21 Oktober 2026

PDIP

Jakarta,MoneyTalk – Memperhatikan hasil survei periodik KOMPAS Mei 2023, responden yang mendukung Prabowo Subianto (PS) menjadi Capres R.I 2024 ada di kisaran 24,5 persen, Ganjar Pranowo (GP) 22,5 persen, sedangkan Anis Baswedan (AB) 13,6 persen. Lalu ada sekitar 14,4 persen responden survei KOMPAS tersebut yang mencalonkan tokoh-tokoh lainnya diluar ketiga tokoh tersebut. Dukungan publik itu menyebar ke 17 tokoh lainnya. Hasil survei dari lembaga-lembaga survei terpercaya pada akhir-akhir ini, memang banyak menunjukkan trend kenaikan untuk Prabowo, dan mungkin karena hal itu, Prabowo menjadi semakin percaya diri dan lupa bahwa ini masih dalam tahap pemanasan, pertarungan yang sesungguhnya belumlah dimulai.

Saya pribadi terus terang tidak mengerti, apakah ini sebuah trik strategi perang politik ala Sun Tzu (Biarkan Musuhmu Merasa Menang) yang sedang dimainkan oleh kubu Megawati dan Jokowi, yang ingin main kalem dulu dan biar musuh politik besarnya (baca: Prabowo) merasa di atas angin lalu dengan percaya diri penuh PS mencalonkan diri sebagai Capres kembali. Bukankah asyik sekali kalau saja Capres yang dipilih Mega dan Jokowi, yakni GP bertarung melawan Capres yang bolak balik kalah dan tidak pernah memiliki riwayat sebagai pemenang? Tarung di Militer lawan Wiranto di Tahun 1998 kalah, lalu dipecat dan kabur ke Yordania. Ikut Konvensi Capres Golkar 2004 kalah, bahkan nomer kontak Ketua-Ketua DPD Golkar yang punya suara di Konvensi Capres GOLKAR saat itu saja PS tidak tau, ikut nyalon sebagai Cawapresnya Megawati 2009 kalah, maju jadi Capres 2014 kalah dan maju lagi jadi Capres 2019 juga kalah. Maka sangat mudah sekali bagi GP nantinya mengalahkan PS di PILPRES 2024 bukan?.

Jika semua itu merupakan bagian dari trik strategi perangnya Megawati dan Jokowi, maka PS harus hati-hati, waspada dan tidak boleh gegabah. GP itu politisi ulung, kawakan yang sudah lama bertarung di pentas politik nasional. GP kemudian disembunyikan di Semarang, dan dijadikan Pemimpin Daerah dengan menjadi Gubernur Jateng. PS tidak boleh meremehkan kapasitas kependekaran politik GP, jika PS tidak ingin jatuh tersungkur untuk kesekian kalinya. GP itu Capres idaman generasi muda, kaum intelegensia, apalagi emak-emak. Bagi kaum perempuan, memandang GP itu bukan hanya sebagai sosok politisi tangguh semacam Barack Obama, melainkan juga tampan bak George Clooney. Disaat waktunya nanti tiba, kehadiran GP di berbagai event kampanye politik, pesertanya akan membludak mulai dari Tugu Monas Jakarta sampai Simpang Lima Semarang dan Tugu Pahlawan Surabaya tanpa putus !.

Namun percayalah, gengsi PS dan pendukung elite-elitenya itu besar sekali. Sekali PS Capres ya akan jadi Capres abadi. Tawaran Megawati dan Jokowi untuk menduetkan GP dan PS, akan terus ditolak PS, sampai nantinya menjelang penutupan pengajuan Capres di KPU mau ditutup dan PS baru sadar, bahwa selama ini pertarungan baru dalam tahap pemanasan, dan hasil survei dari lembaga-lembaga survei akan mulai mendekati kenyataan yang sesungguhnya, elektabilitas GP mulai meninggalkan jauh dari PS, GP akan mulai jauh di atas angin !. Begitulah nantinya yang akan terjadi ketika ribuan relawan GP sudah mulai tancap gas, dan Megawati serta Jokowi turun ke lapangan diikuti para ketua-ketua Parpol dan tokoh-tokoh masyarakat yang selama ini diam-diam selalu menanti instruksi Megawati dan Jokowi.

Di saat seperti itu, PS akan terbayang-bayang kegagalannya selama ini. Ego pribadi telah nyata menjadikannya meratapi kegagalan demi kegagalan yang tak berkesudahan. Di moment seperti itulah PS akan berpikir ulang, angkat tangan, menyerah dan mendatangi Megawati dan Jokowi untuk mengikuti nasehatnya: siap dijadikan Cawapresnya GP !. Namun apa dikata, Pintu Telah Ditutup, waktu untuk tawaran jadi Cawapresnya GP sudah habis, kesepakatan bersama untuk menduetkan GP dengan figur tertentu sudah finish, maka mau tidak mau PS terpaksa harus tetap Nyapres, bersanding dengan Sandiaga Uno (SU), agar kalau kalah lagi tidak terlalu tekor banyak. Kan mereka berdua bisa patungan 50:50%?. Lho, terus Anies Baswedan kemana, mau maju dengan siapa? Dengar-dengar, AB kemungkinan besar akan diduetkan dengan GP. Haaa? Kadrun, Kampret dan Cebong bisa murka dong?. Biarlah, mungkin ini sebuah ikhtiar untuk menyatukan kembali sebuah bangsa yang terbelah.

Bagaimana mungkin GP dan AB bisa disatukan, ini kan sama seperti mau menyatukan Rajawali dan Ular dalam satu kandang? Entahlah, yang jelas uji coba kerjasama dua figur ini sudah dijajaki sangat lama. Dengar punya dengar, team inti GP dan AB sudah lama bekerjasama, untuk menjajaki duet Pilpres 2024. Info yang sudah sangat lama saya ketahui ini memang membuat saya sempat berpikir lama, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa kata dunia? Bagaimana wajah Indonesia ke depan jika GP harus berduet dengan AB memimpin Indonesia? Saya cemas, khawatir dengan apa yang terjadi di negeri ini kedepan, makanya kenapa selama beberapa tahun ini saya terus menerus menggempur AB agar rontok elektabilitasnya, dan tidak jadi berduet dengan GP. Ikhtiar teman-teman di lingkaran Mega, Jokowi dan GP itu memang baik, sangat baik dan mulia, karena niatnya ingin menyatukan kembali anak-anak bangsa yang terbelah, sebagai imbas pertarungan PILPRES 2014 dan 2019 serta PILKADA DKI Jakarta 2017.

Namun, kita juga boleh dong melakukan ikhtiar lainnya untuk menjaga dan melindungi Pancasila dan NKRI tercinta? Karena itu di berbagai seri opini politik yang saya tulis, saya mencoba untuk menyuguhkan nama figur yang lebih realistis untuk mendampingi GP. Dari unsur latar belakang Militer saya tawarkan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, dan dari unsur latar belakang Sipil saya tawarkan R. Haidar Alwi. Mengapa harus Moeldoko? Karena saya khawatir, GP yang politisi Sipil akan diganggu nantinya oleh kalangan Militer sebagaimana Bung Karno dan Gus Dur. Ingat loh, yang dihadapi GP ini PS yang berlatar belakang Militer dan memiliki jaringan luas di Militer. Apalagi setelah PS jadi Menhan, haqul yakin akan banyak lagi pengaruhnya dari kalangan Militer. Jika PS ini tidak diimbangi oleh kekuatan dari unsur yang berlatar belakang Militer juga, maka GP akan “ngoyo” (kerja mati-matian) nantinya saat memimpin negara.

Di antara Jenderal TNI purnawirawan yang paling banyak didukung rakyat, dan yang terlihat dari hasil Musyawarah Rakyat (Musra) itu ya Moeldoko. Dan itu wajar, mengingat Moeldoko lebih senior, jauh lebih berpengalaman, berpengaruh dan populer daripada Jenderal-jenderal TNI purnawirawan lainnya. Kalau Jenderal-jenderal yang masih aktif di Militer kan haram hukumnya untuk ditarik-tarik ke ranah politik praktis bukan?. Lalu, R. Haidar Alwi itu tokoh Sipil yang sudah malang melintang di dunia pergerakan melawan radikalisme, terorisme dan intoleransi. Pengalamannya memanage perusahaan kontraktor dan pertambangan sudah teruji. Ahli dalam project management, analisis ekonomi pemeliharaan dan management sistem. Yang menarik dari semua itu, R. Haidar Alwi ini juga tokoh Nahdliyin yang sudah diakui sumbangsih besarnya untuk memajukan Nahdlatul Ulama (NU). Nah, daripada menduetkan GP dengan AB yang tak jelas ideologinya itu, jauh lebih mantap kalau GP diduetkan dengan Moeldoko atau R. Haidar Alwi bukan?.

Sejarah panjang perjuangan PDI atau PDIP, selalu menyatukan kekuatan Nasionalisme dan Islam. Islam kesayangannya PDIP itu dari dulu ya NU, dan siapa yang meragukan ke NU an Moeldoko yang dari Kediri itu? Siapa yang meragukan ke NU an R. Haidar Alwi yang dari Solo itu? Tidak ada yang meragukannya, karena dua-duanya sangat nampak jiwa kesantriannya. Lalu mengapa Megawati, Jokowi dan GP tidak memilih salah satu dari keduanya saja? Menyandingkan GP dengan AB memang berpotensi untuk mengikatkan kembali keretakan bangsa yang sudah lama menguras air mata nurani kita, namun jika kemudian setelah GP dan AB diduetkan dan menang, infiltrasi Wahabi Takfiri malah datang menerjang, maka NKRI akan segera bubar. Sangat beresiko sekali bukan pilihan ini? Maka tidak ada pilihan lain, selain harus menghindari resiko besar itu, entah dengan cara menduetkan GP dengan Moeldoko yang mantan Panglima TNI, atau dengan R. Haidar Alwi yang tokoh Anti Radikalisme Agama. Terserah saja, kami semua pada akhirnya akan ikuti Tiga Serangkai Tokoh Nasionalis Indonesia terkini saja: Ibu Megawati, Pak Jokowi dan Mas Ganjar Pranowo saja…(SHE).

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Pendiri Organisasi Keluarga Mahasiswa NU (KMNU).

Jakarta,MoneyTalk – PDIP masih juga ngotot dengan Ganjar, padahal sudah sejak awal Penulis menyatakan Tinggalkan Ganjar, ambil Puan Kembali dan Pasangkan dengan Prabowo. Tentu saja sebagai Wapres. Hal ini masih belum terlambat, Prabowo masih Lajang, belum punya pendamping. Bila PDIP ambil Opsi Ini, PDIP akan Selamat dari Degradasi Drastis Pemilih atau kehilangan Elektabilitas habis-habisan. Setidaknya masih di atas 15 %. Tapi seandainya Opsi Ini tidak diambil, PDIP akan turun Super Drastis menjadi di bawah 15 %. Masa iya… Ya iyalah :S

uara PDIP di atas 20 % pada Pemilu tahun 2019 adalah Suara yg Diragukan Keabsahannya oleh para Anggota dan Pendukung PDIP sendiri. Itu menurut banyak teman-teman PDIP Penulis yang berdomisili di Jawa Timur, dan bahkan terutama di Jawa Tengah. Penghilangan super mudah kotak suara KARDUS BERGEMBOK BESI itulah Penyebab Utamanya.

Banyak Kader dan Anggota PDIP Pendukung Puan yang bahkan Bersumpah Tidak Akan Pilih Ganjar meskipun masih tetap Memilih PDIP dalam Pemilunya. Tetapi tidak sedikit pula yang kebablasan dengan Bersumpah Tidak Pilih PDIP dalam Pemilu, karena sangat amat Kecewa atas Penunjukkan Ganjar sebagai Capres PDIP. Sementara Ganjar sebagai Gubernur di Jawa Tengah mereka anggap TIDAK BERPRESTASI.

Sebagian sangat besar Tukang Bakso dan Pedagang Kecil juga Bersumpah tidak akan Mencoblos PDIP beserta Capresnya Ganjar dalam Perhelatan Pemilu dan Pilpres Tahun 2024 akibat ucapan Megawati : “TIDAK INGIN PUNYA MANTU TUKANG BAKSO.”

Begitupun sebagian sangat besar Ibu-Ibu Pengajian juga Bersumpah tidak akan Mencoblos PDIP dan Ganjar dalam Pesta Pemilu/Pilpres 2024 karena teguran sinis Megawati terhadap Ibu-Ibu Pengajian yang menurut Megawati BUANG-BUANG WAKTU saja ikut pengajian.

Penggemar Sepak Bola di Indonesia, tanpa pandang bulu, sudah pula bersumpah bahwa mereka bukan hanya haram memilih Ganjar dan PDIP dalam Pilpres dan Pemilu RI tahun 2024, tetapi justru bertekad membuat PDIP menjadi KUDA PONI atau MANUSIA LILIPUT yang bahkan tak tampak kepalanya apalagi batang hidungnya di tengah-tengah Lautan Manusia.

Last but not least, Neraka Paling Dalam bagi PDIP adalah Pembangkangan oleh Kader Tercintanya yang mendukung Prabowo sebagai Presiden, yaitu Joko Widodo alias Jokowi. Ini dipastikan akan MENGGERUS HABIS Pendukung PDIP di kandang sendiri di Jawa Tengah.

Kini kita tengok partai-partai Koalisi Pemerintah lainnya. Nasdem sudah pasti berlawanan dengan PDIP, bahkan telah lebih dulu bersimpang jalan dengan Presiden Jokowi yang tampaknya tidak mungkin diperbaiki lagi. Golkar adalah Partai Koalisi paling keras penentang PDIP ikut ke dalam KIB yang dibentuk Jokowi. Sementara PKB sudah merasa nyaman berkoalisi dengan Gerindra yang Percaya Diri mengusung Prabowo sebagai Capres mereka untuk tahun 2024 mendatang. Tampaknya Ketua Umum PKB yang merupakan Sandera KPK bermain cantik sehingga tak terpengaruh kuat oleh Penyanderaan dirinya itu. PAN dan PPP tidak bisa diharapkan karena Pimpinannya juga TERSANDERA KPK sehingga keduanya tersulap menjadi Partai Tanpa Gerbong. Dengan demikian tampaknya PDIP betul-betul akan berjalan sendirian mendukung Ganjar yang maju Tanpa Harapan karena Elektabilitasnya sesungguhnya sangat rendah, jauh di bawah Hasil-Hasil Survey yang ditampilkan selama ini. Hal ini sudah lama diketahui umum, tetapi baru-baru ini saja terbuka di media, bahkan dibongkar oleh Media yang katanya Jujur Terpercaya, KOMPAS. Jadi bagaimana caranya untuk kita tidak percaya? (MT)

Oleh : Indra Adil
Eksponen PKM IPB 77/78

 

JAKARTA, MoneyTalk – Saat ini PDI Perjuangan (PDIP), dan Megawati Soekarnoputri sedang mencari sosok cawapres (Calon Wakil Presiden) Untuk mendampingi Capres GP (Ganjar Pranowo).

Dalam proses mencari Cawapres, sebetulnya ada yang menarik. Yaitu, ketika sosok cawapres itu sudah ditemukan, dan ditangan Megawati Soekarnoputri. Maka biasa Megawati Soekarnoputri
sebelum “dilaunching” atau melemparkan ke publik, lebih dulu “mengkonsultasikan” ke kyai-kyai NU.

Itulah cara Megawati Soekarnoputri yang selalu menghormati NU. Tahu adab, tahu sopan santun dalam berpolitik yang generasi muda harus mencontohnya. Dan Megawati Soekarnoputri itu, sebetulnya tidak sombong, atau tinggi hati, tapi rendah hati, demi selalu menjaga konstitusi Negara.

Nah!, Sekarang Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sudah menerima 10 tokoh. Mereka tengah mengantre dan menunggu dipilih jadi cawapres untuk mendampingi Ganjar Pranowo sebagai calon wakil presiden (cawapres) di Pilpres 2024.

Dari 10 Tokoh ini, sebetulnya yang pertama dicari PDI P adalah cawapres yang berasal NU. Beliau Selalu mengutamakan NU dulu, dan tentu NU asli. Bukan kader NU yang punya sertifikat – sertifikatan, atau kader NU sudah merasa dinaturalisasi. Hal ini dilakukan, untuk menghindari NU hanya dipakai sebagai kuda tunggangan di pilpres 2024.

Selanjutnya, alasan pertama, PDI P memilih kader NU bukan karena PDI P selalu dekat dengan NU.Tapi yang lebih penting, memilih cawapres dari NU, berarti bisa untuk menghilangkan image partai bahwa PDI P selalu dituding Anti Islam. PDI P dinilai tidak ramah pada umat islam. Yang paling sadis, PDI P sangat benci dengan umat Islam.

Kemudian, alasan kedua mengapa PDI P harus memilih kader NU, adalah untuk memecah kekuatan basis suara NU di pulau Jawa. Agar basis suara NU tidak semuanya digenggam pasangan Prabowo – cak imin. Atau semua basis suara NU dikuasai Anies – Khofifah.

Tetapi, kalau PDI P “ngotot” tidak akan pilih orang NU sebagai cawapres GP, maka nasib GP akan seperti Prabowo. Seumur hidup tidak bakalan bisa jadi Presiden, atau bisa memenangkan Pilpres 2024. Coba lihat Probowo dua kali menjadi Capres, dan tidak mau memilih calon wakil presiden dari kalangan NU, yang akhirnya kalah capres melulu.

Dan terakhir, cawapres yang dicari PDI P adalah kader NU yang berasal luar pulau Jawa. Karena GP dari Jawa, maka yang lebih cocok mendampingi GP adalah cawapres NU yang berasal dari luar pulau Jawa.

Dengan memilih cawapres NU dari luar pulau Jawa, diharapkan bisa mencuri atau mendulang suara dari basis basis Prabowo, dan Anies di luar pulau Jawa.

Selain itu, rakyat di luar Jawa akan memberikan apresiasi yang cukup positif buat PDI P dan GP karena berani mengakomodasi tokoh – tokoh luar Jawa dalam pentas Nasional.

Memang sulit, atau tidak begitu banyak untuk mengakomodasi Kader atau tokoh – Tokoh NU dari luar Jawa itu. Kalaupun ada, sudah bergabung dengan Prabowo, atau Anies. Tetapi masih tersisa nih, yaitu Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Tokoh NU KH. Nasaruddin Umar ini berasal dari Makassar. Beliau sangat cocok untuk mendampangi GP karena apolitis, tidak neko – neko, dan selalu membawa islam yang ramah di ruang Publik.

Tetapi Kalau PDI P tidak mau memilih
KH. Nasaruddin Umar sebagai cawapres. Dan akan tetap memilih Erick Thohir, atau Sandiaga Uno, bisa bisa hal ini akan merepotkan posisi GP ketika sudah jadi Presiden. Kedua orang ini pengusaha besar, dan banyak duit. Tentu akan banyak menekan atau mempengaruhi GP untuk membela kepentingan bisnis perusahaan kedua orang kaya ini.

Dan daripada Megawati Soekarnoputri memilih Erick Thohir atau Sandiaga Uno, akan lebih baik tetap menilih Tokoh NU yang bernama As’ad Said Ali yang sangat Nasionalis, religius, dan Anti korupsi. (MT)

Uchok Sky Khadafi
Direktur Eksekutif CBA
(Center For Budget Analysis)

 

 

JAKARTA, MoneyTalk – Pemerhati Sosial Politik Uchok Sky Khadafi menilai, keputusan Megawati Soekarnoputri menjadikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden (capres) 2024 tidak akan berdampak banyak terhadap elektabilitas PDIP.

“Masyarakat pemilih sudah pada fase bosan karena PDIP memimpin selama dua periode ini tidak ada perubahan secara signifikan,” kata dia.

Uchok menambahkan, dipilihnya Ganjar sebagai capres bisa jadi karena PDIP enggan ikut koalisi besar.

“PDIP gengsi harus gabung gerbongnya Golkar dan Gerindra. PDIP ingin dominasi jalannya kekuasaan ke depan sepertinya dan enggan berbagi secara setara dengan parpol lainnya,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata dia, sosok Ganjar Pranowo yang hanya bermodalkan elektabilitas lembaga survei juga belum bisa jadi jaminan bakal memenangkan kontestasi pilpres 2024.

“PDIP gambling pilih Ganjar di tengah adanya resistensi kaum milenial imbas piala dunia U-20 yang gagal kemarin itu. Bakal terjadi konflik internal jika Ganjar gagal jadi capres,” tandasnya. (MT)

JAKARTA, MoneyTalk – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akhirnya resmi diumumkan sebagai capres dari PDIP.

Hal tersebut diumumkan langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Istana Batutulis, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/4/2023).

“Maka pada jam 13.45 dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim, menetapkan saudara Ganjar pranowo, sekarang adalah Gubernur Jawa Tengah, sebagai kader dan petugas partai untuk ditingkatkan penugasannya sebagai calon Presiden Republik Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” kata Megawati.

Saat mengumumkan hal tersebut Megawati turut didampingi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta Ketua DPP PDIP Prananda Prabowo dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Usai pengumuman, Megawati menyematkan kopiah hitam pada Ganjar.

Menurut Megawati, mengenakan kopiah merupakan budaya orang Indonesia. Dia pun mengutip pendapat Presiden Soekarno yang menyebut kopiah adalah lambang nasionalisme di mana ada perpaduan nilai nasional dan religius.

Pidato Lengkap Ganjar Pranowo Usai Jadi Capres PDIP

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua. Om swastiastu, namo buddhaya, rahayu.

Yang sangat kita hormati, kita banggakan, Ibu Ketua Umum, Ibu Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri. Tentu yang terhormat, yang kita banggakan kader terbaik bangsa, terbaik kita semua yang kita semua miliki Bapak Presiden Joko Widodo yang hari ini bertugas sebagai Presiden RI.

Hadir dalam ruang ini, Mas Prananda, Mbak Puan yang sudah menjabat sebagai Ketua DPR RI, kader perempuan terbaik. Pak Ollie terima kasih. Pak Pram, Mas Hasto, Pak Sekjen terima kasih.

Tentu ini adalah sebuah keputusan yang diambil oleh Ketua Umum yang melalui proses yang sangat panjang, sebuah kehormatan buat saya mendapatkan penugasan sebagai kader partai.

Di samping tentu ini tugas yang tidak mudah, maka kiranya kawan-kawan yang hadir baik secara luring maupun daring, ada kepala daerah, ketua DPD PDI-Perjuangan, DPC, PAC, ranting, anak ranting, satgas dan seluruh komponen partai yang lain, kami mohon dukungan, kami mohon kritikan, saran, ini lah momentum buat kita untuk konsolidasikan kekuatan untuk bersatu. One for all, all for one.

Ibu Ketua Umum, Bapak Jokowi, seluruh hadirin yang sangat saya hormati, tentu ini bukan penugasan saya yang pertama dari partai ini. Awalnya sebelum masuk dalam jabatan publik, kami pernah ditugaskan oleh partai untuk membentuk, membidani lahirnya Badiklat pusat.

Setelah itu partai juga memberikan penugasan kepada saya untuk ikut serta dalam melahirkan Badan Penanggulangan Bencana dan Departemen Otonomi Daerah. Setelah itu penugasan berikutnya diberikan kepada saya untuk menjadi anggota DPR RI sampai dua periode.

Dan sampai dengan hari ini masih dalam jabatan yang saya emban, Ibu Ketua Umum PDI-Perjuangan memberikan penugasan kepada saya sebagai Gubernur Jawa Tengah dua periode.

Dan hari ini Ibu mengumumkan memberikan amanat kepada saya yang jauh lebih berat, mudah-mudahan saya mampu berjuang dengan baik soal itu, sebagai calon presiden RI.

Ibu Ketua Umum, tentu saja proses kaderisasi dengan diklat yang saya terima bukan lahir begitu saja. Saya lahir dari partai ini, digembleng oleh partai ini, dan besar di partai ini.

Dengan nilai-nilai kejuangan, dengan semangat, spirit, dan inspirasi dari Bung Karno yang tentu kita sebagai anak-anaknya, anak-anak bangsa selalu menghormati, mengikuti, dan selalu menjalankan apa yang menjadi pemikiran beliau sebagai seorang pemikir politik bagaimana beliau berbicara dalam taraf global, dalam taraf nasional, bahkan sampai yang kecil sampai tingkat lokal yang tadi disampaikan bagaimana kita bersentuhan dengan rakyat secara langsung.

Seluruh inspirasi dari segala pemikiran-pemikiran Bung Karno ini lah yang kemudian musti kita wujudkan. Tugas belum tuntas. Harus kita tuntaskan oleh anak-anak bangsa bagaimana spirit dalam Pembukaan UUD musti kita wujudkan, bagaimana negara ini bisa berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan tidak pernah lepas kita punya kepribadian dalam kebudayaan. Itulah yang memberikan spirit kami.

Tentu saya ingin mengucapkan terima kasih terkhusus kepada Mbak Puan, yang dalam penugasan-penugasan politik pernah menjadi pasukan tempur, panglima tempur di Jawa Tengah sampai dengan dua periode.

Mas Nanan terima kasih yang selalu memberikan arahan. Wabil khusus Pak Presiden, Pak Jokowi, saya sebagai perpanjangan tangan di daerah, bagaimana kita gotong royong membangun spirit sebagai bonding partai untuk bisa menyelesaikan tugas-tugas ideologis dan melayani masyarakat.

Tentu terobosan-terobosan yang diberikan oleh Pak Jokowi, fundamen yang telah dibangun musti kita lanjutkan. Hanya kita yang terus berkomitmen untuk terus melanjutkan itu di mana beliau mendobrak kemapanan-kemapanan, kenyamanan-kenyamanan sehingga Indonesia harus bergerak maju untuk itu.

Ibu Mega, terima kasih. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, Insyaallah kami akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Dan tentu saja kader-kader lahir dari tokoh perempuan yang sangat hebat di hari Kartini pada hari ini.

Kepada seluruh umat Muslim, selamat menjalankan Idulfitri, mohon maaf lahir batin, mohon dukungannya. Salam Pancasila! Merdeka!

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

JAKARTA, MoneyTalk – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akhirnya resmi diumumkan sebagai capres dari PDIP.

Hal tersebut diumumkan langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Istana Batutulis, Bogor, Jawa Barat, Jumat (21/4/2023).

“Maka pada jam 13.45 dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim, menetapkan saudara Ganjar pranowo, sekarang adalah Gubernur Jawa Tengah, sebagai kader dan petugas partai untuk ditingkatkan penugasannya sebagai calon Presiden Republik Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” kata Megawati.

Saat mengumumkan hal tersebut Megawati turut didampingi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta Ketua DPP PDIP Prananda Prabowo dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

Usai pengumuman, Megawati menyematkan kopiah hitam pada Ganjar.

Menurut Megawati, mengenakan kopiah merupakan budaya orang Indonesia. Dia pun mengutip pendapat Presiden Soekarno yang menyebut kopiah adalah lambang nasionalisme di mana ada perpaduan nilai nasional dan religius.

JAKARTA, MoneyTalk – Bila Bung Karno masih hidup, meski jauh sekali kualitas diri Putri Kesayangannya dibanding dirinya dalam berpolitik, apalagi secara intelektual, pasti Bung Karno tetap bangga pada Megawati dan berterima kasih atas militansi dan energi Megawati mempertahankan Trah Soekarno di blantika perpolitikan nasional.

Betapa tidak…? Sekalipun didera tuduhan curang dalam Pemilu dan Pilires 2019 yang lalu, “de facto” masyarakat politik di Indonesia tetap mengakui PDIP (Partai Bung Karno), sebagai Partai No. 1 di Indonesia, dan pimpinan puncaknya adalah Megawati Soekarnoputri alias pewaris trah Soekarno.

Bagaimana dengan pewaris Soekarno yang lain? Tak ada yang terdengar kiprahnya kecuali Puan Maharani. Tetapi Puan Anak Mami, tidak pernah punya effort. Selalu jaga muntah dari ibunya, Megawati. Lalu apa yang akan terjadi dengan trah Soekarno?

Kita Tengok Konstelasi Politik Hari ini.

1. PDIP Kehilangan momentum pecalonan Puan untuk capres, koalisi-koalisi partai baik oposisi maupun partai oemerintah telah terbentuk. Nasdem, PKS dan Demokrat telah mantap dengan Anies dan PDIP tidak akan bergabung bila Puan hanya jadi calon wakil presiden.

2. Koalisi Besar Pemerintah juga telah terbentuk dengan 3 Capres yaitu Prabowo, Hartarto dan Muhaimin, meski Muhaimin cuma jadi penggembira. Berarti peluang Puan jadi  apres Koalisi Besar telah tertutup bila PDIP ingin bergabung. Bahkan Golkar lewat Wakil Ketua Umum Nurdin Halid dengan tegas menyatakan menolak PDIP bergabung bila tetap menginginkan Puan menjadi Capres.

3. Firly, Muldoko dan Anas mengancam Demokrat, meski Firly sudah sangat Terpojok. Firly tidak mungkin lagi mampu dan mau menyeret Anies ke KPK, kecuali dia sangat-sangat bodoh. Tinggal Muldoko yang berpeluang bergabung dengan Anas untuk merebut Demokrat dari Harimurti dan SBY.

Dipastikan kali ini Muldoko bakal berhasil, karena akan mendapat dukungan penuh pemerintah yang sangat berkepentingan menggembosi Anies. Apalagi ada tambahan tenaga potensial baru yaitu bebasnya Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Demokrat yang merasa pernah didzolimi SBY.

Bisa dipastikan Anas telah menyiapkan pukulan telak kepada SBY yang pasti bakal bikin KO SBY yang saat ini sudah tertatih-tatih. Bila duet ini sukses, bisa dipastikan Demokrat akan bergabung ke dalam Koalisi Besar, Nasdem dan PKS tinggal jadi macan ompong. Anies Gigit Jari.

4. Akibatnya, Nasdem dan PKS meski dengan sangat terpaksa -mengingat perseteruan tajam Surya Paloh Vs Megawati- akan mendekat ke PDIP daripada kedua partai jadi nelongso karena tak memegang senjata terlemah sekalipun. PDIP akan bersedia bergabung dengan persyaratan tetap, Puan capres. Anies dipastikan bersedia menerima posisi cawapres daripada pulang tangan kosong.

Dengan demikian akan ada 2 Pasangan capres-cawapres pada pilpres 2024 yaitu Prabowo-Hartarto yang dibackup Jokowi dan Puan-Anies yang dibackup Megawati. Ini akan menjadi pertarungan super seru karena permainan curang tak mungkin terjadi akibat pelaku permainan curang ada di kedua pihak.

Persis seperti kesimpulan tulisan pertama penulis, setelah Peringatan HUT Ke-50 Tahun PDIP yang lalu, pertarungan Jokowi-Mega akan berlanjut keras, karena Jokowi ingin memperlihatkan kepada Rakyat Indonesia kebalikan kata-kata Megawati, yaitu tanpa Jokowi, PDIP bukan siapa-siapa.

Perdamaian antara mereka berdua bisa terjadi apabila Jokowi mengalah, bersedia mempersandingkan Puan-Prabowo. Puan adalah HARGA MATI karena pada diri Puan terletak kartu terakhir penyelamatan trah Soekarno di blantika perpolitikan Indonesia. (MT)

Hipotesis di atas bisa terjadi apabila Jokowi gagal memperpanjang Periode Pemerintahannya yang menjadi Tujuan Utamanya

Oleh : Indra Adil
(Eksponen PKM IPB 77/78)

JAKARTA, MoneyTalk – Di tengah riuhnya wacana pembentukan koalisi besar yang di dalamnya ada sejumlah partai seperti PAN, PPP, Golkar (KIB) dan Gerindra, PKB (KIR) diprediksi PDIP bakal membentuk poros kekuatan tersendiri.

Pengamat Politik Anggaran, Uchok Sky Khadafi meyakini bahwa PDIP tidak mungkin bakal mau bergabung dengan Koalisi Besar sekalipun itu terbentuk.

Menurutnya, PDIP akan memilih jalan sendiri dengan membentuk poros kekuatan baru.

“PDIP bakal bentuk poros baru ketimbang gabung Koalisi Besar. Mereka tidak pernah mesra secara prinsip dengan Partai Golkar masalahnya. Meskipun dipermukaan mereka seperti tak ada masalah apa-apa. Tapi kalau lihat komposisi kabinet Jokowi jilid satu sampai dua kan terlihat saling tarik tarikan kubu Golkar vs PDIP. Jadi mustahil mereka menyatu,” kata Uchok.

Uchok mengatakan, PDIP sebagai partai besar juga memiliki agenda utama yang tak mungkin dikompromikan dengan kekuatan lain yang seimbang.

“PDIP gak mau kalau posisinya seperti itu. Kecuali PDIP yang jadi komandonya. Rumit koalisi besar itu kalau terbentuk. Karena ada tiga partai besar yakni PDIP, Golkar dan Gerindra (jika terbentuk). Tidak akan sejalan agendanya karena masing-masing punya ego sektoral. Kecuali PPP dan PAN yang cuma ikut-ikutan saja,” ujarnya.

Uchok meyakini, pada akhirnya PDIP akan membentuk blok kekuatan baru di luar kekuatan Golkar dan Gerindra.

“Politik itu dinamis. Saya prediksi pada akhirnya PDIP akan ajak Koalisi Perubahan yang di dalamnya ada NasDem, PKS dan Demokrat bergabung. Koalisi perubahan relatif bisa diajak kompromi sama PDIP karena agenda utama mereka soal kepemimpinan sementara koalisi besar agendanya banyak dan tak mudah dikompromikan,” jelasnya.

Menurutnya, jika PDIP mampu membentuk poros kekuatan baru bukan tidak mungkin Koalisi Besar akan bubar di tengah jalan.

“PKB pasti loncat pagar dari Koalisi Besar karena dia enggan kalau cak Imin gak jadi cawapres. PDIP akan jadi magnet jika mampu tarik koalisi perubahan gabung sama mereka,” tutupnya.[MT]

JAKARTA, MoneyTalk –  Pemerhati Sosial Politik, Uchok Sky Khadafi menilai wacana pembentukan Koalisi Besar yang di dalamnya terdiri dari sejumlah partai seperti Golkar, PPP, PAN (KIB) dan Gerindra serta PKB (KIR) tak lebih sebagai upaya menjegal dan mengisolasi PDIP.

Pasalnya, kata dia, jika dilihat dari peta politik yang ada, PDIP salah satu partai pendukung pemerintah saat ini yang agak sulit untuk diajak kompromi.

“PDIP sulit dikendalikan rezim sepertinya. Makanya, rezim ini konsolidasikan kekuatan parpol yang dianggap bisa mereka kendalikan atau loyal dengan mewacanakan wadah besar bernama Koalisi Besar itu,” kata dia, Rabu (5/4/2023).

Dengan kata lain, lanjut Uchok, wacana Koalisi Besar merupakan atau tak lain sebagai warning dari kekuasaan bagi PDIP.

“Kira-kira bahasanya, kalau gak sejalan juga kita bikin Koalisi Besar. Koalisi Besar sebagai bargain untuk menjegal dan mengisolasi PDIP jika tak mencapai titik temu atau kompromi politik. Mereka belum ada titik temu soal bagi-bagi kekuasaan jika menang termasuk soal kandidat capres yang bakal diusung,” ujarnya.

Baik PDIP maupun rezim kekuasaan, kata dia, sama-sama punya power yang seimbang.

“Dua-duanya power full. Tinggal bagaimana keduanya bisa membangun gerbong baru jika memang deadlock soal kesepakatan politiknya. Agak sulit PDIP gabung Koalisi Besar saya kira karena soal prestise dan basis ideologi yang tak satu frekuensi dengan parpol lainnya yang ada di barisan pemerintah,” urainya.[MT]