9 November 2026

Megawati Soekarnoputri

MoneyTalk, Jakarta – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menegaskan pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri membawa pesan kuat rekonsilasi nasional. Perayaan Idul Fitri tahun ini harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk memperkuat persatuan bangsa di tengah tekanan multidimensi, mulai dari polarisasi sosial-politik, pelemahan ekonomi, hingga dampak krisis global yang semakin terasa. Di tengah realitas tersebut, Idul Fitri hadir sebagai ruang sosial yang mampu merajut kembali hubungan kebangsaan yang sempat terfragmentasi serta membangun kembali optimisme nasional.

“Idul Fitri harus kita maknai sebagai momentum rekonsiliasi nasional. Tradisi saling memaafkan menjadi kekuatan sosial yang mampu meredakan polarisasi dan mempererat kembali hubungan antar elemen bangsa,” ujar Bamsoet di Jakarta, Sabtu (21/3/26).

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini mengapresiasi dan mendukung pertemuan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri jelang Idul Fitri. Pertemuan tersebut merupakan sinyal positif bagi rekonsiliasi nasional sekaligus konsolidasi pemerintahan saat ini. Di tengah isu konflik di Timur Tengah serta tekanan ekonomi dan geopolitik global, komunikasi antar tokoh bangsa dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas nasional.

“Pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi pesan kuat bahwa persatuan adalah kunci utama pembangunan. Ini sekaligus mempertegas bahwa stabilitas pemerintahan Prabowo-Gibran semakin solid di tengah isu konflik Timur Tengah serta tekanan ekonomi dan geopolitik dunia,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menilai, pertemuan kedua tokoh bangsa tersebut turut memperkuat stabilitas pemerintahan Prabowo-Gibran di tengah berbagai tantangan global yang tidak ringan. Stabilitas politik menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha, sekaligus memastikan agenda pembangunan nasional dapat berjalan konsisten dan berkelanjutan.

“Pertemuan Presiden Prabowo dengan Ibu Megawati menunjukkan bahwa kepentingan bangsa berada di atas segala perbedaan. Ini menjadi pesan kuat bahwa hanya dengan persatuan, pembangunan nasional dapat berjalan optimal,” tegas Bamsoet.

Dosen Pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan dan Universitas Jayabaya ini memaparkan, Idul Fitri juga memiliki dimensi strategis dalam membangun optimisme nasional. Setelah melalui bulan Ramadhan yang penuh refleksi, masyarakat memasuki fase baru dengan semangat kebersamaan dan harapan. Ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga stabilitas dan arah pembangunan bangsa.

“Optimisme bersama yang lahir dari Idul Fitri harus dijaga dan diarahkan. Ini adalah energi sosial yang jika dikelola dengan baik dapat memperkuat persatuan dan mendorong percepatan pembangunan nasional,” jelas Bamsoet

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini menambahkan, optimisme tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang responsif dan berpihak pada masyarakat. Tantangan seperti kesenjangan ekonomi, potensi polarisasi politik, serta disrupsi digital masih memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.

“Momentum Idul Fitri harus menjadi titik awal untuk memperkuat persatuan bangsa secara nyata. Pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen bangsa perlu menjaga semangat kebersamaan ini agar menjadi kekuatan nyata dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan,” pungkas Bamsoet.

MoneyTalk, Jakarta – Pesan tentang pentingnya persatuan bangsa Indonesia kembali menemukan momentumnya. Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai langkah Sufmi Dasco Ahmad yang mempertemukan Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto di Istana Negara sebagai bukti konkret bahwa elite politik masih menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

Menurut Amir Hamzah, pertemuan dua tokoh sentral bangsa itu bukan sekadar silaturahmi politik biasa, melainkan sebuah langkah strategis yang sarat makna di tengah dinamika global yang tidak menentu. Ia menegaskan bahwa peran Dasco sebagai “arsitek pertemuan” menunjukkan adanya kesadaran geopolitik yang matang dalam membaca situasi nasional dan internasional.

“Ini bukan hanya soal dua tokoh bertemu. Ini adalah simbol bahwa Indonesia membutuhkan konsolidasi nasional di tengah tekanan global. Dan Dasco berhasil memainkan peran sebagai jembatan strategis,” ujar Amir kepada wartawan, Jumat (20/3/2026).

Amir Hamzah menyoroti bahwa langkah Dasco tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai aktor kunci di lingkar kekuasaan. Sebagai politisi yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi lintas spektrum, Dasco dinilai mampu menembus sekat-sekat politik yang selama ini kerap menjadi penghambat rekonsiliasi nasional.

Dalam perspektif intelijen, lanjut Amir, pertemuan tersebut bisa dibaca sebagai bagian dari “operasi stabilisasi politik” yang dilakukan secara halus namun efektif. Tidak ada deklarasi besar, tidak ada panggung berlebihan, tetapi dampaknya signifikan dalam meredam potensi polarisasi.

“Dasco membaca momentum. Ketika dunia sedang tidak stabil—konflik geopolitik, tekanan ekonomi global—Indonesia tidak boleh terpecah. Maka, yang dilakukan adalah menyatukan simbol-simbol kekuatan politik nasional,” jelasnya.

Pertemuan antara Megawati dan Prabowo sendiri memiliki dimensi historis dan politik yang panjang. Keduanya merepresentasikan dua kutub besar dalam lanskap politik Indonesia: nasionalisme ideologis dan nasionalisme strategis.

Megawati, sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan dan Presiden ke-5 RI, selama ini dikenal sebagai penjaga garis ideologi kebangsaan. Sementara Prabowo, sebagai Presiden RI saat ini, memegang kendali eksekusi pemerintahan dan kebijakan strategis negara.

Amir menilai bahwa mempertemukan kedua tokoh ini bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan kepercayaan, komunikasi intensif, dan pemahaman mendalam terhadap dinamika psikologis politik masing-masing pihak.

“Ini bukan hanya soal politik praktis. Ini menyangkut ego, sejarah, dan kepentingan besar. Dan Dasco mampu menjahit itu semua menjadi satu momentum persatuan,” tegasnya.

Lebih jauh, Amir melihat bahwa pertemuan ini berpotensi memberikan efek domino terhadap stabilitas nasional. Di tengah situasi global yang dipenuhi ketidakpastian—mulai dari konflik antarnegara hingga tekanan ekonomi—Indonesia membutuhkan soliditas internal yang kuat.

Dengan adanya sinyal persatuan dari elite politik, masyarakat diharapkan ikut meredam tensi polarisasi yang selama ini kerap muncul, terutama pasca kontestasi politik.

“Pesan yang ingin disampaikan jelas: elite saja bisa duduk bersama, apalagi rakyat. Ini adalah sinyal kuat bahwa konflik politik tidak boleh berlarut-larut,” kata Amir.

Amir juga menyebut Dasco sebagai “silent operator” dalam politik nasional—figur yang tidak selalu tampil di depan, tetapi memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah komunikasi politik.

Peran seperti ini, menurutnya, sangat penting dalam sistem demokrasi modern, di mana komunikasi informal seringkali lebih efektif dibandingkan pendekatan formal yang kaku.

“Indonesia butuh lebih banyak figur seperti Dasco—yang bekerja di balik layar, membangun jembatan, bukan memperlebar jurang,” ujarnya.

Pertemuan Megawati dan Prabowo di Istana Negara juga dinilai sebagai langkah awal dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Dari konflik geopolitik hingga ancaman krisis ekonomi, semua membutuhkan respons nasional yang solid dan terkoordinasi.

Amir menegaskan bahwa tanpa persatuan di tingkat elite, kebijakan strategis negara akan sulit dijalankan secara efektif.

“Persatuan bukan sekadar slogan. Ini adalah kebutuhan strategis. Dan apa yang dilakukan Dasco adalah bukti bahwa masih ada kesadaran itu di kalangan elite,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut adanya “orang besar” di balik isu dugaan ijazah palsu kembali menuai polemik. Sejumlah pihak menilai pernyataan tersebut justru memperluas konflik politik dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum baru.

Pengamat politik dan kebangsaan M Rizal Fadillah menilai, pernyataan Jokowi telah memicu kemarahan sejumlah elite politik nasional. Menurutnya, tudingan tersebut oleh sebagian kalangan diarahkan kepada tokoh-tokoh besar seperti Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

“Akibat pernyataan itu, muncul respons keras dari Partai Demokrat dan PDI Perjuangan. Bahkan, langkah hukum berupa somasi sudah ditempuh,” kata Rizal dalam keterangan tertulis yang diterima di Bandung, Sabtu (3/1/2026).

Rizal menyebut, pernyataan Jokowi berpotensi menjadi bumerang karena dapat ditafsirkan sebagai tuduhan tanpa dasar hukum yang jelas. Ia menilai, pihak-pihak yang selama ini dipersoalkan dalam isu ijazah justru memiliki peluang untuk menempuh jalur hukum dengan tuduhan pencemaran nama baik atau fitnah.

“Alih-alih meredam polemik, pernyataan tersebut justru memperluas medan konflik. Jokowi kini bukan hanya berhadapan dengan para pelapor dan pengkritik, tetapi juga dengan kekuatan politik besar,” ujarnya.

Ia juga menyinggung isu berkembangnya spekulasi yang mengaitkan berbagai partai politik, mulai dari Demokrat, PDIP, hingga Partai Gerindra, dalam pusaran konflik politik yang sama. Namun demikian, hingga saat ini, belum ada bukti hukum yang secara resmi menguatkan tudingan adanya keterlibatan pihak-pihak tersebut.

Sementara itu, sejumlah tokoh politik yang namanya disebut dalam berbagai spekulasi telah membantah keras keterlibatan mereka. Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), misalnya, sebelumnya menegaskan bahwa tuduhan yang mengaitkan partainya dengan isu tersebut adalah tidak benar dan menyesatkan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi terbaru dari Jokowi terkait penjelasan lebih lanjut mengenai siapa yang dimaksud dengan “orang besar” di balik isu ijazah tersebut. Sejumlah kalangan pun mendesak agar klarifikasi disampaikan secara terbuka untuk mencegah berkembangnya spekulasi liar di ruang publik.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menilai dinamika di tubuh aparat penegak hukum saat ini tidak bisa dilepaskan dari tarik-menarik kepentingan politik antara tiga poros besar: Presiden Prabowo Subianto, Presiden sebelumnya Joko Widodo (Jokowi), dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Menurutnya, ada fenomena menarik terkait para pejabat tinggi hukum yang masih bertahan di posisi strategis, padahal secara logika politik seharusnya sudah diganti.

“Saya punya teori lama, kalau seseorang seharusnya sudah rontok tapi bisa bertahan sampai sekarang, saya mulai meragukan afiliasi politiknya,” ujar Hendrajit kepada wartawan, Kamis (30/10/2025).

“Misalnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Banyak yang mengira ia bertahan karena orangnya Jokowi. Tapi kalau kita lihat kondisi Jokowi sekarang yang mulai melemah dan dirundung kontroversi, semestinya Presiden mudah saja menggantinya.”

Hendrajit menduga bertahannya Listyo justru menunjukkan bahwa posisinya bukan semata hasil pengaruh Jokowi, melainkan bagian dari irisan politik antara Prabowo dan Megawati. “Listyo sejatinya dekat dengan Mega, sehingga logis bila ia tetap bertahan. Dalam konteks keseimbangan politik, ia bisa dianggap sebagai figur penengah antara dua poros besar itu,” jelasnya.

Hal serupa, lanjut Hendrajit, juga terjadi pada posisi Jaksa Agung. “Beliau adalah adik dari Tubagus Hasanudin yang punya kedekatan kuat dengan Mega dan PDIP. Kalaupun posisinya hasil irisan antara Mega dan Jokowi, saya melihat bobotnya lebih berat ke Mega ketimbang ke Jokowi.”

Terkait langkah berani Jaksa Agung dalam pengembalian uang negara sebesar Rp13 triliun di depan Presiden dan Menteri Keuangan, Hendrajit menyebutnya sebagai langkah yang tidak bisa diremehkan.

“Meski baru sepertiganya dari total kerugian, gebrakan itu menjadi shock therapy di tengah kelelahan publik melihat lemahnya penegakan hukum,” katanya.

Sementara itu, untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Hendrajit menilai lembaga antirasuah tersebut kini memainkan peran yang berbeda di bawah pemerintahan Prabowo.

“Saya nggak terlalu banyak komentar soal siapa ketuanya, tapi yang menarik justru fungsi KPK di era sekarang,” ujarnya. “KPK seolah menjadi ban serep ketika langkah Kejaksaan Agung mentok, entah karena faktor politis atau sensitivitas terhadap seseorang. Di situ KPK maju ke depan sebagai ujung tombak.”

Hendrajit mencontohkan kasus Hasto Kristiyanto dan Noel yang dianggap menunjukkan keunikan fungsi KPK saat ini.

“Hasto dekat dengan Mega, sedangkan Noel bisa dibilang masih berada di jalur Prabowo. Jadi menarik, karena KPK di era sekarang tidak lagi hanya alat penegakan hukum, tetapi juga instrumen penyeimbang politik,” tuturnya.

Ia menutup analisanya dengan menyebut bahwa keseimbangan politik di era Prabowo justru tercermin dari bagaimana aparat hukum bergerak. “Setiap langkah hukum kini punya konteks politiknya. Dan di situlah seni pemerintahan Prabowo mengelola irisan-irisan itu tanpa menciptakan benturan frontal,” pungkas Hendrajit.

Pengamat politik Muslim Arbi menyoroti sikap Ketua DPR RI, Puan Maharani, yang dinilai diam dan tidak merespons surat usulan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menduga, sikap bungkam Puan bukan tanpa sebab. Menurutnya, putri Megawati Soekarnoputri itu tengah menghadapi tekanan politik yang tidak ringan, terutama karena keterlibatan suaminya, Happy Hapsoro, dalam kasus mega proyek BTS Kominfo.

“Diamnya Puan dalam merespons surat pemakzulan Gibran menunjukkan bahwa dia sedang dalam posisi politik yang lemah. Dia bisa jadi tersandera kasus suaminya yang terseret dalam pusaran korupsi BTS Kominfo,” ujar Muslim Arbi kepada Redaksi MoneyTalk   Selasa (8/7/2025).

Muslim menyebutkan bahwa kasus korupsi BTS bukan sekadar skandal keuangan biasa, melainkan telah menjadi alat tawar-menawar politik yang sangat efektif. Menurutnya, kasus tersebut membuka celah bagi penguasa untuk mengendalikan sejumlah elite politik, termasuk dari kalangan PDI Perjuangan.

“Kalau Puan bergerak, misalnya ikut mendorong pemakzulan Gibran, maka sangat mungkin ‘dosa-dosa’ keluarganya ikut dibongkar. Ini bukan rahasia lagi. Kasus BTS bisa dijadikan alat tekanan untuk menutup mulut politisi-politisi tertentu,” tambah Muslim.

Sebelumnya, sejumlah purnawirawan TNI mengajukan surat kepada DPR RI untuk memulai proses pemakzulan terhadap Wakil Presiden Gibran. Surat tersebut didasari oleh dugaan pelanggaran konstitusi dalam proses pencalonan Gibran pada Pilpres 2024, khususnya terkait putusan Mahkamah Konstitusi yang dinilai sarat konflik kepentingan karena melibatkan pamannya, Anwar Usman, sebagai Ketua MK kala itu.

Namun, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pimpinan DPR, khususnya dari Puan Maharani sebagai Ketua DPR. Ketika ditanya wartawan, sejumlah anggota Fraksi PDIP bahkan terkesan menghindar dari topik tersebut, dan menyebut bahwa DPR akan menelaah secara prosedural.

“Prosedural itu betul, tetapi diam terlalu lama dalam kasus ini justru membuat publik bertanya-tanya: apakah DPR sudah tidak punya keberanian politik?” kritik Muslim.

Puan Maharani berada dalam posisi dilematis. Sebagai ketua DPR sekaligus tokoh kunci PDIP, ia harus menghadapi tekanan dari dua kutub kekuasaan: Prabowo-Gibran sebagai pemegang kuasa eksekutif yang baru, dan Megawati Soekarnoputri sebagai simbol ideologis partai.

“Kalau Puan bersuara keras terhadap Gibran, bisa jadi itu dianggap PDIP mendeklarasikan perang terbuka dengan Jokowi dan Gibran. Tapi kalau dia diam, justru terkesan DPR tidak menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas dan pengimbang kekuasaan,” jelas Muslim.

Menurutnya, publik menanti apakah DPR berani menegakkan konstitusi atau justru memilih kompromi politik yang membungkam suara kebenaran.

Muslim Arbi juga melihat kemungkinan bahwa Puan Maharani dan PDIP saat ini memang memilih untuk diam, namun menyimpan akumulasi politik yang bisa digunakan di momen-momen strategis, seperti Pemilu 2029.

“Bisa jadi ini adalah strategi diam untuk menyimpan amunisi. Tapi strategi ini punya risiko. Jika publik melihat DPR tidak tegas, maka kepercayaan publik akan terus menurun,” pungkasnya.

Surat pemakzulan terhadap seorang wakil presiden bukan perkara ringan. Tetapi dalam konteks Gibran Rakabuming, pemakzulan menjadi simbol perlawanan terhadap dugaan manipulasi konstitusi. Jika lembaga seperti DPR bungkam dan enggan menjalankan fungsi check and balance, maka kekuasaan akan bergerak tanpa rem.

Puan Maharani kini menjadi figur kunci. Keputusan dan sikap politiknya akan membentuk persepsi publik terhadap integritas DPR dan PDIP. Namun, selama bayang-bayang kasus hukum yang melibatkan keluarga dekatnya masih menggantung di udara, kecil kemungkinan Puan akan mengambil langkah konfrontatif terhadap kekuasaan.

Dan jika dugaan Muslim Arbi benar, maka kasus BTS tak hanya mencederai keuangan negara, tapi juga memperlihatkan bagaimana korupsi bisa menjadi instrumen politik yang membungkam suara kebenaran dan melemahkan demokrasi.

MoneyTalk,Jakarta – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo terekam mencium tangan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, saat berkunjung ke kediaman keluarga mendiang Jenderal Hoegeng Iman Santoso pada Senin (23/6/2025). Gestur itu memicu beragam tafsir politik di tengah dinamisnya peta kekuasaan nasional.

Kordinator Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman menilai, tindakan Kapolri bukan sekadar bentuk penghormatan pribadi. Menurutnya, cium tangan tersebut bisa dimaknai sebagai manuver politik atau bahkan sinyal pergeseran dukungan.

“Kalau cium tangan itu dianggap sebagai rasa hormat kepada Ketua Umum PDIP, maka bisa juga ditafsirkan sebagai ucapan halus: ‘Selamat tinggal Jokowi’,” ujar Jajang kepada awak media, Rabu (2/7/2025).

Jajang menyoroti inkonsistensi kebijakan Kapolri yang sebelumnya melarang tilang manual, namun tetap terjadi di lapangan. Hal itu ia sebut sebagai “gimik” semata. Menurutnya, publik sudah cukup akrab dengan simbol-simbol semacam itu dari institusi kepolisian.

“Kapolri dulu melarang tilang manual, tapi praktiknya tetap jalan. Ini memperkuat persepsi publik bahwa banyak kebijakan Polri hanya sebatas tontonan,” tegasnya.

Lebih jauh, Jajang menyoroti relasi politik antara Megawati dan institusi Polri yang dulunya tidak akrab. Di masa lalu, kata dia, seorang Kapolri tak akan berani terlalu dekat dengan Megawati. Namun kini, situasinya berbalik.

“Publik tahu, Megawati pernah vokal mengkritik Polri di bawah kepemimpinan Listyo. Tapi kini, peta politik berubah. Cium tangan itu sinyal kuat bahwa Kapolri mulai menjauh dari lingkar Jokowi dan mulai merapat ke kekuatan politik lain,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Perjuangan melawan tindakan-tindakan inkonstitusional yang dilakukan oleh Jokowi, tidak bisa direduksi hanya pada persoalan pertentangan kontroversial lama antara Jokowi dan Bu Mega.

Persoalan Jokowi dan Bu Mega adalah persoalan internal partainya, namun persoalan Jokowi yang melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional, serta mengencingi hasil pencapain pergerakan Reformasi ’98, harus diadili oleh kekuatan revolusioner rakyat itu sendiri.

Kemudian apabila rakyat itu diam-diam saja, tidak memberi reaksi pada Jokowi atau bahkan malah sebagian turut mendukungnya, itu artinya mereka rakyat yang masih harus dicerahkan, bahwa kepastian hukum dan keadilan lebih utama daripada yang lainnya.(SHE)

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer, Jurnalis dan Aktivis ’98, 28 November 2024.

MoneyTalk, Jakarta – Kehadiran Megawati Sukarnoputri, sebagai Ketua Umum PDIP dan tokoh sentral dalam politik Indonesia, berkuasa selama 10 tahun belakangan, selama ini menjadi simbol kekuatan partai tersebut. Namun, ada yang berbeda, belakangan ini, ada fenomena yang menarik perhatian: Megawati kok jarang muncul dalam kampanye Pilkada yang menampilkan calon kepala daerah dari PDIP? Ketidakhadirannya ini menimbulkan pertanyaan besar bagi sebagian orang, apakah ini sebuah keputusan strategis atau justru merupakan tanda awal dari pergeseran dalam dinamika politik PDIP di kancah politik nasional.

Megawati dan Beban Elektoral?

Dalam konteks kontestasi Pilkada 2024, ketidakhadiran Megawati dalam kampanye bisa dipahami sebagai langkah cermat dari PDIP. Seiring berjalannya waktu, Megawati tidak hanya dikenal sebagai putri Bung Karno, tetapi juga sebagai figur yang memiliki hubungan yang rumit atau bisa dikatakan perseteruan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang sebelumnya merupakan kader PDIP yang sukses dan kini memiliki kekuasaan yang besar namun kini seolah-olah muncul menjadi musuh politik terbesar. Perseteruan yang terjadi antara keduanya, meski tidak terlalu terbuka, tentu dapat berpotensi menciptakan beban elektoral bagi calon kepala daerah yang didukung oleh PDIP.

Sebagai figur yang sangat terkait dengan PDIP, Megawati secara tidak langsung bisa memicu perasaan negatif pada sebagian pemilih, terutama para pendukung Jokowi.

Hadirnya Jokowi yang pernah menjadi kader PDIP memberikan dukungan kepada beberapa kepala daerah mungkin membuat keterlibatan Megawati dalam kampanye tampak kontradiktif, seolah mengingatkan masyarakat akan friksi antara keduanya. Maka dari itu, tidak menampilkan Megawati dalam kampanye adalah sebuah pilihan strategi yang dapat “meringankan” beban elektoral bagi calon-calon yang diusung oleh PDIP.

Generasi Baru Klan Sukarno Pro Prabowo

Senin, 25 November 2024, sesosok laki-laki besar berjalan di dalam istana Kepresidenan, dia adalah Didi Mahardika, cucu dari Sukarno Proklamator dan Presiden pertama Indonesia , sosok yang belum banyak dikenal oleh publik.

Didi Mahardika adalah anak dari Alm Rachmawati Sukarnoputri putri ketiga dari Sukarno. Publik dikejutkan dengan kehadiran Didi ke Istana, publik belum begitu mengenal dan tahu betul sosok Didi Mahardika sebagai cucu Sukarno.

Publik lebih mengenal Puan Maharani, Prananda atau Pratama yaitu putra putri dari Megawati Sukarnoputri yang sudah terjun ke kancah politik Indonesia melalui PDIP.

Munculnya figur anak dari Rachmawati Sukarnoputri, keponakan langsung dari Megawati, yang baru-baru ini diundang oleh Prabowo Subianto ke Istana menjadi pertanyaan politis di berbagai kalangan.

Prabowo, yang memiliki hubungan politis yang dekat dengan keluarga Sukarno, tampaknya mulai mendorong figur-figur yang lebih muda dari keluarga Sukarno, terutama yang memiliki potensi untuk menarik suara pemilih yang lebih luas di kalangan anak muda.

Didi Mahardika yang sebelumnya pernah berkiprah pokitik di Nasdem kini sudah menjadi salah satu pengurus DPP Gerindra adalah salah satu klan Sukarno yang mulai muncul.

Mungkin ini adalah strategi politik Prabowo untuk membangun citra baru yang lebih inklusif dan progresif, memperkuat garis nasionalisme dalam jalan politiknya.

Mengundang Didi Mahardika putra dari Rachmawati ke Istana bisa dilihat sebagai upaya untuk menarik perhatian bagi para lapisan baru anak muda simpatisan keluarga Sukarno yang mulai tumbuh di Indonesia.

Persimpangan Sejarah bagi Moncong Putih?

Jika dilihat dari berbagai dinamika yang ada, kekalahan dalam pilpres yang lalu, perseteruan dengan mantan Presiden Jokowi, ketidakhadiran Megawati dalam kampanye Pilkada 2024 terlihat ada dinamika tersembunyi di dalam PDIP apakah ini menjadi sinyal dari pudarnya sinar dan kepemimpinan PDIP di politik tanah air setelah 10 tahun gagah perkasa berkuasa?

Meskipun demikian partai ini masih partai yang besar, juara di pileg dan mempunyai kursi terbanyak di DPR kesejarahan yang panjang dan memiliki jaringan politik yang luas pasti akan melakukan segala daya upaya agar tetap diperhitungkan di kancah politik nasional.

Penulis: Khalid Zabidi, Aktivis Pro Demokrasi

MoneyTalk, Jakarta – Tiari Pesta Demokrasi, pemilihan kepala daerah 2024, sudah hampir terbuka lebar. Tinggal menghitung dua pulah empat jam kali dua, rakyat di berbagai penjuru akan menentukan pilihannya. Siapakah yang bakal memimpin mereka ke depan?

Di Tengah pergolakan politik yang mungkin menguras energi lahir dan batin para aktor, terselip catatan mengharu biru tentang drama politik yang menaungi Pilkada 2024. Berikut catatan dari Cak AT, yang mungkin bisa menemani jam ngopi para pembaca:

Pagi itu, 26 Agustus 2024, udara Jakarta cerah namun gerah. Tepat pukul 11.45, Anies Baswedan tiba di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Menteng, penuh percaya diri dalam balutan batik merah. Ia sudah mendengar kabar baik dari kunjungannya dua hari sebelumnya ke kantor DPD PDIP Jakarta di Cakung.

“Ini akan mulus,” pikirnya. Lagi pula, semua tanda tampak mendukung. Mahkamah Konstitusi telah mengubah ketentuan syarat pencalonan gubernur yang 20% dari total suara sah, menjadi 7,5%. Dengan raihan suara PDIP sebesar 14% atau 15 kursi di DPRD Jakarta, harapan Anies pun membumbung. Ia merasa mendapat isyarat kuat bahwa partai ini akan mengusungnya di Pilkada Jakarta.

Namun, siapa yang tahu bahwa lembaran cerita akan berubah menjadi kenangan tragis? Nasib tidak berpihak pada Anies. Pada Senin siang, 26 Agustus, hanya sehari menjelang masa pendaftaran calon Pilkada, harapannya kandas oleh ucapan Megawati, “Mau enggak, nurut.”

Alkisah, dengan langkah yakin, hari itu Anies masuk ke Gedung B di belakang kantor utama PDIP Menteng, langsung menuju lantai 3. Di sana, dia disambut sahabat lamanya, Rano Karno, mantan Gubernur Banten. Obrolan mereka berlangsung lama —dua hingga tiga jam, berdiskusi politik hingga nostalgia Si Doel.

Sementara itu, di ruang lain, rapat penting sedang berlangsung. Mega, Ketua Umum PDIP, tengah berdiskusi serius dengan para petinggi partai, termasuk di antaranya Pramono Anung, Harto Kristiyanto, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan banyak lainnya. Situasi memanas, berbagai argumen dipaparkan.

Anies yang menunggu di luar ruang rapat masih ditemani Rano Karno. Ia mengepit buku catatan seperti mahasiswa yang siap sidang skripsi. Kemudian seorang petugas mendekati Anies, meminta dia bersiap. Anies mungkin membayangkan momen epik itu: pintu terbuka, Mega menyebut namanya sebagai calon gubernur, dan ruangan bergemuruh dengan tepuk tangan.

Namun, kenyataan berbicara lain. Petugas itu kembali dengan wajah sendu, mengabarkan bahwa pertemuan dengan Mega dibatalkan. Tak lama kemudian, dari corong terdengar nama-nama calon PDIP untuk Pilkada diumumkan di aula, tapi tidak ada nama Anies disebut. Anies pun keluar melalui pintu belakang, membawa hati yang lebih berat dari buku catatannya. Harapannya pupus, bersama asa pendukung setianya yang dikenal sebagai Anak-anak Abah.

Apa yang sebenarnya terjadi? Laporan Pramono Anung dari Istana diduga menjadi salah satu biang kerok. Jokowi, melalui Pratikno, dan disampaikan Pramono, mengingatkan bahwa pencalonan Anies berpotensi mengancam posisi Puan Maharani sebagai Ketua DPR. Ahok menambahkan argumen bahwa jika Anies maju, bagaimana cara mengajak Ahoker mendukungnya? Dua keberatan ini cukup untuk membuat Mega mengubah keputusan.

Keraguan Mega sebenarnya sudah muncul sebelumnya. Ia menyatakan tidak suka melihat spanduk usulan pencalonan Anies yang dibentangkan di depan kantor PDIP oleh pendukung berbaju hitam. Niat baik itu malah dianggap tidak sopan. Dengan nada tajam, Mega disebut meminta Anies menjadi kader terlebih dahulu jika ingin diusung, seraya berkata, apakah Anies mau nurut?

“Eh enak aja ya, ngapain gua suruh dukung Pak Anies. Dia bener nih kalau mau sama PDIP? Kalau mau sama PDIP jangan gitu dong. Mau enggak, nurut?” ujar Mega di DPP PDIP, Jakarta, Kamis (22/8/2024).

Dia menilai, tak semudah itu memperoleh dukungan dari PDIP. Ia mempertanyakan ke mana saja Anies selama ini, baru muncul ketika butuh dukungan.

“Enak amat, ya. Sekarang kita dicari dukungannya, lalu kamu ke mana kemarin sore. Mbok jangan gitu dong,” ucapnya.

Di belakang layar, berlangsung pula permainan catur politik tingkat tinggi. Jokowi disebut menekan Golkar, bahkan hingga perlu mengganti Ketua Umumnya menjadi Bahlil Lahadalia demi mudahnya mengusung Ridwan Kamil maju di Pilkada Jakarta. Di sisi lain, Prabowo fokus mengamankan Jawa Barat dengan mencalonkan Dedi Mulyadi. Semua ini membuat peluang Anies kian menipis.

Anies menjadi pusat gangguan. Akhirnya, tercapailah kesepakatan: Golkar menarik Ridwan Kamil dari Pilkada Jawa Barat dan memberinya mandat menjadi calon gubernur Jakarta. Sebagai gantinya, Gerindra mengusung Dedi Mulyadi di Jawa Barat. Kedua calon ini didukung oleh Koalisi Indonesia Maju Plus (KIM Plus), gabungan 12-13 partai. Di Jakarta, kekuatan mereka 91 kursi DPRD, 85% dari total kursi.

Sempat muncul wacana kuat agar Kaesang yang sudah menjadi Ketua Umum PSI diusung jadi calon Gubernur Jakarta. Kaesang diharapkan menjadi penerus cita-cita Jokowi yang belum kesampaian. Segala cara ditempuh, termasuk melalui MK untuk mengubah persyaratan terkait usia calon gubernur. Namun, perlawanan dari publik begitu keras, dan MK membuat keputusan yang menutup peluang Kaesang karena usia.

PKS yang sebenarnya bisa mengusung Anies berkat aturan baru dari MK, memilih tetap setia pada koalisi dengan alasan demi menjaga etika perjanjian. Namun, sebetulnya ada rasa kecewa pula.

“Anies kurang perhatian pada kami saat menjadi gubernur,” keluh mereka, seperti pasangan yang merasa diabaikan.

Dalam percaturan politik ini, Jokowi dan Prabowo tampaknya memiliki kepentingan berbeda, tetapi bersinergi demi memenangkan Pilpres 2029, khususnya di daerah strategis seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Jika tidak bubar, KIM Plus tampaknya akan menjadi kekuatan yang mengkhawatirkan.

Namun, yang perlu kita garis-bawahi adalah ungkapan Megawati tentang Anies, “Mau enggak, dia nurut?” yang mencerminkan dinamika psikologi, khususnya dalam hal kepatuhan dan loyalitas politik. Kepatuhan politik mengacu pada sejauh mana seorang individu atau aktor politik mengikuti arahan dan kebijakan yang ditetapkan oleh otoritas atau pemimpin partai.

Megawati sadar, belum lama ini ia dikecewakan oleh Jokowi, kader luar, yang saat menjadi presiden pun disebutnya sebagai “petugas partai” dengan harapan loyal dan tunduk pada arahan partai. Kekecewaan Megawati terhadap Jokowi yang dianggap tak patuh meneguhkan keraguan hatinya pada Anies, mantan gubernur Jakarta yang tak mudah dikendalikan.

Istilah “nurut” menuntut ketundukan total. Inilah loyalitas politik, yang lebih dalam dari sekadar kepatuhan. Ia mencakup rasa kesetiaan ideologis dan emosional terhadap partai atau pemimpin. Dalam kasus Anies, Megawati tampaknya meragukan komitmen ideologis dan loyalitas politiknya kepada PDIP, meskipun ada peluang strategis untuk mengusungnya.

Ini menunjukkan bahwa loyalitas dalam politik tidak hanya diukur dari kesetiaan formal, tetapi juga dari kepercayaan bahwa seseorang akan mendukung visi, nilai, dan strategi yang disepakati. Ungkapan “Mau enggak dia nurut” ini sekaligus menggambarkan dinamika psikologis dalam hubungan antara pemimpin partai dan aktor politik yang dianggap sebagai “outsider” atau bukan bagian inti dari struktur partai.

Drama ini menjadi pelajaran berharga: politik adalah seni kompromi, strategi, dan sedikit, ehm, pengkhianatan. Anies mungkin telah belajar bahwa di dunia ini, harapan bisa pupus lebih cepat dari lampu panggung yang dipadamkan. Apakah ini akhir kisahnya? Tentu tidak, ini baru babak pertama dari sandiwara politik Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Cak AT – Ahmadie Thaha, Ma’had Tadabbur al-Qur’an, pada 24/11/2024.

MoneyTalk, Jakarta – Dukungan Habib Rizieq Shihab, Imam Besar umat Islam Indonesia, khususnya dengan jutaan pengikut di Jakarta kepada Ridwan Kamil (RK), khususnya diberikan melalui FPI Jakarta dan juga dukungan mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, yang juga mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia, begitu menggemparkan secara politik. Sebab, kedua tokoh ini adalah sosok yang mengalami getirnya perjuangan menghadapi rezim Jokowi selama ini. Lalu mengapa keduanya mendukung RK yang juga didukung Jokowi? Bukan seperti Anies Baswedan mendukung Pramono Anung?

Pertanyaan seperti ini muncul dalam berbagai debat WA Group. Apakah kaum oposisi di Jakarta mendukung RK yang jelas-jelas didukung Jokowi ataukah Pramono Anung yang didukung Megawati Soekarnoputri?

Saya belum bertanya langsung kepada kedua tokoh tersebut, meskipun sesungguhnya kami sangat dekat. Belum. Sempat berjumpa. Imam Besar Habib Rizieq melalu Bin Talib memberikan saya salam hangat dari Mekkah beberapa waktu lalu. (Ketika foto mereka saya unggah ke IG, langsung di delete IG).

Sambil menunggu alasan analitis mengapa IB HRS dan prof Din Syamsuddin, mendukung RK, kita bisa menganalisa baik buruknya kedua tokoh cagub DKI Jakarta saat ini, yakni RK versus Pram. Hal ini dibutuhkan untuk mengimbangi liarnya opini akibat adanya himbauan Anies Baswedan agar “anak abah” mendukung Pramono Anung. Sebab, pengertian anak abah ini bisa mengklaim semua pendukung Anies di pilpres jika tidak diluruskan.

Anies tentu punya pertimbangan politik sendiri untuk mendukung Pramono Anung. Kita paham kegetiran yang menimpa Anies Baswedan akibat gagal menjadi calon gubernur DKI, yang disingkirkan rezim Jokowi dan gagal masuk keputaran kedua pilpres, yang diperkirakan sebagai akibat pemilu barbar. Mungkin sikap Anies ini untuk menunjukkan sikap berseberangan dengan penguasa tersebut. Namun, sejarah perjuangan kebangsaan kita tidak selalu harus bertumpu pada keputusan perorangan. Untuk itulah sikap dua tokoh nasional, Imam Besar Habib Rizieq Shihab dan Prof Din Syamsuddin di atas menjadi pertimbangan lainnya untuk bersikap.

Ada setidaknya 5 alasan penting bagi kita untuk menjatuhkan dukungan kepada RK ataupun Pramono Anung. Pertama, dosa politik.

Dosa politik adalah kejahatan elit politik terhadap demokrasi dan HAM. Dari sisi ini, selama ini RK tidak pernah menjadi tokoh nasional yang bertanggung jawab atas berbagai kebiadaban politik orde Jokowi. RK saat itu hanyalah tokoh lokal Jawa Barat.

Pada saat sepuluh tahun Jokowi berkuasa, berbagai indeks demokrasi turun, pelanggaran HAM dan khususnya kekerasan terhadap lawan politik terjadi secara massif. Saya yang pernah dipenjara Orde Baru dan di pecat dari ITB merasakan kejahatan orde Jokowi lebih buruk dari orde baru. Sehingga rezim Jokowi adalah rezim kejahatan.

Dalam rezim kejahatan ini, sebagai rezim, tentunya yang bertanggung jawab adalah presiden dan orang-orang terdekatnya. Bukan Jokowi sendiri. Merekalah yang merancang berbagai kebijakan yang memberangus demokrasi dan menindas HAM.

Penangkapan IB HRS, ulama, termasuk Prof Din Syamsuddin hampir ditangkap tahun 2020, penangkapan aktifis KAMI, penangkapan ratusan orang pendukung Prabowo 2014- 2019, seperti Rachmawati Soekarnoputri, Mayjen (purn) Kivlan Zen, Laksamana (purn) Sony, Mayjen purn Soenarko, aktifis senior Eggi Sudjana, Lieus Sungkarisma, Hatta Taliwang, Eko Santjojo , Ahmad Dhani, Alfian Tanjung, Buni Yani, dll, Harris Azhar dan Fatia, persekusi kepada Rocky Gerung, dlsb., pemberhentian Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI dipercepat, dlsb. dan juga pembantaian laskar FPI di tol KM50, dll. adalah bukti kejahatan itu.

Dalam struktur hirarki, elite yang memutuskan kejahatan seperti ini tentunya tidak melibatkan orang seperti Ridwan Kamil.

Apakah Pramono Anung terlibat dalam kejahatan politik tersebut? Secara teoritis ya, karena Pramono adalah tangan kanan Jokowi yang sehari hari di istana negara. Selain itu, Pramono Anung juga merupakan tokoh partai yang agresif membantai lawan politiknya. Sebagai catatan penting, misalnya, partai PDIP telah memperkusi Rocky Gerung pada kasus “bajingan tolol”. Pada saat itu, ketika petinggi PDIP melaporkan Rocky ke polisi, tidak ada pihak lainnya yang menunjukkan kebencian pada Rocky atas kasus tersebut. Bahkan, rumah Rocky diserang secara membabi buta. Ini membuktikan bahwa PDIP adalah benteng pertahanan utama Jokowi selama berkuasa.

“Keterlibatan” Pramono yang juga sangat penting adalah “diamnya” dia ketika tokoh-tokoh demokrasi yang merupakan teman2 aktifisnya di masa lalu ditangkap untuk kesalahan politik yang tidak jelas. Ketika saya di penjara, 2020, bukannya Pramono Anung, teman saya aktifis ketika mahasiswa, yang memberikan perhatian, malah Professor Sufmi Dasco Ahmad yang mengirim Iwan Sumule dkk. ke Bareskrim berusaha membebaskan.

Meskipun kadar keterlibatan Pramono kita tidak tahu dalam konteks arsitektur kekuasaan Jokowi yang melanggar HAM itu, namun secara relatif, kita bisa meyakini bahwa RK tidak mempunyai noda dan darah dalam jiwa dan tangannya. Disitulah RK memiliki moralitas politik yang besar untuk membangun Jakarta. Sebab, urusan Jakarta dengan masyarakat majemuk dan ketegangan politik, perlu dipimpin orang bermoral.

Alasan kedua, keIslaman. Keislaman Ridwan Kamil dan Pramono Anung secara personal mungkin bukan bahan kajian saya. Saya bukan insan agamis. Yang saya mau katakan di sini adalah keberpihakan.

Keberpihakan RK terhadap Islam sudah bersifat turun temurun. Bapaknya RK adalah murid pendiri Masjid Salman Dr. Ir. Mohammad Imaduddin Abdurrahim. Selama memimpin di Jawa Barat, RK terkenal menggelontorkan dana yang sangat besar untuk pembangunan Masjid dan alokasi anggaran pembinaan ummat melalui ormas Islam. Jadi orientasi RK pastinya tidak akan bertentangan dengan spirit ummat Islam Jakarta, yang pernah tertekan di era Ahok dan Jokowi.

Islam di Jakarta sudah menjadi agama dominan sejak era Batavia. Meskipun dahulu, di era Batavia, Belanda berkuasa, Masjid-masjid sudah tumbuh subur sebagai pusat komunikasi publik. Pengajian-pengajian agama disebarkan dan Belanda tidak membatasinya.

Hanya di era Jokowi dan Ahok lah semangat anti Islam terjadi di Jakarta, misalnya membatasi takbir keliling, membatasi trotoar dipakai pengajian, mengatur suara Masjid, dll.

Jokowi dan Ahok ini adalah sentral dari ideologi PDIP yang memang memandang Islam sebagai kompetitor, jika tidak disebut musuh. PDIP sebagai kelompok ultra nasionalis, memang melihat Islam sejak dulu kala sebagai ancaman. Jadi, meskipun Pramono mengatakan dirinya Islam, itu tentu secara personal. Secara politik dia berkembang dalam lingkungan PDIP yang relatif anti Islam.

Megawati bahkan mengolok olok akhirat mungkin tidak ada. Hal itu disampaikannya ketika dia mengkritik ulama yang sering bicara hari akhirat. Begitu pula Megawati sang dedengkot PDIP, pernah mengejek ibu-ibu pengajian yang sering melupakan urusan merawat anak. Kenapa ini terjadi? Megawati tidak melihat ajaran Islam sejalan dengan ideologinya. Karena ideologi Megawati adalah ketuhanan yang berkebudayaan. Menurutnya Tuhan adalah hasil kebudayaan manusia. Hal ini dalam ilmu antropologi dan sosiologi disebut Antroposena. Bahkan Megawati pernah berkeinginan merubah Pancasila dari 5 sila menjadi 3 sila lalu satu sila, yakni Gotong Royong. Ideologi Megawati ini tentunya sama dengan Pramono Anung. Pram adalah kader inti PDIP.

Sebaliknya, Ridwan Kamil tumbuh dalam lingkungan non PDIP dan sekarang di Golkar. Partai yang pernah mendukung RK tidak ada yang ideologis, semuanya pragmatis. Namun, mereka tidak menentang Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. RK yang Islami sesuai dengan lingkungan partai pendukungnya yang tidak mempersoalkan keislaman seseorang.

Dengan pertimbangan ini tentu kaum oposisi, yang mayoritas muslim, selama era Jokowi harusnya melihat sekutu politik ke depan adalah Ridwan Kamil, bukan Pramono Anung maupun PDIP dan Megawati Soekarnoputri.

Ketiga, Kompetensi. Secara kompetensi antara RK dan Pramono mungkin sama baiknya. Keduanya mempunyai latar belakang teknokrasi. Namun, RK lebih berpengalaman dalam memerintah dalam kewilayahan, sebaliknya Pram hanya dalam organ administrasi negara dan legislasi.

Memenej kota, khususnya setelah status ibukota hilang, pembangunan Jakarta sebaiknya dipimpin oleh seorang yang berpengalaman langsung sebagai gubernur. Itu akan membuat duplikasi dan replikasi keberhasilan di Jawa Barat, bagi RK, mudah dilakukan. Serta menghindari kegagalan yang pernah ada. Ditambah lagi pengalaman kegubernuran di Jawa Barat, yang berbatasan dengan Jakarta, membuat isu banjir kiriman, “greater Jakarta”, mobilitas sosial pekerja, dll. dapat segera dimenej RK.

Kemampuan RK membangun kota tentu merupakan kompetensi mengapa kita harus memilih dia.

Keempat. Dukungan Politik. Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan dukungannya kepada RK. Ini adalah modal penting bagi RK untuk mensinergikan pembangunan daerah dan pusat. Prabowo sendiri berbeda dengan Jokowi. Kaum oposisi pembenci Jokowi tentunya harus melihat Prabowo sebagai pemimpin penuh harapan.

Beberapa catatan tentang Prabowo kita saksikan a.l. memberantas judi, memberi makan orang miskin, mengobrak-abrik koruptor berkedok petinggi hukum, dll. meskipun terlalu cepat untuk menilainya.

Jadi, bisa dipastikan di bawah kepemimpinan Prabowo, RK tidak mungkin cawe-cawe menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri.

Sementara itu berbagai pihak yang memikirkan kekuasaan Jokowi masih dominan haruslah sadar bahwa Jokowi tidak punya kekuasaan lagi. Loyalis Jokowi dipemerintahan menurut saya tinggallah dua orang, yakni Budie Arie, ketua Projo dan Pratikno. Selebihnya secara pasti sudah pindah haluan. Sebab, dalam sistem presidensial, tukang kayu seperti Jokowi aja bisa berkuasa total, apalagi Jenderal Prabowo.

Adanya kesan bayangan Jokowi pada RK hanyalah fatamorgana. Itupun faktanya survei di Jakarta tidak menunjukkan adanya Jokowi effect, saat ini.

Jadi, kaum oposisi harus melihat bahwa RK akan berkarya nantinya dalam leadership nya sendiri.

Kelima. Korupsi. RK sudah pasti sampai saat ini tidak pernah korupsi. Apakah Pramono pernah terlibat korupsi? Tentunya juga belum ada jejak pasti. Namun, dalam hirarki kekuasaan korup era Jokowi, di mana Indeks Persepsi Korupsi sangat rendah, 34, kemungkinan besar pejabat kita memiliki peluang korupsi berdasarkan hirarki kekuasaan itu. Secara peluang, RK tentunya lebih kecil.

Sampai saat ini belum ada pengakuan di persidangan bahwa RK terlibat korupsi. Sebaliknya, dalam kasus E-KTP, tersangka Setya Novanto, dahulu, mengaku bahwa Pramono mendapatkan bagian korupsi e-KTP.

Selain itu, penggunaan kekuasaan untuk kepentingan bisnis biasanya dilakukan oleh Peng-Peng (istilah Rizal Ramli merujuk Penguasa sekaligus Pengusaha). Dalam posisi ini RK tidak punya bisnis, karena dia bukan bisnisman. Sebaliknya, Pramono Anung terkenal sebagai pebisnis besar di sektor pertambangan. Jadi, bisa dipastikan, jika mengikuti prinsip kecilnya potensi korup seorang penguasa, maka Ridwan Kamil lebih jelas harus dipilih.

Dari kelima penjelasan di atas, kemungkinan besar Habib Rizieq Shihab dan Prof Din Syamsuddin mempunyai perspektif yang sama dalam menganalisis. Artinya, pilihan Imam Besar Habib Rizieq Shihab dan Prof Din mendukung RK dapat diprediksi alasannya.

Sekarang tinggal kepada kaum oposisi yang masih genit berdiskusi, mulailah berpikir rasional dan penuh akal sehat. Apakah kalian tidak segera turun mendukung Ridwan Kamil?

Sayangnya saya sudah pindah dari Tebet ke Depok. Sehingga saya tidak bisa memilih RK di Jakarta. Tapi, sebagai oposan 10 tahun era Jokowi, saya tahu MORALITAS Ridwan Kamil lebih sesuai untuk jadi alasan mendukung dia. Meski saya terserang penyakit dua bulan terakhir ini, saya belum gila. Ridwan Kamil harus dimenangkan. Agar Jakarta Gemilang. (Salam dari Depok)

Penulis: Dr. Syahganda Nainggolan, MT., alumni ITB