6 November 2026

Pemaen Bola Kampung

MoneyTalk.id, Jakarta – Sebelum peluit pertama dibunyikan, Perancis dan Inggris sejatinya sudah “bertanding” selama hampir seribu tahun. Mulai dari Penaklukan Norman pada 1066, Perang Seratus Tahun (1337–1453), hingga saling berebut pengaruh di berbagai belahan dunia pada era kolonial. Dari Joan of Arc hingga Napoleon Bonaparte, dari Agincourt hingga Waterloo, sejarah kedua bangsa ini dipenuhi rivalitas yang tak pernah benar-benar padam. Untungnya, pada 2026 mereka memilih menyelesaikannya lewat sepak bola, bukan lagi lewat meriam dan kapal perang.

Kini, rivalitas itu kembali hadir di panggung Piala Dunia 2026. Memang bukan final yang mereka dambakan, tetapi jangan salah, perebutan tempat ketiga tetap soal gengsi. Toh, pulang membawa medali perunggu tentu jauh lebih enak daripada pulang sambil terus memutar ulang rekaman semifinal.

Perancis datang ke laga ini setelah dihentikan Spanyol, sementara Inggris kembali dibuat patah hati oleh Argentina. Rasanya, kalau FIFA memberikan penghargaan untuk tim yang paling akrab dengan kalimat “maybe next time”, Inggris barangkali sudah menjadi langganan nominasi. Namun justru di sinilah karakter sebuah tim besar diuji: mampu bangkit setelah kegagalan dan menutup turnamen dengan kepala tegak.

Jika melihat perjalanan sepanjang turnamen, kedua tim sama-sama tampil impresif. Perancis dan Inggris sama-sama membukukan lima kemenangan dari enam pertandingan. Namun, Les Bleus tampil lebih efisien. Sepanjang turnamen, Perancis menunjukkan keseimbangan yang sangat baik antara lini depan dan lini belakang. Mereka menjadi salah satu tim dengan produktivitas gol tertinggi sekaligus memiliki pertahanan yang sulit ditembus. Inggris juga tampil tajam, tetapi beberapa kali terlihat lebih mudah kehilangan konsentrasi di lini belakang, terutama pada momen-momen krusial.

Perjalanan Perancis menuju empat besar juga cukup meyakinkan. Mereka keluar sebagai juara Grup I sebelum menumbangkan Swedia (3-0) di babak 32 besar, Paraguay (1-0) di babak 16 besar, dan Maroko (2-0) di perempat final. Langkah mereka baru terhenti setelah takluk 0-2 dari Spanyol di semifinal.

Inggris pun tidak kalah impresif. Sebagai juara Grup L, The Three Lions menyingkirkan DR Kongo (2-1), kemudian mengalahkan Meksiko (3-2) dan Norwegia (2-1) untuk melangkah ke semifinal. Sayangnya, seperti film horor yang sudah sering diputar, petaka datang lagi di penghujung pertandingan ketika Argentina memastikan kemenangan 2-1. Bagi pendukung Inggris, menit-menit akhir tampaknya masih menjadi genre yang paling menegangkan.

Laga perebutan tempat ketiga memang sering dianggap sebagai pertandingan yang “tidak diinginkan”. Namun justru karena beban sudah berkurang, pertandingan seperti ini biasanya lebih terbuka. Para pemain cenderung bermain lepas, pelatih lebih berani mengambil risiko, dan penonton sering dihadiahi hujan gol. Singkatnya, pertandingan ini berpotensi lebih menghibur daripada beberapa laga final yang terlalu berhati-hati.

Sorotan tentu kembali mengarah kepada Kylian Mbappé. Penyerang Perancis itu masih memimpin daftar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 dengan 8 gol dan berpeluang besar mengamankan Sepatu Emas. Di kubu Inggris, Harry Kane tetap menjadi andalan di lini depan, sementara kreativitas Jude Bellingham akan menjadi salah satu senjata utama untuk membongkar pertahanan Perancis.

Jika melihat kualitas permainan sepanjang turnamen, Perancis memang sedikit lebih diunggulkan. Organisasi permainan mereka lebih rapi, pertahanannya lebih disiplin, dan serangan baliknya sangat mematikan. Namun Inggris memiliki mental bertarung yang tak bisa dipandang sebelah mata. Jika Kane, Bellingham, dan rekan-rekannya mampu memanfaatkan setiap peluang, pertandingan ini bisa berubah menjadi jual beli serangan yang membuat penonton lupa bahwa ini “hanya” perebutan tempat ketiga.

Prediksi saya, Perancis akan mengalahkan Inggris dengan skor 3-2 dalam pertandingan yang berlangsung sengit hingga peluit akhir. Saya memperkirakan Kylian Mbappé kembali menjadi pembeda lewat kontribusinya di lini serang Perancis, sementara Inggris akan memberikan perlawanan habis-habisan hingga menit terakhir. Meski demikian, solidnya permainan Les Bleus saya nilai cukup untuk mengamankan medali perunggu Piala Dunia 2026. Bagi Inggris, hasil tersebut akan kembali memperpanjang penantian untuk menutup Piala Dunia dengan senyum. Sementara Perancis setidaknya bisa pulang dengan medali di leher—karena kalau belum bisa membawa pulang trofi, membawa pulang perunggu tetap lebih baik daripada membawa pulang penyesalan.

Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung

MoneyTalk.id, Jakarta – Tidak semua film horor dimulai dengan suara jeritan. Justru film horor terbaik selalu diawali dengan suasana yang tenang, membuat penonton lengah sebelum akhirnya diteror habis-habisan. Begitulah semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris. Bagi para penonton di Indonesia yang rela begadang hingga dini hari, pertandingan ini bukan hanya menguras emosi, tetapi juga sukses membuat detak jantung naik-turun lebih cepat daripada harga cabai.

Babak pertama berjalan seperti adegan pembuka film horor. Tidak banyak peluang bersih tercipta, tetapi ketegangan terasa di setiap sentuhan bola. Argentina berusaha menguasai permainan, sementara Inggris tampil disiplin menunggu kesempatan menyerang balik. Bahkan, kalau ada yang sempat ke dapur membuat kopi, kemungkinan besar kopinya sudah keburu dingin karena terlalu sering bolak-balik ke depan televisi.

Memasuki babak kedua, cerita mulai berubah. Pada menit ke-55, Anthony Gordon berhasil memanfaatkan celah di lini belakang Argentina dan membawa Inggris unggul 1-0. Stadion bergemuruh. Pendukung Inggris mulai membayangkan tiket final sudah di depan mata. Bahkan mungkin ada yang diam-diam membuka aplikasi pesan untuk mengetik, “See you di final!” Untung saja belum sempat menekan tombol kirim.

Keunggulan itu membuat Inggris semakin percaya diri. Waktu yang terus berjalan terasa menjadi sekutu mereka, sementara bagi Argentina setiap menit yang berlalu seperti menghitung mundur menuju akhir cerita. Masalahnya, sepak bola punya kebiasaan buruk: sering merusak pesta tepat ketika para tamu baru saja mengambil piring.

Namun, setiap penonton film horor tahu satu aturan sederhana. Ketika musik latar tiba-tiba berhenti, biasanya bukan karena filmnya selesai. Justru saat itulah sesuatu akan muncul dari balik pintu.

Dan tepat ketika dini hari semakin larut, banyak orang mengira yang akan muncul hanyalah rasa kantuk.

Ternyata bukan.

Yang muncul adalah Argentina.

Albiceleste menaikkan intensitas permainan. Tekanan demi tekanan memaksa Inggris bertahan semakin dalam. Jordan Pickford terus mengoordinasikan lini belakangnya agar tidak kehilangan fokus. Namun semakin dekat peluit akhir, semakin besar pula tekanan yang datang ke pertahanan Inggris.

Lalu datang jump scare pertama.

Menit ke-85, Lionel Messi menemukan ruang sempit dan mengirim umpan matang yang diselesaikan Enzo Fernández menjadi gol penyama kedudukan.

Gol. Skor berubah menjadi 1-1.

Dalam hitungan detik, suasana berubah total. Pendukung Argentina kembali bernyanyi, sementara pendukung Inggris mendadak diam. Diamnya bukan karena tidak ada suara, tetapi karena masing-masing sedang sibuk berdoa dalam hati, “Jangan sampai kebobolan lagi…”

Sayangnya, sepak bola memang hobi melanjutkan kalimat yang diawali dengan kata “jangan sampai.”

Ketika injury time memasuki menit-menit terakhir, Lionel Messi kembali mengangkat kepala. Sebuah umpan silang presisi meluncur ke jantung pertahanan Inggris. Lautaro Martínez datang dari belakang dan menyambutnya dengan sundulan yang mengubah arah pertandingan.

Gol. Argentina berbalik unggul 2-1.

Di situlah jump scare terakhir muncul.

Kalau ada alat pengukur tekanan darah di tribun malam itu, hasilnya mungkin sudah cukup dijadikan bahan penelitian fakultas kedokteran. Pendukung Argentina yang beberapa menit sebelumnya nyaris putus asa kini saling berpelukan dengan siapa saja di sebelahnya, bahkan mungkin dengan orang yang baru dikenalnya lima menit sebelumnya. Sebaliknya, pendukung Inggris mendadak menjadi ahli teori. Mulai bermunculan kalimat seperti, “Kalau tadi bolanya dibuang…”, “Kalau tadi bertahan sedikit lebih rapat…”, hingga “Kalau waktu bisa diputar lagi…”—sebuah profesi dadakan yang hampir selalu muncul setelah kekalahan dramatis.

Peluit panjang akhirnya berbunyi. Bagi Inggris, pertandingan ini adalah film horor dengan akhir yang paling menyakitkan: kemenangan yang sudah di depan mata berubah menjadi mimpi buruk hanya dalam hitungan menit. Sebaliknya, bagi Argentina, laga ini kembali menegaskan karakter mereka sebagai tim yang tidak pernah berhenti percaya sampai detik terakhir.

Sementara itu, bagi para penonton di Indonesia, rasa kantuk yang sempat datang di awal pertandingan mendadak lenyap tanpa bekas. Tidak perlu kopi tambahan. Dua gol Argentina di penghujung laga sudah lebih dari cukup menjadi “alarm” yang membangunkan seluruh isi rumah.

Kini, Spanyol telah menunggu di partai final. Namun semifinal ini meninggalkan satu pelajaran sederhana bagi siapa pun yang akan menghadapi Albiceleste.

Melawan Argentina, keunggulan satu gol bukanlah akhir cerita. Justru di situlah film horornya sering kali baru benar-benar dimulai.

Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung

MoneyTalk,Jakarta — Kabar duka datang dari kalangan pegiat hukum dan hak asasi manusia. Johnson Panjaitan, SH, pengacara dan aktivis HAM yang dikenal lantang membela rakyat kecil dan korban pelanggaran keadilan, berpulang meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan yang pernah berjuang bersamanya.

Bagi generasi aktivis Reformasi, nama Johnson Panjaitan tak sekadar pengacara. Ia adalah simbol keberanian melawan ketidakadilan. Kenangan paling kuat tentangnya muncul dari masa sidang Subversif Partai Rakyat Demokratik (PRD) tahun 1996–1997, ketika ia mendampingi para aktivis muda yang dituduh melawan negara.

Setiap kali Johnson hadir di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, suasana berubah tegang. Para jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Agung kerap terlihat gugup, bahkan sebelum sidang dimulai. Mereka sering mampir ke sel tahanan hanya untuk menanyakan, “Apakah Johnson Panjaitan mendampingi hari ini?”

Jika jawabannya ya, wajah mereka langsung pucat. Johnson tampil dengan suara menggelegar, menyanggah setiap pernyataan jaksa, dan tak segan memotong pertanyaan yang dianggap menyesatkan. Ia tak pernah gentar, bahkan ketika hakim menegur keras tindakannya.

Usai sidang, Johnson kerap mendatangi meja jaksa dan memarahi mereka dengan nada tinggi. Para jaksa yang biasanya garang itu duduk diam, pucat, seolah merekalah yang sedang diadili. Johnson menjadikan ruang sidang bukan sekadar tempat perdebatan hukum, melainkan panggung moral untuk menegakkan kebenaran.

Kini, Johnson Panjaitan telah pergi. Namun gema suaranya yang mengguncang ruang-ruang sidang, keberaniannya menantang kekuasaan, dan ketulusannya membela kaum tertindas akan terus hidup dalam ingatan banyak orang.

Selamat jalan, Johnson Panjaitan, SH.

Engkau berpulang sebagai pembela rakyat yang tak pernah tunduk pada ketakutan, dan sejarah akan mencatat keberanianmu. 🙏

Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung Yang Juga Aktivis Pro Demokrasi Sejak 1994

MoneyTalk, Jakarta – “Fan, lu tahu nggak kenapa Majapahit bubar?”

Alfan, yang sedang selonjoran sambil nyeruput kopi sachet di pinggir Kali Sentiong, mendengus, “Ya karena orang-orangnya udah pada pensiun kali, Dra. Zaman segitu kan belum ada KTP seumur hidup.”

Indra JP yang dikenal di kampung Cibinong sebagai “sejarawan absurd” karena suka ngulik babad sambil ngopi di warung padang—menepuk jidatnya sendiri. “Bukan begitu, Fan! Majapahit itu bubar gara-gara cinta. Cinta yang lebih berbahaya dari upil yang nempel di masker!”

“Cinta?!” Alfan menatap Indra setengah tak percaya. “Jangan bilang, rajanya kena bucin, nih.”

Indra mengangkat jari telunjuknya dramatis. “Betul! Inilah kisah Prabu Brawijaya yang jatuh cinta sama cewek Tionghoa bernama Siu Ban Ci. Nih cewek bukan sembarangan, Fan. Dia datang ke Majapahit cuma buat nemenin bapaknya, Syekh Betong, alias Tan Go Hwat, seorang saudagar kaya sekaligus ulama besar dari Tiongkok.”

Alfan mengerutkan dahi. “Oh… berarti dari dulu juga udah ada ekspor-impor perasaan, ya, Dra.”

“Betul!” Indra tergelak. “Jadi gini, Syekh Betong datang ke istana buat izin dagang di daerah Keling. Bawa seserahan segambreng batu giok, kain sutra, dupa, mutiara tapi yang paling bikin geger justru anak gadisnya. Siu Ban Ci cantik, kalem, dan… katanya matanya bening kayak embun di pagi hari.”

“Wih, puitis amat, Dra. Lu yakin ini sejarah, bukan FTV?”

“Beneran, Fan! Di Babad Tanah Jawi juga ada. Pokoknya, begitu Prabu Brawijaya liat Siu Ban Ci, langsung jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama. Tapi masalahnya, raja ini udah punya istri, Dewi Amarawati, alias Putri Champa.”

“Ah, udah punya bini masih nambah. Dasar laki-laki kerajaan,” gumam Alfan sambil nyeruput kopi.

“Begitulah politik, Fan. Kadang yang nggak bisa ditaklukin lewat perang, ditaklukin lewat perasaan,” kata Indra, sok bijak. “Nah, akhirnya Brawijaya nikahin Siu Ban Ci jadi garwa ampeyan, alias selir istana. Tapi ternyata… Siu Ban Ci hamil duluan.”

Alfan melotot. “Wah, gawat nih, pasti permaisurinya ngamuk.”

“Nah, itu dia. Dewi Amarawati panas, cemburu berat. Akhirnya dia minta Brawijaya menceraikan Siu Ban Ci. Dan… dengan berat hati, sang raja nurut. Siu Ban Ci yang lagi hamil tiga bulan dikirim ke Palembang, dititipin ke Arya Damar, Adipati Palembang.”

“Waduh, kirim orang hamil lintas pulau, tega amat tuh raja.”

“Namanya juga zaman dulu, Fan. Tapi Prabu Brawijaya tetep care kok. Dia pesan ke Arya Damar: jangan sentuh Siu Ban Ci sebelum anaknya lahir. Bahkan udah siapin nama buat anak itu: Naraprakosa, artinya ‘laki-laki perkasa’.”

Alfan mengangguk-angguk. “Terus anaknya lahir jadi siapa, Dra?”

“Lahir-lahir dikasih nama Raden Hasan, alias Jin Bun. Nih bocah yang kelak mendirikan Kesultanan Demak—kerajaan Islam pertama di Jawa. Jadi, bayangin, Fan: dari hubungan antara raja Hindu Jawa dan gadis Tionghoa Muslim, lahirlah era baru Islam di Nusantara.”

“Cieee… cinta beda budaya, beda agama, tapi hasilnya satu sejarah besar,” goda Alfan.

Indra JP tersenyum lebar, menepuk bahu sahabatnya. “Betul, Fan. Kadang sejarah besar itu dimulai bukan dari perang, tapi dari tatapan mata pertama di ruang tamu istana.”

“Berarti… kalau gue tatap mata anak warkop depan kali, bisa juga jadi sejarah, ya?”

“Bisa aja, Fan. Cuma paling sejarahnya di grup WA RT!”

Keduanya terbahak, sementara matahari sore memantul di air keruh Kali Sentiong. Di antara tawa dan canda itu, kisah cinta antara Prabu Brawijaya dan Siu Ban Ci kembali hidup—diceritakan bukan di istana, tapi di pinggir kali, oleh sejarawan absurd dari Cibinong dan pemuda Betawi yang selalu siap nyela di setiap paragraf sejarah.

Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung.

MoneyTalk, Jakarta – Indonesia baru saja kehilangan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tiket Piala Dunia: kepercayaan publik terhadap janji perubahan.

Dan di balik reruntuhan harapan itu, berdirilah nama-nama yang sejak awal begitu percaya diri menebar mimpi: Erick Thohir, Arya Sinulingga, dan para Exco PSSI.

Di bawah bendera reformasi sepak bola, mereka menjual optimisme, bukan strategi. Patrick Kluivert diboyong dengan gembar-gembor sebagai ikon kebangkitan, dan Arya Sinulingga menyebutnya “tim kepelatihan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.”

Kini, delapan pertandingan kemudian, “yang terbaik” itu justru menyisakan statistik getir dan ruang ganti yang dingin.

Publik tak marah karena kalah. Publik marah karena dibohongi harapan.

Sejak awal, asisten pelatih Alex Pastoor sudah berkata jujur bahwa target lolos ke Piala Dunia 2026 adalah “tidak realistis.” Tetapi, PSSI tetap memilih hidup di alam ilusi, menunggangi euforia suporter yang lapar prestasi.

Mereka tahu mimpi itu mustahil, tetapi mereka tetap menjualnya  lengkap dengan jargon kebangsaan dan baliho kemenangan yang belum pernah ada.

Itu bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk penipuan moral terhadap 200 juta rakyat yang mencintai sepak bola.

Dan ketika semua berantakan, jalan keluar yang mereka pilih adalah klasik: memecat pelatih, menghapus jejak salah urus, dan kembali bersembunyi di balik pernyataan “kita evaluasi.”

Tidak satu pun yang berani mengatakan dua kata paling sederhana dalam kamus integritas: “Saya mundur.”

Federasi sepak bola adalah lembaga kepercayaan publik, bukan panggung politik atau etalase gengsi internasional.

Maka, ketika kegagalan datang akibat kebijakan yang mereka buat sendiri, Erick Thohir dan gerombolannya di PSSI seharusnya tahu diri.

Mundur bukan aib, tapi penghormatan terakhir pada akal sehat bangsa yang sudah terlalu sering disuguhi janji tanpa hasil.

Sepak bola Indonesia butuh pemimpin yang mau bertanggung jawab, bukan yang pandai berpose di depan kamera sambil menyebut “kita sedang berproses.”

Rakyat sudah cukup sabar menunggu proses itu sejak tahun 1930.Kini saatnya berhenti menjual mimpi. Beri jalan bagi generasi yang berani bekerja  bukan sekadar berbicara.

Penulis ; Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung

MoneyTalk, Jakarta – Di peta Jawa Tengah, Pati mungkin cuma titik kecil. Tapi di buku sejarah perlawanan, Pati itu huruf kapital. Warganya punya kebiasaan unik: kalau ada aturan yang bikin hidup sengsara, responsnya bukan mengeluh pelan-pelan, tapi bikin pihak berwenang garuk-garuk kepala.

1825, kabar Pangeran Diponegoro melawan Belanda sampai di Pati. Zaman belum ada sinyal, tapi berita perang jalan lebih cepat dari kuda pos. Warga nggak cuma jadi penonton: ada yang nyumputin prajurit, ada yang jadi kurir. Inilah gotong royong model “jalur bawah tanah” jaringan kepercayaan dipakai bukan untuk pesta desa, tapi untuk bikin penjajah repot setengah mati.

Lalu masuk era Tanam Paksa. Petani dipaksa nanam tebu dan kopi, hasilnya diangkut semua. Di atas kertas, sistem ini rapi. Di lapangan? Petani Pati pura-pura sakit, kerja lelet, pupuknya asal tabur. Perlawanan sejenis ini nggak kelihatan di arsip pemerintah, tapi cukup bikin panen jeblok cara halus yang bikin penguasa gemas.

Awal 1900-an, pabrik gula mulai berdiri gagah. Untungnya di pihak pemilik pabrik, buntungnya di petani. Warga protes dengan mogok kirim tebu, bahkan ada yang nyolong roda gerobak biar distribusi macet. Strateginya sederhana: putus jalur kekuatan lawan, biar dia lumpuh dari sumbernya.

Pendudukan Jepang 1942–1945, beras jadi barang rebutan. Warga Pati bikin gudang rahasia, menyelamatkan stok pangan dari tangan tentara. Prinsipnya jelas: kalau urusan perut aman, hidup masih bisa dijalani dan penguasa nggak punya kartu truf buat menekan.

Orde Baru, giliran hutan jati yang dipasangi plang Perhutani. Warga dilarang ambil, tapi ada yang nekat bakar pos jaga, kayu pun diangkut lagi. Ini bukan sekadar ambil hak, tapi mengembalikan sesuatu yang mereka anggap memang milik sendiri.

2010-an, Ibu-ibu Kendeng bikin geger. Mereka nyemen kaki di depan Istana, menolak pabrik semen. Aksinya keras di lapangan, tapi pesannya lembut mengetuk rasa kemanusiaan orang banyak simbol yang sulit dilupakan.

Dan 2025, Pati kembali bikin headline. Pajak bumi naik dari Rp179 ribu jadi Rp1,3 juta. Warga turun ke jalan. Tapi yang paling heboh? Spanduknya: “Pajak Naik, Hati Turun.” Humor sarkas ini jadi senjata: kritik terasa ringan, tapi nyangkut di kepala publik.

Dua abad, metodenya berganti-ganti dari keris, pupuk ngawur, roda hilang, kaki bersemen, sampai spanduk sarkas. Tapi intinya sama: kalau kebijakan bikin hidup makin berat, warga Pati selalu punya cara untuk membalas.

Penulis : Agung Nugroho,Pemaen Bola Kampung

MoneyTalk, Jakarta – Delapan puluh tahun Indonesia merdeka. Wah, kalau ini manusia, udah bisa jadi sesepuh RT yang tiap pagi ngasih makan burung, tiap sore ngajak cucu naik sepeda keliling gang sambil pakai daster batik. Tapi sayangnya, negara bukan simbah-simbah. Negara harus terus waras, adil, dan mikirin masa depan rakyat bukan sekadar nostalgia zaman Proklamasi sambil nyanyi “Hari Merdeka” dengan semangat 17-an yang cuma hidup dua hari.

Nah, ngomong-ngomong soal merdeka, mari kita nyebrang dikit ke Eropa abad ke-18. Waktu itu, rakyat Prancis bangkit. Capek jadi ATM-nya bangsawan dan raja. Roti mahal, pajak gila-gilaan, hidup makin susah. Akhirnya mereka bilang: “Liberté, Égalité, Fraternité!” yang artinya: “Woi, kami juga pengin hidup layak, ya!”

Karl Marx, yang waktu itu belum lahir (tapi akhirnya komentar juga di kemudian hari), ngeliat revolusi ini kayak nonton film: dramatis, penuh aksi, tapi ending-nya plot twist. Kata Marx, yang tumbang memang raja, tapi yang naik tahta adalah kelas borjuis — pemilik modal. Alias: rakyat berhasil gulingin raja, tapi yang duduk di kursi empuk malah bos-bos yang hobinya mepetin UMR. Revolusi macam apa itu?

Indonesia? Mirip. Kita usir penjajah, merdeka tahun 1945, terus bangun negara. Tapi setelah 80 tahun, rakyat masih harus ngantri minyak goreng, disuruh bersyukur meski hidup pas-pasan, dan dituduh malas kalau miskin. Ada juga yang percaya bahwa kaya itu karena “rajin” dan miskin itu “karma buruk”  padahal kadang itu karena sistemnya udah disetting buat bikin orang kecil tetap jongkok.

Kalau kamu nanya, “Lho, kok bisa?” Nah, mari kita panggil Antonio Gramsci, teoritikus dari Italia yang hobi mikir di penjara. Gramsci bilang: dominasi bukan cuma pakai pentungan. Tapi juga pakai ideologi. Dibungkus cakep, masuk lewat kurikulum, sinetron, omongan ustaz sampai influencer. Jadinya, ketimpangan sosial dianggap wajar, bahkan alami. Rakyat dicekoki ide bahwa hidup susah itu nasib, bukan hasil dari struktur ekonomi-politik yang timpang.

Dan kalau kamu merasa “kok kayaknya negara ini dikuasai elite sendiri terus ya?”, jangan khawatir, kamu nggak gila. Itu memang pernah dibahas sama Frantz Fanon, dokter sekaligus revolusioner asal Aljazair. Menurut Fanon, setelah penjajah angkat kaki, yang sering naik ke kursi kekuasaan adalah elite lokal yang meniru gaya penjajah. Bukan revolusi, tapi franchise kolonialisme lokal. Isinya sama, cuma logonya aja beda.

Jadi, ketika kita nyanyi “merdeka, merdeka!”, pertanyaannya bukan cuma “merdeka dari siapa”, tapi juga merdeka untuk siapa. Kalau yang merdeka cuma grup WhatsApp para pemilik konsesi tambang, ya rakyat cuma diajak nonton dari tribun.

Sekarang bayangkan: sudah 80 tahun merdeka, tapi petani masih dibikin repot soal pupuk, buruh disuruh bersyukur meski kontrak 3 bulan, dan mahasiswa dikira idealis hanya karena punya jaket almamater.

Maka dari itu, kita butuh semangat revolusi baru bukan pakai parang, tapi pakai kesadaran. Revolusi yang ngerti bahwa kemerdekaan itu bukan event tahunan, tapi kerja harian. Bukan sekadar kibar bendera, tapi perjuangan biar semua orang bisa hidup wajar: makan cukup, kerja manusiawi, sekolah gratis, dan kalau ngomong di medsos nggak langsung diundang polisi.

Karl Marx bilang: tugas kita bukan cuma menafsirkan dunia, tapi mengubahnya. Nah, kalau kita masih sibuk mikirin baju adat buat lomba Agustusan, tapi nggak mikir kenapa gaji UMR nggak naik-naik, berarti kita baru setengah merdeka.

Jadi, selamat menyambut 80 tahun Indonesia merdeka. Semoga tahun ini, upacara-nya nggak cuma pakai topi SMA bolong, tapi juga pakai akal sehat dan keberanian untuk nanya:

“Kenapa negara ini belum bisa bikin rakyatnya hidup tenang padahal udah merdeka dari zaman mbah?”

Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung