MoneyTalk, Jakarta – Seiring mendekati akhir masa jabatannya, Presiden Jokowi tetap menunjukkan kekuatan politik yang sulit digoyahkan. Berbagai survei terbaru seperti yang dirilis oleh Indikator Politik Indonesia, menunjukkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi masih berada pada angka yang tinggi, mencapai 75%.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa serangan masif yang dilontarkan dari berbagai arah, baik secara langsung maupun tidak, belum mampu meruntuhkan dukungan publik terhadap mantan Wali Kota Solo ini. Lebih menarik, hubungan antara Jokowi dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang sering dispekulasikan renggang oleh sejumlah pihak, ternyata tetap kokoh.
Upaya pengaduan Jokowi-Prabowo pun tak berhasi. Spekulasi politik mengenai potensi konflik antara Jokowi dan Prabowo telah berulang kali muncul di ruang publik, terutama di media sosial dan ruang diskusi politik. Ada narasi yang menyebutkan bahwa Prabowo sebagai salah satu kandidat kuat dalam Pilpres 2024, akan meninggalkan Jokowi demi kepentingan politik pribadi. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Hubungan antara Prabowo dan Jokowi jauh lebih kompleks dibandingkan dengan sekadar kompetisi politik biasa. Dalam diskusi yang dibahas pada program Seruput Kopi bersama Arie Putra di Cokro TV pada Jumat, 4 Oktober 2024, hal ini dikupas lebih dalam.
Arie Putra, seorang sosiolog politik, menjelaskan bahwa hubungan antara Jokowi dan Prabowo telah lama terjalin. Ikatan di antara keduanya bukan hanya soal politik sesaat. Prabowo yang pernah menjadi rival Jokowi dalam dua Pemilihan Presiden sebelumnya, akhirnya bergabung dalam kabinet Jokowi. Ini menandakan adanya saling pengertian yang kuat di antara keduanya.
“Kalau Prabowo benar-benar ingin meninggalkan Jokowi, dia pasti sudah melakukannya sejak lama,” ungkap Arie. “Namun, hingga saat ini Prabowo tetap mendukung Jokowi dengan loyal.”
Dalam diskusi tersebut, Arie Putra juga mengkritisi narasi yang beredar di media sosial. Hal yang terlihat seperti mencoba memprovokasi dan mengadu domba Prabowo dan Jokowi. Meskipun serangan ini dilakukan secara masif, Arie menegaskan bahwa publik seharusnya bisa lebih bijak dalam melihat dinamika politik antara kedua tokoh ini.
“Hubungan Prabowo dan Jokowi jauh lebih kuat dari sekadar kepentingan politik sesaat. Keduanya memiliki kepentingan yang sama, yaitu menjaga stabilitas dan kemajuan negara,” tambahnya.
Narasi ini tidak hanya muncul dari pihak oposisi atau pihak luar. Akan tetapi, terkadang didorong oleh konflik internal partai politik. Seperti yang diungkapkan oleh Arie terkait spekulasi seputar hubungan Prabowo dengan PDIP.
Ketegangan internal antara tokoh-tokoh besar dalam PDIP dapat mempengaruhi bagaimana persepsi publik terbentuk terhadap Jokowi dan Prabowo, terutama dalam konteks suksesi politik 2024.
Angka 75% dalam survei kepuasan publik terhadap Jokowi menegaskan bahwa meskipun ada upaya untuk merusak citranya, baik dari segi internal politik maupun serangan dari luar, mayoritas rakyat Indonesia masih percaya pada kepemimpinannya. Bahkan di beberapa daerah seperti Jawa Timur dan Sumatera Utara, popularitas Jokowi tetap tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat masih merasakan dampak positif dari kebijakan-kebijakan yang dijalankan Jokowi selama masa kepemimpinannya.
Survei ini juga sejalan dengan pandangan dari berbagai pihak bahwa Jokowi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh oligarki seperti yang sering didiskusikan dalam narasi politik di media sosial. Sebaliknya, Arie Putra menekankan bahwa Jokowi, melalui kebijakannya, tetap menunjukkan independensi dalam menjalankan roda pemerintahan.
Sementara itu, Prabowo Subianto juga terus menunjukkan kekuatannya sebagai kandidat kuat dalam Pemilihan Presiden 2024. Hubungan baiknya dengan Jokowi dipandang sebagai modal besar bagi Prabowo dalam menggalang dukungan. Dalam diskusi tersebut, Arie Putra menyebutkan bahwa “matahari politik” akan berpindah kepada Prabowo jika ia terpilih sebagai Presiden. Secara otomatis akan menempatkan Jokowi pada posisi yang lebih rendah dalam hierarki kekuasaan.
Hal yang perlu digarisbawahi adalah loyalitas yang dibangun di antara keduanya selama bertahun-tahun ini. Ini akan tetap menjadi elemen kunci dalam stabilitas politik Indonesia ke depan.
Serangan massif gagal menggoyahkan Jokowi dan Prabowo. Berbagai pihak mencoba untuk memecah belah hubungan Prabowo dan Jokowi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ikatan mereka lebih kuat dari sekadar spekulasi politik sesaat.
Dengan tingkat kepuasan publik yang masih tinggi terhadap Jokowi dan popularitas Prabowo yang semakin naik menjelang Pilpres 2024, upaya untuk mengadu domba kedua tokoh ini tampaknya tidak akan berhasil.
Seperti yang dikatakan Arie Putra di akhir diskusi, “Hubungan mereka sudah teruji oleh waktu, dan tidak mudah dihancurkan hanya karena serangan politik yang tidak berdasar.”(c@kra)




