5 November 2026

Luhut Binsar Pandjaitan

MoneyTalk, Jakarta – Penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan tanpa risiko politik. Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menyebut posisi strategis ini justru bisa menjadi batu sandungan bagi stabilitas pemerintahan.

Menurut Amir, Purbaya bukanlah figur netral, melainkan sosok yang berada dalam lingkaran pengaruh Luhut Binsar Pandjaitan. “Purbaya Yudhi Sadewa adalah orangnya Luhut. Penempatan dirinya di posisi kunci seperti Menteri Keuangan akan menyulitkan langkah-langkah strategis Prabowo,” kata Amir Hamzah dalam keterangannya, Rabu (10/9).

Amir menjelaskan, Luhut Binsar Pandjaitan memiliki rekam jejak sebagai sosok yang sangat loyal kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Keterikatan itu membuat jaringan Luhut tetap erat dengan kepentingan lama. “Luhut lebih loyal ke Jokowi. Maka, orang-orang yang ditempatkan Luhut berpotensi membawa agenda yang tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan pemerintahan baru,” ujar Amir.

Ia menilai, meski Purbaya dikenal sebagai ekonom dengan reputasi baik dan pengalaman panjang di bidang keuangan, kehadirannya tetap sarat kepentingan politik. Amir menyebut, posisi Menteri Keuangan adalah salah satu titik paling vital dalam pemerintahan, karena mengendalikan arus fiskal, alokasi anggaran, hingga relasi dengan lembaga internasional.

“Kalau Menkeu tidak sepenuhnya mendukung Presiden, kebijakan ekonomi bisa tersandera. Dan ini rawan menjadi instrumen politik untuk menekan Prabowo,” tegas Amir.

Dalam analisisnya, Amir melihat ada potensi gesekan dalam tubuh pemerintahan Prabowo jika Purbaya tetap menjalankan agenda yang sejalan dengan kepentingan Luhut dan Jokowi. Misalnya, dalam pengelolaan subsidi energi, arah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), maupun prioritas anggaran di sektor pertahanan yang menjadi perhatian utama Prabowo.

“Prabowo tentu ingin memperkuat basis anggaran untuk pertahanan dan pangan. Namun, bila Menkeu tidak sejalan, bisa muncul resistensi dalam eksekusi kebijakan. Bahkan, bukan tidak mungkin akan ada tarik-menarik antara kelompok Luhut dan lingkaran inti Prabowo,” papar Amir.

Penempatan figur-figur berafiliasi dengan Luhut dalam kabinet, menurut Amir, adalah konsekuensi dari transisi politik pasca-Jokowi. Prabowo harus mengakomodasi sejumlah kekuatan untuk menjaga stabilitas. Namun, risiko terbesar adalah ketika akomodasi itu justru melahirkan “dua matahari” dalam pengambilan keputusan strategis.

“Kalau tidak dikelola dengan baik, kehadiran orang-orang Luhut akan melahirkan friksi internal. Mereka bisa menjadi saluran komunikasi kepentingan Jokowi, yang mungkin berbeda dengan prioritas Prabowo,” ujar Amir.

Amir menegaskan, ujian terbesar Prabowo bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global, tetapi juga memastikan soliditas internal kabinet. “Kekuatan eksternal bisa dihadapi bila internal solid. Tapi kalau ada infiltrasi kepentingan, pemerintahan bisa terganggu dari dalam,” katanya.

Ia pun menyarankan agar Prabowo segera melakukan evaluasi terhadap posisi-posisi strategis, termasuk di Kementerian Keuangan. “Prabowo harus berani memastikan Menkeu benar-benar loyal kepadanya, bukan kepada tokoh lain. Kalau tidak, maka risiko instabilitas kebijakan fiskal akan terus menghantui,” pungkas Amir.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam wawancara yang disiarkan di kanal YouTube Total Politik, Luhut Binsar Pandjaitan berbagi cerita menarik tentang perannya dalam mengeluarkan paspor untuk Prabowo Subianto, yang memungkinkan mantan jenderal tersebut kembali ke Indonesia pada tahun 2001. Testimoni ini datang dari Jenderal Jonny Lumintang, sahabat Luhut dan duta besar Republik Indonesia untuk Singapura saat itu. Cerita ini tidak hanya menggambarkan hubungan baik antara keduanya, tetapi juga memberikan pandangan tentang perjalanan politik Prabowo.

Setelah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Komandan Jenderal Kopassus pada tahun 1998, Prabowo Subianto memilih untuk pergi ke luar negeri, khususnya ke Yordania. Selama periode ini, Prabowo tidak memiliki kontak yang jelas dengan pihak-pihak di Indonesia. Di tengah ketidakpastian ini, Jonny Lumintang yang menjabat sebagai duta besar di Singapura berperan penting dalam membantu Prabowo untuk kembali.

Peran Luhut Binsar Pandjaitan

Dalam wawancaranya Luhut menjelaskan, Jonny Lumintang menghubunginya untuk meminta bantuan dalam mengeluarkan paspor bagi Prabowo. Luhut yang pada saat itu adalah pejabat pemerintah, menyadari pentingnya membantu sahabat. Menurut cerita yang disampaikan Jonny, Luhut memproses permintaan tersebut dengan cepat dan efisien.

Sesuai dengan penuturan Luhut, setelah Prabowo meninggalkan Yordania, dia tidak memiliki dokumen resmi untuk kembali ke Indonesia. Dengan mengeluarkan paspor WNI, Luhut dan timnya memberikan kesempatan bagi Prabowo untuk kembali ke tanah air, yang kemudian menjadi langkah penting dalam perjalanan politiknya.

Dampak Kembalinya Prabowo

Kembalinya Prabowo ke Indonesia bukan hanya sekadar kembali ke tanah air, tetapi juga membuka jalan bagi dia untuk membangun karir politiknya. Setelah kembali, Prabowo mendirikan partai politik dan terlibat dalam pemilihan presiden. Pengalaman tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan politik Prabowo yang kemudian dikenal luas di kancah politik Indonesia.

Luhut dan Jonny Lumintang sepakat bahwa tindakan mereka dalam membantu Prabowo merupakan langkah penting, bukan hanya untuk Prabowo sendiri, tetapi juga untuk dinamika politik di Indonesia. Kembalinya Prabowo memberi warna baru dalam politik tanah air, yang saat itu sedang mengalami perubahan signifikan pasca-reformasi.

Cerita tentang peran Luhut Binsar Pandjaitan dalam mengeluarkan paspor untuk Prabowo Subianto mencerminkan bagaimana hubungan pribadi dan jaringan sosial dapat berpengaruh dalam politik. Melalui testimoni Jonny Lumintang, kita dapat melihat bahwa tindakan kecil dapat memiliki dampak besar pada jalannya sejarah.

Kembalinya Prabowo ke Indonesia menjadi titik awal bagi perjalanan politiknya, yang hingga kini masih berlangsung, dan menunjukkan bagaimana masa lalu membentuk masa depan politik seseorang. Ini adalah contoh nyata bagaimana persahabatan dan komitmen dalam membantu sahabat dapat membawa perubahan besar dalam lanskap politik.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah wawancara di podcast Kanal Kata Data pada Selasa (10/09), Luhut Binsar Pandjaitan menguraikan rencana besar pemerintah Indonesia melalui program family office yang dirancang untuk menarik investasi dari kalangan investor kelas atas ke dalam negeri. Luhut menekankan bahwa program ini tidak hanya menguntungkan orang kaya, tetapi juga membawa dampak positif bagi perekonomian secara luas.

(lebih…)