MoneyTalk, Jakarta – “Fan, lu tahu nggak kenapa Majapahit bubar?”
Alfan, yang sedang selonjoran sambil nyeruput kopi sachet di pinggir Kali Sentiong, mendengus, “Ya karena orang-orangnya udah pada pensiun kali, Dra. Zaman segitu kan belum ada KTP seumur hidup.”
Indra JP yang dikenal di kampung Cibinong sebagai “sejarawan absurd” karena suka ngulik babad sambil ngopi di warung padang—menepuk jidatnya sendiri. “Bukan begitu, Fan! Majapahit itu bubar gara-gara cinta. Cinta yang lebih berbahaya dari upil yang nempel di masker!”
“Cinta?!” Alfan menatap Indra setengah tak percaya. “Jangan bilang, rajanya kena bucin, nih.”
Indra mengangkat jari telunjuknya dramatis. “Betul! Inilah kisah Prabu Brawijaya yang jatuh cinta sama cewek Tionghoa bernama Siu Ban Ci. Nih cewek bukan sembarangan, Fan. Dia datang ke Majapahit cuma buat nemenin bapaknya, Syekh Betong, alias Tan Go Hwat, seorang saudagar kaya sekaligus ulama besar dari Tiongkok.”
Alfan mengerutkan dahi. “Oh… berarti dari dulu juga udah ada ekspor-impor perasaan, ya, Dra.”
“Betul!” Indra tergelak. “Jadi gini, Syekh Betong datang ke istana buat izin dagang di daerah Keling. Bawa seserahan segambreng batu giok, kain sutra, dupa, mutiara tapi yang paling bikin geger justru anak gadisnya. Siu Ban Ci cantik, kalem, dan… katanya matanya bening kayak embun di pagi hari.”
“Wih, puitis amat, Dra. Lu yakin ini sejarah, bukan FTV?”
“Beneran, Fan! Di Babad Tanah Jawi juga ada. Pokoknya, begitu Prabu Brawijaya liat Siu Ban Ci, langsung jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama. Tapi masalahnya, raja ini udah punya istri, Dewi Amarawati, alias Putri Champa.”
“Ah, udah punya bini masih nambah. Dasar laki-laki kerajaan,” gumam Alfan sambil nyeruput kopi.
“Begitulah politik, Fan. Kadang yang nggak bisa ditaklukin lewat perang, ditaklukin lewat perasaan,” kata Indra, sok bijak. “Nah, akhirnya Brawijaya nikahin Siu Ban Ci jadi garwa ampeyan, alias selir istana. Tapi ternyata… Siu Ban Ci hamil duluan.”
Alfan melotot. “Wah, gawat nih, pasti permaisurinya ngamuk.”
“Nah, itu dia. Dewi Amarawati panas, cemburu berat. Akhirnya dia minta Brawijaya menceraikan Siu Ban Ci. Dan… dengan berat hati, sang raja nurut. Siu Ban Ci yang lagi hamil tiga bulan dikirim ke Palembang, dititipin ke Arya Damar, Adipati Palembang.”
“Waduh, kirim orang hamil lintas pulau, tega amat tuh raja.”
“Namanya juga zaman dulu, Fan. Tapi Prabu Brawijaya tetep care kok. Dia pesan ke Arya Damar: jangan sentuh Siu Ban Ci sebelum anaknya lahir. Bahkan udah siapin nama buat anak itu: Naraprakosa, artinya ‘laki-laki perkasa’.”
Alfan mengangguk-angguk. “Terus anaknya lahir jadi siapa, Dra?”
“Lahir-lahir dikasih nama Raden Hasan, alias Jin Bun. Nih bocah yang kelak mendirikan Kesultanan Demak—kerajaan Islam pertama di Jawa. Jadi, bayangin, Fan: dari hubungan antara raja Hindu Jawa dan gadis Tionghoa Muslim, lahirlah era baru Islam di Nusantara.”
“Cieee… cinta beda budaya, beda agama, tapi hasilnya satu sejarah besar,” goda Alfan.
Indra JP tersenyum lebar, menepuk bahu sahabatnya. “Betul, Fan. Kadang sejarah besar itu dimulai bukan dari perang, tapi dari tatapan mata pertama di ruang tamu istana.”
“Berarti… kalau gue tatap mata anak warkop depan kali, bisa juga jadi sejarah, ya?”
“Bisa aja, Fan. Cuma paling sejarahnya di grup WA RT!”
Keduanya terbahak, sementara matahari sore memantul di air keruh Kali Sentiong. Di antara tawa dan canda itu, kisah cinta antara Prabu Brawijaya dan Siu Ban Ci kembali hidup—diceritakan bukan di istana, tapi di pinggir kali, oleh sejarawan absurd dari Cibinong dan pemuda Betawi yang selalu siap nyela di setiap paragraf sejarah.
Penulis : Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung.




