31 Oktober 2026

Nano Hendi Hartono

MoneyTalk.id,Jakarta – Pagi belum terlalu tinggi ketika sejumlah pedagang mulai menggelar dagangannya di pinggir jalan. Ada yang menjajakan gorengan, nasi uduk, kopi, pakaian, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Mereka datang dengan harapan sederhana: barang dagangan laku, uang masuk, dan kebutuhan keluarga hari itu bisa terpenuhi.

Namun, harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Kendaraan berlalu-lalang, orang berjalan silih berganti, tetapi pembeli tak kunjung ramai. Sebagian pedagang duduk menunggu sambil sesekali memandang dagangan yang masih utuh. Ada yang mencoba menawarkan barang kepada orang yang lewat. Ada pula yang hanya bisa menarik napas panjang, menghitung kemungkinan kerugian pada hari itu.

Pemandangan seperti ini semakin mudah dijumpai di berbagai sudut kehidupan masyarakat. Orang berjualan untuk menyambung hidup, tetapi hasilnya belum tentu cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Modal harus kembali, perut harus diisi, anak-anak membutuhkan biaya sekolah, sementara tagihan listrik, air, cicilan, dan kebutuhan rumah tangga terus berjalan.

Di tengah situasi tersebut, pertanyaan besar muncul: benarkah ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja ketika begitu banyak rakyat harus berjuang keras hanya untuk mempertahankan kehidupan?

Ketika Dagangan Tidak Lagi Menjamin Kehidupan

Bagi pedagang kecil, ekonomi bukanlah angka yang dibacakan dalam konferensi pers. Ekonomi adalah jumlah piring nasi yang bisa dijual dalam sehari, banyaknya barang yang dibeli pelanggan, serta uang yang tersisa setelah semua kebutuhan dibayarkan.

Seorang pedagang yang biasanya bisa membawa pulang uang untuk kebutuhan keluarga mungkin kini harus menerima kenyataan bahwa dagangannya hanya laku sebagian. Keuntungan yang diperoleh semakin tipis. Bahkan, tidak jarang uang hasil penjualan harus kembali digunakan untuk membeli bahan dagangan esok hari.

Kondisi ini menciptakan lingkaran kesulitan. Pedagang membutuhkan pembeli, tetapi pembeli juga sedang menahan pengeluaran. Ketika daya beli melemah, transaksi di pasar ikut melambat. Warung makan kehilangan pelanggan, pedagang pakaian kesulitan menjual barang, dan pelaku usaha kecil harus memutar otak agar tetap bertahan.

Pada akhirnya, masyarakat kecil saling berhadapan dengan persoalan yang sama. Penjual membutuhkan uang dari pembeli, sementara pembeli membutuhkan pendapatan yang cukup untuk berbelanja.

Bagi keluarga yang memiliki penghasilan tetap, penghematan mungkin masih bisa dilakukan dengan mengurangi belanja atau menunda pembelian barang tertentu. Namun, bagi mereka yang hidup dari pendapatan harian, persoalannya jauh lebih mendasar. Tidak ada kepastian berapa uang yang akan dibawa pulang hari ini, sedangkan kebutuhan tidak pernah menunggu.

Ketika penghasilan terus menurun, tabungan menjadi penyelamat terakhir. Uang yang dikumpulkan selama bertahun-tahun perlahan digunakan untuk membeli beras, membayar kontrakan, membiayai sekolah anak, atau memenuhi kebutuhan kesehatan.

Tabungan yang semestinya menjadi pegangan menghadapi keadaan darurat justru habis untuk menutup kebutuhan rutin. Jika keadaan berlangsung lama, masyarakat akan kehilangan bantalan keuangan yang selama ini melindungi mereka dari kesulitan yang lebih besar.

Sebagian lainnya memilih berutang. Ada yang meminjam kepada saudara, tetangga, koperasi, atau layanan pinjaman daring. Pinjaman mungkin bisa menyelesaikan masalah hari ini, tetapi tanpa kepastian pendapatan, kewajiban membayar pada masa mendatang justru berpotensi menambah beban.

Di sinilah wajah ekonomi yang perlu diperhatikan pemerintah. Bukan hanya apakah kegiatan ekonomi masih berjalan, melainkan apakah rakyat memperoleh penghasilan yang cukup untuk hidup dengan layak.

Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Nasib Pencari Kerja

Persoalan lain yang menghimpit masyarakat adalah sulitnya mencari pekerjaan. Banyak orang memiliki ijazah, mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan, mengikuti seleksi, tetapi belum memperoleh pekerjaan yang diharapkan.

Di antara mereka terdapat lulusan baru yang ingin membantu orang tua, pekerja yang kehilangan pekerjaan, hingga kepala keluarga yang harus segera mendapatkan penghasilan. Mereka tidak membutuhkan janji yang terdengar indah. Mereka membutuhkan kesempatan kerja yang nyata.

Janji penciptaan 19 juta lapangan kerja yang dikaitkan dengan pemerintahan Prabowo-Gibran pun patut terus ditagih kepada pemerintah. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana target tersebut akan diwujudkan, berapa pekerjaan yang sudah tercipta, sektor apa yang menyerap tenaga kerja, dan berapa banyak pekerja yang benar-benar mendapatkan pekerjaan layak.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan pemerintah harus memberikan penjelasan yang terbuka mengenai perkembangan target tersebut. Janji politik tidak boleh menguap setelah pemilihan selesai. Apalagi, lapangan kerja merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat.

Penting pula membedakan antara angka target, lowongan yang diumumkan, dan pekerjaan yang benar-benar berhasil diperoleh masyarakat. Pekerjaan yang tercipta harus dapat diukur, memiliki kejelasan status, serta memberikan penghasilan yang memadai.

Sebab, angka jutaan lapangan kerja akan kehilangan maknanya bagi seorang ayah yang setiap hari berkeliling mencari pekerjaan tetapi pulang dengan tangan kosong. Begitu pula bagi seorang sarjana yang bertahun-tahun menempuh pendidikan, tetapi akhirnya terpaksa menganggur atau menerima pekerjaan dengan penghasilan yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidupnya.

Tidak semua orang dapat membuka usaha sendiri. Untuk berdagang, seseorang membutuhkan modal, tempat berjualan, pasokan barang, dan pelanggan. Ketika daya beli masyarakat melemah, membuka usaha kecil pun tidak otomatis menjadi jalan keluar.

Pemerintah tidak bisa menyerahkan seluruh beban penyediaan penghidupan kepada rakyat dengan mendorong mereka berwirausaha, sementara persoalan modal, pasar, dan daya beli tidak ditangani secara memadai.

Penciptaan pekerjaan harus berjalan bersama dengan penguatan industri, dukungan terhadap usaha mikro dan kecil, kepastian investasi, serta perlindungan terhadap pekerja. Tanpa langkah yang terukur, janji pekerjaan hanya akan menjadi kalimat yang terus diulang, sementara pengangguran tetap menjadi kenyataan.

Ketika Kekayaan Elite Meningkat, Rakyat Mengencangkan Ikat Pinggang

Di tengah kesulitan masyarakat, muncul ironi yang sulit diabaikan. Sebagian kelompok elite memiliki akses terhadap kekayaan, jabatan, dan berbagai peluang ekonomi dalam jumlah besar. Sementara itu, banyak keluarga harus menghitung uang belanja dengan cermat agar bisa bertahan sampai akhir bulan.

Perbedaan kondisi ekonomi tidak otomatis berarti setiap orang kaya memperoleh kekayaan dengan cara yang salah. Kekayaan yang berasal dari usaha produktif, investasi, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja merupakan bagian penting dari pembangunan.

Namun, masyarakat berhak mempertanyakan apabila peningkatan kekayaan elite tidak sejalan dengan perbaikan kesejahteraan rakyat. Lebih jauh lagi, ketika muncul dugaan korupsi yang melibatkan pejabat atau pihak yang memiliki kekuasaan, kepercayaan publik terhadap pemerintah dapat semakin tergerus.

Berita mengenai dugaan penyimpangan anggaran, penyelewengan jabatan, dan perkara korupsi yang terus menjadi perhatian publik memperkuat tuntutan agar pengelolaan negara dilakukan secara bersih. Setiap perkara harus dibuktikan melalui proses hukum yang adil. Mereka yang terbukti melakukan korupsi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Uang negara bukan milik pribadi pejabat. Uang itu berasal dari penerimaan negara, termasuk pajak yang dibayarkan masyarakat. Setiap rupiah yang disalahgunakan berarti berkurangnya kemampuan negara untuk membiayai pelayanan publik, memperbaiki fasilitas kesehatan, membangun sekolah, memperkuat transportasi, dan mendukung program kesejahteraan.

Bayangkan jika anggaran yang seharusnya digunakan untuk memperkuat usaha kecil justru bocor akibat korupsi. Bayangkan pula jika program peningkatan keterampilan tenaga kerja tidak berjalan efektif karena anggarannya tidak dikelola dengan baik. Dampaknya bukan hanya tercatat dalam laporan keuangan, melainkan dirasakan langsung oleh masyarakat yang kehilangan kesempatan.

Karena itu, pemberantasan korupsi bukan persoalan yang terpisah dari ekonomi rakyat. Pemerintahan yang bersih merupakan salah satu syarat agar anggaran negara benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat luas.

Rakyat tidak seharusnya diminta terus berhemat dan berkorban, sementara penyalahgunaan kekuasaan tidak ditangani secara tegas. Keadilan ekonomi membutuhkan keadilan dalam pengelolaan uang negara.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa di Meja Makan

Pemerintah sering menggunakan berbagai indikator untuk menjelaskan keadaan perekonomian, mulai dari pertumbuhan produk domestik bruto, inflasi, investasi, hingga perdagangan. Semua indikator itu penting untuk menilai kondisi ekonomi nasional.

Namun, keberhasilan ekonomi tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan semata. Pemerintah juga harus memastikan bahwa manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti penciptaan pekerjaan berkualitas akan menyisakan persoalan. Investasi yang besar tetapi hanya memberikan manfaat terbatas kepada masyarakat tidak akan menyelesaikan kesulitan keluarga berpenghasilan rendah. Begitu pula penurunan angka inflasi belum tentu membuat rakyat merasa sejahtera apabila harga kebutuhan pokok tetap tinggi dibandingkan kemampuan belinya.

Karena itu, pemerintah perlu melihat keadaan ekonomi dari bawah. Berapa banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan? Berapa besar penghasilan riil rumah tangga? Bagaimana perkembangan upah dibandingkan kenaikan biaya hidup? Apakah usaha kecil mengalami peningkatan penjualan? Berapa banyak keluarga yang harus menggunakan tabungan atau berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan data yang terbuka dan dapat diperiksa. Tanpa itu, perdebatan mengenai ekonomi mudah terjebak pada klaim keberhasilan yang tidak menjelaskan pengalaman masyarakat sehari-hari.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak menambah tekanan bagi kelompok yang paling rentan. Program bantuan sosial harus tepat sasaran, dukungan terhadap usaha kecil harus mudah diakses, dan kebijakan penciptaan lapangan kerja harus memiliki target serta evaluasi yang jelas.

Daya beli masyarakat perlu diperkuat bukan hanya dengan bantuan jangka pendek, melainkan juga melalui pekerjaan yang stabil, upah yang layak, biaya pendidikan yang terjangkau, pelayanan kesehatan yang baik, serta harga kebutuhan pokok yang terkendali.

Jika masyarakat memiliki pendapatan yang memadai, mereka akan kembali berbelanja. Ketika konsumsi rumah tangga bergerak secara sehat, pedagang kecil memiliki peluang memperoleh pelanggan, usaha dapat berkembang, dan kegiatan ekonomi menjadi lebih kuat.

Dengan kata lain, kesejahteraan rakyat bukan sekadar hasil akhir pembangunan. Kesejahteraan merupakan salah satu fondasi bagi perekonomian yang berkelanjutan.

Pemerintah Tidak Boleh Menutup Mata

Kesulitan ekonomi masyarakat tidak bisa diselesaikan dengan meminta rakyat bersabar tanpa batas. Kesabaran memang penting, tetapi pemerintah juga memiliki kewajiban untuk menghadirkan kebijakan yang memberikan hasil nyata.

Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka perlu memastikan bahwa agenda pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Pemerintah harus terbuka mengenai capaian, kendala, dan target yang belum terpenuhi.

Jika janji penciptaan lapangan kerja belum mencapai sasaran, masyarakat berhak mendapatkan penjelasan. Jika daya beli melemah, pemerintah perlu menunjukkan langkah konkret untuk memperbaikinya. Jika usaha kecil kesulitan berkembang, hambatan yang mereka hadapi harus diselesaikan, bukan hanya dijadikan bahan pidato.

Evaluasi kebijakan juga perlu dilakukan secara berkala. Program yang tidak efektif harus diperbaiki. Anggaran yang tidak memberikan manfaat memadai perlu ditinjau kembali. Sementara itu, upaya pemberantasan korupsi harus dijalankan tanpa pandang bulu.

Pemerintah juga perlu memperkuat industri yang menyerap banyak tenaga kerja, mendukung pertanian dan perikanan, mempermudah akses pembiayaan usaha kecil dengan perlindungan yang memadai, serta meningkatkan keterampilan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar.

Di sisi lain, pemerintah daerah harus lebih aktif memetakan kondisi usaha kecil dan pekerja informal di wilayah masing-masing. Mereka perlu mengetahui apakah pasar tradisional kehilangan pembeli, apakah pedagang menghadapi penurunan penjualan, dan apakah perusahaan di daerah mengurangi jumlah pekerja.

Kebijakan yang baik tidak lahir hanya dari meja rapat. Pemerintah harus mendengar pengalaman orang-orang yang setiap hari berjuang menghadapi perubahan ekonomi.

Jangan Biarkan Rakyat Berjuang Sendirian

Pada suatu sore, seorang pedagang mungkin mulai membereskan barang dagangannya. Sebagian barang masih tersisa. Ia menghitung uang hasil penjualan, memisahkan modal, lalu mencoba memperkirakan berapa uang yang bisa dibawa pulang untuk keluarganya.

Angka yang tersisa mungkin tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga. Ia harus memilih, kebutuhan mana yang dibayar lebih dahulu dan mana yang ditunda sampai esok hari. Jika keadaan serupa terus berulang, tabungan semakin terkuras dan utang semakin sulit dihindari.

Di rumah, persoalan ekonomi itu memiliki wajah yang lain. Orang tua mungkin mengurangi lauk, menunda membeli pakaian anak, atau membatalkan kebutuhan yang sebenarnya penting. Tidak semua kesulitan tersebut terlihat dalam statistik harian, tetapi dampaknya nyata bagi kehidupan keluarga.

Di antara mereka mungkin ada orang yang dahulu memiliki pekerjaan tetap, tetapi kini harus berdagang. Ada pula lulusan perguruan tinggi yang bekerja tidak sesuai bidang pendidikan karena tidak menemukan kesempatan yang lebih baik. Mereka tetap berusaha, tetapi kerja keras individu tidak selalu cukup ketika keadaan ekonomi tidak mendukung.

Di sinilah ukuran kepemimpinan diuji. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari banyaknya program yang diumumkan atau besarnya anggaran yang dibelanjakan. Ia juga dinilai dari kemampuannya memastikan bahwa masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup layak.

Ekonomi Indonesia tidak boleh hanya tampak kuat dalam laporan, sementara sebagian rakyatnya semakin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Pemerintah harus memastikan bahwa pertumbuhan membuka pekerjaan, investasi memberikan manfaat luas, dan kekayaan negara dikelola untuk kepentingan masyarakat.

Rakyat tidak menuntut kehidupan mewah dari pemerintah. Mereka ingin bekerja dengan penghasilan yang pantas, berdagang dengan peluang memperoleh keuntungan, menyekolahkan anak tanpa dihantui kecemasan biaya, serta menjalani hari tua tanpa kehilangan seluruh tabungan untuk bertahan hidup.

Mereka juga ingin melihat pejabat yang amanah, penegakan hukum yang adil, dan janji politik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika hari ini pedagang mengeluh karena sepi pembeli, pencari kerja mengeluh karena sulit memperoleh pekerjaan, dan keluarga mulai mengandalkan tabungan atau utang untuk memenuhi kebutuhan pokok, suara mereka harus menjadi peringatan bagi pemerintah.

Jangan sampai rakyat terus diminta bertahan, sementara pemerintah merasa semua berjalan baik-baik saja.

Sebab, keberhasilan ekonomi yang sesungguhnya bukan hanya terlihat dari gedung-gedung tinggi, nilai investasi, atau kekayaan segelintir orang. Keberhasilan itu juga terlihat dari warung kecil yang kembali ramai, pedagang yang pulang membawa keuntungan, pencari kerja yang memperoleh pekerjaan layak, serta keluarga yang tidak lagi takut kehabisan uang sebelum akhir bulan.

Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang memberi harapan kepada rakyatnya. Jika rakyat harus terus menguras tabungan, menambah utang, dan berjuang sendirian untuk bertahan hidup, pemerintah wajib melakukan evaluasi secara serius. Jangan biarkan janji kesejahteraan berhenti sebagai slogan, sementara kesulitan rakyat menjadi kenyataan sehari-hari.

Penulis : Nano Hendi Hartono, Wartawan Senior

MoneyTalk, Jakarta – Pagi itu, di sebuah pasar tradisional di pinggiran kota, seorang ibu paruh baya berdiri lama di depan lapak beras. Tangannya menggenggam uang lusuh pecahan dua puluh ribuan. Matanya menatap timbangan, lalu menatap wajah pedagang yang hanya bisa mengangkat bahu.

“Naik lagi, Bu. Saya juga bingung,” kata si pedagang pelan.

Ibu itu tidak marah. Ia hanya menarik napas panjang. Beras yang biasanya dibeli lima kilogram, kini cukup dua kilogram. Minyak goreng dikurangi. Telur hanya seperempat kilogram. Anak-anak di rumah tetap harus makan, tetap harus sekolah, tetap harus hidup.

Di sudut lain, seorang sopir ojek online memandangi layar ponselnya. Orderan sepi. Harga bensin naik. Cicilan motor menunggu. Uang sekolah anak belum lunas. Ia tersenyum pahit ketika mendengar pidato pejabat di televisi yang mengatakan ekonomi nasional tumbuh positif.

“Pertumbuhan untuk siapa?” gumamnya.

Inilah wajah Indonesia hari ini—rakyat kecil yang terus menyesuaikan diri dengan kesulitan, sementara para pemimpin sibuk menyesuaikan narasi.

Jeritan rakyat bukan lagi suara keras yang mengguncang jalanan. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: ibu yang mengurangi belanja dapur, petani yang menjual sawah, nelayan yang tak melaut karena solar mahal, buruh yang diam-diam menerima PHK, hingga sarjana muda yang mengubur ijazahnya karena tak kunjung mendapat pekerjaan.

Namun sayangnya, kesunyian itu justru sering tidak terdengar oleh para pemimpin.

Masalah terbesar bangsa ini bukan semata soal ekonomi, melainkan putusnya empati antara penguasa dan rakyatnya.

Pemimpin hari ini terlalu sering berbicara dari atas podium, bukan dari bawah pohon tempat rakyat biasa berteduh dari panas hidup. Mereka mendengar laporan, tetapi tidak mendengar keluhan. Mereka membaca angka, tetapi tidak membaca air mata.

Kekuasaan sering kali menciptakan jarak. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar risiko ia kehilangan kemampuan mendengar suara paling bawah.

Di ruang-ruang rapat berpendingin udara, kebijakan lahir dengan bahasa yang rapi: efisiensi fiskal, reformasi struktural, penyesuaian subsidi, transformasi ekonomi. Tetapi di lapangan, istilah-istilah itu diterjemahkan rakyat menjadi satu hal sederhana: hidup semakin sulit.

Ketika subsidi dipotong, rakyat tidak menyebutnya reformasi. Mereka menyebutnya dapur yang semakin dingin.

Ketika pajak dinaikkan, rakyat tidak menyebutnya optimalisasi penerimaan negara. Mereka menyebutnya beban tambahan.

Ketika lapangan kerja menyempit, rakyat tidak bicara soal indikator makro. Mereka hanya bertanya: besok makan apa?

Di sinilah letak tragedi kepemimpinan kita. Pemimpin terlalu sibuk menjaga citra, lupa menjaga rasa.

Demokrasi seharusnya membuat suara rakyat menjadi pusat kekuasaan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: rakyat hanya penting saat pemilu, setelah itu suara mereka perlahan menghilang dalam hiruk-pikuk kepentingan elite.

Politik berubah menjadi transaksi, bukan representasi.

Partai sibuk menghitung kursi. Elite sibuk membagi pengaruh. Jabatan menjadi alat tawar, bukan amanah pelayanan.

Rakyat? Mereka kembali menjadi penonton.

Kita menyaksikan bagaimana banyak keputusan besar dibuat tanpa dialog yang memadai. Kebijakan lahir cepat, kritik dibalas defensif, protes dianggap gangguan stabilitas.

Padahal kritik adalah vitamin demokrasi, bukan ancaman negara.

Pemimpin yang alergi kritik sesungguhnya sedang membangun tembok antara dirinya dan kenyataan.

Dan sejarah selalu membuktikan: ketika pemimpin berhenti mendengar, kejatuhan hanya soal waktu.

Rakyat Tidak Membutuhkan Pidato, Tapi Kehadiran

Rakyat tidak meminta keajaiban.

Mereka tidak menuntut kemewahan.

Mereka hanya ingin pemimpinnya hadir.

Hadir saat harga kebutuhan pokok melonjak.

Hadir saat pupuk langka.

Hadir saat sekolah mahal.

Hadir saat rumah sakit sulit dijangkau.

Hadir bukan sekadar untuk difoto, tetapi untuk memahami.

Ada perbedaan besar antara kunjungan seremonial dan kehadiran yang tulus.

Blusukan tanpa solusi hanyalah wisata politik.

Rakyat bisa membedakan mana pemimpin yang benar-benar datang untuk mendengar, dan mana yang datang hanya untuk kamera.

Kepemimpinan bukan soal seberapa sering tampil di media, tetapi seberapa dalam memahami luka masyarakat.

Hal paling berbahaya bukan kemiskinan.

Bukan pengangguran.

Bukan inflasi.

Yang paling berbahaya adalah ketika rakyat kehilangan harapan.

Saat rakyat merasa suara mereka tak lagi berarti, saat mereka yakin tak ada yang peduli, maka yang tumbuh adalah sinisme. Dari sinisme lahir apatisme. Dari apatisme lahir kemunduran bangsa.

Bangsa besar tidak runtuh karena musuh dari luar, tetapi karena retaknya kepercayaan dari dalam.

Ketika rakyat tidak lagi percaya pada pemimpinnya, legitimasi moral kekuasaan perlahan habis.

Dan kekuasaan tanpa legitimasi moral hanya akan bertahan dengan ketakutan, bukan penghormatan.

Sejarah tidak mengingat pemimpin karena kekayaannya, melainkan karena keberaniannya mendengar.

Pemimpin besar adalah mereka yang mau mendengar suara paling kecil.

Mereka yang tidak malu dikritik.

Mereka yang berani mengoreksi diri.

Mereka yang memahami bahwa jabatan adalah titipan, bukan hak warisan.

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah pemimpin yang punya hati.

Kita terlalu banyak melihat pejabat yang fasih bicara, tetapi sedikit yang sungguh mengerti penderitaan rakyat.

Padahal, kepemimpinan sejati dimulai dari satu kemampuan sederhana: mendengar.

Mendengar bukan untuk menjawab.

Tetapi mendengar untuk memahami.

Penutup: Jangan Tunggu Rakyat Berteriak Lebih Keras

Jeritan rakyat hari ini mungkin masih terdengar pelan.

Masih berupa keluhan di warung kopi.

Masih berupa status pendek di media sosial.

Masih berupa bisik-bisik di pasar tradisional.

Tetapi sejarah mengajarkan, suara kecil yang terus diabaikan bisa berubah menjadi gelombang besar.

Pemimpin yang bijak tidak menunggu rakyat marah.

Ia mendengar sebelum kemarahan itu lahir.

Ia bertindak sebelum kepercayaan itu hilang.

Sebab jika seorang pemimpin sudah tak lagi mendengar jeritan rakyat, sesungguhnya yang hilang bukan hanya suara rakyat—tetapi juga masa depan kepemimpinannya sendiri.

Dan ketika itu terjadi, yang runtuh bukan hanya kekuasaan, melainkan martabat sebuah bangsa.

Penulis : Nano Hendi Hartono, Wartawan Senior

MoneyTalk, Jakarta – Pagi belum benar-benar terang ketika Siti, seorang ibu rumah tangga di pinggiran kota, sudah berdiri di depan warung kecil langganannya. Tangannya menggenggam uang lusuh pecahan dua ribu dan lima ribu rupiah, dihitung berulang kali seperti berharap angka itu bertambah dengan sendirinya.

“Minyak goreng yang paling kecil saja, Bu. Sama beras dua kilo dulu,” katanya pelan.

Pemilik warung hanya mengangguk. Tidak ada percakapan panjang. Mereka sama-sama paham: hidup sedang tidak baik-baik saja.

Di sudut lain kota, seorang pengemudi ojek online menatap layar ponselnya dengan wajah letih. Orderan makin sepi, potongan aplikasi makin besar, harga bensin terus menekan. Ia menarik napas panjang sebelum menyalakan motor tuanya. Hari itu ia harus memilih: membeli bensin lebih banyak agar bisa terus bekerja, atau membawa pulang uang lebih untuk susu anaknya.

Inilah wajah Indonesia hari ini. Bukan yang terlihat dalam pidato resmi, bukan yang dipoles dalam konferensi pers, melainkan yang nyata di dapur rakyat, di pasar tradisional, di warung kelontong, di jalanan yang panas, dan di ruang-ruang sempit tempat rakyat menghitung sisa harapan.

Rakyat makin susah.

Dan yang lebih menyakitkan, kesusahan itu perlahan dianggap biasa.

Ekonomi dalam bahasa pemerintah sering dibungkus dengan istilah makro: pertumbuhan, investasi, stabilitas fiskal, inflasi terkendali, surplus perdagangan. Angka-angka itu memang penting. Namun bagi rakyat kecil, ukuran ekonomi jauh lebih sederhana: apakah hari ini bisa makan lebih baik dari kemarin?

Jika jawabannya tidak, maka semua grafik pertumbuhan kehilangan makna.

Harga kebutuhan pokok terus menjadi sumber kecemasan harian. Beras naik, minyak goreng tidak stabil, cabai menjadi barang mewah musiman, tarif listrik membayangi, biaya sekolah menekan, ongkos kesehatan tak pernah benar-benar murah.

Yang paling terasa bukan hanya mahalnya harga, tetapi hilangnya rasa aman.

Dulu orang miskin masih punya keyakinan bahwa kerja keras bisa memperbaiki nasib. Kini banyak yang bekerja lebih keras, tetapi tetap tertinggal. Mereka bukan malas. Mereka hanya kalah cepat dari kenaikan biaya hidup.

Negara sering menjawab dengan bantuan sosial. Itu penting, tetapi bantuan tidak bisa menjadi fondasi utama kehidupan. Rakyat tidak ingin selamanya menerima belas kasihan. Mereka ingin kepastian kerja, harga yang stabil, layanan publik yang adil, dan kesempatan hidup yang bermartabat.

Bansos tidak boleh menjadi pengganti keadilan ekonomi.

Sering kali kita mendengar klaim bahwa angka kemiskinan menurun. Namun di lapangan, antrean sembako justru panjang. Pinjaman online tumbuh, utang rumah tangga meningkat, kelas menengah mulai turun kelas.

Ada sesuatu yang tidak sinkron antara statistik dan kenyataan.

Kemiskinan hari ini tidak selalu tampak dalam bentuk kelaparan ekstrem. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi: orang tua yang menunda berobat, mahasiswa yang putus kuliah diam-diam, keluarga yang menjual motor satu-satunya, buruh yang tetap bekerja saat sakit karena takut kehilangan upah.

Kemiskinan modern adalah rasa cemas yang menetap.

Ia tidak selalu masuk laporan resmi, tetapi hidup di kepala jutaan orang setiap malam.

Ketika negara terlalu sibuk merayakan angka, ia sering lupa mendengar suara.

Sementara rakyat berjibaku dengan harga kebutuhan pokok, panggung politik nasional justru dipenuhi pertunjukan kekuasaan. Manuver elite, pembagian kursi, perang pengaruh, konsolidasi dinasti, dan transaksi jabatan menjadi konsumsi harian.

Politik terasa semakin jauh dari urusan rakyat.

Pemilu selesai, tetapi rasa lelah sosial belum berakhir. Janji kampanye cepat menguap, digantikan kompromi-kompromi yang tidak pernah dibicarakan kepada publik. Yang diperebutkan bukan gagasan, melainkan akses terhadap kekuasaan.

Rakyat melihat semuanya.

Mereka mungkin tidak bicara di televisi, tetapi mereka menyimpan kesimpulan sendiri: siapa yang datang hanya saat butuh suara, siapa yang menghilang setelah menang.

Kepercayaan publik tidak runtuh dalam satu malam. Ia terkikis perlahan, setiap kali janji dilupakan, setiap kali hukum terasa tajam ke bawah dan tumpul ke atas, setiap kali pejabat hidup mewah di tengah rakyat yang diminta sabar.

Kesabaran rakyat bukan sumber daya yang tidak terbatas.

Negara seharusnya hadir paling dekat ketika rakyat paling sulit. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya: negara terasa megah dari kejauhan, tetapi samar dari dekat.

Mengurus administrasi sederhana masih berbelit. Akses kesehatan masih ditentukan oleh kemampuan ekonomi. Pendidikan berkualitas masih menjadi kemewahan geografis. Lapangan kerja formal tidak tumbuh secepat jumlah pencari kerja.

Di desa-desa, banyak anak muda kehilangan alasan untuk bertahan. Mereka pergi ke kota, bekerja serabutan, lalu pulang membawa kelelahan yang sama.

Di kota, mereka bertemu sistem yang tidak lebih ramah.

Ketimpangan bukan hanya soal kaya dan miskin, tetapi soal siapa yang punya akses dan siapa yang terus menunggu giliran.

Ketika pelayanan publik terasa seperti privilese, maka keadilan menjadi slogan kosong.

Yang paling berbahaya bukan kemiskinan itu sendiri, melainkan ketika masyarakat dipaksa menganggapnya normal.

Ketika ibu-ibu mulai berkata, “Memang sekarang semua mahal.”

Ketika buruh berkata, “Yang penting masih kerja.”

Ketika anak muda berkata, “Memang nasib kita begini.”

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya adalah tanda menyerah.

Bangsa besar tidak dibangun dari rakyat yang pasrah. Ia tumbuh dari warga yang percaya hidup bisa lebih adil.

Karena itu, tugas negara bukan hanya memberi bantuan, tetapi menjaga harapan.

Harapan bahwa anak petani bisa kuliah.

Harapan bahwa pedagang kecil bisa berkembang.

Harapan bahwa buruh bisa hidup layak.

Harapan bahwa hukum melindungi, bukan menakuti.

Jika harapan itu hilang, maka stabilitas hanyalah ilusi yang menunggu retak.

Setiap pemerintahan pada akhirnya akan diuji oleh satu pertanyaan sederhana: berpihak kepada siapa?

Kepada angka-angka pertumbuhan yang indah di laporan?

Atau kepada wajah-wajah lelah yang antre gas elpiji, menunggu bantuan pupuk, mencari kerja tanpa kepastian, dan menghitung uang sekolah anak di akhir bulan?

Keberpihakan tidak dibuktikan lewat pidato, tetapi lewat anggaran. Lewat kebijakan. Lewat keberanian menegur oligarki. Lewat kesediaan menempatkan rakyat sebagai pusat, bukan dekorasi demokrasi.

Rakyat tidak menuntut kemewahan.

Mereka hanya ingin hidup yang wajar.

Bisa makan tanpa cemas.

Bisa bekerja tanpa takut besok dipecat.

Bisa berobat tanpa menjual barang rumah.

Bisa menyekolahkan anak tanpa meminjam.

Tuntutan itu bukan revolusioner. Itu adalah hak dasar warga negara.

Sejarah mengajarkan bahwa rakyat jarang marah tiba-tiba. Kemarahan sosial tumbuh perlahan, dari akumulasi kekecewaan yang dianggap kecil-kecil: harga naik, pekerjaan hilang, ketidakadilan dibiarkan, suara diabaikan.

Lalu suatu hari, semuanya meledak.

Negara yang bijak tidak menunggu ledakan itu.

Ia mendengar lebih awal.

Ia memperbaiki lebih cepat.

Ia merendahkan telinga sebelum harus menundukkan kepala.

Hari ini, rakyat memang makin susah.

Pertanyaannya: apakah penguasa sungguh mendengar?

Atau mereka baru akan mendengar ketika suara itu berubah menjadi gelombang yang tak lagi bisa dibendung?

Penulis : Nano Hendi Hartono, Wartawan Senior

MoneyTalk, Jakarta – Kenaikan harga plastik mungkin terdengar remeh bagi sebagian orang. Namun bagi pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga masyarakat kelas bawah, perubahan harga ini adalah alarm awal dari tekanan ekonomi yang lebih luas. Plastik bukan hanya barang pelengkap—ia bagian dari rantai distribusi, dari bungkus makanan hingga kebutuhan pasar harian. Ketika harganya naik, efeknya menjalar ke mana-mana.

Di pasar-pasar tradisional, keluhan mulai terdengar. Para pedagang tidak lagi sekadar mengeluh tentang daya beli yang melemah, tetapi juga tentang ketidakpastian harga. Mereka menyebutnya bukan lagi kenaikan harga biasa, melainkan perubahan harga yang sulit diprediksi. Hari ini naik, besok bisa berubah lagi. Situasi ini menciptakan kegelisahan, bukan hanya soal untung rugi, tetapi juga soal keberlangsungan usaha.

Sementara itu, harga kebutuhan pokok ikut merangkak naik. Beras, minyak goreng, gula, hingga biaya transportasi—semuanya perlahan bergerak ke atas. Di sisi lain, pendapatan masyarakat cenderung stagnan. Tidak ada lonjakan signifikan yang mampu menyeimbangkan tekanan biaya hidup. Masyarakat dipaksa beradaptasi dengan cara mengurangi konsumsi, menunda kebutuhan, bahkan berutang.

Di tengah kondisi tersebut, muncul ironi yang sulit diabaikan. Laporan kekayaan pejabat justru menunjukkan tren peningkatan. Dari tahun ke tahun, angka-angka dalam laporan harta kekayaan terlihat terus bertambah. Rumah, tanah, kendaraan, hingga aset investasi mengalami akumulasi yang signifikan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: di mana letak keadilan dalam distribusi ekonomi?

Ketimpangan ini bukan hanya soal angka, tetapi juga soal rasa. Rasa keadilan publik mulai tergerus. Ketika rakyat harus berhemat untuk membeli kebutuhan dasar, sementara pejabat memperlihatkan pertumbuhan kekayaan yang stabil, bahkan meningkat, maka kepercayaan publik menjadi taruhannya. Rakyat tidak hanya menilai kebijakan, tetapi juga membandingkan realitas hidup mereka dengan para pengambil kebijakan.

Dalam konteks ekonomi politik, kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara kebijakan dan dampaknya di lapangan. Kebijakan yang dirancang untuk menjaga stabilitas harga atau mendorong pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat luas. Sebaliknya, kelompok tertentu justru terlihat lebih mampu memanfaatkan situasi untuk memperkuat posisi ekonominya.

Cerita dari lapangan memperkuat gambaran ini. Seorang pedagang gorengan di pinggir jalan mengaku harus mengurangi ukuran produknya karena harga bahan baku naik. Ia tidak berani menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan. Di sisi lain, biaya hidup keluarganya terus meningkat. Ia bekerja lebih lama, tetapi hasilnya tidak jauh berbeda.

Ada pula buruh harian yang kini harus memilih antara membeli kebutuhan pangan atau membayar biaya pendidikan anak. Pilihan-pilihan sulit ini menjadi realitas sehari-hari bagi banyak keluarga. Mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang tidak terlihat di angka-angka makro.

Di sisi lain, narasi pertumbuhan ekonomi seringkali disampaikan dengan optimisme tinggi. Angka-angka statistik menunjukkan peningkatan, investasi masuk, dan proyek pembangunan berjalan. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya inklusif. Ia belum menyentuh lapisan masyarakat yang paling rentan secara ekonomi.

Kondisi ini menuntut refleksi mendalam dari para pemangku kebijakan. Kenaikan harga bukan hanya soal mekanisme pasar, tetapi juga soal keberpihakan. Apakah kebijakan yang diambil benar-benar melindungi masyarakat kecil? Apakah ada upaya serius untuk menekan ketimpangan yang semakin melebar?

Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci. Publik berhak mengetahui bagaimana kekayaan pejabat bertambah, dari mana sumbernya, dan apakah semuanya sesuai dengan prinsip integritas. Tanpa kejelasan, kecurigaan akan terus tumbuh dan merusak kepercayaan.

Lebih dari itu, diperlukan keberanian untuk melakukan koreksi kebijakan. Subsidi yang tepat sasaran, pengendalian harga yang efektif, serta peningkatan pendapatan masyarakat harus menjadi prioritas. Tidak cukup hanya menjaga stabilitas makro, tetapi juga memastikan kesejahteraan mikro.

Kenaikan harga plastik mungkin hanya awal dari cerita panjang tentang tekanan ekonomi. Namun di balik itu, tersimpan pesan penting: bahwa keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan harus dijaga. Tanpa itu, pembangunan hanya akan menjadi angka-angka yang indah di atas kertas, tetapi kosong dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya mengapa harga naik, tetapi juga mengapa kekayaan sebagian pihak terus meningkat di tengah kesulitan banyak orang. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah kepercayaan publik, dan pada akhirnya, arah masa depan bangsa.

Penulis : Nano Hendi Hartono, wartawan senior

MoneyTalk, Jakarta – Angin perubahan kembali berhembus di awal April. Pemerintah disebut-sebut akan menerapkan kebijakan baru yang diklaim sebagai langkah strategis untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan tata kelola negara. Namun, di tengah narasi besar itu, satu pertanyaan sederhana mengemuka dari ruang-ruang obrolan warga hingga warung kopi pinggir jalan: perubahan ini untuk siapa?

Bagi sebagian rakyat, kata “perubahan” bukan lagi janji manis yang menenangkan, melainkan sinyal kewaspadaan. Sebab pengalaman masa lalu mengajarkan, tidak semua perubahan membawa kebaikan. Ada yang justru berujung pada kenaikan harga, pengetatan akses, hingga beban hidup yang semakin berat.

Di sebuah sudut pasar tradisional, seorang ibu penjual sayur mengeluhkan harga bahan pokok yang terus merangkak naik. “Kalau perubahan itu bikin harga makin mahal, kami ini mau makan apa?” ucapnya lirih, sembari merapikan dagangannya yang kian sepi pembeli.

Suara-suara seperti ini bukan hanya keluhan, melainkan cerminan kegelisahan yang nyata.

Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya raya—sumber daya alam melimpah, tanah subur, laut luas, dan bonus demografi yang besar. Namun ironi tak bisa disembunyikan: masih banyak rakyat yang hidup dalam ketidakpastian.

Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya?

Jika kekayaan negara tidak mampu diterjemahkan menjadi kesejahteraan rakyat, maka persoalannya bukan pada sumber daya, melainkan pada tata kelola. Ada yang keliru dalam cara negara diurus. Dan seperti yang sering disuarakan publik, akar persoalan itu kembali pada manusia: pada mereka yang diberi amanah, namun mungkin terseret dalam pusaran kepentingan, keserakahan, atau ketidakpekaan.

Pemerintahan dibentuk bukan sekadar untuk menjalankan roda kekuasaan, melainkan untuk memastikan rakyat hidup layak. Ketika kebijakan justru terasa menjauh dari kebutuhan rakyat, maka jarak antara penguasa dan yang dikuasai semakin melebar.

Tidak semua perubahan harus ditolak. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan sering kali menjadi pintu menuju kemajuan. Namun perubahan yang baik adalah perubahan yang berpihak—yang memahami denyut nadi rakyat kecil, bukan sekadar angka-angka makro di atas kertas.

Masalahnya, rakyat sering kali tidak dilibatkan secara utuh dalam proses tersebut. Sosialisasi minim, transparansi terbatas, dan dampak kebijakan kerap baru terasa setelah semuanya berjalan.

Akibatnya, perubahan terasa seperti kejutan, bukan proses bersama.

Di sinilah letak kekhawatiran terbesar: ketika rakyat tidak siap, sementara kebijakan tetap dipaksakan berjalan, maka potensi kegaduhan menjadi tak terhindarkan. Bukan karena rakyat anti perubahan, melainkan karena mereka merasa ditinggalkan dalam prosesnya.

Setiap kebijakan publik pada akhirnya akan diuji oleh satu hal: keadilan. Apakah beban dibagi secara proporsional? Apakah yang lemah dilindungi? Apakah yang kuat ikut menanggung?

Jika perubahan hanya membebani rakyat kecil, sementara kelompok tertentu tetap diuntungkan, maka ketimpangan akan semakin dalam. Dan ketimpangan yang dibiarkan adalah bibit dari ketidakstabilan.

Rakyat tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin kepastian: harga yang terjangkau, pekerjaan yang layak, dan masa depan yang tidak suram.

1 April bisa menjadi titik balik. Bisa menjadi awal dari perbaikan, atau justru awal dari babak baru kesulitan. Semuanya bergantung pada bagaimana perubahan itu dirancang dan dijalankan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Bukan sekadar memenuhi target, tetapi menyentuh realitas kehidupan sehari-hari.

Rakyat pun bukan sekadar objek kebijakan. Mereka adalah subjek yang harus didengar, diajak bicara, dan dilibatkan.

Karena pada akhirnya, negara bukan hanya tentang kekuasaan, melainkan tentang kepercayaan.

Dan kepercayaan, sekali retak, tidak mudah diperbaiki.

Perubahan adalah keniscayaan. Namun perubahan tanpa empati adalah bencana. Jika pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang adil dan transparan, maka rakyat akan siap berjalan bersama.

Namun jika sebaliknya, maka kegaduhan bukan lagi kemungkinan—melainkan kepastian.

Kini, bola ada di tangan penguasa: menjadikan perubahan sebagai harapan, atau membiarkannya menjadi beban baru bagi rakyat.

Penulis : Nano Hendi Hartono, Wartawan Senior

MoneyTalk, Jakarta – Arus mudik setiap Lebaran selalu menghadirkan wajah optimisme. Jalanan padat, terminal penuh, pusat perbelanjaan ramai. Dari luar, denyut ekonomi tampak hidup. Perputaran uang meningkat, konsumsi melonjak, dan geliat usaha kecil terlihat bergerak. Namun di balik itu, tersimpan cerita yang tidak selalu seindah angka-angka musiman.

Di sebuah kampung di pinggiran kota, seorang buruh harian bernama Rudi memilih tetap pulang ke kampung halaman meski harus meminjam uang. Baginya, Lebaran bukan hanya soal perayaan, tetapi tentang menjaga hubungan keluarga. Ia tahu konsekuensinya: setelah kembali ke kota, ia harus bekerja lebih keras untuk menutup utang yang terpaksa diambil.

Cerita seperti Rudi bukan hal langka. Banyak masyarakat menghadapi dilema serupa. Tradisi sosial dan tekanan kultural sering kali lebih kuat daripada pertimbangan ekonomi rasional. Lebaran menjadi momentum yang “harus” dijalani dengan layak, meski kondisi keuangan tidak mendukung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi saat Lebaran tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan daya beli yang sesungguhnya. Ada dorongan emosional, ada beban sosial, dan ada pula strategi bertahan hidup jangka pendek yang dipaksakan. Konsumsi meningkat, tetapi bukan berarti kesejahteraan ikut naik.

Setelah Lebaran usai, realitas kembali terasa. Banyak keluarga masuk dalam siklus “gali lubang tutup lubang”. Pendapatan tetap, bahkan cenderung stagnan, sementara pengeluaran terus meningkat. Harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, biaya pendidikan, serta kebutuhan sehari-hari membuat ruang fiskal rumah tangga semakin sempit.

Kelesuan ekonomi ini tidak selalu tampak dalam statistik makro. Pertumbuhan ekonomi bisa saja terlihat stabil, inflasi terkendali, dan investasi tetap berjalan. Namun di tingkat akar rumput, masyarakat merasakan tekanan yang berbeda. Daya beli melemah secara perlahan, bukan karena tidak ada uang sama sekali, tetapi karena uang yang ada semakin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.

Di pasar tradisional, pedagang mulai merasakan perubahan perilaku konsumen. Pembeli lebih berhitung, mengurangi jumlah belanja, bahkan menunda pembelian barang yang dianggap tidak mendesak. Di sektor informal, pendapatan harian semakin tidak pasti. Sementara di kalangan pekerja formal, kenaikan gaji sering kali tidak mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup.

Kondisi ini menciptakan ketimpangan persepsi antara “ramai sesaat” dan “lesu berkepanjangan”. Momentum Lebaran hanya menjadi jeda singkat dari tekanan ekonomi yang lebih dalam. Setelah itu, masyarakat kembali berhadapan dengan realitas yang sama—bahkan lebih berat karena adanya beban tambahan.

Dalam situasi seperti ini, diperlukan kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan daya beli secara nyata. Tidak hanya melalui bantuan sosial yang bersifat sementara, tetapi juga lewat penciptaan lapangan kerja yang stabil, pengendalian harga kebutuhan pokok, serta perlindungan terhadap kelompok rentan.

Ekonomi tidak hanya soal angka, tetapi tentang manusia di dalamnya. Tentang Rudi dan jutaan orang lain yang berusaha bertahan di tengah tekanan hidup. Selama daya beli belum benar-benar pulih, kelesuan ekonomi akan terus menjadi bayang-bayang yang mengikuti, bahkan di tengah kemeriahan hari raya.

Penulis : Nano Hendi Hartono, wartawan senior

MoneyTalk, Jakarta – Di sebuah sudut ibu kota yang kini menjulang dengan gedung-gedung kaca dan baja, seorang pedagang kopi keliling berhenti sejenak. Ia memandangi jalan layang yang baru diresmikan, lampu-lampu kota yang berkilau, trotoar yang rapi dengan guiding block yang presisi. “Bagus, ya,” katanya pelan. Lalu ia menambahkan, “Tapi hidup saya masih begini-begini saja.”

Kalimat itu seperti gema yang memantul dari berbagai kota di Indonesia. Kita menyaksikan pembangunan fisik yang masif: jalan tol membelah hutan dan sawah, bandara megah berdiri di pelosok, bendungan menjulang gagah, kawasan industri tumbuh cepat, dan ibu kota baru dirancang dengan visi masa depan. Negara bergerak. Beton dan aspal menjadi simbol kemajuan.

Namun di balik kemegahan itu, ada pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah fondasi demokrasi kita tumbuh seiring beton yang dituang?

Pembangunan infrastruktur adalah kerja besar yang memerlukan keberanian politik, ketegasan eksekusi, dan kesinambungan kebijakan. Dalam satu dekade terakhir, Indonesia memang memperlihatkan capaian signifikan dalam konektivitas dan pemerataan pembangunan. Dari tol Trans-Jawa hingga tol Trans-Sumatera, dari bendungan hingga pelabuhan, negara hadir secara visual dan nyata.

Era Presiden Joko Widodo (Jokowi) membangun narasi bahwa infrastruktur adalah fondasi pertumbuhan ekonomi dan pemerataan. Di sisi lain, pemerintahan baru di bawah Prabowo Subianto dihadapkan pada tantangan melanjutkan pembangunan fisik sambil memperkuat legitimasi politik dan kualitas demokrasi.

Masalahnya bukan pada pembangunan fisik itu sendiri. Infrastruktur adalah kebutuhan. Jalan mempermudah distribusi, bendungan menjamin irigasi, pelabuhan membuka akses perdagangan. Persoalan muncul ketika pembangunan fisik tidak diimbangi dengan penguatan institusi demokrasi.

Demokrasi bukan gedung parlemen yang megah, melainkan ruang partisipasi yang hidup. Demokrasi bukan hanya bilik suara lima tahunan, melainkan kebebasan berpendapat, jaminan oposisi, independensi hukum, serta akuntabilitas kekuasaan.

Jika pembangunan fisik berjalan cepat, sementara kualitas kebebasan sipil stagnan atau bahkan menurun, maka kita menghadapi ketimpangan yang lebih berbahaya daripada defisit anggaran: defisit demokrasi.

Di sebuah desa yang dilalui proyek strategis nasional, seorang petani kehilangan sebagian lahannya. Ia menerima ganti rugi, namun merasa prosesnya tak transparan. Ia enggan berbicara terlalu keras. “Takut repot,” ujarnya sambil tersenyum hambar.

Di kota lain, seorang aktivis lingkungan melaporkan intimidasi setelah mengkritik proyek tambang. Ia memilih membatasi unggahan media sosialnya. “Lebih aman diam,” katanya.

Di ruang redaksi, seorang jurnalis muda mengakui adanya tekanan halus ketika menulis laporan investigasi tentang relasi bisnis dan kekuasaan. Tak ada larangan tertulis, tetapi ada batas tak kasatmata yang membuatnya berpikir dua kali.

Cerita-cerita ini bukan kisah heroik yang dramatis. Mereka hadir dalam bisik-bisik, dalam kehati-hatian, dalam pilihan kata yang dipertimbangkan berkali-kali. Demokrasi tidak selalu runtuh dengan suara gemuruh. Ia bisa retak dalam sunyi.

Salah satu gejala yang patut dicermati adalah menguatnya sentralisasi kekuasaan. Dalam praktik, koordinasi nasional memang diperlukan untuk percepatan pembangunan. Namun ketika hampir semua keputusan strategis terkonsentrasi pada lingkar kekuasaan pusat, ruang partisipasi daerah dan masyarakat sipil menyempit.

Partai politik pun menghadapi tantangan internal. Kaderisasi kerap kalah oleh pragmatisme elektoral. Koalisi gemuk menciptakan stabilitas jangka pendek, tetapi berisiko melemahkan fungsi kontrol parlemen. Oposisi yang efektif menjadi langka.

Demokrasi membutuhkan keseimbangan. Ia memerlukan pemerintah yang kuat, tetapi juga kontrol yang kuat. Tanpa oposisi yang vokal dan masyarakat sipil yang bebas, kekuasaan cenderung merasa nyaman tanpa koreksi.

Kita sering membicarakan infrastruktur fisik, tetapi jarang membahas infrastruktur politik. Padahal, demokrasi memerlukan infrastruktur yang tak kalah penting: lembaga peradilan yang independen, aparat penegak hukum yang profesional, birokrasi yang netral, serta media yang bebas.

Jika proyek jalan tol bisa dirancang dengan detail teknis, maka reformasi hukum pun membutuhkan desain yang jelas. Jika bendungan diperiksa berkala untuk memastikan ketahanannya, maka lembaga demokrasi pun perlu evaluasi berkala agar tidak rapuh.

Masalahnya, membangun infrastruktur politik tidak semudah membangun jalan. Ia tak bisa diresmikan dengan gunting pita. Ia tak selalu terlihat dalam foto udara. Namun tanpa fondasi politik yang kokoh, kemegahan fisik bisa berdiri di atas tanah yang labil.

Demokrasi bukan hanya prosedur, tetapi rasa. Rasa bahwa suara dihitung, kritik dihargai, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Ketika publik mulai merasa bahwa hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kepercayaan terkikis.

Kepercayaan publik adalah modal sosial yang tak ternilai. Ia lebih penting daripada rating investasi. Ketika rakyat percaya, kebijakan sulit pun dapat diterima. Sebaliknya, ketika kepercayaan retak, kebijakan terbaik pun dicurigai.

Dalam beberapa tahun terakhir, polarisasi politik sempat menguat. Kontestasi elektoral yang keras meninggalkan luka sosial. Tantangan pemerintahan mana pun adalah menyembuhkan polarisasi itu tanpa mengorbankan prinsip demokrasi.

Rekonsiliasi politik tidak boleh berarti pembungkaman kritik. Stabilitas tidak boleh dibeli dengan pengerdilan kebebasan.

Indonesia adalah negara besar dengan keragaman luar biasa. Demokrasi di negeri ini tidak pernah mudah. Ia lahir dari pergulatan panjang melawan otoritarianisme. Reformasi 1998 membuka kran kebebasan yang dulu tertutup rapat.

Pertanyaannya kini: apakah kita menjaga kran itu tetap mengalir, atau perlahan memutarnya kembali atas nama efisiensi dan stabilitas?

Pembangunan fisik penting. Kita membutuhkan jalan, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dan teknologi. Namun kita juga membutuhkan warga yang berani bersuara tanpa takut, jurnalis yang bebas mengungkap fakta, hakim yang tegak lurus pada hukum, dan politisi yang siap dikritik.

Gedung-gedung bisa runtuh oleh gempa. Demokrasi bisa runtuh oleh ketidakpedulian.

Ketika seorang pedagang kopi memandangi jalan layang yang megah, ia tak hanya berharap dagangannya laku. Ia berharap anaknya mendapat pendidikan yang adil, kesempatan kerja yang setara, dan hidup dalam negara yang mendengar suaranya.

Kemegahan fisik adalah wajah negara. Demokrasi adalah jiwanya.

Jika wajah bersinar tetapi jiwa rapuh, maka yang kita bangun bukan peradaban, melainkan ilusi kemajuan.

Dan sejarah selalu mencatat: bangsa yang besar bukan hanya yang mampu membangun tinggi, tetapi yang mampu menjaga nilai-nilai dasarnya tetap kokoh.

MoneyTalk, Jakarta – Di sebuah warung kopi kecil di sudut kota, percakapan tiga lelaki paruh baya terdengar lirih namun sarat makna. Mereka bukan akademisi, bukan pula politisi. Hanya warga biasa yang dulu begitu bersemangat mengikuti setiap perkembangan politik negeri ini. Kini, nada bicara mereka berbeda. Bukan lagi perdebatan tentang visi dan gagasan, melainkan keluhan: “Susah percaya lagi…”

Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi potret paling jujur tentang kondisi bangsa hari ini: krisis kepercayaan publik. Sebuah krisis yang tak lahir dalam semalam, melainkan terakumulasi dari rentetan peristiwa, janji yang tak ditepati, dan kepemimpinan yang kehilangan arah moralnya.

Kepercayaan publik adalah fondasi tak kasat mata yang menopang stabilitas sosial dan politik. Tanpa kepercayaan, kebijakan sehebat apa pun akan dipandang sinis. Program sebaik apa pun akan dicurigai. Bahkan niat tulus pun dianggap sebagai strategi pencitraan.

Bangsa ini pernah memiliki pemimpin yang menjadikan moralitas sebagai panglima. Nama seperti Mohammad Hatta dikenang bukan karena retorikanya, melainkan karena keteladanan hidupnya yang sederhana dan bersih. Atau Abdurrahman Wahid, yang meski kontroversial, tetap dihormati karena konsistensinya membela kemanusiaan dan pluralisme.

Kini, publik menyaksikan sesuatu yang berbeda. Politik terasa semakin transaksional. Etika sering dikalahkan oleh kepentingan jangka pendek. Pernyataan pejabat kerap kontradiktif, kebijakan berubah-ubah tanpa penjelasan memadai. Dalam ruang digital, kepercayaan runtuh lebih cepat daripada klarifikasi.

Kepemimpinan bukan sekadar soal kekuasaan administratif atau kemampuan teknokratis. Ia adalah tentang arah, keteladanan, dan keberanian mengambil risiko demi kebenaran.

Kepemimpinan moral berarti berani mengatakan yang benar meski tak populer. Berani menolak fasilitas berlebihan ketika rakyat sedang kesulitan. Berani mengakui kesalahan, bukan mencari kambing hitam.

Krisis hari ini bukan sekadar krisis ekonomi atau politik. Ia adalah krisis moral. Ketika standar etika menjadi relatif, ketika pelanggaran dianggap biasa, dan ketika publik melihat adanya ketimpangan antara ucapan dan tindakan, maka runtuhlah legitimasi.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dunia juga menyaksikan gejala serupa. Namun, bagi bangsa yang menjunjung tinggi nilai Pancasila dan religiusitas dalam kehidupan publik, kegagalan moral terasa lebih menyakitkan.

Di era media sosial, citra bisa dibangun dalam hitungan detik. Namun integritas dibentuk oleh konsistensi waktu. Banyak pemimpin hari ini terjebak dalam logika pencitraan: unggahan kegiatan sosial, narasi empati, hingga slogan-slogan moral. Tetapi publik semakin cerdas membaca perbedaan antara simbol dan substansi.

Masyarakat tidak lagi hanya mendengar pidato. Mereka membandingkan data, melihat rekam jejak, dan menilai konsistensi.

Kepercayaan publik tidak hilang karena satu kesalahan. Ia hilang karena pola. Pola pengabaian aspirasi. Pola pembiaran pelanggaran. Pola ketidaktegasan terhadap pelaku penyimpangan.

Sore itu, saya bertemu Ibu Rini, seorang pedagang kecil di pasar tradisional. Ia tidak berbicara tentang teori politik. Ia hanya berkata, “Kami ini cuma ingin pemimpin yang bisa dipercaya. Kalau janji ya ditepati. Kalau salah ya minta maaf.”

Sederhana. Tetapi di situlah inti persoalan. Rakyat tidak menuntut kesempurnaan. Mereka menuntut kejujuran.

Di sudut lain, seorang mahasiswa mengatakan, “Kami kehilangan figur yang bisa dijadikan panutan. Banyak yang pintar, tapi sedikit yang benar-benar memberi teladan.”

Pernyataan itu menggambarkan jarak antara elite dan rakyat. Jarak yang bukan hanya fisik, tetapi emosional dan moral.

Mengembalikan kepercayaan publik bukan perkara retorika. Ia membutuhkan langkah nyata:

1. Transparansi dan akuntabilitas yang konsisten, bukan hanya saat krisis.

2. Penegakan hukum tanpa pandang bulu, sebagai pesan moral yang jelas.

3. Kesederhanaan dan empati nyata, bukan simbolik.

Keberanian mengoreksi diri, karena pemimpin besar bukan yang tak pernah salah, melainkan yang jujur memperbaiki kesalahan.

Sejarah membuktikan, bangsa ini selalu menemukan titik balik ketika moralitas kembali dijadikan kompas. Krisis bisa menjadi momentum refleksi.

Kepemimpinan moral tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari karakter, dari proses panjang, dan dari kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah.

Krisis kepercayaan publik adalah alarm keras bagi semua pemegang kekuasaan. Ia bukan sekadar isu komunikasi, melainkan persoalan mendasar tentang integritas.

Jika kepercayaan adalah mata uang sosial, maka hari ini nilainya sedang terdepresiasi. Tugas pemimpin bukan menyalahkan pasar opini, melainkan memperbaiki fondasi moralnya.

Pada akhirnya, rakyat tidak akan mengingat seberapa banyak slogan yang diucapkan, tetapi seberapa kuat teladan yang diberikan.

Dan sejarah, seperti biasa, akan mencatat bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling bermartabat.

Penulis : Nano Hendi Hartono, wartawan senior

MoneyTalk, Jakarta – Demokrasi selalu lahir dari harapan. Ia tumbuh dari luka sejarah, dari keinginan manusia untuk tidak lagi tunduk pada kekuasaan yang sewenang-wenang. Di Indonesia, ingatan kolektif tentang jatuhnya rezim otoritarian pada akhir abad ke-20 menjadi fondasi moral bagi perjalanan panjang demokrasi. Namun hari ini, di tengah kebebasan yang tampak prosedural, muncul pertanyaan yang lebih sunyi: apakah demokrasi masih menghadirkan keberanian, atau justru melahirkan ketakutan baru yang lebih halus?

Demokrasi modern menjanjikan ruang partisipasi, kebebasan berbicara, serta perlindungan hukum. Tetapi dalam praktiknya, ruang itu kerap menyempit bukan karena larangan formal, melainkan karena tekanan sosial, ekonomi, dan politik yang tidak terlihat. Ketakutan tidak lagi hadir dalam bentuk laras senjata atau penjara terbuka seperti pada masa kekuasaan Soeharto, melainkan melalui mekanisme yang lebih subtil: stigmatisasi, kriminalisasi opini, hingga pengucilan sosial di ruang digital.

Demokrasi prosedural tetap berjalan—pemilu digelar, partai bertarung, parlemen bersidang. Namun demokratisasi sebagai proses pendewasaan warga justru mengalami kemunduran. Masyarakat semakin berhitung sebelum bersuara. Kritik sering dibaca sebagai ancaman, bukan bagian dari kesehatan republik.

Di titik inilah demokrasi berubah wajah: dari ruang kebebasan menjadi ruang kecemasan.

Setiap rezim memiliki narasi legitimasi. Pada masa lalu, stabilitas dijadikan alasan pembatasan kebebasan. Kini, stabilitas hadir dalam bentuk baru: pembangunan, investasi, dan keamanan digital. Tidak ada yang salah dengan pembangunan, tetapi ketika pembangunan dijadikan justifikasi untuk membungkam kritik, demokrasi kehilangan ruhnya.

Pada era Joko Widodo, misalnya, pembangunan infrastruktur menjadi simbol kemajuan sekaligus medan perdebatan tentang ruang kritik publik. Sementara pada masa Prabowo Subianto, tantangan demokrasi memasuki fase baru: bagaimana menjaga stabilitas politik tanpa mengorbankan keberanian warga untuk berbeda pendapat.

Demokrasi yang sehat bukanlah demokrasi yang sunyi dari kritik, melainkan yang mampu menampung kegaduhan tanpa kehilangan arah.

Sebagai wartawan, saya menyaksikan perubahan paling terasa terjadi di ruang redaksi. Dulu, sensor datang dari luar: telepon pejabat, ancaman pencabutan izin, atau tekanan aparat. Kini, sensor justru lahir dari dalam—dari rasa takut kehilangan iklan, akses, bahkan keamanan pribadi.

Fenomena ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai demokratisasi ketakutan: ketakutan yang tidak dipaksakan secara langsung, tetapi diterima sebagai kewajaran. Wartawan memilih kata lebih aman, aktivis menunda suara, akademisi menyamarkan kritik. Kebebasan masih ada, tetapi keberanian menipis.

Di sinilah demokrasi kehilangan energi moralnya.

Demokrasi membutuhkan warga yang percaya bahwa suaranya berarti. Namun ketika korupsi terasa berulang, elite tampak berganti wajah tanpa perubahan substansi, dan hukum dianggap tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, kepercayaan publik perlahan terkikis.

Kelelahan kolektif ini berbahaya. Warga yang lelah tidak lagi melawan ketidakadilan—mereka hanya menyesuaikan diri. Demokrasi berubah menjadi rutinitas lima tahunan tanpa partisipasi bermakna.

Ketika ketakutan dan kelelahan bertemu, lahirlah masyarakat yang diam. Dan diam adalah ruang paling subur bagi kemunduran demokrasi.

Suatu malam di pinggiran kota, saya duduk di warung kopi sederhana. Televisi menyiarkan debat politik, tetapi tak seorang pun benar-benar memperhatikan. Obrolan lebih banyak tentang harga beras, cicilan motor, dan kabar anak yang sulit mendapat pekerjaan.

Saya bertanya kepada seorang sopir ojek, “Masih percaya politik bisa mengubah hidup?”

Ia tersenyum tipis.

“Percaya sih… tapi takut berharap terlalu tinggi.”

Jawaban sederhana itu terasa lebih jujur daripada pidato mana pun. Demokrasi bagi sebagian warga bukan lagi ruang idealisme, melainkan sekadar latar belakang kehidupan yang keras.

Di warung itu, saya melihat wajah demokrasi yang sebenarnya: tidak heroik, tidak juga dramatis—hanya sunyi.

Apakah demokrasi Indonesia sedang menuju kegelapan? Tidak selalu. Sejarah menunjukkan bahwa demokrasi adalah proses naik-turun. Ia bisa melemah, tetapi juga bisa bangkit ketika warga menemukan kembali keberaniannya.

Harapan itu masih ada—pada jurnalisme yang tetap kritis, pada mahasiswa yang berani bersuara, pada warga desa yang memperjuangkan tanahnya, dan pada generasi muda yang menolak diwarisi ketakutan.

Demokrasi tidak runtuh dalam satu malam. Ia memudar perlahan ketika rasa takut dianggap normal. Karena itu, melawan ketakutan—sekecil apa pun—adalah tindakan paling demokratis hari ini.

Dan mungkin, dari keberanian keberanian kecil itulah demokrasi Indonesia akan menemukan jalan pulangnya.

Penulis : Nano Hendi Hartono, Wartawan Senior

MoneyTalk, Jakarta – Arah kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak awal menimbulkan perdebatan klasik dalam ekonomi politik Indonesia: apakah negara sedang bergerak menuju ekonomi pasar yang kompetitif, atau justru memperkuat jaringan oligarki yang selama ini menguasai sumber daya strategis. Pertanyaan ini tidak sederhana, karena kebijakan yang lahir menunjukkan watak yang berlapis—populis, nasionalis, sekaligus pragmatis terhadap kekuatan modal.

Salah satu ciri paling menonjol dari kebijakan ekonomi Prabowo adalah menguatnya peran negara. Negara tidak hanya menjadi regulator, tetapi juga aktor langsung melalui berbagai instrumen: pengelolaan sumber daya alam, pembentukan dana investasi strategis, hingga pengaturan devisa ekspor.

Pendekatan ini menandai pergeseran dari logika liberalisasi pasar menuju kapitalisme negara (state capitalism), di mana pemerintah berperan aktif mengarahkan arus modal, industri prioritas, dan distribusi manfaat ekonomi. Dalam kerangka ideologis, langkah ini sering dibingkai sebagai upaya menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945—bahwa cabang produksi penting harus dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Namun dalam praktik politik ekonomi Indonesia, penguatan negara selalu membawa dua kemungkinan:

1. Negara benar-benar menjadi pelindung kepentingan publik.

2. Negara justru menjadi alat distribusi rente bagi kelompok yang dekat dengan kekuasaan.

Di titik inilah perdebatan pro-pasar versus oligarki menemukan relevansinya.

Program bantuan sosial berskala besar—mulai dari makan bergizi gratis, subsidi, hingga berbagai stimulus daya beli—menunjukkan orientasi kuat pada penguatan konsumsi domestik. Strategi ini secara ekonomi masuk akal dalam jangka pendek: menjaga pertumbuhan tetap bergerak, menahan gejolak sosial, serta memperkuat legitimasi politik.

Tetapi populisme fiskal memiliki konsekuensi. Ketika belanja sosial membesar tanpa diiringi transformasi produktivitas, ekonomi berisiko terjebak pada pertumbuhan berbasis konsumsi, bukan produksi bernilai tambah tinggi. Dalam jangka panjang, ini dapat menekan ruang fiskal negara dan meningkatkan ketergantungan pada utang maupun eksploitasi sumber daya alam.

Dengan kata lain, kebijakan ini pro-rakyat secara distributif, tetapi belum tentu pro-pasar secara struktural.

Bagi pelaku pasar, ukuran utama bukan sekadar besarnya belanja negara, melainkan kepastian aturan dan konsistensi kebijakan. Setiap sinyal ketidakpastian—baik dalam tata kelola fiskal, transparansi proyek, maupun arah regulasi—akan segera tercermin pada respons investor dan volatilitas pasar keuangan.

Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan Prabowo: Ia ingin negara kuat sekaligus investasi tetap deras.

Padahal secara teoritis, intervensi negara yang besar sering kali berbenturan dengan kebutuhan pasar akan kepastian dan kompetisi yang setara.

Jika keseimbangan ini gagal dijaga, maka yang muncul bukan ekonomi pasar yang sehat, melainkan ekonomi patronase—di mana akses terhadap kekuasaan lebih menentukan daripada efisiensi usaha.

Narasi resmi kerap menyebut kebijakan nasionalisme ekonomi sebagai upaya mematahkan dominasi oligarki lama. Penguatan peran negara, hilirisasi industri, serta kontrol terhadap sumber daya dipandang sebagai jalan membangun kedaulatan ekonomi.

Namun sejarah Indonesia menunjukkan pola berulang: setiap rezim yang berjanji melawan oligarki sering kali melahirkan oligarki versinya sendiri.

Oligarki tidak selalu berarti konglomerat lama. Ia bisa berubah bentuk menjadi: jaringan bisnis baru yang dekat dengan pusat kekuasaan, konsorsium proyek strategis, atau elite politik-ekonomi yang tumbuh dari distribusi lisensi dan konsesi negara.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan ada atau tidak ada oligarki, melainkan: apakah tata kelola negara cukup transparan untuk mencegah konsentrasi kekayaan dan kekuasaan?

Di sebuah desa pertanian di Jawa, program bantuan pangan dan subsidi pupuk memang terasa nyata. Warung kembali ramai, anak-anak berangkat sekolah dengan perut kenyang, dan perputaran uang desa sedikit menggeliat.

Namun di balik itu, petani masih menghadapi persoalan lama:

harga gabah ditentukan tengkulak besar, akses modal terbatas, dan rantai distribusi dikuasai pemain bermodal kuat. Negara hadir melalui bantuan, tetapi struktur pasar tetap tidak berubah.

Bagi petani kecil, perdebatan pro-pasar atau oligarki mungkin terdengar jauh. Yang mereka rasakan sederhana:

apakah hidup lebih mudah, dan apakah masa depan anak mereka lebih pasti.

Di titik sunyi inilah keberhasilan ekonomi sebenarnya diuji.

Membaca keseluruhan arah kebijakan, ekonomi Prabowo tampak bergerak menuju model hibrida:

1. Nasionalis dalam penguasaan sumber daya

2. Populis dalam distribusi kesejahteraan

3. Pragmatis dalam merangkul modal besar

Model ini bukan hal baru dalam sejarah pembangunan Asia. Banyak negara tumbuh melalui kombinasi negara kuat dan pasar yang diarahkan. Tetapi keberhasilannya selalu bergantung pada satu faktor kunci:

integritas institusi.

Tanpa tata kelola yang bersih, kapitalisme negara mudah berubah menjadi kapitalisme kroni.

Tanpa kompetisi yang sehat, nasionalisme ekonomi bisa menjelma monopoli terselubung.

Apakah kebijakan ekonomi Prabowo pro-pasar atau berpihak pada oligarki?

Jawaban paling jujur: belum sepenuhnya keduanya, tetapi berpotensi menjadi salah satunya.

Indonesia hari ini berada di persimpangan: bisa menuju negara kuat yang adil dan produktif atau tergelincir menjadi ekonomi yang dikendalikan segelintir elite baru.

Segalanya bergantung pada keberanian melakukan hal yang paling sulit dalam politik: membangun transparansi, menegakkan hukum tanpa kompromi, dan memastikan kekuasaan tidak menjadi sumber rente.

Jika itu tercapai, maka intervensi negara akan menjadi jalan menuju kemakmuran. Jika gagal, sejarah hanya akan mencatat satu hal: oligarki berganti wajah, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.

Penulis : Nano Hendi Hartono Nano, Wartawan Senior