22 Oktober 2026

Said Didu

MoneyTalk.id,Jakarta – Kritik M. Said Didu terhadap pemerintah dan kebijakan negara selama beberapa tahun terakhir kembali menjadi sorotan. Aktivis Damai Hari Lubis mempertanyakan objektivitas kritik tersebut dengan mengajak publik melihat kembali rekam jejak Said Didu ketika masih berada di dalam struktur pemerintahan.

Damai menilai, untuk mengukur objektivitas seorang pengamat atau pengkritik kebijakan publik, publik tidak cukup hanya melihat seberapa keras kritik yang disampaikan hari ini. Rekam jejak ketika seseorang berada di dalam pemerintahan juga penting diperiksa.

“Rekam jejak M. Said Didu hampir tidak pernah mengkritisi Kabinet Indonesia Bersatu era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara terbuka dan sistematis, karena pada masa itu ia merupakan bagian integral dari birokrasi pemerintahan,” kata Damai Hari Lubis dalam catatannya, Ahad (4/10/2026).

Secara faktual, Said Didu memang pernah menduduki posisi strategis di pemerintahan. Ia menjabat sebagai Sekretaris Kementerian Negara BUMN pada periode 2005 hingga 2010. Sebelumnya, kariernya berkembang dari lingkungan BPPT dan berbagai posisi pemerintahan lainnya.

Karena itu, menurut Damai, terdapat pertanyaan yang layak diajukan: apakah sikap kritis Said Didu terhadap pemerintah saat ini semata-mata lahir dari pertimbangan objektif mengenai kebijakan publik, atau terdapat perbedaan sikap yang dipengaruhi oleh posisi politik dan relasi kekuasaan pada setiap periode pemerintahan?

Damai mengatakan, ketika Said Didu menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan SBY, posisinya tentu berbeda dengan sekarang.

“Sebagai PNS senior dan pejabat eselon tingkat atas yang berada di dalam sistem, ia menjalankan kebijakan pemerintah dan tidak mengambil posisi sebagai kritikus,” ujar Damai.

Namun, bagian ini perlu ditempatkan secara hati-hati. Tidak adanya kritik terbuka yang mudah ditemukan di ruang publik tidak otomatis membuktikan bahwa Said Didu sama sekali tidak pernah mengkritik kebijakan pemerintah secara internal.

Yang dapat diverifikasi adalah bahwa Said Didu memang berada dalam struktur birokrasi pemerintahan pada masa tersebut, sehingga ruang dan bentuk kritiknya berbeda dibandingkan ketika dirinya sudah berada di luar struktur kekuasaan.

Perdebatan mengenai objektivitas kemudian semakin menarik ketika membandingkan pandangan Said Didu terhadap sejumlah figur pemerintahan pada periode berbeda.

Damai juga menyinggung pandangan Said Didu mengenai Sri Mulyani.

Menurut Damai, Said Didu pernah memberikan penilaian positif terhadap Sri Mulyani ketika menjabat Menteri Keuangan pada era SBY. Sebaliknya, Said Didu kemudian melontarkan kritik keras terhadap Sri Mulyani ketika kembali menjadi Menteri Keuangan pada pemerintahan Joko Widodo.

Salah satu rekaman pemberitaan menunjukkan Said Didu membandingkan Sri Mulyani pada era SBY dengan periode pemerintahan Jokowi. Dalam pernyataannya pada 2025, ia menilai terdapat perbedaan sikap Sri Mulyani ketika berada di pemerintahan SBY dan ketika berada di pemerintahan Jokowi.

Perbedaan penilaian tersebut menjadi salah satu alasan Damai mempertanyakan konsistensi standar kritik Said Didu.

Salah satu titik penting dalam perjalanan publik Said Didu adalah pemberhentiannya sebagai Komisaris PT Bukit Asam Tbk pada 28 Desember 2018.

Dalam RUPSLB, PTBA menyatakan Said Didu diberhentikan karena dinilai sudah tidak sejalan dengan aspirasi dan kepentingan pemegang saham Dwiwarna.

Said Didu sendiri memberikan versi berbeda mengenai persoalan tersebut. Ia mengatakan pencopotan itu berkaitan dengan dirinya yang dianggap tidak lagi sejalan dengan pemegang saham dan menyatakan bahwa kemerdekaan berpendapat lebih penting daripada jabatan.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu fase penting dalam meningkatnya eksistensi Said Didu sebagai pengkritik kebijakan pemerintah.

Karena itu, Damai melihat ada perubahan yang cukup mencolok antara posisi Said Didu ketika berada di dalam struktur pemerintahan dengan aktivitasnya setelah berada di luar struktur kekuasaan.

Damai juga menyinggung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Said Didu kini dikenal sangat aktif mengkritik berbagai kebijakan dan pejabat pemerintah.

Akan tetapi, Damai mengatakan kritik tersebut tidak secara khusus diarahkan kepada Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

“Secara spesifik, tidak ada catatan publik yang menunjukkan Said Didu secara khusus mengincar atau melayangkan kritik personal kepada AHY selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan,” kata Damai.

Damai menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dari demokrasi. Pemerintah tidak boleh kebal kritik dan masyarakat berhak mempertanyakan setiap kebijakan negara.

Namun, menurut dia, kritik juga harus mempunyai standar yang sama.

“Kalau sebuah kebijakan dianggap salah ketika dilakukan pemerintahan tertentu, maka standar yang sama harus digunakan ketika kebijakan serupa dilakukan pemerintahan yang berbeda,” ujar Damai.

Dalam perspektif tersebut, publik tidak harus menerima seluruh kritik Said Didu maupun seluruh kritik terhadap Said Didu. Keduanya justru perlu diuji melalui data, fakta, rekam jejak kebijakan dan konsistensi argumentasi.

Sebab, kritik yang tajam belum tentu objektif. Sebaliknya, kritik terhadap seorang pengkritik juga belum tentu benar hanya karena menyebut rekam jejak masa lalunya.

Damai kemudian mempertanyakan apakah kritik Said Didu terhadap pemerintah selama ini memiliki standar yang sama terhadap seluruh rezim.

“Jadi, kritik Said Didu kepada pemerintah atau penguasa RI memang didesain khusus bukan untuk SBY dan AHY,” kata Damai.

MoneyTalk.id,Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan kritik keras terhadap Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Ia menilai sejumlah rekaman yang beredar di ruang publik justru menunjukkan adanya tindakan yang berpotensi merongrong kewibawaan Presiden Prabowo Subianto.

Said Didu bahkan menyebut fenomena tersebut sebagai indikasi “pembusukan dari dalam” pemerintahan Presiden Prabowo.

Menurut Said Didu, setidaknya sudah empat kali publik menyaksikan rekaman atau video yang memperlihatkan perilaku Teddy Indra Wijaya yang menurutnya dapat menimbulkan persoalan terhadap kewibawaan Presiden.

“Minimal sudah empat kali kita menyaksikan ‘bocoran’ rekaman Seskab Teddy Indra Wijaya yang merongrong kewibawaan Presiden,” kata Said Didu, Kamis (10/9/2026).

Ia kemudian merinci empat peristiwa yang menjadi sorotannya.

Pertama, terkait video mengenai ulang tahun Teddy di Paris. Kedua, mengenai kiriman bunga dari kalangan yang disebutnya oligarki untuk ulang tahun Seskab di Kantor Sekretariat Kabinet.

Ketiga, Said Didu menyoroti rekaman ketika Teddy terlihat memainkan pulpen saat Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dalam sebuah forum resmi.

Keempat, ia mempersoalkan momen ketika Teddy mengambil mikrofon saat Presiden Prabowo sedang berbicara.

Bagi Said Didu, rangkaian peristiwa tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan perilaku personal. Ia menduga masih terdapat berbagai kejadian lain yang tidak diketahui publik.

“Saya yakin banyak hal yang terjadi yang tidak terbuka ke publik yang merongrong kewibawaan Presiden,” ujarnya.

Said Didu kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih jauh mengenai munculnya berbagai video tersebut. Menurut dia, bukan tidak mungkin rekaman-rekaman yang kemudian beredar ke publik sengaja dibocorkan untuk memperlihatkan pertarungan pengaruh di lingkaran kekuasaan.

“Sepertinya video-video seperti itu sengaja dibocorkan untuk menunjukkan siapa sebenarnya yang kuat antara Geng SOP atau Prabowo,” kata Said Didu.

MoneyTalk.id,Jakarta – Direktur Eksekutif GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, mengungkap isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto yang menurut dia membahas sejumlah catatan kelam dalam perjalanan politik Indonesia, termasuk peristiwa yang terjadi pada era pemerintahan Joko Widodo.

Syahganda menyebut pertemuan tersebut berlangsung pada 30 Januari 2026. Ia mengaku hadir bersama sejumlah tokoh, di antaranya Menteri Pertahanan, Said Didu, Abraham Samad, dan Prof. Siti Zuhro.

Dalam keterangannya, Syahganda mengatakan dirinya mendengar langsung dari Prabowo mengenai pertanyaan terkait sikap Amien Rais terhadap Presiden.

“Kenapa Amien Rais membenci saya?” ujar Syahganda, mengutip percakapan yang menurutnya disampaikan Prabowo di channel YouTube Obor Rakyat Reborn, Senin (24/8/2026).

Syahganda kemudian mengungkap bahwa dalam pertemuan tersebut muncul pembahasan mengenai berbagai peristiwa politik dan keamanan pada masa pemerintahan sebelumnya.

Ia menyinggung meninggalnya ratusan petugas pemilu pada Pemilu 2019 serta tragedi yang menewaskan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) dalam insiden KM 50.

Menurut Syahganda, angka kematian petugas Pemilu 2019 yang dibicarakan dalam pertemuan itu mencapai sekitar 800 orang. Ia mengatakan angka tersebut dikoreksi oleh Prof. Siti Zuhro menjadi 800.

“Jadi saya tahu, Habib Rizieq korban itu syuhadanya lima orang, eh enam orang di kilometer 50. Jadi Presiden kita tahu,” kata Syahganda.

Syahganda kemudian menyampaikan pandangannya bahwa berbagai peristiwa tersebut merupakan catatan sejarah yang perlu diperhatikan. Ia bahkan menyebut adanya kemiripan dengan pola kekerasan politik masa lalu, meski menegaskan hal tersebut sebagai spekulasi.

“Keja­di­an-kejadian yang terjadi di era Jokowi seperti pembunuhan laskar Habib Rizieq, kemudian meninggalnya 800 petugas pemilu dan lain-lain. Itu kan catatan-catatan yang kita dalam sejarah Republik ini,” ujarnya.

Ia kemudian mengatakan bahwa Presiden Prabowo memahami catatan tersebut. Namun, menurut Syahganda, Prabowo memilih untuk tidak menjadikan masa lalu sebagai fokus utama pemerintahannya.

“Presiden Prabowo noted,” kata Syahganda.

Menurut dia, Prabowo menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin terlalu cepat melihat ke belakang atau “melihat spion”, karena ingin memusatkan perhatian pada tantangan ke depan.

“Saya enggak mau cepat-cepat lihat spion, saya mau lihat ke depan dulu. Pertarungan kita besar,” kata Syahganda, mengutip pernyataan Prabowo.

Syahganda menilai pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Prabowo mengetahui berbagai persoalan masa lalu, tetapi memilih berkonsentrasi pada agenda politik dan pemerintahan ke depan.

Sebelumnya, Syahganda juga pernah menulis mengenai pertemuannya dengan Prabowo pada 30 Januari 2026. Dalam tulisan tersebut, ia menyebut pertemuan itu sebagai pertemuan kedua yang intensif dengan Prabowo setelah sebelumnya diundang ke Hambalang pada 9 Januari 2026.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat kebijakan publik Said Didu menilai dinamika politik nasional saat ini telah memasuki fase yang semakin keras. Ia menyebut Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi telah turun langsung dalam upaya mempersiapkan putranya, Gibran Rakabuming Raka, untuk menghadapi kontestasi politik menuju Pemilihan Presiden 2029.

Pernyataan tersebut disampaikan Said Didu melalui unggahan di media sosial. Ia mengaitkan perkembangan politik tersebut dengan apa yang sebelumnya berulang kali disebutnya sebagai situasi “to kill or to be killed”.

“Seperti yang berkali-kali saya katakan bahwa sekarang sudah pada titik ‘to kill or to be killed’,” kata Said Didu, Kamis (13/8/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut semakin terlihat dari keterlibatan Jokowi dalam mempersiapkan Gibran untuk menghadapi pertarungan politik pada 2029.

“Jokowi sudah terjun langsung persiapkan anaknya (Gibran) untuk jadi Presiden,” ujarnya.

Said Didu juga menyinggung keberadaan kelompok yang disebutnya sebagai “Geng Solo”. Menurut dia, arah gerak kelompok tersebut kini semakin mudah dibaca dalam peta politik nasional.

“Geng Solo makin jelas arahnya,” kata Said Didu.

Pernyataan tersebut menggambarkan pandangan Said Didu mengenai semakin mengerasnya persaingan kekuasaan menjelang Pemilu 2029. Ia melihat dinamika politik tidak lagi hanya berkaitan dengan pertarungan antarpartai, tetapi juga menyangkut kesinambungan pengaruh dan kekuasaan di lingkaran elite politik.

Gibran sendiri saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Posisi tersebut membuat namanya menjadi salah satu figur yang berpotensi memainkan peran penting dalam peta politik nasional menuju 2029.

Namun, penilaian Said Didu mengenai adanya persiapan Jokowi untuk menjadikan Gibran sebagai calon presiden 2029 merupakan pandangan politik yang disampaikannya kepada publik. Pernyataan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan adanya keputusan atau strategi resmi pencalonan Gibran untuk Pilpres 2029.

Meski demikian, pernyataan Said Didu menambah sorotan terhadap dinamika politik keluarga Jokowi dan kelompok politik yang berada di sekitarnya. Pergerakan para elite tersebut diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik seiring semakin dekatnya tahapan politik menuju Pemilu 2029.

MoneyTalk.id, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menilai dugaan permainan pasokan batu bara melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) ke PT PLN (Persero) memiliki potensi kerugian negara yang jauh lebih besar dibandingkan angka sekitar Rp5 triliun yang belakangan mencuat.

Dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026), Said Didu menyebut nilai kerugian yang diperkirakan mencapai Rp5 triliun itu kemungkinan hanya sebagian kecil dari potensi penyimpangan yang dapat terjadi dalam tata kelola kewajiban pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri.

Menurutnya, skema DMO mewajibkan setiap pemilik tambang menjual sebagian produksinya ke pasar domestik dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah. Saat ini, kata dia, harga DMO berada di kisaran US$70 per metrik ton, sementara harga pasar batu bara internasional mencapai sekitar US$130 per ton. Dengan demikian terdapat selisih harga sekitar US$60 per metrik ton.

Said Didu menjelaskan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, perusahaan tambang wajib mengalokasikan 25 persen dari total produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui mekanisme DMO.

Ia menguraikan, apabila produksi batu bara Indonesia pada 2026 mencapai sekitar 790 juta ton, maka volume DMO diperkirakan mencapai 197,5 juta ton. Dengan selisih harga sekitar US$60 per ton tersebut, potensi nilai ekonomi yang tercipta dari kebijakan itu diperkirakan mencapai US$11,85 miliar, atau sekitar Rp200 triliun per tahun.

Menurut Said Didu, besarnya nilai tersebut membuka ruang yang sangat besar bagi terjadinya praktik penyimpangan apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat. Ia menduga ruang tersebut dapat dimanfaatkan melalui rekayasa administrasi atau dokumen yang tidak mencerminkan kondisi riil penyaluran batu bara.

“Potensi pengaturan dapat terjadi antara pemilik tambang, pihak di Kementerian ESDM, maupun PLN melalui dokumen-dokumen yang tidak sesuai dengan realisasi pengiriman batu bara, baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya,” ujarnya.

Atas dasar perhitungan tersebut, Said Didu menilai angka dugaan kerugian sekitar Rp5 triliun yang saat ini tengah diungkap aparat penegak hukum kemungkinan masih jauh di bawah potensi kerugian sesungguhnya apabila penyimpangan dalam skema DMO terjadi secara sistematis.

Ia pun menegaskan bahwa persoalan DMO batu bara bukan sekadar persoalan administratif, melainkan menyangkut pengelolaan nilai ekonomi yang sangat besar sehingga memerlukan pengawasan yang transparan dan penegakan hukum yang menyeluruh terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat tanggapan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral maupun PT PLN (Persero) terkait pernyataan Muhammad Said Didu tersebut. Apabila terdapat penjelasan atau klarifikasi resmi dari pihak-pihak terkait, MoneyTalk.id akan memuatnya sebagai bagian dari keberimbangan pemberitaan.

MoneyTalk.id, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, menilai mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak pernah benar-benar rela melepaskan kekuasaan setelah berakhirnya masa jabatannya. Penilaian tersebut disampaikan Said Didu dalam tayangan di kanal YouTube Madilog – Forum Keadilan yang dipublikasikan pada Kamis (2/7/2026).

Dalam paparannya, Said Didu membeberkan sejumlah fakta yang menurutnya menunjukkan adanya upaya Jokowi untuk tetap mempertahankan pengaruh politik, bahkan setelah pemerintahan beralih kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Terus melawan, Jokowi tak pernah rela lepas kekuasaan,” ujar Said Didu sebagaimana dikutip dari tayangan tersebut.

Menurut Said Didu, terdapat sedikitnya lima indikator yang menjadi dasar penilaiannya.

Pertama, Jokowi disebut pernah mengupayakan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, namun gagal terealisasi.

Kedua, Said Didu menilai Jokowi memaksakan putranya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi Wakil Presiden melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat itu dipimpin oleh adik iparnya.

Ketiga, ia menyebut Jokowi juga mendorong agar kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diisi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari lingkaran pendukung atau “Jokower”.

Keempat, Said Didu mengklaim Jokowi kembali berupaya memengaruhi arah politik nasional menjelang Pemilu 2029 dengan menginginkan Prabowo kembali maju berpasangan dengan Gibran.

Kelima, menurutnya, menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo, Jokowi mulai turun langsung menggalang kekuatan politik.

“Sepertinya Jokowi bangkit memimpin ‘perlawanan’ pihak-pihak yang kepentingannya ditangguhkan oleh Prabowo, terutama oligarki,” kata Said Didu.

Ia menilai berbagai manuver tersebut menunjukkan masih kuatnya keinginan Jokowi untuk mempertahankan pengaruh terhadap jalannya pemerintahan dan konfigurasi politik nasional.

Pernyataan tersebut merupakan analisis politik Muhammad Said Didu yang disampaikan melalui kanal YouTube Madilog – Forum Keadilan. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan dari pihak Joko Widodo maupun pihak-pihak yang disebut dalam pernyataan tersebut terkait analisis yang disampaikan Said Didu. Sumber: Tayangan YouTube Madilog – Forum Keadilan, 2 Juli 2026. (Ys)

MoneyTalk,id, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, mengunggah pernyataan yang menyinggung dinamika politik di sekitar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam unggahan pada 29 Juni 2026, Said Didu menulis:

“Tanda-tanda ucapan Dr. Conny bahwa Pak @prabowo hanya diberikan waktu berkuasa oleh Geng SOP hanya 2 tahun makin terlihat.”

“Pernyataan Said Didu tersebut merujuk pada pernyataan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie yang sempat viral menjelang Pilpres 2024. Saat itu Connie menyebut adanya informasi bahwa Prabowo Subianto direncanakan hanya menjabat sekitar dua tahun sebelum posisinya dilanjutkan oleh Gibran Rakabuming Raka. Klaim tersebut kemudian dibantah oleh Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran saat itu, Rosan Roeslani, yang menegaskan tidak pernah menyampaikan skenario sebagaimana disebutkan Connie.

Unggahan tersebut kemudian mendapat beragam tanggapan dari warganet. Salah satunya datang dari akun Masta#### yang berkomentar:

“Ada 7 orang Jokowi ada di dalam kabinet Prabowo seperti Pratikno, Tito Karnavian, Luhut Binsar Panjaitan, LisyoSigit, Agus Subiyanto, Erick Thohir, Bahlil Lahadalia”

“Perhatikan baik-baik, Selama 1,5 tahu ini mereka ‘sembunyi’ jarang tampil.”

“Jangan kaget jika sebentar lagi tiba-tiba mereka bermanuver”

“Gibran? Gimana? Sejak awal G hanya sbg Jaminan DownPayment”

Pernyataan Said Didu maupun komentar akun tersebut merupakan opini dan pandangan pribadi yang disampaikan melalui media sosial. Hingga berita ini ditulis, tidak terdapat bukti yang dapat memverifikasi klaim mengenai adanya kelompok yang disebut “Geng SOP”, dugaan pembatasan masa kekuasaan Presiden Prabowo, maupun asumsi mengenai manuver politik sejumlah anggota kabinet sebagaimana disebutkan dalam unggahan tersebut.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjalankan pemerintahan berdasarkan hasil Pemilu 2024 dan ketentuan konstitusi yang mengatur masa jabatan presiden selama lima tahun. Sejauh ini pemerintah juga belum menyampaikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi adanya dinamika sebagaimana diklaim dalam unggahan tersebut.

Sementara itu, sejumlah menteri yang disebut dalam komentar warganet masih tercatat menjalankan tugas sesuai bidangnya masing-masing. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak yang disebut mengenai tudingan atau spekulasi yang berkembang di media sosial tersebut. Dengan demikian, klaim dalam unggahan tersebut masih berada pada ranah opini politik yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menyoroti peristiwa padam listrik massal atau blackout yang terjadi di Sumatera.

Melalui unggahannya di media sosial X pada Senin, 25 Mei 2026, Said Didu menilai peristiwa tersebut bisa menjadi titik awal terbukanya persoalan besar di tubuh PLN.

“Ke jadian padamnya listrik (Blackout) di Sumatera bisa jadi titik awal masalah PLN yang mulai terbuka,” tulis Said Didu dalam unggahannya.

Ia menduga penyebab blackout tersebut berkaitan dengan berkurangnya pembangunan infrastruktur kelistrikan oleh PLN dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera diantisipasi agar tidak meluas ke wilayah lain di Indonesia.

“Penyebabnya diduga karena berkurangnya secara drastis pembangunan infrastruktur oleh PLN selama 10 tahun terakhir. Ini perlu langkah ‘darurat’ agar kejadian tersebut tidak meluas ke daerah lain,” lanjutnya.

Unggahan Said Didu itu pun memantik perhatian publik di tengah sorotan terhadap keandalan pasokan listrik nasional, khususnya setelah terjadinya pemadaman listrik besar di wilayah Sumatera.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu kembali melontarkan kritik keras terkait dugaan praktik oligarki dan perampokan sumber daya negara.

Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (25/5/2026), Said Didu menyinggung adanya pihak-pihak yang disebut digerakkan untuk melakukan serangan setelah berbagai data terkait dugaan perampokan negara mulai terbuka ke publik, termasuk yang berkaitan dengan Papua.

“Pasukan oligarki perampok negara lagi digerakkan utk menyerang setelah data mereka makin terbuka merampok negara, termasuk di Papua,” tulis Said Didu dalam unggahannya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ramainya perbincangan publik mengenai penguasaan lahan dan sumber daya alam di Papua yang belakangan menjadi sorotan di media sosial.

Said Didu sendiri dikenal kerap menyuarakan kritik terhadap praktik oligarki, tata kelola sumber daya alam, serta kebijakan yang dinilai merugikan rakyat dan negara.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disinggung dalam unggahan tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mohammad Said Didu, kembali melontarkan kritik keras terkait penguasaan lahan dan hutan di Papua oleh kelompok oligarki.

Melalui unggahannya di platform X pada Senin (25/5/2026), Said Didu menyatakan bahwa seluruh proses pemberian lahan dan konsesi hutan di Papua harus dibuka ke publik, termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam pemberian izin tersebut.

Dalam unggahannya, Said Didu mengaku berterima kasih kepada pembuat film “Pesta Babi” karena menurutnya film tersebut membuka informasi mengenai pihak-pihak oligarki yang memperoleh tanah di Papua.

“Semua harus dibuka. Kita berterima kasih kepada pembuat film ‘Pesta Babi’ karena dari film itulah kita tahu siapa saja oligarki yang mendapatkan tanah di Papua,” tulis Said Didu.

Ia juga menegaskan bahwa yang perlu diungkap bukan hanya penerima konsesi, tetapi juga pejabat maupun mantan pejabat yang memberikan lahan tersebut kepada para oligarki.

Said Didu menuding pemerintahan sebelumnya telah membagi-bagikan kawasan hutan Papua kepada kelompok tertentu. Namun demikian, ia menyebut pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui tim Penertiban Kawasan Hutan telah mulai mengembalikan sebagian kawasan tersebut kepada negara.

Menurutnya, hingga saat ini negara telah berhasil mengambil kembali hampir 1 juta hektare kawasan hutan, atau sekitar 900 ribu hektare, dari 16 perusahaan.

“Semoga pengembalian tersebut terus berlanjut,” lanjutnya.

Pada bagian akhir unggahannya, Said Didu juga melontarkan sindiran tajam dengan menyebut bahwa menteri yang dahulu membagikan hutan Papua kepada oligarki disebutnya masih menjabat sebagai menteri hingga saat ini.

Pernyataan tersebut kembali memantik perhatian publik terkait isu penguasaan lahan, konsesi hutan, dan relasi antara kekuasaan dengan oligarki di Papua, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan berbagai kelompok masyarakat sipil dan aktivis lingkungan.