5 November 2026

Harita Nickel

MoneyTalk, Jakarta — Dalam upaya mengatasi tantangan perubahan iklim dan mendukung keberlanjutan, sektor pertambangan di Indonesia semakin aktif bertransformasi menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan. Harita Nickel, salah satu pemain utama di sektor ini, terus memperkuat komitmennya terhadap implementasi teknologi hijau dan optimalisasi sumber daya.

Deputi Head HSE Harita Nickel, Iwan Syahroni, mengungkapkan bahwa perusahaan telah melakukan investasi besar dalam hilirisasi nikel dan inisiatif keberlanjutan lainnya. Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan potensi sumber daya yang ada, sekaligus meminimalkan dampak lingkungan.

“Komitmen kami terhadap sustainability termasuk memanfaatkan bahan-bahan yang sebelumnya dibuang untuk diolah menjadi baterai, serta meningkatkan penggunaan biodiesel,” ujar Iwan Syahroni dalam sebuah seminar yang diadakan pada Sabtu (09/11/2024).

Harita Nickel telah merancang strategi inovatif untuk mengolah limbah nikel yang selama ini dianggap sebagai sisa produksi menjadi bahan baku yang bernilai tinggi. Salah satu inovasi utamanya adalah pemanfaatan slag (limbah hasil peleburan nikel) untuk produksi bahan baterai. Teknologi ini memungkinkan perusahaan untuk tidak hanya mengurangi limbah tambang tetapi juga berkontribusi pada pengembangan industri baterai yang sedang berkembang pesat, terutama dalam mendukung kendaraan listrik (EV).

Iwan menjelaskan, inisiatif ini sejalan dengan tren global yang semakin berfokus pada ekonomi sirkular, di mana limbah dari satu proses produksi dapat diubah menjadi bahan baku untuk industri lain.

“Dengan memanfaatkan slag untuk bahan baterai, kami tidak hanya mengurangi dampak lingkungan tetapi juga mendukung industri kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan,” jelasnya.

Selain hilirisasi nikel, Harita Nickel juga telah mengambil langkah signifikan dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui penggunaan biodiesel. Saat ini, perusahaan telah menerapkan biodiesel B30 pada berbagai operasionalnya, dengan rencana untuk meningkatkannya menjadi B40 dalam waktu dekat.

Biodiesel B30 dan B40 merupakan campuran bahan bakar yang terdiri dari 30% hingga 40% biofuel berbasis minyak nabati, yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan dibandingkan dengan solar konvensional.

“Kami percaya bahwa peningkatan penggunaan biodiesel tidak hanya mendukung target net zero emission nasional tetapi juga membantu kami mengurangi jejak karbon operasional,” kata Iwan.

Sejalan dengan target pemerintah Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060, Harita Nickel berupaya menjadi pelopor dalam adopsi teknologi hijau di sektor pertambangan. Selain memanfaatkan bahan baku alternatif dan biodiesel, perusahaan juga mempertimbangkan investasi pada teknologi carbon capture and storage (CCS) untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon dioksida dari proses produksi.

Dengan adopsi teknologi CCS, Harita Nickel berharap dapat menangkap emisi yang tidak dapat dihindari selama proses penambangan dan peleburan, sehingga mendukung ambisi jangka panjang perusahaan dalam mencapai emisi nol bersih.

Kolaborasi dengan Stakeholders untuk Keberlanjutan

Tidak hanya bergerak sendiri, Harita Nickel juga menjalin kemitraan strategis dengan berbagai stakeholders, termasuk pemerintah, institusi riset, dan komunitas lokal. Kolaborasi ini bertujuan untuk mempercepat implementasi inisiatif keberlanjutan yang lebih luas.

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), Harita Nickel turut serta dalam program pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas sekitar tambang, serta inisiatif pelestarian lingkungan seperti reforestasi di lahan bekas tambang.

“Kami percaya bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” tambah Iwan.

Masa Depan Sektor Pertambangan Hijau, Meskipun sudah banyak inisiatif yang dilakukan, sektor pertambangan tetap menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan keberlanjutan penuh. Tantangan tersebut meliputi regulasi yang ketat, kebutuhan akan investasi besar untuk teknologi hijau, serta tekanan dari stakeholders untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

Namun demikian, Harita Nickel optimis bahwa dengan inovasi yang berkelanjutan, dukungan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, sektor pertambangan di Indonesia dapat bertransformasi menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan.

Transformasi industri pertambangan menuju keberlanjutan adalah langkah penting yang tidak bisa diabaikan. Komitmen Harita Nickel dalam mengoptimalkan sumber daya dan memanfaatkan teknologi hijau menunjukkan bahwa industri ini bisa menjadi bagian dari solusi untuk tantangan lingkungan global. Dengan terus berinovasi dan berkolaborasi, perusahaan berharap dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan di Indonesia. (c@kra)

JAKARTA, MoneyTalk – Citibank ditunjuk sebagai salah satu Koordinator Global untuk penawaran umum perdana (IPO) perusahaan nikel Indonesia, PT Trimegah Bangun Persada, Tbk yang juga dikenal sebagai Harita Nickel.

Emiten Perseroan menjual 12,67% kepemilikan sahamnya dengan harga IPO Rp1.250 per lembar saham dan telah berhasil menghimpun dana sebesar USD 650 juta.

Transaksi ini adalah IPO terbesar di Asia pada 2023 (year-to-date), serta IPO terbesar di industri logam dan pertambangan di Asia sejak Maret 2011.

Jumlah perusahaan yang melakukan IPO di Indonesia meningkat signifikan.

Sepanjang kuartal 1- 2023, 28 perusahaan di Indonesia tercatat telah melakukan IPO, naik 133% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, nilai total IPO juga meningkat hampir 300% dibandingkan kuartal 1-2022.

Kebanyakan dari perusahaan ini bergerak di bidang teknologi dan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor ini sedang tumbuh dan memiliki potensi yang besar di masa mendatang.

Batara Sianturi, Chief Executive Officer, Citi Indonesia mengungkapkan, “Peningkatan volume dan total nilai IPO di Indonesia pada Q1 2023 menunjukkan bahwa pasar saham negara ini semakin menarik bagi investor.

Harita Nickel memiliki peranan penting untuk memanfaatkan permintaan nikel yang terus meningkat di pasar global dan kami bangga telah mendukung klien kami dalam transaksi penting ini.

Citi tetap berkomitmen untuk memberikan solusi inovatif dan tenaga ahli yang mampu membantu klien kami dalam mencapai tujuan strategis mereka.”

Di Indonesia, Citi telah memimpin beberapa transaksi IPO di sejumlah industri seperti pertambangan, energi dan kesehatan, dengan beberapa perusahaan di antaranya; PT Archi Indonesia, Tbk.(ARCI), PT Cikarang Listrikindo Tbk (POWR), PT Medikaloka Hernina Tbk (HAEAL) dan PT Prodia Widyahusada (PRDA).

Presiden Direktur Harita Nickel, Roy A. Arfandy mengatakan IPO saham perseroan mendapatkan respon yang sangat positif dari pasar.

Terbukti, selama masa periode penawaran umum dari tanggal 5-10 April 2023, saham NCKL mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed sehingga sesuai dengan ketentuan pelaksanaan distribusi saham melalui platform e-IPO porsi alokasi pooling yang dipersyaratkan adalah sebesar 5%.

Animo partisipasi investor publik tidak hanya berasal dari investor dalam negeri, namun juga investor kelembagaan dari luar negeri.

“Kami mengapresiasi dan berterima kasih terhadap tingginya antusiasme investor terhadap IPO NCKL. Terjadinya oversubscribed merupakan wujud nyata kepercayaan yang diberikan oleh investor terhadap prospek cerah industri pengolahan nikel yang dikelola oleh perseroan,” tambahnya.

Melihat minat IPO yang terus meningkat, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pasar IPO terbesar di Asia Tenggara.

Belum lagi bahwa pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung perkembangan pasar saham di tanah air, seperti mengeluarkan peraturan untuk menyederhanakan proses IPO bagi perusahaan yang ingin melakukan IPO.” ungkap Julius Soesantio, President Director PT Citigroup Sekuritas Indonesia.

Citi Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan serta peningkatan pembiayaan dan permodalan klien kami melalui berbagai solusi yang ditawarkan oleh lini bisnis Institutional Client Group (ICG) saat mereka menavigasi volatilitas lingkungan ekonomi makro dan bersaing dengan beragam tantangan di pasar.