7 November 2026

Sri Bintang Pamungkas

MoneyTalk, Jakarta – Pada tayangan yang dipublikasikan di kanal YouTube MRohman Official pada Rabu, 16 Oktober 2024, Sri Bintang Pamungkas kembali menyatakan sikapnya yang menolak pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden RI periode 2024-2029.

Pernyataan ini mendapat perhatian luas karena memuat berbagai alasan mendasar terkait sejarah masa lalu keluarga Prabowo, isu etika, dan kontroversi terkait Gibran. Artikel ini mengulas secara rinci wawancara tersebut serta pandangan Bintang mengenai masa depan kepemimpinan Indonesia di bawah Prabowo-Gibran.

Sejarah Keluarga Prabowo dan Alasan Penolakan

Dalam pernyataannya, Sri Bintang menegaskan bahwa penolakan terhadap Prabowo bukan hanya karena ia berpasangan dengan Gibran, melainkan karena sejarah keluarga Prabowo sendiri. Bintang mengingatkan kembali peran ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, dalam peristiwa PRRI/Permesta pada tahun 1958.

Saat itu Sumitro bergabung dengan gerakan pemberontakan yang menentang Republik Indonesia. Setelah gerakan tersebut gagal, keluarga Sumitro dikabarkan melarikan diri ke Inggris dan menjadi warga negara Inggris. Menurut Bintang, ini menimbulkan dugaan bahwa Sumitro bekerja sama dengan intelijen barat seperti MI6 dan CIA dalam upaya menjatuhkan Presiden Soekarno.

Bintang juga merujuk pada “Dokumen Gilchrist” yang mengungkapkan keberadaan “local army friends” — pihak-pihak dalam militer Indonesia yang menjadi sekutu Inggris dan Amerika. Menurut Bintang, Sumitro dianggap sebagai salah satu dari mereka, berperan dalam memberikan informasi yang membantu upaya kudeta terhadap Soekarno dan mendukung kepentingan Barat.

Pengaruh Sumitro dalam Kebijakan Ekonomi Indonesia

Selain itu, Bintang juga menyoroti peran Sumitro dalam membangun jaringan teknokrat yang disebut “Mafia Berkeley.” Para ekonom lulusan Universitas California, Berkeley, seperti Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Emil Salim, di bawah pengaruh Sumitro, berperan dalam mengarahkan kebijakan ekonomi Indonesia di era Orde Baru.

Menurut Bintang, kebijakan mereka yang pro-Barat, terutama terkait utang luar negeri, justru menjerumuskan Indonesia ke dalam krisis moneter pada tahun 1997. Krisis tersebut dinilai sebagai kegagalan kebijakan teknokrat “Mafia Berkeley,” yang meninggalkan dampak negatif hingga saat ini.

Kritik Terhadap Prabowo: Fasisme dan Penculikan Aktivis

Sri Bintang kemudian menyoroti karakter Prabowo yang dianggap memiliki sifat fasis. Menurut Bintang, beberapa tokoh seperti Subadio Sastrosatomo pernah menyebut Prabowo sebagai sosok yang temperamental dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Hal ini menurut Bintang tercermin dari peristiwa penculikan aktivis pada tahun 1997-1998, di mana Prabowo dituduh terlibat dalam operasi Tim Mawar yang bertanggung jawab atas hilangnya para aktivis pro-demokrasi. Meskipun Prabowo tidak pernah terbukti secara langsung bertanggung jawab atas kematian para aktivis, tuduhan tersebut masih melekat pada dirinya.

Kontroversi Gibran dan Akun Fufa Fafa

Di samping kritik terhadap Prabowo, Bintang juga menyentuh kontroversi terkait Gibran Rakabuming, khususnya akun media sosial Fufa Fafa yang menyebarkan ujaran kebencian. Akun tersebut diduga terkait dengan Gibran, meskipun hingga saat ini Gibran belum memberikan klarifikasi yang tegas.

Konten akun ini, menurut Bintang mencerminkan kurangnya kompetensi Gibran sebagai pemimpin serta merusak citra etika dan moral yang seharusnya dimiliki oleh seorang calon wakil presiden.

Masyarakat menilai bahwa Gibran, selain kurang berpengalaman dalam politik nasional, juga tidak menunjukkan standar etika yang baik, terutama dengan tidak menanggapi isu akun tersebut. Hal ini menambah alasan mengapa Sri Bintang dan kelompoknya menolak pasangan Prabowo-Gibran untuk memimpin Indonesia.

Masa Depan Kepemimpinan Indonesia

Sri Bintang Pamungkas menutup pernyataannya dengan mengingatkan masyarakat akan pentingnya sejarah dan etika dalam memilih pemimpin. Ia menilai bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang bersih dari masa lalu yang kelam dan memiliki integritas yang tinggi.

Bintang menyatakan bahwa meskipun Prabowo dan Gibran dilantik, Indonesia akan menghadapi tantangan besar jika dipimpin oleh tokoh-tokoh yang memiliki sejarah dan reputasi yang dipertanyakan.

Bintang dan kelompoknya berkomitmen untuk terus menyuarakan penolakan mereka terhadap Prabowo dan Gibran. Ia mengajak masyarakat untuk kritis terhadap pemimpin yang akan memimpin bangsa ini selama lima tahun ke depan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam wawancara yang ditayangkan di kanal MRohman Official pada Rabu (16/10) pukul 00:15, tokoh politik Sri Bintang Pamungkas mengungkap berbagai polemik seputar pemecatan Prabowo Subianto dari militer, hubungannya dengan Presiden Habibie, serta pengaruh Amerika Serikat dalam pemilihan presiden Indonesia. Wawancara ini memuat sejumlah tuduhan kontroversial dan teori konspirasi yang menggambarkan dinamika politik Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Pemecatan Prabowo dari Militer, Polemik, dan Intrik di Balik Layar

Sri Bintang memulai pembicaraannya dengan mengangkat kembali peristiwa pemecatan Prabowo Subianto dari TNI Angkatan Darat. Menurutnya, ada tim yang disebut sebagai “tim Lati” yang sempat menculik seseorang, tetapi berhasil diselamatkan.

Peristiwa ini kemudian menjadi alasan bagi Dewan Kehormatan TNI untuk memecat Prabowo, meskipun muncul polemik apakah pemecatan itu dilakukan dengan hormat atau tidak. Awalnya, mantan Panglima TNI disebut mengumumkan pemecatan tidak hormat, tetapi kemudian direvisi menjadi tanpa kata-kata tersebut.

Sri Bintang juga menambahkan bahwa Prabowo pernah berkonfrontasi langsung dengan Presiden B.J. Habibie. Ia menyebutkan bahwa Habibie memerintahkan pemecatan Prabowo, setelah Wiranto, Panglima ABRI saat itu, mendatangi Habibie bersama beberapa orang lainnya.

Wiranto dan timnya, menurut Sri Bintang, meminta pemecatan Prabowo dilakukan setelah Prabowo pergi ke Yordania. Namun, permintaan itu tidak dipenuhi oleh Habibie, yang dikatakan sangat marah hingga menendang kursi akibat ulah Prabowo.

Referensi soal insiden ini, menurut Sri Bintang, bisa ditemukan dalam buku karya Sintong Panjaitan, yang kala itu merupakan penasihat pertahanan dan keamanan Presiden Habibie. Sintong menceritakan bahwa tindakan Prabowo membuat Habibie sangat marah, bahkan Habibie pernah mengatakan, “Sekalipun dilat sepatuku, saya tidak akan memaafkan.”

Keterlibatan Amerika dalam Pemilu Indonesia

Dalam wawancara tersebut, Sri Bintang kemudian mengarahkan pembahasan ke isu keterlibatan Amerika Serikat dalam pemilu Indonesia, khususnya dalam dua pemilihan presiden yang diikuti Prabowo. Ia menyoroti, meskipun Partai Gerindra dalam anggaran dasarnya mendukung UUD 1945, Prabowo justru mendukung amandemen konstitusi.

Sri Bintang menyebut tindakan ini sebagai bentuk “kemunafikan”. Terutama karena Prabowo adalah menantu Soeharto, yang dikenal menganjurkan pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Sri Bintang juga berpendapat, meskipun Prabowo telah maju dalam beberapa kali pemilihan presiden, termasuk pada 2004, 2009, 2014, dan 2019, ia dinilai mengkhianati nilai-nilai konstitusi. Pada pemilu 2014 dan 2019, Sri Bintang mengungkapkan, meskipun ada banyak pihak yang menyatakan bahwa pemilu curang dan Prabowo sebenarnya menang, ia tidak berjuang keras untuk merebut kemenangan itu. Sri Bintang menduga, hal ini disebabkan oleh tekanan dari Amerika Serikat yang mempengaruhi hasil pemilu.

Pengaruh Amerika terhadap Pemerintahan dan Kandidat Presiden

Sri Bintang melanjutkan, keterlibatan Amerika Serikat dalam politik Indonesia tidak hanya terjadi dalam pemilihan presiden. Ia mencontohkan pemilihan presiden tahun 2004, di mana ia menyatakan bahwa Megawati Soekarnoputri seharusnya bisa memenangkan pemilu. Namun, setelah melakukan napak tilas ke Beijing dan Moskow, Amerika Serikat memutuskan untuk tidak mendukungnya dan lebih memilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pemenang.

Sri Bintang juga menuduh bahwa SBY terlibat dalam pembunuhan aktivis HAM, Munir, dan bahwa Amerika Serikat meminta agar kasus tersebut tidak diungkap sebelum SBY terpilih sebagai presiden.

Dalam konteks pemilu 2014, Sri Bintang mengklaim bahwa Prabowo seharusnya menang, tetapi muncul suara baru yang tiba-tiba merubah hasil pemilu menjadi kemenangan untuk Joko Widodo (Jokowi). Sri Bintang menyebut hal ini sebagai hasil intervensi Amerika yang, menurutnya, sudah lama mendukung Jokowi, bahkan sejak Jokowi menjabat sebagai walikota Solo dan kemudian gubernur Jakarta. Menurut Sri Bintang, tujuan Amerika dalam mendukung Jokowi adalah untuk mengawasi radikalisme, terutama yang berkaitan dengan Abu Bakar Ba’asyir.

Sri Bintang juga menyinggung perubahan sikap Prabowo setelah bergabung dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Ia menyebutkan bahwa setelah momen tersebut, “semangat bertarung” Prabowo seolah memudar, meskipun sebelumnya Prabowo telah dua kali maju sebagai calon presiden. Sri Bintang menganggap bahwa penawaran posisi Menteri Pertahanan kepada Prabowo merupakan strategi untuk meredam ambisi politik Prabowo.

Wawancara Sri Bintang Pamungkas ini penuh dengan klaim dan tuduhan serius yang menyentuh berbagai aspek penting dalam politik Indonesia, mulai dari pemecatan Prabowo dari militer, keterlibatan Amerika dalam pemilu, hingga sikap Prabowo setelah bergabung dengan pemerintahan Jokowi.

Meskipun beberapa klaim yang disampaikan Sri Bintang didasarkan pada referensi dari buku atau informasi yang dia dengar langsung, beberapa pernyataan tetap menjadi bagian dari perdebatan publik yang belum tentu memiliki bukti kuat. Yang jelas, wawancara ini menambah dimensi baru dalam perbincangan politik seputar Prabowo Subianto dan peran Amerika dalam kancah politik Indonesia.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah wawancara yang diadakan oleh Mimbar Bebas dan ditayangkan melalui kanal YouTube pada Selasa, 10 September 2024, aktivis senior Dr. Sri Bintang Pamungkas dengan tegas menyatakan bahwa Megawati Soekarnoputri harus bertanggung jawab atas berbagai kerusakan di Indonesia.

(lebih…)