2 November 2026

Renald Kasali

MoneyTalk, Jakarta – Dalam percakapan panjang yang penuh refleksi dan kritik tajam di kanal YouTube Renald Kasali, Kamis (20/11), Profesor Muhammad Ichsan membedah perjalanan ekonomi Indonesia dari masa Soeharto hingga hari ini. Ia menyuguhkan narasi yang jarang diungkapkan: bagaimana keberhasilan besar Orde Baru berakhir tragis bukan hanya karena krisis, melainkan karena kerusakan tata kelola yang tidak lagi sanggup mengikuti kompleksitas zaman.

“Di awal pemerintahannya, Soeharto mendapat warisan yang sangat berat,” ujar Ichsan membuka pembahasan. “Inflasi di atas 650%, utang luar negeri menumpuk, pengangguran besar, dan kebutuhan pangan sangat kritis. Tapi dengan tim teknokrat yang solid dan kejujuran semua itu bisa diatasi.”

Namun, ujar Ichsan, kejujuran dan tata kelola itu tidak bertahan.

Warisan Soeharto: Dari Ekonomi Amburadul Menjadi Pertumbuhan Pesat

Ichsan mengingatkan bahwa Soeharto tidak memulai dari landasan yang kuat. Secara politik ia lemah, militer terbelah, dan ekonomi terjerembap dalam hiper-inflasi. “80% rakyat Indonesia buta huruf. GDP per kapita cuma 80–90 dolar, setara Bangladesh waktu itu.”

Soeharto kemudian mempercayai teknokrat seperti Widjojo Nitisastro dan kawan-kawan. Beberapa kunci keberhasilan awal Orde Baru yang dipaparkan Ichsan, Mengakhiri krisis pangan melalui bantuan PL-480 dan manajemen beras. Inflasi dipotong drastis, memulihkan kepercayaan publik.

Revolusi Hijau, pembangunan irigasi, dan pabrik pupuk Pusri. Booming minyak digunakan untuk rehabilitasi infrastruktur pertanian dan membangun sekolah-sekolah SD Inpres. Kemiskinan turun drastis dari sekitar 70% menjadi 40%. Tingkat melek huruf meningkat besar-besaran melalui Paket A–C.

“Growth, equality, stability trilogi pembangunan Soeharto ini bukan hal yang terjadi sendiri. Itu hasil kerja teknokrat yang risetnya bahkan dibuat sejak mereka masih mahasiswa,” ujar Ichsan.

Kejatuhan Soeharto: Ketika Tata Kelola Menghilang dan KKN Menggila

Namun masa kejayaan itu tidak abadi. Ichsan menekankan bahwa Soeharto jatuh bukan semata karena krisis Asia 1997–1998, tetapi karena institusi yang membusuk dari dalam.

“Governance tidak diperhatikan. KKN merajalela. Dari tingkat RT sampai bupati, wali kota, pejabat tinggi, semua bermain. Saat kebutuhan masyarakat berubah, sistem tidak berubah.”

Poin paling tajam dari Ichsan, KKN menjadi budaya dan menakutkan. Kronisme menempel di bisnis keluarga Cendana. Perbankan sudah rusak sejak 1992, tapi laporan-laporan risiko disembunyikan karena tidak ada yang berani menghadap Soeharto.

Transaksi ekonomi makin mahal, kredit berantakan, jaminan bank tidak bisa ditegakkan karena lemahnya rule of law.

Institusi terpusat tidak mampu lagi menjawab tuntutan daerah.

“Soeharto terlalu lama berkuasa, sementara karakter ekonomi sudah berubah. Governance gagal menyesuaikan diri.”

Pelajaran Hari Ini: KKN Bangkit Lagi dan Ini Lebih Menakutkan

Ichsan kemudian menyoroti situasi hari ini dengan nada serius.

“Kita menyaksikan KKN yang jauh lebih parah. Kerusakan institusi ini bahkan terjadi di semua partai politik. Mereka tidak menyiapkan anak muda menjadi warga negara, tapi menyiapkan anak-anak mereka. Republik ini rasa kerajaan.”

Ia menyinggung, Pejabat desa hingga pejabat tinggi tertangkap korupsi.

Dirjen yang tidak melindungi industri dalam negeri meski pengusaha meminta safeguard. Produk asing membanjiri pasar tanpa kontrol. Aparatur dan pembuat kebijakan takut melaporkan kebenaran kembali ke budaya “asal bapak senang”.

Instansi penegak integritas seperti MK, KPU, KPK pun mengalami degradasi reputasi.

“Ini bukan lagi korupsi biasa. Ini pengkhianatan terhadap kontrak sosial bangsa.”

Pandemi Bukan Selalu Dimulai dari Virus: ‘Denial adalah Musuh Utama’

Salah satu bagian paling kontroversial dari pernyataan Ichsan adalah metafor tentang pandemi,“Pandemi tidak selalu berasal dari virus. Pandemi bisa berawal dari penyangkalan.”

Ia mencontohkan Data MBG (Ministry-Based Governance) yang berubah-ubah tanpa dasar kuat. Laporan internal yang dimanipulasi menjadi ‘kabar baik’ demi menyenangkan atasan.

Kebijakan yang tidak evidence-based, sehingga keputusan publik tidak nyambung dengan masalah nyata.

“Kalau pejabat takut jujur, negara akan buta arah. Kita menyelesaikan masalah di sini padahal masalahnya di sana.”

Kenapa Kita Mandek? Trust Publik Runtuh

Ichsan mengungkap data penting, 85% penerimaan pajak disumbang oleh hanya 15% pembayar pajak.

Mayoritas masyarakat tidak percaya negara sehingga enggan bayar pajak. Pemerintah pun kekurangan ruang fiskal untuk membangun institusi yang kuat.

“Pembangunan institusi itu mahal dan perlu waktu panjang. Tapi merusaknya bisa sehari saja.”

Solusi Ichsan: Indonesia Butuh “Kontrak Sosial Baru”

Menurut Ichsan, akar masalahnya bukan ekonomi semata, tetapi rusaknya kontrak sosial pasca-1998  kontrak yang awalnya dibangun untuk mencegah kesalahan Orde Baru, namun kini justru dikhianati.

Ia menyebutkan bahwa lembaga-lembaga penting hasil reformasi seperti MK, KPU, KPK, hingga desentralisasi semuanya mengalami penyimpangan.

“Saat lembaga yang dibuat untuk menjaga demokrasi justru berkhianat, negara masuk pusaran dekadensi institusional.”

Oleh karena itu:

“Kita harus membangun kontrak sosial baru. Bukan politik yang memimpin ekonomi, tapi institusi yang memimpin negara.”

Belajar dari Soeharto, Tapi Jangan Ulangi Kesalahannya

Renald Kasali menutup percakapan dengan refleksi, sementara Ichsan menegaskan:

“Soeharto berhasil karena jujur dan mempercayai teknokrat. Ia jatuh karena mengabaikan governance. Dan hari ini, kita melihat gejala yang sama bahkan lebih parah.”

Percakapan ini menjadi peringatan keras bagi bangsa. Bahwa ketika tata kelola rusak, ekonomi sehebat apa pun bisa runtuh.

MoneyTalk, Jakarta – Dalam wawancara yang disiarkan di kanal YouTube Renald Kasali pada Senin (28/10), Tito Sulistiyo, Anggota Badan Supervisi OJK, mengungkapkan pandangannya terkait berbagai isu ekonomi global dan domestik. Tito menggarisbawahi tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah situasi keuangan global yang terus berubah, terutama dalam konteks dominasi dolar AS dan ancaman dari “proxy war” keuangan.

Diskusi ini menyajikan berbagai pandangan Tito, mulai dari ketergantungan pada dolar, dominasi AS dalam infrastruktur keuangan global, hingga peran emas dan potensi China sebagai pesaing dalam dominasi keuangan dunia.

Kekuasaan Atas Mata Uang Dunia

Tito menyebutkan bahwa saat ini Amerika Serikat masih menguasai pasar keuangan global melalui dolar AS dan infrastruktur keuangan yang dimilikinya. AS mampu mendominasi karena memiliki kendali penuh atas mata uang dan jaringan keuangan global. Sementara itu, China secara perlahan berupaya menantang dominasi tersebut dengan mulai mengakumulasi emas dan merencanakan mata uang digital yang didukung oleh emas. Meski demikian, Tito menekankan bahwa langkah China ini masih spekulatif dan belum diimplementasikan secara luas.

Tito juga mengingatkan bahwa beberapa negara yang mencoba menghindari penggunaan dolar AS, seperti Rusia yang mencoba menjual gas dalam rubel, menghadapi berbagai sanksi ekonomi. Ketergantungan global pada dolar sering kali membuat negara-negara lebih memilih untuk tetap bersekutu dengan Amerika daripada menghadapi risiko keuangan yang besar.

Ancaman Proxy War Keuangan, Pengalaman Krisis 1998

Proxy war dalam bidang keuangan menjadi kekhawatiran besar Tito. Sebagai contoh, ia menyebut krisis keuangan 1998 yang melanda Indonesia, ketika pergerakan uang dan nilai tukar memicu runtuhnya pemerintahan Suharto. Tito menjelaskan bagaimana kekuatan eksternal dapat “menghancurkan” ekonomi suatu negara hanya dengan memanipulasi mata uang dan aset, seperti yang terjadi ketika nilai rupiah merosot drastis pada 1998. Menurutnya, skenario serupa dapat kembali terjadi jika Indonesia tidak menjaga ketahanan ekonominya dan tetap tergantung pada investor asing.

Ketergantungan Terhadap Pasokan Pangan dan Energi

Dalam wawancara tersebut, Tito juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan dan energi. Menurutnya, ketergantungan ini menciptakan kerentanan ekonomi yang besar. Sebagai contoh, Indonesia masih mengimpor banyak bahan pokok seperti bawang putih, yang produksinya hanya mencakup 5% dari kebutuhan nasional. Ketergantungan ini, kata Tito, sangat berisiko bagi ketahanan pangan Indonesia. Selain pangan, Tito juga menyebutkan bahwa Indonesia mengimpor sejumlah besar energi, meskipun memiliki sumber daya seperti batu bara.

Tito menjelaskan bahwa ketergantungan pangan dan energi menempatkan Indonesia dalam posisi rentan. “Siapa yang menguasai pangan, menguasai rakyat,” ungkap Tito, seraya mengingatkan bahwa ketergantungan pangan bisa berujung pada krisis sosial jika tidak ditangani dengan baik. Ketahanan pangan, menurutnya, harus menjadi prioritas bagi pemerintah dalam empat tahun ke depan.

Dunia Asuransi, Tantangan Kepercayaan dan Penyalahgunaan Sistem

Tito juga berbicara tentang sektor asuransi di Indonesia yang, menurutnya, mengalami tantangan besar dalam hal kepercayaan masyarakat. Ia menyebutkan bahwa pasca-pandemi COVID-19, klaim asuransi mengalami peningkatan yang signifikan, namun seiring waktu, premi yang diterima justru mengalami penurunan drastis. Hal ini menunjukkan adanya penurunan kepercayaan publik terhadap asuransi.

Tito mengidentifikasi dua masalah utama dalam industri asuransi: penyalahgunaan dan fraud (penipuan). Salah satu bentuk penyalahgunaan adalah peningkatan jumlah resep dan layanan yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan kepada peserta BPJS. Menurutnya, fenomena ini menunjukkan adanya potensi penyalahgunaan dalam sistem asuransi yang justru membebani pemerintah dan masyarakat.

Peningkatan Tata Kelola dan Percepatan Dana Penjaminan

Menjawab pertanyaan Renald Kasali mengenai langkah apa yang bisa diambil untuk memperbaiki sistem asuransi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, Tito merekomendasikan peningkatan tata kelola dan percepatan dana penjaminan asuransi. Ia menegaskan bahwa transparansi dan keterbukaan informasi di pasar modal adalah dasar yang harus diutamakan oleh pemerintah dan pelaku industri.

Selain itu, Tito juga menyoroti perlunya percepatan Dana Penjaminan Asuransi yang telah direncanakan untuk tahun 2028 menjadi lebih cepat agar bisa memberikan rasa aman bagi peserta asuransi.

Kepastian Hukum dalam Pengelolaan Dana Publik

Selain isu ketahanan ekonomi, Tito juga menyoroti pentingnya kepastian hukum dalam pengelolaan dana publik. Menurutnya, terdapat banyak ketidakpastian hukum yang dialami pelaku usaha dalam hal pengelolaan investasi negara di luar negeri. Ia memberi contoh bagaimana perubahan harga atau kondisi cuaca bisa membuat sebuah proyek investasi mengalami kerugian, yang sering kali disalahartikan sebagai bentuk pelanggaran hukum. Oleh karena itu, Tito menekankan pentingnya penegakan hukum yang tidak mengkriminalisasi kebijakan dan keputusan yang diambil untuk kemajuan negara.

Pernyataan Tito Sulistiyo memberikan pandangan yang komprehensif tentang tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga kedaulatan ekonomi di tengah persaingan global yang semakin sengit. Tito menekankan pentingnya ketahanan pangan, energi, dan keuangan sebagai pilar utama bagi stabilitas nasional. Selain itu, ia menyoroti peran sektor asuransi yang membutuhkan peningkatan kepercayaan dan tata kelola agar bisa menjadi instrumen yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Pemikiran-pemikiran Tito bisa menjadi masukan penting bagi pemerintah dan generasi muda dalam merumuskan kebijakan yang strategis, terutama dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan di masa depan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Tito Sulistiyo, anggota Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengemukakan pendapatnya mengenai kemungkinan Pemerintah Prabowo Subianto membangun sistem welfare state di Indonesia. Dalam perbincangan di kanal YouTube bersama ekonom Renald Kasali, Tito memaparkan pandangannya mengenai dampak dari kebijakan welfare state pada sektor-sektor penting. Antara lain seperti infrastruktur, konsumsi masyarakat, dan sistem ekonomi Indonesia secara umum.

Sistem welfare state atau negara kesejahteraan adalah sistem di mana pemerintah berperan aktif dalam memastikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Contohnya seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan social yang sering kali melalui subsidi dan bantuan sosial. Sementara konsep ini banyak diterapkan di negara maju, Indonesia menghadapi tantangan-tantangan khas seperti ketimpangan sosial-ekonomi, konsumerisme, dan feodalisme yang dapat berdampak besar pada keberhasilan penerapan welfare state.

Tantangan Konsumerisme dan Feodalisme

Tito menyoroti bahwa masyarakat Indonesia, terutama kelas menengah, seringkali terjebak dalam siklus konsumerisme yang justru melemahkan kesejahteraan jangka panjang.

“Masalah terbesar kita adalah konsumerisme dan feodalisme,” ungkap Tito.

Konsumerisme yang tinggi, didorong oleh keinginan untuk mengikuti gaya hidup di luar kemampuan, menyebabkan beban finansial yang dapat mengancam stabilitas ekonomi pribadi maupun nasional. Hal ini diperparah dengan feodalisme yang kerap muncul dalam bentuk oligarki dan jabatan-jabatan bergengsi yang dapat “dibeli” atau dimanipulasi.

Di era media sosial, tren konsumerisme semakin meningkat. Banyak orang berusaha memenuhi gaya hidup yang serupa dengan kalangan berpenghasilan tinggi, meski finansial mereka terbatas. Tito juga mengaitkan bahwa konsumerisme semacam ini dapat mendorong generasi muda untuk menghabiskan pendapatan pada barang-barang yang bersifat sementara, alih-alih melakukan investasi yang berkelanjutan.

Dampak Infrastruktur dalam Welfare State

Tito berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur besar-besaran perlu diarahkan pada kebutuhan jangka panjang masyarakat. Di bawah pemerintahan Presiden Jokowi, pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol dan bandar udara, dianggap sebagai investasi tunggal tanpa menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Tito memberi contoh pembangunan tol di Medan yang belum terintegrasi optimal dengan kebutuhan transportasi lokal.

Dalam konteks welfare state, Prabowo diharapkan mengalokasikan anggaran negara secara efisien. Fokus yang lebih besar pada investasi infrastruktur yang bersifat mendukung kesejahteraan, seperti pendidikan dan kesehatan, dapat mengurangi ketimpangan dan mempercepat pemerataan pembangunan.

Menghadapi Tantangan Konsumsi yang Tinggi

Tito mengungkapkan bahwa konsumsi yang besar menjadi paradoks bagi Indonesia yang ingin membangun kesejahteraan negara. Masyarakat Indonesia dikenal dengan tingkat konsumsi yang tinggi, terutama pada barang-barang impor. Hal ini meningkatkan ketergantungan pada produk luar negeri, yang justru berlawanan dengan tujuan pemerintah untuk mencapai kemandirian ekonomi. Dalam kondisi ini, menurut Tito, kontrol terhadap konsumsi menjadi sangat penting.

Lebih lanjut, Tito menyebutkan bahwa dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, pemerintah perlu mengendalikan pola konsumsi melalui regulasi atau edukasi agar masyarakat lebih hemat dan selektif dalam berbelanja. Apabila pengendalian konsumsi ini berhasil, maka ekonomi domestik akan lebih stabil dan anggaran dapat dialokasikan ke sektor-sektor penting, seperti program pendidikan dan kesehatan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.

Potensi Dana Pensiun dan Asuransi dalam Negara Kesejahteraan

Salah satu poin yang penting dalam welfare state adalah adanya jaminan bagi para pekerja di masa tua melalui dana pensiun dan asuransi. Tito mencatat bahwa Indonesia belum sepenuhnya memaksimalkan pengelolaan dana pensiun, sementara industri asuransi juga masih menghadapi banyak tantangan. Untuk membangun welfare state, Prabowo perlu memperbaiki sistem dana pensiun dan asuransi sebagai langkah nyata dalam memberikan perlindungan sosial yang lebih menyeluruh.

Tantangan ini penting untuk dipertimbangkan dalam pembangunan welfare state, karena tanpa adanya jaminan pensiun dan asuransi yang kuat, program negara kesejahteraan tidak akan memiliki landasan yang stabil.

Welfare State untuk Mengatasi Ketimpangan Ekonomi

Tito menekankan bahwa welfare state memiliki potensi besar untuk menekan ketimpangan ekonomi di Indonesia. Namun, ia juga memperingatkan bahwa ketimpangan ini tidak hanya bisa diatasi dengan bantuan langsung tunai atau subsidi, tetapi juga melalui pembangunan ekonomi yang merata dan peningkatan daya saing. Dengan mengalokasikan sumber daya secara efisien dan memaksimalkan infrastruktur yang telah dibangun, pemerintah bisa membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.

Dengan membangun welfare state, Prabowo menghadapi tantangan besar. Mulai dari mengatasi konsumsi berlebihan hingga membenahi infrastruktur dan menciptakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan negara kesejahteraan yang ideal, Prabowo perlu mengambil langkah konkret dalam memberdayakan masyarakat, mengendalikan konsumerisme, serta memaksimalkan program jaminan sosial.

Keberhasilan konsep ini akan bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil, serta membangun ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.(c@kra)