3 November 2026

Mardigu Wowiek

MoneyTalk, Jakarta – Dalam pernyataannya yang ditayangkan Sabtu (6/12), Mardigu Wowiek menyajikan sebuah ironi nasional yang terasa begitu dekat. Betapa prestasi, kompetensi, dan meritokrasi tampak tak lagi masuk daftar syarat pengangkatan pejabat publik. Ia menyebut masa lalu pemerintahan meninggalkan sebuah pola yang begitu mengakar. Bahwa kedekatan jauh lebih berharga daripada keahlian, dan loyalitas personal sering kali mengalahkan logika tata kelola negara.

Dengan nada satir, Mardigu menggambarkan bagaimana jabatan publik seolah menjadi hadiah bukan amanah. Ketika yang dicari bukan rekam jejak, melainkan hubungan personal bukan butuh prestasi.

Ia mengangkat kembali keputusan pembubaran Komisi ASN, sebuah lembaga yang dibentuk khusus untuk menjaga integritas sistem merit. Ketika lembaga yang mengawasi kompetensi dianggap tidak penting, maka lahirlah era di mana kemampuan teknis terasa seperti dekorasi belaka dan yang lebih menentukan adalah apakah seseorang “dekat dengan siapa”.

Dampaknya kini terasa berlapis-lapis. Pejabat yang tidak kompeten melahirkan kebijakan yang tidak tepat. Kebijakan yang tidak tepat memunculkan celah, dan celah itu menjadi jalan bagi praktik-praktik yang merusak negara. Mulai dari bandara ilegal milik perusahaan tambang asing yang bisa beroperasi bertahun-tahun tanpa disentuh negara, sampai ribuan penumpang tak tercatat yang keluar masuk wilayah Indonesia. Semua itu, menurut Mardigu, hanyalah hasil samping dari tata kelola yang dibangun bukan berdasarkan kecakapan, tetapi kedekatan.

Di sisi lain, triliunan rupiah dana publik dari proyek strategis nasional bocor ke tangan individu baik pejabat maupun swasta. Bagi Mardigu, ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa sistem yang seharusnya berdasarkan prestasi telah lama ditinggalkan. Ketika satu per tiga dana PSN menguap, siapa yang masih berani mengatakan negara sedang dikelola dibawah standar profesional?

Melalui gaya khasnya, Mardigu menuturkan bahwa semua ini bukan lagi soal salah satu presiden, tetapi soal warisan kebijakan yang berdampak jauh.

Ia mendorong Presiden Prabowo untuk mengambil langkah tegas, membedah administrasi negara, membuka kesalahan masa lalu secara terang-benderang, dan membawa para pelakunya ke pengadilan.

Bagi Mardigu, keberanian seperti itu bukan hanya mungkin, tetapi harus dilakukan bahkan bila yang terseret adalah mantan pejabat tinggi ataupun tokoh-tokoh yang dahulu berada dekat dengan pusat kekuasaan.

Dalam ironi yang ia bangun, Mardigu menutup pesan bahwa negara tidak boleh lagi diam. Diam bisa dianggap takut, atau lebih buruk lagi mengkhianati rakyat.

Bila negara ingin kembali menjadi rumah yang adil, maka sudah saatnya mengembalikan prestasi ke tempatnya di atas kedekatan dan kepentingan pribadi. Karena jika jabatan publik terus diberikan berdasarkan hubungan, bukan kemampuan, maka negeri ini hanya akan dikelola oleh mereka yang pandai berteman, bukan yang pandai bekerja.

MoneyTalk, Jakarta -Sebuah momen tegang terjadi di lingkungan Istana Negara. Dalam sebuah rapat tertutup bersama tim reformasi Polri, Presiden Prabowo Subianto melontarkan teguran paling keras yang pernah terdengar kepada Panglima TNI Jenderal Agus dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Mardigu Wowiek, dalam kanal YouTube-nya pada Jumat (28/11), mengungkapkan bahwa Prabowo benar-benar kehilangan kesabaran terhadap buruknya kinerja aparat dalam mengatasi praktik mafia sumber daya alam yang sudah berlangsung puluhan tahun.

“Heh kamu Pak Listio, Pak Agus… apa gunanya kamu berbintang empat kalau tidak bisa membantu rakyat menyelesaikan masalah seperti ini! Polisi harus lebih baik, tentara harus lebih baik, negara ini harus baik!” kata Prabowo seperti disampaikan Mardigu.

Ledakan emosi itu muncul bukan tanpa sebab. Presiden dikabarkan muak melihat aparat negara yang seharusnya menjadi benteng hukum justru diduga terlibat dalam pembiaran bahkan perlindungan terhadap para oligark yang menguras kekayaan alam Indonesia.

Puncak Kemurkaan Presiden Setelah menggelar konferensi pers, Prabowo meminta seluruh awak media meninggalkan ruangan. Lalu rapat tertutup dimulai, dihadiri para petinggi keamanan, termasuk Kapolri dan Panglima TNI.

Dalam rapat itu, Prabowo menegaskan bahwa, Polri berada dalam sorotan publik, Reformasi internal harus dilakukan segera.

“Bintang empat” tidak ada nilainya jika kekayaan negara tetap dicuri di depan mata aparat.

Presiden membeberkan data terkait pencurian komoditas strategis seperti nikel yang sudah berlangsung 25—40 tahun, merugikan negara ratusan triliun rupiah. Data itu bukan sekadar laporan internal, melainkan perbandingan antara data ekspor Indonesia dan data impor negara tujuan.

Contohnya:

Indonesia mengklaim ekspor 10 juta ton nikel, tetapi negara tujuan mendata 100 juta ton. Ada 90 juta ton yang tidak tercatat diduga dibajak, diselundupkan, dan tidak menyumbang sepeser pun kepada Negara.

“Ini dicolong. Tidak ada pajaknya, tidak ada keuntungannya buat negara, kata Mardigu mengutip Prabowo.

Kesenjangan data itu menandakan adanya jaringan besar yang bekerja rapih, mulai dari pengusaha rakus, broker ekspor, hingga aparat negara yang “menutup mata”.

Prabowo Tuding Ada Aparat Bermain dengan Oligarki , menurut Mardigu, dengan gamblang mengatakan bahwa praktik seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan aparat. Dari darat, pabrik, transportasi darat, angkutan laut, hingga pelabuhan semua diawasi aparat.

Namun penjarahan tetap terjadi bertahun-tahun. Mardigu menegaskan bahwa Prabowo bukan sekadar berbicara; ia memiliki data detail, termasuk daftar perusahaan yang selama 34 tahun, 25 tahun, 10 tahun merampas uang negara.

Lebih mengejutkan lagi, data itu sebagian besar diperoleh dari pemerintah negara lain, bukan dari laporan resmi pejabat Indonesia.

Hal ini membuat Prabowo semakin berang karena aparatur negara yang dibayar oleh rakyat justru tidak memberikan data yang akurat.

Derita Daerah Kaya Tambang, Rusak, Miskin, Terpinggirkan, Dalam videonya, Mardigu menyinggung keluhan dari para tokoh di daerah, termasuk mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola.

Sulawesi Tengah penyumbang devisa terbesar Indonesia dari sektor smelter hanya menerima DBH Rp 200 miliar per tahun, sementara nilai pajak yang dihasilkan mencapai 570 triliun rupiah.

Ironis, Alam rusak, rakyat miskin, daerah tak berdaya, pejabat pusat dan oligark kaya raya.

Banyak kawasan industri mengklaim sebagai “zona spesial” sehingga gubernur sekalipun tidak diizinkan masuk. Negara seperti kehilangan kedaulatan di wilayahnya sendiri.

Prabowo Menanggung Beban Berat

Mardigu menyebut bahwa tugas Prabowo sangat berat. Tim yang benar-benar bekerja melindungi kepentingan rakyat jumlahnya sedikit sekali.

Sebaliknya, banyak elite politik hanya menjadi “cheerleader” yang berseru dari pinggir lapangan tanpa kontribusi nyata. Media pun dipenuhi buzzer yang membangun opini tandingan untuk melemahkan langkah reformasi Presiden.

“Sobat, saya mau tanya: Anda percaya buzzer atau percaya Pak Prabowo?” tutup Mardigu.

Ledakan kemarahan Presiden Prabowo yang dibeberkan Mardigu menunjukkan bahwa negara tidak lagi bisa mentolerir praktik pencurian kekayaan nasional.

Aparat yang membekingi tambang ilegal atau menutup mata terhadap penjarahan SDA akan menjadi musuh negara. Reformasi Polri dan TNI, serta pembongkaran jaringan oligarki, tampaknya akan menjadi agenda besar Prabowo.

Rakyat kini menunggu: apakah gebrakan ini akan benar-benar menandai lahirnya era baru pemerintahan yang bersih?

MoneyTalk, Jakarta – Dalam pernyataannya pada Minggu (22/11), Mardigu Wowiek kembali melempar batu besar ke danau tenang dunia ekonomi global. Ia menuding bahwa kerusakan sistem keuangan internasional bukanlah fenomena organik, bukan pula kecelakaan sejarah, melainkan rancangan panjang selama tiga abad oleh empat tokoh kunci yang disebutnya “arsitek utang dunia.”

Mardigu memulai dengan gambaran sederhana namun menghentak, seluruh planet memiliki utang lebih dari 315 triliun dolar, tiga kali lipat dari total ekonomi dunia. Amerika Serikat memikul 38 triliun dolar, Jepang 9 triliun dolar, sementara hampir seluruh negara di bumi ini hidup dari pinjaman.

“Paradoks ini seharusnya membuat kita takut,” katanya.

“Jika semua orang berutang, siapa sebenarnya yang mengutangi?” Di titik itu, ia menyebut jawabannya tidak sesederhana daftar kreditor internasional. Rantai kepemilikan utang yang ditelusuri hingga ujungnya,

menurutnya, mengarah pada sesuatu yang jauh lebih mengganggu: dunia tidak benar-benar berutang kepada pihak tertentu, melainkan kepada dirinya sendiri. Namun sistem yang membuat utang itu bersifat permanen, berkembang, dan mustahil selesai, diklaimnya dirancang dengan cermat oleh empat tokoh yang setiap keputusannya melahirkan konsekuensi global hingga hari ini.

Investigasi historis versi Mardigu dimulai pada 1694 ketika William Paterson mengajukan konsep radikal kepada Raja William I dari Inggris pinjaman yang tidak pernah dilunasi, hanya dibayarkan bunganya selamanya, dan untuk itu dibentuk Bank of England.

Dari sinilah lahir konsep uang berbasis utang negara, fondasi pertama jebakan keuangan modern. Lima puluh tahun setelahnya, seluruh kekuatan besar Eropa menirunya. Dua abad kemudian, Nathan Rothschild memperluasnya menjadi industri global. Dengan jaringan bank keluarga Rothschild di lima kota utama Eropa, ia menciptakan pasar sekunder obligasi negara, membuat utang antarnegara saling terkait sehingga satu kegagalan akan memicu keruntuhan sistem keuangan internasional. Pemerintah dipaksa terus meminjam demi membayar bunga, dan dari aliran bunga inilah kekayaan keluarga itu mencapai puncaknya di pertengahan 1800-an.

Masuk ke abad 20, Mardigu menyebut JP Morgan sebagai tokoh ketiga yang memperdalam jebakan utang. Setelah krisis finansial 1907, ia dan rekan-rekannya merancang cikal-bakal Federal Reserve di Jekyll Island, sebuah pertemuan yang digambarkan sebagai tertutup dan terkonsentrasi pada kepentingan bank-bank besar Wall Street. Menurut Mardigu, desain ini membuat pemerintah Amerika dapat berutang tanpa batas karena Federal Reserve menjadi pembeli obligasi terakhir. Struktur ini tidak hanya menguatkan dominasi dolar, tetapi juga membuat utang negara menjadi instrumen yang “tidak boleh berhenti.”

Pada tahun 1970-an, jebakan itu mencapai negara berkembang. Kebijakan suku bunga ekstrem Paul Volcker pada 1979 menghantam Meksiko, Brasil, Argentina, hingga Indonesia. Ketika negara-negara itu tidak mampu membayar bunga utang dolar, IMF turun tangan, namun bukan untuk menghapus beban mereka. Pinjaman baru diberikan semata untuk menjaga aliran pembayaran bunga tetap mengalir ke bank-bank Amerika. “Reformasi struktural” yang menyertai pinjaman—pemotongan anggaran, privatisasi, hingga penyerahan sebagian kedaulatan ekonomi menurut Mardigu, mempermanenkan ketergantungan itu. Utang negara berkembang tidak pernah selesai; hanya direstrukturisasi agar kembali cair dan kembali mengalirkan bunga.

Dalam narasinya, Mardigu menegaskan bahwa sistem utang global bukan sekadar konsekuensi kapitalisme, melainkan konstruksi yang dibangun berlapis selama 300 tahun, sehingga utang tidak boleh lunas karena pelunasan justru akan meruntuhkan bangunan keuangan internasional. Ia menuding bahwa lembaga-lembaga keuangan raksasa—yang memegang instrumen utang—mendapatkan keuntungan justru dari permanennya bunga, bukan dari stabilitas ekonomi negara-negara. “Angka 38 triliun dolar utang Amerika bukanlah krisis bagi mereka,” ujarnya. “Itu adalah model bisnis.”

Dalam pernyataannya, ia juga merujuk pada nasib tokoh-tokoh yang pernah menantang dominasi dolar seperti Muammar Kaddafi dan Saddam Hussein, sembari menyiratkan bahwa upaya mengubah sistem keuangan global bukan hanya rumit, tetapi berbahaya. Di sinilah ia menyebut nama Presiden Indonesia terpilih, Prabowo Subianto. “Pertanyaannya, apakah Pak Prabowo berani melakukannya? Apakah BRICS mampu melakukannya?” ujarnya menutup. Dengan nada paling tenang ia mengakhiri pernyataannya dengan satu kata yang justru menegaskan ketegangan seluruh isi analisisnya: “Peace.”

MoneyTalk, Jakarta –  Dalam kanal YouTube-nya pada Senin (20/10/2025), analis politik dan pengamat ekonomi Mardigu Wowiek menembakkan kritik tajam pada proyek-proyek kontroversial era mantan presiden Jokowi. Ia menyebut proyek-proyek itu sebagai “barang busuk yang dibanggakan” dan menimbulkan kerugian besar bagi negara.

“Kalau sudah tahu barang busuk, kenapa diterima dan dibanggakan? Motifnya apa? Netizen pun bingung,” ujar Mardigu.

Menurut Mardigu, proyek Whoos dan kereta cepat memiliki beban utang besar akibat kebijakan salah sang mantan presiden Jokowi dan penasihat spiritualnya.

“Proyek kereta cepat awalnya ditawarkan Jepang dengan bunga 0,1%, tapi dibatalkan dan pilih Tiongkok dengan bunga 2–3,4% per tahun. Setiap tahun bunga saja mencapai Rp 2 triliun, pendapatan tiket maksimal Rp 1,5 triliun. Ini merugi terus sampai kiamat!”

Whoos Ia bandingkan dengan Sri Lanka, di mana proyek pelabuhan Hamban Tota menjadi jebakan hutang bagi negara. Kalau kita gagal bayar, Indonesia bisa kehilangan aset strategis diambil Tiongkok seperti Sri Lanka!”

Pelajaran Sri Lanka: Hutang Tiongkok Bikin Jebakan Nasional

Kasus pelabuhan Hamban Tota di Sri Lanka menjadi pelajaran penting: utang besar memaksa aset strategis disewakan ke perusahaan Tiongkok untuk melunasi utang. Mardigu mengingatkan, hal serupa bisa terjadi pada proyek Whoos.

“Jika pemerintah tidak hati-hati, kita bisa terjebak dalam debt trap seperti Sri Lanka. Ini bahaya nyata untuk kedaulatan nasional!”

Mardigu menutup narasinya dengan dukungan terhadap langkah tegas pemerintah saat ini:

“Netizen sekarang mendesak agar semua kasus dugaan markup dan proyek bermasalah diselidiki. Kita tunggu sehebat apa sang mantan untuk mengelak.”

MoneyTalk,Jakarta – Presiden Prabowo Subianto tak main-main! Kali ini, targetnya tambang ilegal di Sita negara yang selama bertahun-tahun dirampok, menyedot rare earth senilai Rp300 triliun dari negeri sendiri! Enam smelter ilegal yang memeras kekayaan rakyat disita habis oleh Tim Satgas Penambang Liar.

Tanah jarang ini mengandung monasit, mineral super mahal yang bisa meraup miliaran per ton. Dengan 40.000 ton monasit di lokasi itu, kerugian negara akibat ulah para penambang nakal ditaksir mencapai Rp300 triliun!

Mardigu Wowiek menegaskan, rezim sebelumnya “buta dan goblok” karena membiarkan praktik ini, bahkan diduga melindungi kepentingan Tiongkok. “Negara dibodohi, pejabatnya maling tersembunyi! Mineral kita dicuri, rakyat cuma diam!” tegas Mardigu.

Rare earth, walau disebut jarang, sangat melimpah dan krusial untuk industri elektronik, otomotif, komunikasi, pertahanan, dan data center. Namun pejabat terdahulu hanya menghitung timahnya saja, sedangkan rare earth yang melekat gratis diambil asing. Harta bangsa? Raib begitu saja!

Kini, wajah Menteri Investasi Bahlil pun tampak cemberut. Tidak lagi bisa menutupi fakta pahit: Indonesia mulai menegakkan hukum, smelter ilegal dibongkar, dan para penambang nakal ditindak tegas. Pemerintah memastikan tidak ada lagi ruang bagi maling tambang yang merampok kekayaan nasional.

Mardigu menegaskan, ini bukan sekadar operasi hukum, tapi era baru kekuatan Indonesia: mineral sebagai pengganti jalur rempah (spice road). Presiden Prabowo mengirim pesan keras: “Cukup sudah, praktik curang ini harus berhenti. Negara bangkit!”

Rakyat kini bisa menghela napas lega. Aparat hukum bekerja maksimal, aset nasional kembali dijaga, dan Indonesia menunjukkan taringnya. Para pejabat, akademisi, dan masyarakat, saatnya memberi apresiasi  karena bumi pertiwi ini tidak lagi boleh dicuri sembarangan.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan tajam kembali keluar dari pengusaha dan pemikir nasional Mardigu Wowiek alias Bossman Mardigu. Dalam tayangan terbarunya di kanal YouTube, Rabu (8/10), Mardigu menyoroti tajam kondisi reformasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang menurutnya hanya “kulit” tanpa perubahan nilai.

“Kita semua ingin tidak ada lembaga superbody di negeri ini. Baik MPR, DPR, TNI maupun Polri harus seimbang. Tapi sayangnya, Polri tidak pernah benar-benar mengalami reformasi sejak 1998,” kata Mardigu membuka narasinya.

Menurutnya, yang terjadi selama ini hanyalah pemisahan kelembagaan dari militer, bukan transformasi nilai. “Nilai-nilai militer pada era Orde Baru masih terbawa sampai sekarang. Reformasi tidak menghasilkan demokrasi, hanya memindahkan struktur,” tegasnya.

Polisi Masih Jadi Alat Kekuasaan

Lebih lanjut, Mardigu menyoroti bahwa Polri yang seharusnya menjadi bagian dari masyarakat sipil justru berubah arah menjadi alat kekuasaan politik.

“Dalam sepuluh tahun terakhir, kepolisian dipakai menjadi alat politik. Ini yang membuat rakyat kecewa. Bukannya melindungi masyarakat, malah menjadi pemain di pemilu dan Pilpres,” ungkapnya.

Ia menilai demokrasi seharusnya memberi rasa nyaman bagi rakyat, bukan sekadar rasa aman. “Kalau setiap gang dijaga polisi, mungkin aman, tapi rakyat tidak nyaman. Demokrasi itu mengutamakan kenyamanan lebih dulu daripada keamanan,” ujarnya tajam.

Brimob Sudah Tak Relevan di Polri

Salah satu bagian paling berani dalam pernyataan Mardigu adalah usul reposisi besar terhadap Brimob.

“Brimob itu pasukan perang, bukan pasukan pengayom masyarakat. Mereka punya persenjataan bahkan lebih canggih dari TNI. Jadi letakkan saja Brimob di bawah Kementerian Pertahanan atau sekalian masuk TNI AD,” usulnya.

Menurutnya, kondisi saat ini membuat Polri justru terlalu kuat secara militer, tetapi lemah dalam pelayanan. “Kalau dibiarkan, Polri makin arogan. Semangat reformasi 1998 itu jelas: pisahkan militer dan polisi. Tapi sekarang malah kabur batasnya,” kata Mardigu.

Isyarat Politik: Dua Presiden Tak Salami Kapolri

Menariknya, Mardigu juga menyinggung momen viral yang ramai dibicarakan: Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak menyalami Kapolri dalam dua kesempatan berbeda.

“Apakah itu sekadar kelupaan manusiawi, atau simbol keras terhadap arah Polri hari ini?” tanya Mardigu kepada para penontonnya.

Ia pun menutup dengan nada reflektif, “Kritik ini bukan kebencian, tapi cinta terhadap republik. Kita ingin Polri yang kuat melayani rakyat, bukan menakutinya.”

MoneyTalk, Jakarta – Dalam narasi panas yang tayang di kanal YouTube-nya pada Sabtu (4/10), pengusaha sekaligus pemikir nasionalis Mardigu Wowiek kembali mengguncang ruang publik. Ia membuka tabir gelap di balik setiap pergantian penguasa di Indonesia, bahwa yang berubah hanyalah wajah, bukan jaringan kekuasaannya.

“Coba kita lihat dari dulu,” ujar Mardigu membuka videonya dengan nada datar tapi menusuk. “Setiap kali presiden berganti, yang kaya tetap orang-orang itu juga. Mereka hanya ganti baju, ganti warna, ganti jargon. Tapi uangnya tetap mengalir ke kelompok yang sama.”

Mardigu mengajak publik mengingat dinamika Pilpres 2024. Menurutnya, masyarakat seperti terjebak dalam perang emosi yang sengaja dimainkan.

“Waktu kampanye, perang di medsos sampai di warung kopi. Ada yang bela Anies, bela Ganjar, bela Prabowo. Semua saling serang, saling hina, sampai bawa ijazah segala. Tapi begitu 02 menang, semua langsung balik badan,” katanya.

Contohnya, sebut Mardigu, elite politik dan pengusaha yang dulu mati-matian membela Anies atau Ganjar kini berbisnis kembali dengan lingkaran kekuasaan baru.

“Yang dulu anti Prabowo, sekarang antre proyek di kabinet. Yang dulu pro Anies, sudah join tender sama pejabat baru. Itulah politik gaya Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mardigu menyebut bahwa di balik pertarungan politik, selalu ada “para konglomerat bayangan”.

“Dari taipan KW2 sampai naga KW3, semua punya jaringannya. Mereka menanam modal ke semua kubu. Siapa pun yang menang, mereka tetap dapat bagian,” ungkapnya.

“Rakyat cuma jadi penonton. Yang bertarung bukan ideologi, tapi bisnis siapa yang dapat proyek apa.”

Menariknya, Mardigu kemudian memutar cuplikan video yang membandingkan sistem politik di Tiongkok.

“Di China, pejabat dilarang jadi kaya. Kalau mau kaya, jangan jadi pejabat. Kalau jadi pejabat, jangan mimpi kaya,” katanya menirukan cuplikan video tersebut.

Ia menegaskan, China menjalankan pasal 33 UUD 1945 lebih baik daripada Indonesia.

“Bumi, air, energi, dikuasai negara bukan oleh segelintir keluarga kaya,” ujar Mardigu.

“Di sini, malah sebaliknya. Batu bara, nikel, sawit, semua dipegang swasta. Negara hanya dapat remah.”

Mardigu menyampaikan dengan dua “pekerjaan rumah besar” bagi bangsa Indonesia.

Pertama, jabatan publik harus diisi orang yang meritokratis bukan pebisnis yang sedang balas budi kepada sponsor.

Kedua, pasal 33 UUD 1945 harus dijalankan secara absolut.

“Stop jual-beli jabatan. Stop dagang proyek pakai baju nasionalisme,” ujarnya tajam.

“Kalau pejabat masih punya bohir, jangan harap negeri ini bisa mandiri.”

Mardigu melempar kalimat yang membuat kolom komentar membara:

“Kita bukan negara miskin. Kita negara yang dikerjain orang kaya terus menerus.”

“Ganti presiden boleh, tapi kalau oligarkinya tetap itu-itu saja, maka kita cuma ganti dekorasi, bukan nasib,” pungkasnya.

Sahabat Bangsa, Mardigu menegaskan, solusi hanya dua:

Pejabat yang bersih dan berani tanpa bohir.

Ekonomi nasional yang dijalankan negara, bukan segelintir keluarga.

“Peace,” ujarnya menutup, sambil mengangkat dua jari bukan tanda politik, tapi tanda peringatan.

MoneyTalk,Jakarta – Perombakan kabinet merah putih jilid II yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan besar publik, netizen, hingga lingkar elite politik nasional. Sejumlah pos strategis mengalami pergeseran, termasuk kursi Menko Polhukam yang kini ditempati Jamari Chaniago, menggantikan pejabat lama.

Menurut Mardigu Wowiek dalam kanal YouTube-nya (23/09), langkah ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan penegasan arah konsolidasi politik baru. Penunjukan Jamari Chaniago yang dikenal memiliki reputasi kuat di bidang intelijen dan operasi strategis, dinilai sebagai langkah tepat menghadapi tantangan geopolitik dan ancaman cyber.

“Prabowo butuh figur yang punya kecakapan analitik dan jejaring intelijen mumpuni. Ini sinyal bahwa presiden ingin memperkuat koordinasi politik dan keamanan,” ujar Mardigu.

Perubahan ini semakin kentara dengan pencopotan Hasan Hasbi, Kepala PCO yang kerap dikaitkan dengan lingkaran Geng Solo kelompok politik yang disebut-sebut berpengaruh pada era Jokowi.

Mardigu menilai, langkah ini merupakan pesan simbolis: Prabowo ingin mengurangi pengaruh kelompok lama dan memberi ruang keseimbangan baru.

Namun, sejumlah nama kontroversial justru masih dipertahankan dalam kabinet. Netizen ramai mempertanyakan mengapa Erick Thohir, Tito Karnavian, dan Kapolri Listyo Sigit masih bertahan.

Erick Thohir dianggap meninggalkan jejak buruk di BUMN, mulai dari tumpukan utang, bancakan proyek IKN, hingga dugaan kedekatan dengan oligarki.

Tito Karnavian dikritik karena kebijakan transfer pulau dari Aceh ke Sumut yang memicu kemarahan rakyat Aceh.

Kapolri Listyo Sigit dipandang terlalu loyal pada Jokowi, dengan rekam jejak kasus Sambo, perang bintang di Polri, hingga dugaan bisnis tambang dan narkoba.

“Selama Sigit masih bercokol, bayangan Jokowi di tubuh Polri akan terus ada. Bagaimana mungkin Prabowo bisa benar-benar mandiri?” tegas Mardigu, mengutip komentar yang ramai di sosial media.

Bom Waktu Dalam Kabinet

Mardigu mengingatkan, mempertahankan figur-figur warisan Jokowi bisa menjadi “bom waktu” bagi pemerintahan Prabowo. Cepat atau lambat, bom tersebut akan meledak jika tidak segera dinetralisir.

“Presiden mungkin punya pertimbangan politik, menimbang keseimbangan kekuasaan. Tapi publik juga berhak mengingatkan, bom waktu tidak bisa selamanya dibiarkan. Reformasi sejati hanya bisa berjalan jika keberanian menyingkirkan beban lama benar-benar diwujudkan,” kata Mardigu.

Ia menutup dengan optimisme bahwa rakyat masih percaya Prabowo mampu mengambil keputusan berani.

“Rakyat yakin Prabowo bisa. Peace.”

MoneyTalk,Jakarta – Pengusaha sekaligus pengamat geopolitik Mardigu Wowiek kembali bikin geger. Dalam podcast bersama dr. Richard Lee, Rabu (17/9/2025), ia menuding problem ekonomi Indonesia bukan sekadar fiskal, tapi mental para pemimpinnya yang kurang berani.

Daripada Rp200 triliun diguyur untuk bansos yang hanya sekali jalan, Mardigu menyebut ide jenius Menko Perekonomian Airlangga Hartarto: menggelontorkan dana langsung ke sektor produktif agar ekonomi berputar cepat.

“Kalau bansos ya habis begitu saja. Kalau dimasukin ke perekonomian, pengusaha hidup, keluarganya hidup, karyawan dapat kerjaan, vendor bergerak. Efek multiplikasinya bisa 10 kali lipat,” tegas Mardigu.

Rumah 1 Juta Unit, Semua Pakai Produk Lokal. Mardigu bahkan mengusulkan printing money dengan skema unik: cetak uang baru berwarna hijau, khusus untuk program pembangunan nasional. Misalnya, 100 triliun disuntikkan untuk membangun 1 juta rumah.

“Semua bahan lokal! Semen, pasir, batu, kayu, semua produk dalam negeri. Uang hijau itu dipakai muter selama 5 tahun, lalu ditarik lagi. Nol inflasi!” jelasnya.

Ia mencontohkan Tiongkok yang dulu menggunakan dua mata uang: yuan internasional dan renminbi domestik. Hasilnya? Dalam 20 tahun, China mampu membangun 35 miliar m² gedung tanpa tergantung utang Barat.

“Kita Butuh Nyali, Bukan Cuma Orang Pintar!”

Mardigu menilai Indonesia punya banyak ahli ekonomi, tapi tidak punya pemimpin bermental baja.

“Knowledge itu nomor sepuluh, nyali nomor satu. China berani, Putin berani. Kita? Banyak orang pintar, tapi enggak punya biji!” katanya sambil tertawa.

Prabowo Boy: Stimulus Nasionalis, Lebih jauh, Mardigu mengusulkan agar stimulus Rp200 triliun berikutnya diarahkan kepada pengusaha lokal nasionalis di setiap kabupaten. Ia menyebut program itu sebagai “Prabowo Boy”, yaitu penyaluran dana 500 miliar–2 triliun bagi pengusaha terpilih.

“Kalau ini jalan, ekonomi bakal menggeliat. Dari Palembang sampai Papua bisa muncul industri baru. Jangan lagi uang rakyat habis di atas meja tanpa hasil!” ucapnya.

BUMN Bubar, Negara Jadi Regulator! Mardigu juga menyentil BUMN. Menurutnya, negara tidak boleh jadi operator bisnis, cukup jadi regulator.

“Negara pegang SDA sesuai Pasal 33, titik! Hotel, bank, airline, kosmetik? Sudah, IPO aja. Kalau negara ikut dagang, UKM mati!” sergahnya.

Pernyataan Mardigu ini jelas jadi tamparan telak: Indonesia butuh keberanian, bukan sekadar teori. Dari ide uang hijau, rumah sejuta unit, hingga “Prabowo Boy”, ia mendorong revolusi kebijakan ekonomi demi lepas dari jebakan utang dan mental bansos.

MoneyTalk,Jakarta — Ledakan pernyataan datang dari pengusaha dan pengamat geopolitik, Mardigu Wowiek. Dalam obrolan panas di kanal YouTube dr. Richard Lee, Rabu (17/9), Mardigu menuding bahwa penunjukan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan sejak era SBY, Jokowi, hingga Prabowo, bukan murni urusan politik dalam negeri, melainkan titipan kepentingan IMF dan World Bank.

“Itu bukan keputusan politik, tapi keputusan geopolitik. Beliau dikenal IMF–World Bank, jadi gampang dikendalikan,” tegas Mardigu.

Indonesia Telat 7 Tahun!Menurut Mardigu, akibat terlalu tunduk pada resep IMF, kebijakan fiskal era Sri Mulyani membuat ekonomi Indonesia tertinggal tujuh tahun dari momentum global. Dunia bergerak ke arah easy money, tapi Indonesia justru dicekik dengan kebijakan tight money.

“Harusnya seimbang antara fiskal dan moneter. Tapi kita telat, gara-gara terlalu kaku mengikuti aturan luar,” sindirnya.

Rp200 Triliun: Obat Pengencer Darah, Mardigu memuji langkah Menteri Keuangan saat ini yang langsung menyalurkan stimulus Rp200 triliun. Menurutnya, uang itu ibarat obat pengencer darah untuk tubuh ekonomi Indonesia yang nyaris beku.

“Kalau darah kental, macet. Dikasih Rp200 triliun, lancar lagi. Tapi kalau mau jadi negara terkuat di belahan selatan dunia, kita butuh Rp2.000 triliun. Itu baru obat keras!” katanya lantang.

Bukan Modal, Tapi Mental! Namun Mardigu menegaskan: bukan sekadar uang yang jadi masalah, tapi kurangnya entrepreneur sejati di negeri ini.

“Dari seratus orang, cuma satu yang benar-benar pengusaha tangguh. Padahal yang bisa mendorong ekonomi maju ya entrepreneur kuat. Duit tanpa mental pengusaha, sama saja buang percuma,” tutupnya.