MoneyTalk, Jakarta – Pengangkatan sejumlah nama baru dalam jajaran Dewan Komisaris PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menuai kritik tajam dari berbagai kalangan. Di antara yang disoroti, adalah masuknya dua tokoh yang selama ini dikenal publik sebagai pelaku survei politik, yakni Denny Januar Ali (Denny JA) dan Muhammad Qodari.
Denny JA ditunjuk sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PHE. Sedangkan Muhammad Qodari bersama Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, juga dilantik sebagai Komisaris di anak usaha strategis Pertamina itu.
Penunjukan ini sontak mengundang reaksi publik, terutama dari tokoh-tokoh nasional. Juru Bicara Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie M Massardi, melontarkan sindiran halus namun menohok.
“Beri aku 10 Pemuda, niscaya akan aku guncangkan dunia. Beri aku 10 Tukang Survei, akan kuguncangkan BUMN,” ujar Adhie dengan gaya khasnya.
Sindiran Adhie seolah menggambarkan kekesalan atas praktik bagi-bagi jabatan yang terkesan tidak mempertimbangkan kapasitas profesional dan pengalaman sektor energi.
Tak berselang lama, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, ikut bersuara lebih keras. Ia menyebut PHE sebagai “anak perusahaan surga” bagi para komisaris.
“PHE itu sering kami istilahkan sebagai anak perusahaan surga. Karena tanpa kerja apapun, sudah bisa dapat untung. Tinggal keruk sebagian besar keuntungan Pertamina,” ucap Said Didu menohok.
Penunjukan para komisaris dari kalangan surveior politik ini dikhawatirkan memperkuat kesan bahwa jabatan strategis di BUMN semakin dipolitisasi dan dijadikan ajang balas jasa kekuasaan, bukan murni berdasarkan profesionalisme.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pertamina belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik yang mengemuka dari publik.




