30 Oktober 2026

Seruput Kopi

MoneyTalk, Jakarta – Pada Rabu, 16 Oktober 2024, dalam acara “Seruput Kopi” di Cokro TV, Jimly Asshiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia, menyampaikan pandangannya mengenai berbagai isu penting yang berkaitan dengan ruang publik, protes masyarakat, dan kemungkinan impeachment di Indonesia. Ia menekankan pentingnya kebebasan berekspresi dan pengelolaan ruang publik yang baik, serta tantangan yang mungkin dihadapi oleh pemerintahan mendatang.

Jimly mengawali pernyataannya dengan menggarisbawahi pentingnya menyediakan ruang publik bagi masyarakat untuk mengekspresikan pendapat mereka. Ia mengkritik langkah-langkah yang dianggapnya menghalangi kebebasan berpendapat, yang justru bisa memicu ketegangan lebih lanjut di masyarakat. Menurutnya, apabila seminar dan forum diskusi dilarang, maka hal tersebut justru akan memicu protes yang lebih besar.

“Kalau dilarang, masyarakat akan semakin tertekan. Jadi, alih-alih menghalangi, lebih baik kita sediakan tempat untuk berdiskusi dan berdebat secara terorganisir, seperti yang dilakukan di Hyde Park, London,” ujarnya.

Ia mencatat bahwa pemindahan pusat pemerintahan ke Ibu Kota Negara (IKN) baru harus disertai dengan manajemen ruang publik yang baik untuk mencegah kerusuhan.

Jimly juga menyoroti pentingnya manajemen ruang publik yang tepat, terutama menjelang pemindahan pusat pemerintahan ke IKN. Ia menyatakan bahwa jika masyarakat merasa suaranya tidak didengar, mereka mungkin akan melampiaskan kekecewaannya dengan cara yang tidak produktif.

“Ini soal serius yang belum banyak dibicarakan. Kita harus mengantisipasi dampak pemindahan ini dan menyiapkan ruang untuk dialog yang konstruktif,” imbuhnya.

Ia merekomendasikan agar MPR dijadikan sebagai “gedung rakyat” tempat diskusi, sehingga protes bisa dilakukan di dalam gedung dan terorganisir, bukan di jalanan yang sering kali berujung pada kerusuhan.

Berlanjut ke topik impeachment, Jimly mencermati dinamika politik saat ini, terutama terkait isu yang mengaitkan Gibran Rakabuming Raka dengan Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Ia menjelaskan bahwa gerakan yang mencoba memisahkan Gibran dari Jokowi dan Prabowo adalah langkah yang harus diwaspadai.

“Situasi ini akan sangat dinamis, dan bisa saja suara publik yang merupakan elit kelas menengah mempengaruhi keputusan-keputusan politik di parlemen,” kata Jimly.

Menurutnya, meskipun proses impeachment di Indonesia sulit, masyarakat harus menyadari bahwa ini merupakan bagian dari sistem demokrasi. Ia menegaskan bahwa untuk melakukan impeachment, diperlukan proses yang ketat dan tidak mudah, serta harus melalui Mahkamah Konstitusi (MK) terlebih dahulu.

Pernyataan Jimly Asshiddiqie dalam acara “Seruput Kopi” di Cokro TV memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan yang dihadapi Indonesia terkait kebebasan berpendapat dan manajemen ruang publik.

Di tengah dinamika politik yang terus berubah, penting bagi semua pihak untuk menyadari peran masing-masing dalam menjaga stabilitas negara dan menghormati proses demokrasi. Jimly mengingatkan bahwa ruang publik harus dikelola dengan baik agar suara masyarakat tetap terdengar dan terfasilitasi dengan tepat.

Dalam era yang penuh ketidakpastian ini, pendapat Jimly menjadi sorotan penting bagi masyarakat dan para pembuat kebijakan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung dialog terbuka dan konstruktif.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah diskusi di kanal Cokro TV pada acara “Seruput Kopi” yang disiarkan pada Rabu, 16 Oktober, Profesor Jimly Asshiddiqie membahas isu-isu seputar kebebasan berekspresi, premanisme dalam demokrasi, serta penguatan institusi demokratis di Indonesia. Ia menyoroti beberapa kejadian, termasuk pembubaran diskusi, yang dianggap sebagai bentuk pelanggaran kebebasan berpendapat.

Jimly menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya aksi-aksi yang dianggap premanisme dalam menanggapi kritik atau kegiatan publik tertentu. Menurutnya, meskipun kita mungkin tidak menyukai suatu opini atau diskusi, hal tersebut tidak seharusnya dibungkam.

Ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi adalah bagian dari demokrasi yang harus dihargai. Jimly pun mengkritik budaya kritik di Indonesia yang sering kali kasar dan cenderung menyerang pribadi, khususnya di media sosial, yang diperparah oleh akun-akun anonim.

Jimly menyebutkan bahwa tindakan premanisme dalam membubarkan diskusi atau menyerang pribadi adalah contoh buruk bagi demokrasi. Demokrasi yang sehat seharusnya membuka ruang bagi kritik dan perbedaan pendapat. Namun, kebebasan berekspresi itu perlu disertai dengan tanggung jawab.

Kritik yang kasar, apalagi yang menyerang pribadi, tidak mencerminkan demokrasi yang matang. Jimly mengingatkan bahwa budaya kritik yang beradab seharusnya diarahkan kepada ide atau gagasan, bukan kepada personal.

Di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai wadah kritik, Jimly mengakui bahwa sering kali akun-akun anonim memperkeruh suasana. Anonimitas ini memberikan kebebasan yang disalahgunakan untuk menyerang dengan kata-kata kasar tanpa ada konsekuensi yang jelas. Hal ini, menurutnya, dapat mempengaruhi kualitas demokrasi Indonesia yang masih berkembang.

Sebagai mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly turut berperan dalam mengubah undang-undang terkait penghinaan terhadap presiden. Ia menjelaskan bahwa pada masa jabatannya, MK memutuskan untuk mengubah delik penghinaan terhadap presiden menjadi delik aduan. Dengan demikian, tindakan hukum hanya bisa dilakukan apabila presiden merasa terhina dan melaporkannya sendiri. Hal ini berbeda dengan delik biasa, yang memungkinkan polisi bertindak atas nama presiden tanpa perlu adanya laporan.

Jimly mencatat bahwa keputusan ini bertujuan untuk menghindari efek menakutkan (chilling effect) yang mungkin ditimbulkan apabila setiap kritik terhadap presiden ditanggapi dengan tindakan hukum. Dalam pandangannya, seorang pejabat publik, terutama presiden, sebaiknya memiliki “kuping tebal” terhadap kritik. Dengan sistem delik aduan, diharapkan kritik dapat menjadi lebih beradab, dan masyarakat juga semakin memahami perbedaan antara kritik terhadap institusi dengan kritik terhadap individu.

Jimly juga mengomentari posisi wakil presiden yang sering kali dipandang sebagai “ban serep.” Sebagai pendamping, wakil presiden memang memiliki fungsi yang terbatas dalam konstitusi, yaitu membantu dan menggantikan presiden ketika dibutuhkan. Namun, peran wakil presiden dapat lebih penting tergantung pada kreativitas dan inisiatifnya. Contoh yang diangkat adalah Jusuf Kalla, yang terkenal dengan inisiatif dan kreativitasnya ketika menjabat sebagai wakil presiden.

Jimly menegaskan pentingnya kerjasama antara presiden dan wakil presiden. Ia menyebutkan bahwa ke depan, wakil presiden mungkin perlu dipilih melalui proses yang lebih kuat, seperti melalui MPR, untuk memastikan dukungan yang lebih luas dan hubungan yang lebih kuat dengan parlemen. Dengan begitu, wakil presiden dapat menjalankan tugas-tugas tertentu yang relevan tanpa harus mengganggu otoritas presiden.

Dalam konteks demokrasi, Jimly menyarankan agar Indonesia mulai membiasakan diri dengan banyaknya pilihan calon presiden. Menurutnya, jumlah calon yang banyak dapat mencerminkan pluralitas dan keragaman di Indonesia. Dalam jangka panjang, hal ini diharapkan dapat mengurangi konflik politik yang sering kali berkepanjangan akibat perbedaan pandangan.

Jimly mengingatkan bahwa Indonesia telah menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia berdasarkan jumlah pemilih. Namun, kualitas demokrasinya masih harus ditingkatkan. Oleh karena itu, diperlukan rekayasa budaya demokratik agar demokrasi di Indonesia tidak hanya besar dari segi jumlah, tetapi juga berkualitas tinggi.

Jimly Asshiddiqie menekankan pentingnya memahami perbedaan antara kritik terhadap institusi dan kritik terhadap individu. Demokrasi yang sehat membutuhkan kritik yang beradab dan terarah kepada gagasan. Selain itu, dengan memperkuat peran wakil presiden serta membuka ruang yang lebih besar bagi pluralitas calon presiden, diharapkan Indonesia dapat mengembangkan demokrasi yang lebih matang.

Indonesia diharapkan dapat menjadi contoh demokrasi beradab yang tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga berkualitas dari segi budaya politik dan penghargaan terhadap kebebasan berpendapat.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pada acara Seruput Kopi di Cokro TV yang disiarkan pada Rabu, 16 Oktober 2024, Profesor Jimly Asshiddiqie membuat pernyataan yang menarik perhatian publik. Ia menyampaikan opininya seputar langkah impeachment terhadap Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

Prof. Jimly menyampaikan, jika ada yang ingin mencoba melakukan impeachment, mereka dipersilakan. Namun, ia menekankan bahwa proses tersebut memiliki prosedur hukum dan politik yang tidak mudah.

Tidak lama setelah wawancara ini, pernyataan Prof. Jimly viral di media sosial. Beberapa netizen mengkritiknya dan bahkan mencemooh dengan julukan “Profesor Fufufaha”. Namun, terlepas dari tanggapan negatif tersebut, pernyataan Prof. Jimly mengundang diskusi lebih lanjut mengenai prosedur impeachment serta peran lembaga peradilan di Indonesia.

Dalam diskusi di Cokro TV, Prof. Jimly menyatakan bahwa pelaksanaan pemilihan umum dan pelantikan pejabat yang terpilih adalah proses yang harus dihormati. Ia menekankan pentingnya menjaga proses transisi kekuasaan yang stabil dan konstitusional. Menurut Prof. Jimly, berbagai lembaga terkait, termasuk PTUN, tidak seharusnya mengganggu pelantikan pejabat yang telah ditetapkan, kecuali ada pelanggaran serius yang terbukti secara hukum.

Kritik Terhadap Lembaga Peradilan dan Pentingnya Reformasi. Prof. Jimly juga membahas bagaimana lembaga peradilan seperti PTUN terkadang memutuskan sesuatu yang melampaui kewenangannya. Ia menganggap bahwa keputusan yang keliru dari PTUN dapat merusak kredibilitas lembaga tersebut dan menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Oleh karena itu, Prof. Jimly menegaskan pentingnya reformasi di sektor peradilan, terutama untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan hakim. Menurutnya, gaji hakim harus lebih tinggi dibandingkan pejabat eksekutif dan legislatif agar independensi mereka tetap terjaga.

Merespons isu impeachment terhadap Gibran, Prof. Jimly menguraikan proses yang harus dilalui. Terdapat enam alasan yang dapat dijadikan dasar untuk impeachment seorang pejabat negara yaitu:

1. Pengkhianatan terhadap negara

2. Korupsi atau penerimaan suap

3. Melakukan tindak pidana berat lainnya (seperti yang diancam hukuman penjara di atas lima tahun)

4. Perbuatan tercela – contoh perbuatan yang dianggap tidak pantas secara sosial, seperti tindakan asusila atau tindakan yang merugikan masyarakat

5. Tidak memenuhi syarat kesehatan yang menyebabkan ketidakmampuan dalam menjalankan tugas

6. Pelanggaran administratif

Prof. Jimly menyampaikan bahwa perbuatan tercela adalah alasan yang paling mudah untuk diajukan dalam impeachment. Namun, proses tersebut harus melalui mekanisme yang ketat. Untuk memulai proses impeachment, pernyataan pendapat harus disetujui oleh dua pertiga anggota DPR dan dua pertiga dari anggota yang hadir harus menyetujui proses tersebut. Setelah itu, pernyataan tersebut dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk diputuskan, dan keputusan akhir tetap berada di tangan MPR, yang memerlukan persetujuan tiga perempat anggota yang hadir.

Prof. Jimly mengingatkan bahwa impeachment adalah campuran antara proses hukum dan politik. Oleh karena itu, ia menyarankan publik untuk tidak terlalu emosional dalam menyikapi isu ini. Menurutnya, meski impeachment terhadap Gibran dapat dilakukan, hal tersebut bukanlah proses yang mudah, mengingat persyaratan dan tingkat persetujuan yang harus dicapai di DPR dan MPR.

Dalam konteks pelantikan Gibran, Prof. Jimly menilai bahwa upaya untuk menggagalkan atau menunda pelantikan sebaiknya tidak dilakukan, karena itu akan mengganggu proses transisi kekuasaan yang sah. Ia bahkan menyarankan agar PTUN tidak ikut campur dalam urusan yang bukan kewenangannya.

Setelah pernyataannya di Cokro TV, Prof. Jimly mendapat berbagai reaksi dari netizen. Beberapa pihak menganggap pernyataannya kontroversial, sementara yang lain menyayangkan sebab ia terlihat membela pemerintahan saat ini.

Kritikan dari netizen juga terkait dengan pernyataannya yang menyarankan agar masyarakat “move on” dari perseteruan lama antara Jokowi dan Prabowo. Hal ini membuat beberapa orang memberikan julukan “Profesor Fufufaha” sebagai bentuk kritik terhadap sikapnya yang dinilai terlalu menganggap enteng masalah.

Meski begitu, Prof. Jimly tetap berdiri pada pendapatnya bahwa untuk membangun negara, masyarakat harus bisa melupakan konflik politik masa lalu dan fokus pada langkah-langkah ke depan.

Prof. Jimly Asshiddiqie dalam wawancara di Cokro TV menegaskan bahwa upaya impeachment terhadap pejabat seperti Gibran dapat dilakukan, tetapi memerlukan proses hukum dan politik yang panjang dan kompleks. Menurutnya, publik perlu memahami bahwa mekanisme impeachment bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah, karena memerlukan persetujuan dari banyak pihak.

Pernyataan Prof. Jimly juga menjadi pengingat bagi lembaga peradilan untuk tetap pada batas kewenangan mereka dan mendorong reformasi di dunia peradilan Indonesia. Meski banyak mendapat kritikan, Prof. Jimly tetap konsisten dengan pendapatnya bahwa menjaga stabil(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Ada topik menarik dalam edisi terbaru Seruput Kopi, Selasa (08\10) bersama pengamat politik M. Qodari. Perbincangan semakin mendalam tentang tantangan bangsa Indonesia saat ini serta intrik di panggung politik nasional menjelang pelantikan presiden terpilih, Prabowo Subianto.

Tak hanya isu domestik, M. Qodari juga menyoroti ancaman global seperti pandemi dan potensi perang dunia ketiga. Isu ini menjadi ancaman nyata bagi seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Pada pembukaan diskusi, Qodari menyebutkan bahwa Indonesia dan seluruh negara saat ini menghadapi ancaman-ancaman yang jauh lebih kompleks dibandingkan 10-20 tahun yang lalu.

“Pandemi bisa terjadi sewaktu-waktu, seperti COVID-19, yang datang tanpa menunggu ratusan tahun lagi. Kita juga menghadapi potensi ancaman serius lainnya, seperti perang dunia ketiga,” ujar Qodari.

Tantangan-tantangan ini, menurutnya hanya bisa diatasi jika bangsa Indonesia bersatu dan menjaga persatuan serta kesatuan.

Persatuan bangsa, tegasnya, adalah modal utama untuk menghadapi berbagai ancaman tersebut. Jika tantangan besar ini benar-benar terjadi, kebersamaan dan kekompakan akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk menavigasi situasi yang sulit.

“Mudah-mudahan itu tidak terjadi, tapi kalau terjadi, kita harus siap dengan persatuan,” tambahnya.

Pembahasan politik kemudian beralih ke hubungan antara Prabowo Subianto, Presiden Jokowi, dan Megawati Soekarnoputri. Qodari memberikan pandangannya mengenai rumor yang beredar bahwa PDI-P, di bawah kepemimpinan Megawati, memiliki syarat tersendiri untuk bergabung dengan kabinet Prabowo. Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan bahwa Mega hanya akan masuk ke dalam kabinet jika hubungan Prabowo dengan Jokowi merenggang.

“Banyak yang berspekulasi bahwa jika Prabowo bertemu dengan Mega, itu berarti dia siap meninggalkan Jokowi,” kata Qodari.

Namun, Qodari menegaskan bahwa hal itu sangat tidak mungkin terjadi.

“Prabowo telah berkomitmen terhadap Jokowi, baik dalam hal program-program maupun kontribusi besar Jokowi dalam kemenangan Prabowo,” ujarnya.

Menurut Qodari, Prabowo tidak mungkin meninggalkan Jokowi, karena mereka sudah menyatu dalam visi yang sama, termasuk dalam hal keberadaan Gibran Rakabuming sebagai wakil presiden terpilih.

Isu lain yang menarik perhatian adalah posisi Gibran Rakabuming sebagai wakil presiden terpilih. Beberapa kalangan menilai bahwa Gibran bisa menjadi beban bagi Prabowo. Qodari membantah spekulasi ini dan menyatakan bahwa Gibran sebenarnya sangat berhati-hati dalam menempatkan dirinya dalam berbagai situasi politik.

“Gibran memang cenderung diam dan jarang berbicara, tapi dia bukan orang yang sombong. Dia menahan diri dan mempelajari situasi,” jelasnya.

Qodari juga mengingatkan agar Gibran belajar dari pengalaman Jusuf Kalla (JK) yang dianggap terlalu dominan ketika menjadi wakil presiden.

“Jangan sampai Gibran mengulangi kesalahan Pak JK yang dalam beberapa hal dianggap terlalu maju ke depan, hingga akhirnya tidak dipilih lagi untuk periode kedua,” katanya.

Menurut Qodari, Gibran harus menempatkan dirinya dengan bijaksana dan mengikuti peran yang sesuai dengan yang diberikan oleh Prabowo sebagai presiden.

Isu tentang PDI-P juga tak luput dari diskusi. M. Qodari menyebutkan bahwa meskipun koalisi Indonesia Maju yang mendukung Prabowo sudah sangat kuat dengan 82% kursi di parlemen, ada argumen bahwa oposisi tetap dibutuhkan sebagai saluran bagi suara-suara yang tidak puas dengan pemerintahan.

“Oposisi adalah representasi penting bagi rakyat yang merasa tidak terwakili oleh pemerintah, dan jika PDI-P masuk kabinet, kita mungkin kehilangan fungsi oposisi tersebut,” paparnya.

Bahkan, Qodari menyebut gugatan PDI-P terhadap pencalonan Gibran sebagai wapres menjadi tanda tanya besar.

“Di satu sisi mereka ingin bergabung ke kabinet, tapi di sisi lain mereka menolak Gibran sebagai wapres. Ini penyakit lama PDI-P, mau menterinya tapi tidak mau presidennya,” sindirnya.

Dalam perbincangan yang padat dan penuh wawasan ini, M. Qodari menegaskan bahwa tantangan besar yang dihadapi Indonesia, baik dari ancaman global maupun intrik politik dalam negeri, hanya bisa dihadapi dengan persatuan.

Relasi antara Prabowo, Jokowi, dan Mega, serta posisi Gibran sebagai wapres, menjadi sorotan utama dalam membangun pemerintahan yang solid pasca pelantikan. Namun, peran oposisi juga tak boleh diabaikan demi menjaga keseimbangan politik yang sehat di Indonesia.

Dengan semakin dekatnya pelantikan Prabowo Subianto sebagai presiden, peran PDI-P dan posisi Gibran akan menjadi topik yang terus berkembang, memberikan dinamika baru dalam lanskap politik Indonesia.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Seiring mendekati akhir masa jabatannya, Presiden Jokowi tetap menunjukkan kekuatan politik yang sulit digoyahkan. Berbagai survei terbaru seperti yang dirilis oleh Indikator Politik Indonesia, menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi masih berada pada angka yang tinggi, mencapai 75%.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa serangan masif yang dilontarkan dari berbagai arah, baik secara langsung maupun tidak, belum mampu meruntuhkan dukungan publik terhadap mantan Wali Kota Solo ini. Lebih menarik, hubungan antara Jokowi dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang sering dispekulasikan renggang oleh sejumlah pihak, ternyata tetap kokoh.

Upaya pengaduan Jokowi-Prabowo pun tak berhasi. Spekulasi politik mengenai potensi konflik antara Jokowi dan Prabowo telah berulang kali muncul di ruang publik, terutama di media sosial dan ruang diskusi politik. Ada narasi yang menyebutkan bahwa Prabowo sebagai salah satu kandidat kuat dalam Pilpres 2024, akan meninggalkan Jokowi demi kepentingan politik pribadi. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Hubungan antara Prabowo dan Jokowi jauh lebih kompleks dibandingkan dengan sekadar kompetisi politik biasa. Dalam diskusi yang dibahas pada program Seruput Kopi bersama Arie Putra di Cokro TV pada Jumat, 4 Oktober 2024, hal ini dikupas lebih dalam.

Arie Putra, seorang sosiolog politik, menjelaskan bahwa hubungan antara Jokowi dan Prabowo telah lama terjalin. Ikatan di antara keduanya bukan hanya soal politik sesaat. Prabowo yang pernah menjadi rival Jokowi dalam dua Pemilihan Presiden sebelumnya, akhirnya bergabung dalam kabinet Jokowi. Ini menandakan adanya saling pengertian yang kuat di antara keduanya.

“Kalau Prabowo benar-benar ingin meninggalkan Jokowi, dia pasti sudah melakukannya sejak lama,” ungkap Arie. “Namun, hingga saat ini Prabowo tetap mendukung Jokowi dengan loyal.”

Dalam diskusi tersebut, Arie Putra juga mengkritisi narasi yang beredar di media sosial. Hal yang terlihat seperti mencoba memprovokasi dan mengadu domba Prabowo dan Jokowi. Meskipun serangan ini dilakukan secara masif, Arie menegaskan bahwa publik seharusnya bisa lebih bijak dalam melihat dinamika politik antara kedua tokoh ini.

“Hubungan Prabowo dan Jokowi jauh lebih kuat dari sekadar kepentingan politik sesaat. Keduanya memiliki kepentingan yang sama, yaitu menjaga stabilitas dan kemajuan negara,” tambahnya.

Narasi ini tidak hanya muncul dari pihak oposisi atau pihak luar. Akan tetapi, terkadang didorong oleh konflik internal partai politik. Seperti yang diungkapkan oleh Arie terkait spekulasi seputar hubungan Prabowo dengan PDIP.

Ketegangan internal antara tokoh-tokoh besar dalam PDIP dapat mempengaruhi bagaimana persepsi publik terbentuk terhadap Jokowi dan Prabowo, terutama dalam konteks suksesi politik 2024.

Angka 75% dalam survei kepuasan publik terhadap Jokowi menegaskan bahwa meskipun ada upaya untuk merusak citranya, baik dari segi internal politik maupun serangan dari luar, mayoritas rakyat Indonesia masih percaya pada kepemimpinannya. Bahkan di beberapa daerah seperti Jawa Timur dan Sumatera Utara, popularitas Jokowi tetap tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih merasakan dampak positif dari kebijakan-kebijakan yang dijalankan Jokowi selama masa kepemimpinannya.

Survei ini juga sejalan dengan pandangan dari berbagai pihak bahwa Jokowi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh oligarki seperti yang sering didiskusikan dalam narasi politik di media sosial. Sebaliknya, Arie Putra menekankan bahwa Jokowi, melalui kebijakannya, tetap menunjukkan independensi dalam menjalankan roda pemerintahan.

Sementara itu, Prabowo Subianto juga terus menunjukkan kekuatannya sebagai kandidat kuat dalam Pemilihan Presiden 2024. Hubungan baiknya dengan Jokowi dipandang sebagai modal besar bagi Prabowo dalam menggalang dukungan. Dalam diskusi tersebut, Arie Putra menyebutkan bahwa “matahari politik” akan berpindah kepada Prabowo jika ia terpilih sebagai Presiden. Secara otomatis akan menempatkan Jokowi pada posisi yang lebih rendah dalam hierarki kekuasaan.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah loyalitas yang dibangun di antara keduanya selama bertahun-tahun ini. Ini akan tetap menjadi elemen kunci dalam stabilitas politik Indonesia ke depan.

Serangan massif gagal menggoyahkan Jokowi dan Prabowo. Berbagai pihak mencoba untuk memecah belah hubungan Prabowo dan Jokowi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ikatan mereka lebih kuat dari sekadar spekulasi politik sesaat.

Dengan tingkat kepuasan publik yang masih tinggi terhadap Jokowi dan popularitas Prabowo yang semakin naik menjelang Pilpres 2024, upaya untuk mengadu domba kedua tokoh ini tampaknya tidak akan berhasil.

Seperti yang dikatakan Arie Putra di akhir diskusi, “Hubungan mereka sudah teruji oleh waktu, dan tidak mudah dihancurkan hanya karena serangan politik yang tidak berdasar.”(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Kritik terhadap Jokowi semakin keras terdengar, terutama dari kalangan elite politik dan pengamat. Namun, di balik kegaduhan elite ini, mayoritas rakyat di akar rumput masih menunjukkan dukungan kuat terhadap Jokowi. Popularitasnya di kalangan masyarakat bawah justru bertahan bahkan cenderung naik. Jokowi tetap menjadi figur yang dihormati dan dipercaya. Simak selengkapnya hanya di Seruput Kopi bersama Ade Armando dan Jeffrie Geovanie! Dalam tayangan Cokro TV, tayang pada Jumat (27/09).
Kritik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) semakin menggema, terutama dari kalangan elite politik dan pengamat. Namun, di balik kegaduhan tersebut, kenyataannya mayoritas rakyat di akar rumput tetap menunjukkan dukungan yang kuat terhadap Jokowi. Hal ini menjadi sorotan utama dalam diskusi yang diadakan oleh Seruput Kopi, yang menghadirkan Ade Armando dan Jeffrie Geovanie sebagai narasumber.

Sementara elite politik seringkali berdebat tentang kebijakan dan arah pemerintahan, dukungan Jokowi di kalangan masyarakat bawah justru terlihat stabil, bahkan cenderung meningkat. Masyarakat yang merasakan dampak langsung dari program-program pemerintah menunjukkan bahwa mereka masih menghormati dan mempercayai kepemimpinan Jokowi. Di tengah berbagai kritik yang mengemuka, Jokowi tetap dianggap sebagai sosok yang berkomitmen untuk membangun Indonesia.

Dalam diskusi tersebut, Ade Armando menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan Jokowi selama masa pemerintahannya. Proyek-proyek infrastruktur ini, menurutnya, merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Di samping itu, pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru juga dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya mengubah wajah fisik, tetapi juga mental dan disiplin birokrasi di Indonesia.

Armando menjelaskan bahwa banyak kritik terhadap IKN dianggap sia-sia. Namun, ia menegaskan bahwa pembangunan IKN lebih dari sekadar membangun gedung. Ini adalah tentang menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi masyarakat dan membangun manusia yang produktif di dalamnya. Dalam pandangannya, Jokowi telah melakukan pekerjaan dasar yang sangat penting, dan jika diselesaikan dengan baik, hal ini akan menguntungkan semua pihak.

Dalam diskusi tersebut, juga dibahas tentang perlunya reformasi birokrasi. Jokowi dan Prabowo Subianto, yang kini menjadi bagian dari kabinet, memiliki visi yang sama untuk menghilangkan ego demi kemajuan bersama. Jeffrie Geovanie menyampaikan keyakinan bahwa jika semua kekuatan politik bersatu, Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi yang ambisius. Ia mengingatkan bahwa Indonesia harus bersiap untuk menjadi negara maju dan tidak terjebak dalam perangkap pendapatan menengah.

Salah satu langkah yang diharapkan adalah mendorong hilirisasi ekonomi, di mana Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga memprosesnya menjadi produk dengan nilai tambah. Ini adalah visi yang selaras dengan pemikiran Prabowo dan Jokowi, yang percaya pada potensi besar bangsa ini untuk menjadi lebih kuat secara ekonomi.

Sikap optimis ini juga didukung oleh perkembangan positif di IKN, di mana sekitar 700 perusahaan telah menunjukkan minat untuk berinvestasi. Ini menunjukkan bahwa ada harapan baru dalam perekonomian Indonesia. Selain itu, program-program seperti “Makan Siang Gratis” untuk anak-anak sekolah dan pembangunan satu juta rumah untuk rakyat diharapkan dapat meningkatkan perputaran ekonomi dan mendukung UMKM di seluruh Indonesia.

Dalam pandangan Ade Armando dan Jeffrie Geovanie, tantangan yang dihadapi Jokowi saat ini adalah bagaimana menjaga momentum ini agar tetap berlanjut setelah pelantikan presiden terpilih. Mereka mengajak semua pihak untuk bersatu dan mendukung langkah-langkah strategis yang diambil demi kemajuan bangsa.

Kritik terhadap Jokowi mungkin tidak akan pernah sirna, terutama dari kalangan elite yang memiliki kepentingan politik masing-masing. Namun, dukungan rakyat di akar rumput yang terus mengalir memberikan kekuatan bagi Jokowi untuk terus melanjutkan program-program yang telah digagas. Melalui pembangunan infrastruktur dan reformasi yang berkelanjutan, Indonesia memiliki potensi untuk bangkit dan menjadi negara yang lebih maju.

Diskusi yang dipandu oleh Ade Armando dan Jeffrie Geovanie di Seruput Kopi menegaskan pentingnya perspektif yang lebih luas dan inklusif dalam menilai kepemimpinan Jokowi. Dengan dukungan yang kuat dari rakyat dan komitmen untuk terus bekerja demi kepentingan bersama, masa depan Indonesia dapat lebih cerah.(c@kra)