22 Oktober 2026

Said Didu

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu menyoroti dinamika politik nasional yang menurutnya mulai menunjukkan perubahan arah serangan politik dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo kepada Presiden Prabowo Subianto.

Melalui unggahan di akun X pribadinya pada Minggu (18/5/2026), Said Didu menilai kelompok yang ia sebut sebagai “Geng SOP” telah berhasil meredam kritik terhadap Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Geng SOP (Solo, Oligarki, dan Parcok) sudah berhasil menghapus kritikan dan ‘serangan’ ke Jokowi dan Gibran. Sekarang semua serangan sudah menuju langsung ke Prabowo,” tulis Said Didu dalam unggahannya.

Ia juga menilai mulai dibangun opini secara perlahan di ruang publik bahwa kepemimpinan Jokowi dianggap lebih baik dibandingkan Prabowo.

“Bahkan sudah mulai dimunculkan secara perlahan bahwa Jokowi lebih baik dari Prabowo. Tunggu episode berikutnya,” lanjutnya.

Pernyataan Said Didu tersebut kembali memantik perhatian publik di media sosial, terutama terkait dinamika hubungan politik antara lingkaran kekuasaan lama dan pemerintahan baru. Istilah “Geng SOP” yang digunakan Said Didu pun menjadi bahan perbincangan di berbagai platform digital.

Pengamat menilai, kontestasi opini di ruang publik pasca-Pilpres 2024 masih terus berlangsung dan menunjukkan adanya perebutan pengaruh dalam pembentukan persepsi masyarakat terhadap pemerintahan saat ini maupun pemerintahan sebelumnya.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, melontarkan peringatan keras terkait pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Melalui unggahan di akun media sosial X pribadinya pada 8 Mei 2026, Said Didu meminta agar dilakukan audit terbuka terhadap sejumlah program strategis nasional yang saat ini menjadi andalan pemerintah.

“Saatnya Bapak Presiden @prabowo membebaskan audit terhadap pelaksanaan program prioritas Presiden, yaitu: MBG, KDMP, Sekolah Rakyat, dan Hilirisasi,” tulis Said Didu dalam cuitannya.

Ia menegaskan, audit menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya kesalahan maupun dugaan pelanggaran dalam implementasi program-program tersebut. Menurutnya, jika pengawasan tidak dilakukan secara serius dan transparan, maka dampaknya bisa langsung menggerus citra pemerintahan Presiden Prabowo.

“Jika tidak, maka kesalahan dan pelanggaran dalam pelaksanaan akan berdampak buruk kepada Presiden,” lanjutnya.

Pernyataan Said Didu langsung memantik perhatian publik di media sosial. Sejumlah warganet menilai kritik tersebut sebagai bentuk peringatan dini agar program-program unggulan pemerintah tidak menjadi ladang penyimpangan anggaran.

Diketahui, MBG atau Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo yang menyedot perhatian publik karena melibatkan anggaran jumbo. Selain itu, program KDMP, Sekolah Rakyat, hingga agenda hilirisasi industri juga terus menjadi sorotan karena menyangkut penggunaan dana negara dalam jumlah besar.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah terkait usulan audit terbuka yang disampaikan Said Didu tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menilai Partai Golkar saat ini sudah berada dalam kendali Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, sejak penunjukan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Pernyataan itu disampaikan Said Didu menanggapi serangan yang dilontarkan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, terhadap Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK).

Menurut Said Didu, serangan Idrus Marham itu setelah JK meminta Jokowi untuk menunjukkan ijazahnya kepada publik. Ia menilai, langkah tersebut bukan sekadar respons pribadi, melainkan bagian dari instruksi politik yang lebih besar.

“Golkar sudah dikendalikan oleh Jokowi sejak menempatkan Bahlil sebagai Ketua Umum Golkar. Lihat saja serangan Waketum Idrus Marham ke Pak JK sejak Pak JK minta Jokowi tunjukkan ijazahnya,” ujar Said Didu, Jumat (24/4/2026).

Ia juga menyebut publik memahami bahwa serangan tersebut diduga merupakan “perintah” dari Jokowi kepada Bahlil untuk menyerang Jusuf Kalla.

“Publik paham bahwa itu adalah perintah Jokowi ke Bahlil untuk melakukan serangan kepada Pak JK,” lanjutnya.

Pernyataan Said Didu ini menambah panas dinamika politik nasional, khususnya hubungan antara elite Partai Golkar dengan tokoh senior seperti JK yang selama ini dikenal memiliki pengaruh kuat di partai berlambang pohon beringin tersebut.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Golkar maupun dari Jokowi terkait tudingan Said Didu tersebut. Namun polemik ini diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya sorotan publik terhadap isu ijazah Presiden dan dinamika internal partai politik menjelang kontestasi politik mendatang.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan kritik tajam terhadap dinamika politik nasional setelah mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) meminta Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan ijazah aslinya.

Menurut Said Didu, serangan terhadap JK pasca pernyataan tersebut menunjukkan masih kuatnya pengaruh kelompok loyalis Jokowi atau yang ia sebut sebagai “Jokower” di dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pernyataannya, Said Didu menilai Presiden Prabowo belum mampu mengendalikan para loyalis Jokowi yang masih bercokol di lingkaran kekuasaan.

“Serangan ke Pak JK setelah Pak JK meminta Jokowi menunjukkan ijazah asli dilakukan oleh Termul dan Jokower yang ada dalam pemerintahan Prabowo. Dua partai yang menyerang Pak JK adalah partai loyalis Jokowi, yaitu PSI dan Partai Golkar,” kata Said Didu dalam keterangannya, Minggu (19/4/2026).

Ia menambahkan, serangan tersebut tidak hanya berupa kritik politik, tetapi juga menyentuh persoalan pribadi dan bisnis JK, termasuk isu pembocoran kredit perusahaan milik mantan wapres tersebut.

“Sepertinya Presiden Prabowo tidak mampu ‘mengendalikan’ Jokower yang ada dalam pemerintahan sehingga Jokower yang menjadi pejabat masih terus menyerang Pak JK, termasuk pembocoran kredit perusahaan Pak JK,” ujarnya.

Said Didu juga menyoroti respons cepat dan solid dari berbagai pihak yang membela Jokowi ketika isu ijazah kembali mencuat. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa persoalan ijazah mantan Presiden Jokowi dianggap sangat sensitif.

“Sepertinya masalah ijazah Jokowi sangat penting sehingga Termul dan Jokower kompak pasang badan dan menyerang siapapun yang mempermasalahkan ijazah Jokowi,” lanjutnya.

Pernyataan Said Didu ini kembali memanaskan diskursus publik mengenai polemik ijazah Jokowi yang beberapa waktu terakhir kembali menjadi sorotan. Isu tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama setelah sejumlah tokoh nasional ikut memberikan tanggapan.

Jusuf Kalla sendiri sebelumnya menilai polemik tersebut sebaiknya diselesaikan secara terbuka agar tidak terus menjadi bahan spekulasi publik. Pernyataan itu kemudian memicu reaksi keras dari sejumlah pihak, termasuk elite politik dan kelompok pendukung Jokowi.

Situasi ini dinilai mencerminkan masih kuatnya tarik-menarik pengaruh politik pasca transisi kekuasaan dari era Jokowi menuju pemerintahan Prabowo-Gibran. Sejumlah pengamat menilai, keberadaan loyalis lama di kabinet dan struktur kekuasaan menjadi tantangan tersendiri bagi konsolidasi pemerintahan baru.

Di sisi lain, publik kini menanti bagaimana Presiden Prabowo merespons dinamika tersebut, terutama terkait hubungan politik antara kelompok loyalis Jokowi dengan tokoh-tokoh senior nasional seperti Jusuf Kalla yang masih memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik nasional.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan kritik tajam terhadap dugaan pelanggaran mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam pengadaan motor oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam pernyataannya, Said Didu menanggapi narasi yang berkembang di publik terkait pembelian motor untuk program SPPG yang disebut menggunakan anggaran tahun 2025, namun baru diserahkan pada Maret hingga April 2026.

Menurutnya, mekanisme pengelolaan APBN memiliki aturan yang tegas dan tidak bisa ditafsirkan secara fleksibel.

“Seluruh pemasukan dan pengeluaran APBN tahun berjalan harus ditutup pada 31 Desember pukul 24.00. Artinya, tidak boleh ada transaksi yang menggantung melewati tahun anggaran,” tegas Said Didu, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan bahwa program yang dapat dibayarkan melalui APBN adalah kegiatan yang pekerjaannya telah selesai dan telah diserahkan kepada pemerintah. Dalam praktiknya, terdapat jaminan pemeliharaan atau garansi sebagai bagian dari mekanisme tersebut.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa jika suatu proyek belum selesai namun ingin dilanjutkan, maka harus dimasukkan ke dalam APBN tahun berikutnya sebagai proyek tahun jamak (multi-years).

Berdasarkan penjelasan tersebut, Said Didu menilai terdapat sejumlah indikasi pelanggaran jika benar pengadaan motor tersebut menggunakan anggaran 2025 tetapi barang baru diterima pada 2026.

Ia merinci beberapa potensi pelanggaran, di antaranya adalah pembayaran yang dilakukan sebelum barang diserahkan, yang dinilai bertentangan dengan prinsip dasar pengelolaan keuangan negara.

Selain itu, jika terdapat kesepakatan penyerahan barang melewati batas akhir tahun anggaran, maka seharusnya pengadaan tersebut dimasukkan dalam anggaran tahun berikutnya, yakni 2026.

Said Didu juga menyoroti kemungkinan bahwa dana pembelian telah dicairkan dari APBN 2025 meskipun barang belum tersedia. Ia menduga adanya praktik penitipan dana di rekening tertentu atau bahkan langsung ke pihak pemasok, yang menurutnya merupakan pelanggaran serius.

“Kalau uang sudah keluar tapi barang belum ada, itu jelas tidak sesuai aturan. Ini berpotensi pelanggaran dalam pengelolaan keuangan negara,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia turut menyinggung pernyataan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, yang disebut pernah menolak pengadaan tersebut namun tetap berjalan. Jika benar, hal ini dinilai membuka kemungkinan adanya permainan di internal antara pihak kementerian dan BGN.

Atas dasar itu, Said Didu mendesak lembaga pengawas seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk segera melakukan audit menyeluruh.

“BPK dan BPKP harus turun melakukan audit agar semuanya terang dan tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat,” tegasnya.

Polemik ini pun menjadi sorotan publik, terutama terkait transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara. Hingga saat ini, pihak BGN belum memberikan penjelasan resmi secara rinci terkait mekanisme pengadaan tersebut.

Isu ini diperkirakan akan terus bergulir, seiring meningkatnya tuntutan publik terhadap tata kelola keuangan negara yang bersih dan sesuai aturan.

MoneyTalk, Jakarta – Aktivis Yulian Paonganan atau yang akrab disapa Ongen, melontarkan kritik tajam kepada sejumlah tokoh yang belakangan vokal mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Melalui akun X (Twitter) @ongen_id, Ongen menyindir beberapa nama seperti Feri Amsari, Saiful Mujani, dan Said Didu yang dinilainya terlalu mudah membawa narasi “1998” dalam kritik politik saat ini.

Dalam cuitannya, Ongen menegaskan bahwa peristiwa Reformasi 1998 bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan.

“Reformasi 1998 itu bukan ujug-ujug pidato halal bihalal lalu tiba-tiba mahasiswa dan rakyat turun ke jalan. Itu butuh proses panjang sejak akhir 1980-an,” tulis Ongen, Minggu (12/4/2026).

Ia juga menyindir pihak-pihak yang menurutnya tidak terlibat langsung dalam gerakan reformasi, tetapi kini merasa paling memahami dinamika perjuangan saat itu.

“Kalian ini kebanyakan tiba-tiba merasa paling ‘98’. Aktivis jadi-jadian, koar-koar mau mengulang 1998, padahal saat itu bersembunyi,” sindirnya.

Lebih jauh, Ongen menyinggung perubahan sikap sebagian pengkritik yang dulu disebut-sebut justru mengkritik Joko Widodo (Jokowi) dan cenderung mendukung Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2014 dan 2019.

“Dulu para pengkritik Prabowo ini menghujat Jokowi dan cenderung berharap Prabowo menang pada 2014 dan 2019. Ketika Prabowo menang 2024, baru satu setengah tahun sudah dihujat,” lanjutnya.

Ia pun mempertanyakan motif kritik yang dilayangkan saat ini, bahkan menyinggung kemungkinan preferensi politik tertentu.

“Kalian ini maunya siapa yang jadi presiden? Apakah maunya Anies?” tulisnya, merujuk pada Anies Baswedan.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menyampaikan kritik terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto agar tidak menggunakan pola politik yang dinilai memecah belah dalam mempertahankan kekuasaan.

Pernyataan tersebut disampaikan Said Didu usai menghadiri dua agenda Halal Bihalal pada Minggu, 5 April 2026. Acara pertama digelar di kediaman mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, sementara acara kedua berlangsung di rumah mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Dalam keterangannya, Said Didu mengaku bertemu ratusan tokoh yang disebutnya memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan bangsa. Ia menegaskan bahwa para tokoh tersebut bukan pihak yang bisa dengan mudah dilabeli negatif.

“Dari diskusi di dua tempat tersebut, saya menyimpulkan mereka bukan antek asing, bukan dibiayai asing, bukan pengkhianat, bukan penjilat, bukan penikmat jabatan, dan bukan pengejar jabatan,” ujar Said Didu.

Namun demikian, ia menilai bahwa kelompok yang berada di lingkar kekuasaan kerap memberikan stigma negatif terhadap pihak-pihak yang kritis. Label seperti “antek asing”, “kelompok sakit hati”, hingga “pengganggu kekuasaan” dinilai sering digunakan untuk mendiskreditkan kritik.

Said Didu juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap arah komunikasi politik nasional. Menurutnya, jika pemerintah membuka ruang dialog dan mendengar masukan dari berbagai elemen, maka Indonesia berpotensi lebih maju dan damai.

“Terbayang oleh saya, seandainya penguasa bersedia mendengar pemikiran mereka sebagai solusi bangsa dan bukan dianggap sebagai musuh kekuasaan, maka Indonesia bisa maju dan damai,” katanya.

Dalam pernyataan yang lebih tegas, Said Didu berharap Presiden Prabowo tidak mengadopsi cara-cara yang ia nilai pernah digunakan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Ia menilai pola tersebut berbasis pada strategi pecah-belah yang dalam satu bulan terakhir dinilai semakin terlihat.

“Berharap Bapak Presiden Prabowo berhenti menggunakan cara Jokowi merebut dan mempertahankan kekuasaan berbasis pecah-belah bangsa,” tegasnya.

Pernyataan Said Didu ini menambah dinamika wacana politik nasional, terutama di tengah meningkatnya suhu politik pasca Pemilu 2024 dan menjelang kontestasi politik berikutnya.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan kritik tajam terhadap pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pernyataannya, Said Didu mengingatkan bahwa jika tidak dikelola secara hati-hati, program MBG berpotensi menyimpang dari tujuan awalnya. Ia bahkan menyebut istilah satir “Dapur Korupsi Bersama” (DKB) sebagai peringatan atas potensi penyalahgunaan dalam program tersebut.

“Bapak Presiden Prabowo yth, jika tidak hati-hati, maka ide bagus Bapak yaitu pembagian MBG bisa berubah menjadi pembagian DKB (Dapur Korupsi Bersama). Tanda-tanda ke arah itu sudah terjadi,” ujar Said Didu dalam pernyataan yang beredar di publik, Sabtu (4/4/2026).

Menurutnya, indikasi tersebut terlihat dari mekanisme penunjukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia makanan yang dinilai belum transparan. Ia menyoroti peran Badan Gizi Nasional (BGN) dalam proses tersebut yang dianggap perlu diawasi secara ketat.

Said Didu pun mendesak Presiden untuk segera mengambil langkah konkret guna mencegah potensi penyimpangan. Ia menyarankan agar dilakukan audit khusus terhadap mekanisme penunjukan dapur MBG.

“Sebbaiknya segera lakukan audit khusus terkait mekanisme penunjukan SPPG (dapur) yang dilakukan oleh BGN,” tegasnya.

Program MBG sendiri merupakan salah satu kebijakan prioritas pemerintahan Prabowo Subianto yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan. Namun, besarnya anggaran dan luasnya cakupan program ini dinilai membuka celah terjadinya praktik korupsi jika tidak diawasi dengan baik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pemerintah terkait pernyataan Said Didu. Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa kritik tersebut dapat menjadi masukan penting untuk memperkuat tata kelola program strategis nasional agar tetap transparan dan akuntabel.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan kritik keras terhadap Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Melalui pernyataannya, Said Didu mengaku menerima informasi bahwa Dadan Hindayana dinilai tidak menjalankan tugas secara optimal. Ia bahkan menyebut gaya kerja Kepala BGN tersebut lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas pribadi.

“Info yang saya terima, kerjanya main golf dan ngantor seenaknya, sesuai yang dia sukai,” ujar Said Didu dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

Tak hanya itu, Said Didu juga menyinggung besarnya anggaran yang berada di bawah kendali BGN. Ia menyebut lembaga tersebut mengelola dana rakyat hingga ratusan triliun rupiah, sehingga menurutnya perlu ada pengawasan ketat terhadap kinerja pimpinan lembaga tersebut.

Dalam pernyataannya, Said Didu juga menilai adanya sikap arogan yang ditunjukkan oleh Dadan Hindayana, baik di ruang publik maupun dalam hubungan internal pemerintahan.

“Merasa ‘disayangi’ Presiden, maka bukan hanya di publik terlihat sombong dan songong, ternyata ke anggota kabinet atau pejabat yang tidak ‘menjilat’ pun berlaku demikian,” lanjutnya.

Pernyataan ini langsung memicu perhatian publik, mengingat peran strategis BGN dalam program-program pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan gizi nasional.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Badan Gizi Nasional maupun dari Dadan Hindayana terkait tudingan tersebut.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan pernyataan kontroversial terkait situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

Melalui pernyataannya, Said Didu menyebut bahwa kapal-kapal dari Indonesia tidak diizinkan melintas di Selat Hormuz oleh Iran, sementara kapal dari Malaysia dan Thailand justru diperbolehkan.

“Kalau kapal Malaysia dan Thailand diizinkan lewat, tapi kapal Indonesia tidak, itu artinya Indonesia sudah dianggap sebagai ‘teman’ Amerika Serikat dan Israel,” ujar Said Didu, Jumat (27/3/2026).

Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan publik karena menyentuh posisi politik luar negeri Indonesia di tengah ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar sepertiga perdagangan minyak global melewati wilayah ini, sehingga setiap gangguan memiliki dampak luas, termasuk bagi Indonesia.

Menurut Said Didu, jika benar kapal Indonesia mengalami pembatasan, hal itu menjadi sinyal kuat bahwa:

-Indonesia dinilai tidak netral oleh Iran

-Ada persepsi kedekatan Indonesia dengan blok Barat

-Kebijakan luar negeri Indonesia perlu dievaluasi

Ia menekankan bahwa Indonesia selama ini dikenal dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, sehingga persepsi semacam itu dinilai berbahaya bagi kepentingan nasional.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia maupun otoritas Iran yang secara tegas membenarkan adanya larangan khusus terhadap kapal Indonesia.

Namun, isu ini dinilai penting untuk diklarifikasi karena menyangkut:

-Stabilitas pasokan energi

-Hubungan diplomatik Indonesia di kawasan Timur Tengah

-Persepsi internasional terhadap posisi politik Indonesia

Pernyataan Said Didu membuka ruang diskusi baru terkait arah dan persepsi politik luar negeri Indonesia.

Di tengah meningkatnya tensi global, posisi Indonesia sebagai negara non-blok kembali diuji, terutama dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan dunia.