9 November 2026

Megawati Soekarnoputri

MoneyTalk.id,Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto melontarkan pernyataan tajam mengenai kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Hasto menyinggung praktik penyalahgunaan kekuasaan atau abuse of power yang menurutnya banyak dilakukan pada era pemerintahan Jokowi.

Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi narasumber dalam podcast Sinkos Indonesia bersama Faizal Assegaf, Jumat (30/10/2026).

Dalam perbincangan tersebut, Faizal menyinggung kemungkinan adanya operasi kontraintelijen untuk melemahkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menanggapi pertanyaan itu, Hasto justru mengarahkan pembicaraan pada persoalan penyalahgunaan kekuasaan di masa pemerintahan Jokowi.

“Abuse of power itu yang banyak dilakukan oleh Presiden Jokowi. Apa pesan Bu Mega? Sangat sederhana tapi sangat dalam. Kenali sisi gelap itu,” kata Hasto.

Pernyataan Hasto tersebut menjadi sorotan karena secara terbuka membawa nama Jokowi dalam pembahasan mengenai penyalahgunaan kekuasaan. Ia juga mengungkap pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang meminta kader memahami sisi gelap kekuasaan.

Hasto juga membantah anggapan bahwa Megawati dan PDIP memiliki persoalan dengan Islam. Menurutnya, pandangan tersebut merupakan framing yang berkembang di tengah masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa setelah peristiwa 1965, keluarga Bung Karno mengalami perlakuan politik yang berat, termasuk tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan.

“Karena kita tahu setelah peristiwa 65 itu kan sepertinya kami dibenturkan dengan Islam. Ketika peristiwa 65, Bu Mega dan seluruh keluarga Bung Karno enggak boleh melanjutkan sekolah. Padahal Bung Karno yang berjuang sejak usia muda untuk memberikan republik,” ujarnya.

Hasto kemudian mengingatkan kembali sikap Bung Karno terhadap Islam. Ia menuturkan, Bung Karno pernah menyampaikan pemikiran mengenai geopolitik dan perjuangan bangsa-bangsa Islam.

Dalam penjelasannya, Hasto juga menyinggung pidato Bung Karno dalam sebuah muktamar Muhammadiyah yang menyampaikan harapan agar Indonesia suatu saat mampu membuat bom atom sendiri.

Ia turut mengutip pesan Megawati bahwa terorisme bukan bagian dari Islam. Menurut Hasto, Bung Karno juga memiliki kedekatan dengan nilai-nilai keislaman, termasuk kebiasaannya berdoa dan membaca Al-Qur’an.

PDIP Pilih Diplomasi Hadapi Singapura

Dalam podcast tersebut, Hasto juga menanggapi pertanyaan mengenai hubungan Indonesia dan Singapura yang dinilai sebagian kalangan mulai memanas.

Menurutnya, Indonesia tidak perlu membawa hubungan kedua negara ke arah ketegangan. Ia menilai tradisi musyawarah dan kemampuan diplomasi Indonesia harus lebih dikedepankan.

“Ya, tidak harus memanas. Maksudnya kita ini kan punya tradisi musyawarah. Kita ini punya kemampuan diplomasi yang handal sebenarnya,” katanya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai kemungkinan Presiden Prabowo tidak memberikan restu atau ruang bagi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk dimakzulkan, Hasto menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi.

Ia menyebut terdapat berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat. PDIP, kata dia, memilih mendengarkan perkembangan tersebut dan mencermati gagasan yang didasarkan pada fakta.

“Ya itu kan asumsi. Kita menduga pilihannya dimakzulkan atau dalam politik kita enggak boleh dengan duga-duga, dengan asumsi,” ujar Hasto.

Ia meyakini Presiden Prabowo juga mendengarkan berbagai aspirasi yang berkembang, terlebih apabila gagasan tersebut telah terkristalisasi berdasarkan fakta-fakta yang ada.

MoneyTalk.id,Jakarta – Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, menilai pergantian di pucuk pimpinan Polri dan langkah cepat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan adanya kehendak untuk melakukan pembenahan di tubuh pemerintahan. Menurutnya, Prabowo mulai memperhitungkan dampak hubungan politik dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) serta konsekuensinya terhadap arah kepemimpinan nasional.

Siti Zuhro melihat pergantian pimpinan Polri bukan hanya sebagai perubahan personel di institusi kepolisian. Langkah tersebut, menurut dia, dapat dibaca sebagai bagian dari upaya Prabowo memutus mata rantai pengaruh politik yang dinilai berpotensi menghambat arah pemerintahannya.

“Artinya memang ini adalah niatan yang sungguh-sungguh mau meluruskan apa pun itu yang sudah bengkok,” kata Siti Zuhro di Podcast Forum Keadilan Madilog, Sabtu (17/10/2026).

Ia menilai dinamika politik yang berkembang sebelumnya telah memberikan sinyal terlalu dini mengenai arah hubungan kekuasaan. Situasi tersebut, menurut Siti, membuat Prabowo memiliki waktu untuk membaca perkembangan sekaligus menghitung risiko apabila pola kepemimpinan sebelumnya terus berlanjut.

“Sudah ditabuh genderang oleh Pak Jokowi, terlalu awal. Sehingga terbaca dengan sangat awal juga oleh Bapak Presiden ini,” ujarnya.

Siti menjelaskan, Prabowo tentu harus menghitung konsekuensi politik jika terus mempertahankan pola hubungan kekuasaan yang selama ini terbentuk. Presiden, menurutnya, perlu memastikan bahwa pemerintahan yang dipimpinnya memiliki kendali politik dan keleluasaan untuk menjalankan agenda sendiri.

Dalam pembacaan Siti, perubahan di pucuk pimpinan Polri dan gerak cepat setelahnya dapat menjadi sinyal bahwa Prabowo mulai menegaskan arah kepemimpinannya. Ia menyebut kecenderungan tersebut sebagai Prabowo way, yakni cara Prabowo menentukan langkah politik dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan perhitungan serta kepentingannya sendiri.

“Artinya memang ini adalah niatan yang sungguh-sungguh mau meluruskan apa pun itu yang sudah bengkok. Saat ini bisa diterjemahkan bahwa ke depan adalah Prabowo way. Cara Prabowo,” tuturnya.

Siti Zuhro juga memperkirakan perombakan kabinet atau reshuffle masih berpotensi berlanjut. Menurut dia, perubahan yang telah dilakukan pemerintah belum tentu menjadi tahap akhir dari konsolidasi kekuasaan Prabowo.

Ia menilai Presiden sedang belajar dari berbagai pengalaman selama menjalankan pemerintahan, termasuk dampak dari peran Jokowi terhadap dinamika politik dan pengambilan keputusan.

“Reshuffle belum berhenti di ketujuh kali kemarin itu. Masih akan ada reshuffle,” kata Siti Zuhro.

Dalam perspektif politik, konsolidasi pemerintahan juga menjadi tantangan bagi Prabowo. Presiden harus memastikan bahwa para pembantunya memiliki orientasi kerja yang sejalan dengan program pemerintah, tanpa mengabaikan profesionalisme dan kepentingan publik.

Karena itu, Siti Zuhro memandang langkah yang telah dilakukan Prabowo sebagai permulaan dari proses pembenahan yang lebih panjang. Perubahan di tingkat elite, menurut pembacaannya, perlu diikuti langkah konkret agar kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat semakin kuat.

Selain membahas pergantian pimpinan Polri dan reshuffle, Siti Zuhro menyoroti hubungan politik Prabowo dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Ia menilai komunikasi antara Prabowo dan Megawati tetap menjadi faktor penting dalam dinamika politik nasional. Menurut Siti, keinginan Prabowo untuk merangkul Megawati dalam koalisi bukan sesuatu yang baru dan terus terbuka sebagai kemungkinan politik.

“Selalu ada komunikasi sebetulnya antara Pak Prabowo dengan Megawati, Bu Megawati itu, dan kehendak untuk senantiasa mengajak Bu Megawati dalam koalisi itu enggak pernah henti sebetulnya dari Pak Prabowo,” ungkapnya.

Siti Zuhro melihat kemungkinan kesepakatan politik antara Prabowo dan Megawati dapat memengaruhi konfigurasi dukungan terhadap pemerintah. Apabila komunikasi tersebut menghasilkan titik temu, ruang negosiasi politik akan terbuka, termasuk mengenai aspirasi dan kepentingan yang hendak diperjuangkan masing-masing pihak.

Ia mempertanyakan sejauh mana Prabowo akan mengakomodasi pandangan Megawati jika kedua tokoh tersebut mencapai kesepakatan politik.

“Kalau memang ada kesepakatan antara Pak Prabowo dan Ibu Megawati, secara politik apa lagi yang akan diakomodir oleh Pak Prabowo dari apa yang disampaikan oleh Ibu Megawati?” katanya.

Meski demikian, komunikasi politik tidak otomatis berarti terbentuknya kesepakatan koalisi. PDI Perjuangan memiliki pertimbangan dan agenda politik sendiri, sementara Prabowo juga harus menjaga keseimbangan di antara partai-partai yang selama ini mendukung pemerintahannya.

Karena itu, peluang kerja sama dengan Megawati akan sangat bergantung pada kesesuaian kepentingan, agenda pemerintahan, dan ruang kompromi yang dapat diterima kedua belah pihak.

Menurut Siti Zuhro, tantangan Prabowo tidak berhenti pada konsolidasi politik dan pergantian pejabat. Presiden juga perlu membuktikan capaian pemerintahannya agar dukungan politik memiliki dasar yang lebih kuat.

Ia menilai dukungan dari partai politik saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan pemerintahan. Prabowo membutuhkan hasil nyata yang dapat dirasakan masyarakat, mulai dari perbaikan ekonomi, peningkatan kesejahteraan, hingga pembenahan tata kelola pemerintahan.

“Ke depan Pak Prabowo tentunya tidak cukup di-backup oleh PDIP Perjuangan. Maka kepentingan Pak Prabowo adalah achievement harus ada, lalu merangkul siapa untuk nanti menjadi pasangan baru,” ujar Siti.

Siti Zuhro juga mengingatkan bahwa masih ada sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan kepada Prabowo. Kondisi itu, menurutnya, menandakan bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan untuk menyempurnakan berbagai kebijakan dan melakukan perbaikan sesuai dengan harapan publik.

“Ada sebagian yang belum pulih kepercayaan kepada Pak Prabowo. Artinya memang harus disempurnakan. Perbaikan-perbaikan yang dikehendaki oleh rakyat ini,” katanya.

Siti Zuhro menegaskan, langkah yang telah ditempuh Prabowo sebaiknya dilihat sebagai bagian awal dari proses pembenahan pemerintahan. Pergantian pimpinan Polri dan reshuffle dapat menjadi instrumen perubahan, tetapi keberhasilannya tetap harus dinilai berdasarkan hasil yang dicapai.

Ia memberikan gambaran bahwa perjalanan pembenahan pemerintahan saat ini belum mencapai tahap maksimal. Dengan menggunakan skala satu sampai sepuluh, Siti memperkirakan posisi pemerintah baru berada pada angka enam atau tujuh.

“Ini baru langkah awal. Mungkin kalau dalam 10, satu sampai 10, mungkin baru di level 6 atau 7,” ujarnya.

Penilaian tersebut mengandung pesan bahwa Prabowo masih memiliki ruang untuk memperbaiki kinerja pemerintahannya. Konsolidasi kekuasaan, penataan birokrasi, dan komunikasi dengan partai politik perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan janji kepada masyarakat.

Pada akhirnya, arah baru kepemimpinan Prabowo tidak cukup dibuktikan melalui pergantian pejabat atau perubahan konfigurasi koalisi. Publik akan menilai apakah langkah-langkah tersebut benar-benar membawa perbaikan dalam kehidupan ekonomi, penegakan hukum, kualitas pelayanan publik, dan tata kelola negara.

MoneyTalk.id,Jakarta – Struktur kepemimpinan dan jabatan politik di lingkar kekuasaan Presiden Prabowo Subianto mencatatkan rekor terbanyak sepanjang sejarah pasca-Reformasi. Berdasarkan infografis data per 2 Oktober 2026 yang bersumber dari Setkab, Keppres, serta berbagai pemberitaan media nasional, total jabatan setingkat menteri dan lingkar kepresidenan era Prabowo mencapai 161 posisi.

Jumlah ini melonjak signifikan dibandingkan dengan era kepemimpinan tiga presiden terdahulu, yaitu Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Joko Widodo (Jokowi).

Peningkatan jumlah posisi pembantu presiden terlihat sangat drastis ketika disandingkan dengan era kepemimpinan sebelumnya:

-Era Megawati Soekarnoputri: Mengusung Kabinet Gotong Royong, pemerintahan era Megawati tercatat sebagai kabinet dengan postur paling ramping sejak Reformasi dengan total 36 jabatan. Era ini didukung oleh 3 Menteri Koordinator (Menko), 27 Menteri, 3 Kepala Lembaga, 2 Penasihat Presiden, dan 1 Utusan Khusus Presiden, tanpa memiliki posisi Wakil Menteri maupun Wantimpres.

-Era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): Mengalami pemekaran dengan total 68 jabatan. Pada masa ini mulai diperkenalkan posisi Wakil Menteri (17 posisi), serta dibentuk Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dengan 9 anggota.

-Era Joko Widodo (Jokowi): Ukuran kepemerintahan meningkat menjadi total 73 posisi. Era Jokowi mencatat 4 Menko, 30 Menteri, 19 Wakil Menteri, 8 Kepala Lembaga, 9 Wantimpres, dan sekitar 3 Utusan Khusus Presiden.

-Era Prabowo Subianto: Mengalami pembengkakan jumlah jabatan hingga lebih dari dua kali lipat dibanding era Jokowi, yakni sebanyak 161 posisi.

Rincian Postur Kabinet dan Lingkar Kepresidenan Era Prabowo

Lonjakan angka pada pemerintahan Prabowo didorong oleh pemecahan beberapa kementerian serta pembentukan berbagai instrumen penasihat dan utusan khusus. Rincian pembagian posisinya mencakup:

Menteri Koordinator (Menko): 8 posisi

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko): 1 posisi

Menteri: 41 posisi

Wakil Menteri (Wamen): 57 posisi

Kepala Lembaga: 11 posisi

Wantimpres: 26 posisi

Penasihat Presiden: 10 posisi

Utusan Khusus Presiden: 7 posisi

Fenomena gemuknya struktur kabinet dan jabatan pendukung di Istana pada pemerintahan Prabowo memicu beragam sorotan dari pengamat politik dan ekonomi. Di satu sisi, langkah pemecahan kementerian dan penambahan pejabat pembantu dipandang sebagai upaya mengakomodasi koalisi politik yang besar serta memfokuskan program kerja agar lebih terarah.

Namun di sisi lain, ukuran kabinet yang membengkak hingga 161 jabatan ini memunculkan kekhawatiran terkait potensi efisiensi anggaran negara, tumpang tindih kewenangan (overlapping), serta tantangan koordinasi birokrasi di lapangan. Publik kini menanti bagaimana efektivitas kinerjanya dalam merespons berbagai persoalan ekonomi dan sosial ke depan.

MoneyTalk.id,Jakarta – Jurnalis senior Lukas Luwarso melontarkan kritik tajam terhadap manuver politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), terutama setelah mantan kepala negara itu secara terbuka menunjukkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Lukas menilai, aksi Jokowi memamerkan KTA PSI justru memperlihatkan pola komunikasi politik yang menurutnya tidak mencerminkan kedalaman pemikiran seorang mantan presiden. Ia juga menyoroti hubungan politik Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya masih menyisakan persoalan.

“Menunjukkan ini kartu tanda anggota PSI saya, ya, apa loh? Itu kan konyol juga. Artinya, kita semua sudah tahu bahwa PSI itu dibeli Jokowi dari Jeffrie Geovanie,” ujar Lukas di Podcast Obor Rakyat Reborn, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Lukas, langkah Jokowi tersebut memperlihatkan kecenderungan memainkan politik pada level yang dianggapnya kurang substantif.

“Problemnya, Jokowi ini kan dia selalu bermain pada level ecek-ecek. Ya, karena memang kesederhanaan logika berpikirnya, teori konspirasinya,” katanya.

Pernyataan Lukas tersebut muncul di tengah sorotan terhadap langkah politik Jokowi setelah secara terbuka mengumumkan keanggotaannya di PSI. Jokowi sebelumnya mengungkapkan telah menjadi kader partai tersebut sejak 14 Oktober 2025, tetapi baru memperlihatkan KTA pada akhir September 2026.

Lukas juga menyoroti keputusan Prabowo yang dinilainya belum sepenuhnya memutus pengaruh politik Jokowi di lingkaran pemerintahan.

Ia menyebut, sejumlah figur yang diasosiasikan dengan kekuatan politik Jokowi masih memiliki posisi strategis, meskipun terjadi perubahan susunan pejabat negara.

“Prabowo belum sepenuhnya mau menyingkirkan para centeng-centeng Jokowi,” tegasnya.

Dalam pandangan Lukas, penempatan mantan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) merupakan bagian dari dinamika tersebut.

Ia bahkan menyebut jabatan KSP sebagai posisi yang dalam perspektif politiknya tidak lagi memiliki bobot strategis seperti jabatan sebelumnya.

“Kita kan tahu KSP itu hanya jabatan buangan lah. Oke, kalau dalam dunia korporasi dilitbangkan gitu,” ujarnya.

Sebagai catatan, Listyo Sigit telah mengonfirmasi penunjukannya sebagai Kepala KSP menggantikan Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman. Namun, penilaian bahwa jabatan tersebut merupakan posisi buangan merupakan pandangan Lukas, bukan keterangan resmi pemerintah.

Lebih jauh, Lukas menilai posisi politik Jokowi saat ini tidak lagi sekuat ketika masih menduduki kursi presiden.

Menurutnya, Jokowi kini lebih banyak mengandalkan popularitas personal dan kekuatan finansial untuk mempertahankan pengaruh politiknya.

“Posisi politik Jokowi itu sekarang lemah, ya. Dia hanya mengandalkan personal popularitasnya atau cuan logistik,” kata Lukas.

Ia juga menyinggung klaim mengenai persiapan dana sebesar Rp200 triliun untuk mendongkrak perolehan suara PSI hingga 16 persen pada Pemilu 2029.

“Dalam Jokowi menyiapkan Rp200 triliun untuk memenangkan PSI dapat 16 persen,” ujarnya.

Meski demikian, pernyataan itu memperlihatkan bagaimana kekuatan finansial dan popularitas Jokowi menjadi bagian dari perdebatan mengenai masa depan PSI dan peta politik nasional menjelang Pemilu 2029.

Lukas turut menyoroti posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menurutnya mulai membangun persepsi menjaga jarak dari Prabowo.

Ia melihat dinamika tersebut sebagai perkembangan menarik dalam hubungan politik antara keluarga Jokowi dan pemerintahan Prabowo.

“Ya, Gibran itu sudah ingin membangun persepsi jaga jarak nih dengan Prabowo,” ungkapnya.

Di sisi lain, Lukas menilai Prabowo menghadapi persoalan dalam membangun citra politik di tengah masyarakat.

“Sayangnya memang Prabowo jadi public enemy karena urusan-urusan elementer,” katanya.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian Lukas terhadap situasi politik yang berkembang, terutama menyangkut hubungan antara Prabowo, Jokowi, dan Gibran.

Di tengah berbagai manuver politik tersebut, Lukas juga menyinggung kemungkinan pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada 17 Oktober.

Menurutnya, pertemuan itu patut dicermati karena berpotensi menjadi bagian penting dari perkembangan komunikasi politik antarelite nasional.

“Makanya nanti tanggal 17 Oktober bisa dicek, akan ada pertemuan antara Prabowo dengan Megawati,” ujarnya.

Jika pertemuan tersebut benar-benar terlaksana, dinamika politik nasional berpotensi memasuki babak baru, terutama dalam membaca hubungan antara kekuatan politik yang berada di sekitar Prabowo, Jokowi, dan PDIP.

Pernyataan Lukas sekaligus membuka pertanyaan lebih luas: apakah hubungan Prabowo dan Jokowi masih berada dalam satu kepentingan politik, atau justru mulai bergerak menuju arah yang berbeda?

Di tengah menguatnya posisi PSI sebagai kendaraan politik Jokowi, pertanyaan mengenai siapa yang sesungguhnya mengendalikan arah kekuasaan dan seberapa jauh pengaruh mantan presiden itu masih bertahan menjadi isu yang terus mengemuka.

MoneyTalk.id,Jakarta – Ketua Dewan Direktur Great Institute Syahganda Nainggolan melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi), terutama terkait dugaan penyalahgunaan kekuasaan dalam proses politik yang mengantarkan Gibran Rakabuming Raka menjadi Wakil Presiden RI.

Syahganda menilai, keinginan tokoh politik untuk mendorong anaknya maju dalam kontestasi kekuasaan merupakan hal yang wajar. Namun, keinginan tersebut tidak boleh diwujudkan melalui pemaksaan ataupun penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).

“Misalkan kalau Megawati pengin anaknya maju, SBY pengin anaknya maju, itu oke-oke saja. Yang paling penting tidak memaksakan, tidak menggunakan power, abuse of power untuk mendorong,” ujar Syahganda di Podcast Obor Rakyat Reborn, Rabu (30/9/2026).

Ia kemudian membandingkan hal tersebut dengan proses politik yang melibatkan Jokowi dan Gibran. Menurutnya, pencalonan Gibran sebagai wakil presiden memunculkan persoalan serius mengenai penggunaan kekuasaan dalam demokrasi.

“Kalau Jokowi, kan, abuse of power. Anak ini enggak jelas, tiba-tiba jadi wakil presiden,” katanya.

Syahganda berharap Mahkamah Konstitusi (MK) dapat mengoreksi persoalan tersebut melalui proses hukum yang sedang berjalan. Menurutnya, keputusan MK memiliki arti penting bagi masa depan demokrasi dan tata kelola kekuasaan di Indonesia.

Dalam pandangannya mengenai stabilitas politik ke depan, Syahganda justru melihat Megawati Soekarnoputri memiliki prospek yang lebih baik dibandingkan Jokowi.

Ia menilai, Jokowi menghadapi banyak pihak yang berseberangan sehingga berpotensi menimbulkan persoalan dalam menjaga stabilitas politik nasional.

“Jokowi ini Megawati itu lebih prospek dong buat stabilitas ke depan dibanding Jokowi. Jokowi musuhnya banyak,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Syahganda memandang rekonsiliasi dan komunikasi antartokoh politik sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional, terutama di tengah dinamika politik yang berkembang.

Ia juga menyinggung persoalan kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang dinilainya berpotensi merugikan kepentingan nasional. Dalam kritiknya, Syahganda menyamakan dampak kebijakan tersebut dengan praktik kolonialisme yang pernah dialami Indonesia.

Syahganda turut menanggapi spekulasi mengenai kemungkinan pergantian posisi wakil presiden apabila MK mengambil keputusan yang berdampak pada status Gibran.

Ia menyebut adanya tiga nama yang mulai diperbincangkan sebagai kandidat potensial, yakni Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Kepala BGN Sudaryono.

Menurut Syahganda, apabila terjadi perubahan dalam posisi wakil presiden, pembahasan mengenai penggantinya tentu akan melibatkan Presiden Prabowo Subianto bersama partai-partai koalisi pemerintahan.

“Misalkan didiskualifikasi, saya pikir pengganti Gibran itu tentu akan dibicarakan Presiden dengan koalisi partai yang sekarang,” ujarnya.

Ia juga membuka kemungkinan munculnya alternatif politik lain apabila Megawati turut masuk dalam pembicaraan mengenai konfigurasi kepemimpinan nasional.

“Bisa juga Ibu Mega menawarkan Puan jadi wapres, misalnya,” kata Syahganda.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa dinamika politik nasional tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum, tetapi juga menyangkut komunikasi dan kompromi di antara para elite politik.

MoneyTalk.id,Jakarta – Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi membuka kemungkinan berbagai konfigurasi politik menuju Pemilu 2029. Termasuk kemungkinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali berpasangan.

Pernyataan itu disampaikan Budi Arie ketika berbincang dengan pengamat politik Hendri Satrio. Dalam dialog tersebut, Hendri menanyakan kemungkinan Prabowo tidak lagi bersama Gibran pada Pilpres 2029.

“Jadi itu taktik politik,” ujar Budi Arie ketika membahas dinamika politik menuju 2029, Kamis (17/9/2026).

Ketika kembali ditanya apakah Gibran masih mungkin bersama Prabowo, Budi Arie menjawab bahwa seluruh kemungkinan masih terbuka.

“Semuanya masih mungkin menurut saya. Kalau saya bilang, kartunya masih dikocok, belum dibagi,” kata Budi Arie.

Budi Arie juga menjelaskan bahwa Pilpres 2029 akan memiliki dinamika berbeda dibandingkan Pemilu 2024. Pada 2029, Prabowo dan Gibran berstatus sebagai presiden dan wakil presiden petahana yang secara konstitusional masih memiliki hak untuk mencalonkan diri kembali.

Menurut Budi Arie, sejarah pemilihan presiden secara langsung sejak 2004 juga menunjukkan belum ada pasangan presiden dan wakil presiden yang kembali maju bersama untuk periode kedua.

“Sejak pemilihan presiden langsung 2004 zaman Pak SBY, tidak ada pasangan yang dua periode. Dulu SBY dengan JK, lalu Pak SBY dengan Budiono. Lalu Jokowi-JK, selanjutnya Jokowi dengan Ma’ruf Amin,” ujarnya.

Meski membuka seluruh kemungkinan, Budi Arie mengaku secara pribadi masih berharap Prabowo-Gibran dapat melanjutkan pemerintahan untuk periode kedua.

“Kalau kita mengharapkan begitu,” kata Budi Arie.

Dalam dialog tersebut, Budi Arie juga menyinggung hubungannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo serta relasi politik Jokowi dan Prabowo.

Ia menolak anggapan bahwa hubungan kedua tokoh tersebut harus dibaca sebagai hubungan yang pasti berujung perpisahan politik.

Menurut Budi Arie, baik Jokowi maupun Prabowo merupakan pemimpin yang memiliki kepentingan terhadap negara dan rakyat.

“Saya bilang begini, ini adalah pemimpin-pemimpin yang mengedepankan kepentingan negara dan rakyat,” katanya.

Budi Arie mengatakan dirinya pernah menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo sehingga mengetahui bagaimana Prabowo bekerja.

“Saya lihat beliau ini orang yang sangat konsen. Kalau di hitam itu dadanya merah putih,” ujar Budi Arie.

Ia kemudian menyamakan hal tersebut dengan Jokowi.

“Begitu juga Pak Jokowi. Enggak ada kepentingan lain,” katanya.

Budi Arie juga menyebut sejumlah pemimpin lain seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri sebagai tokoh bangsa yang menurutnya patut dihormati.

“Makanya saya juga kadang-kadang sedih kalau pemimpin-pemimpin bangsa kita ini diadu domba. Enggaklah,” ujarnya.

Menurut dia, setiap pemimpin memiliki masa dan waktunya masing-masing. Perbedaan pandangan politik, kata Budi Arie, merupakan hal yang biasa dalam demokrasi.

“Kalau soal politik ya sudahlah, berbeda pendapat yang mungkin biasa. Jangan…” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Budi Arie juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kasus keracunan makanan yang melibatkan anak-anak penerima program makan bergizi.

Ia menilai persoalan tersebut menjadi sangat sensitif karena menyangkut anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Jadi saya sedihnya gini loh kalau ngelihat laporan orang yang keracunan itu udah anak orang miskin keracunan, dosa banget,” ujar Budi Arie.

Budi Arie mengkritik pelaksanaan pemberian makanan kepada seluruh anak Indonesia apabila dalam pelaksanaannya masih terjadi persoalan keamanan pangan.

“Jadi beri makan ke seluruh anak Indonesia itu udah menurut saya eksekusi yang kurang tepat,” katanya.

MoneyTalk.id,Jakarta – Juru bicara era Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Adhie Massardi, mengungkap adanya pertemuan para ketua umum partai politik di kediaman Megawati Soekarnoputri di Kebagusan, Jakarta, menjelang pelengseran Gus Dur dari kursi kepresidenan.

Menurut Adhie, pertemuan tersebut menjadi salah satu fakta penting untuk melihat kembali rangkaian politik yang berujung pada berakhirnya pemerintahan Gus Dur.

Adhie mengatakan, Megawati yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI mengundang para ketua partai politik ke kediamannya di Kebagusan. Para ketua partai disebut hadir dalam pertemuan tersebut.

“Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang kemudian juga menjadi wakil presiden mengundang ketua-ketua partai ke rumahnya di Kebagusan. Semua ketua partai sudah hadir,” kata Adhie di channel YouTube Obor Rakyat Reborn, Sabtu (12/9/2026).

Ia menuturkan, pertemuan para ketua partai tersebut berlangsung pada 21 Juli 2001. Dua hari kemudian, tepatnya 23 Juli 2001, Gus Dur dilengserkan dari jabatan Presiden dan Megawati kemudian menggantikannya sebagai Presiden RI.

“Kalau tanya siapa inisiatifnya, tanggal 21 ada pertemuan ketua-ketua partai. Tanggal 23-nya kemudian Gus Dur dilengserkan, kemudian Megawati jadi presiden,” ujarnya.

Adhie menilai rangkaian peristiwa tersebut perlu dilihat secara utuh. Ia mempertanyakan anggapan yang selama ini menempatkan Amien Rais sebagai tokoh utama atau otak di balik pemakzulan Gus Dur.

Menurut dia, anggapan tersebut tidak sesuai dengan fakta politik yang terjadi menjelang pergantian kekuasaan pada 2001.

“Jadi tidak benar Pak Amien Rais adalah otak dari pemakzulan Gus Dur. Secara fakta itu enggak mungkin,” tegasnya.

Adhie juga menyoroti posisi Megawati sebagai Wakil Presiden ketika konflik politik antara Gus Dur dengan kekuatan-kekuatan politik di parlemen semakin memanas.

Menurutnya, apabila seorang wakil presiden memiliki keinginan untuk menggantikan presiden, dinamika politik dapat terus berada dalam situasi panas.

“Kalau wakil presiden punya keinginan untuk menggantikan presiden, situasi pasti akan terus panas,” katanya.

Ia juga mengungkap bagaimana konflik politik tersebut kemudian berkembang di lapangan. Demonstrasi yang mendukung Gus Dur disebut mengalami penghadangan ketika situasi politik semakin memanas.

Adhie menilai dinamika di lapangan tersebut tidak dapat dipisahkan dari pertikaian politik yang berlangsung di tingkat elite.

Karena itu, ia mendorong agar sejarah pelengseran Gus Dur dibaca secara lebih kritis dan tidak hanya menyederhanakannya dengan menunjuk satu tokoh sebagai aktor utama.

MoneyTalk.id,Jakarta – Kebijakan pemerintah terhadap pendanaan riset dan inovasi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menjadi sorotan. Politikus Partai Demokrat Rommi Irawan mempertanyakan kondisi anggaran penelitian yang menurutnya terus mengalami penurunan sejak Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Dewan Pengarah BRIN.

Rommi mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi para ilmuwan yang bekerja di BRIN. Menurut dia, banyak peneliti memiliki kompetensi tinggi dan menghasilkan penelitian yang penting bagi kepentingan Indonesia.

“Ilmuwan di BRIN, bukan sembarangan,” kata Rommi Irawan, Sabtu (8/8/2026).

Ia kemudian menceritakan pengalaman pribadinya mengenai dua orang sahabat yang menurutnya merupakan ilmuwan dengan keahlian khusus di bidang pertanian nuklir dan listrik nuklir.

“Ada dua sahabat, ahli di pertanian nuklir dan listrik nuklir. Memang dari SMP sangat cerdas,” ujarnya.

Menurut Rommi, kualitas sumber daya manusia di BRIN semestinya mendapatkan dukungan anggaran yang memadai. Ia menilai keterbatasan pendanaan berpotensi menghambat penelitian strategis yang dibutuhkan Indonesia.

Rommi bahkan mengaitkan persoalan tersebut dengan posisi Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN.

“Sejak Mak Banteng Ketua Dewan Pengarah, anggaran BRIN terus turun,” kata Rommi.

Ia juga mengklaim proposal penelitian yang diajukan para ilmuwan semakin sulit mendapatkan persetujuan.

“Proposal penelitian mereka sulit disetujui. Padahal mereka meneliti untuk Indonesia,” lanjutnya.

Pernyataan Rommi tersebut menjadi sorotan karena BRIN merupakan lembaga yang memiliki posisi strategis dalam pengembangan riset dan inovasi nasional. BRIN dibentuk untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas penelitian pemerintah dan menjadi salah satu institusi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

Di sisi lain, persoalan anggaran BRIN memang sempat menjadi pembahasan di parlemen. Pada 2025, BRIN mengajukan tambahan anggaran sebesar Rp4,63 triliun, termasuk peningkatan signifikan untuk program riset dan inovasi.

Sementara itu, BRIN pada awal 2026 menyatakan memiliki sejumlah alokasi anggaran untuk mendukung program riset dan inovasi. Salah satunya, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi mengelola anggaran sekitar Rp391,9 miliar untuk pendanaan riset, kolaborasi, dan kegiatan terkait.

Sebelumnya, Kepala BRIN juga pernah menyatakan bahwa efisiensi anggaran yang dilakukan lembaganya lebih menyasar biaya operasional dan manajemen, bukan kegiatan penelitian. BRIN menyebut tidak ada penelitian yang tertunda akibat kebijakan tersebut.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pegiat media sosial Nicho Silalahi melontarkan kritik keras kepada PDI Perjuangan (PDIP) terkait peringatan peristiwa Kudatuli. Menurutnya, partai tersebut dinilai melupakan para pejuang dan korban yang dahulu mempertaruhkan segalanya demi mendukung kepemimpinan Megawati Soekarnoputri ketika berada di tampuk kekuasaan.

Melalui pernyataannya, Nicho menilai semangat perjuangan yang pernah ditunjukkan para pendukung Megawati pada masa konflik internal PDI kini tidak lagi mendapat perhatian yang layak.

“Saat tidak berkuasa mereka memperingati peristiwa Kudatuli dengan menggunakan atribut bertuliskan Pro Mega, tapi saat berkuasa mereka melupakan orang-orang yang berani mengorbankan segalanya untuk mendukung Mega,” ujar Nicho, Sabtu (1/7/2026).

Ia juga menyinggung perlawanan yang terjadi dalam Kongres Medan serta aksi “Cap Darah Pro Mega” di Lapangan Merdeka Medan yang, menurutnya, menjadi bagian penting dari sejarah lahirnya peristiwa Kudatuli.

Menurut Nicho, perjuangan para aktivis dan simpatisan Pro Mega pada masa itu seharusnya tidak hanya dikenang melalui seremoni tahunan, tetapi juga diwujudkan dalam penghormatan terhadap para korban dan pelaku sejarah yang terlibat langsung dalam perjuangan politik tersebut.

Pernyataan Nicho muncul di tengah momentum peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli. Pada akhir Juli 2026, PDIP menggelar rangkaian acara peringatan, termasuk peresmian Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban peristiwa 27 Juli 1996.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari DPP PDIP terkait kritik yang disampaikan Nicho Silalahi.

MoneyTalk.id, Jakarta – Program Bocor Alus Tempo yang ditayangkan pada Sabtu (4/7/2026) mengungkap adanya dugaan koordinasi politik di balikl serangan sejumlah politikus partai pendukung pemerintah terhadap PDI Perjuangan (PDIP).

Dalam episode bertajuk “Cara Pemerintah Prabowo Membendung Unjuk Rasa MBG”, Bocor Alus Tempo mengklaim memperoleh informasi dari seorang politikus yang menyebut adanya instruksi untuk menyerang PDIP. Menurut sumber tersebut, arahan itu disebut berasal dari “lantai 4 DPR”, yang merujuk pada ruang kerja Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.

Namun, saat dimintai konfirmasi oleh Tempo, Dasco membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah memberikan perintah kepada politikus partai-partai pendukung pemerintah untuk menyerang PDIP.

Dalam ulasan Bocor Alus Tempo, disebutkan pula bahwa Partai Gerindra berupaya menjaga jarak dari narasi penyerangan terhadap PDIP. Salah satu pertimbangannya adalah hubungan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang dinilai masih terjalin baik.

Tempo menggambarkan strategi tersebut sebagai upaya agar Gerindra tetap dipersepsikan berada di posisi netral dalam dinamika politik antara koalisi pemerintah dan PDIP. Klaim tersebut merupakan hasil pelaporan Tempo.

Isu ini mencuat di tengah meningkatnya dinamika politik nasional menyusul kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut evaluasi kebijakan pemerintah. Dalam beberapa pekan terakhir, DPR juga menjadi lokasi penyampaian aspirasi mahasiswa terkait pelaksanaan program MBG.

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari PDI Perjuangan terkait isi laporan Bocor Alus Tempo tersebut. Sementara itu, bantahan Dasco menjadi satu-satunya respons langsung dari pihak yang disebut dalam laporan tersebut.