Hendrajit: Banyak Kasus Besar Gagal Terbongkar Karena Investigator Salah Membaca Motif

  • Bagikan
Pengamat geopolitik Hendrajit

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menilai, kegagalan mengungkap berbagai kasus besar seperti terorisme, pembajakan, pembunuhan acak, hingga perampokan bank sering kali bukan semata karena pelaku terlalu canggih atau adanya kekuatan besar yang melindungi mereka. Menurutnya, akar persoalannya justru kerap terletak pada kesalahan sejak awal dalam membangun teori penyelidikan.

“Dalam menyingkap sebuah peristiwa seperti terorisme, pembajakan, pembunuhan acak, atau perampokan bank yang menimbulkan korban tewas maupun luka-luka, jangan cuma fokus membongkar pelaku. Tapi juga fokus memprofilkan para korbannya. Karena dari profil para korbanlah motif sesungguhnya bisa terbongkar,” ujar Hendrajit, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, banyak penyelidikan terjebak pada pencarian pelaku secara langsung, sementara pertanyaan mendasar tentang siapa korban sebenarnya, hubungan sosialnya, kepentingan yang melingkupinya, hingga konflik tersembunyi yang mungkin mengitarinya justru luput diperhatikan.

Bagi Hendrajit, memahami korban bukan sekadar pelengkap investigasi, melainkan pintu utama untuk menemukan motif asli sebuah kejahatan.

Ia kemudian mencontohkan sebuah novel karya Steve Martini berjudul Double Tap atau yang ia sebut sebagai “Tembakan Ganda”. Novel tersebut, menurutnya, memberikan gambaran menarik tentang bagaimana kejahatan tingkat tinggi sering kali diselimuti oleh motif-motif palsu yang sengaja dipertontonkan ke publik.

Dalam cerita itu, seorang CEO perusahaan piranti lunak ditemukan tewas terbunuh. Seorang sersan pensiunan tentara yang dulu merupakan pengawal pribadinya kemudian dijadikan tersangka utama.

Jaksa penuntut umum meyakini motif pembunuhan berasal dari dendam pribadi sang mantan pengawal terhadap korban. Sementara pengacara pembela, Paul Madriani, justru memiliki teori berbeda.

Ia percaya bahwa pembunuhan dilakukan oleh unsur-unsur di Pentagon karena sebelum kematiannya, sang CEO terlibat konflik dengan seorang jenderal yang memaksanya membuat perangkat spyware untuk menembus data warga sipil Amerika.

“Jaksa yakin si sersan mantan pengawal pribadi si CEO lah pelaku pembunuhan atas dasar motif dendam pribadi. Adapun si pengacara tersangka yakin bahwa unsur-unsur Pentagon lah pembunuhnya, lantaran si CEO menolak membuat teknologi spionase dan harus dibungkam selamanya,” jelas Hendrajit.

Namun dalam proses persidangan, muncul fakta yang jauh lebih rumit. Benturan dua motif besar itu—dendam pribadi versus operasi rahasia Pentagon—ternyata hanya menjadi panggung yang menutupi motif sesungguhnya.

Paul Madriani kemudian menemukan adanya aktor ketiga yang justru menjadi pelaku utama. Seorang anggota kongres tingkat daerah yang sedang bersiap naik ke level nasional ternyata terlibat kongkalikong pengurangan pajak dan insentif dengan sejumlah perusahaan piranti lunak, termasuk perusahaan milik korban.

Hubungan bisnis gelap itu pecah di tengah jalan. Sang anggota kongres khawatir praktik penggelapan pajaknya terbongkar, sehingga ia memilih jalan paling ekstrem: membunuh CEO tersebut.

“Motif sesungguhnya malah tersembunyi di balik benturan dua motif besar yang dipertontonkan di pengadilan,” kata Hendrajit.

Menurutnya, pola seperti itu tidak hanya hidup dalam novel, tetapi sangat mungkin menjadi cermin praktik kejahatan tingkat tinggi di dunia nyata.

Sering kali publik, media, bahkan aparat penegak hukum terpancing pada dua narasi besar yang sengaja dibenturkan. Akibatnya, perhatian tersedot pada konflik yang tampak di permukaan, sementara pelaku sebenarnya justru bekerja aman di balik layar.

“Habis baca novel ini, saya langsung berpikir, jangan-jangan struktur cerita Steve Martini ini sering kali menjadi bingkai dalam praktik kejahatan tingkat tinggi,” ujarnya.

Ia menegaskan, banyak kasus besar gagal dibongkar bukan karena pelaku terlalu hebat atau karena ada orang kuat di belakangnya—meski faktor itu juga kerap ada—melainkan karena sejak awal penyelidik membangun hipotesis yang salah.

Kesalahan dalam membaca motif, kata dia, membuat seluruh arah investigasi melenceng. Bukti yang seharusnya mengarah pada pelaku utama justru dianggap tidak relevan karena tidak sesuai dengan teori awal yang sudah terlanjur dibangun.

Karena itu, Hendrajit mengingatkan pentingnya membongkar profil korban secara mendalam, bukan hanya mengejar siapa yang menarik pelatuk.

“Kadang pelaku sebenarnya tidak sedang bersembunyi. Ia justru berdiri paling tenang di tengah keramaian, sementara semua orang sibuk mengejar bayangan yang salah,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *