3 November 2026

Mardigu Wowiek

MoneyTalk, Jakarta – Dalam kanal YouTube-nya pada Selasa (17/09), pengusaha sekaligus pemikir ekonomi Mardigu Wowiek mengajukan pertanyaan tajam: apa yang harus dilakukan Menteri Keuangan baru dalam 100 hari pertama jabatannya?

Menurutnya, langkah besar yang paling mendesak bukan sekadar soal easy money atau melonggarkan likuiditas peredaran uang, melainkan keberanian untuk mengoreksi sistem bagi hasil sumber daya alam (SDA) antara negara dengan korporasi raksasa.

Mardigu menyoroti ketimpangan besar dalam skema saat ini. Dari ekspor batubara, sawit, nikel, hingga berbagai komoditas tambang yang nilainya mencapai sekitar Rp2.000 triliun per tahun, negara hanya menerima porsi pajak dan retribusi yang nilainya maksimal 25%. Sementara itu, 75–80% dinikmati oleh korporasi besar.

“Bayangkan, dari Rp2.000 triliun, negara hanya kebagian sekitar Rp500 triliun. Inilah bentuk ketidakadilan fiskal yang menguntungkan konglomerat dan oligar,” ujar Mardigu.

Ia mengusulkan agar rezim baru berani mengubah skema menjadi fair sharing, minimal 50%-50%, bahkan lebih baik jika 60% untuk negara dan 40% untuk korporasi. Dengan formula itu, Indonesia bisa mengantongi tambahan penerimaan hingga Rp1.000 triliun per tahun, tanpa perlu menambah beban pajak rakyat kecil.

“Kalau ini dijalankan, nilai ekspor Indonesia yang saat ini sekitar USD 270 miliar (2024) bisa tumbuh menjadi USD 700 miliar pada 2034. Dari situ, negara bisa mengantongi Rp2.800 triliun per tahun. Itu baru game changing. Itu rakyat tidak dipajaki lagi,” tegasnya.

Mardigu menyadari perubahan ini pasti ditentang oleh oligarki dan pemain lama. Namun ia menyarankan agar pemerintah memberi kompensasi berupa kemudahan pendanaan bagi proyek swasta yang berorientasi ekspor di dalam negeri. Dengan modal yang mudah diakses, para pengusaha tetap bisa mencipta dan mempercepat perputaran ekonomi.

Belajar dari Sumitro dan Sejarah Ekonomi

Dalam narasinya, Mardigu juga mengingatkan pada warisan pemikiran ekonom besar Indonesia, Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Sumitro percaya negara harus hadir aktif dalam menguasai cabang produksi penting dan membimbing lahirnya pengusaha pribumi. Tanpa itu, Republik hanya menjadi pelengkap penderita di pasar dunia.

Ia kemudian membandingkan tiga era:

Orde Baru dengan Mafia Berkeley yang menekankan stabilitas dan pertumbuhan tinggi.

Reformasi yang tunduk pada resep IMF, membuka privatisasi dan liberalisasi asing.

Dua dekade terakhir di bawah Sri Mulyani yang disebutnya lebih berperan sebagai “wasit IMF”, menjaga aturan defisit dan pasar obligasi, namun membiarkan keuntungan SDA lebih banyak lari ke korporasi.

Menurut Mardigu, pasal 33 UUD 1945 sudah jelas menyatakan kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Karena itu, porsi negara dalam SDA seharusnya dominan, sementara sektor swasta tetap diberi ruang berkreasi di sektor non-SDA.

“Ini waktunya berhenti membela kapitalis rakus yang mengeruk kekayaan alam bangsa. Negara harus hadir, rakyat harus merasakan manfaatnya,” tutupnya.

MoneyTalk, Jakarta – Dunia lagi panas! Saat rakyat Indonesia ribut di jalan, demo pemerintah yang ogah dengar aspirasi, Tiongkok justru bikin dua gebrakan bikin Amerika Serikat ciut nyali.

Mardigu Wowiek blak-blakan: Parade militer Tiongkok bukan sekadar pamer, tapi tamparan keras buat Amerika. Xi Jinping, Putin, dan Kim Jong Un tampil bareng layaknya “Avengers Dunia Baru” yang siap melawan Thanos versi Trump!

Lebih gila lagi, Tiongkok buka-bukaan soal proyek “immortality” alias keabadian lewat transplantasi organ. Dunia kesehatan AS langsung kaget setengah mati, apalagi Trump yang udah uzur.

Bukan cuma itu, 24 negara di SCO kompak mendukung dunia multipolar akhir dari era Amerika sebagai bos tunggal.

Dan puncaknya? Parade Tiongkok pamer 78 senjata mutakhir: rudal Guam Killer, drone bawah laut, tank AI, hingga tameng udara Shield in The Sky yang bikin senjata Amerika kelihatan jadul.

“Amerika cupu. Tiongkok sudah combat ready,” tegas Mardigu.

Ironisnya, Indonesia? Masih sibuk impor senjata tua jet tempur lawas, tank manual, semua pakai manusia, mahal pula! “Perisai udara aja nggak punya. Kalau rudal nyasar ke IKN, ya wassalam!” sindirnya pedas.

Mardigu dengan nada getir: saat Tiongkok dan aliansinya menulis sejarah baru dunia, Indonesia justru sibuk demo dan belanja rongsokan perang.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan mengejutkan datang dari Mardigu Wowiek lewat kanal YouTube-nya, Minggu (14/09). Ia menegaskan bahwa lengsernya Sri Mulyani bukan sekadar reshuffle kabinet, tapi “kudeta ekonomi” yang menandai pergeseran poros Indonesia dari Barat ke Timur.

“Selama 20 tahun Menkeu kita jadi kepanjangan tangan Washington. Dia sendiri bingung, patriot atau agen Amerika? Faktanya, ia jalankan agenda IMF dan World Bank: jaga dolar, pajak ketat, defisit rapih. Itu agenda Amerika, bukan agenda bangsa,” kata Mardigu.

Menurutnya, Prabowo Subianto kini tampil sebagai “harimau tua” yang pulang dari Beijing dan Moskow membawa restu perubahan besar. “Prabowo dapat sinyal: silakan, buang dulu penjaga IMF itu. Dan Sri Mulyani pun lengser,” tegasnya.

Mardigu menyebut langkah ini adalah awal dari pergeseran ideologi ekonomi: Dari austerity ke sovereign spending.Dari defisit ketat ke investasi masif.Dari barat ke Timur

“Target pertumbuhan 8% bukan lagi slogan. Kredit murah dari Tiongkok akan mengalir deras. Tapi siap-siap, sembilan naga baru akan lahir, bukan dari Harvard Club, tapi dari mereka yang pandai merapat ke Tiongkok dan Rusia,” ujarnya pedas.

Mardigu menegaskan: “Kita tidak sedang membenci Sri Mulyani. Kita hanya sedang membaca perubahan zaman. Ini kudeta ekonomi. Peace.

MoneyTalk, Jakarta – Mardigu Wowiek dalam kanal YouTube-nya kembali melontarkan kritik keras terhadap penyakit kronis bangsa: korupsi. Menurutnya, persoalan utama Indonesia bukanlah ketiadaan uang, melainkan uang yang terus-menerus digerogoti oleh maling berbaju pejabat.

“Adakah sahabat yang tahu berapa nilai uang selama masa reformasi yang dikorupsi? Menurut data lembaga internasional, jumlahnya mencapai ribuan triliun rupiah. Dan siapa yang paling banyak menggondol? Silakan jawab sendiri,” ujar Mardigu.

Ia menekankan, andai korupsi bisa diberantas, wajah Indonesia akan jauh berbeda. Infrastruktur dan kesejahteraan rakyat akan berlipat ganda. Jalan tol, yang kini panjangnya hanya 2.893 km, bisa menembus 10.000 km. Jalan nasional, provinsi, hingga kabupaten yang kini totalnya sekitar 527 ribu km, seharusnya bisa mencapai 1 juta km. Demikian pula rel kereta api yang saat ini 6.880 km, bisa berkembang menjadi 20.000 km yang menghubungkan seluruh pulau besar di Nusantara.

Di sektor kesehatan, Indonesia kini memiliki 3.155 rumah sakit. “Kalau tidak dikorupsi, seharusnya sudah berdiri lebih dari 10.000 rumah sakit modern di seluruh Indonesia. Tidak ada lagi impor obat, alat kesehatan, bahkan pangan. Kita pasti sudah punya pesawat terbang ciptaan sendiri, ribuan cold storage untuk nelayan, motor tempel hybrid bertenaga surya, hingga industri pangan mandiri,” tegas Mardigu.

Korupsi juga membuat rakyat kehilangan hak atas hunian dan pendidikan. Ia menyebutkan, 32 juta rumah layak huni seharusnya sudah dibangun. Pendidikan seharusnya gratis hingga kuliah, tanpa ada anak yang putus sekolah atau guru honorer yang tak terbayar. Bahkan jumlah guru bermutu bisa tiga kali lipat dari sekarang.

Indonesia, tambahnya, seharusnya tidak sekadar impor senjata, tapi sudah mengekspor senjata dan berperan sebagai kekuatan militer global. Bahkan dalam inovasi, Mardigu menyinggung kasus mobil listrik karya dalam negeri yang “dimatikan” karena kebijakan pejabat bebal. “Indonesia mestinya sudah lebih dulu daripada Tesla,” katanya.

Ia juga menggambarkan mimpi besar yang terampas akibat korupsi. Kota-kota baru seharusnya bermunculan: Batam sebagai gerbang maritim dunia, Halmahera sebagai pusat hilirisasi tambang, Merauke sebagai kota pangan dunia, hingga 10 kota baru yang kualitasnya 100 kali lebih baik dari IKN.

Semua itu, menurutnya, sangat mungkin terjadi jika uang bangsa tidak digarong. “Korupsi di Indonesia menaikkan biaya proyek lebih dari 100%. Kalau dihitung 30 tahun terakhir, nilai yang dikorupsi mencapai 11.000 triliun rupiah lebih. Indonesia bukan kekurangan uang, tapi kelebihan maling,” tegasnya.

Ia menutup dengan tantangan kepada publik: “Coba teruskan daftar ini. Bayangkan, apa saja yang bisa kita miliki jika Indonesia hari ini tumbuh tanpa korupsi.”

MoneyTalk, Jakarta – Mardigu Wowiek muncul dengan narasi menarik tentang bagaimana dominasi ekonomi Tiongkok, melalui serangkaian strategi geopolitik dan soft power, mampu membuat barang-barang mereka menjadi sangat murah di pasar global. Bahkan, mengancam industri-industri besar seperti Sritex di Indonesia. Artikel ini akan mengulas dengan mendalam bagaimana Tiongkok mengatur pergerakan ini dan apa yang bisa dipelajari Indonesia dari pendekatan tersebut.

Soft power dalam konteks ini bukan hanya tentang pengaruh budaya atau diplomasi, melainkan strategi ekonomi di mana Tiongkok berhasil menyusup ke dalam sistem politik dan ekonomi negara lain melalui mekanisme korupsi dan suap. Tindakan ini dilakukan untuk mengubah regulasi agar menguntungkan Tiongkok dan merugikan industri lokal.

Misalnya, pejabat di negara tertentu disuap agar memberikan izin impor yang mempermudah masuknya barang Tiongkok dengan harga yang sangat murah. Akibatnya, pabrik-pabrik lokal seperti yang terjadi di sektor garmen, semen, dan produk rumah tangga berpotensi tutup karena tidak mampu bersaing dengan harga barang dari Tiongkok yang jauh lebih rendah.

Sritex yang pernah menjadi salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, menjadi contoh nyata dari dampak ini. Dengan masuknya produk tekstil dari Tiongkok yang dijual dengan harga sangat kompetitif, Sritex menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan pangsa pasarnya. Sistem perdagangan bebas dan lemahnya pengawasan terhadap praktik dumping membuat produk impor yang disubsidi oleh pemerintah Tiongkok semakin mendominasi pasar lokal. Ini mengakibatkan perusahaan dalam negeri harus menekan harga dan margin keuntungan mereka hingga tidak berkelanjutan.

Tiongkok memiliki strategi unik yang disebut subsidi ekspor, di mana pemerintah memberikan insentif 20-30% dari harga jual produk yang diekspor. Contohnya, mobil listrik yang diproduksi di Tiongkok dijual ke luar negeri dengan harga yang lebih rendah dari harga produksi. Hal ini dimungkinkan karena adanya subsidi langsung dari pemerintah, yang pada akhirnya mengurangi harga jual dan membuatnya sangat kompetitif dibandingkan mobil-mobil dari Eropa, Amerika, atau Jepang.

Subsidi ini bukan hanya sekadar keuntungan bisnis, tetapi merupakan bagian dari strategi makroekonomi Tiongkok yang menggunakan printing money (cetak uang) berbasis proyek ekspor. Dengan menghasilkan devisa melalui penjualan internasional, Tiongkok menjaga perputaran ekonomi tetap kuat dan mendukung pengusaha lokalnya untuk berkompetisi di pasar global dengan agresif.

Fenomena yang disoroti Mardigu mengenai harga mobil adalah contoh konkret bagaimana harga produk-produk tertentu dapat jatuh di masa depan. Dengan banyaknya suplai mobil Tiongkok di pasar global, harga mobil, baik baru maupun bekas, diprediksi akan mengalami penurunan. Produsen otomotif dari negara lain, termasuk Jepang dan Eropa, akan menghadapi tekanan besar untuk menyesuaikan harga atau mempertahankan daya saing mereka di pasar internasional.

Indonesia perlu meniru beberapa strategi inovatif Tiongkok, terutama dalam mengintegrasikan dukungan pemerintah dengan sektor swasta. Pemerintah Indonesia bisa mengevaluasi kebijakan terkait dengan subsidi ekspor, inovasi industri, serta kebijakan perdagangan yang melindungi produk dalam negeri dari persaingan yang tidak adil. Model Tiongkok menunjukkan bahwa keberhasilan dalam ekonomi global tidak hanya mengandalkan keterbukaan pasar, tetapi juga perlindungan terhadap industri strategis dan kebijakan proaktif yang dirancang untuk menjaga stabilitas dan perkembangan jangka panjang.

Mardigu Wowiek membuka mata tentang bagaimana kompleksitas hubungan antara geopolitik, kebijakan ekonomi, dan dampaknya pada industri lokal. Tiongkok, dengan kekuatan soft power dan strategi ekonomi cerdas, mampu memposisikan diri sebagai pemimpin dalam banyak sektor di pasar global. Bagi Indonesia, penting untuk segera mengevaluasi kebijakan ekonomi dan industrinya agar dapat bertahan dan berkompetisi di era dominasi Tiongkok.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Mardigu Wowiek mengungkap analisis dalam kanal youtubenya pada Minggu (10/11) yang cukup kontroversial terkait kemenangan mantan Presiden AS Donald Trump dalam pemilu yang berlangsung baru-baru ini. Menurut Mardigu, kemenangan Trump yang luar biasa ini tidak lepas dari dukungan komunitas Muslim keturunan Arab dan komunitas keturunan India di Amerika Serikat. Kedua komunitas ini disebut sebagai “game-changer” yang memberikan suara signifikan, terutama di negara-negara bagian swing states yang akhirnya dimenangkan oleh Trump secara telak.

Mardigu Wowiek menjelaskan, Trump dipandang sebagai American Hero oleh banyak kalangan. Trump digambarkan sebagai sosok pejuang sejati yang tidak mudah menyerah meski menghadapi berbagai masalah, termasuk kasus hukum yang kompleks hingga tuduhan kriminal. Narasi ini menjadi faktor kuat yang menarik simpati berbagai kelompok, termasuk komunitas Muslim dan keturunan India yang selama ini tidak begitu diidentikkan dengan basis pendukung Trump.

Menurut Mardigu, dukungan dari komunitas keturunan Arab dan India tidak terlepas dari dua sosok kunci di belakang kampanye Trump, yaitu Vivek Ramaswamy dan Kash Patel. Ramaswamy dikenal sebagai salah satu pendukung utama Trump yang berasal dari keturunan India, sedangkan Patel, yang disebut memiliki posisi strategis di National Security Establishment (NSE), dianggap sebagai sosok berpengaruh yang dapat memimpin CIA di masa mendatang.

Mardigu menyoroti bagaimana kampanye Trump berhasil meraih simpati publik melalui propaganda yang efektif. Salah satunya dengan menjanjikan keamanan di Palestina dan Timur Tengah. Trump disebut berjanji untuk menghentikan invasi Israel, sebuah janji yang menarik perhatian komunitas Muslim. Hal ini dikombinasikan dengan kegagalan Presiden Joe Biden dalam membangun ekonomi Amerika, yang tidak dilihat sebagai masalah oleh tim suksesnya, termasuk Wakil Presiden Kamala Harris.

Mardigu juga mengaitkan kemenangan Trump dengan berbagai manuver politik internasional, termasuk kabar soal Netanyahu yang memecat Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant. Teori yang diangkat oleh Mardigu adalah bahwa Gallant mendukung Trump, khususnya terkait kebijakan Philadelphi Corridor di Gaza.

Trump mencetak sejarah sebagai presiden AS pertama yang terpilih kembali meski dalam status terdakwa. Kemenangan ini semakin luar biasa karena Trump berhasil mengalahkan calon presiden perempuan untuk kedua kalinya, membuktikan bahwa masyarakat Amerika mungkin belum siap dipimpin oleh seorang perempuan di kursi presiden.

Mardigu juga menyoroti dampak kemenangan Trump terhadap pasar keuangan. Istilah ‘Trump Trade’ kembali populer dengan melonjaknya indeks pasar saham Amerika Serikat. Saham-saham besar seperti Citigroup dan Bank of America mengalami kenaikan signifikan, sedangkan Tesla melonjak lebih dari 14%. Bitcoin juga mengalami peningkatan tajam, mencapai $75.000, sementara Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kebijakan Trump yang pro-pasar diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi ekonomi Amerika.

Mardigu juga memperkirakan bahwa Dow Jones mencatat kenaikan lebih dari 100 poin, mencetak rekor tertinggi pasca pemilu sejak tahun 1896, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq naik masing-masing 2,5% dan 2,9%, menunjukkan optimisme investor terhadap kebijakan ekonomi Trump.

Trump dikenal dengan kebijakan proteksionisme yang memprioritaskan kepentingan Amerika Serikat. Mardigu menjelaskan bahwa kebijakan ini bisa berdampak negatif bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, karena Amerika cenderung menarik investasinya kembali ke dalam negeri. Namun, situasi ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia dengan strategi yang tepat, seperti yang dilakukan oleh Vietnam dan India.

“Indonesia harus pintar memanfaatkan kebijakan proteksionisme ini dengan menarik Foreign Direct Investment (FDI) dari Amerika,” ujar Mardigu. Ia menyarankan agar Indonesia fokus pada proyek yang pro-Amerika untuk menarik aliran dolar ke dalam negeri. Lebih jauh, Indonesia bisa mengikuti jejak Tiongkok dengan membeli paper bonds dari Amerika untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Mardigu memprediksi bahwa kembalinya Trump ke Gedung Putih akan membawa perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Amerika, terutama dalam hubungan dengan Rusia dan Cina. Trump disebut berencana untuk mengakhiri konflik Ukraina dengan segera, bahkan berniat untuk langsung menelepon Zelensky dan Putin di hari pertama ia kembali menjabat sebagai presiden.

Mardigu juga menambahkan bahwa kebijakan Trump yang lebih fokus pada urusan domestik akan memberikan keuntungan bagi Xi Jinping dan Vladimir Putin. Xi Jinping, misalnya, dapat melanjutkan ambisinya di Taiwan, sementara Putin mendapatkan peluang untuk mengakhiri konflik di Ukraina tanpa campur tangan signifikan dari Amerika.

Analisis Mardigu Wowiek memberikan perspektif menarik tentang kemenangan Trump di pemilu terbaru. Dukungan komunitas Muslim keturunan Arab dan komunitas keturunan India menjadi penentu kemenangan di negara-negara bagian swing states. Meski menghadapi berbagai skandal dan tantangan hukum, Trump berhasil membuktikan dirinya sebagai “American Hero” yang tidak mudah tumbang.

Kemenangan Trump tidak hanya mempengaruhi peta politik Amerika Serikat tetapi juga membawa dampak besar pada ekonomi global. Dengan kebijakan proteksionisme yang diusungnya, dunia harus bersiap menghadapi perubahan besar di bawah kepemimpinan Trump yang baru.(c@kra)

Bagaimana pendapat Anda tentang analisis ini? Apakah Anda setuju bahwa komunitas Muslim dan keturunan India menjadi penentu kemenangan Trump? Tuliskan komentar Anda di bawah ini dan jangan lupa untuk berbagi artikel ini.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam episode terbaru kanal YouTube-nya, pengamat ekonomi dan keamanan Mardigu Wowiek mengkritik keras kebijakan Kominfo terkait perjudian online. Ia menilai pemerintah seolah membiarkan iklan judi berseliweran di berbagai media sosial hingga memicu kekhawatiran masyarakat. Bagi Mardigu, kasus ini bahkan sebanding dengan skandal besar lain yang pernah melibatkan pejabat tinggi.

Menurut Mardigu, di era digital saat ini, perjudian online semakin mudah diakses, terutama melalui iklan yang tersebar di berbagai platform media sosial. Mulai dari penawaran aplikasi taruhan hingga konten dari influencer yang mempromosikan gambling online. Fenomena ini dianggap mengancam tidak hanya stabilitas ekonomi masyarakat, tetapi juga kesehatan mental. Dengan estimasi sekitar 450 juta orang di seluruh dunia terlibat dalam perjudian online, masalah ini telah menjadi tantangan serius di tingkat global.

Mardigu mengatakan, “Kasino online kini telah menjadi bagian keseharian yang berisiko tinggi. Secara statistik, sekitar 5% dari populasi dunia telah kecanduan judi online, dan sebagian besar dari mereka mengalami gangguan mental akibat perjudian ini.”

Ia menyoroti efek domino pada kesehatan mental sebagai dampak serius dari kecanduan judi, setara dengan kecanduan narkoba yang sukar dihentikan.

Mardigu mempertanyakan peran Kominfo yang tampaknya gagal mengendalikan maraknya iklan judi online. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa pimpinan Kominfo, Budi Arie, perlu ditangani dengan tegas, layaknya proses hukum yang dihadapi oleh mantan pejabat yang terlibat dalam skandal besar seperti Tom Lembong. Bagi Mardigu, keberadaan judi online yang tidak terkendali merupakan bukti dari ketidakseriusan atau bahkan dugaan “permainan” di balik layar yang melibatkan pejabat Kominfo.

“Sejumlah orang di instansi pemerintah terkait seolah memiliki peran besar dalam ‘membiarkan’ perjudian ini tetap beroperasi,” ujar Mardigu.

Menurutnya, penanganan terhadap perjudian online ini menjadi tolok ukur integritas pemerintah, terlebih dalam konteks upaya membasmi mafia dan praktik-praktik ilegal yang merugikan masyarakat luas.

Fenomena perjudian online membawa dampak besar bagi ekonomi dan kesejahteraan sosial masyarakat. Di Indonesia, perjudian online diperkirakan bernilai hingga Rp300 triliun setahun. Selain itu, dengan pengguna smartphone yang luas, akses terhadap judi online sangat mudah. Mardigu menggambarkan, “Smartphone, tablet, laptop, kini telah menjadi ‘pintu’ ke dunia perjudian yang membawa jutaan orang semakin dalam terjerat utang dan kebangkrutan akibat judi.”

Ia juga menyampaikan, di era digital, negara maju dan negara berkembang berada di dua sisi yang berbeda dalam menyikapi judi online. Negara-negara maju seperti AS dan beberapa negara di Eropa telah melegalkan judi online sebagai sumber devisa. Sebaliknya, negara berkembang menghadapi dampak negatif berupa degradasi ekonomi dan moralitas masyarakat. Menurutnya, sikap permisif atau bahkan dukungan negara Tiongkok terhadap perjudian online menambah tekanan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Menurut Mardigu, untuk menangani masalah perjudian ini, diperlukan tindakan tegas dari pemerintah yang mencakup seluruh lini kementerian, terutama Kominfo. Sebagai langkah awal, ia menyarankan Kominfo untuk segera menertibkan seluruh iklan judi online yang beredar luas di internet dan bekerja sama dengan instansi terkait untuk memblokir platform perjudian.

Ia menegaskan, keterlibatan kementerian terkait sangat penting. Selain menertibkan iklan, pemerintah perlu mengadakan sosialisasi serta pendidikan bagi masyarakat terkait bahaya judi online. Pemerintah juga didorong untuk menyediakan layanan bantuan bagi mereka yang mengalami kecanduan judi online guna mengurangi risiko kesehatan mental yang lebih lanjut.

Mardigu mengingatkan bahwa tantangan perjudian online akan terus berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi. Dengan potensi nilai hingga mencapai USD 1 triliun per tahun pada tahun 2027, perjudian online memiliki daya tarik besar yang sulit dihentikan. Ia berharap pemerintahan di era Prabowo dapat menindak tegas masalah ini dan membuat aturan ketat terhadap akses perjudian di internet.

“Bila tidak ada tindakan yang konkret, negara akan kehilangan banyak sumber daya, dan generasi mendatang akan terus terperangkap dalam jebakan perjudian online,” katanya.

Sebagai penutup, Mardigu menyerukan agar masyarakat juga berperan aktif dalam mengawasi peredaran judi online ini.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan yang disampaikan oleh Mardigu Wowiek melalui kanal YouTube-nya pada (05/11) mengungkapkan optimisme Presiden Prabowo terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai 8%. Menurut Mardigu, target ambisius ini hanya dapat tercapai jika APBN Indonesia mencapai angka sekitar Rp8.000 triliun. Di sisi lain, IMF menilai proyeksi tersebut sulit dicapai, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada kisaran 5% hingga 2029.

Pernyataan ini memunculkan diskusi mengenai bagaimana kebutuhan dana besar untuk mendukung pertumbuhan? Bagaimana pengalaman internasional seperti Amerika Serikat, bisa memberikan inspirasi?

APBN Indonesia saat ini dianggarkan sebesar Rp3.600 triliun untuk 2025, jauh di bawah Rp8.000 triliun yang dianggap diperlukan oleh Prabowo. Mardigu mengkritik, anggaran ini hanyalah rencana belanja yang tidak sepenuhnya tersedia dalam bentuk uang tunai. Indonesia pun mengalami kendala dalam ekspansi fiskal, terutama karena jumlah uang kartal yang beredar hanya sekitar Rp954,4 triliun, menurut data Bank Indonesia.

Menurut Mardigu, kesulitan utama Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi adalah keterbatasan uang yang tersedia bagi negara. Keterbatasan dana ini menurutnya menghambat laju pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat. Sebagai negara yang ekonominya ditopang oleh konsumsi, dibutuhkan peningkatan daya beli masyarakat yang saat ini dinilai masih kurang.

Dalam video tersebut, Mardigu menguraikan contoh kebijakan AS saat krisis keuangan 2008. Saat itu, AS mencetak uang dalam jumlah besar (sekitar 2 triliun dolar) untuk menyelamatkan sistem keuangannya. AS menggunakan metode pencetakan uang (quantitative easing) untuk melunasi utang-utang di berbagai sektor tanpa menciptakan inflasi besar di dalam negeri.

Solusinya adalah menggunakan proyek-proyek di luar negeri, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, sebagai “underlaying” atau pendukung cetak dolar.

Mardigu mengindikasikan, negara-negara berkembang sering kali menjadi “penyangga” bagi kebijakan cetak uang AS. Dengan kata lain, negara-negara tersebut menerima dampak inflasi dari suplai dolar yang berlebih, sementara ekonomi AS sendiri tetap stabil. Pandangan ini mengkritisi mengapa negara seperti Indonesia dianggap tidak bisa mencetak uang sebanyak itu tanpa merusak ekonominya.

Jika Indonesia ingin mendanai pertumbuhan besar-besaran, Mardigu menyarankan adanya pendekatan yang mirip dengan quantitative easing. Namun, tantangannya jauh lebih rumit. Indonesia sebagai negara berkembang tidak memiliki mata uang dengan status cadangan devisa internasional seperti dolar AS. Dampak pencetakan uang dalam jumlah besar dapat mengakibatkan inflasi tinggi jika tidak diimbangi dengan produktivitas dan pengendalian harga.

Dalam konteks ini, tantangan besar adalah bagaimana Indonesia bisa menggunakan dana APBN untuk proyek-proyek produktif. Pencetakan uang dapat dipertimbangkan jika dana tersebut digunakan pada sektor-sektor dengan multiplier effect tinggi yang dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lapangan kerja.

Menurut Mardigu, ada beberapa opsi pendanaan selain pencetakan uang yang dapat dilakukan Indonesia, antara lain:

Peningkatan Investasi Asing. Pembukaan akses investasi untuk infrastruktur dan sektor produktif dapat membantu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing Indonesia. Skema investasi di sektor energi terbarukan, teknologi digital, dan manufaktur dapat menarik modal asing yang bersedia mendanai proyek-proyek besar.

Efisiensi Pengelolaan APBN. Pengurangan pemborosan anggaran dan peningkatan efisiensi belanja negara akan sangat berpengaruh. Indonesia dapat mengalihkan anggaran ke sektor-sektor prioritas yang berdampak langsung terhadap ekonomi rakyat.

Mendorong Kredit Domestik Produktif. Penggunaan instrumen keuangan domestik seperti obligasi infrastruktur atau sukuk dapat menjadi sumber pembiayaan bagi proyek-proyek besar. Instrumen ini tidak mencetak uang secara langsung, namun menarik dana yang ada di masyarakat untuk dialihkan pada pembangunan.

Perluasan Pajak dan Pengurangan Insentif Berlebihan. Meningkatkan basis pajak dan mengurangi insentif fiskal yang tidak efisien dapat meningkatkan pendapatan negara. Misalnya, penerapan pajak berbasis karbon atau pajak ekonomi digital bisa menambah pemasukan tanpa harus mencetak uang.

Ambisi Prabowo untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% merupakan target yang menantang. Seperti yang disampaikan oleh Mardigu, peningkatan APBN hingga Rp8.000 triliun adalah ide besar yang perlu dukungan fundamental keuangan yang kuat. Meniru kebijakan cetak uang AS bukanlah solusi langsung bagi Indonesia, mengingat karakteristik ekonomi yang berbeda.

Indonesia perlu fokus pada langkah-langkah terukur untuk meningkatkan pendapatan domestik, mengoptimalkan investasi, dan menciptakan lapangan kerja baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Hal ini dapat dicapai melalui kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inklusif tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kebijakan pencetakan uang yang ekstrem.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Mardigu Wowiek, pengamat ekonomi dan sosial yang dikenal dengan pandangan yang tajam dan kontroversial, dalam kanal YouTube-nya pada Kamis (31/10), membahas dua paradigma besar dalam tata kelola ekonomi: sosialisme elitis dan market-driven economy.

Menurutnya, sosialisme elitis adalah model yang mengandalkan kekuatan pemerintah dalam mengendalikan ekonomi, sementara market force menekankan peran pasar dan swasta dalam menentukan arah ekonomi. Dalam video ini, ia membandingkan pendekatan Amerika yang sangat mengutamakan pasar bebas, dengan perubahan besar yang dilakukan oleh Tiongkok setelah era Mao Zedong yang beralih dari sosialisme elitis ke kapitalisme yang lebih terbuka. Di akhir, Mardigu mengungkapkan harapannya agar Indonesia berani mengambil langkah tegas dalam melawan korupsi dan mempermudah pelaku usaha untuk berkembang.

Sosialisme Elitis vs Market Force, Perdebatan Arah Ekonomi

Mardigu menyoroti konsep sosialisme elitis sebagai bentuk pemerintahan yang memberikan wewenang besar kepada pemerintah dalam mengatur ekonomi, dengan peran kuat dari sektor pemerintah yang mengendalikan jalannya perekonomian. Menurut Mardigu, model ini menitikberatkan pada kontrol pemerintah yang sentral dalam menentukan prioritas, proyek-proyek besar, dan aturan ekonomi lainnya. Ia mencatat bahwa model ini pernah diterapkan di beberapa negara, termasuk Indonesia, yang memiliki sejarah intervensi pemerintah dalam ekonomi.

Sebaliknya, market-driven economy, atau ekonomi yang didorong oleh pasar, memiliki pendekatan yang lebih terbuka, di mana peran pemerintah minimal. Pasar dan swasta yang menentukan arah ekonomi. Mardigu menganggap ini sebagai pendekatan yang lebih mengutamakan efisiensi dan daya saing, dengan peluang lebih besar bagi mereka yang kreatif dan kuat untuk sukses. Dalam hal ini, Amerika Serikat menjadi contoh yang menonjol.

Amerika Serikat dan Filosofi Pasar Bebas, Kisah Keberhasilan atau Kompetisi yang Brutal?

Mardigu menyebutkan bahwa Amerika sejak tahun 1850-an telah mengandalkan market force sebagai penentu kebijakan ekonomi. Konsep pasar bebas, atau free market, mengizinkan kekuatan pasar untuk memutuskan siapa yang akan sukses dan kaya. Mereka yang unggul, menurut Mardigu, adalah mereka yang pintar dan tangguh.

Di sisi lain, ia juga menyoroti sifat keras dari ekonomi pasar bebas Amerika, meskipun memupuk persaingan dan inovasi, juga menciptakan lingkungan yang sulit bagi pelaku usaha kecil. Mardigu menyebut bahwa Amerika tidak pernah memiliki kebijakan proteksi bagi UMKM atau usaha kecil yang kurang berdaya. Dalam pasar bebas ini, hanya mereka yang berdaya saing tinggi yang mampu bertahan dan sukses, sementara mereka yang lemah akan tersisih.

Dari Sosialisme Elitis ke Kapitalisme Akar Rumput

Mardigu kemudian mengalihkan perhatian ke Tiongkok. Pada masa Mao Zedong, China dikenal sebagai negara sosialis elitis dengan kontrol ketat dari pemerintah terhadap ekonomi. Semua proyek besar dicanangkan dari atas, dan kebijakan ekonomi sepenuhnya diatur oleh pemerintah. Sayangnya, hal ini justru menimbulkan kesulitan besar bagi masyarakat, termasuk krisis pangan pada 1960-an hingga 1970-an yang menyebabkan kelaparan berkepanjangan.

Namun, pada era Deng Xiaoping, mulai 1978, kebijakan ekonomi China beralih ke arah yang lebih kapitalistik. China mulai meniru strategi ekonomi Amerika dengan memberikan kebebasan lebih kepada pelaku usaha kecil dan sektor swasta. Kebijakan ini terbukti berhasil, dan China mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Mardigu menjelaskan bahwa pemerintah membiarkan pelaku UMKM berkembang, bahkan membebaskan mereka meniru produk dari negara Barat. Ini, katanya, merupakan langkah pragmatis yang berhasil membuat ekonomi China meledak dalam waktu singkat.

Pelajaran bagi Indonesia, Merampingkan Proyek Pemerintah dan Meningkatkan Kebebasan Ekonomi. Menurut Mardigu, Indonesia harus mengambil pelajaran dari pendekatan kedua negara ini. Ada tiga langkah utama yang ia sebutkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia:

Kurangi Proyek Pemerintah: Membatasi proyek pemerintah hanya untuk sektor-sektor yang krusial.

Permudah Peredaran Uang: Ia mengusulkan kebijakan negative interest, di mana bunga deposito rendah bahkan negatif sehingga mendorong peredaran uang dalam ekonomi.

Bebaskan Pelaku Usaha Kecil dan Menengah, Pemerintah perlu mempermudah izin dan memangkas aturan yang menghambat, terutama di sektor UMKM.

Tindakan Tegas terhadap Korupsi, Harapan untuk Reformasi Ekonomi Di penghujung pembahasan, Mardigu menyampaikan harapan besar kepada pemerintahan Prabowo untuk memberantas korupsi dengan serius. Ia menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas, termasuk hukuman mati bagi koruptor dan penyitaan aset koruptor untuk menumbuhkan kepercayaan asing serta mendukung kemajuan UMKM. Dalam pandangannya, korupsi menjadi hambatan besar bagi investor asing dan pengusaha lokal untuk berkembang, dan penanganan yang tegas akan memberikan kesempatan besar bagi perekonomian Indonesia.

Mardigu Wowiek menawarkan narasi yang tajam dan menginspirasi tentang perubahan arah ekonomi Indonesia menuju kebijakan yang lebih mengandalkan market force, mendukung usaha kecil, dan memberantas korupsi.

Di mata Mardigu, reformasi ini tidak hanya diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga untuk membangun fondasi yang lebih kuat dan adil bagi generasi mendatang.

Tantangan terbesar bagi Indonesia, menurut Mardigu, bukan hanya pada kebijakan ekonomi, tetapi juga pada keberanian untuk melakukan perubahan mendasar dan melawan korupsi di semua lini pemerintahan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Mardigu Wowiek Prasetyo, pengamat strategi dan geopolitik, dalam kanal YouTube-nya pada Rabu (30/10), menyampaikan pandangannya terkait konsep propaganda sebagai alat untuk mengubah pola pikir masyarakat secara besar-besaran, yang ia sebut sebagai “changing mindset.” Ia menyoroti bahwa bentuk perang modern bukan lagi sebatas perang fisik atau “battleground” seperti yang umumnya dibayangkan, melainkan lebih kompleks dengan konsep “battlespace” — sebuah perang ideologi dan informasi yang terjadi di udara, di dunia maya, dan dalam konten yang dibagikan secara luas.

Propaganda sebagai Pengubah Pola Pikir

Menurut Mardigu, propaganda adalah ilmu tertinggi dalam strategi mempengaruhi opini publik. Berbeda dari sekedar agitasi atau provokasi, propaganda bertujuan untuk secara perlahan mengubah pola pikir individu atau kelompok, seringkali tanpa mereka sadari. Dalam konteks Indonesia, Mardigu mencontohkan propaganda bisa saja digunakan untuk mengarahkan masyarakat pada ideologi tertentu. Walaupun ia menyebutkan “khilafah” sebagai contoh hipotetis, esensinya adalah propaganda mampu mengubah persepsi publik secara masif untuk mendukung atau menolak konsep tertentu.

Ia menekankan, propaganda tidak bisa dinilai dari satu informasi saja, karena sering kali ada serangkaian pesan yang saling terkait untuk membentuk pemahaman atau kepercayaan tertentu. Melawan propaganda tersebut, menurut Mardigu, harus dilakukan dengan “counter-propaganda” yang terorganisir, melibatkan pemahaman mendalam atas perubahan dalam ilmu komunikasi massa yang telah berkembang dari penggunaan media cetak hingga media sosial yang kini menguasai medan perang informasi.

Perang Ekonomi dan Kedaulatan Negara

Mardigu melihat, salah satu bentuk “ancaman besar” bagi Indonesia adalah ketidakmampuan menjaga kedaulatan ekonomi, finansial, dan sumber daya alam. Ia menyoroti kasus Freeport sebagai contoh ketidakseimbangan ekonomi yang menyebabkan Indonesia hanya menerima sebagian kecil keuntungan dari tambang Grasberg di Papua, sementara hasil samping berharga seperti emas, platinum, dan uranium diklaim negara lain. Menurutnya, aturan yang mengharuskan kandungan konsentrat nikel hanya 25% adalah bentuk “jebakan” yang membuat Indonesia tidak bisa mengakses mineral berharga lain seperti lithium dan ferro.

Mardigu mengkritik pendekatan ini sebagai bentuk “penjajahan ekonomi modern.” Peraturan kandungan mineral yang rendah untuk ekspor, seperti yang diterapkan pada nikel dan timah, mengakibatkan Indonesia hanya dibayar berdasarkan kandungan mineral utama saja, sementara unsur penting lain seperti torium dan osmium yang terdapat dalam timah tidak dihargai. Ia menyatakan, jika kondisi ini berlanjut tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, Indonesia akan terus merugi dalam eksploitasi sumber daya alamnya.

Keberadaan “Metal Road” sebagai Jalan Kedaulatan

Untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi, Mardigu mengusulkan konsep “metal road” atau jalan mineral sebagai bentuk modern dari jalur perdagangan rempah di masa lalu. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki hampir semua unsur mineral dalam tabel periodik di wilayah Nusantara. Dengan memanfaatkan kekayaan alam tersebut secara mandiri dan menetapkan harga yang wajar, Indonesia dapat mengontrol distribusi dan penjualan mineral tanpa bergantung pada negara lain.

Indonesia, menurut Mardigu, sudah dianugerahi dengan kekayaan alam yang luar biasa, dan kebijakan “metal road” ini adalah salah satu cara mengamankan potensi yang ada. Melalui kebijakan tersebut, Indonesia bisa mengembangkan sektor industri mineral sendiri sehingga keuntungan dari setiap mineral yang diekstraksi bisa dinikmati penuh oleh bangsa ini, bukan oleh negara asing. Ini adalah bentuk “sovereignty” atau kedaulatan yang perlu dimiliki dalam menghadapi era perang informasi dan ekonomi global.

Ancaman “Battlespace” untuk Generasi Mendatang

Mardigu berpendapat, ancaman terhadap kedaulatan ekonomi ini hanya akan terus meningkat di era “battlespace,” di mana perang lebih kepada kontrol atas narasi, pemikiran, dan pemahaman publik. Ia memperingatkan generasi muda, terutama yang nantinya akan memimpin dalam empat hingga lima tahun ke depan, untuk tidak hanya fokus pada kepentingan jangka pendek. Generasi ini, menurutnya, harus memanfaatkan waktu untuk mempelajari geopolitik dan ekonomi agar siap mempertahankan kedaulatan bangsa.

Ia menyoroti pentingnya pemahaman anak muda tentang ilmu komunikasi massa dan propaganda, terutama dalam memahami kapan suatu informasi atau wacana merupakan bagian dari agenda besar pihak lain yang mungkin memiliki niat tertentu untuk melemahkan kedaulatan Indonesia. Pengetahuan ini menjadi kunci dalam mencegah Indonesia menjadi korban dari propaganda internasional yang secara sistematis ingin menguasai sumber daya alam dan mengendalikan pasar serta ekonomi nasional.

Mengantisipasi Ancaman yang Dihadapi Kabinet

Sejalan dengan pandangan Mardigu, terdapat keharusan untuk lebih waspada terhadap “ancaman besar” yang mungkin muncul jika pemerintah gagal mengantisipasi pengaruh propaganda ekonomi dan ideologi asing. Kabinet perlu memperkuat posisi Indonesia dalam perjanjian ekonomi internasional dan menerapkan kebijakan yang melindungi sumber daya alam dari eksploitasi asing.

Dengan mengadopsi strategi yang mengedepankan kepentingan nasional, kabinet dapat mengelola kekayaan alam dan ekonomi untuk kemakmuran rakyat, serta menyiapkan generasi muda agar tidak hanya menjadi konsumen informasi tetapi juga pemegang kendali dalam perang informasi dan ideologi di masa depan. Ancaman di era “battlespace” ini adalah nyata, dan Indonesia perlu melangkah lebih jauh dalam mempertahankan kedaulatan bangsa agar tidak tergantung pada kekuatan asing yang secara sistematis menguasai sektor-sektor vital ekonomi dan informasi.(c@kra)