6 November 2026

Gibran Rakabuming

MoneyTalk.id,Jakarta – Dugaan penyadapan ilegal yang menyeret sejumlah perwira tinggi Polri, termasuk mantan Kapolri Jenderal (Purn) Listyo Sigit Prabowo, membuka persoalan serius tentang penyalahgunaan kewenangan aparat penegak hukum. Kasus ini tidak hanya menyangkut pelanggaran prosedur, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan instrumen intelijen untuk kepentingan politik dan perebutan pengaruh di lingkar kekuasaan.

‎Bareskrim Polri mengungkap dugaan keterlibatan tiga perwira tinggi berinisial LSP, ASN, dan EH. Mereka diduga melakukan penyadapan terhadap sejumlah nomor telepon tanpa prosedur hukum yang semestinya. Sasaran penyadapan disebut mencakup Presiden Prabowo Subianto, sejumlah pejabat negara, tokoh politik, kalangan media, organisasi masyarakat, hingga pengusaha. Dugaan praktik tersebut berlangsung dalam kurun 2025–2026.

‎Persoalan semakin serius karena muncul dugaan penyalahgunaan sistem Lawful Interception Management System (LIMS). Sistem yang seharusnya digunakan untuk kepentingan penegakan hukum diduga diakses tanpa verifikasi dan dokumen permohonan penyidikan yang sah.

‎Bahkan, terdapat dugaan penghapusan sejumlah berkas hasil penyadapan. Jika terbukti, perkara ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam pengawasan teknologi intelijen dan pertanggungjawaban aparat.
‎
‎Head of Politics & Democracy Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, menilai kasus tersebut perlu dibaca lebih luas dari sekadar pelanggaran internal kepolisian. Menurutnya, dugaan penyadapan terhadap Presiden dan sejumlah tokoh penting negara harus menjadi pintu masuk untuk menelusuri kemungkinan adanya kepentingan politik di balik penggunaan instrumen pengawasan negara.

‎Ia juga menyoroti munculnya indikasi agenda politik tersembunyi yang berpotensi mengarah pada upaya menggoyang posisi strategis dalam konfigurasi kekuasaan Presiden Prabowo.

‎”Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah mengapa nama Gibran tidak disebut dalam keterangan mengenai pihak-pihak yang diduga menjadi sasaran penyadapan.” katanya Head of Politics & Democracy Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, Kamis (5/11/2026).

‎”Ketika Presiden, sejumlah pejabat, dan tokoh politik lainnya masuk dalam lingkup perkara, tidak adanya penjelasan mengenai posisi Wakil Presiden justru menimbulkan tanda tanya. Apakah Gibran memang tidak menjadi target, atau ada informasi lain yang belum diungkap kepada publik? Misalnya, ada agenda kudeta dari Wapres Gibran, ” kata Ahmad Fadli.

‎Situasi tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya agenda senyap untuk melemahkan posisi presiden, bahkan skenario politik terburuk yang berujung pada perubahan konfigurasi kepemimpinan nasional.

‎Istilah kudeta yang kemungkinan sedang dimainkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming pun menjadi pertanyaan yang patut diuji melalui penyelidika. Meski saat ini publik sudah memahami pola yang sedang dimainkan mantan presiden ketujuh Jokowi. Dalam sebuah kesempatan, Presiden ketujuh Jokowi pernah mengungkapkan semua data parpol dia tahu dan sudah dipegangnya dari intelijen.

‎Namun, hingga kini belum terdapat bukti terverifikasi bahwa para tersangka penyadapan memiliki hubungan dengan rencana penggulingan Presiden Prabowo. Karena itu, dugaan tersebut harus ditelusuri, bukan langsung dianggap sebagai fakta. Ahmad Fadli meminta Menko Polhukam Dudung Abdurahman untuk segera turun tangan membereskan persoalan sadap menyadap kepala negara.

‎”Isu penyadapan kepala negara dan sejumlah ketum parpol, tidak bisa ditawar lagi Menko Polhukam Dudung itu harus turun tangan dan membereskan hal ini. Ini pertarungan para jenderal yang tidak bisa dianggap sebelah mata,” tegasnya.
‎
‎”Penyidik perlu mengungkap siapa yang memberikan perintah, siapa yang mengoperasikan sistem, siapa yang menerima hasil penyadapan, dan untuk kepentingan apa informasi tersebut digunakan. Tidak kalah penting, penegak hukum harus memastikan apakah terdapat pihak lain di luar para tersangka yang mengetahui atau memanfaatkan hasil penyadapan tersebut. Transparansi menjadi penting agar perkara ini tidak berhenti sebagai kasus pelanggaran individu.” tutupnya.

‎Pada akhirnya, kasus ini menjadi ujian serius bagi reformasi Polri sekaligus tata kelola kekuasaan pemerintahan. Pertanyaan publik bukan hanya siapa yang disadap, melainkan siapa yang mengendalikan sistem pengawasan, siapa yang memperoleh keuntungan, dan apakah terdapat agenda politik tersembunyi di baliknya. Termasuk, apakah dugaan penyadapan tersebut memiliki kaitan dengan upaya mengubah konfigurasi kekuasaan antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran.

MoneyTalk, Jakarta – Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Forum Kebangsaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengeluarkan pernyataan sikap keras yang menyoroti praktik kriminalisasi terhadap peneliti dan aktivis. Dalam dokumen resmi yang diterima redaksi, Forum Kebangsaan DIY menilai bahwa tindakan hukum terhadap ekspresi dan kritik ilmiah merupakan bentuk pembatasan kebebasan sipil yang bertentangan dengan prinsip negara hukum dan nilai-nilai demokrasi.

Dalam pernyataannya, Forum Kebangsaan DIY menegaskan bahwa kebebasan berpendapat, melakukan penelitian, dan menyampaikan kritik merupakan hak konstitusional yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 28E dan 28F, serta UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Forum ini menilai, proses hukum yang menimpa sejumlah akademisi dan aktivis menunjukkan gejala kemunduran demokrasi.

“Tindakan pidana terhadap ekspresi sebelum substansi persoalan diuji kebenarannya merupakan bentuk pembatasan kebebasan sipil yang tidak sejalan dengan prinsip negara hukum,” tulis pernyataan itu.

Forum Kebangsaan DIY kemudian menyampaikan lima poin sikap utama:

1. Mendesak Polri menjunjung tinggi independensi dan profesionalitas dalam menangani perkara para peneliti dan aktivis, termasuk Dr. Roy Suryo, Dr. Rismon Sianipar, dan dr. Tifauzia Tyassuma.

2. Menuntut penghentian kriminalisasi dan intimidasi terhadap para peneliti dan aktivis yang menjalankan hak konstitusionalnya.

3. Meminta pembatalan status tersangka terhadap nama-nama yang disebut di atas, serta peninjauan ulang prosedur hukum yang dinilai cacat etik.

4. Menegaskan tuntutan moral agar penegakan hukum dijalankan tanpa tebang pilih, termasuk menyeret pelaku korupsi kelas atas dan mengusut pertanggungjawaban Presiden Jokowi serta Wapres Gibran Rakabuming jika terbukti terlibat dalam kebijakan yang melanggar hukum.

5. Menyerukan Reformasi Total Polri, guna memulihkan kepercayaan publik dan menegakkan prinsip keadilan.

Forum Kebangsaan DIY menilai bahwa momentum Hari Pahlawan harus menjadi refleksi bagi aparat penegak hukum untuk kembali kepada semangat kejujuran, keberanian, dan pengabdian kepada bangsa bukan kepada kepentingan politik.

“Kami akan konsisten mengawal pernyataan sikap ini dengan seksama hingga tuntas,” tulis pernyataan tersebut yang ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris Forum Kebangsaan DIY.

Pernyataan ini dipandang sebagai bentuk kegelisahan intelektual terhadap menurunnya mutu demokrasi di Indonesia. Dalam situasi di mana kritik dan penelitian ilmiah mulai dibatasi, Forum Kebangsaan DIY mengingatkan bahwa sejarah bangsa ini dibangun di atas semangat perlawanan terhadap penindasan dan pembungkaman.

MoneyTalk, Jakarta – Sufmi Dasco dan Gibran Rakabuming Makan Siang Menu Mie Bakso, Nasi Dendeng dan Tumis Daun Pepaya

Wapres Gibran Unggah Foto Makan di Meja Panjang Bersama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco

Jakarta – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka membagikan momen kebersamaan saat makan siang bersama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @gibran_rakabuming, Sabtu.

“Makan siang bersama Wakil Ketua DPR RI Bapak @sufmi_dasco,” tulis Wapres Gibran dalam unggahan tersebut.

Gibran tidak menjelaskan lebih jauh isi pembicaraan dalam pertemuan tersebut. wapres hanya mengungkapkan menu makan siang yang disantap keduanya.

“Menunya mie bakso, nasi dendeng balado, dan tumis daun pepaya,” ujarnya.

Dalam unggahannya itu, Gibran turut mengucapkan selamat berakhir pekan kepada seluruh masyarakat. “Selamat berakhir pekan untuk kawan-kawan semua,” ucapnya.

Dalam foto yang diunggah, Gibran terlihat duduk di meja makan panjang bersama Dasco yang juga Ketua Harian DPP Partai Gerindra ini.

Wapres mengenakan kemeja putih lengan pendek dipadukan celana warna krem. Sementara Dasco tampil formal dengan kemeja batik bernuansa gelap.

Keduanya duduk saling berhadapan di meja yang tertata rapi, lengkap dengan peralatan makan, lilin hias, dan bunga mawar merah sebagai dekorasi. Suasana pertemuan tampak santai namun hangat.

Unggahan tersebut telah disukai lebih dari puluhan ribu warganet dan mendapatkan seribu lebih komentar.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menyebut bahwa surat dari Forum Purnawirawan TNI yang dimotori oleh Try Sutrisno Cs akan dibahas pada hari ini dan pekan depan, menjadi sinyal politik yang sangat penting. Surat yang meminta DPR untuk mempertimbangkan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini bukan sekadar aspirasi kelompok purnawirawan. Ia membawa pesan geopolitik domestik yang dalam, dan berpotensi menggoyang dinamika kekuasaan di dalam Istana.

Menurut pengamat geopolitik dan intelijen Amir Hamzah, pernyataan Dasco tersebut adalah bentuk sinkronisasi diam-diam yang sedang dilakukan parlemen, khususnya oleh elite Gerindra dan mitra koalisinya. “Dasco itu politisi bertangan dingin. Dia tak akan langsung menyatakan dukungan atau penolakan, tapi ia sedang menyusun orkestrasi di belakang layar dengan pimpinan fraksi,” kata Amir kepada wartawan, Selasa (24/6/2025).

Amir menyebut bahwa langkah awal berupa pembahasan di internal DPR bukanlah basa-basi. Ia melihat bahwa skenario selanjutnya adalah digelarnya rapat dengar pendapat (RDP) antara DPR dan Forum Purnawirawan TNI. “Kalau ini sampai terjadi, itu bukan sekadar respons formal. Artinya, forum itu dianggap sebagai stakeholder penting dalam sistem kekuasaan nasional. Ini tak bisa dipisahkan dari sejarah militer dan kekuasaan di Indonesia,” ujar Amir.

Dasco, yang dikenal sebagai loyalis Prabowo Subianto sekaligus tokoh yang lihai dalam komunikasi lintas fraksi, dipandang sedang menjalankan strategi konsolidasi kekuasaan. “Langkah ini beririsan dengan skenario jangka menengah Prabowo untuk memperkuat stabilitas di awal pemerintahannya, dan menyiapkan skema kekuasaan jangka panjang tanpa sandungan dari internal,” ungkap Amir.

Amir menegaskan bahwa langkah Dasco sangat mungkin merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo. Ia menyebut bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat memahami peta kekuatan militer dan sipil, serta selalu berpikir strategis. “Prabowo tahu bahwa suara para purnawirawan terutama yang berasal dari generasi ABRI yang kuat seperti Try Sutrisno masih punya pengaruh moral dan politik. Menyikapi surat mereka secara serius adalah cara Prabowo menjaga stabilitas internal,” papar Amir.

Dalam perkembangan ini, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka disebut-sebut semakin kehilangan peran strategis. Amir menyebut bahwa Gibran kini tak masuk dalam lingkar pengambilan keputusan besar, baik dalam kebijakan luar negeri maupun konsolidasi politik dalam negeri. “Contohnya nyata. Dalam penanganan konflik Israel-Iran yang sempat memanas beberapa waktu lalu, tidak ada satu pun pernyataan atau kehadiran Gibran. Semua difokuskan ke Kementerian Pertahanan dan Prabowo sendiri,” ucap Amir.

Hal ini memperkuat asumsi bahwa Gibran mulai “diisolasi secara sistematis” oleh elite kekuasaan. “Posisi wapres memang simbolik, tapi dalam banyak pemerintahan sebelumnya, wapres selalu punya fungsi politis yang jelas. Gibran saat ini seperti hanya jadi penonton di tengah pertarungan elite,” tambahnya.

Amir menyebut bahwa kekuatan “Geng Solo” yang sebelumnya tampak solid, kini mulai tercerai. “Orang-orang yang dulu kuat di sekitar Jokowi sudah mulai kehilangan pijakan di orbit kekuasaan Prabowo. Apalagi sejak Jokowi cenderung menarik diri dan membiarkan konstelasi berjalan sendiri,” tuturnya.

Langkah DPR menyikapi surat Forum Try Sutrisno Cs bisa menjadi titik awal reposisi kekuasaan nasional. Amir memprediksi bahwa situasi ini akan memaksa para elite, baik di kabinet maupun di legislatif, untuk mengambil sikap. “Bisa jadi ini hanya awal dari reposisi yang lebih besar. Termasuk kemungkinan reshuffle kabinet yang mengurangi pengaruh faksi Jokowi,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa jika skenario pemakzulan terus berkembang, maka akan muncul tekanan publik terhadap fungsi konstitusional DPR. “Jangan anggap remeh surat purnawirawan itu. Mereka bisa menggerakkan opini publik, apalagi jika dikaitkan dengan narasi nepotisme dan pelanggaran etika konstitusi saat Pilpres lalu,” pungkas Amir.

MoneyTalk, Jakarta – Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hasyim Djojohadikusumo, menyampaikan kritik tajam terhadap kepemimpinan sebelumnya di Jakarta. Ia menilai, gubernur-gubernur yang terdahulu hanya memberikan janji-janji kosong tanpa adanya aksi nyata dalam penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat Jakarta, khususnya bagi kalangan ekonomi bawah. Hasyim menegaskan bahwa saat ini, diperlukan langkah konkret untuk mewujudkan solusi hunian, yang selama ini dianggap terbengkalai.

Pada kesempatan Rakernas Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia pada Senin (30/09), Hasyim menyoroti pentingnya penyediaan rumah layak bagi rakyat kecil. Ia mengungkapkan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran, apabila terpilih, akan menjadikan pembangunan hunian rakyat sebagai salah satu prioritas utama. Bahkan, menurut Hasyim, beberapa investor telah menunjukkan ketertarikannya untuk berkontribusi dalam membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia.

Namun, Hasyim mengakui bahwa salah satu tantangan terbesar dalam membangun hunian bagi rakyat kecil adalah ketersediaan lahan. Terutama di wilayah Jakarta, kendala ini seringkali menjadi alasan tidak terwujudnya pembangunan hunian terjangkau. Meski begitu, Hasyim menjelaskan bahwa pihaknya sudah menyiapkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu strategi yang diungkapkannya adalah dengan memanfaatkan lahan milik Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang berada di bawah kendali pemerintah daerah Jakarta.

Dalam pernyataannya, Hasyim menyebutkan bahwa Jakarta memiliki BUMD, Pasar Jaya, yang mengelola 153 pasar di seluruh kota. Menurutnya, ide untuk memanfaatkan lahan pasar bagi pembangunan rumah tinggal bukanlah hal baru. Studi terkait hal ini telah ada sejak lama, namun belum diimplementasikan oleh para gubernur terdahulu. Ia menyayangkan bahwa gubernur-gubernur sebelumnya hanya “banyak bicara, tapi minim aksi.”

“Ternyata kepala daerah yang lama banyak omon-omon, no action talk only. Maka kita harus action,” tegas Hasyim.

Sebagai solusi, Hasyim mengusulkan agar 153 pasar yang dikelola Pasar Jaya dapat dioptimalkan menjadi tempat hunian layak bagi pedagang pasar dan masyarakat berpenghasilan rendah. Langkah ini, menurutnya, dapat memberikan dua manfaat sekaligus: pertama, meningkatkan kesejahteraan pedagang dengan menyediakan tempat tinggal yang dekat dengan tempat mereka mencari nafkah; kedua, membantu mengatasi krisis perumahan di Jakarta tanpa harus mencari lahan baru yang sulit didapatkan.

Dengan solusi ini, pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mampu mengatasi masalah yang selama ini menjadi momok dalam upaya penyediaan hunian layak di Jakarta. Hasyim yakin bahwa dengan keterlibatan investor dan optimalisasi aset-aset BUMD, impian jutaan rumah layak huni bagi rakyat kecil akan segera terwujud.

“Yang penting bukan hanya berjanji, tapi kita harus membuktikan dengan tindakan nyata,” pungkas Hasyim.(c@kra)

MoneyTalk,Jakarta – Kaesang Pangarep adalah putra bungsu Presiden ke-7 Republik Indonesia, yaitu Joko Widodo, dan Ibu Negara, Iriana. Dan Kaesang menikah dengan seorang perempuan Yogya atau lebih dikenal dengan Puteri Indonesia Daerah Istimewa yang bernama Erina Gudono.

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta – Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang dikomandoi oleh Petrus Selestinus, Koordinator TPDI dan Pergerakan Advokat Nusantara/Perekat Nusantara, kembali mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera menindaklanjuti laporan terkait dugaan tindak pidana nepotisme dan korupsi yang melibatkan pejabat tinggi negara.

(lebih…)

MoneyTalk,Jakarta – Ketua MPR RI ke-16 sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mengungkap dirinya tidak akan maju sebagai calon ketua umum Partai Golkar. Tujuannya, agar soliditas partai tetap terjaga serta menghindari dinamika yang bisa membuat retak Partai Golkar usai mundurnya Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto pekan lalu.

(lebih…)

JAKARTA, MoneyTalk – Pemilihan umum, atau pemilu, adalah puncak demokrasi di mana warga negara memiliki kesempatan untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat mereka. Keberhasilan proses demokrasi tidak hanya terletak pada hasil akhir, namun juga pada bagaimana pemilu itu sendiri dijalankan.

Pemilu yang damai adalah kunci keberhasilan dengan memastikan stabilitas dan keberlanjutan demokrasi. Sebab pemilu damai merupakan pilar utama dalam menjaga kesehatan demokrasi suatu negara.

Pemilihan umum yang aman, transparan, dan bebas dari konflik adalah indikator kuat dari kematangan politik dan sosial masyarakat. Mencapai hal tersebut, Sekjen Relawan Prabowo (REPRO), Arya Sadhana, mengatakan, “Semua pihak bertanggung jawab untuk menciptakan suasana pemilu yang riang gembira karena pemilu adalah sebuah pesta demokrasi yang patut dirayakan.”

Hal ini sangat penting, terlebih untuk pemilih muda dalam kategori Milenial dan Generasi Z. Sebab mereka adalah generasi penerus yang memainkan peran penting bukan hanya untuk saat ini, tapi juga untuk masa depan bangsa.

“Kami REPRO yang telah tersebar di 24 provinsi melihat, keberhasilan pembangunan Indonesia di masa depan adalah buah dari keputusan yang dibuat oleh milenial dan Generasi Z saat ini,” ujar Arya, “terutama dalam hal memilih pemimpin melalui pemilu.”

“Karena itu,” sambung Arya yang juga mantan aktivis Reformasi 1998 itu, “gerakan moral Pemilu Damai Pemilih Pandai atau #PDPP lahir dari rahim demokrasi Indonesia.” Menurutnya, gerakan moral ini mengajak para pemilih, terutama para pemilih muda, untuk menciptakan pemilu yang damai dengan cara menjadi pemilih pandai.

Salah satu hal yang patut dihindari saat pemilu berlangsung adalah penyebaran berita bohong atau hoaks yang dapat menjadi ancaman serius terhadap integritas proses tersebut. Hoaks, yang dapat menyebar cepat melalui media sosial, “Dapat merusak citra calon, memengaruhi persepsi pemilih, menciptakan ketegangan sosial dan politik, dan bahkan menggoyahkan dasar demokrasi itu sendiri,” tutur pria berkacamata itu. “Parahnya lagi, pertumbuhan hoaks ini cukup pesat.”

Merujuk pada catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, terdapat 10 hoaks yang berkaitan dengan pemilu sepanjang 2022. Namun sejak Januari 2023 hingga 26 Oktober 2023, jumlah itu melonjak menjadi 91 isu hoaks pemilu. Itu berarti terjadi peningkatan hampir 10 kali lipat isu hoaks dibandingkan tahun lalu.

Tentu, melawan bahaya hoaks adalah tanggung jawab bersama karena itu adalah upaya menjaga integritas pemilihan umum dan demokrasi. “Itulah sebabnya, gerakan moral #PDPP hadir untuk mengajak masyarakat memilah dan memilih informasi yang banyak beredar, agar tercipta pemilu dan demokrasi yang baik,” lugas Arya.

Literasi digital pun, lanjut mantan jurnalis itu, menjadi suatu hal yang penting agar masyarakat bisa mengenali dan menghindari hoaks. “Kami sangat berharap, gerakan moral Pemilu Damai Pemilih Pandai ini dapat membantu terciptanya masyarakat yang cerdas demi menyongsong era Indonesia Emas.”

Indonesia memang memiliki modal kuat baik di sisi sumber daya manusia dengan bonus demografi yang menjanjikan, maupun sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Namun dalam 10 tahun ke depan, Indonesia akan menghadapi banyak tantangan baik di tingkat regional maupun global.

“Pada saat yang krusial dan penuh disrupsi ini, Indonesia sangat memerlukan sosok pemimpin yang tegas dan dapat memberi inspirasi. Prabowo Subianto adalah pilihan tepat untuk menjawab semua tantangan zaman,” pungkasnya.