7 November 2026

Muhammad Qodari

Pamer Kemewahan, FORMASI Desak Deputi I Bakom Fahd Pahdepie Mundur

 

Polemik gaya hidup mewah pejabat Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI kembali menjadi sorotan. Setelah Deputi II Bakom, Timothy Ivan Triyono, mengundurkan diri akibat kontroversi unggahan di media sosial, kini giliran Deputi I Bakom, Fahd Pahdepie, yang didesak mundur dari jabatannya.

Desakan tersebut disampaikan Ketua Umum Forum Aliansi Masyarakat Antikorupsi (FORMASI), Jalih Pitoeng. Ia menilai perilaku pejabat yang mempertontonkan kemewahan di ruang publik bertentangan dengan semangat kesederhanaan yang selama ini ditekankan Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh jajaran pemerintahan.

Menurut Jalih, pejabat negara semestinya menunjukkan keteladanan, terutama ketika pemerintah tengah mendorong efisiensi anggaran dan meminta seluruh aparatur negara lebih peka terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

“Sebagai pejabat publik, Fahd Pahdepie seharusnya memahami bahwa setiap perilaku dan aktivitasnya di media sosial menjadi perhatian masyarakat. Ketika gaya hidup mewah dipertontonkan, wajar jika publik mempertanyakan sensitivitas dan keteladanan seorang pejabat negara,” demikian sikap Jalih Pitoeng yang disampaikan kepada wartawan, Ahad (4/10/2026).

Ia menegaskan, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut hak pribadi seseorang untuk menikmati hasil kerja atau kekayaannya. Namun, ketika seseorang telah menerima amanah sebagai pejabat publik, terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga kepatutan dan kepercayaan masyarakat.

Desakan FORMASI terhadap Fahd Pahdepie muncul setelah Timothy Ivan Triyono resmi mengundurkan diri dari jabatan Deputi II Bidang Materi dan Diseminasi Bakom RI pada Jumat (2/10/2026).

Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, membenarkan pengunduran diri tersebut. Dalam keterangannya, Qodari menyebut Timothy mengambil keputusan untuk melakukan introspeksi diri dan menata langkah ke depan agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Sebelumnya, Qodari juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kelalaiannya mengingatkan jajaran Bakom mengenai gaya hidup mewah. Ia mengaku telah menegur Timothy dan mengingatkan Fahd serta seluruh deputi agar lebih membatasi diri dalam menampilkan gaya hidup di media sosial.

Bagi Jalih Pitoeng, langkah pengunduran diri Timothy semestinya menjadi pelajaran penting bagi seluruh pejabat pemerintah, termasuk Fahd Pahdepie.

Ia menilai kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui narasi komunikasi pemerintah, tetapi harus dibuktikan melalui perilaku dan keteladanan para pejabatnya.

“Jangan sampai pemerintah sibuk mengampanyekan kesederhanaan, sementara perilaku pejabatnya justru menimbulkan kesan sebaliknya. Rakyat membutuhkan keteladanan, bukan hanya slogan,” tegas Jalih.

Jalih juga menyoroti pentingnya konsistensi antara pesan politik Presiden Prabowo Subianto dan perilaku para pembantunya di pemerintahan.

Menurutnya, arahan Presiden mengenai efisiensi, penghematan, dan kesederhanaan seharusnya diterjemahkan secara nyata oleh seluruh pejabat negara, baik dalam pelaksanaan tugas kedinasan maupun dalam perilaku di ruang publik.

Apalagi, Bakom RI memiliki tugas strategis dalam mengomunikasikan kebijakan dan program pemerintah kepada masyarakat. Karena itu, integritas dan kredibilitas para pejabatnya menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan publik.

Fahd Pahdepie sendiri menjabat sebagai Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Bakom RI sejak April 2026. Posisi tersebut menempatkannya dalam jajaran pimpinan lembaga yang bertanggung jawab mengoordinasikan strategi komunikasi pemerintah.

Jalih berpandangan, pejabat yang bertugas membangun citra dan menyampaikan pesan pemerintah seharusnya menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai yang dikampanyekan.

“Kalau ingin masyarakat percaya terhadap pesan pemerintah, maka pejabatnya harus terlebih dahulu memberikan contoh. Jangan sampai terjadi kesenjangan antara apa yang disampaikan kepada rakyat dengan apa yang dipertontonkan oleh pejabatnya sendiri,” ujarnya.

Atas dasar itu, FORMASI mendesak Fahd Pahdepie untuk mempertimbangkan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab moral atas polemik yang berkembang.

Jalih menegaskan bahwa desakan tersebut merupakan bagian dari kontrol sosial masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan, bukan serangan pribadi terhadap individu tertentu.

Menurutnya, langkah tegas diperlukan agar polemik gaya hidup mewah pejabat tidak terus berulang dan menjadi preseden buruk bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Jabatan publik adalah amanah, bukan panggung untuk mempertontonkan kemewahan. Ketika kepercayaan masyarakat mulai dipertanyakan, seorang pejabat harus berani melakukan evaluasi diri, bahkan mundur jika memang diperlukan,” pungkas Jalih Pitoeng.

MoneyTalk.id,Jakarta – Tiga puluh enam tahun perjalanan Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA) mempertemukan kembali aktivis lintas generasi dalam Reuni dan Silaturahmi 36 Tahun HUMANIKA di Cerita Rasa Nusantara, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Mengusung tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dengan tagline #AktivisSepanjangMasa, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus refleksi perjalanan organisasi yang lahir pada 1990 dan berkembang dalam dinamika gerakan masyarakat sipil Indonesia.

Sejumlah aktivis yang kini berkiprah di berbagai bidang hadir dalam acara tersebut. Di antaranya pendiri HUMANIKA yang kini menjabat Bupati Lahat Bursah Zarnubi, aktivis senior Malari Hariman Siregar, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kepala Badan Komunikasi Kantor Presiden Muhammad Qodari, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Fauzi Amro, Puadi, Iwan Sumule, Hakim Mahkamah Agung Erwin Partogi, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. Ma’mun Murod Al-Barbasy.

Namun, salah satu isu yang mencuri perhatian dalam reuni tersebut adalah pandangan politik Bursah Zarnubi mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bursah yang merupakan pendiri sekaligus Ketua pertama HUMANIKA secara terbuka menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan pemerintahan Prabowo.

Menurut Bursah, pemerintahan Prabowo perlu diberikan kesempatan menjalankan siklus pemerintahan selama lima tahun dan, dalam pandangannya, dilanjutkan hingga dua periode.

“Pak Prabowo kan mesti dua periode gitu loh maksudnya. Dan ini mesti kita dukung, enggak boleh kita jatuhkan sebelum dia berhasil,” ujar Bursah dalam acara tersebut.

Ia meminta pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan Prabowo untuk bersabar dan memberikan ruang bagi pemerintahan menyelesaikan agenda yang telah dijalankan.

“Minimal siklus lima tahun itu dijaga. Kita mesti siklus lima tahun dipertahankan. Enggak boleh jatuh bangun, jatuh bangun, demokrasi nanti rusak,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan politik yang muncul di tengah pertemuan aktivis HUMANIKA dari berbagai generasi.

Bursah menempatkan stabilitas pemerintahan sebagai salah satu prasyarat agar agenda pembangunan dan pengelolaan sumber daya ekonomi dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Selain persoalan keberlanjutan pemerintahan, Bursah juga menyoroti agenda ekonomi yang dikaitkannya dengan Pasal 33 UUD 1945.

Ia menilai pemerintahan Prabowo memiliki pekerjaan besar dalam mengubah pengelolaan kekayaan nasional.

“Tapi saya berpandangan itu dia ada tugas besar yang menurut saya belum pernah digagas oleh Presiden sebelumnya. Revolusi Pasal 33,” kata Bursah.

Menurut dia, agenda tersebut perlu diarahkan agar kekayaan nasional dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Bursah juga berharap pemerintahan Prabowo mampu mengubah struktur penguasaan kekayaan nasional yang menurut pandangannya selama ini terlalu banyak berada di tangan kelompok oligarki.

“Kita tunggu beberapa tahun ke depan ini mudah-mudahan kita akan kaya. Dan kasih kesempatan Pak Prabowo untuk mengambil alih kekayaan dari oligarki yang serakah ini,” ujarnya.

Dalam laporan lain mengenai acara tersebut, Bursah juga mengaitkan gagasan perubahan ekonomi dengan kebutuhan Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap. Ia menilai regenerasi HUMANIKA perlu melibatkan anak muda yang mampu mendorong percepatan transformasi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Wakil Ketua Dewan Pembina HUMANIKA sekaligus Ketua Umum kedua, Andrianto, mengingatkan kembali sejarah panjang organisasi tersebut.

HUMANIKA berdiri pada 18 September 1990, dalam situasi politik Orde Baru ketika ruang gerak organisasi mahasiswa dan kelompok kritis menghadapi berbagai pembatasan.

Dari kelompok studi dan diskusi intelektual, HUMANIKA kemudian berkembang menjadi salah satu simpul aktivisme yang terlibat dalam dinamika gerakan menjelang Reformasi 1998.

Andrianto menilai Reformasi 1998 tidak dapat dilepaskan dari rangkaian gerakan yang telah tumbuh jauh sebelumnya.

“Gerakan ’98 itu tidak bisa dikatakan gerakan murni dari teman-teman ’98 saja,” ujarnya.

Karena itu, menurut Andrianto, perjalanan HUMANIKA selama 36 tahun harus dipahami sebagai mata rantai gerakan lintas generasi.

Ia juga menegaskan bahwa HUMANIKA tetap menempatkan konstitusi sebagai salah satu pijakan dalam perjalanan organisasinya.

Dalam forum tersebut, Andrianto menyampaikan pandangannya bahwa sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih sejalan dengan agenda menjalankan amanat UUD 1945.

Reuni 36 tahun HUMANIKA tidak hanya diisi dengan pembicaraan mengenai politik dan kebijakan pemerintah. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan kembali aktivis yang selama puluhan tahun telah menempuh jalan pengabdian masing-masing.

Ada yang kemudian masuk ke pemerintahan, parlemen, lembaga negara, dunia akademik, organisasi masyarakat maupun berbagai profesi lainnya.

Aktivis senior Hariman Siregar turut memberikan kata penutup dalam acara tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah gerakan masyarakat sipil dan perjalanan aktivisme di Indonesia.

Sejumlah tokoh lain yang hadir antara lain Trimedya Panjaitan, Hamid Basyaib, Arif Rahman, Puti Haryanto, Puadi, Andi Arief, Umar Juoro, Herdi Sahrasad, Ariadi Ahmad, Haris Moty, Hatta Taliwang, Kisman Latumakila, Andi Rahmat, Effendi Choirie, Sri Melyana dan sejumlah aktivis lainnya.

Pertemuan lintas generasi itu memperlihatkan bagaimana jaringan HUMANIKA yang dibangun sejak 1990 masih bertahan hingga hari ini. Laporan mengenai kegiatan tersebut juga mencatat adanya pemutaran video testimoni dari sejumlah tokoh yang pernah terlibat dalam perjalanan HUMANIKA.

Bagi HUMANIKA, usia 36 tahun bukan hanya penanda bertambahnya umur organisasi. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan gerakan, mempertahankan solidaritas dan membuka ruang kolaborasi baru.

Dari kelompok studi pada awal 1990-an, dinamika menjelang Reformasi 1998, hingga aktivisme lintas profesi pada masa kini, HUMANIKA berupaya mempertahankan jejaring yang telah terbentuk selama lebih dari tiga dekade.

Tema “Solidaritas, Sinergi, Kolaborasi” dan tagline #AktivisSepanjangMasa pun menjadi penanda bahwa bagi para aktivisnya, perjalanan organisasi tidak berhenti pada satu generasi.

MoneyTalk.id,Jakarta – Penunjukan Muhammad Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) sekaligus bagian dari tim juru bicara pemerintah Presiden Prabowo Subianto menuai sorotan. Kritik salah satunya datang dari mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu.

Melalui unggahannya di media sosial, Said Didu melontarkan kritik keras terhadap gaya komunikasi pejabat pemerintah. Ia menyebut, “Beginilah kalau yang bermental jurumaki Qodari, Kepala Bakom, diangkat jadi jubir—akhirnya banyak #asalmangap yang memalukan Presiden dan bangsa Indonesia.”

Pernyataan tersebut merupakan kritik dan penilaian Said Didu, bukan fakta yang telah dibuktikan secara independen.

Secara faktual, Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Qodari sebagai Kepala Bakom RI di Istana Negara, Jakarta, pada 27 April 2026. Qodari menggantikan Angga Raka Prabowo. Pelantikan itu tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 51/P Tahun 2026.

Sebelum menduduki jabatan tersebut, Qodari merupakan Kepala Staf Kepresidenan. Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan sebelum kemudian menjadi Kepala KSP pada September 2025. Dengan pelantikan sebagai Kepala Bakom, Qodari tercatat telah tiga kali mendapatkan penugasan dalam pemerintahan Prabowo.

Qodari sendiri mengakui bahwa tugas barunya bukan pekerjaan ringan. Seusai pelantikan, ia mengatakan tanggung jawabnya semakin besar karena banyak program strategis pemerintah yang harus dijelaskan kepada masyarakat.

Ia juga menyatakan akan mendorong komunikasi pemerintah agar semakin baik melalui kerja sama dengan kementerian, lembaga, dan media massa.

Dalam struktur komunikasi pemerintah, Qodari juga masuk dalam tim yang menyampaikan informasi mengenai kebijakan dan program Presiden Prabowo. Sejumlah pejabat lain juga memiliki peran komunikasi, termasuk Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Qodari sebelumnya mengatakan bahwa secara kelembagaan fungsi juru bicara pemerintah melekat dengan Bakom. Namun, Presiden juga telah memiliki sejumlah pejabat yang menjalankan fungsi komunikasi kepada publik.

Kritik Said Didu tersebut muncul di tengah perdebatan mengenai efektivitas komunikasi publik pemerintahan Prabowo.

Sorotan terhadap tim komunikasi pemerintah bukan hanya datang dari Said Didu. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Lili Romli sebelumnya menilai pemerintah memang menghadapi persoalan dalam membangun komunikasi publik.

Menurut Lili, bongkar pasang personel komunikasi menunjukkan adanya persoalan dalam komunikasi pemerintah. Ia juga mempertanyakan apakah figur-figur yang kembali ditempatkan dalam tim komunikasi mampu memperbaiki persoalan tersebut.

Pengamat lain juga menilai komunikasi Presiden selama ini belum optimal karena terlalu banyak pihak yang menyampaikan pesan pemerintah sehingga pesan yang diterima masyarakat berpotensi tidak seragam.

Posisi Qodari menjadi strategis karena Bakom RI bertugas mengorkestrasi komunikasi pemerintah. Tantangannya semakin besar di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, terutama karena media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan opini publik.

Qodari sendiri menyebut banyaknya program pemerintah sebagai salah satu tantangan utama. Ia mengatakan berbagai program tersebut perlu dijelaskan kepada masyarakat, termasuk latar belakang dan tujuan kebijakan.

Dengan demikian, kritik Said Didu terhadap Qodari memperlihatkan bahwa penunjukan pejabat komunikasi pemerintah bukan sekadar persoalan pergantian jabatan. Kinerja komunikasi Bakom akan menjadi salah satu faktor yang menentukan bagaimana kebijakan Presiden Prabowo dipahami publik

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, melontarkan kritik tajam terkait komunikasi Istana di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Melalui unggahan di media sosial X pada Jumat (29/5/2026), Said Didu menilai serangan terhadap Prabowo semakin menguat, namun dua figur yang disebutnya sebagai “Jokower”, yakni Muhammad Qodari dan Hasan Nasbi, justru memilih diam.

“Serangan ke PS makin kencang, tapi 2 Jokower (Qodari dan Hasan Nasbi) yang bertanggung jawab atas komunikasi Istana diam seribu bahasa, termasuk banpres untuk kurban,” tulis Said Didu dalam unggahannya.

Ia kemudian mempertanyakan sikap diam tersebut dan mengaitkannya dengan sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

“Apakah karena junjungan mereka (Jokowi) melakukan hal yang sama sehingga mereka diam agar yang dianggap salah hanya PS?” lanjutnya.

Unggahan itu pun langsung memantik reaksi luas dari warganet. Sejumlah nitizen ramai memberikan komientar, baik yang mendukung maupun yang mengkritik pernyataan Said Didu.

Sebagian netizen menilai komunikasi publik Istana memang lemah dalam merespons isu-isu sensitif yang berkembang di masyarakat, termasuk polemik bantuan presiden untuk hewan kurban. Namun ada pula yang menilai kritik Said Didu bernuansa politis dan dapat memperkeruh suasana politik nasional.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Hasan Nasbi maupun Muhammad Qodari terkait pernyataan tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Pengangkatan sejumlah nama baru dalam jajaran Dewan Komisaris PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Di antara yang disoroti, adalah masuknya dua tokoh yang selama ini dikenal publik sebagai pelaku survei politik, yakni Denny Januar Ali (Denny JA) dan Muhammad Qodari.

Denny JA ditunjuk sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PHE. Sedangkan Muhammad Qodari bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, juga dilantik sebagai Komisaris di anak usaha strategis Pertamina itu.

Penunjukan ini sontak mengundang reaksi publik, terutama dari tokoh-tokoh nasional. Juru Bicara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie M Massardi, melontarkan sindiran halus namun menohok.

“Beri aku 10 Pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia. Beri aku 10 Tukang Survei, akan kuguncangkan BUMN,” ujar Adhie dengan gaya khasnya.

Sindiran Adhie seolah menggambarkan kekesalan atas praktik bagi-bagi jabatan yang terkesan tidak mempertimbangkan kapasitas profesional dan pengalaman sektor energi.

Tak berselang lama, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, ikut bersuara lebih keras. Ia menyebut PHE sebagai “anak perusahaan surga” bagi para komisaris.

“PHE itu sering kami istilahkan sebagai anak perusahaan surga. Karena tanpa kerja apapun, sudah bisa dapat untung. Tinggal keruk sebagian besar keuntungan Pertamina,” ucap Said Didu menohok.

Penunjukan para komisaris dari kalangan surveior politik ini dikhawatirkan memperkuat kesan bahwa jabatan strategis di BUMN semakin dipolitisasi dan dijadikan ajang balas jasa kekuasaan, bukan murni berdasarkan profesionalisme.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pertamina belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik yang mengemuka dari publik.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam perbincangan yang ditayangkan oleh Tribunnews pada Selasa (15/10), Muhammad Qodari, seorang pengamat politik yang dikenal dengan julukan Mr. Q, mengungkapkan pandangannya mengenai potensi kabinet Prabowo dan isu-isu yang mengemuka terkait partai politik. Diskusi ini mencerminkan kompleksitas dinamika politik Indonesia pasca pemilu, khususnya terkait peran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam pemerintahan yang akan datang.

Qodari memulai dengan menyoroti tantangan yang dihadapi Prabowo Subianto, presiden terpilih, dalam menjalin komunikasi dengan PDIP. Menurutnya, situasi ini bukan hanya masalah antara Prabowo dan PDIP, tetapi juga berkaitan dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dan tokoh lain seperti Taufik Kiemas yang menjadi penghalang bagi terwujudnya sinergi dalam pemerintahan.

“Kalau Pak Prabowo sebagai presiden terpilih, saya tidak bisa membayangkan bagaimana PDIP yang kalah dalam pemilu akan meminta kursi kabinet. Ini menggelikan,” tegas Qodari.

Dia menekankan bahwa hingga saat ini, PDIP belum menarik gugatan yang diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait pencalonan Gibran Rakabuming Raka, yang dinilai menunjukkan ketidakpuasan partai terhadap proses pemilu.

Qodari juga membahas pemanggilan tokoh-tokoh yang dilakukan oleh Prabowo setelah pemilihan. Dia mencatat bahwa proses ini adalah bagian dari penyusunan kabinet yang relatif terbuka bagi publik, berbeda dengan proses penyusunan nomenklatur kementerian yang biasanya dilakukan secara tertutup.

“Kita sedang menyaksikan satu tahapan dari proses penyusunan kabinet, di mana calon-calon menteri mulai diperkenalkan kepada publik,” ujarnya.

Fenomena ini menurutnya, bukanlah hal baru dalam politik Indonesia. Dia membandingkan dengan pengalaman di masa lalu ketika presiden-presiden sebelumnya melakukan pendekatan serupa dalam membentuk kabinet. Namun, Qodari menegaskan bahwa langkah Prabowo ini bertujuan untuk memperlihatkan transparansi dan meminta reaksi publik terhadap calon-calon yang diajukan.

Di tengah persiapan kabinet, Qodari mencatat bahwa ada beberapa nama yang mencuri perhatian. Salah satunya adalah Veronika Tan, yang diusulkan sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Qodari melihat bahwa meskipun Veronika bukan sosok baru, kehadirannya dalam kabinet menunjukkan keinginan Prabowo untuk mendekatkan diri pada isu-isu sosial yang sensitif.

“Prabowo ingin menunjukkan kepedulian terhadap isu perempuan dan anak, yang bisa jadi adalah harapan untuk membangun citra positif di mata masyarakat,” ungkapnya.

Dia juga mencatat bahwa beberapa tokoh yang dipanggil sudah diminta untuk menandatangani surat pernyataan integritas sebelumnya, menunjukkan bahwa mereka telah melewati proses seleksi yang ketat sebelum diperkenalkan ke publik.

Qodari menyadari bahwa penyusunan kabinet yang melibatkan banyak menteri bisa menimbulkan kritik. Beberapa pihak berpendapat bahwa banyaknya menteri berpotensi mengganggu efisiensi dan efektivitas pemerintahan. Namun, Qodari menjelaskan bahwa jika ditangani dengan baik, pendekatan ini bisa membawa keuntungan, terutama dalam menangani permasalahan yang kompleks.

“Dengan memiliki banyak kementerian, Prabowo berharap bisa menangani masalah-masalah besar yang selama ini tidak terlayani dengan baik. Ini bisa jadi langkah strategis untuk mengatasi isu-isu yang mendesak di masyarakat,” katanya.

Muhammad Qodari menggambarkan tantangan dan harapan dalam formasi kabinet Prabowo. Di satu sisi, terdapat kekhawatiran terkait dinamika hubungan antara Prabowo dan PDIP, sementara di sisi lain, ada harapan bahwa kabinet yang dibentuk dapat lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dengan pelantikan yang akan datang, semua mata akan tertuju pada bagaimana Prabowo dan timnya akan menavigasi tantangan politik ini dan membangun pemerintahan yang solid dan efektif.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam pernyataan yang tayang di Tribunnews pada Selasa, 15 Oktober 2024, Muhammad Qodari (Mr. Q) memberikan pandangan menarik mengenai dinamika politik saat ini. Terutama menjelang pembentukan kabinet baru di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Qodari menyoroti berbagai isu, termasuk pemilihan Natalius Pigai sebagai menteri, hubungan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan fenomena yang muncul dari Partai Nasdem. Situasi ini akan menggali lebih dalam pernyataan Qodari serta implikasinya terhadap politik Indonesia.

Natalius Pigai dan Isu HAM

Salah satu nama yang disebutkan dalam pernyataan Qodari adalah Natalius Pigai, mantan anggota Komnas HAM yang dikenal dengan komitmennya terhadap hak asasi manusia. Qodari mencatat bahwa Pigai memiliki latar belakang yang kuat dalam isu-isu HAM, terutama yang berkaitan dengan Papua. Dalam konteks ini, pemilihan Pigai dapat dipandang sebagai langkah untuk menjawab dua isu penting, yaitu penyelesaian masalah HAM dan masalah di Papua.

Qodari menekankan bahwa Pigai telah menjalin kedekatan dengan Prabowo selama ini, yang dapat menguntungkan dalam misi kabinet untuk menangani isu-isu tersebut. Menurut Qodari, keputusan ini juga mencerminkan pergeseran perhatian dari Kementerian Hukum ke lembaga-lembaga lain yang terlibat dalam HAM, imigrasi, dan pemasyarakatan.

Hubungan PDI-P dan Prabowo

Kehadiran Pramono Anung, calon Gubernur DKI Jakarta, dalam percakapan politik menjelang pembentukan kabinet menjadi sorotan berikutnya. Qodari mengungkapkan bahwa pertemuan antara Prabowo dan PDI-P masih sulit dicapai. Ia menilai, selama ini belum ada kesepakatan yang jelas antara kedua belah pihak mengenai pembagian kursi dalam kabinet.

Qodari menunjukkan bahwa dalam dinamika politik, partai yang kalah biasanya mendapatkan satu atau dua kursi menteri, sedangkan yang menang bisa mendapatkan lebih banyak. Namun, dengan pendekatan Prabowo yang mungkin lebih ekstrem, situasi ini bisa berbeda. PDI-P, yang belum pernah menarik gugatan yang diajukan ke PTUN terkait pencalonan Gibran sebagai wakil presiden, juga menjadi masalah tersendiri.

Qodari menekankan pentingnya pertemuan antara Prabowo dan Megawati untuk menciptakan kesepakatan politik yang solid. Ia berpendapat bahwa komunikasi yang terjalin dengan baik antara kedua pemimpin partai sangat krusial untuk membentuk kabinet yang koheren.

Nasdem dan Strategi Politik

Fenomena menarik lainnya yang disampaikan Qodari adalah sikap Partai Nasdem, yang tampaknya tidak mengusulkan nama-nama untuk posisi menteri. Pernyataan Surya Paloh yang menyebutkan “kapok” dalam konteks memiliki kader yang menjadi menteri menunjukkan kekecewaannya terhadap pengalaman sebelumnya.

Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa Nasdem sedang memikirkan kembali strategi politiknya, mungkin dengan mempertimbangkan peran mereka dalam pemerintahan baru. Qodari mengamati bahwa Nasdem tidak ingin terjebak dalam situasi yang sama di mana kadernya diharapkan memberikan dukungan, tetapi tidak mendapatkan imbalan yang sepadan.

Pernyataan Muhammad Qodari memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika politik Indonesia menjelang pembentukan kabinet baru. Dengan fokus pada pemilihan Natalius Pigai, hubungan antara PDI-P dan Prabowo, serta sikap Partai Nasdem, Qodari menyoroti tantangan dan peluang yang dihadapi oleh pemerintahan baru.

Ke depannya, bagaimana Prabowo dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan partai-partai lain terutama PDI-P dan Nasdem? Bagaimana isu-isu HAM dapat ditangani dengan lebih efektif akan menjadi perhatian utama dalam politik Indonesia? Dalam konteks ini, kejelasan komunikasi dan kesepakatan politik antar partai sangat penting untuk memastikan stabilitas dan keberhasilan kabinet yang akan datang.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam tayangan Tribunnews pada Selasa, 15 Oktober 2024, Muhammad Qodari, atau yang akrab disapa Mr. Q, memberikan analisis menarik mengenai situasi politik menjelang pelantikan Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Qodari menyoroti keputusan Presiden Jokowi dalam memilih anggota kabinet, kedekatannya dengan para menteri, dan bagaimana hal ini akan berpengaruh pada dinamika politik ke depan. Artikel ini akan mengupas secara mendalam pernyataan Qodari, memberikan konteks dan penjelasan terkait pernyataan-pernyataan yang disampaikan.

Pemilihan Anggota Kabinet

Salah satu poin penting yang disampaikan Qodari adalah bahwa pemilihan anggota kabinet oleh Jokowi tidak sekadar didasarkan pada rekomendasi, tetapi juga berdasarkan pada penilaian kinerja dan hubungan pribadi. Ia menyebutkan bahwa dari 15 orang yang dipanggil, hampir separuh merupakan kader partai. Menurutnya, Jokowi memiliki cara pandang yang lebih luas dalam menentukan siapa yang layak untuk menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan.

Qodari menekankan pentingnya variabel-variabel seperti kedekatan dengan Jokowi dan kinerja yang telah ditunjukkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa Presiden Jokowi tidak hanya mengandalkan rekomendasi dari partai, melainkan juga mengedepankan kompetensi dan hubungan baik. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa kabinet yang terbentuk akan mampu bekerja secara efektif, terutama dalam mendukung program-program pemerintah yang akan datang.

Kunjungan ke IKN dan Respons Publik

Dalam pernyataannya, Qodari juga mengungkapkan pandangannya tentang kunjungan Jokowi ke Ibu Kota Nusantara (IKN) setelah masa kepresidenannya. Ia mempertanyakan mengapa kunjungan tersebut dianggap kontroversial. Menurutnya, kunjungan Jokowi ke IKN adalah hal yang wajar, bahkan bisa diartikan sebagai bentuk nostalgia. Dalam konteks ini, Qodari berargumen bahwa semua orang, termasuk mantan presiden, berhak untuk mengunjungi tempat yang memiliki makna khusus bagi mereka.

Qodari berpendapat bahwa kunjungan tersebut seharusnya tidak menjadi masalah dan menunjukkan bahwa Jokowi tetap peduli terhadap perkembangan IKN meski telah selesai menjabat. Ia berpendapat bahwa kritik yang muncul lebih bersifat subjektif dan mungkin berasal dari pihak-pihak yang tidak puas dengan kebijakan Jokowi selama ini.

Masa Depan Jokowi Pasca-Kepresidenan

Qodari kemudian membahas tentang rencana Jokowi setelah pelantikan Prabowo pada tanggal 20 Oktober 2024. Ia menjelaskan bahwa Jokowi kemungkinan besar akan tetap terlibat dalam berbagai aktivitas sebagai warga negara biasa, seperti blusukan ke berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi akan tetap berkontribusi kepada masyarakat, meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Qodari juga menyebutkan, ada spekulasi tentang kemungkinan Jokowi bergabung dengan partai politik atau menjadi anggota Wantimpres (Dewan Pertimbangan Presiden). Meskipun begitu, ia menekankan bahwa Jokowi hingga kini belum menunjukkan keinginan untuk terlibat secara formal dalam politik.

Pernyataan Muhammad Qodari dalam tayangan Tribunnews memberikan gambaran yang lebih dalam tentang dinamika politik Indonesia menjelang pelantikan Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya penilaian terhadap kinerja dan hubungan pribadi dalam memilih anggota kabinet, serta menanggapi kritik terhadap kunjungan Jokowi ke IKN dengan pendekatan yang lebih rasional. Qodari memberikan gambaran tentang masa depan Jokowi, yang tampaknya akan tetap aktif dalam kegiatan sosial dan politik, meskipun tidak secara formal.

Dengan analisis ini, kita dapat memahami bahwa politik Indonesia terus berkembang, dan peran mantan presiden serta hubungan antar tokoh politik akan sangat berpengaruh pada arah kebijakan dan stabilitas politik ke depan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Muhammad Qodari, atau lebih dikenal sebagai Mr. Q, dalam wawancara terbarunya di Cokro TV pada Rabu (18/09), membahas beberapa isu panas yang sedang berkembang di Indonesia saat ini. Salah satu topik utama yang disoroti adalah kunjungan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, ke KPK untuk memberikan klarifikasi terkait penggunaan private jet yang sempat menjadi perbincangan publik.

Mr. Q memulai pembahasannya dengan mengomentari langkah Kaesang yang secara sukarela datang ke KPK. ini adalah langkah yang sangat penting dan menunjukkan keberanian Kaesang untuk membalikkan persepsi publik. Meskipun Kaesang bukan pejabat publik dan tidak memiliki kewajiban untuk melapor ke KPK, dan tetap memilih untuk hadir dan memberikan klarifikasi.

Sebetulnya kata Mr. Q  bahwa Kaesang tidak memenuhi syarat untuk diwajibkan mengisi formulir laporan kekayaan di KPK karena bukan merupakan pejabat negara.

Selain itu ada masalah yang lebih luas mengenai fenomena “trial by the press” dan peran media sosial dalam menyebarkan informasi yang kurang akurat atau menyesatkan.

Dalam hal ini, Banyak media yang dengan mudah menarik kesimpulan yang salah tanpa melakukan verifikasi yang mendalam. Kasus Kaesang, menurutnya, menjadi contoh nyata di mana persepsi publik dibentuk berdasarkan informasi yang belum tentu valid ujar Mr.Q

Contohnya KPK tidak pernah menyatakan bahwa pemilik private jet yang digunakan Kaesang tidak ikut dalam perjalanan. Tapi Informasi ini muncul karena adanya spekulasi yang berkembang di media sosial.

Dan informasi ini sangat berbahaya karena dapat menciptakan persepsi yang salah dan merusak reputasi seseorang tanpa dasar yang jelas, jelas Mr.Q

Nebeng Private Jet dianggap sebagai Sebuah Kebiasaan Wajar, Lebih lanjut, Mr. Q menjelaskan bahwa perjalanan Kaesang dengan private jet bukanlah sesuatu yang luar biasa atau mencurigakan. Dalam kasus ini, Kaesang hanya “nebeng” atau menumpang pada teman yang kebetulan memiliki pesawat pribadi.

Dan nebeng Private Jet adalah praktik umum, tidak hanya di kalangan orang-orang kaya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat biasa. Perbedaan utamanya hanya terletak pada jenis kendaraan, apakah itu sepeda motor, mobil, atau dalam kasus ini, pesawat jet tambah Mr.Q

Dan seharusnya Publik tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, karena esensinya hanyalah seorang teman yang memberi tumpangan kepada temannya, tanpa ada unsur kejahatan atau pelanggaran hukum, kata Mr.Q.(C@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam acara “Unpacking Indonesia” yang ditayangkan pada Minggu (15/09), Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari (Mr. Q), membahas pandangannya tentang dua tokoh penting dalam politik Indonesia: Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Menurut Mr. Q, survei pada pemilu 2014 menyoroti bahwa Jokowi diunggulkan berkat citranya yang “merakyat”, sementara Prabowo terkenal dengan karakternya yang “tegas.”

Mr. Q menjelaskan bahwa 95% pemilih yang menginginkan pemimpin yang merakyat memilih Jokowi. Gaya blusukan yang sudah menjadi ciri khas Jokowi, sejak menjadi Walikota Solo hingga Presiden, dianggapnya sebagai salah satu faktor penting. Blusukan ini, kata Qodari, bukan hanya kegiatan simbolis, tetapi juga menjadi sumber energi bagi Jokowi untuk terus bekerja tanpa lelah. Setiap interaksi dengan rakyat membuat Jokowi terlihat alami dan tulus, sebuah keunikan yang jarang dimiliki pemimpin lain.

Selain itu, Mr. Q menyoroti ketenangan Jokowi dalam menghadapi berbagai tekanan, termasuk kritik, fitnah, dan krisis. Contohnya, selama pandemi COVID-19, Jokowi menolak tekanan untuk menerapkan lockdown ketat, dengan pertimbangan melindungi rakyat kecil yang bergantung pada penghasilan harian. Keputusan-keputusan ini didasarkan pada analisis matang, menggambarkan Jokowi sebagai pemimpin yang tenang di tengah badai.

Di sisi lain, 90% pemilih yang menginginkan pemimpin tegas memilih Prabowo. Karakternya yang kuat dan ketegasan dalam pengambilan keputusan telah menjadi ciri khasnya. Prabowo sering menampilkan keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan, menjadikannya sosok yang disegani di arena politik.

Baik Jokowi maupun Prabowo memiliki karakter kepemimpinan yang kuat namun berbeda. Mereka menjadi dua figur sentral dalam politik Indonesia, yang meskipun memiliki gaya yang kontras, sama-sama memberikan pengaruh besar dalam dinamika nasional.

Jokowi juga tidak lepas dari berbagai fitnah dan caci maki selama karier politiknya. Tuduhan mulai dari PKI, ijazah palsu, hingga isu agama menghantam Jokowi sejak pemilu 2014. Namun, Mr. Q menegaskan bahwa Jokowi menghadapi semua tuduhan itu dengan ketenangan dan kepercayaan diri. Banyak dari tuduhan ini terbukti tidak benar.

Kunci dari kekuatan Jokowi, menurut Mr. Q, adalah kemampuannya untuk mengendalikan diri dan ego. Sejak menjadi Gubernur Jakarta hingga dua periode sebagai Presiden, Jokowi tidak menunjukkan perubahan gaya hidup yang signifikan. Ia tetap rendah hati dan konsisten dalam menjalankan tugasnya, terlepas dari tantangan yang dihadapi.

Baik Jokowi maupun Prabowo memiliki kualitas kepemimpinan yang kuat namun dalam bentuk yang berbeda. Jokowi dikenal dengan gaya yang merakyat dan bekerja keras, sementara Prabowo menonjol dalam ketegasan dan keberaniannya. Kedekatan Jokowi dengan rakyat melalui blusukan telah menjadi salah satu kekuatannya, menjadikannya figur yang dicintai oleh banyak orang. Selain itu, ketahanannya dalam menghadapi fitnah dan kritik, tanpa mengubah sikap atau perilaku, menambah kekaguman terhadapnya.

Mr. Q menyimpulkan bahwa salah satu keunggulan terbesar Jokowi adalah kemampuannya mengendalikan diri dan tetap fokus pada tugas sebagai pemimpin negara, yang semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh sentral dalam sejarah politik Indonesia.(c@kra)