagasan besar… tidak ambekan‑ambekan dan perasaan‑perasaan.”

Dia mengejek PDIP untuk lebih rasional, bukan emosional, agar suasana demokrasi menjadi lebih riang gembira.

Kenyataannya sekarang bagaimana? Meskipun Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto dikriminalisasi melalui KPK, PDIP tetap tenang, tidak pernah mengobarkan perlawanan terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran. Bahkan Ketua Umum PDIP, Ibu Megawati Soekarnoputri, berkali-kali menginstruksikan semua kader-kadernya untuk mendukung Pemerintahan Prabowo Subianto !.

Dalam suatu waktu, saat Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyatakan:” Jika Jokowi ingin bertemu Megawati, “harus” terlebih dulu menemui kader ranting, Noel juga menanggapi sinis:

“Katanya kita butuh sosok negarawan? Kok perilakunya seperti preman jalanan yang penuh dengan sinisme?” Ia meminta PDIP untuk berhenti sinis dan memberi contoh positif, terutama di momen Idulfitri.

Pernyataan Noel yang semacam ini sangat memojokkan PDIP, seolah-olah PDIP itu bersikap seperti preman, padahal yang sebenarnya terjadi, Noel tidak mampu memahami suasana kebatinan kader-kader PDIP yang telah dikhianati oleh Jokowi, hingga PDIP seolah meminta pada Jokowi untuk insyaf dengan cara meminta maaf terlebih dahulu pada kader-kader PDIP mulai dari tingkat ranting.

Noel kini telah menghadapi persoalannya yang mencekam, tertangkap tangan KPK dan berdebar-debar menunggu status hukumnya, sebagai tersangka yang akan segera diumumkan. Setelah itu Noel akan menjalani proses persidangan yang panjang dan meletihkan, lalu masuk penjara yang gelap.

Noel bukan akan menjadi Tahanan Politik sebagaimana Hasto Kristiyanto yang dahulu sering diserangnya, namun Noel akan menjadi Tahanan Koruptor yang namanya akan tercoreng di lembaran sejarah, mantan Aktivis Mahasiswa masuk bui karena serakah dan korup ! Tragis !

Penulis : Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer, Jurnalus, Analis Politik dan Aktivis ’98.

MoneyTalk,Jakarta – Polemik soal keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengemuka setelah pernyataan dua tokoh, yakni politisi PDIP Beathor Suryadi dan aktivis kebangsaan dr Zulkifli S Ekomei. Beathor menyebut ijazah Jokowi dibuat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, sementara dr Zulkifli menilai ijazah Jokowi asli namun orangnya yang diragukan.

Namun, pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah memberikan pandangan berbeda. Ia menyebut persoalan ini justru bisa ditelusuri dari proses pencalonan Jokowi di Pilkada DKI Jakarta 2012, saat berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Persoalan ijazah palsu ini sebenarnya sederhana. Dimulai dari Pilkada 2012. Saat itu saya bertanya-tanya, kenapa di Solo gelarnya doktorandus, tapi di Jakarta jadi insinyur? Lalu kenapa nama Jokowi yang dulu ‘Djokowi’ berdasarkan ejaan lama, kini berubah?” ujar Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (20/6/2025).

Amir menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari tim sukses manapun, namun sebagai warga Jakarta dan pengamat ia mengenal beberapa tokoh yang disebut dalam isu ini. Ia menyebut nama-nama seperti Widodo dan Deni Iskandar, yang belakangan dikaitkan dalam pengurusan administrasi Jokowi, memang dikenal, namun bukan pihak utama dalam proses pendaftaran pencalonan.

Menurut Amir, pasangan Jokowi-Ahok saat itu diusung secara politik oleh PDIP dan Gerindra. “Keputusan politiknya ada di DPP PDIP dan Gerindra. Tapi yang menjalankan administrasi pencalonan adalah DPP masing-masing. Yang menyerahkan berkas adalah Prasetyo dari PDIP dan M. Syarif dari Gerindra,” jelasnya.

Amir juga menyebut nama Juri Adriantono, Ketua KPU DKI Jakarta saat itu, yang kini menjabat Wamensesneg. “Juri yang menerima berkas pencalonan itu, dan setelah Jokowi jadi Presiden, dia ikut masuk ke KSP. Apakah ini bentuk balas budi?” ujarnya retoris.

Dengan tegas Amir menyarankan agar polemik ini tak perlu melebar ke mana-mana. “Telusuri saja dari proses Pilkada 2012. Di situ semua dokumen ada. Tidak perlu ke Pasar Pramuka atau berandai-andai soal siapa palsu atau tidak,” tutupnya.

MoneyTalk, Jakarta – Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dinilai tidak tahu diri ikut mengomentari persoalan ijazah yang lagi digugat oleh Roy Suryo Cs. Walaupun Megawati tidak menyebut nama Jokowi, tapi publik sudah mengetahui pernyataan Ketua Umum PDIP itu diarahkan ke mantan Wali Kota Solo.

“Megawati tidak tahu diri ikut mengomentari soal ijazah Jokowi. Walaupun tidak secara eksplisit menyebut nama, publik sudah tahu bahwa pernyataan itu diarahkan kepada Jokowi,” ujar Koordinator Fans Jokowi, Indriyanto Susilo Wijaya dalam pernyataan resminya, Kamis (15/5/2025).

Indriyanto menilai bahwa pernyataan Megawati tersebut merupakan bentuk ketidakjujuran. Ia mengingatkan bahwa selama Jokowi menjabat sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga dua periode sebagai Presiden, ijazah Jokowi telah melalui proses verifikasi dan terbukti asli. Menurutnya, Megawati justru tengah mencari panggung politik dengan mendiskreditkan Jokowi.

Indriyanto juga menyindir kepemimpinan Megawati dalam partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Ia menilai bahwa Megawati tidak bersyukur atas peran Jokowi dalam membesarkan PDIP, sehingga kini kader-kadernya bisa menikmati kekuasaan selama 10 tahun terakhir.

“Selama PDIP masih dipimpin Megawati, partai ini tidak akan berkembang. Megawati hanya ingin menjatuhkan Jokowi dengan isu ijazah, padahal hal itu sudah tidak relevan lagi,” tambahnya.

Selain itu, Indriyanto menyebut sosok Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul sebagai contoh politisi PDIP yang lebih bijak dalam bersikap. Ia berharap Megawati belajar dari Pacul dalam memahami politik yang tidak saling bermusuhan, tetapi mengedepankan persatuan partai.

MoneyTalk,Jakarta – Ironi tragis kembali hadir di panggung seni Indonesia yang tak pernah absen dari sandiwara. Kali ini, kisahnya milik Yos Suprapto, seniman kawakan asal Surabaya, yang karyanya dianggap terlalu “jujur” untuk selera kurator Galeri Nasional, yang kemudian mengambil keputusan tak masuk akal. Pemerintah, melalui kurator Galeri Nasional, memilih untuk lepas tangan.

Drama ini bermula dari pembatalan —atau dalam istilah pemerintah, penundaan— pameran tunggal sang pelukis yang bertajuk “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan.” Pameran ini sejatinya telah siap digelar di Galeri Nasional Jakarta, dengan sederet lukisan yang mengundang refleksi mendalam.

Namun, lima karyanya dianggap terlalu vulgar, provokatif, dan berani untuk rezim yang, ironisnya, konon memperjuangkan kedaulatan pangan. Para pengunjung yang siap di lokasi pembukaan pameran harus kecewa, selain karena pintu Galeri Nasional digembok, juga karena Presiden Prabowo baru membentuk Kementerian Kebudayaan.

Mari kita mulai dari awal. Salah satu lukisan Yos menampilkan petani yang menuntun sapi ke istana. Kata Yon, metafora ini sederhana: makanan selalu mengalir ke pusat kekuasaan. Lukisan ini disebutnya sesuai dengan tajuk pameran soal kedaulatan pangan. Namun, karya ini dianggap “vulgar” oleh kurator, sehingga harus diturunkan dari galeri.

Betul, siapa pun dapat melihat lukisan ini secara gamblang hingga berkomentar, “Lukisan yang Jokowi banget.” Yos menyebut hewan yang dilukisnya sapi, padahal itu juga seperti banteng, apalagi warnanya merah yang memberi asosiasi pada PDIP, partai pengusung Jokowi dalam Pilpres yang mengantarkannya kembali ke Istana pada 2019.

Lukisan Yos berikutnya berjudul “Konoha I” juga menampilkan realisme yang memilukan. Ia menggambarkan seorang raja bermahkota Jawa yang menginjak rakyat kecil. Sang raja duduk di kursi kebesaran, telunjuknya diarahkan ke bawah, ke rakyat yang diinjak, sementara di belakangnya ribuan prajurit berdiri tegak mengokang senjata.

Menurut Yos, lukisan ini dibuatnya untuk menggambarkan metafora tentang kedaulatan pangan yang hanya menjadi dongeng manis penguasa, sementara rakyat kecil terus terinjak sistem. Namun, bagi kurator, lukisan ini dianggap terlalu “vulgar.” Bukankah seni seharusnya menyentuh nurani dan mengajak kita merenung? Ataukah di negeri ini, seni hanya diperbolehkan menyenangkan mata tanpa menyentuh hati?

Lukisan lanjutannya, “Konoha II,” menggambarkan budaya _Asal Bapak Senang_ (ABS) secara harfiah. Figur-figur dalam lukisan ini saling menjilat pantat, dengan lidah-lidah yang menjulur panjang. Jilatan puncak ditujukan ke pantat sang raja yang dengan telanjang sedang bercumbu dengan pasangannya. Di latar belakang tampak kerangka bangunan Istana Garuda Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dengan tegas, Yos menyebut budaya yang dilukiskannya ini sebagai cerminan hiperindividu yang melahirkan mentalitas penjilat. Namun, kurator merasa karya ini “terlalu eksplisit.” Eksplisit? Ataukah seni dilarang menelanjangi kenyataan yang menimpa rakyat di era Joko Widodo? Ketika itu, ia memaksakan pembangunan IKN ke para pejabat yang selalu menjilat?

Awalnya, kedua lukisan ini disepakati akan ditutup dengan kain hitam. Namun, akhirnya tetap diminta diturunkan.

Ada pula lukisan petani tanpa baju tampak menyuapi pria berdasi yang berbaring santai dengan baju warna biru. Kritik tajam Yos atas ketimpangan ekonomi ini menggambarkan bagaimana petani, sebagai tulang punggung ekonomi, justru lebih sering memberi makan penguasa, sementara diri mereka paling sedikit menikmati hasilnya.

Semula, karya ini tidak dipermasalahkan, karena lukisan hanya menampilkan gambar suap-menyuap. Namun, sesaat sebelum pameran dibuka, tiba-tiba kurator memutuskan karya ini “tidak relevan” dengan tema pameran. Tidak relevan? Bukankah “kedaulatan pangan” dimulai dari petani yang, di lukisan, tampil dengan caping di kepala?

Jika kurator menyebut alasan pembredelan seperti “vulgar,” “tidak relevan,” maka pihak Galeri Nasional berdalih bahwa pembatalan ini disebabkan “kendala teknis.” Padahal, publik yang cerdas tentu tahu bahwa ini hanyalah eufemisme bagi ketakutan pihak tertentu. Apakah seni yang berbicara terlalu lantang tentang realitas kini menjadi ancaman?

Yos Suprapto, lahir di Surabaya pada 1952, bukan nama baru di dunia seni Indonesia. Dengan gaya realisme simbolis yang khas, ia telah lama menjadikan kanvas sebagai medan perangnya. Lukisan-lukisannya, dari “Republik Udang” hingga “Bersatu dengan Alam,” adalah cermin tajam bagi masyarakat.

Namun, keberanian Yos kali ini berhadapan dengan tembok penyensoran yang lebih tebal dari cat di kanvasnya. Jika seni di negeri ini hanya boleh menyenangkan, enak dilihat tanpa menyinggung perasaan yang membentur realitas, apa kita harus membatasi lukisan pada bunga dan pemandangan. Tetapi, apa gunanya seni tanpa keberanian?

Syukurlah, Yos Suprapto tak bergeming. Seniman ini berani berdiri tegak melawan kekuasaan, meski harus dibungkam oleh narasi yang lebih mementingkan kenyamanan daripada kebenaran. Drama pembredelan atas karyanya ini adalah sebuah ironi pahit tentang bagaimana seni, yang seharusnya bebas, justru dipasung oleh ketakutan.

Dan seperti semua lelucon yang baik, lakon ini membawa kita pada pertanyaan mendasar: apakah seni di negeri ini masih menjadi suara kritis, ataukah ia telah terdegradasi menjadi sekadar pajangan aman bagi para elite? Meskipun Jokowi, yang kini tak lagi berkuasa, telah menjadi subjek kritiknya? Jawabannya, sayangnya, terkunci rapat di balik pintu Galeri Nasional.

Ketika melihat drama pembredelan ini, kita mempertanyakan ke mana sebenarnya arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Baru saja ia membentuk Kementerian Kebudayaan, sebuah langkah yang seharusnya membawa angin segar bagi dunia seni dan kebebasan berekspresi, tapi malah melakukan penggembokan.

Kementerian Kebudayaan yang baru lahir mestinya melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan performa berkebudayaan yang transparan, membuka diskusi, dan mendukung seni sebagai medium refleksi sosial. Namun, justru kasus pembredelan seperti ini —yang mencederai kebebasan berekspresi— menciptakan paradoks terhadap semangat yang katanya ingin dibangun pemerintah.

Bukannya memberangus karya tersebut, sebaiknya Presiden Prabowo memanfaatkan pameran lukisan yang langka ini sebagai momentum untuk menunjukkan bahwa pemerintahannya berbeda: fokus pada perbaikan nyata seperti penyediaan makanan bergizi, kemandirian pangan, dan pemberantasan korupsi.

Lebih jauh lagi, karya Yos Suprapto sebenarnya lebih banyak mengkritik pemerintahan sebelumnya, Presiden Joko Widodo, yang dianggap gagal mengurus program kedaulatan pangan, serta penggunaan PDIP sebagai kendaraan politiknya. Seni semacam ini, alih-alih dipandang sebagai ancaman, seharusnya dilihat sebagai pengingat untuk tetap berada di jalur yang benar dalam mengelola bangsa dan negara.

Penulis : Cak AT Ahmadie Thaha,Ma’had Tadabbur al-Qur’an

MoneyTalk, Jakarta – Pertama, Prabowo seorang nasionalis, juga patriotis. Sebagaimana umumnya prajurit TNI. Prabowo cukup menonjol di sisi ini. Nasionalisme Prabowo terlihat dari semangatnya memberantas korupsi. Meski baru dimulai dari “pesan moral” kepada seluruh perangkat pemerintahannya. Kita tunggu bagaimana Prabowo akan mendorong peran penegak hukum untuk secara serius melakukan pemberantasan korupsi. Pesan moral presiden tidak cukup tanpa ada penegakan dan ketegasan hukum.

Prabowo juga menunjukkan konsentrasinya di bidang ketahanan pangan. Prabowo janji tidak akan impor beras di tahun 2025. Prabowo nampaknya optimis. Dengan anggaran mentan yang dinaikkan 10 kali lipat (dari 8 T menjadi 80 T), target ketahanan pangan akan tercapai. Kita tunggu, apakah naiknya anggaran yang super extra ini betul-betul akan efektif untuk pencapaian ketahanan pangan dalam negeri.

Soal kedaulatan dan keamanan, tidak perlu meragukan Prabowo. Ini bidang yang selama ini digelutinya. Kabarnya, Prabowo akan rekruit 500.000 tentara. 250.000 jadi anggota TNI. 250.000 lainnya akan jadi pasukan cadangan.

Kedua, Prabowo cukup sukses merangkul berbagai elemen bangsa. Prabowo merangkul hampir semua partai politik dengan memberinya jabatan-jabatan penting di pemerintahan. Prabowo juga merangkul hampir semua ormas. Prabowo merangkul pula para guru dengan menaikkan gaji mereka. Naik satu kalu gaji untuk ASN, dan 2 juta untuk guru honorer. Prabowo juga merangkul buruh dengan menaikkan UMP-nya sebesar 6,5%. Juga membebaskan hutang buat UMKM.

Satu sisi, ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ini sekaligus akan memperkuat dukungan rakyat untuk memperkokoh stabilitas politik dan kekuasaan Prabowo.

Ketiga, Prabowo mesti pelan-pelan mampu melepaskan diri dari intervensi dan ketergantungan kepada Jokowi. Gemuknya kabinet yang mengakomodir sekian banyak dari para loyalis Jokowi membuat banyak pihak khawatir.

Prabowo punya pitensi untuk mendapatkan limpahan dukungan dari berbagai pihak, termasuk konstituen Anies Baswedan dan PDIP. Namun, bayang-bayang Jokowi menghalangi mereka untuk mendukung dan bergabung. Ketika Prabowo lepas dari Jokowi, maka dua kelompok di atas akan banyak yang mendukung dan bergabung.

Ada harapan besar kepada Prabowo untuk memperbaiki sistem pemerintahan yang sebagian telah rusak parah di era Jokowi. Diantaranya adalah politisasi institusi hukum, kriminalisasi aktifis, terkekangnya pilar demokrasi, dan matinya mimbar kampus. Sudah waktunya pemilihan rektor dikembalikan ke senat universitas, tanpa campur tangan kementerian. Dorong kampus untuk menjadi institusi pendidikan yang independen, sehingga mampu secara lebih efektif melahirkan para sarjana yang tidak saja kompeten, tapi juga kritis dan memiliki kesadaran bernegara yang tinggi.

Keempat, tidak ada pemerintahan yang sempurna. Karena itu, Prabowo butuh oposisi. Prabowo mesti memberi ruang kepada lahirnya oposisi untuk menjadi mitra dialog dan sparing partner dalam mrmbangun bangsa ini. Pemerintahan akan kokoh jika mampu membuka ruang bagi hadirnya kritik terhadap kinerjanya.

Di tengah DPR yang tidak lagi bisa diharapkan peran kontrolnya terhadap pemerintah, maka hadirnya oposisi menjadi penting untuk mengoreksi setiap potensi kesalahan dan ketersesatan pemerintah.

Hadirnya oposisi justru akan membuat pemerintahan menjadi lebih tangguh dan tahan banting.

Empat hal ini perlu menjadi catatan yang amat penting untuk diperhatikan oleh Prabowo di awal menjalankan tigasnya sebagai kepala pemerintahan, agar tidak salah arah.

Penulis : Tony Rosyid,Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa